Akhirnya Samsung NX10 diluncurkan, plus 3 pilihan lensa

Samsung membuktikan keseriusannya dalam dunia fotografi dengan menepati janjinya untuk membuat kamera berformat baru, dengan konsep lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable), sensor ukuran APS-C dan tanpa mirror (cermin) seperti pada kamera DSLR. Sambutlah produk Samsung NX10 sebagai varian baru dalam dunia kamera digital, melengkapi kiprah Panasonic dan Olympus yang sebelumnya sudah membuka babak baru dengan kamera Micro Four Thirds.

Format EVIL (Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses) camera mungkin adalah format kamera yang jadi impian setiap orang. Ukuran yang kecil, bobotnya ringan, hasil foto yang baik dan keleluasaan berganti lensa sudah bisa memberikan gambaran betapa idealnya format ini. Format Micro Four Thirds, terlepas dari harga jualnya, adalah format baru yang disambut positif oleh kalangan fotografer dan punya masa depan cerah. Melihat kesuksesan format Micro 4/3 ini (yang memakai sensor Four Thirds), menginspirasi Samsung untuk membuat format serupa, namun dengan sensor yang sedikit lebih besar.

Samsung NX10
Samsung NX10

Apa yang membuat Samsung NX10 ini begitu dinantikan? Tak lain adalah karena dipakainya sensor CMOS ukuran APS-C  beresolusi 14,6 MP sehingga kualitas gambar kamera ini diyakini akan sama seperti hasil kamera DSLR pada umumnya. Urusan noise di ISO tinggi juga bisa dijaga tetap rendah bahkan NX10 ini bisa mencapai ISO 3200. Sebagai kamera tanpa cermin, NX10 mengandalkan prinsip live-view murni melalui LCD ataupun viewfinder, sementara urusan auto fokus memakai prinsip contrast-detect saja. Samsung mengklaim proses auto fokus bisa dibuat sangat cepat berkat  DRIMe II Pro engine yang memakai algoritma AF tingkat lanjut. Urusan lensa, NX10 ini memakai mount lensa khusus meski tersedia adapter untuk lensa Pentax. Layar LCD berjenis Amoled ukuran 3 inci dan viewfinder beresolusi 941 ribu piksel menjadi andalan Samsung juga, ditambah tentunya fitur HD movie sebagai fitur wajib kamera modern juga disediakan di NX10 ini.

Hadir sebagai pilihan awal, tiga buah lensa buatan Samsung yang cukup mengagumkan :

  • lensa zoom standar 18-55mm f/3.5-5.6 IS (ya, IS itu Image Stabilizer layaknya lensa Canon)
  • lensa zoom tele 55-200mm f/4.0-5.6 IS
  • lensa prime 30mm f/2.0 (diameter filter 43 mm, cukup mungil..)

Harga Samsung NX10 belum diumumkan, tapi kurang lebih akan sama dengan harga Lumix GH1 di kisaran 10 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Cara menilai kualitas lensa kamera DSLR

Banyak sekali mereka yang ingin tahu bagaimana caranya menilai kualitas lensa dari kamera DSLR. Hal ini memang wajar mengingat lensa yang berkualitas adalah jaminan hasil foto yang maksimal dan akan semakin penting bila foto yang anda hasilkan adalah untuk dikomersilkan. Bila anda memulai dunia DSLR dengan kamera plus lensa kit, bisa jadi anda merasa penasaran untuk mencari lensa lain yang kualitasnya lebih baik. Masalahnya, ternyata bukan hal yang mudah untuk mendapatkan lensa yang kita idamkan. Begitu banyak pilihan, ditambah berbagai istilah yang membingungkan, hingga deviasi harga yang sangat lebar, membuat niat mencari lensa idaman bisa menjadi ciut. Tapi jangan kuatir, kami hadirkan artikel ini untuk membantu anda mengenali cara untuk menilai kualitas lensa.

Teknologi digital dalam fotografi membuahkan generasi kamera baru dengan sensor beresolusi tinggi. Saat ini kamera dengan resolusi sensor 10 juta piksel pun bisa dianggap ketinggalan jaman, bahkan peningkatan resolusi di kamera DSLR khususnya jenis sensor full-frame sudah mendekati resolusi sensor kamera medium format dengan resolusi diatas 20 juta piksel. Dibutuhkan lensa yang mampu mengimbangi tingginya resolusi sensor sehingga syarat utama lensa berkualitas adalah ketajaman lensa. Di atas kertas, di lab pengujian, kita mengenal adanya MTF chart alias grafik kontras dan ketajaman lensa menurut versi si produsen. Penjelasan yang rumit mengenai MTF ini bakal membuat kening kita berkerut sehingga kita sederhanakan saja bahwa grafik MTF dibuat untuk mewakili karakter optik lensa secara umum dan lensa yang tajam semakin diperlukan untuk mengimbangi tingginya resolusi kamera digital masa kini.

Contoh pengujian lensa (credit : bobatkins.com)
Contoh pengujian lensa (credit : bobatkins.com)

Untuk menilai kualitas lensa, kami asumsikan anda sudah mengetahui jenis lensa apa yang akan dinilai, misalnya dari jenis lensa yaitu lensa fix atau lensa zoom, dan dari desain diafragma lensa yaitu lensa cepat (bukaan besar) dan lensa lambat (bukaan kecil). Anda juga kami anggap sudah mengerti akan fokal lensa yang akan dinilai, apakah itu lensa wide, lensa normal, lensa tele, zoom wide, zoom normal, zoom tele atau all-round zoom. Baiklah, kita lanjut saja.

Penilaian dasar lensa secara umum bisa saja disederhanakan pada unsur :

  • bukaan diafragma (semakin besar semakin bagus/cepat)
  • rentang fokal (semakin lebar semakin bagus/useful)
  • banyaknya fitur (stabilizer, motor mikro dsb)
  • elemen optik tambahan (lensa ED, coating khusus dsb)
  • material lensa (plastik/logam, weather sealed atau tidak dsb)

Meskipun untuk menilai lebih jauh mengenai lensa kita perlu meninjau sedikit lebih dalam dari setiap lensa yang kita idamkan, diantaranya :

  • bagaimana kinerja auto fokus (akurasi, kecepatan dan kehalusan)
  • bagaimana rasanya saat lensa zoom diputar
  • bagaimana desain ring manual fokus dan akurasinya
  • bagaimana indikator posisi zoom dan fokus tampak jelas dan mudah dibaca
  • apakah bagian depan lensa ikut berputar saat mencari fokus
  • bagaimana kemampuan makronya, dan jarak fokus terdekatnya

Dan pada akhirnya, kualitas optiklah yang menjadi faktor penentu bagus tidaknya lensa DSLR yang kita nilai. Berikut adalah faktor penting untuk menilai kualitas optik sebuah lensa :

  • lensa yang baik punya ketajaman yang seragam di tengah dan di tepi (sebaliknya lensa jelek akan blur di bagian pojok/corner softness)
  • lensa yang baik juga mampu menjaga ketajaman saat dipakai di posisi fokal berapa pun, dan bukaan diafragma berapa pun (kecuali saat memasuki batas difraksi lensa/bukaan sangat kecil)
  • lensa yang baik juga punya tingkat keterangan yang sama baik di tengah atau di tepi (sebaliknya lensa jelek akan mengalami fall-off yang nyata/pojokan menjadi gelap)
  • lensa yang baik sanggup mengatasi purple fringing dengan baik (chromatic aberration) dan lensa jelek akan kedodoran saat dipakai di area dengan perbedaan kontras tinggi, sehingga muncul penyimpangan warna keunguan
  • lensa yang baik sanggup mengontrol distorsi dengan baik, garis tidak tampak melengkung kedalam atau keluar
  • lensa yang baik punya kontras yang tinggi, hasil foto tidak pucat
  • lensa yang baik bisa mengatasi flare dengan baik, yang terjadi saat lensa diarahkan ke cahaya terang
  • lensa yang baik tidak merubah warna, biasanya lensa jelek punya coating yang menggeser warna ke arah merah atau biru
  • lensa yang baik punya bokeh yang menawan, creamy dan out-of-focus pada background

Nah, ternyata bukan hal mudah untuk mencari lensa idaman apalagi semakin mendekati ideal maka harga lensa akan semakin sangat mahal. Untuk itu diperlukan pembatasan akan kriteria lensa yang akan dibeli, semisal rentang fokal, harga (budget), jenis diafragma lensa dan sebagainya. Tidak ada lensa ideal, semua lensa tentu ada kompromi. Contoh :

  • Lensa 18-55mm f/3.5-5.6 dan 17-55mm f/2.8 punya rentang fokal yang hampir sama tapi harganya bisa berbeda 12 kali lipat. Hal ini karena kemampuan lensa 17-55mm f/2.8 dalam memasukkan cahaya jauh lebih besar dan konstan di seluruh panjang fokal. Komprominya tentu adalah harga dan bobot/ukuran lensa itu sendiri. Contoh serupa terjadi untuk lensa 55-200mm f/4-5.6 dan lensa 70-200mm f/2.8
  • Lensa 18-200mm f/3.5-5.6 tampak sanggup mengakomodir semua kebutuhan fokal fotografi umum dari wide hingga landscape, tapi komprominya adalah tidak mungkin didesain lensa seperti ini dengan bukaan konstan f/2.8 dan kalaupun bisa maka ukurannya bisa sebesar termos :)
  • Lensa prime menawarkan ukuran yang ringkas, sekaligus bukaan diafragma yang besar dengan harga yang relatif murah. Namun bagi yang terbiasa memakai lensa zoom, maka memotret dengan lensa prime akan membuat repot karena fokal lensanya yang fix di posisi tertentu.
  • Lensa wide punya keistimewaan sendiri dalam menampilkan perspektif berkesan luas, namun lensa wide perlu desain lensa yang rumit dengan resiko mengalami fall-off dan purple fringing, belum lagi distrosi yang pasti tidak bisa dihindari sehingga lensa wide tidak cocok untuk potret wajah.
  • Lensa yang didesain khusus untuk sensor APS-C (Nikon DX atau Canon EF-S) punya diameter lebih kecil, ringkas dan kompak. Namun bila lensa ini dipasang di bodi full frame akan muncul vignetting. Membeli lensa full frame untuk bodi APS-C bisa jadi lebih ‘aman’ meski memang jadi menambah biaya dan belum tentu lensanya tersedia.

Itulah sajian kami kali ini. Meski tidak mudah, tapi setidaknya diharapkan kita bisa mengetahui bagaimana menilai bagus tidaknya sebuah lensa. Bila pada akhirnya kita dihadapkan pada lensa yang biasa-biasa saja, kita masih bisa mengupayaakan untuk membuat foto yang luar biasa. Bila ingin tajam, gunakan f/8 dan lensa apapun akan memberi ketajaman maksimal. Pengujian dari pabrik, fitur yang lengkap, spesifikasi tinggi dan kualitas optik yang tinggi juga tidak akan menolong bila dasar fotografi yang kita kuasai belum matang, semisal kendali eksposur, bermain komposisi dan kejelian mencari momen yang tepat.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ricoh GXR dengan sensor dan lensa terpisah

Bila format interchangeable lens yang diusung oleh Panasonic dan Olympus memungkinkan sebuah kamera kompak bisa berganti lensa, kali ini Ricoh menawarkan konsep agak berbeda dan baru pertama di dunia. Sambutlah Ricoh GXR, kamera saku modern dengan lensa (dan sensor) yang terpisah dari bodi kamera! Saat Ricoh GXR ini terpisah dari lensanya, tidak dijumpai adanya sensor apapun di bagian depan kamera. Sebagai gantinya, si sensor justru digabung dengan lensa dan dijual terpisah. Aneh, tapi nyata.

Kita mulai meninjau dari kesamaan kamera Ricoh GXR ini dengan kamera lainnya. Pertama, Ricoh GXR ini sama saja seperti kamera lain dalam hal pemakaian umum seperti manual P/A/S/M ataupun auto mode. Di bagian belakang bodi kamera mungil ini bisa dijumpai LCD ukuran 3 inci, tombol-tombol standar dan tersedia lampu kilat dan flash hot-shoe untuk lampu eksternal. Di bagian depanlah yang membedakan GXR ini dengan kamera lain, karena kamera seharga 3 jutaan ini (body only lho..) menganut prinsip interchangeable unit sehingga saat lensa dilepas, maka pada kenyataannya kita juga melepas sensornya. Hal ini menyisakan ruang kosong dan konektor data di kamera GXR sehingga tampak seperti foto di bawah ini :

Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor
Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor

Namun bila sudah dipasang lensa barulah kamera ini tampak ‘normal’ seperti kamera pada umumnya :

Ricoh GXR dengan lensa terpasang
Ricoh GXR dengan lensa terpasang

Sensor yang menyatu dengan lensa memang baru kali ini ada. Konsep ini menjamin sensor tidak terkena debu saat berganti lensa, dan desain sensor sudah disesuaikan dengan jenis lensa yang dipakai. Untuk sementara ini baru ada dua jenis lensa yang ditawarkan sebagai paket penjualan :

Lensa fix 50mm f/2.5

Lensa bernama GR lens ini berjenis prime/fix dengan fokal 50mm dan bukaan terbesar adalah f/2.5 yang cukup handal di saat low-light (meski bukaan maksimumnya tidak sebesar lensa prime DSLR dengan f/1.8). Berita baiknya, lensa fix ini dipadukan dengan sensor CMOS 12 MP berukuran APS-C layaknya DSLR. Kombinasi antara Ricoh GXR dan lensa GR 50mm ini membuatnya menjadi kamera yang cocok untuk fotografi candid, potret dan low-light dengan jaminan ISO tinggi yang rendah noise. Sensor sebesar ini plus lensa fix 50mm ini dijual di kisaran harga 5 jutaan.

Lensa zoom 24-75mm f/2.5-4.4 VC

Lensa buatan Ricoh ini menjadi lensa zoom impian banyak orang berkat rentangnya yang sangat berguna dari 24mm untuk wide angle hingga 75mm untuk medium tele. Bukaan diafragmanya pun amat baik dengan f/2.5 saat wide hingga f/4.4 saat tele, plus sistem stabilizer untuk meredam getaran tangan. Dengan desain lensa zoom semacam ini, ukuran sensor terpaksa dibuat kecil dan kabar yang kurang enaknya adalah, lensa zoom ini dipaketkan dengan sensor kecil 1/1.7 inci, jenis CCD resolusi 10 MP. Dengan memasang lensa ini pada Ricoh GXR, jadilah kamera ini sebuah kamera saku biasa yang hasil fotonya juga biasa saja. Tapi tunggu dulu, pengoperasian zoom pada lensa ini memakai sistem manual dengan putaran tangan layaknya kamera Micro 4/3 sehingga tak beda seperti memakai lensa DSLR. Untuk paket lensa zoom dan sensor 10 MP ini dijual sekitar 3 jutaan.

Sebagai system-camera, Ricoh GXR ini pun dilengkapi dengan berbagai aksesori seperti hood & adapter, wide conversion lens, teleconversion lens, LCD viewfinder, cable switch dan neck strap. Kita lihat saja apakah format baru dari Ricoh ini akan sukses atau tidak dalam penjualannya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sepuluh hal yang perlu anda ketahui seputar Auto Fokus

Sistem Auto Fokus (AF) pada kamera yang ditemukan di tahun 1980-an merupakan penemuan penting dalam dunia fotografi dan berdampak besar dalam membawa kemudahan bagi para juru foto. Tanpa Auto Fokus, kita harus mengatur fokus lensa supaya objek yang ingin kita foto benar-benar fokus dan tampak tajam (biasa disebut dengan istilah manual fokus). Kini saat Auto Fokus bukanlah sesuatu hal yang terdengar istimewa (kecuali di kamera ponsel), apakah anda sudah benar-benar mengetahui tentang seluk beluk fitur yang amat penting ini? Simak artikel kami seputar Auto Fokus ini selengkapnya.

Auto Focus vs Manual Focus

AF, atau Auto Fokus adalah proses otomatis dalam kamera yang bertujuan untuk mencari fokus yang tepat. Lawannya adalah MF, atau Manual Fokus, yaitu pengaturan fokus secara manual yang dilakukan oleh fotografer. MF bisa dilakukan dengan memutar ring fokus (pada DSLR) atau dengan menekan tombol (pada kamera digital non DSLR). Proses manual ini umumnya dilakukan bila AF gagal memberikan hasil yang sesuai keinginan kita, atau bila AF tidak mungkin dilakukan karena hambatan teknis.

AF dengan menekan setengah tombol rana

Secara umum semua kamera akan mulai mencari fokus saat tombol rana ditekan setengah, bila fokus sudah terkunci kamera akan berbunyi ‘beep‘ dan objek yang terkunci oleh AF kamera tampak tajam. Karena itu hindari menekan tombol rana secara langsung tanpa menekan dulu setengah, karena kamera akan dipaksa memotret tanpa mencari fokus terlebih dahulu.

Seputar motor AF

Fokus tidaknya hasil foto diatur oleh elemen lensa fokus yang bisa bergerak maju mundur. Bila memakai mode AF, maka kamera secara otomatis akan memaju-mundurkan lensa AF ini dengan mengandalkan motor mikro. Maka itu saat kamera sedang mencari fokus, terdengar (dan terasa) ada gerakan halus di dalam kamera. Pada kamera DSLR, motor AF berada di dalam bodi kamera kecuali DSLR Nikon pemula seperti D40 yang tidak punya motor AF. Sebagai gantinya, diperlukan lensa yang sudah memiliki motor AF di dalamnya.

AE-L dan AF-L

aelSelain menekan tombol rana setengah, pada kamera kelas serius seperti kamera prosumer dan kamera DSLR, terdapat tombol AE-L / AF-L yang bisa dimanfaatkan untuk mengunci fokus. AE-L singkatan dari Auto Exposure – Lock, sementara AF-L singkatan dari Auto Focus – Lock. dalam setting yang lebih lanjut, tombol ini bisa dikustomisasi menjadi beberapa fungsi, misal sekaligus mengunci eksposur dan fokus, atau mengunci eksposur saja, mengunci fokus saja, dan mengunci fokus selama tombol ini ditekan (AF lock-hold). Pilihlah mana yang paling sesuai keinginan anda.

AF mode

Proses Auto Fokus awalnya hanya bisa mengunci fokus pada benda yang diam. Seiring majunya teknologi, kini AF bisa mendeteksi gerakan objek dan berusaha mengikuti kemana pun objek bergerak. Perhatikan kalau mode default AF mode umumnya berada di mode diam/stasioner, dan bila kita perlu mengikuti gerakan objek maka perlu memindah mode AF ke continuous. Saat ini kamera DSLR sudah bisa mengunci fokus pada objek yang bergerak kiri kanan ataupun maju mundur (3D tracking AF).

Titik AF

focusallareaUmumnya kamera mencari fokus pada bidang tengah foto, namun adakalanya objek yang ingin kita foto tidak berada di tengah. Untuk itu tersedia titik AF yang bisa dipilih sesuai keinginan. Pada kamera DSLR, jumlah titik AF ada yang mulai dari 3 titik hingga ada yang 51 titik. Semakin banyak titik AF maka proses auto fokus makin fleksibel dan makin kecil resiko fokusnya meleset. Kamera modern bisa mendeteksi apakah si objek berada pada lebih dari satu titik AF, sehingga bisa membuat grup AF sesuai kondisi objek.

Contrast Detect AF

Inilah metoda AF yang hadir di era fotografi digital, mulai dari kamera ponsel, kamera Micro Four Thirds hingga kamera DSLR dengan live-view. Contrast Detect menganut prinsip bahwa foto yang kontrasnya paling tinggi adalah foto yang punya fokus terbaik. Pada saat sensor kamera sudah mendapat gambar dari lensa, kamera akan mengukur kontras objek foto (yang biasa kita lihat pada histogram) lalu mengatur fokus dan membandingkan kontrasnya. Meski prinsipnya sederhana, namun kamera perlu kalkulasi rumit untuk  metoda ini dan sebagai dampaknya, proses ini memakan waktu cukup lama (sekitar satu detik). Bila objek foto tidak punya kontras yang cukup, atau berada dalam cahaya yang kurang terang, proses AF ini akan gagal.

Phase Detect AF

Pada kamera SLR lawas hingga DSLR modern, phase detect AF menjadi keistimewaan tersendiri karena akurasi dan kecepatannya. Pada kamera DSLR, modul AF khusus menerima gambar dari lensa dan dengan prinsip deteksi fasa, proses auto fokus lantas dilakukan. Proses AF dengan phase detect sangat cepat, akurat dan bisa diandalkan meski objek foto agak gelap dan kontrasnya rendah. Perlu diketahui kalau kinerja proses AF dengan phase detect akan menurun bila kamera DSLR dipasangi lensa lambat seperti f/4 atau f/5.6.

Cross type sensor

Khusus modul AF pada kamera DLSR, tiap titik AF itu bisa berjenis cross type sensor alias sensor silang. Sensor seperti ini peka akan perbedaan kontras baik vertikal maupun horisontal. Titik AF di tengah sudah pasti berjenis cross type, sementara titik lainnya belum tentu. Semakin banyak titik AF berjenis cross type, makin mahal dan makin akurat kamera DSLR tersebut dalam mengunci fokus.

Hybrid AF

Kamera DSLR modern yang sudah memiliki fitur live-view mengusung dua prinsip AF, baik berkonsep phase detect dan juga contrast detect. Dalam kondisi normal untuk kecepatan dan akurasi, kamera DSLR tentu memakai modul phase detect sebagai mode default-nya. Namun saat memakai live-view dengan objek yang diam (seperti foto makro), kita bisa memakai mode contrast detect dengan memanfaatkan fasilitas perbesaran di layar LCD, sehingga kita bisa lebih yakin kalau fokus yang diambil sudah pas.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : lensa Nikon AF-S 18-105mm VR

Lensa Nikon 18-105mm DX yang menjadi lensa kit dari DSLR Nikon D90 keluaran tahun 2008  ini merupakan lensa zoom Nikon kelas ekonomis yang populer karena harganya yang terjangkau, punya rentang fokal yang cukup panjang dan efektif, serta plus fitur VR. Hadirnya lensa ini secara tidak langsung menandakan kalau lensa 18-135mm non VR (kitnya Nikon D80) telah diskontinu, maka tak heran kalau lensa ini kini semakin banyak dicari oleh pemilik DSLR Nikon DX mulai dari D40 hingga D300. Apakah lensa seharga 4 juta (kurang sedikit) ini layak dipertimbangkan sebagai lensa andalan anda? Simak review yang kami buat  selengkapnya.

Pendahuluan

D40 + 18105Lensa Nikon 18-105mm f/3.5-5.6g VR ini menjadi lensa zoom Nikon DX terbaru yang lagi-lagi overlap dengan lensa consumer-grade Nikon lainnya (dalam hal rentang fokal), seperti 18-55mm (kitnya D40-D5000), 55-200mm, 18-70mm (kitnya D70), 18-135mm (kitnya D80) dan 18-200mm. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di jajaran lensa pro Nikon yang tidak ada overlap, mulai dari 14-24mm, 24-70mm, 70-200mm dan 200-400mm. Banyak pihak yang berharap Nikon akan membuat versi VR dari lensa 18-135mm yang sangat populer di masa lalu, namun ternyata inilah jawaban dari Nikon, lensa 18-105mm VR yang hadir di bulan Agustus 2008, sebagai lensa kit dari Nikon D90.

Beberapa fakta dari lensa 18-105mm diantaranya :

  • rentang fokal lensa yang mencukupi untuk fotografi sehari-hari (equiv. 28-157mm)
  • variable aperture dari f/3.5 hingga f/5.6 (maks) dan f/22 hingga f/38 (min)
  • sistem stabilizer VR
  • optik yang sudah dilengkapi elemen ED dan aspherical, plus SIC coating
  • diameter filter 67 mm
  • mounting dari bahan plastik
  • inner focus, tidak ada elemen di depan lensa yang berputar
  • format DX (tidak untuk DSLR full frame)
  • tanpa fitur kelas pro (distance scale, ring aperture dsb)

Tak bisa dipungkiri, lensa ini memang tergolong sebagai lensa serba-bisa (versatile lens) karena rentang fokalnya, sehingga praktis saat dipakai bepergian tanpa perlu membawa banyak lensa. Lensa ini juga sudah dianggap memenuhi syarat mendasar sebuah lensa modern karena sudah ada VR, pake motor micro untuk AF, ada ED lens dsb. Tapi bagaimana pun lensa 18-105VR ini tetaplah lensa kit yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian dari kita (terlepas harga jualnya yang lumayan mahal untuk ukuran lensa kit). Ada yang bilang kalau lensa ini adalah versi murah dari lensa 18-200VR, dengan harga setengahnya (dan rentang fokal yang juga setengahnya). Namun ada yang bilang juga kalau lensa ini adalah penyempurna lensa 18-135mm yang dilengkapi VR dan sudah meniadakan masalah purple fringing di lensa 18-135mm.

Bicara soal rentang fokal, khususnya di posisi tele, memang fokal lensa kit dari D90 ini punya keunggulan dibanding lensa kit lain yang umumnya berada di kisaran 55mm dan 70mm. Tapi apakah 105mm ini sudah mencukupi untuk kebutuhan tele atau tidak, tentu ini soal lain. Apalagi jika si empunya lensa tidak bermaksud untuk memiliki lensa tele tersendiri, tentu fokal 105mm itu (ekuiv. 157mm) perlu dipertimbangkan lagi apa sudah cukup panjang atau belum. Tapi bila kita merasa 105mm ini sudah cukup, maka lensa ini sudah bisa menjadi lensa utama khususnya untuk pemula. Tak heran meski 18-105VR ini sejatinya adalah lensa kitnya Nikon D90, namun banyak yang membeli lensa ini untuk dipakai di kamera lain mulai dari D40 hingga D300.

Selayang Pandang

Lensa 18-105VR sepintas tampak serupa dengan lensa 18-135mm dengan ukuran yang relatif kecil meski memiliki diameter filter 67mm. Bobot lensa inipun terasa pas, dalam arti tidak ringan (seperti 18-55mm) dan tidak berat juga (seperti 24-70mm) sehingga bila dipasang di kamera DSLR terasa balance. Dalam posisi wide 18mm, tidak ada bagian dari lensa yang menonjol, namun begitu lensa di zoom maka elemen lensa akan memanjang dan akan berada di posisi terpanjang berada pada posisi 105mm. Posisi ring fokus manual berada di sebelah dalam (kebalikan dari lensa kit 18-55mm atau 55-200mm) sehingga terhindar dari resiko terputar secara tidak sengaja (seperti yang terjadi di lensa  24-70mm). Di samping kiri ada dua tuas selektor yaitu tuas manual/auto fokus dan tuas on/off VR. Dalam urusan manual fokus, lensa ini unik karena pada tuas tertulis kode A – M (bukannya M/A – M seperti lensa Nikon yang lebih mahal) namun dalam penggunaan manual fokus kita bisa memutar ring fokus kapan saja tanpa harus menggeser tuas dari posisi A ke posisi M. Gerakan zoom lensa saat di putar terasa kokoh dan tidak ‘enteng’ seperti lensa kit 18-55mm. Lensa buatan Thailand ini memiliki mounting dari plastik sehingga perlu hati-hati saat membawa kamera, jangan menggenggam pada lensanya (supaya tidak patah).

Kinerja

Hanya ada dua hal yang perlu diketahui soal kinerja lensa ini, yaitu kecepatan motor fokus AF-S dan performa stabilizer VR. Kami tidak tahu jenis motor SWM di dalam lensa ini apakah tergolong motor kelas murah (seperti motor SWM di 18-55mm atau 55-200mm) ataukah yang kelas cepat (seperti motor SWM di 18-200mm atau 24-70mm). Anggaplah dengan harga jualnya yang terjangkau, motor AF-S di lensa ini masih memakai motor kelas murah; maka kami rasakan kecepatan penguncian fokus di lensa ini tergolong amat cepat, sekitar setengah detik dalam kondisi ideal. Kinerja mulai menurun saat dipakai di low-light, atau bila kamera mencoba mengunci fokus pada objek foto yang kontrasnya kurang.

Soal stabilizer, sistem VR di lensa ini memang bukanlah sistem VR generasi II yang sanggup bekerja hingga 4 stop. Nikon meng-klaim VR disini hanya bisa 3 stop, meski kenyataannya tentu hasilnya bisa bervariasi. Terdengar suara halus dari dalam lensa saat VR aktif (tombol shutter ditekan setengah) dan efek stabilisasi bisa dirasakan melalui viewfinder optik. Soal hasil pengujian VR di lensa ini bisa dilihat di pengujian di bawah ini.

Kinerja lensa secara umum

Fokal lensa dan bukaan diafragma

Lensa 18-105mm ini punya rentang fokal yang cukup lebar (5,8 x zoom), dengan kemampuan mengambil area yang luas (wideangle) hingga medium tele. Lensa semacam ini tentu amat disukai oleh mereka yang membeli kamera DSLR untuk travelling, karena kemampuannya menjangkau wide hingga tele tadi. Pada posisi lensa 18mm, dengan adanya crop factor kamera Nikon DX maka akan menjadi 27mm dan pada posisi lensa 105 akan menjadi 157,5mm. Untuk mendapat gambaran seperti apa kemampuan rentang fokal ekstrim lensa ini, berikut adalah foto replika candi Borobudur yang diambil dari kejauhan.

18-105

Adapun untuk urusan bukaan diafragma, lensa 18-105mm ini memang tergolong lensa lambat dengan bukaan variabel dari f/3.5 hingga f/5.6. Bagi yang belum mengetahui, lensa zoom ekonomis memang tidak punya bukaan maksimal yang tetap pada seluruh panjang fokal, sebagai gantinya bukaan maksimum lensa akan semakin mengecil seiring perubahan posisi fokal lensa. Sebagai contoh, pada posisi 18mm bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 namun begitu posisi lensa berubah ke 24mm maka bukaannya maksimalnya turun ke f/4. Yang membuat kami cukup terkejut adalah bahwa lensa ini sudah mencapai bukaan maksimum f/5.6 bahkan pada posisi fokal baru mencapai 70mm, sehingga di rentang 70 – 105mm bukaan maksimumnya sudah stabil di f/5.6. Jadi saran kami, bila anda perlu memasukkan cahaya sangat banyak (ingin bukaan diafragma sebesar mungkin) hindarilah memakai posisi fokal diatas 70mm.

Ketajaman

Sifat alami lensa pada umumnya akan memberi ketajaman maksimal di bukaan sekitar f/8 dan akan soft di bukaan maksimal dan minimal (akibat difraksi), demikian juga halnya dengan ketajaman yang diberikan oleh lensa ini. Karena dengan 15 elemen yang tersusun di dalam sebuah lensa ini, adalah wajar bila ketajaman juga akan berbeda pada tiap posisi fokal, dan lensa akan cenderung lebih soft pada posisi ekstrim di 18mm dan 105mm. Ketajaman juga tampak berkurang di bagian tepi dan ini merupakan konsekuensi memakai lensa DX, bukan suatu masalah bagi yang memakai lensa ini untuk memotret orang/wajah, namun mungkin akan jadi masalah bagi mereka yang memakai lensa ini untuk memotret landscape. Dari hasil pengujian, lensa ini punya optik yang tergolong bagus karena mampu memberi ketajaman dan kontras yang stabil di sepanjang rentang fokal, dengan sedikit penurunan terjadi di posisi 105mm.

Kinerja VR

Kami ingin membuktikan efektivitas stabilizer VR pada lensa ini, dimana VR berfungsi untuk mengkompensasi getaran tangan saat memotret sehingga mencegah foto jadi blur. Sebagaimana yang kita tahu, kamera cenderung akan memberikan hasil foto yang blur akibat getaran tangan yang umumnya terjadi saat shutter terlalu lambat dan/atau fokal lensa terlalu panjang. Di contoh pengujian kali ini, kamimemakai speed 1/10 detik dan posisi fokal lensa 105mm, dimana kombinasi keduanya hampir pasti akan menghasilkan gambar yang blur tanpa VR. Ternyata dengan memakai VR, kami tetap bisa membuat hasil foto yang tajam meski speed yang dipakai itu 3 stop dibawah speed minimum secara teori 1/panjang fokal (fokal 105mm semestinya memakai speed 1/100 detik). Dari pengujian tadi, disimpulkan bahwa VR berfungsi dengan baik dan efektif mencegah foto blur akibat pemakaian shutter lambat dan/atau fokal tele. Sebgai catatan, VR bukan untuk mencegah blur akibat gerakan objek yang difoto, dia hanya mencegah blur akibat gerakan tangan si fotografer. VR juga tidak berdaya untuk speed terlampau rendah (dibawah 1/8 detik) untuk itu gunakan tripod.

18-105VR test

Cacat lensa

Secara fisika, cacat atau penyimpangan optik  memang terpaksa dialami setiap lensa, sebutlah misalnya distorsi, flare, vignetting dan chromatic abberation. Semakin mahal lensa, makin baik kemampuannya dalam meminimalisir cacat yang terjadi. Jadi saat memilih lensa ekonomis, tentu soal cacat lensa ini perlu dikompromikan. Perlu dicatat bahwa cacat lensa yang kami maksud bukanlah cacat dalam manufaktur seperti cacat fokus (front focus/back focus) atau penyimpangan warna/tone.

Lensa 18-105mm merupakan lensa zoom yang rentan terhadap distorsi. Di posisi 18mm, lensa mengalami cacat yang nyata dalam hal distorsi dimana garis jadi tampak melengkung keluar (barrel) dan ini membuat lensa ini tidak cocok untuk urusan foto arsitektur atau interior. Namun begitu kita memakai fokal diatas 18mm, lensa langsung berbalik mengalami distorsi kedalam (pincushion), padahal biasanya pincushion hanya terjadi di posisi tele maksimum. Biasanya untuk mengatasi kelengkungan ini foto harus diolah lagi memakai software komputer.

Saat lensa mendapat sorot matahari dari samping,  sinar matahari akan terpantul-pantul diantara susunan lensa dan menyebabkan flare. Pada lensa ini tampaknya flare dapat diatasi dengan baik sehingga tidak mudah muncul. Demikian juga dengan vignetting atau fall-off atau dark corner, suatu fenomena lensa yang cenderung lebih gelap di bagian pojok, tidak terlalu nampak pada hasil foto aktual. Lensa ini pun kami akui mampu mengatasi fenomena purple fringing atau chromatic abberation, suatu kondisi dimana muncul warna keunguan di bagian foto yang beda kontras amat tinggi. Lensa ekonomis umumnya tak bisa menghindari cacat ini karena sedikitnya pemakaian elemen lensa ED atau elemen aspherical. Kamera modern seperti D90 bisa otomatis menghilangkan cacat ini melalui prosesor di dalam kamera, sementara kamera lawas masih harus menerima hasil dari lensa yang terpasang apa adanya. Pada beberapa kasus lensa ini masih sedikit menampakkan purple fringing meski jauh lebih baik daripada lensa 18-135mm.

Makro

Salah satu hal yang ingin diketahui oleh calon pembeli lensa adalah kemampuan makronya. Lensa 18-105mm punya rasio reproduksi makro 1:5, dan minimum focus distance sejauh 45 cm. Tidak ada tuas selektor macro di lensa ini, menandakan memang lensa ini tidak ditujukan untuk keperluan fotografi makro. Namun untuk kebutuhan makro sekedarnya, lensa ini masih bisa diandalkan.

DSC_2950a

Tampak 100% crop dari sebuah micro SD card yang masih tampak tajam dan detil, diambil dari jarak sekitar 50 cm dari objek. Lumayan untuk ukuran lensa non makro.

Bokeh

Bagi anda yang penasaran ingin melihat seberapa baik lensa ini dalam membuat out of focus atau blur pada background (biasa disebut dengan bokeh), tampaknya kami akan membuat anda kecewa. Adalah hal yang wajar bila lensa ekonomis punya bokeh yang biasa saja, bahkan belum sanggup membuat latar yang benar-benar blur. Untuk bokeh sesungguhnya, tentu lensa fix apalagi yang bukaannya besar lebih cocok. Berikut contohbokeh yang dihasilkan lensa 18-105mm pada posisi 105mm dan pada bukaan maksimum f/5.6. Sebagai pembanding kami tampilkan hasil foto dari lensa Nikon fix khusus makro seharga hampir 10 juta rupiah, AF-S 105mm VR micro dengan bukaan f/2.8.

AFS 105 bokeh

Tentu saja dari perbandingan di atas tampak kalau kedua lensa memiliki bokeh yang jauh berbeda, meski digunakan pada fokal yang sama yaitu 105mm. Pada lensa 18-105mm samar-samar masih tampak bentuk latar yang berupa dedaunan, namun pada lensa 105mm micro, latar sudah sangat blur sehingga sulit ditebak kira-kira benda apa yang ada di belakangnya. Baik dalam hal bukaan diafragma (f/5.6 melawan f/2.8) ataupun dalam hal harga, kedua lensa yang diuji di atas jelas berbeda kelas, maka itu wajar bila hasilnya pun berbeda. Kemampuan bokeh lensa 18-105mm ternyata tak banyak berbeda dengan lensa kit lain semisal 18-55mm.

Kesimpulan

Banyak orang yang mencari sebuah lensa yang bisa dipakai untuk kebutuhan fotografi dasar sehari-hari, dengan ciri ukuran kecil, rentang fokal yang lebar (wide hingga tele), ada sistem VR, optiknya bagus dan tentu harganya terjangkau. Keuntungan bagi anda yang memakai DSLR Nikon adalah banyaknya pilihan lensa yang masuk dalam kriteria ini, seperti lensa kit D70 yang legendaris (18-70mm namun tanpa VR), 16-85mm VR hingga 18-200mm VR. Nah, lensa 18-105mm VR ini pun mampu menjadi salah satu pilihan yang menarik karena memenuhi semua kriteria yang kami tuliskan di atas.

Sebagaimana layaknya lensa walk-around pada umumnya, lensa ini juga bukanlah lensa high performance yang dicari para profesional. Sebutlah karena material mountingnya yang terbuat dari plastik, bukaan diafragmanya yang tergolong lambat, tidak kompatibel dengan format FX / full frame, hingga cacat distorsinya yang tampak jelas membuat garis jadi melengkung. Selain masalah di atas, lensa ini merupakan lensa yang praktis dan bisa diandalkan untuk menghasilkan foto-foto yang indah, warna yang natural, kontras dan ketajaman yang tetap terjaga pada sepanjang rentang fokal.

Sebagai penutup, kesimpulan dan saran kami terhadap lensa 18-105mm VR ini adalah :

  • dalam banyak hal lensa ini sedikit lebih baik dari lensa kit pada umumnya (rentang fokal lebih lebar,  lebih mantap digenggam, ring manual fokus lebih presisi dan diameter filter lebih besar)
  • lensa ini cocok untuk anda yang mencari lensa travelling (dipakai jalan-jalan) yang ringkas dan ringan berkat rentang fokalnya yang ekuivalen dengan 27-157mm
  • lensa ini bisa dipilih bila anda tidak ingin memiliki lensa 18-200mm VR (entah karena mahal atau karena berat) meski tentu fokal 105mm hingga 200mm tak mungkin dijangkau oleh lensa ini
  • bila anda mau menambah dana untuk mencari lensa yang lebih ’serius’ daripada lensa ini, bisa pertimbangkan AF-S 16-85mm VR yang punya mount logam, meski secara kualitas optik keduanya hampir sama dan sama-sama bukan lensa cepat
  • bila mau menambah lensa tele sebagai pelengkap lensa ini, bisa coba memakai AF-S 70-300mm VR (meski nantinya jadi ada sedikit overlap range di 70-105mm)
  • lensa ini tidak cocok untuk anda yang sering memotret benda-benda dengan garis tegas karena distorsi lensa ini yang cukup parah
  • lensa ini cukup nyaman bila ingin mencoba manual fokus karena ring manual fokusnya cukup presisi
  • lensa ini kurang cocok untuk penggemar landscape murni yang perlu ketajaman di semua bidang foto
  • lensa ini kurang cocok untuk penggemar bokeh yang creamy, untuk itu gunakan lensa fix
  • lensa ini lumayan cocok untuk yang suka candid, jurnalistik atau sport karena motor AF-nya lumayan cepat, plus VR yang efektif hingga 3 stop
  • bagi pemilik D40 – D5000, bila anda ingin upgrade dari lensa kit 18-55mm ke lensa ini, lakukan hanya jika anda merasa fokal 55mm dirasa kurang cukup untuk kebutuhan tele (karena secara kualitas optik keduanya relatif sama)
  • bagi pemilik D90 yang sudah paket dengan lensa kit 18-105mm ini, bila anda ingin menjual lensa kit ini dan lalu membeli lensa lain, pertimbangan terbaik adalah lensa 18-200mm VR.

Inilah review lensa 18-105mm VR yang bisa kamibuat untuk anda pemakai DSLR Nikon, dengan harapan bisa memberi gambaran sebelum anda memutuskan untuk membeli. Untuk pertanyaan, koreksi dan diskusi seperti biasa bisa melalui forum yang ada.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilihan lensa ekonomis untuk DSLR pemula

Banjirnya produk DSLR pemula (entry level) telah membawa perubahan pada segmentasi pembeli kamera digital. Bila dahulu mereka yang punya DSLR kebanyakan adalah para fotografer yang sudah punya koleksi lensa lama, maka kini banyak pemilik DSLR (pemula) yang baru pertama kali bergabung di dunia DSLR. Dengan demikian, umumnya kelompok ini barulah berkenalan dengan satu macam lensa, yaitu lensa kit yang disediakan dalam paket penjualan. Kalaupun sedang berencana membeli DSLR, adakalanya mereka bingung apakah akan membeli DSLR plus lensa kit ataukah DSLR body-only.

lensaSebelum membahas lebih jauh, kami luruskan dahulu bahwa lensa kit yang umum dijadikan paket penjualan DSLR adalah lensa zoom dengan rentang fokal yang setara dengan 28-85mm, dengan bukaan f/3.5-5.6 dan berbahan plastik. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan lensa kit semacam ini. Harga jualnya yang tergolong murah tidak berarti lensa kit memakai elemen optik murahan. Harga murah karena desain lensa kit ini memakai bukaan variabel (tidak konstan) yang tergolong kecil, pemakaian material bodi dan mounting dari bahan plastik, dan minimnya fitur profesional seperti distance marking skale. Namun lensa kit masa kini sebagian sudah dilengkapi dengan fitur yang bermanfaat seperti motor fokus dan stabilizer optik.

Bila  anda sedang mempertimbangkan lensa lain selain lensa kit, atau saat anda hanya ingin membeli DSLR body only dan perlu mencari lensa ekonomis yang bisa diandalkan, berikut kami hadirkan beberapa jenis lensa ekonomis dengan harga dibawah 5 juta, sebagai bahan pertimbangan anda.

Lensa fix/prime

Lensa dengan fokal tetap memang jadi unggulan utama karena ketajaman dan bokehnya yang tak tertandingi oleh lensa zoom, maka itu wajar bila ada yang menganggap lensa prime merupakan lensa wajib untuk fotografer. Selain itu lensa fix jauh lebih murah bila dibanding dengan lensa zoom, karena hanya memiliki sedikit komponen optik. Namun memakai lensa fix tentu perlu banyak ekstra usaha untuk berganti komposisi karena anda tidak bisa bermain zoom. Fokal lensa fix yang cukup populer adalah lensa prime dengan fokal ‘normal’ 50mm, meski ada juga fix yang wide hingga fix yang (sangat) tele. Meski demikian, untuk urusan potret wajah, anda bisa memilih lensa fix dengan fokal berapapun asal diatas 35mm (dibawah 35mm sudah tergolong wideangle yang kurang cocok untuk potret wajah karena efek distorsi lensa).

Contoh lensa prime 50mm f/1.8
Contoh lensa prime 50mm f/1.8

Lensa fix yang populer karena harganya adalah lensa normal (sekitar 50mm) dengan bukaan berkisar antara f/1.8 hingga f/2.8 karena secara ukuran bukaan diafragma sudah cukup besar (atau biasa disebut lensa cepat) sehingga sudah sangat handal dipakai di kondisi low-light, meski bukaannya tentu tidak sebesar lensa fix kelas mahal seperti f/1.4 apalagi f/1.2.

Pilihan lensa prime normal dengan harga terjangkau diantaranya :

  • Canon EF 50mm f/1.8 II (1 jutaan)
  • Nikon AF 50mm f/1.8 (1 jutaan – tidak bisa auto fokus bila dipakai di D40-D5000)
  • Nikon AF-S 35mm f/1.8 DX (3 jutaan, bisa autofokus di D40-D5000)
  • Sony SAL 50mm f/1.8 DT (2 jutaan)
  • Pentax DA 40mm f/2.8 (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 35mm f/3.5 macro

Lensa zoom – tele

Bila seseorang telah memiliki sebuah lensa kit, umumnya telah merasakan kurangnya kemampuan telephoto dari lensa kit yang memang terbatas. Maka itu untuk memenuhi hasrat ingin menjangkau lebih jauh, pemilik DSLR plus lensa kit lalu mencari lensa kedua yang berjenis lensa zoom tele. Lensa zoom tele artinya lensa zoom dengan variabel fokal yang berkisar di rentang tele, biasanya dimulai dari 50mm hingga 400mm. Tidak semua lensa tele itu berjenis lensa zoom, ada juga lensa tele yang fix di suatu fokal tertentu, misal 500mm. Dalam hal ini kami pilihkan lensa zoom tele supaya praktis dan sekaligus kami pilihkan yang harganya juga terjangkau. Diantara beberapa pilihan lensa zoom tele, rentang yang dianggap cukup ekonomis adalah rentang 50-200mm dan 70-300mm.  Lensa zoom semacam ini punya bukaan diafragma yang variabel sehingga bisa dijual lebih murah dan ukurannya lebih kecil, bedakan dengan lensa zoom tele yang punya bukaan konstan f/2.8 atau f/4 yang berukuran besar dan harganya mahal.

Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)
Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)

Pilihan lensa zoom tele ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS (2,5 jutaan)
  • Nikon AF-S 55-200mm f/4-5.6 VR (2,5 jutaan)
  • Pentax DA 50-200mm f/4-5.6 ED (2,5 jutaan)
  • Sony SAL 55-200mm f/4-5.6 DT (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 40-150mm f/4-5.6 (2,5 jutaan)
  • Sigma APO 70-300mm f/4-5.6 DG macro (3 jutaan)
  • Tamron AF 70-300mm f/4-5.6 Di LD (2,5 jutaan)

Lensa zoom – all-round

Lensa zoom all-round atau all in-one diterjemahkan sebagai lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang efektif untuk segala keperluan dari wide hingga tele. Tak seperti lensa kit yang zoomnya umumnya pendek (3x), lensa zoom all-round dirasa lebih praktis dan lebih panjang (5-10x). Praktis karena cukup punya satu lensa sehingga mengurangi frekuensi berganti lensa hanya untuk mendapat fokal tertentu (apalagi bila sering berganti lensa beresiko masuknya debu ke dalam sensor), meski secara optik tentu semakin panjang zoom lensa maka ketajamannya juga akan semakin menurun. Meski tidak ada aturan baku, lensa zoom all-round ini biasanya bermula dari 18, 24 atau 28mm dan berakhir di 100 hingga 200mm. Bila anda memilih membeli lensa zoom all-round, maka lensa kit yang sudah anda miliki bisa dijual saja.

Kekurangan lensa zoom semacam ini adalah masalah bukaan lensa yang tidak mungkin dibuat besar dan konstan. Sebagai konsekuensi dari rumitnya susunan optik didalam lensa, maka desain aperture di dalam lensa semacam ini umumnya bermula dari f/3.5 di posisi wide-end dan mengecil hingga f/6.3 di posisi tele-end. Maka itu lensa ini biasa disebut dengan lensa lambat, dan tidak cocok dipakai di daerah kurang cahaya.

Lensa all-around Pentax 18-250mm
Lensa all-around Pentax 18-250mm

Pilihan lensa zoom all-round yang cukup terjangkau diantaranya :

  • Canon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS baru (4 jutaan)
  • Nikon AF-S 18-105mmf/3.5-5.6 DX VR (3.5 jutaan)
  • Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 (3 jutaan)
  • Sigma 18-200mm f/3.5-6.5 DC OS (4 jutaan)

Adapun lensa zoom all-round lain yang dijual di kisaran 5 hingga 10 juta, bagi sebagian orang masih tergolong ekonomis meski tak dipungkiri bagi sebagian lainnya sudah tergolong mahal. Padahal banyak lensa-lensa berkualitas di kisaran harga ini, maka sebagai bonus kami sampaikan juga beberapa produk lensa yang mungkin menarik minat anda bila dananya mencukupi :

  • Canon : EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (7 jutaan), EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM (6 jutaan)
  • Nikon : AF-S 18-200mm f/3.5-5.6 VR (8 jutaan), AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR (6 jutaan)
  • Olympus : Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5 II (6,5 jutaan),  Zuiko ED 12-60mm f/2.8-4.0 SWD (9,5 jutaan)
  • Pentax : DA 18-250mm f/3.5-6.3 ED SMC (6 jutaan)
  • Sony : 18-200mm f/3.5-6.3 DT (6 jutaan), SAL 16-105mm f/3.5-5.6 DT ( 7 jutaan)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips memilih kamera saku untuk pemula

sakuKamera saku menjadi kamera yang penjualannya paling laris dan banyak dicari orang karena kepraktisan dalam pemakaian dan harganyanya yang terjangkau. Evolusi pada kamera saku sudah mendekati titik stagnan dalam arti tidak akan banyak perubahan radikal dalam hal teknologi kamera saku pada masa-masa mendatang. Hal ini berbeda sekali kalau kita flashback ke masa lalu dimana perubahan dan peningkatan fitur kamera begitu cepat dan membingungkan. Belum sempat beli kamera 5 mega, sudah keluar yang 7 mega; belum sempat menjajal kamera dengan VGA movie, sudah keluar yang HD movie. Kini bisa dikatakan, apapun kamera yang dibeli sudah hampir ‘matang’ dalam hal teknologi, tinggal kita memilih mana yang paling sesuai dengan selera dan dana.

Kamera generasi baru boleh dibilang sudah canggih, bahkan saking canggihnya calon pembeli (pemula) sampai bingung akan istilah-istilah yang ditulis di iklan, brosur dan spesifikasinya. Belum lagi para pedagang gencar mengklaim berbagai fitur yang terdengar asing di telinga, semakin membuat grogi calon pembeli. Kami sudah pernah menulis soal fitur baru ini, silahkan dibaca untuk menghindari kami menulis dua kali.

Sebagai permulaan, hal yang terpenting adalah mengenali kebutuhan fotografi anda nantinya. Cobalah menjawab pertanyaan berikut ini, setidaknya anda dapat memprediksi kamera seperti apa yang anda butuhkan :

  • apakah kamera anda nantinya akan dipakai sebagai sarana dokumentasi biasa atau untuk membuat karya foto yang lebih artistik? (kaitannya dengan fitur manual)
  • apakah anda lebih perlu lensa wide untuk kesan luas atau lebih memerlukan zoom lensa yang jauh? (kaitannya dengan fokal lensa)
  • apakah anda akan perlu memotret dengan kinerja cepat, seperti anak yang tak bisa diam? (kaitannya dengan performa shutter lag, auto fokus, burst mode dan shot-to-shot)
  • apakah anda tipe petualang yang sering memotret outdoor atau bukan? (kaitannya dengan bodi kamera dan aksesori underwater)
  • apakah anda lebih suka baterai AA atau Lithium?
  • apakah anda akan sering memakai kamera saku di tempat kurang cahaya, tanpa lampu kilat? (kaitannya dengan kemampuan sensor di ISO tinggi)
  • selain memotret, apakah anda juga suka mengambil video? (kaitannya dengan resolusi video)
  • apakah anda perlu foto ukuran besar untuk dicetak besar atau di-crop ketat? (kaitannya dengan resolusi)

Setelah menjawab kuis di atas, mungkin anda sudah semakin mudah dalam membayangkan kebutuhan fotografi anda. Namun tentu perlu diingat kalau tidak mungkin semua yang kita mau bisa diakomodir oleh satu kamera, tentu ada saja hal-hal yang perlu dikompromikan.

Sebagai tips dalam memilih kamera, berikut hal-hal yang perlu dicermati :

  • merk : tidak usah terpaku pada merk, pada dasarnya produsen kamera ternama punya standar mutu yang sama, meski tak dipungkiri merk besar punya layanan after sales yang lebih baik
  • lensa : kunci ketajaman dan kualitas foto ada di lensa, sebisa mungkin lihatlah hasil fotonya sebelum membeli, lihat apakah ketajaman lensanya sudah anda anggap layak atau tidak
  • zoom : kamera saku umumnya punya lensa 3x zoom optik, meski kini sudah bervariasi mulai dari 4, 5, 6 hingga 10x zoom, bila anda tidak perlu zoom terlalu tinggi jangan memaksakan membeli kamera dengan zoom besar
  • fitu wajib : image stabilizer, karena kamera saku kecil dan ringan maka resiko tergoyang saat memotret cukup besar
  • fitur manual mode : minimal perlu ada manual ISO, lalu kalau ada ya manual eksposure (shutter priority dan aperture priority), syukur kalau ada manual focus juga
  • seberapa wide yang anda perlukan? umumnya kamera saku lensanya bermula dari 35mm, bila anda merasa kurang wide carilah kamera yang lensanya bermula dari 30mm, 28mm atau bahkan 24mm yang akan berguna untuk kreativitas perspektif dan membuat kesan luas
  • resolusi : sebisa mungkin hindari resolusi terlalu tinggi (diatas 10 MP) karena sensor pada kamera saku berukuran kecil sehingga bila dijejali piksel terlalu banyak dia tidak akan mampu memberikan foto yang bersih dari noise di ISO tinggi
  • kinerja kamera saku umumnya sama, tapi tidak ada salahnya periksa lagi spesifikasi soal shutter lag (jeda saat menekan tombol shutter dan foto diambil), shot-to-shot (waktu tunggu dari foto pertama ke foto selanjutnya), burst mode (berapa foto bisa diambil dalam satu detik), dan start-up/shutdown time (waktu yang diperlukan oleh kamera untuk siap memotret saat pertama dinyalakan)

Adapun hal-hal yang umumnya relatif sama pada semua kamera saku, sehingga tidak perlu terlalu dipermasalahkan adalah :

  • kinerja dan mode auto fokus, umumnya tiap kamera punya kinerja AF yang sama (prinsip kerja contrast detect) dan mode AF yang disediakan umumnya sama (multi area atau center), beberapa kamera baru menyediakan auto fokus berbasis deteksi wajah (Face detection)
  • kinerja dan mode metering umumnya sama dengan pilihan semacam center weight dan spot metering
  • kinerja white balance dan pilihan preset yang disediakan (seperti flourescent, tungsten, daylight dsb)
  • spesifikasi dasar seperti maks/min shutter speed, maks/min aperture, maks/min ISO, kamampuan baterai, flash power dsb (perkecualian untuk maks aperture yang terlalu kecil akan merepotkan di saat low light, usahakan cari yang f/2.8)

Itulah beberapa tips yang bisa kami sajikan untuk pedoman membeli kamera saku. Bila ada dana lebih, anda bisa memilih kamera dengan fitur lebih banyak dan lebih baik, seperti ukuran LCD yang lebih besar, fitur HD movie dan bodi kamera berbalut logam. Tapi secara umum dengan anggaran 1 hingga 2 juta sudah bisa didapat kamera saku yang mencukupi untuk kebutuhan fotografi sehari-hari.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Buyer guide : Delapan kamera prosumer super zoom baru

Kamera digital prosumer identik dengan kamera serius yang punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera prosumer hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera prosumer laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi kamera prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih. Salah satu cara prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.

Mengapa kamera prosumer?

Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobot prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.

Apa kekurangan kamera prosumer?

Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :

  • Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
  • Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
  • Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
  • Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.

Rekomendasi kami

Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera  prosumer super zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad. Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.

Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya

canon-sx1Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1 dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe. Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD 1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1 jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya.  Catatan : kami juga menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.

Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).

Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat

casio-ex-fh20Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20 dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072 x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan burst DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.

Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.

Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap

fuji-s1500Fuji memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik saja. Namun kami sengaja pilihkan Fuji S1500 ini dengan dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4 baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga dibawah tiga juta saja.

Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).

Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie

kodak-z1015lKodak tidak punya pilihan lain kecuali fokus di kelas prosumer, mengingat di kelas DSLR Kodak tidak punya produk apapun. Seperti biasanya, andalan Kodak adalah lensanya yang dipercayakan pada Schneider untuk kualitas terbaik. Kali ini Kodak hadir dengan Kodak Z1015IS, kembali memakai desain kamera yang lagi-lagi cukup aneh, dengan resolusi 10 MP, lensa 15x zoom (28-420mm) yang anehnya memakai bukaan diafragma f/3.5 pada posisi wide. Kamera berlayar LCD 3 inci ini sudah dilengkapi dengan fitur stabilizer optik,  RAW file format dan HD movie 30 fps.

Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan bukaan maksimal f/3.5 saja.

Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom

lumix-fz28Sukses Panasonic dalam merajai pasaran kamera prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama Lumix FZ28 yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) namun tetap bertahan di 18x zoom optik, serta memakai Venus 4 engine yang lebih bertenaga. Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas, pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan. Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 menjadi yang terbaik diantara kamera dengan zoom lensa sejenis.

Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.

Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom

niko-p90Kurang sukses dengan Coolpix P80, Nikon hadir kembali dengan penerusnya yaitu Coolpix P90 yang membuat kejutan dengan desain lensanya yang bermula dari 26mm dan berakhir di 624mm (atau 24x zoom optik). Tampak ambisius memang, terlebih Nikon kini mengusung sensor dengan resolusi 12 MP guna memenangkan persaingan. Kamera yang berdesain cantik ini punya tata letak tombol yang apik, layar LCD lipat dan sudah dilengkapi stabilizer pada sensornya.

Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini, belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu kilat pada kamera ini membuat upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.

Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax

pentax-x70Persaingan panas diramaikan oleh pendatang baru di kelas super zoom, yaitu Pentax yang menjajal peruntungannya dengan meluncurkan Pentax X70. Kamera super zoom berlensa 24x zoom ini juga punya rentang yang persis sama seperti Nikon P90 yaitu 26-624mm, bahkan sama-sama memakai sensor 12 MP. Bedanya Pentax ini tidak memakai LCD lipat, dan sudah mendukung movie HD meski hanya 15 fps. Soal stabilizer, Pentax juga menerapkan sistem sesnsor shift seperti halnya Nikon P90.

Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.

Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR

sony-cybershot-hx1Tibalah kita di produk terakhir yaitu Sony DSC-HX1 yang mengusung sensor CMOS 9 MP. Dengan target menyaingi langsung Canon SX1 dan Casio FH20, Sony ini pun mengemas lensa Sony G dengan kemampuan zoom 20x. Kode G sendiri menunjukkan pemakaian 6 blade diafragma (hampir menyerupai lensa DSLR dengan 7 blade) untuk kualitas lensa yang lebih baik. Fitur lainnya adalah layar LCD lipat berukuran 3 inci, sweep panorama, steady shot (stabilizer optik), stereo HD movie 1440 x 1080 dan Bionz prosesor (milik DSLR Sony Alpha).

Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file format, tapi begitulah kenyataannya.

Kesimpulan

tabel

Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada Olympus SP-590 dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi kali ini.

Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :

  • Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
  • Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x, 15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
  • Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR. Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10 MP.
  • Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya Canon SX1 yang memilikinya.
  • Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini. Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1 dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga gambar video akan tampak patah-patah.

Itulah daftar kamera prosumer yang bisa kami rekomendasikan untuk tahun ini, semoga bermanfaat. Diskusikan dengan kami melalui forum bila ada hal-hal yang kurang jelas, salam..


Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..