Canon EOS 70D resmi dirilis, hadirkan 19 titik AF dan Wi-Fi

Hari ini Canon resmi merilis kehadiran EOS 70D, kamera penerus EOS 60D yang mengisi segmen kamera DSLR kelas menengah. Kehadiran kamera ini menjawab rasa penasaran banyak pihak, apalagi banyak beredar rumor kalau EOS 70D akan hadir di awal tahun 2013, namun kenyataannya dia diumumkan di tengah tahun ini. Beberapa peningkatan fitur pasti dilakukan oleh Canon untuk membawa kamera ‘dua digit’ ini jadi andalan penjualan mereka ditengah lesunya pasar kamera (berkat serbuan kamera mirrorless dan kamera ponsel cerdas). Seakan jadi tren di era nirkabel ini, EOS 70D sudah dibekali fitur Wi-Fi tanpa menambah aksesori apapun.

Tinjauan fisik

Tampak depan :

70d-front

Dari depan nampak hampir sama dengan kamera pendahulunya, baik dari ukuran dan desain secara umum. Bodi kamera EOS 70D mayoritas berbahan plastik yang kokoh, dan sudah didesain untuk tahan cuaca (air hujan dan debu). Di gambar diatas, tampak lensa yang dipasang adalah lensa baru (pertama diperkenalkan di EOS 700D) yaitu EF-S 18-55mm IS STM.

Tampak belakang :

70d-back

Dari belakang juga relatif sama, dengan layar LCD lipat dan tata letak tombol yang mirip (sedikit bertukar posisi adalah tombol INFO dan Delete). Seperti kamera 60D, sebagai kendali setting kamera di belakang ada roda putar, dan tetap tidak disediakan joystick. Kini untuk mengunci tombol 8 arah dan roda belakang disediakan tuas fisik bertuliskan Lock yang lebih mudah dioperasikan. Untuk live-view ada tuas mode still atau movie dan ditengahnya ada tombol Start/Stop untuk mulai dan menghentikan rekaman video. Sepintas tata letak tombol-tombol ini mengingatkan kami pada EOS 6D.

Fitur utama :

  • sensor CMOS 20,2 MP dengan tenaga Digic 5+
  • dual pixel CMOS AF (pertama di dunia, untuk AF saat live-view dan video dengan deteksi fasa)
  • 7 fps, 19 titik AF yang semuanya cross type
  • ISO normal dari ISO 100 hingga ISO 12800

Dibanding dengan EOS 60D, kami senang akhirnya Canon memberi modul titik fokus yang setara dengan EOS 7D, suatu hal yang wajar karena modul AF di EOS 60D sudah diwariskan ke generasi dibawahnya yaitu EOS 650D. Selain itu, keluhan atas lambatnya auto fokus saat live-view (dan fokus kontinu saat merekam video) dijawab oleh Canon dengan memberi fitur dual pixel CMOS AF yang menyempurnakan metoda deteksi fasa pada sensor (pertama diterapkan di EOS 650D). Bedanya disini setiap piksel pada sensornya dibagi menjadi dua photo-dioda yang berbeda. Membagi dua photo-dioda untuk tiap piksel memungkinkan deteksi fasa yang lebih akurat dan lebih cepat, walaupun tidak memakai lensa khusus tipe STM. Area kerjanya meliputi 80% dari tengah sensor, sangat lumayan mengingat kebanyakan obyek yang ingin difokus kan berada lebih di tengah.

Pendapat awal dari DPreview mengenai dual pixel AF ini :

Canon’s approach of splitting every single pixel on the sensor into two separately readable photosites promises, in theory at least, to overcome the biggest problems that have afflicted on-chip phase detection systems to date. We’re certainly excited by what it claims to offer in principle – the ability to work across a large area of the frame, at apertures down to F11, and in low light is a pretty compelling combination. Throw in such goodies as face detection and tracking, and focus point selection by touch, and on paper the EOS 70D looks like it could offer the best live view autofocus of any camera on the market, bar none.

Selain ‘mencomot’ fitur modul AF dari EOS 7D, kamera EOS 70D baru ini juga dibekali kemudahan layar sentuh ala EOS 650D dan fitur WiFi dari EOS 6D. Berikut adalah spesifikasi dasar dari EOS 70D :

  • 7 fps shutter up to 1/8000 s
  • AF 19 titik semuanya cross tye, sensitif hingga -0.5 EV
  • 63-zone iFCL metering
  • ada fitur ‘Silent’ shutter mode
  • HD 1080p30 video, stereo dan ada external mic
  • cakupan viewfinder 98%, perbesaran 0.95x
  • layar LCD lipat dan sentuh, kerapatan 1 juta titik, ukuran 3 inci, rasio 3:2
  • satu slot SD/SDHC/SDXC
  • Built-in Wi-Fi
  • Single-axis electronic level
  • Built-in flash yang bisa menjadi pengendali remote flash
  • ada fitur AF microadjustment (hingga 40 lensa)
  • High Dynamic Range (JPEG-only)
  • ‘Creative Filter’ yang bisa dipreview sebelum diambil fotonya (dalam mode live-view)

Mengenai fitur Wi-Fi yang sudah jadi tren, sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan dengan fitur ini seperti

  • transfer foto antar kamera Canon
  • terhubung ke smartphone atau tablet (via EOS Remote)
  • sebagai remote control dari PC (via EOS Utility)
  • mencetak dari printer yang ‘Wi-Fi-enabled’
  • Upload ke layanan web (misal Canon iMage Gateway)
  • melihat foto lewat TV yang ada fitur  DLNA

dari semua hal yang bisa dilakukan dengan fitur Wi-Fi pada kamera, yang membuat kami paling antusias adalah koneksi dari kamera ke ponsel cerdas. Karena saat kamera sudah dihubungkan ke ponsel atau tablet, banyak hal yang bisa dikendalikan dari ponsel seperti menjadi kendali remote shutter, live-view dari ponsel, bisa memilih titik fokus di layar ponsel, mengatur shutter/apreture/ISO, Ev, melihat isi foto di kartu memori dan menyalin isinya ke ponsel. Semua dilakukan tanpa kabel, dalam jarak yang lumayan jauh (kami pernah mengujinya hingga jarak 20 meter tanpa masalah). Ingat untuk bisa terhubung dengan ponsel, proses mesti diawali dengan menginstal aplikasi EOS Remote sesuai jenis OS perangkat. Kami pernah coba menginstal yang versi Android tapi belum pernah coba untuk yang memakai Apple atau WP, mestinya sih sama saja.

Kesimpulannya, fitur baru di EOS 70D terbagi dalam dua hal, yaitu untuk mereka yang terbiasa dengan gaya memotret tradisional akan dimanja dengan 19 titik AF di kamera ini. Untuk yang suka memotret dengan gaya live-view atau merekam video akan dimanja dengan dual pixel AF yang cepat dan bisa fokus kontinu (tracking obyek). Bonusnya adalah fitur Wi-Fi yang mungkin tidak setiap orang membutuhkan, tapi bagi sebagian lain fitur Wi-Fi ini bisa jadi sangat membantu pekerjaannya.

Kamera EOS 70D akan dijual dalam beberapa opsi paket seperti paket lensa kit EF-S 18-55mm IS STM (12 juta), lensa kit EF-S 18-135mm IS STM (14 juta) atau bodi saja/tanpa lensa (10 juta). Seperti biasa, ketersediaan barang apalagi di Indonesia paling cepat 2 bulan setelah pengumuman ini. Sebagai info, harga EOS 60D yang sudah semakin murah bisa jadi sudah stabil di kisaran 7 juta untuk bodinya saja, menarik buat yang perlu kamera DSLR kelas menengah dengan harga terjangkau.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS 650D dengan Hybrid AF Sensor baru

Belum lama ini Canon kembali melakukan penyegaran di segmen kamera DSLR pemula dengan meluncurkan EOS 650D (Rebel T4i) yang menjadi penerus dari EOS 600D. Bisa dibilang inilah babak baru DSLR Canon yang lebih mengutamakan kemampuan video, khususnya untuk auto fokus, karena DSLR Canon sebelum ini tidak bisa melakukan auto fokus kontinu saat merekam video. Rahasia dibalik kemampuan ini adalah diperkenalkannya sistem Hybrid AF, seperti apa penjelasannya, kami coba uraikan untuk anda.

Tapi sebelum itu, tidak lengkap rasanya kalau belum mengupas sedikit tentang peningkatan fitur di Canon 650D ini. Satu hal yang paling diapresiasi adalah dipakainya modul 9 titik AF milik 60D yang semuanya adalah cross type. Lalu prosesor Digic didalamnya sudah generasi kelima, tak heran kecepatan tembaknya sudah mencapai 5 gambar per detik. Selain itu layar LCD-nya kini sudah berjenis layar sentuh yang bisa dipakai untuk mengakses setting atau memilih titik fokus saat live-view.

Mulai dari EOS 500D Canon memberikan fitur rekam video, yang terus disempurnakan pada 550D dan 600D. Tapi karena limitasi desain kamera DSLR yang memakai cermin membuat modul AF berbasis deteksi fasa menjadi tak berguna saat live-view ataupun movie. Kini Canon melakukan modifikasi sensor saat membuat 650D sehingga bisa mendeteksi fasa dan juga kontras, pertama kalinya dalam sejarah sensor kamera DSLR. Dengan penemuan baru ini proses auto fokus saat merekam video menjadi lebih cepat dan tidak perlu lagi harus  manual fokus.

canon-650d-stm

Jadi 650D memang didesain untuk memberi pengalaman fotografi dan videografi yang sama baiknya. Langkah ini bisa dimengerti karena segmen DSLR pemula terus diserang oleh kamera mirrorless dan kamera SLT, keduanya sama-sama mengklaim jagonya auto fokus saat rekam video. Hanya saja untuk menikmati auto fokus kontinu di 650D ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu perlu memakai lensa baru dengan kode STM, atau Stepper Motor. Lensa STM ini selain lebih cepat dalam auto fokus juga lebih silent sehingga suara motornya tidak ikut terekam di video.

ef-s_18-135_is_stm

Untuk saat ini Canon sudah membuat dua lensa STM yaitu EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS STM seharga 5 jutaan dan lensa pancake full frame EF 40mm f/2.8 STM seharga hampir 2 juta. Bagi yang tidak butuh lensa STM masih bisa memilih paket lensa kit standar EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS. Untuk bodi kamera ini sendiri rencananya akan dijual 8 jutaan, terpaut sedikit dengan harga bodi 60D saat ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duo kamera pemula dari Sony : NEX-F3 dan SLT-A37

Bosan mencari kamera DSLR pemula yang cocok di hati? Mungkin bisa lihat dulu penawaran menarik dari Sony ini : kamera mirrorless pemula Sony NEX-F3 atau kamera translucent mirror pemula Sony A37. Keduanya bukan DSLR, tapi soal sensor keduanya sama dengan DSLR yaitu memakai sensor APS-C. Makin banyak pilihan di kelas pemula dong? Tentu saja..

Sony NEX-F3

nex-f3

Penerus NEX-C3 ini masih mengemas konsep kamera mirrorless kompak, yaitu berukuran mungil meski sensornya besar. Tapi dibanding C3, maka F3 ini tidak terlalu mungil karena dominasi gripnya yang tampak menonjol. Di dalam bodi NEX-F3 ini terdapat sensor CMOS 16 MP dengan crop factor 1,5x. Mount lensa Sony NEX memakai E-mount. Kabar baiknya, NEX-F3 dilengkapi dengan lampu kilat yang menonjol keatas, lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Layar LCD-nya unik dengan sistem lipat ke atas. Kamera ini bisa memotret cepat hingga 5,5 foto per detiknya. Dibundel dengan lensa kit 18-55mm OSS, harganya bersaing di kisaran 6 juta rupiah.

Sony SLT-A37

slt-a37a

Seri SLT Sony sudah berbeda dengan DSLR, meski sangat mirip. SLT yang menerapkan cermin transparan tidak perlu naik turun seperti DSLR, sehingga saat live view atau merekam video kamera SLT mampu tetap menikmati modul AF berbasis deteksi fasa yang akurat dan cepat. Kali ini sebagai penerus dari A35 muncullah Sony SLT-A37 yang memakai sensor CMOS 16 MP dan terpadu dengan stabilizer. Anda bisa memilih untuk melihat layar LCD yang cukup kecil dan kurang detil untuk ukuran kamera jaman sekarang yaitu 2,7 inci, 230 ribu piksel, atau melihat lewat jendela bidik elektronik yang punya 1,44 juta piksel.

slt-a37_rear

Meski tergolong kamera pemula, A37 dibekali 15 titik AF dengan 3 cross type, sehingga cocok untuk tracking AF saat merekam video (sesuai tujuan dibuatnya kamera SLT). Untuk membuatnya lebih mumpuni, Sony memberi kemampuan continuous shoot 7 foto per detik untuk kamera ini. Kalau mau menjajal A37 dengan lensa kit 18-135mm f/3.5-5.6 SAM, maka harganya sekitar 8 juta rupiah.

Kedua kamera pemula diatas sudah sarat fitur termasuk fitur manual eksposur maupun fitur khas Sony seperti Sweep Panorama, Clear Image Zoom dan Focus peaking untuk rekam video dengan manual fokus. Untuk pemula tapi canggih, enak kan..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus hadirkan trio kamera PEN : E-P3, E-PL3 dan E-PM1

Hari ini Olympus mengumumkan kehadiran sekaligus tiga kamera PEN dimana dua kamera diantaranya adalah penyegaran atau upgrade rutin tahunan. Sambutlah E-P3 (penerus E-P2) sebagai flagship format Micro Four Thirds, lalu E-PL3 (penerus E-PL2) sebagai versi ‘lite’ dan E-PM1 yang ditujukan untuk menjadi kamera Micro Four Thirds termurah dalam sejarah. Seperti apa kehebatan ketiganya?

Olympus E-P3 : sang flagship

oly-e-p3

oly-e-p3b

Inilah kamera klasik Olympus PEN yang terlahir kembali di era digital dengan sensor Four Thirds (2x crop) dan segudang fitur mewah terdapat dalam bodi berbalut metal ini. Meneruskan kesuksesan E-P2 di tahun lalu, kamera Olympus E-PL3 ini kini diklaim memiliki kinerja auto fokus tercepat di dunia, bahkan lebih cepat dari DSLR.  Sebagai sensor digunakan Live MOS beresolusi 12 MP dengan kinerja burst 3 fps dan dukungan HD movie 1080p.

Olympus E-PL3 : dengan layar lipat

oly-e-pl3

Inilah versi ‘lite’ dari seri PEN dengan layar LCD yang bisa dilipat dan tetap memiliki fitur yang sama seperti E-P3 seperti sensor, auto fokus dan prosesor yang cepat serta fitur HD movie. Bedanya, E-PL3 lebih kecil dan lebih tipis dengan meniadakan lampu kilat internal. Syukurlah Olympus menyertakan lampu kilat kecil dalam paket penjualan E-PL3 yang bisa dipasang di flash hot shoe. Hebatnya, soal burst E-PL3 mengungguli E-P3 dengan 5.5 fps.

Olympus E-PM1 : mini dan mungil

oly-e-pm1

Inilah versi ‘mini’ dari Olympus PEN yang baru pertama kali diperkenalkan hari ini kepada khalayak ramai, dengan harapan para pemula dan yang dananya terbatas tetap bisa memiliki kamera mirrorless dengan sensor sekualitas DSLR.  E-PM1 punya dimensi bodi yang lebih kecil lagi dan bahkan tidak terdapat mode dial seperti sang kakak. Soal layar memang E-PM1 tidak bisa dilipat seperti di E-PL3, namun setidaknya soal sensor dan fitur lainnya masih sama memakai resolusi 12 MP, demikian juga dengan fitur HD movie dan auto fokusnya yang cepat.

Baik E-P3, E-PL3 maupun E-PM1 dijual dengan paket lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 meski juga ada pilihan lensa fix 17mm f/2.8 yang mungil.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duel seimbang DSLR pemula : Nikon D3100 vs Canon 1100D

Perang antara Canon dan Nikon dalam dunia DSLR seakan tak ada habisnya. Keduanya sama-sama punya produk unggulan di tiap segmen, khususnya di kelas DSLR pemula yang paling besar market share-nya. Kali ini kami akan membahas mengenai pertarungan seimbang dua produk yang amat populer yaitu EOS 1100D dari kubu Canon melawan D3100 dari kubu Nikon. Keduanya meski masuk ke kategori DSLR pemula namun secara esensi sepertinya sudah berevolusi menjadi kamera lengkap nan terjangkau dengan harga jual di kisaran 5 jutaan rupiah. Simak seperti apa keunggulan masing-masing dan temukan kamera mana yang terbaik di kelas pemula dalam artikel kami kali ini.

Nikon D3100

Diantara keduanya, Nikon D3100 lebih dahulu hadir yaitu tepatnya di bulan Agustus 2010 menggantikan D3000 dengan perbedaan utama yaitu beralihnya pemakaian sensor CCD 10 MP di D60/D3000 menjadi sensor CMOS 14 MP. Dengan harga 5,5 juta plus lensa kit AF-S 18-55mm VR, kamera keren ini sudah bisa jadi milik anda. Meski mengusung embel-embel kamera pemula, namun nama itu lebih dimaksudkan bahwa fitur yang dimiliki kamera ini didesain untuk mudah digunakan oleh pemula. Tetapi bila ditinjau spesifikasinya tampak kalau D3100 punya banyak keistimewaan seperti 11 titik auto fokus yang akurat dan kemampuan merekam video High Definition beresolusi 1920 x 1080 dengan auto fokus. Bahkan shutter unit kamera ini sudah lulus uji untuk 100 ribu kali pakai. Wow..

Dalam hal kemampuan ISO, D3100 tampil mengesankan dengan kemampuan ISO 3200 dan bisa ditingkatkan sampai setara dengan ISO 12800. Artinya kamera ini bisa diandalkan untuk dipakai di tempat dengan pencahayaan kurang. Kalaupun ada hal yang membedakan kamera ini dengan DSLR Nikon yang lebih mahal adalah kecepatan burstnya yang cukup mencapai 3 foto per detik dan resolusi layar LCD yang cukup dengan 230 ribu piksel saja. Yang disayangkan adalah Nikon masih belum menyediakan fitur dasar berupa exposure bracketing di D3100. Selain itu D3100 juga tidak menyediakan motor AF sehingga lensa Nikon lama (non AF-S) tidak bisa auto fokus. Tapi apapun itu, D3100 dianggap sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah dibuat oleh Nikon.

Canon 1100D

Canon awalnya mengandalkan EOS 1000D sebagai DSLR paling ekonomis yang pernah dibuatnya. Respon pasar ternyata sangat positif akan hadirnya EOS 1000D sehingga Canon bisa menikmati keuntungan dari penjualan kamera seri 4 digit tersebut. Mungkin itulah alasan kenapa Canon perlu waktu 18 bulan untuk membuat penerus dari 1000D, ditambah lagi saat ini semua kamera sudah semakin modern dan dilengkapi dengan fitur HD movie, maka upgrade 1000D ini terasa mendesak untuk dilakukan. Setengah tahun sejak Nikon meluncurkan D3100, tepatnya di bulan Februari 2011 akhirnya Canon meluncurkan EOS 1100D, maka dimulailah perang antara keduanya sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah ada.

Beberapa penyempurnaan penting dilakukan Canon dalam membuat penerus 1000D yaitu dipakainya sensor CMOS 12 MP dengan prosesor Digic IV. Kamera seharga 5,2 juta ini bahkan sudah dilengkapi dengan lensa kit EF-S 18-55mm IS yang cukup baik untuk dipakai sehari-hari. Kemampuan merekam video telah dibenamkan di EOS 1100D ini, tepatnya adalah High Definition resolusi 1280 x 720 piksel. Hal mengesankan lainnya yang dijumpai di kamera ini adalah kemampuan ISO 6400 dan metering 63 zone yang peka terhadap fokus, warna dan luminance. Layaknya DSLR pemula lain, kecepatan  burst 1100D hanya mencapai 3 gambar per detik dan resolusi layar LCD-nya memang hanya 230 ribu piksel saja. Sayangnya hingga kini Canon belum mengizinkan EOS empat digitnya untuk memiliki fitur spot metering.

Mana yang lebih baik?

Tidak mudah menilai mana yang lebih baik dari keduanya. Disamping memiliki spesifikasi yang hampir sama, keduanya juga dijual di kisaran harga yang hampir sama juga. Bolehlah dibilang keduanya berimbang terutama dalam hal :

  • kualitas hasil foto (skor sensor di dxomark berbeda sedikit)
  • fitur live view
  • kecepatan burst (3 fps)
  • resolusi layar LCD
  • spesifikasi dan jenis viewfinder
  • ada mode untuk membantu pemula

Namun dalam beberapa hal Nikon D3100 lebih unggul seperti :

  • resolusi dan ukuran sensor sedikit lebih besar (14 MP vs 12 MP)
  • titik AF yang lebih banyak (11 titik vs 9 titik)
  • ada fitur 3D tracking AF
  • resolusi HD video (1080p vs 720p) plus auto fokus saat merekam video
  • ada tuas khusus untuk berganti mode cepat (continuous shooting, self timer dsb)
  • jangkauan lampu kilat lebih besar (12 m vs 9 m)
  • layar LCD sedikit lebih lega (3 inci vs 2.7 inci)

Sedangkan hal yang membuat EOS 1100D lebih baik adalah:

  • dukungan semua lensa Canon EF dan EF-S (bisa autofokus)
  • bisa bracketing (AE dan WB)
  • ISO normal maksimum ISO 6400 (vs ISO 3200)
  • ada tombol langsung untuk mengatur ISO
  • muncul histogram saat live view
  • tersedia aksesori resmi untuk battery grip
  • baterai tahan lebih lama (700 shot vs 550 shot)

Dalam hal ini kesimpulan kami adalah bahwa Nikon D3100 sedikit lebih unggul dari EOS 1100D. Kunci kemenangannya adalah dalam hal sensor, fokus dan HD video. Sedang EOS 1100D bisa dibilang tidak ada fitur yang terlalu menonjol tapi semua kebutuhan dasar fotografi sudah tercukupi ditambah dengan kemampuan bracketing dan dukungan auto fokus pada semua lensa Canon. Jadi pilih yang mana, tentu terserah anda..

Note : Anda juga bisa memesan produk D3100 atau 1100D di toko sponsor melalui kami.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony SLT A55/A33, inikah DSLR modern yang sesungguhnya?

Tak dipungkiri hal utama yang fenomenal dari peluncuran DSLR Sony baru-baru ini adalah hadirnya kamera SLT (Single Lens Translucent-mirror) yaitu Alpha A55 dan A33. Keduanya memakai teknologi cermin yang semi-transparan yang pertama kalinya diperkenalkan di dunia kamera digital. Manfaat dari pemakaian cermin transparan ini terasa dalam auto fokus yang cepat saat live-view dan saat merekam video. Sebelumnya Sony masih menahan diri untuk tidak membenamkan fitur video pada kamera DSLR-nya.

Sony SLT A55/A33 bagaimanapun juga adalah kamera DSLR biasa dengan cermin dan sensor berukuran APS-C. Mount lensanya pun sama seperti DSLR Sony lainnya, pun juga dengan spesifikasi dasarnya. Bedanya adalah cermin di A55/A33 adalah berjenis pellicle mirror (semi transparan) yang dulu sempat digunakan oleh Canon di era SLR film namun kurang sukses. Kini Sony mencoba berinovasi dengan cermin unik ini, setelah sebelumnya telah berinovasi dengan sistem dua sensor untuk mewujudkan auto fokus yang cepat saat live-view yaitu berbasis deteksi fasa.

Sebelum membahas lebih jauh soal cermin transparan ini, sekilas kami ulas kembali deretan fitur A55/A33 yaitu memakai sensor CMOS berukuran APS-C, mampu memotret burst hingga 10 fps, auto fokus berbasis deteksi fasa (15 titik sensor AF) saat memotret dan merekam video (resolusi video HD 1080i) dan yang unik adalah digunakannya view finder elektronik dengan resolusi tinggi 1.4 juta piksel. Bila hendak mencari padanan dari kedua kamera SLT ini, tidak ada produsen DSLR manapun yang bisa menyamai kemampuan A55/A33 dalam live-view, auto fokus dan burst 10 fps dengan kisaran harga jual 8 jutaan saja.

Kutipan dari Sony pada siaran pers resminya :

Sony’s first-ever digital cameras to employ Translucent Mirror Technology these new models showcase an innovative optical system that opens up dramatic new shooting possibilities. In contrast with conventional DSLR cameras, Translucent Mirror Technology uses a fixed, translucent mirror that ‘splits’ the optical pathway between the main image sensor and a separate phase-detection autofocus sensor. Translucent Mirror Technology overcomes other traditional limitations of DSLR models, with its simplified mechanical design shrinking camera size and complexity. Making the ?55 and ?33 a compelling choice for casual photographers who want to capture spontaneous family moments and travel scenes with less to carry.

Dari kutipan di atas nampak kalau Sony merasa sudah melakukan inovasi besar dengan cermin ini sehingga DSLR lain akan dianggap konvensional (kalau boleh dibilang kuno) dan bisa jadi Sony merancang sistem ini untuk jadi standar DSLR di era mendatang. Bahkan metoda SLT ini mengancam kubu mirrorless yang jelas tidak memiliki keunggulan dalam hal auto fokus deteksi fasa yang cepat (apalagi harga SLT dan mirrorless bersaing ketat).

pelliclemirror

Kini kita bahas seputar cerminnya. Lihat gambar ilustrasi di atas. Cermin transparan pada kamera Sony SLT ‘memecah’ sinar yang masuk melalui lensa menjadi dua arah yaitu 70% memasuki sensor dan 30% menuju modul auto fokus (di bagian atas). Dalam hal ini konsekuensi pertama dari pemakaian cermin semacam ini adalah penurunan jumlah cahaya yang memasuki sensor sebanyak kurang lebih 0.3 Ev. Mungkin hal ini bukan masalah serius buat kebanyakan kita karena kamera modern punya hasil yang baik di ISO tinggi, tapi penurunan ini tetap harus dicatat dan diantisipasi dampaknya dikala kondisi kurang cahaya.

Sony mengklaim membuat inovasi dengan hadirnya duo A55/A33 ini, namun perubahan cukup radikal pada desain  ‘jeroan’ kamera SLT ini akan membawa implikasi tersendiri (positif atau negatif – silahkan anda nilai sendiri) seperti :

  • cermin tidak lagi bergerak naik turun saat memotret (meski bisa diangkat manual untuk membersihkan sensor)
  • tanpa gerakan cermin membuat kamera ini bisa bebas memotret cepat hingga 10 fps
  • modul AF pindah ke bagian atas kamera, sehingga hilanglah prisma untuk jendela bidik optik
  • ketiadaan prisma menjadikan dimensi kamera SLT lebih kecil dari kamera DSLR
  • pengganti jendela bidik optik adalah finder elektronik (LCD) seperti kamera mirrorless
  • sensor CMOS  selalu bekerja setiap saat kamera akan dipakai memotret, plus stabilizer pada sensor yang bekerja membuat sensor bekerja keras
  • tanpa jendela bidik optik, sulit untuk memotret panning sambil melihat obyek yang akan difoto
  • tanpa cermin yang bergerak naik turun, semestinya kamera SLT bisa memotret tanpa suara, namun karena masih memakai shutter mekanik maka suara ‘cetrek’ tetap terdengar saat memotret
  • hilangnya modul metering (light meter built-in), sebagai gantinya metering memakai sensor utama dengan 1200-zone multi-segment metering
  • Sony menganggap sistem SLT tidak butuh auto fokus berbasis deteksi kontras seperti live-view pada DSLR lainnya

Memang sekarang kita belum bisa menduga seperti apa DSLR modern di masa mendatang, apakah tetap akan memiliki cermin biasa (warisan dari jaman dahulu) atau memakai cermin transparan (seperti Sony A55/A33 ini) atau justru meniadakan cermin (seperti kamera mirrorless, kamera micro 4/3 dsb). Apakah di masa mendatang DSLR itu masih memakai jendela bidik optik atau sudah memakai LCD? Apakah di masa depan shutter mekanik masih tetap dipertahankan? Kami masih menantikan itu semua, tapi satu hal yang pasti, fungsi kamera untuk fotografi tetap sama, tak peduli bagaimanapun desain kamera DSLR di masa mendatang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony luncurkan empat kamera DSLR baru

Hari ini Sony kembali membuat gebrakan dengan meluncurkan sekaligus empat kamera DSLR baru, dimana dua diantaranya benar-benar baru secara konsep. Sambutlah dua DSLR pellix yaitu SLT A33 dan SLT A55, serta dua DSLR klasik yaitu A580 dan A560. Keempat kamera ini sudah mampu merekam fitur ‘must-have‘ yaitu HD movie recording.

a55

Apa itu DSLR pellix (pellicle mirror)? Istilah ini tak lain menyatakan penggunaan cermin (mirror) yang semi-transparan (translucent) sehingga pada saat yang sama, gambar yang diteruskan dari lensa bisa langsung mengenai sensor dan sekaligus bisa dipantulkan ke modul metering dan modul AF (pertama diperkenalkan oleh Canon di era 1990-an). Keuntungannya, kamera dengan cermin yang transparan bisa melakukan live-view (menampilkan gambar yang akan difoto atau direka video melalui layar LCD) sementara kamera tetap mengandalkan sistem auto fokus deteksi fasa melalui modul AF. Hal ini menghindarkan pemakaian auto fokus berbasis deteksi kontras saat live-view yang lambat seperti semua prinsip kerja live-view yang dipakai di DSLR merk lain.

a55_mon2

Kembali ke Sony, berikut adalah jajaran baru kamera DSLR mereka :

Sony Alpha SLT A55 :

  • Translucent mirror
  • 16MP, APS-C
  • ISO 100-12800
  • 15 titik AF
  • memakai EVF (ElectronicView Finder) 1.44 juta piksel
  • HD video 1080i 60fps AF
  • layar LCD 3 inci yang bisa dilipat
  • 10 fps
  • built-in GPS (versi A55V)

Sony Alpha SLT A33 :

  • Translucent mirror
  • 14MP, APS-C
  • ISO 100-12800
  • 15 titik AF
  • memakai EVF (ElectronicView Finder) 1.44 juta piksel
  • HD video 1080i 60fps AF
  • layar LCD 3 inci yang bisa dilipat
  • 7 fps

Sony Alpha A580 :

  • Penerus Alpha A550
  • 16 MP, APS-C
  • ISO 100-12800
  • 15 titik AF
  • live-view dengan sensor terpisah
  • HD video 1080i 60fps
  • layar LCD 3 inci yang bisa dilipat
  • 7 fps

Sony Alpha A560 :

  • Penerus Alpha A500
  • 14 MP, APS-C
  • ISO 100-12800
  • 15 titik AF
  • live-view dengan sensor terpisah
  • HD video 1080i 60fps
  • layar LCD 3 inci yang bisa dilipat
  • 7 fps
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D3100, DSLR Nikon pertama dengan fitur full-HD movie

Hari ini Nikon resmi meluncurkan produk baru bernama D3100 yang diposisikan untuk mengisi segmen entry level yang sebelumnya ditempati oleh D3000. Hadir dengan bodi yang persis sama seperti D3000, produk anyar ini justru mengejutkan dengan menawarkan fitur movie recording yang sebelumnya hanya ada di DSLR Nikon yang punya harga jual lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, D3100 justru menjadi DSLR pertama Nikon yang sanggup merekam video dengan resolusi full High Definition atau 1920 x 1080 piksel, bahkan kamera sekelas D3S pun hanya menawarkan resolusi HD 1280 x 720 piksel saja.

Hal ini tentu kabar baik bagi mereka yang menantikan era video recording berkualitas yang terjangkau. Bila sebelumnya fitur movie hanya dijumpai di kamera sekelas Nikon D5000 atau Canon EOS 500D, maka DSLR murah kini juga menyediakn fitur serupa (sebelumnya dipelopori oleh Pentax K-x) dan Nikon D3100 menjadi produk DSLR murah kedua yang membolehkan pemakainya untuk berkreasi dengan merekam video. Hebatnya, fitur movie di D3100 ini sudah mendukung continuous AF sehingga tak perlu lagi mengatur ring manual fokus saat sedang merekam video.

Hadir dengan lensa kit AF-S 18-55mm VR, D3100 yang dijual di kisaran 7 jutaan juga menonjolkan sederet fitur hebat lainnya seperti ISO maksimum 12800 dan EXPEED 2 engine processor. Meski tidak ada perbedaan bentuk fisik (bodi) kamera antara D3000 dengan D3100, namun Nikon kali ini benar-benar melakukan perubahan pada ‘jeroannya’. Sensor di D3100 ini pun sudah memakai sensor CMOS beresolusi 14 MP (sebelumnya sensor CCD beresolusi 10 MP). D3100 masih menawarkan 11 titik AF yang fleksibel, plus dukungan layar LCD 3 inci beresolusi 230 ribu piksel. Bisa dibilang D3100 adalah  DSLR entry-level paling sarat fitur yang pernah dibuat oleh Nikon.

Melihat peningkatan yang pesat pada D3100 ini, ada dugaan Nikon akan menghentikan kelanjutan produk D5000 yang serba tanggung dalam hal fitur dan harga. Bisa jadi kedepannya Nikon hanya akan mengandalkan satu produk saja untuk mengisi segmen pemula (yaitu D3100 ini), sedangkan pada segmen semi-pro diprediksi Nikon juga akan melebur dua kelas yaitu D90 dan D300 (dirumorkan akan bernama D95). Kuat dugaan kebijakan ini diakibatkan oleh kondisi resesi ekonomi global yang memaksa produsen membuat segmentasi produk yang simpel dan jelas.

Sebagaimana layaknya DSLR pemula, Nikon D3100 juga tidak dipersenjatai dengan kendali eksternal yang rumit sehingga tetap tampil simpel dengan jumlah tombol yang seadanya. D3100 juga tidak memiliki motor AF di dalamnya sehingga bila dipasang lensa lama yang tidak memiliki motor, maka pengaturan fokusnya hanya bisa dilakukan secara manual. Soal kinerja juga tentunya dibuat sesuai dengan harganya, dengan kecepatan shutter maksimum 1/4000 detik dan burst 3 frame per detik saja.

Berikut spesifikasi lengkap dari Nikon D3100 :

  • sensor CMOS 14 MP (23.2 x 15.5 mm)
  • live View
  • Continuous AF pada video mode/live view
  • LCD 3 inci  (tidak bisa dilipat-putar/swivel)
  • ISO 100 – 3200, bisa diangkat hingga 12800
  • flash sync 1/200 detik
  • 11 titik AF (multi CAM 1000)
  • Quiet Shutter Release Mode
  • usia shutter 100.000 kali pakai
  • 420-pixel RGB 3D Color Matrix II metering sensor
  • HD Video 1920 x 1080p 24 fps dan 1280 x 720p 30 fps/24 fps
  • AVCHD video codec (H.264), HDMI out
  • EXPEED2 processor
  • pengguna bisa menyimpan picture profiles
  • video editing didalam kamera
  • burst 3 fps saja

974770857_onxnn-m

Selain itu, Nikon juga memperkenalkan beberapa lensa baru seperti :

  • Lensa tele zoom (DX) : Nikkor AF-S DX 55-300 f/4.5-5.6 G ED VR
  • Lensa prime (FX) : Nikkor AF-S 85 f/1.4 G (dengan Nano coating)
  • Lensa all-round (FX) : Nikkor AF-S 24-120 f/4 G ED VR (dengan Nano coating)
  • Lensa super zoom (FX) : Nikkor AF-S 28-300 f/3.5-5.6 G ED VR
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..