Berbagai lensa fix alternatif murah meriah

Tak disangkal lagi bahwa lensa di sistem kamera memegang peran penting dalam menghasilkan foto yang bagus, maka itu tak heran kalau harga lensa bisa jauh lebih mahal dari harga kameranya. Tapi lensa yang terlalu mahal bakal terasa berat bagi yang dananya pas-pasan, atau yang baru mulai hobi fotografi. Maka itu mulai bermunculan lensa-lensa alternatif seperti dari Sigma, Tokina juga Tamron. Tapi lama-lama ketiganya juga semakin ‘besar’ dan beberapa produknya juga masih terasa mahal. Akhirnya kini mulai ditemui lensa-lensa baru yang bisa jadi alternatif murah meriah, walau memang jenisnya baru ada yang lensa fix saja, seperti apa? Simak yuk..

Yongnuo 50mm f/1.8

Yongnuo selama ini dikenal sebagai produsen flash. Kali ini bukan April mop, betul-betul Yongnuo membuat produk lensa yang bentuknya nyaris sama persis dengan lensa Canon 50mm f/1.8. Tapi bedanya, lensa Yongnuo malah lebih bagus sedikit dengan 7 bilah diafragma (Canon pakai 5 bilah) yang akan lebih menghasilkan bokeh yang lebih natural. Bagaimana kualitas fisik lensa ini? Sulit dinilai, karena Yongnuo sendiri tidak memberi detil info soal lensanya, tapi yang jelas lensa ini Auto Fokus, bisa menutup sampai f/22, dan terdiri dari 6 elemen dalam 5 grup. Lihatlah perbandingan antara kedua lensa, Canon 50mm (kiri) dan Yongnuo 50mm (kanan), nyaris sama kan?

yongnuo-50mm-vs-canon-50mm

Samyang 100mm f/2.8 Macro

Pecinta makro maupun foto potret akan menyukai lensa Samyang baru ini. Dengan fokal fix 100mm bukaan f/2.8, lensa manual fokus ini bisa fokus sangat dekat karena memang dirancang untuk makro. Bukaan terkecilnya adalah f/32 dengan diameter filter 67mm yang tidak ikut berputar saat ring fokus diputar. Terdiri dari 15 elemen dalam 12 grup (termasuk satu elemen high refractive index dan satu elemen extra-low dispersion) menjamin ketajaman untuk potret maupun makro. Sayangnya karena lensa seberat 700 gram ini tidak ada fitur stabilizer/peredam getar, so untuk mendapat foto makro yang tajam memang perlu selalu memakai tripod.

samyang100mmf28

Zenith Helios 85mm f/1.5

zenith-helios

Lensa potret 85mm manual buatan Rusia ini seperti tank, kokoh dan berat. Di dalamnya terdapat 10 bilah diafragma, bukaan f/1.5 hingga f/22 dan bobotnya 800 gram. Sayangnya mungkin lensa ini tidak akan dijual di tanah air.

Lensbaby Velvet 56mm f/1.6

Lensa potret dari Lensbaby ini punya keunikan memberi hasil foto yang soft dan berkilau, cocok untuk potret yang unik dan kreatif. Walau termasuk lensa potret tapi lensa 56mm f/1.6 ini juga bisa makro karena bisa memfokus dekat dengan rasio 1:2, atau kira-kira 5 cm dari depan lensanya. Lensa dengan diameter filter 62mm ini bobotnya hanya 400 gram, bukaan mininum f/16 dan tentunya hanya manual fokus saja. Tertarik?

lensbabyvelvet56

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Aperture, bukaan, f-number, diafragma : apakah sama?

Salah satu komponen penting dalam eksposur yang punya banyak penyebutan adalah aperture, atau bukaan, atau diafragma, dan dinyatakan dalam f number. Berbeda dengan shutter speed dan ISO, aperture ini cukup rumit dan sulit dimengerti, baik arti definitifnya maupun dampaknya dalam terang gelap foto. Bahkan pemula kerap terbalik antara angka f number dengan besarnya bukaan lensa ini. Kami coba susun artikel untuk anda, semoga bisa lebih paham akan fundamental fotografi yang satu ini. Untuk definisi dan penjelasan istilah-istilah fotografi lebih lengkap tersedia buku Kamus Fotografi yang kami buat, tersedia di toko buku terdekat.

Pendahuluan

Fotografi pada dasarnya menangkap cahaya, merubahnya menjadi gambar. Tidak ada cahaya, maka tidak ada foto (hitam total), terlalu banyak cahaya, foto menjadi over (bahkan bisa jadi putih total). Tugas kita, atau kamera (bila pakai mode Auto) adalah mengatur banyaknya cahaya yang masuk supaya didapat eksposur yang tepat, dengan mengatur tiga hal : lamanya shutter dibuka (shutter speed atau kecepatan rana), sensitivitas sensor (atau film) dalam satuan ISO (atau ASA) dan besarnya bukaan di lensa, yaitu aperture.

Jadi, aperture adalah lubang yang menjadi jalan masuknya cahaya dari lensa menuju sensor kamera.

Aperture ini adanya di lensa, maka itu kerap disebut bukaan lensa (lens opening). Jadi setiap lensa kamera punya aperture, bahkan kamera ponsel sekalipun (pada mata manusia biasa disebut pupil). Karena fungsinya untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk maka aperture harus bisa diatur bukaannya (bayangkan seperti membuka keran air, mau dibuka besar atau kecil). Aperture yang dibuka besar, maka foto akan jadi terang. Dibuka kecil, foto jadi gelap. Simpel kan?

aperture

Contoh kiri atas adalah aperture lensa dibuka besar, lalu kanan atas adalah contoh aperture lensa dibuka kecil. Bagaimana aperture bisa dibuat besar atau kecil? Dengan menyusun sejumlah (bisa 5, 7, 9 atau lebih) bilah (blade) diafragma sehingga membentuk lingkaran seperti di bawah ini :

blade

Contoh diatas adalah diafragma yang dibentuk oleh 7 bilah dan sedang dalam posisi membuka cukup kecil. Pada mata manusia, diafragma biasa disebut juga dengan iris.

F-number

Dalam fotografi terang gelap foto selalu diatur dalam kelipatan 1 stop. Menambah 1 stop artinya foto kita akan 2x lipat lebih terang. Pengaturan bukaan lensa mengikuti teori F-number yang baku seperti ini :

aperture-sizes

Perhatikan kalau f/2.8 termasuk bukaan besar, dan pada f/16 bukaan lensa menjadi sangat kecil. Kita bisa merubah/mengganti berapa F-number yang mau kita pakai dengan memutarnya di lensa (untuk lensa-lensa lama) atau memilih melalui kamera. Saat merubah angka-angka ini ingatlah : (asumsi ISO dan shutter speed tetap)

  • dari f/2.8 ke f/4 artinya turun 1 stop, foto akan lebih gelap
  • dari f/8 ke f/4 artinya naik 2 stop, foto akan jauh lebih terang

Deret yang lebih lengkap sebenarnya adalah begini :

f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11 – f/16 – f/22 – f/36

Anda tidak harus menghafal angka-angka diatas, cukuplah mengingat hubungan angka dengan besar kecilnya bukaan supaya tidak tertukar.

Bila anda termasuk yang penasaran dari mana angka-angka F-number diatas berasal, jawabannya ternyata cukup matematis, melibatkan rumus akar dan kuadrat. Rasanya tidak perlu lah dibahas disini..

Kita akan luruskan beberapa hal-hal yang mungkin masih membingungkan :

  • setiap lensa punya bukaan maksimal yang berbeda-beda, misal ada yang f/1.4 dan ada yang cuma f/4
  • walaupun bukaan maksimal tiap lensa itu berbeda, tapi setiap lensa bisa dikecilkan bukaannya sampai bukaan minimum (paling kecil lubangnya)
  • lensa cepat maksudnya lensa yang punya bukaan besar (karena dengan bukaan besar bisa didapatkan shutter speed yang lebih cepat)
  • huruf ‘f’ dalam bukaan lensa ini singkatan dari focal length (alias panjang fokal lensa), misal bila kita pilih f/4 artinya diameter bukaan (lubang) lensanya adalah 1/4 dari panjang fokal lensanya, penjelasan lebih detilnya seperti ini :

Setiap lensa punya panjang fokal tertentu. Kita ambil contoh yang gampang misalnya lensa tele 100mm. Maka, bila kita set bukaan lensa 100mm ini ke f/4, diameter bukaan lensanya adalah 1/4 dari 100mm, atau 25mm (atau 2,5 cm). Inilah mengapa lensa tele punya ‘moncong’ yang besar, apalagi kalau lensa tersebut punya bukaan f/2.8.

lens-f-number-2

Kita coba bandingkan dua lensa yang sama-sama f/2.8 tapi beda fokal lensa :

  • lensa 50mm f/2.8 punya diameter lubang 17.8mm (tidak sampai 2 cm)
  • lensa 200mm f/2.8 punya diameter lubang 71.4mm (7 cm lebih)

Contoh aktual :

tamron-17-50mm
Lensa 17-50mm f/2.8 masih cukup kecil ukurannya
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar

Jadi..

secara fisik, kedua lensa diatas walau sama-sama f/2.8 pasti berbeda ukuran lubangnya TETAPI karena sama-sama f/2.8 maka kedua lensa punya kemampuan yang sama dalam memasukkan cahaya. Dengan kata lain, kedua lensa bila dipakai di f/2.8 dan dites dengan ISO dan shutter speed yang sama maka akan menghasilkan foto yang eksposurnya SAMA. Kok bisa? Waduh ini lebih rumit lagi penjelasannya. Sederhananya begini : semakin tele/panjang fokal lensa, sebetulnya semakin panjang juga bentuk fisik lensanya (jadi seperti tabung) yang menyebabkan kemampuan menangkap cahaya menjadi berkurang, sehingga dibutuhkan diameter lubang yang lebih besar untuk mengimbanginya.

Konsekuensi ini membawa dampak pada besarnya ukuran fisik lensa secara keseluruhan, dan juga diameter filter yang akan dipasang di depan lensa. Maka itu pemakai lensa-lensa tele sudah akrab dengan filter yang diameternya besar (dan mahal) seperti 72mm, 77mm atau 82mm.

Dengan begitu lupakanlah hasrat untuk mencari lensa yang fokalnya bisa panjang, bukaannya juga besar dan mau yang ukuran lensanya kecil, tidak akan pernah ada (kecuali kamera saku karena sensornya juga kecil).

Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya seukuran piring makan kita
lensa Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya saja seukuran piring makan kita..
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa-lensa favorit para fotografer

Dalam dunia fotografi serius baik sistem DSLR ataupun CSC (Compact System Camera) alias mirrorless, begitu banyak ditemui pilihan lensa yang tersedia. Banyak pilihan berarti mempermudah fotografer untuk mendapat hasil foto sesuai yang diinginkan. Bagi pemula, banyak pilihan justru bingung mau beli lensa yang mana. Ada baiknya kita meninjau lensa-lensa favorit fotografer, siapa tahu beberapa diantaranya membuat anda tertarik. Disini kami tidak menyebut merk, tapi hanya fokal lensa (eq. 35mm) dan bukaannya. Kalau perlu contoh barulah kami tulis merk-nya. Ada baiknya anda membaca artikel lama kami tentang memilih lensa yang sesuai ukuran sensor, seandainya anda bingung mengenai padanan lensa full frame dengan APS-C yang kerap disebut di tulisan kali ini.

Lensa fix

Lensa jenis fix, atau prime, tidak bisa di zoom, disukai banyak fotografer karena hasil foto yang baik. Beberapa lensa fix juga disukai karena ukurannya kecil dan murah. Lensa fix juga bisa jadi sangat mahal dan besar tergantung fokal lensanya.

Lensa 50mm

zeiss-loxia-50mm-f2

Inilah lensa favorit sepanjang masa. Fokal 50mm disukai oleh banyak fotografer di dunia karena menghasilkan perspektif normal seperti pandangan mata, tidak lebar dan tidak tele (dengan catatan lensa ini dipasang di bodi dengan sensor full frame 35mm). Bukaan maksimum lensa fix 50mm bervariasi, mayoritas ada yang f/1.8 dan f/1.4 walau ada juga yang f/2. Pemakai kamera sensor APS-C lebih tepat membeli lensa fix 30mm atau 35mm, sedangkan pemakai kamera micro four thirds semestinya memasang lensa 25mm.

Lensa 85mm

2x85

Lensa fix favorit untuk potret, tersedia dalam bukaan f/1.8 , f/1.4 hingga f/1.2. Untuk mendapatkan sudut gambar setara lensa 85mm, pemakai kamera sensor APS-C lebih tepat memakai lensa 58mm tapi lensa ini jarang ada, maka itu umumnya disiasati dengan lensa 50mm.

Lensa 100mm macro

tamron_90mm_macro_vc

Lensa fix dengan fokal tele 100mm yang bisa fokus dekat, variasi fokalnya berbeda sedikit antar merk. Di pasaran ada Tamron 90mm, Canon 100mm, Nikon 105mm tapi pada prinsipnya sama saja. Umumnya lensa seperti ini bukaannya f/2.8.

Lensa Zoom

Lensa zoom artinya punya variabel fokal, rentangnya dari fokal terpendek sampai terpanjang. Misal 18-55mm artinya bisa memotret dengan fokal berapapun antara 18mm hingga 55mm. Kerugian lensa zoom adalah bukaannya yang tidak bisa besar, kalaupun bisa besar umumnya ‘cuma’ f/2.8 dan itupun sudah mahal. Ada lensa zoom yang didesain di rentang wide, ada yang tele dan ada yang all round (dari wide hingga tele).

Lensa zoom wide : 14-24mm / 16-35mm

tokina-af-16-28-f28

Rentang fokal lebar favorit fotografer, opsi lain adalah 16-28mm atau 16-35mm, atau bahkan 17-40mm yang juga masih termasuk lebar, di kamera full frame. Bagi pemakai APS-C pakailah lensa zoom wide yang diawali dengan angka 9,10,11 atau 12mm. Misal 10-22mm, 11-16mm, 12-24mm dsb. Bahkan Panasonic membuat lensa Lumix G 7-14mm f/4 untuk kamera micro four thirds.

Lensa zoom standar bukaan konstan : 24-xx mm

sigma-24-105mm

Lensa zoom di kelompok ini bisa dibilang adalah lensa profesional serba bisa, mulai dipakai jalan-jalan sampai foto kerja (seperti liputan, wedding) juga oke. Dulu lensa favorit adalah lensa dengan awalan 28mm, kini eranya sudah beralih lebih lebar menjadi 24mm. Pilihannya :

  • lensa 24-70mm f/2.8 (padanan untuk APS-C adalah lensa 17-50mm f/2.8, untuk micro four thirds ada lensa pro 12-35mm f/2.8)
  • lensa 24-70mm f/4
  • lensa 24-105mm f/4 (padanan untuk APS-C adalah lensa 17-70mm f/4)
  • lensa 24-120mm f/4 padanan untuk APS-C adalah lensa 16-85mm atau yang setara)

Lensa tele zoom profesional : 70-200mm

70-200s

Lensa tele bukaan besar yang favorit untuk foto potret maupun obyek lain yang cukup jauh. Umumnya ada dua versi lensa ini yaitu yang bukaan f/2.8 (besar dan berat) dan versi hemat dengan f/4. Di APS-C lensa padanannya adalah lensa -lensa seperti 50-145mm atau 50-150mm. Untuk sistem MFT ada lensa Lumix G 35-100mm f/2.8.

Lensa zoom murah meriah : 70-300mm

lens-four-600

Bila lensa 70-200mm terasa mahal, maka lensa tele murah meriah 70-300mm adalah jawabannya. Di bodi full frame, lensa ini memberi jangkauan tele hingga 300mm dan di bodi APS-C bahkan fokal terjauhnya setara dengan 450mm. Alasan dari harganya yang murah adalah bukaannya kecil, dan variabel (makin mengecil saat di zoom). Untuk bisa mendapat rentang fokal setara 70-300mm di full frame, pemilik APS-C bisa memakai lensa 55-200mm atau 55-250mm dan pemakai MFT bisa membeli lensa 35-150mm atau 40-150mm.

Lensa sapu jagat

canon-ef-s-18-200mm-f35-56-is

Ini mungin lebih cocok sebagai lensa favorit traveler, bukan fotografer. Karena hasil foto dari lensa sapu jagat kurang begitu optimal, tapi menang di praktisnya karena bisa memotret wide hingga tele tanpa perlu berganti lensa. Sebagai contoh kami berikan lensa 28-300mm untuk full frame, dan padanan di APS-C adalah lensa 18-200mm. Bagi pemakai Olympus/Panasonic ada lensa Lumix G 14-140mm atau M.Zuiko 14-150mm.

Share dong, apa lensa favorit kalian?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa sapu jagad ambisius : Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro

Walaupun enaknya memotret dengan kamera DSLR (atau mirrorless) adalah bisa berganti-ganti lensa, tapi ada juga orang yang lebih tertarik kalau bisa pakai satu lensa saja yang bisa mencakup kebutuhan wide sampai tele. Bagi mereka, lensa superzoom atau sapu jagad memang jadi opsi yang lebih cocok, apalagi kalau dibawa travelling. Lensa DSLR memang jarang yang punya rentang zoom panjang, bahkan dulu 18-200mm sudah tergolong istimewa. Tapi kini batasan itu mulai dilampaui, seperti lensa Sigma 18-270mm, Nikon 18-300mm yang bisa menjangkau lebih tele dari 200mm. Tapi Tamron yang baru muncul ini keren, fokal terpendeknya bisa mencapai 16mm yang relatif lebar (ekivalen 24mm di sensor APS-C). Rasio zoomnya adalah 18,8x yang sepertinya memecahkan rekor untuk lensa superzoom saat ini.

Berikut penampakan lensa Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro :

tamron-16-300mm-f35-63g-di-ii-vc-pzd-macro-lens

Didalam lensa seharga 7 juta ini tersusun atas tiga elemen lensa Molded-Glass Aspherical, sebuah elemen lensa Hybrid Aspherical, dua elemen lensa LD (Low Dispersion), sebuah elemen lensa XR (Extra Refractive index) dan satu elemen baru yaitu UXR (Ultra-Extra Refractive Index) yang punya indeks refraksi lebih tinggi dari XR, dan bisa membuat ukuran lensa jadi lebih kecil.

Opini kami :

  • alternatif menarik dibanding Nikon 18-300mm bila tujuannya ingin lensa yang lebih terjangkau
  • dengan fokalnya yang cukup wide (16mm setara 24mm) menarik untuk dipakai memotret pemandangan dan interior
  • value produk sudah oke, karena ada VC (penstabil getaran), motor fokus PZD (halus dan cepat) serta bisa makro-makroan (1:2,9 dengan MFD 40cm)
  • kualitas optik termasuk standar, lensa sapu jagat tidak didesain untuk mengoptimalkan kualitas hasil tapi kepraktisan
  • desain baru lensa Tamron ini terlihat lebih pro, balutan warna hitam, tekstur dan gelang zoom – fokus desain baru
  • Tamron berhasil membuat lensa yang berukuran kecil (panjangnya 10cm) dan bobot ringan (1/2 kg) – setara dengan lensa Nikon 18-300mm generasi kedua
  • lensa ini cocok untuk all round lens, praktis buat jalan-jalan dan foto harian
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Begini cara membaca spesifikasi lensa kamera DSLR

Membaca spesifikasi lensa kamera DSLR (atau kamera mirrorless) bisa jadi bikin sebagian orang kebingungan, karena istilah dan angka-angka yang tidak familiar. Padahal supaya lensa bisa memberi hasil yang optimal kita perlu tahu kelebihan dan kekurangannya, dan untuk memastikan tidak salah beli juga. Artikel kali ini akan menjelaskan cara membaca spesifikasi lensa kamera supaya makin paham, yuk disimak..

Nikon AF-S 35mm f/1.8
Nikon AF-S 35mm f/1.8

Baru-baru ini Nikon meluncurkan sebuah lensa bernama AF-S 35mm f/1.8G dengan spesifikasi sebagai berikut :

Lens type Prime lens
Max Format size 35mm FF
Focal length 35 mm
Image stabilisation No
Lens mount Nikon F (FX)
Maximum aperture F1.8
Minimum aperture F16.0
Aperture ring No
Number of diaphragm blades 7
Aperture notes rounded
Elements 11
Groups 8
Special elements / coatings 1 ED glass element, 1 aspheric element
Minimum focus 0.25 m
Autofocus Yes
Motor type Ring-type ultrasonic
Full time manual Yes
Distance scale Yes
DoF scale Yes
Weight 305 g
Diameter 72 mm
Length 72 mm
Filter thread 58 mm
Hood supplied Yes
Hood product code HB-70
Tripod collar No

Penjelasan

Nah bagi anda yang masih awam soal lensa mungkin akan kesulitan untuk memahami makna istilah dan angka-angka di spesifikasi diatas. Kita akan coba ulas sebagian, kami pilihkan yang pentingnya saja.

Tipe lensa : prime

prime artinya lensa fix, tidak bisa dizoom, misal fix 35mm, fix 50mm, fix 85mm dsb

Focal length : 35mm

Angka 35mm berkaitan dengan panjang fokal lensa dalam milimeter, menentukan bidang gambar yang akan terbentuk (wide atau tele), untuk lensa zoom angka focal length akan ditampilkan dari fokal terdekat hingga terjauh, misal 18-55mm, 70-300mm dan sebagainya

Lens mount : Nikon F

lensa ini hanya bisa dipasang di kamera Nikon dengan F-mount, tidak bisa dipasang di kamera selain Nikon (kecuali dengan menambah adapter), untuk yang pakai kamera Canon namanya EF mount, Sony itu A mount, Pentax pakai K mount dsb

Max aperture : F1,8

menunjukkan bukaan diafragma terbesar yang lesa ini bisa capai (berkaitan dengan banyaknya cahaya yang bisa masuk ke kamera, supaya foto bisa lebih terang), jangan harap lensa ini bisa membuka ke F1.4 demikian juga yang punya lensa dengan bukaan maksimum F3,5 jangan berharap lensanya bisa membuka sampai F2,8 dong..

Min aperture : F16

menunjukkan bukaan minimum, lensa ini hanya bisa sampai F16 dan tidak bisa mengecil sampai F22 seperti lensa lain, tapi dalam banyak pemakaian F16 sudah dirasa cukup

Aperture ring : 7

artinya desain aperture di lensa ini dibentuk dari 7 bilah diafragma, lensa itu biasanya tersusun antara 5-9 bilah diafragma, semakin banyak maka bentuk bokehnya akan semakin bulat

Minimum focus : 0.25m

artinya lensa ini baru bisa fokus kalau objeknya paling tidak berjarak 25cm dari focal plane (dari sensor kamera) atau kira-kira 20cm dari ujung lensa

Distance scale : Yes

artinya di lensa ini ada jendela penunjuk jarak fokus, berguna untuk manual fokus maupun bila kita ingin tahu berapa jauh jarak obyek yang difoto (dalam meter), angka yang tertulis berkisar dari jarak minimum hingga infinity (tak terhingga)

Filter thread : 58mm

ini menunjukkan diameter lensa secara fisik, berkaitan dengan ukuran filter yang akan dipasang, biasanya dari 52mm, 58mm, 62mm, 67mm, 72mm, 77mm dan 82mm, makin besar diameternya maka harga filternya akan makin mahal

Tripod collar : no

lensa yang diberi tripod collar biasanya lensa yang besar dan berat, jadi tripod atau monopod bisa dipasang di lensa (bukan di bodi) supaya lebih seimbang dan tidak resiko jatuh ke depan (untuk tripod)

Di lensa lain ada juga istilah dan spesifikasi yang bisa membuat bingung seperti :

  • reproduction ratio : antara 1:1 hingga bervariasi, misal 1:2, 1:4 dsb menunjukkan kemampuan makro lensa, untuk makro idealnya 1:1 tapi kalau lensa yang bisa 1:2 sudah bagus juga untuk belajar makro
  • IS/OS/VR menyatakan fitur peredam getar di lensa, fitur ini bisa dimatikan saat di tripod, atau saat pakai shutter speed tinggi, atau untuk menghemat baterai kamera
  • focus limit : membatasi jarak fokus lensa, dipilih sesuai kondisi supaya kamera bisa memfokus lebih cepat (fitur ini hanya ada di beberapa lensa khusus)
  • kode-kode lensa APS-C seperti Canon EF-S, Nikon DX, Sigma DC itu artinya lensa khusus kamera sensor APS-C, tidak untuk dipakai di full frame
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengapa harga lensa bisa begitu mahal?

Bagi yang baru punya sistem kamera interchangeable lenses (misal kamera DSLR atau kamera mirrorless) yang umumnya dipaketkan dengan satu lensa kit, tentu tertarik untuk menambah koleksi lensanya. Tapi bisa jadi anda terheran-heran saat melihat harga lensa di pasaran karena bandrol harga yang dipasang sangat fantastis. Memang sih kita tahu lensa itu adalah gabungan peranti optik-elektronik yang rumit, tapi apakah memang harus semahal itu? Padahal ada juga lensa murah yang hasilnya lumayan.

Perbadaan yang kerap dirasakan tidak masuk akal biasanya terjadi saat kita membandingkan lensa yang mirip, tapi sejatinya berbeda kelas. Misal lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 adalah lensa kelas consumer, harganya sejutaan. Tapi lensa 17-55mm f/2.8 yang fokalnya sangat mirip, adalah lensa profesional, yang harganya diatas 10 jutaan. Masih banyak contoh lainnya, misal antara lensa 55-200mm (2 jutaan) dan 70-200mm f/2.8 (20 jutaan), lensa fix 35mm f/1.8 dan 35mm f/1.4 dan sebagainya.

tamron-70-300-vc

Lensa kelas consumer itu dibuat untuk dibeli oleh banyak orang, sehingga biaya produksi bisa tertutupi dan tidak perlu dijual terlampau mahal. Bahannya umumnya plastik, optiknya tidak terlalu rumit, motor fokus dan sistem anti getarnya yang tidak terlalu canggih dan tidak dilengkapi dengan pelindung cuaca dan debu. Setingkat diatas kelas consumer ada kelas enthusiast alias kelas serius/hobi/menengah. Lensa semacam ini juga banyak yang pakai, tapi umumnya dibeli karena orang ingin kualitas dan performa yang lebih baik dari sekedar lensa murah. Kalau lensa kelas pro hanya dipakai oleh lebih sedikit fotografer, biasanya untuk kebutuhan kerja yang tidak mau kompromi sama kualitas, atau lokasi memotretnya di tempat yang sulit (puncak gunung, medan perang atau banyak gangguan eksternal).

sigma-18-35

Untuk membedah satu persatu penyebab harga lensa itu bisa mahal atau murah, kami sajikan alasan yang masuk akal :

  • biaya produksi, termasuk tempat lensa itu dibuat (Jepang, Cina, Thailand dsb)
  • batas ambang mutu, dimana lensa murah itu syarat lolos QC tidak berat, tapi lensa mahal itu QC lebih ketat
  • desain optik, lensa mahal umumnya punya desain yang kompleks, tapi tidak menurunkan kualitas optiknya
  • elemen lensa dan coating, yang tujuannya untuk menjaga kontras dan ketajaman
  • desain bukaan lensa, dimana lensa dengan bukaan konstan (misal f/2.8) lebih sulit dibuat
  • desain motor auto fokus, apakah memakai gelombang atau memakai motor biasa
  • desain stabilizer (bila ada) yang semakin cerdas mendeteksi getaran dan mengkompensasinya
  • konstruksi secara umum : apakah elemen depan lensa berputar atau memanjang saat memfokus (idealnya tidak)
  • versi : kebanyakan lensa di pasaran adalah versi full frame, tapi ada juga versi kecil untuk APS-C yang lebih murah
  • perlindungan cuaca yang penting bila memang dipakai di tempat yang ekstrim
  • brand image, lensa dibuat oleh Canon/Nikon dsb akan lebih mahal dibanding lensa 3rd party

Saat ini produsen lensa tidak selalu dari merk pembuat kamera. Kita tahu ada merk lensa alternatif seperti Tamron, Sigma, Tokina, Samyang dll.  Walau mereka kerap dipandang sebelah mata, tapi perlu diketahui juga kalau mereka  meluncurkan lensa-lensa yang mahal juga. Jadi harga lensa tidak bisa ditekan bila desain dan peruntukannya memang untuk kelas profesional. Simaklah betapa harga lensa Tamron/Sigma 24-70mm dan 70-200mm juga mahal, walau masih dibawah buatan Canon/Nikon.

Lalu apa kesimpulannya?

Mungkin lebih sekedar tips saja. Kalau mencari lensa murah, jangan berharap banyak akan fiturnya. Jadikan lensa murah ini untuk pemakaian harian yang biasa, atau untuk belajar. Karena murah, kami lihat tidak ada alasan untuk membeli merk alternatif. Nikon 55-200mm adalah lensa murah yang optiknya bagus, Canon 10-22mm adalah lensa wide yang harganya terjangkau.

Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR
        Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR

Di kelas pro, budget jadi penentu pengambilan keputusan. Pro dengan dana tak terbatas rasanya tidak perlu dibahas disini. Tapi profesional yang sensitif masalah harga bisa mempertimbangkan lensa pro alternatif / 3rd party. Kualitasnya memang sedikit dibawah yang Canon/Nikon tapi harga bisa terpaut banyak. Tapi untuk jangka panjang pikirkan juga apa penghematan yang dilakukan saat ini sepadan dengan resiko di masa depan? Misal saat lensa tersebut mau dijual lagi, harganya tentu beda antara yang Canon/Nikon dengan yang 3rd party. Lalu saat tiba-tiba ada isu inkompatibilitas (ingat tidak ada jaminan lensa 3rd party saat ini akan selalu kompatibel dengan bodi kamera masa depan) maka investasi mahal anda di lensa 3rd party akan jadi tidak bernilai.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alternatif lensa kit standar untuk kamera DSLR

Setiap kamera digital dijual dengan dua opsi pilihan : body only atau dipaketkan dengan lensa kit. Kebanyakan kamera DSLR ekonomis adalah sudah paket plus lensa kit, bahkan ada yang dobel kit (tambah lensa tele). Lensa kit yang dipaketkan beragam jenisnya, walau umumnya punya kesamaan ciri yaitu lensa kecil dengan jenis standar zoom, rentang fokal 18-55mm dan bukaan f/3.5-5.6 plus anti getar (VR/IS dsb).

Di artikel terdahulu kami pernah membahas tentang plus minus lensa kit, yang bisa jadi ada hal-hal yang membuat kita kurang puas saat memakainya. Saat itulah mungkin kita akan bertanya-tanya, apakah lensa ini mau tetap dipakai atau diganti. Bila memang ingin mencari lensa lain untuk menggantikan lensa kit, berikut kami sajikan beberapa alternatif yang bisa anda baca :

Lensa sapu jagat

Lensa dengan istilah yang unik ini maksudnya adalah lensa superzoom, dengan fokal yang serba-bisa dari wide (misal 18mm) hingga tele (misal 200mm atau bahkan 300mm). Dengan satu lensa ini saja kita bisa maksimalkan untuk berbagai kebutuhan seperti pemandangan, liputan, potret maupun candid. Pilihan yang umum biasanya Canon EF-S 18-200mm (gambar di bawah ini), Nikon AF-S 18-200mm (dan kini ada juga yang 18-300mm), lalu ada Sigma dan Tamron juga bisa dicoba (misal 18-250mm). Semua lensa di kategori ini semestinya sudah dilengkapi dengan fitur anti getar karena fokal telenya akan rawan getaran tangan saat memotret.

canon-ef-s-18-200mm-f35-56-is

Kekurangan lensa ini adalah harganya cukup tinggi (6-10 jutaan) dan ukurannya cukup besar. Saat memakai fokal paling tele, lensa ini bisa memanjang sampai 2x lipat. Selain itu kualitas optiknya juga pas-pasan, walau bukan berarti jelek.

Lensa all-around

Lensa kategori ini hampir sama dengan lensa sapu jagat, tapi rentang fokalnya lebih pendek khususnya dalam hal kemampuan telenya. All-around juga bisa diartikan lensa serba guna (general purpose), yang mencakup dari wide (18mm) hingga agak tele (misal 70mm). Lensa dengan fokal seperti ini cocok untuk pemandangan hingga potret, tapi bukan untuk kebutuhan tele yang jauh. Lensa ini harganya lebih terjangkau dibanding lensa sapujagat/superzoom, di kisaran 4-6 jutaan dan kualitas optiknya relatif bagus. Fitur anti getar umumnya sudah disematkan di lensa kategori all-around.

nikon-nikkor-16-85mm-vr

Kenapa lensa semacam ini dipilih untuk menggantikan lensa kit, alasan utamanya adalah dalam hal kualitas bodinya. Lensa di kelas ini punya bodi yang lebih mantap, mount logam, motor fokus yang lebih handal dan manual fokus yang lebih nyaman. Pilihan di kelas ini adalah Canon EF-S 15-85mm, Nikon AF-S 16-85mm (contoh gambar di atas) dan Sigma 17-70mm DC. Kekurangan lensa ini adalah, bila kekampuan telenya belum membuat anda puas, anda akan perlu membeli satu lensa khusus tele zoom seperti 70-300mm.

Lensa standar bukaan besar

Lensa di kelas ini punya ciri bukaan maksimumnya besar (f/2.8) dan konstan (dari wide hingga tele bukaan maksimumnya tetap besar). Jangan heran karena itulah harga lensa seperti ini bisa berkali-kali lipat dari harga lensa kit (asumsi harga lensa kit adalah 2 juta). Nikon misalnya, punya lensa AF-S 17-55mm f/2.8 yang harganya diatas 10 juta, demikian juga dengan Canon. Alternatif hemat ada Sigma 17-50mm f/2.8 seharga 6 juta dan dari Tamron di kisaran 4 juta. Paling terjangkau adalah Tamron AF 17-50mm f/2.8 non VC yang dijual dibawah 3 juta, seperti gambar di bawah ini :

tamron-17-50mm

Keuntungan lensa ini adalah bukaan besar bisa membantu mendapat foto yang terang walau cahaya kurang, lalu bisa dapat bokeh yang lebih blur dan kualitas optiknya relatif paling baik dibanding lensa sekelasnya. Maka itu lensa seperti ini sering dipakai untuk liputan khususnya wedding. Kekurangannya adalah harganya mahal dan rentang fokalnya cukup pendek (hanya sampai 55mm) jadi persis sama dengan lensa kit 18-55mm.

Kesimpulan

Lensa kit, seperti lensa 18-55mm f/3.5-5.6 pada dasarnya sudah mencukupi untuk berbagai kebutuhan fotografi sehari-hari, ditinjau dari fokal, bukaan dan kualitas optik. Tapi saat kita ingin mengganti lensa kit itu, pilihan terbagi tiga skenario :

  • mengutamakan rentang fokal (supaya cukup bawa satu lensa) : pilih lensa super zoom
  • mencari lensa ‘tengah-tengah’ (dari rentang fokal, harga dan kualitas) : pilih lensa all round
  • mengutamakan bukaan besar (atau bisa juga karena mengutamakan hasil foto) : pilih lensa standar bukaan besar

manapun yang anda pilih, ketiga kelompok ini memiliki kesamaan di rentang fokal yang standar yaitu mulai dari 16/17/18mm hingga suatu nilai tele tertentu. Perlu diingat adakalanya kita juga butuh lensa wide yang lebih lebar misal 10mm hingga 16mm (kategori ultra-wide), adakalanya kita juga perlu lensa dengan bukaan ekstra besar (misal f/1.8) sehingga perlu juga punya lensa fix (prime). Kesamaan lainnya adalah semua lensa di sini didesain khusus kamera DSLR dengan sensor APS-C, yaitu dengan diameter bidang gambar yang lebih kecil dari sensor full frame. Kami tidak mengulas lensa berjenis full frame, walau boleh-boleh saja anda beli lalu dipasang di kamera APS-C anda, misal lensa Canon 17-40mm f/4 L (yang sejatinya adalah lensa wide untuk DSLR Canon full frame).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan setelah membeli kamera digital

Anda baru saja membeli sebuah kamera DSLR atau kamera mirrorless? Selamat, tentu ini adalah momen yang menyenangkan buat anda. Apalagi kalau kamera ini adalah yang pertama kali anda beli, pasti terasa lebih spesial. Anda tentu akan banyak mengutak-atik kamera tersebut dan akan sering memotret apa saja dan menikmati hasil fotonya. Tapi sebelum anda lebih jauh mengeksplor kamera baru itu, ada baiknya hal-hal berikut ini dilakukan. Apa saja? Inilah dia..

Baca buku manual

Buku manual, atau mungkin dokumentasi dalam format PDF, sangat dianjurkan dibaca baik-baik sebelum kamera anda dipakai. Cari informasi mengenai panduan singkat, apa yang dilarang, bagaimana cara mengisi (charge) serta memasang baterai dan sebagainya. Pahami betul bagaimana pengaturan kamera, fungsi tombol-tombolnya, mode kamera dan bagaimana memaksimalkan fiturnya. Tips : bila anda perlu dipandu dalam hal ini, kami punya kelas kupas tuntas kamera DSLR di Jakarta, rutin setiap bulan sekali.

Siapkan kartu memori baru

Kadang sebagai bonus dari toko, kita diberi kartu memori secara cuma-cuma. Tapi untuk lebih aman dan terjamin, pastikan kita membeli kartu memori sendiri sesuai kebutuhan. Carilah yang asli, kapasitas tinggi (misal 16 GB) dan kecepatan tinggi (misal kelas 10). Dengan begitu kamera siap untuk dipakai memotret cepat dan merekam video tanpa masalah. Memori palsu atau tidak jelas bisa beresiko membuat kamera error, atau minimal foto-foto anda gagal disimpan.

Belilah aksesori dasar

Alokasikan sedikit dana untuk membeli aksesori dasar yang lumayan dibutuhkan, seperti tisu lensa, peniup debu dan tas kamera. Dengan demikian kamera akan selalu terlindung saat dibawa, dan selalu siap dibersihkan saat terkena noda atau debu. Hindari pakai tisu biasa yang banyak seratnya, tisu lensa bisa dibeli di toko kacamata atau di toko kamera.

Investasikan sebuah Dry box atau kotak kedap udara

drybox

Idealnya menyimpan kamera bukan di tas, tapi di dry box. Di tas itu hanya saat kamera akan dibawa bepergian. Dry box dibutuhkan untuk menyimpan kamera dan lensanya, sehingga tidak berjamur akibat lembab. Bila dry box terlalu mahal, belilah kotak plastik kedap udara lalu masukkan silica gel atau serap air. Lensa yang berjamur akan sulit dibersihkan, dan bila nanti akan dijual harganya bakal jatuh. Saat di dalam dry box, lepaskan lensa dari kamera dan keluarkan juga baterainya.

Bekali pengetahuan dasar manajemen file foto

Foto-foto anda akan bertambah banyak setiap hari. Tidak mungkin semuanya hanya disimpan di kartu memori kan? Bagi yang awam dengan komputer, mulailah membiasakan mengerti manajemen file foto karena anda akan punya ribuan foto yang perlu disimpan. Buatlah alur kerja yang baik mulai dari proses pemindahan foto dari kartu memori ke komputer, pengaturan folder dan editing dasar (rename, resize, rotate, crop, enhance dan convert). Biasakan juga rutin melakukan backup ke DVD/hardsisk eksternal.

Mulai menyusun daftar belanja

Ini yang paling seru, sekaligus penuh racun, hehe… Banyak hal yang tadinya tidak terpikirkan tiba-tiba jadi terasa perlu untuk dibeli. Cobalah untuk dipilah secara bijak mana dulu yang prioritas, misalnya :

  • lensa tambahan, bisa lensa fix yang murah (seperti 50mm f/1.8) atau lensa tele murah (seperti 55-200mm)
  • pengganti lensa kit, bila lensa kit kurang memuaskan bisa pertimbangkan lensa lain untuk jadi pengganti lensa kit (misal lensa 18-200mm, atau lensa bukaan besar seperti 17-50mm f/2.8)
  • tripod, ini juga penting untuk memotret dengan stabil dan tidak goyang/blur
  • flash eksternal, perlu untuk menambah kekuatan flash dan menghemat baterai kamera (dibanding memakai flash built-in)
  • aneka filter (CPL, ND, atau setidaknya UV) sesuai kebutuhan
  • baterai cadangan (apalagi baterai di kamera mirrorless lebih cepat terkuras)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..