Lumix G9 : kamera kelas atas dari Panasonic

Kalau sebelumnya Panasonic sudah punya kamera kelas atas GH5 yang punya kelebihan di fitur videonya, maka kali ini muncul kamera Lumix G9 yang juga termasuk kelas pro yang lebih memfokuskan ke fitur fotografinya. Sebagai kamera kelas atas, tentu kita akan menjumpai sebuah produk yang sarat fitur canggih, spesifikasi tertinggi dan juga bodi yang mantap. Dan betul adanya, Lumix G9 ini punya sederet hal istimewa yang sebagian belum ada di kamera generasi sebelumnya. Fotografer profesional yang mencari kamera serius tapi dalam ekosistem Micro 4/3 perlu mengenali hal-hal menarik di Lumix G9 berikut ini.

  • kamera berbobot 650 gram ini benar-benar mantap, dengan ketahanan suhu hingga -10 derajat yang cocok dibawa ke daerah bersalju
  • jendela bidik OLED ukuran besar (3,86 juta dot, 120 fps, perbesaran 0,83x), layar LCD tambahan di atas, joystick dan dual slot SD card
  • sensor 20 MP yang mempunyai fitur OIS 5 axis, dan bisa bekerja sampai 6,5 stop

Sensor yang bisa bergerak ini juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan foto 80 MP, dengan cara penggabungan beberapa foto otomatis. Lumix G9 tetap punya fitur 4K video yang mantap, meski tidak selengkap di GH5, tapi juga menyediakan fitur video 60p.
G9 depan
Dari kinerjanya, G9 bisa menembak 9 fps pakai shutter mekanik dan hingga 20 fps bila pakai shutter elektronik, dengan mode fokus AF-C. Di mode AF-S bahkan bisa mencapai 60 fps full resolusi atau pakai 4K photo mode. Meski teknologi fokusnya tidak mengenal sistem Phase detect, tapi cara DFD yang diandalkan Panasonic selama ini diklaim memberi auto fokus yang sangat cepat, juga bisa diandalkan untuk fokus kontinu dengan 225 area deteksi kontras DFD. Salah satu kartu memori mendukung UHS-II sehingga memotret terus menerus atau rekam 4K dengan data yang besar bukan masalah untuk menuliskan semuanya ke kartu memori. Kapasitas baterai juga lumayan mencukupi namun kalau ingin aksesori battery grip juga ada.

G9 blkg

Panasonic yang terus mencoba membuat kamera yang berorientasi pada fotografer serius patut diapresiasi. Lumix G9 ini adalah produk paling matang, sudah sama besarnya dengan DSLR tapi tentunya punya banyak pilihan lensa yang tidak terlalu besar karena sistem Micro 4/3. Dari kualitas gambar, semestinya sensor 20 MP di G9 ini akan sama baiknya dengan GH5 atau Olympus EM1 mk II yang memang sudah menunjukkan peningkatan dibanding sensor 16 MP di kamera lumix terdahulu. Adanya jendela bidik yang mantap, tombol dan roda yang lengkap serta LCD kecil di atas menunjukkan Panasonic ingin memberi pengalaman menyenangkan untuk penghobi serius atau profesional. Harga kamera ini memang tidak murah (sekitar $1800 bodi saja), sejajar dengan beberapa kamera APS-C kelas menengah bahkan mendekati harga kamera full frame tertentu, tapi dari keseimbangan fitur dan harga yang ada, membuat Lumix G9 ini pantas diperhitungkan untuk profesional.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus E-M1 mark II resmi diluncurkan

Hari Kamis 1 Desember lalu di Citywalk Sudirman, Olympus Indonesia resmi meluncurkan kamera teratas yaitu OM-D E-M1 mark II. Di acara tersebut Quettfenn Lai (Olympus Regional Product Specialist) memaparkan berbagai keunggulan kamera 28 juta ini, seperti peningkatan di auto fokus, 5 axis IS hingga fitur 4K video. Berbekal sensor Micro 4/3, Olympus menawarkan keseimbangan antara kualitas foto dan kepraktisan dalam memakai kamera (berkat kamera dan lensanya yang signifikan lebih ringkas daripada DSLR).

p1160181-s
Sampel unit Olympus E-M1 mk II untuk dicoba awak media
Paparan tentang auto fokus diantara berbagai kamera top
Paparan tentang auto fokus diantara berbagai kamera top

Kamera top ini sudah tahan cipratan air, tahan beku -10 derajat, bisa dipakai sampai 200 ribu kali jepret tanpa masalah (kalau memakai shutter mekanik), bisa memotret sampai 60 fps dalam resolusi full 20 MP (kalau memakai shutter elektronik dan auto fokus single AF). Fitur lain seperti dual SD slot (UHS-II), buffer lega, prosesor quad core, layar sentuh dan jendela bidik yang nyaman menjadi penanda kamera elit ini. Kehebatan 5 axis IS disini bahkan diklaim bisa hingga 6,5 stop, dengan mudah bisa membuat foto tajam saat pakai shutter 1 hingga 2 detik tanpa tripod. Segmen market yang dituju diantaranya fotografer olah raga, jurnalis, liputan dan videografer serius.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review singkat : Olympus E-M10 mark II

Olympus E-M10 mk II adalah kamera mirrorless kelas bawah di lini OM-D, ditujukan untuk fotografer pemula yang mencari kamera mirrorless yang lebih lengkap dan serius namun tidak semahal E-M5. Kamera seri OM-D punya ciri fisik mirip DSLR, dengan jendela bidik di bagian atas (bukan disamping kiri seperti kamera mirrorless ala rangefinder pada umumnya) dan sedikit lebih besar dari kamera seri Pen (misal EPL7, Pen F dsb), serta punya banyak kendali untuk aneka setting.

IMG_9169

Di generasi kedua dari lini E-M10 ini Olympus memberi 5 axis stabilizer (sebelumnya hanya 3 axis) dan peningkatan lain (electronic shutter, jendela bidik semakin detail, 60 fps video dsb) serta fitur baru seperti 4K timelapse dan AF target pad. Desain kedua kamera juga sedikit berbeda khususnya di tuas on-off, yang kini menjadi satu dengan tuas flash.

IMG_9159

Menurut kami desain EM10 mk II ini cukup ideal. Ukuran pas ditangan, grip cukup nyaman, bodi berbahan logam dan tata letak tombol dan roda yang pas. Layar lipat dan sentuh juga jadi bonus yang menyenangkan.

Di waktu yang terbatas kami tidak bisa menguji banyak hal dari kamera ini. Walau di foto ilustrasi ini kamera dipadankan dengan lensa 25mm fix, tapi selama review fotonya diambil dengan lensa 12-50mm f/3.5-6.3. Hal pertama yang kami lakukan setelah menerima pinjaman kamera ini adalah mengkustomisasi kamera ini sesuai selera pribadi penguji. Untungnya kamera Olympus terkenal bisa banyak dikustomisasi yang membuat kameranya terasa lebih personal. Beberapa hal yang kami atur sebelum memotret :

  • mengaktifkan Super Control Panel (SPC) untuk memudahkan ganti setting dengan cepat
  • memprogram tiga tombol Fn, Fn1 untuk auto fokus, Fn2 untuk setting WB+ISO, dan Fn3 untuk plus RAW
  • merubah aspek rasio jadi 3:2 (kalo ini karena kebiasaan pakai DSLR) resikonya megapiksel sedikit berkurang
  • mengatur parameter JPG (pic mode i-Enhance, Gradation Auto, Contrast -1, Sharpness +1, Saturation 0)
  • memilih mode focus area ke grup AF, servo AF-S
p1140448
Super Control Panel (SPC)

Kualitas foto dari sensor 16 MP di Olympus EM10 mk II termasuk baik, dengan ISO tinggi yang noisenya masih cukup aman di ISO 1600 bahkan ISO 3200 pun untuk ukuran cetak kecil masih oke. Bagi yang suka editing mungkin akan sedikit kecewa dengan RAW kamera ini yang 12 bit, khususnya saat foto yang diambil punya kontras yang melampaui dynamic range sensor micro 4/3.

Hal yang penting untuk direview dari sebuah kamera selain kualitas gambar menurut kami adalah kinerja secara umum dan auto fokusnya. Dari kinerja tidak ada keluhan, kamera ini bekerja cepat, bisa menembak sampai 8,5 foto per detik juga. Auto fokus juga cepat, dan mudah untuk mengganti area fokus dengan berbagai cara misal menyentuh layar atau menekan tombol D pad. Ada beberapa opsi area fokus di kamera ini yaitu Auto, Group, 1 area dan 1 area kecil.

Kamera Olympus E-M10 mk II ini punya beberapa hal yang kami sukai diantaranya :

  • hasil JPG terlihat sudah oke, tonal dan akurasi warna juga bagus
  • auto fokus cepat (kalau untuk benda diam), bisa sentuh layar juga
  • 5 axis stabilizer bekerja baik, kami bisa dapat 1/2 detik tanpa tripod dengan lensa 12mm
  • ada elektronik shutter, ada fitur peredam shutter shock, sync 1/250 detik, max 60 detik, ada live bulb juga
  • bisa rekam video dengan manual eksposur, saat rekam video bisa juga ambil foto

sedangkan hal-hal yang masih agak kami sayangkan dari kamera ini :

  • penurunan kualitas dan detail foto di ISO 1600 keatas
  • file 12 bit RAW tidak begitu leluasa untuk editing (umumnya 14 bit)
  • auto fokus tidak handal untuk benda bergerak, dan karena deteksi kontras kadang fokusnya tertipu oleh latar belakang yang lebih kontras
  • tidak ada perlindungan cuaca, meski masih wajar untuk kamera dengan harga terjangkau seperti ini
  • auto ISO terlalu sederhana, tidak ada pengaturan minimum shutter speed

Sebagai kesimpulan singkat, kamera EM10 mk II ini cocok untuk yang mencari sistem kamera micro 4/3 yang lengkap tapi dana terbatas. Memang tidak secanggih fitur di EM5 mk II tapi sudah mencukupi untuk banyak kebutuhan fotografi. Sisi lemahnya adalah untuk kebutuhan foto aksi yang perlu fokus kontinu dan/atau ISO tinggi, tapi untuk keperluan lain seperti travel, street, arsitektur, potret dsb kamera ini sudah sangat mumpuni.

Beberapa hasil foto dari mencoba kamera EM10 mk II, JPG tanpa edit :

Warna yang menarik
Reproduksi warna yang enak dilihat
Sunrise
Tonal yang natural saat keadaan sunrise
Sepeda
Metering cukup akurat, sedikit under saat bertemu banyak pasir putih
Warna warni direproduksi dengan baik
Warna warni direproduksi dengan baik
Aktivitas nelayan
Merekam aktivitas nelayan
Dynamic range masih termasuk baik
Dynamic range masih termasuk baik
Clarity dan detil
Clarity dan detil dari lensa 12-50mm f/3.5-6.3
Panning shot
Mencoba panning shot dengan IS mode 2
Pakai tripod dengan long exposure
Pakai tripod dengan long exposure
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod, hasil masih acceptable sharp

Foto selengkapnya dan dalam ukuran aslinya kami titipkan di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic Lumix DMC-GX8 dan GX85, pilih yang mana?

Panasonic tetap eksis di kancah kamera digital khususnya dengan produk mirroress, walau segmentasi produknya agak membingungkan. Kita tahu ada seri GH untuk yang serius, ada seri G untuk yang lebih umum (keduanya berbentuk seperti mini DSLR), lalu ada juga seri GX, GM dan GF yang ketiganya lebih kompak dan ringkas (ala rangefinder). Seri GX sendiri adalah seri teringgi di kelas kompak, dengan produk yang cukup sukses saat itu adalah Lumix GX7 (2013) dan kini diteruskan dengan suksesornya yaitu Lumix GX8 (2015). Tak lama berselang, uniknya Panasonic kembali hadirkan kamera di seri GX yaitu Lumix GX85 (atau GX80 di negara lain), dan lebih unik lagi kamera ini diberi nama lain GX7 mark II. Lho..?

Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7
Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7

Untuk bisa mengerti penamaan ini, kita perlu tahu dulu seperti apa Lumix GX8 dan apa bedanya dengan GX7. Kamera GX8 adalah penerus GX7 yang dinanti-nanti karena diyakini akan membawa Panasonic bisa bersaing dengan Olympus EM-5 mk II atau kamera lain sekelasnya. Sebagai kamera top tier / flagship, GX8 menyempurnakan beberapa hal di GX7 seperti sensor baru 20 MP (Sebelumnya 16 MP), Dual IS (di sensor dan di lensa), 8 fps memotret kontinu dan 4K UHD video. Masih seperti GX7, jendela bidik di GX8 bisa dilipat ke atas untuk memotret sambil menunduk. Masalah dengan GX8 adalah harganya yang termasuk tinggi (15 juta belum dapat lensa), lalu ukurannya jadi membesar (dan lebih berat) serta issue shutter shock yang mengganggu (di shutter speed tertentu foto jadi kurang tajam).

Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)
Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)

Maka itu (mungkin) akhirnya Panasonic memutuskan membuat satu kamera lagi, berada diantara GX7 dan GX8 baik dari segi fitur, ukuran dan harga. Berangkat dari rancang desain GX7, namun dengan jendela bidik yang tidak bisa dilipat, Lumix GX85 hadir bulan lalu sebagai pelipur lara. Mengapa? Karena di GX85 teknologi shutter yang bermasalah di GX8 diperbaiki dengan sistem peredam sehingga tidak membuat foto kurang tajam. Kami sendiri kurang setuju bila GX85 diberi nama GX7 mk II, karena istilah mark II biasanya peningkatan dari produk sebelumnya. Mungkin akan lebih tepat dinamai GX7 lite saja karena jendela bidiknya juga tidak bisa dilipat.

GX8 - GX85 - GX7
GX8 – GX85 – GX7

Apa perbedaan antara GX85 dengan GX7 dan GX8? Wah ini agak membingungkan, tapi kami coba uraikan untuk anda :

Sensor :

  • GX7 : 16 MP
  • GX85 : 16 MP tanpa low pass filter
  • GX8 : 20 MP

Shutter :

  • GX7 : 1/8000 detik, 5 fps
  • GX85 : 1/4000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps
  • GX8 : 1/8000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps

Layar / jendela bidik :

  • GX7 : LCD
  • GX85 : LCD
  • GX8 : OLED

Video :

  • GX7 : Full HD
  • GX85 : 4K
  • GX8 : 4K

So, pilih yang mana? Saat ini Lumix GX7 juga masih dijual, boleh dibeli kalau mengejar harga diskon atau cuci gudang. Tapi bila tidak perlu EVF lipat, tunggu saja sampai GX85 masuk pasaran tanah air, estimasi sekitar 12 jutaan sudah dapat lensa. Tapi bila anda ingin mencari yang top-nya, misal untuk resolusi ekstra tinggi dan fitur terkini maka GX8 layak dibeli.

Kompetisi yang cukup berat buat duo kamera Lumix ini :

GX85 : Olympus EM10 mk II, Fuji XT10, Sony A6000

GX8 : Olympus EM5 mk II, Fuji X-T1, Sony A6300

Good luck Panasonic..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus PEN-F : kamera klasik yang terlahir kembali

Ditengah eforia desain kamera digital yang seperti kamera klasiik, seperti dibuat oleh Fuji dan Olympus, hadirlah Olympus PEN-F yang banyak kemiripan dengan kamera Olympus buatan tahun 1960 namun dengan fitur terkini dan modern. Belum lama diluncurkan, kamera seharga USD 1200 ini meraih banyak atensi fotografer khususnya yang menyukai foto street atau sekedar menjadikan kameranya sebagai collector edition. Bagaimana kehandalan kamera ini dan apa bedanya dengan lini OM-D yang juga populer?

4953358856

Sebagai info awal, segmentasi kamera ini pada dasarnya adalah untuk segmen hobi, consumer hingga enthusiast. Bedakan dengan OM-D yang ditujukan lebih ke semi-pro, dengan pembeda utama adalah fitur weathersealing yang absen di kelas PEN-F. Berbekal sensor baru 20 MP Micro Four Thirds tanpa low pass filter, 5 axis stabilisasi yang juga bisa dipakai untuk merangkai satu foto 50 MP dengan sensor shiftnya, serta kemampuan 10 fps (max 1/8000 detik) membuat PEN-F tidak bisa dianggap sebelah mata oleh siapapun.

1233349693

Kamera berbahan campuran almunium dan magnesium ini dipenuhi aneka roda dan tombol di sekeliling bodinya, juga punya jendela bidik OLED yang jernih, serta LCD lipat putar yang sudah mendukung sentuhan. Di bagian depan ada roda untuk mengatur semacam efek kreatif termasuk foto hitam putih. Ada 4 custom mode yang disediakan di roda dial, sehingga bisa semakin banyak user setting yang bisa disimpan.

2708840194

Tersedia dua pilihan desain, yaitu kombinasi hitam silver dan full hitam semua. Dibanding OM-D seperti EM5 atau yang lain, PEN-F ini menang di megapiksel (20 MP vs 16 MP). Selain sensornya, perbedaan lain lebih ke desain fisik seperti cara melipat layar, lalu EM10 punya built-in flash, beberapa OM-D ada colokan mic dan ini tidak ada di PEN F. Tapi kami secara umum sangat menyukai PEN-F karena menyempurnakan semua PEN lama seperti EP5, EPL7 dan sebagainya yang kurang sukses penjualannya. Btw tahun peluncuran PEN-F ini adalah bertepatan dengan 80 tahun hadirnya Olympus di kancah fotografi dunia.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus hadirkan OM-D EM10 generasi kedua

Kabar menarik dari kubu kamera mirrorless, kali ini dari produsen yang terkenal dengan seri kamera klasiknya yaitu Olympus. Seri OM-D terjangkau yaitu E-M10 telah dibuatkan generasi keduanya, atau bernama lengkap Olympus OM-D E-M10 II. Masih mengandalkan sensor 4/3 dengan 16 MP, E-M10 II ini disempurnakan dengan 5 axis stabilizer dan 4K timelapse video. Keren? Simak selengkapnya fitur-fitur kamera retro klasik ini..

Olympus EM10 II

Olympus E-M10 II sepintas mirip dengan E-M5 dan E-M1, walau perbedaan utamanya adalah E-M10 tidak dilindungi oleh sistem weatherealed sehingga tidak untuk dipakai saat cuaca jelek (hujan, misalnya). Walau termasuk seri termurah, material bahan E-M10 II dari bahan logam berkualitas, dengan roda kendali yang besar dan mantap saat diputar. Layar LCD yang bisa dilipat ini juga sudah berjenis touchscreen, bahkan bisa dipakai untuk memidahkan area fokus saat mata kita melihat di jendela bidik.

OMD EM10 top

Fitur dan spesifikasi E-M10 II :

  • 16 MP, LiveMOS 4/3, bisa ISO 25.600
  • peredam getar 5-axis (yaw/pitch/roll/vertical/horizontal)
  • menembak kontinu hingga 8,5 fps
  • jendela bidik OLED 2,3 juta dot (0,62x)
  • 60-1/16000 detik (sync flash 1/250 detik)
  • built-in flash, 5,6 meter ISO 100
  • WiFi
  • fitur khas Olympus : berbagai filter efek, live-bulb dan live-time

Kekurangan dari kamera E-M10 II adalah masih memakai teknologi AF deteksi kontras, sehingga kurang handal untuk memotret aksi yang bergerak/berpindah dengan cepat. Selain itu sebagaimana layaknya mirrorless pada umumnya, sektor baterai juga jadi kendala. Walau masih termasuk sedang, kemampuan baterai untuk 320 kali jepret terasa kurang aman kalau untuk jalan-jalan seharian.

Olympus EM10 back

Harga Olympus E-M10 II adalah USD 650 bodi saja, atau USD 800 dengan lensa kit mungil 14-42mm powerzoom. Bodi bisa pilih yang hitam semua atau hitam dan silver.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus perbarui lini OM-D dengan E-M5 mark II

Sebelumnya Olympus E-M5 adalah produk premium yang cukup laris, hingga hadirnya E-M1 yang lebih ditujukan untuk pro. Kali ini Olympus membuat generasi penerus dari E-M5 yang diberi nama OM-D E-M5 mark II. Tetap dengan ciri desain retro berbahan magnesium alloy yang lengkap dengan jendela bidik, banyak peningkatan dilakukan Olympus, diantaranyaTruPic VII Image Processing dan layar sentuh  yang bisa dilipat.

olympus-om-d-e-m5ii-camera

Bodi Olympus E-M5 mark II sudah dirancang tahan debu dan cipratan air serta suhu rendah, seperti di E-M1. Didalamnya terdapat sensor yang tetap sama yaitu 16 MP dengan sistem peredam getar 5 axis yang diklaim bisa meredam hingga 5 stop. Jendela bidiknya kini lebih detail dengan 2,3 juta titik dan kemampuan videonya bisa full HD 60p setara dengan 77 Mbps yang berkualitas tinggi. Fitur baru yang cukup unik adalah kemampuan menggabungkan delapan foto hingga menjadi sebuah foto 40 MP.

oly_e-m5ii_bk_t001

Tak ketinggalan fitur Wifi juga disematkan di bodi kamera E-M5 mark II ini. Kamera standar micro four thirds ini tersedia warna hitam yang berkesan modern dan hitam kombinasi silver yang terlihat klasik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic hadirkan dua kamera MFT baru : Lumix GM5 dan Lumix LX100

Berita menarik datang dari Panasonic. Produsen kamera Lumix ini mengumumkan dua kamera baru yaitu kamera mirrorless Lumix GM5 dan kamera prosumer Lumix LX100. Keduanya cukup mencuri perhatian karena kali ini Panasonic mendesain kameranya dengan konsep retro modern, dengan fitur yang mengesankan dan harga jual kameranya (khususnya LX100) cukup fantastis. Lumix GM5 sendiri bukan penerus dari GM1, dan juga berbeda total dengan seri GF maupun seri GX, walaupun tetap mengusung format mount micro four thirds. Simak lebih lanjut yuk..

Lumix GM5

Sebelumnya, Lumix punya banyak lini kamera mirrorless seperti seri GF (pemula), GX (canggih), G (amatir) dan GH (pro). Lalu muncul lagi seri GM yang berciri mungil walau tidak murah. Melihat kamera GM1 yang laris, Panasonic membuat lagi seri GM yaitu GM5 yang menjadikannya kamera mirrorless yang ideal, yaitu tidak terlampau mahal, ukuran kecil, ada jendela bidik, ada flash hot shoe dan ada roda mode eksposur dibagian atas. Lebih menarik lagi karena lensa kit di Lumix GM5 ini benar-benar baru dan lebar yaitu 12-32mm f/3.5-5.6 OIS.

lumix-gm5

Kamera yang tidak punya built-in flash ini memakai sensor yang sama dengan GM1 yaitu 16 MP Micro Four Thirds LiveMOS sensor. Peningkatan yang didapat adalah kemampuan video yang bisa 60fps progresif dan adanya roda kendali setting di bagian belakang dirubah desainnya. Urusan auto fokus masih mengandalkan deteksi kontras saja, namun khas Lumix yang terkenal cepat.

Lumix LX100

Penerus dari seri LX ini bukan bernama LX8 seperti yang sempat dirumorkan, tapi ternyata bernama LX100. Sempat diduga akan memakai sensor 1 inci, Panasonic justru membuat kejutan besar dengan memakai sensor yang lebih besar dari 1 inci yaitu sensor Micro Four Thirds !

lumix-lx100-all

Ya, sensor yang sama dengan seluruh kamera mirrorless Panasonic (dan DSLR/mirrorless Olympus) ini berhasil dikemas dalam bodi kamera yang masih tergolong kecil (lebih kecil dari Canon G1X), diberikan lensa Leica yang fenomenal (24-70mm f/1.7-2.8), tetap ada multi aspect ratio dan kendali manual untuk shutter dan bukaan lensa, bahkan kompensasi eksposur :

lumix-lx100

Dengan begitu boleh dibilang Lumix LX100 adalah ultimate compact camera, setara dengan Canon G1X mark II tapi dalam dimensi yang lebih ringkas.

Hal menarik dari LX100 :

  • Design retro yang keren
  • pertama di dunia : sensor 16 MP micro 4/3
  • lensa Leica 24-70mm f/1.7-2.8
  • ISO 200-25600
  • 4K video
  • Power OIS
  • ND filter
  • layar LCD 3″
  • jendela bidik tajam
  • Built-in Wi-Fi and NFC
  • Flash hot shoe
  • Baik Lumix GM5 maupun Lumix LX100 keduanya dibandrol dengan harga yang sama yaitu 10 jutaan rupiah, tertarik?

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..