Lumix G9 : kamera kelas atas dari Panasonic

Kalau sebelumnya Panasonic sudah punya kamera kelas atas GH5 yang punya kelebihan di fitur videonya, maka kali ini muncul kamera Lumix G9 yang juga termasuk kelas pro yang lebih memfokuskan ke fitur fotografinya. Sebagai kamera kelas atas, tentu kita akan menjumpai sebuah produk yang sarat fitur canggih, spesifikasi tertinggi dan juga bodi yang mantap. Dan betul adanya, Lumix G9 ini punya sederet hal istimewa yang sebagian belum ada di kamera generasi sebelumnya. Fotografer profesional yang mencari kamera serius tapi dalam ekosistem Micro 4/3 perlu mengenali hal-hal menarik di Lumix G9 berikut ini.

  • kamera berbobot 650 gram ini benar-benar mantap, dengan ketahanan suhu hingga -10 derajat yang cocok dibawa ke daerah bersalju
  • jendela bidik OLED ukuran besar (3,86 juta dot, 120 fps, perbesaran 0,83x), layar LCD tambahan di atas, joystick dan dual slot SD card
  • sensor 20 MP yang mempunyai fitur OIS 5 axis, dan bisa bekerja sampai 6,5 stop

Sensor yang bisa bergerak ini juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan foto 80 MP, dengan cara penggabungan beberapa foto otomatis. Lumix G9 tetap punya fitur 4K video yang mantap, meski tidak selengkap di GH5, tapi juga menyediakan fitur video 60p.
G9 depan
Dari kinerjanya, G9 bisa menembak 9 fps pakai shutter mekanik dan hingga 20 fps bila pakai shutter elektronik, dengan mode fokus AF-C. Di mode AF-S bahkan bisa mencapai 60 fps full resolusi atau pakai 4K photo mode. Meski teknologi fokusnya tidak mengenal sistem Phase detect, tapi cara DFD yang diandalkan Panasonic selama ini diklaim memberi auto fokus yang sangat cepat, juga bisa diandalkan untuk fokus kontinu dengan 225 area deteksi kontras DFD. Salah satu kartu memori mendukung UHS-II sehingga memotret terus menerus atau rekam 4K dengan data yang besar bukan masalah untuk menuliskan semuanya ke kartu memori. Kapasitas baterai juga lumayan mencukupi namun kalau ingin aksesori battery grip juga ada.

G9 blkg

Panasonic yang terus mencoba membuat kamera yang berorientasi pada fotografer serius patut diapresiasi. Lumix G9 ini adalah produk paling matang, sudah sama besarnya dengan DSLR tapi tentunya punya banyak pilihan lensa yang tidak terlalu besar karena sistem Micro 4/3. Dari kualitas gambar, semestinya sensor 20 MP di G9 ini akan sama baiknya dengan GH5 atau Olympus EM1 mk II yang memang sudah menunjukkan peningkatan dibanding sensor 16 MP di kamera lumix terdahulu. Adanya jendela bidik yang mantap, tombol dan roda yang lengkap serta LCD kecil di atas menunjukkan Panasonic ingin memberi pengalaman menyenangkan untuk penghobi serius atau profesional. Harga kamera ini memang tidak murah (sekitar $1800 bodi saja), sejajar dengan beberapa kamera APS-C kelas menengah bahkan mendekati harga kamera full frame tertentu, tapi dari keseimbangan fitur dan harga yang ada, membuat Lumix G9 ini pantas diperhitungkan untuk profesional.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic baru : Lumix GH5, G85, FZ2000 dan LX10

lumix

Photokina 2016 telah dimulai. Salah satu pengumuman produk baru datang dari Panasonic yang masih konsisten membuat kamera baru setiap tahun. Diantaranya Lumix GH5 (penerus GH4), Lumix G85 (penerus G7), Lumix FZ2000 (penerus FZ1000) dan LX10 (seri LX dengan sensor 1 inci). Semua kamera yang diumumkan menarik sesuai segmennya, misal GH5 menawarkan 6K video, lalu G85 memberi fitur 5 axis stabilizer di bodi, FZ2000 jadi superzoom ideal dengan sensor 1 inci, dan LX10 jadi alternatif murah dari Sony RX100 dan sejenisnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic Lumix DMC-GX8 dan GX85, pilih yang mana?

Panasonic tetap eksis di kancah kamera digital khususnya dengan produk mirroress, walau segmentasi produknya agak membingungkan. Kita tahu ada seri GH untuk yang serius, ada seri G untuk yang lebih umum (keduanya berbentuk seperti mini DSLR), lalu ada juga seri GX, GM dan GF yang ketiganya lebih kompak dan ringkas (ala rangefinder). Seri GX sendiri adalah seri teringgi di kelas kompak, dengan produk yang cukup sukses saat itu adalah Lumix GX7 (2013) dan kini diteruskan dengan suksesornya yaitu Lumix GX8 (2015). Tak lama berselang, uniknya Panasonic kembali hadirkan kamera di seri GX yaitu Lumix GX85 (atau GX80 di negara lain), dan lebih unik lagi kamera ini diberi nama lain GX7 mark II. Lho..?

Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7
Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7

Untuk bisa mengerti penamaan ini, kita perlu tahu dulu seperti apa Lumix GX8 dan apa bedanya dengan GX7. Kamera GX8 adalah penerus GX7 yang dinanti-nanti karena diyakini akan membawa Panasonic bisa bersaing dengan Olympus EM-5 mk II atau kamera lain sekelasnya. Sebagai kamera top tier / flagship, GX8 menyempurnakan beberapa hal di GX7 seperti sensor baru 20 MP (Sebelumnya 16 MP), Dual IS (di sensor dan di lensa), 8 fps memotret kontinu dan 4K UHD video. Masih seperti GX7, jendela bidik di GX8 bisa dilipat ke atas untuk memotret sambil menunduk. Masalah dengan GX8 adalah harganya yang termasuk tinggi (15 juta belum dapat lensa), lalu ukurannya jadi membesar (dan lebih berat) serta issue shutter shock yang mengganggu (di shutter speed tertentu foto jadi kurang tajam).

Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)
Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)

Maka itu (mungkin) akhirnya Panasonic memutuskan membuat satu kamera lagi, berada diantara GX7 dan GX8 baik dari segi fitur, ukuran dan harga. Berangkat dari rancang desain GX7, namun dengan jendela bidik yang tidak bisa dilipat, Lumix GX85 hadir bulan lalu sebagai pelipur lara. Mengapa? Karena di GX85 teknologi shutter yang bermasalah di GX8 diperbaiki dengan sistem peredam sehingga tidak membuat foto kurang tajam. Kami sendiri kurang setuju bila GX85 diberi nama GX7 mk II, karena istilah mark II biasanya peningkatan dari produk sebelumnya. Mungkin akan lebih tepat dinamai GX7 lite saja karena jendela bidiknya juga tidak bisa dilipat.

GX8 - GX85 - GX7
GX8 – GX85 – GX7

Apa perbedaan antara GX85 dengan GX7 dan GX8? Wah ini agak membingungkan, tapi kami coba uraikan untuk anda :

Sensor :

  • GX7 : 16 MP
  • GX85 : 16 MP tanpa low pass filter
  • GX8 : 20 MP

Shutter :

  • GX7 : 1/8000 detik, 5 fps
  • GX85 : 1/4000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps
  • GX8 : 1/8000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps

Layar / jendela bidik :

  • GX7 : LCD
  • GX85 : LCD
  • GX8 : OLED

Video :

  • GX7 : Full HD
  • GX85 : 4K
  • GX8 : 4K

So, pilih yang mana? Saat ini Lumix GX7 juga masih dijual, boleh dibeli kalau mengejar harga diskon atau cuci gudang. Tapi bila tidak perlu EVF lipat, tunggu saja sampai GX85 masuk pasaran tanah air, estimasi sekitar 12 jutaan sudah dapat lensa. Tapi bila anda ingin mencari yang top-nya, misal untuk resolusi ekstra tinggi dan fitur terkini maka GX8 layak dibeli.

Kompetisi yang cukup berat buat duo kamera Lumix ini :

GX85 : Olympus EM10 mk II, Fuji XT10, Sony A6000

GX8 : Olympus EM5 mk II, Fuji X-T1, Sony A6300

Good luck Panasonic..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic hadirkan dua kamera MFT baru : Lumix GM5 dan Lumix LX100

Berita menarik datang dari Panasonic. Produsen kamera Lumix ini mengumumkan dua kamera baru yaitu kamera mirrorless Lumix GM5 dan kamera prosumer Lumix LX100. Keduanya cukup mencuri perhatian karena kali ini Panasonic mendesain kameranya dengan konsep retro modern, dengan fitur yang mengesankan dan harga jual kameranya (khususnya LX100) cukup fantastis. Lumix GM5 sendiri bukan penerus dari GM1, dan juga berbeda total dengan seri GF maupun seri GX, walaupun tetap mengusung format mount micro four thirds. Simak lebih lanjut yuk..

Lumix GM5

Sebelumnya, Lumix punya banyak lini kamera mirrorless seperti seri GF (pemula), GX (canggih), G (amatir) dan GH (pro). Lalu muncul lagi seri GM yang berciri mungil walau tidak murah. Melihat kamera GM1 yang laris, Panasonic membuat lagi seri GM yaitu GM5 yang menjadikannya kamera mirrorless yang ideal, yaitu tidak terlampau mahal, ukuran kecil, ada jendela bidik, ada flash hot shoe dan ada roda mode eksposur dibagian atas. Lebih menarik lagi karena lensa kit di Lumix GM5 ini benar-benar baru dan lebar yaitu 12-32mm f/3.5-5.6 OIS.

lumix-gm5

Kamera yang tidak punya built-in flash ini memakai sensor yang sama dengan GM1 yaitu 16 MP Micro Four Thirds LiveMOS sensor. Peningkatan yang didapat adalah kemampuan video yang bisa 60fps progresif dan adanya roda kendali setting di bagian belakang dirubah desainnya. Urusan auto fokus masih mengandalkan deteksi kontras saja, namun khas Lumix yang terkenal cepat.

Lumix LX100

Penerus dari seri LX ini bukan bernama LX8 seperti yang sempat dirumorkan, tapi ternyata bernama LX100. Sempat diduga akan memakai sensor 1 inci, Panasonic justru membuat kejutan besar dengan memakai sensor yang lebih besar dari 1 inci yaitu sensor Micro Four Thirds !

lumix-lx100-all

Ya, sensor yang sama dengan seluruh kamera mirrorless Panasonic (dan DSLR/mirrorless Olympus) ini berhasil dikemas dalam bodi kamera yang masih tergolong kecil (lebih kecil dari Canon G1X), diberikan lensa Leica yang fenomenal (24-70mm f/1.7-2.8), tetap ada multi aspect ratio dan kendali manual untuk shutter dan bukaan lensa, bahkan kompensasi eksposur :

lumix-lx100

Dengan begitu boleh dibilang Lumix LX100 adalah ultimate compact camera, setara dengan Canon G1X mark II tapi dalam dimensi yang lebih ringkas.

Hal menarik dari LX100 :

  • Design retro yang keren
  • pertama di dunia : sensor 16 MP micro 4/3
  • lensa Leica 24-70mm f/1.7-2.8
  • ISO 200-25600
  • 4K video
  • Power OIS
  • ND filter
  • layar LCD 3″
  • jendela bidik tajam
  • Built-in Wi-Fi and NFC
  • Flash hot shoe
  • Baik Lumix GM5 maupun Lumix LX100 keduanya dibandrol dengan harga yang sama yaitu 10 jutaan rupiah, tertarik?

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

    Panasonic Lumix FZ1000, bukan superzoom biasa

    Panasonic sudah dikenal sebagai produsen kamera superzoom dari dulu, sejak eranya Lumix FZ10 dan salah satu yang paling sukses adalah Lumix FZ50. Kali ini Lumix FZ1000 hadir sebagai kamera kelas premium di segmen superzoom, dengan kombinasi lensa 24-400mm f/2.8-4 dan sensor 20 MP di keping MOS berukuran 1 inci. Hadirnya FZ1000 jadi pesaing sepadan dari Sony RX10 dan keduanya menjadi alternatif menarik untuk kamera travel maupun backup.

    Omong-omong apakah anda bosan dengan kamera superzoom yang ada? Well, anda tidak sendiri. Banyak fotografer yang juga merasa jenuh dengan tren kamera superzoom yang ada saat ini, dengan berlomba membuat lensa yang sangat panjang melampaui kebutuhan normal fotografi. Satu hal yang tidak berubah adalah ukuran sensor yang dipakai yang rata-rata sangat kecil (1/2,3 inci) sehingga kualitas fotonya jauh dibawah DSLR. Untungnya saat ini sedang dimulai tren kamera compact non DSLR (bahkan kamera mirrorless mini) dibuat memakai sensor 1 inci guna mendapat hasil foto yang lebih baik walau tentu biayanya jadi lebih mahal (dibanding sensor kecil). Sayangnya belum banyak produsen kamera yang sanggup membuat kamera superzoom dengan sensor 1 inci karena pasti membengkaknya biaya produksi dan juga ukuran kamera dan lensa secara keseluruhan. Maka itu Lumix FZ1000 kami apresiasi karena berhasil mengemas lensa Leica 25-400mm bukaan f/2.8-4 yang mengakomodir ukuran sensor 1 inci dalam bodi kamera yang masih tergolong kompak (walau tidak bisa dibilang kecil). Sebagai info, semakin besar ukuran sensor maka diameter lensa juga harus ikut membesar, maka itu tantangan produksi Lumix FZ1000 pasti pada desain bentuk dan ukuran kamera.

    panasonic-lumix-fz1000-1

    Hal-hal menarik dari Lumix FZ1000 bukan cuma di lensa ataupun sensor, tapi juga OIS 5 axis yang mantap untuk meredam semua kemungkinan getaran tangan, jendela bidik kualitas tinggi, kemampuan rekam video resolusi 3840×2160 piksel (4K) atau slow motion dari 120 fps di 1080p, plus fitur lain seperti zebra dan peaking untuk manual fokus. Tak ketinggalan fitur Wi-Fi dengan NFC menjadi pelengkap dari kamera yang berbobot 830 gram ini. Performa ISO dari sensor 1 inci ini mulai dari ISO 125 hingga 12800, burst 12 fps dan shutter maksimum 1/6000 detik, minimum 60 detik.

    panasonic-lumix-fz1000-back

    Dari fisiknya yang bongsor, kamera seharga hampir 11 juta rupiah ini tidak membuat fotografer kecewa karena banyak kendali langsung seperti roda dial, mode dial, mode fokus, AE-lock dan drive mode. Kemampuan flash built-in juga bisa dipakai untuk mentrigger flash eksternal melalui wireless mode. Dua hal yang agak disayangkan (dan ada di pesaingnya, Sony RX10) adalah kamera FZ1000 ini tidak menyediakan fasilitas layar sentuh, dan tidak ada LCD kecil di bagian atas. Tapi mengingat selisih harga Sony RX10 dan FZ1000 terpaut 5 juta, maka kekurangan ini masih bisa dimaafkan.

    Kamera ini menjawab impian mereka yang mencari kamera berlensa panjang (yang pasti sangat mahal dengan sistem DSLR) tapi tidak mau kamera yang hasil fotonya kurang bagus (seperti di kamera superzoom pada umumnya). FZ1000 ini punya bentuk seukuran DSLR, fitur selengkap DSLR, lensa Leica 25-400mm bukaan besar nan tajam, dan hasil foto lebih baik dari rata-rata kamera superzoom lain. Oleh karenanya kami menyebut FZ1000 bukan superzoom biasa.

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

    Lumix DMC-GM1 : kamera mirrorless mungil dari Panasonic

    Jajaran produk kamera mirrorless Panasonic Lumix dengan standar Micro Four Thirds semakin banyak saja. Setelah hadir seri G, GH, GF dan GX, kini hadir pula seri GM dengan nama Lumix DMC-GM1 yang mengusung konsep kamera mini atau kecil. Walau kecil, tapi kamera ini tetap memakai sensor yang sama dengan kakak-kakaknya yaitu sensor Four Thirds (2x crop factor), hanya saja supaya lensa yang dipasang juga tampak sepadan, Lumix GM1 dibekali lensa zoom mungil G Vario 12-32mm f/3.5-5.6 OIS dengan diameter filter hanya 37mm.

    lumix-gm1

    Beberapa hal menarik dari kamera GM1 adalah desain yang bernuansa retro, rangka bodi magnesium alloy, bagian atas kamera  juga dari logam, sepintas mirip seperti minatur dari Lumix GX7. Sensor Four Thirds 16 MP di kamera ini jelas unggul bila dibanding sistem kamera mirrorless lain yang sensornya lebih kecil, seperti Nikon 1 J3 dan Pentax Q. Pesaing sepadan kamera ini sebetulnya adalah Olympus E-PM2 yang juga mengusung konsep mini. Tapi dari desain sepertinya kali ini Lumix lebih unggul karena kamera GM1 tidak terlihat murahan.

    lumix-gm1-top

    Seperti kamera lain sekelasnya, di Lumix GM1 sudah tersedia fitur manual eksposur dan bisa memotret RAW. Fitur lain diantaranya auto fokus yang cepat, focus peaking dan HDR. Layar LCD 3 incinya juga berjenis layar sentuh yang memudahkan pengoperasian. Kecepatan tembak kamera ini bisa 5 foto per detik bila pakai shutter mekanis, atau bisa 40 fps bila pakai shutter elektronik. Sebagai bonus, kamera ini juga punya fitur WiFi untuk memotret, memindahkan foto atau berbagi foto. Kekurangan kamera mungil ini tentunya adalah kecilnya ukuran tombol yang ada, walau untungnya bisa disiasati dengan memakai layar sentuhnya yang mudah dipakai.

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

    Lumix GX7 hadir, kami ulas head-to-head dengan Fuji X-E1

    Era kamera saku sudah beralih ke konsep mirrorless compact, karena tekanan berat dari smartphone modern yang kameranya canggih. Di kelompok mirrorless compact ini tiap produsen punya andalan, dan kebetulan lagi tren desain ala rangefinder (nuansa retro) seperti kamera masa lalu. Hari ini  Panasonic baru saja mengumumkan kehadiran Lumix GX7 sebagai penerus GX1. Desainnya keren, masih cukup pocketable dan pastinya sarat fitur. Lawan sepadan menurut kami adalah Fuji X-E1, walau bisa dibilang juga setara dengan kamera mirrorless lain seperti Olympus E-P5 atau Sony NEX-6.

    Lumix GX7

    Di kubu Micro Four Thirds, baik Panasonic maupun Olympus punya banyak produk untuk diandalkan. Olympus cukup konsisten dalam membuat kamera berdesain klasik (diberi nama Olympus Pen) sedangkan Panasonic mendesain kameranya berkonsep modern. Di masa lalu Lumix GF1 dan GF2 cukup keren dengan desain retro, tapi kini penerusnya sudah kembali berdesain ‘normal’. Bagi anda yang merindukan desain khas retro-klasik, Panasonic menghadirkan lagi di kamera terbarunya Lumix GX7 (penerus GX1-lompatan yang banyak dari angka 1 ke angka 7).

    lumix-gx7

    Lumix GX7 memakai sensor 16 MP Four Thirds (crop factor 2x), bodi magnesium alloy, jendela bidik elektronik yang sangat detil dan bisa dilipat keatas (kamera lain biasanya menjadikan ini sebagai aksesori tambahan), layar LCD 3 inci yang juga bisa dilipat, pertama kalinya memakai stabilizer pada bodi, ISO maksimum 12.800, lampu kilat mungil yang pop-up (ada juga flash hot-shoe) dan dua roda kendali.

    lumix-gx7_2

    Fitur movie di kamera ini juga kelas atas, termasuk focus peaking, opsi 24p dan kendali manual saat rekam video. Microphone stereo jadi satu-satunya penangkap audio di kamera ini, karena tidak ada input untuk mic eksternal. Fitur Wi-Fi yang lagi jadi tren juga tersedia disini, lengkap dengan NFC. Shutter di Lumix GX7 mampu memotret hingga kecepatan 1/8000 detik, dan saat memakai flash bisa hingga 1/320 detik, serta burst 5 fps yang cukup lumayan.

    Dibandingkan dengan Fuji X-E1

    Fuji X-E1 adalah versi ‘ekonomis’ dari X-Pro1 yang terkenal akan hybrid viewfindernya. Di X-E1 tidak lagi ditemui hybrid viewfinder, sebagai gantinya adalah jendela bidik elektronik biasa (namun tetap berkualitas). Lumix GX7 menang dalam hal kemampuan melipat jendela bidik ini. Keduanya sama-sama memakai teknologi OLED untuk jendela bidik ini. Untuk layar LCD Lumix GX7 unggul jauh karena lebih lega (3 inci vs 2,8 inci) dan mengadopsi sistem layar lipat serta sistem layar sentuh.

    Komparasi Lumix GX7 dan Fuji X-E1

    Fuji X-E1 menang dalam hal sensor (lebih luas, secara teori hasil fotonya lebih baik dan bokehnya juga lebih blur) tapi dalam prakteknya kualitas foto sensor APS-C dan Four Thirds nyaris identik (kecuali di ISO sangat tinggi).  Fuji X-E1 juga punya kendali shutter yang klasik, dengan memilih angka-angka shutter speed yang sudah tersedia pada roda di bagian atas kamera.

    Mengnai harga keduanya relatif berimbang di kisaran 10 jutaan bodi saja. Pilihan lensa Fuji XF belum begitu sebanyak lensa Micro Four Thirds, apalagi sejak Lumix GX7 mengadopsi sistem peredam getar di bodi, maka semua lensa Micro Four Thirds buatan Olympus atau merk lain bisa dipakai dengan tetap mendapat efek stabilisasi. Sangat menarik..

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

    Regenerasi rutin produk mirrorless Micro Four Thirds

    Dua pemain format Micro 4/3 yaitu Panasonic dan Olympus melakukan regenerasi rutin atas produk kamera mirrorless mereka. Panasonic merilis Lumix GH3 sebagai penerus Lumix GH2 dan Olympus meluncurkan kamera Pen series : E-PL5 (penerus E-PL3) dan E-PM2 (penerus E-PM). Ketiga kamera memakai sensor CMOS Four Thirds 16 MP dan layar sentuh. Regenerasi seperti ini selalu menarik karena berbagai penyempurnaan dan biasanya harganya tidak terlalu naik signifikan. Kita lihat apakah Lumix GH3 dan duo Olympus Pen ini bisa membuat anda berkata: ‘Wow’ !!

    Lumix GH3

    Penerus GH2 ini berada di segmen hybrid, dengan ciri bodi seperti DSLR (agak lebih kecil) dan punya fitur foto dan video yang sama baiknya. Lumix GH2 sendiri sudah sangat baik sehingga Panasonic tidak banyak menambah fitru di GH3, kecuali dalam hal bodi yang lebih kokoh dan urusan video yang lebih pro. Bodi magnesium alloy menjamin ketahanan GH3 ini, termasuk tahan percikan air dan debu. Kemampuan video ditingkatkan dengan bit rate ekstra tinggi All-I frame (hingga 72 Mbps-perlu memory card kencang) dan fitur lainnya.

    gh3_depan

    Tampilan Lumix GH3 menurut kami sangat ideal, bahkan lebih fungsional dalam hal kendali dibanding kamera DSLR pemula pada umumnya. Berbagai tombol Fn yang bisa diprogram, dua kendali roda eksposur, satu roda di belakang dan tombol langsung untuk mengakses WB, ISO dan Ev, serta custom setting C1-C2-C3 tersedia untuk beragam kebutuhan. Layar LCD-nya tajam, bisa dilipat dan disentuh. Auto fokusnya pun sangat cepat, meski hanya memakai deteksi kontras saja. Untuk mengunci obyek yang bergerak pun tidak masalah bahkan saat video. Hebatnya, untuk mengganti mode servo fokus cukup menggeser tuas AF-S/AF-F, AF-C dan MF (istilah ini persis sama seperti di kamera DSLR Nikon, kebetulan?). Flash built-in tersedia dan flash eksternal seperti DMW-FL360L bisa dipasang di hot shoe (hot shoe bisa juga dipakai untuk memasang eksternal mic). Lumix GH3 pun sudah memiliki WiFi untuk mengirim hasil foto ke komputer.

    gh3_back

    Kamera kelas atas dari Panasonic ini punya spesifikasi :

    • sensor CMOS 16 MP
    • LCD OLED touchscreen, 614 ribu titik (EVF juga OLED)
    • ISO 200-12800
    • 6 fps burst
    • HD video dengan codec MPEG4 atau AVCHD
    • baterai sanggup untuk 500 kali jepret
    • HDR mode

    Olympus PEN (E-PL5 dan E-PM2)

    Kedua kamera jenis compact ini cukup populer dan kali ini keduanya disempurnakan dengan mengambil sensor, prosesor dan kemampuan auto fokus yang cepat dari kamera kelas atas Olympus E-M5 (OM-D). E-PL adalah seri menengah dari Olympus PEN (L = Lite), dan khusus untuk E-PM2, ini merupakan kabar sangat baik karena E-PM adalah seri termurah dari Olympus Pen (M = Mini). Kali ini perbedaan E-PL5 dan E-PM2 tidak banyak, utamanya hanya di LCD lipatnya saja. Keduanya berbagai fitur sama seperti sensor 16 MP, stabilizer di sensor, rentang ISO (200-25600), 8 fps burst dan full manual mode. Ada juga Movie effect yang menarik di kedua kamera. Keduanya pun sayangnya tidak memiliki lampu kilat di bodi, untungnya disediakan dalam paket penjualan, sebuah lampu kilat mungil yang bisa dipasang di flash hot shoe.

    Tampilan dari E-PL5 (dalam kondisi LCD dilipat keatas dan grip terpasang)

    e-pl5

    dan inilah E-PM2 (lensa dilepas)

    e-pm2

    Harga E-PL5 adalah 6 jutaan tanpa lensa, dan E-PM2 adalah 5 jutaan tanpa lensa.

    Lensa-lensa baru

    Panasonic membuat lensa tele zoom profesional yaitu Lumix G Vario 35-100mm f/2.8 OIS dengan filter 58mm. Lensa yang cocok sebagai pasangan dari lensa Lumix G Vario 12-35mm f/2.8 OIS  ini punya fokal setara dengan 70-200mm namun dalam ukuran yang cukup kecil. Olympus juga merilis tiga lensa fix yaitu :

    • M Zuiko Digital ED 60mm f/2.8 macro (setara 120mm)
    • M Zuiko Digital ED 12mm f/2 (setara 24mm)
    • M Zuiko Digital ED 17mm f/1.8 (setara 35mm)

    Bisa dibilang tahun 2012 ini kamera mirrorless semakin matang, lensanya semakin lengkap dan sudah serius dalam menjadi alternatif pengganti kamera DSLR pemula. Tertarik?

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..