Lumix G9 : kamera kelas atas dari Panasonic

Kalau sebelumnya Panasonic sudah punya kamera kelas atas GH5 yang punya kelebihan di fitur videonya, maka kali ini muncul kamera Lumix G9 yang juga termasuk kelas pro yang lebih memfokuskan ke fitur fotografinya. Sebagai kamera kelas atas, tentu kita akan menjumpai sebuah produk yang sarat fitur canggih, spesifikasi tertinggi dan juga bodi yang mantap. Dan betul adanya, Lumix G9 ini punya sederet hal istimewa yang sebagian belum ada di kamera generasi sebelumnya. Fotografer profesional yang mencari kamera serius tapi dalam ekosistem Micro 4/3 perlu mengenali hal-hal menarik di Lumix G9 berikut ini.

  • kamera berbobot 650 gram ini benar-benar mantap, dengan ketahanan suhu hingga -10 derajat yang cocok dibawa ke daerah bersalju
  • jendela bidik OLED ukuran besar (3,86 juta dot, 120 fps, perbesaran 0,83x), layar LCD tambahan di atas, joystick dan dual slot SD card
  • sensor 20 MP yang mempunyai fitur OIS 5 axis, dan bisa bekerja sampai 6,5 stop

Sensor yang bisa bergerak ini juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan foto 80 MP, dengan cara penggabungan beberapa foto otomatis. Lumix G9 tetap punya fitur 4K video yang mantap, meski tidak selengkap di GH5, tapi juga menyediakan fitur video 60p.
G9 depan
Dari kinerjanya, G9 bisa menembak 9 fps pakai shutter mekanik dan hingga 20 fps bila pakai shutter elektronik, dengan mode fokus AF-C. Di mode AF-S bahkan bisa mencapai 60 fps full resolusi atau pakai 4K photo mode. Meski teknologi fokusnya tidak mengenal sistem Phase detect, tapi cara DFD yang diandalkan Panasonic selama ini diklaim memberi auto fokus yang sangat cepat, juga bisa diandalkan untuk fokus kontinu dengan 225 area deteksi kontras DFD. Salah satu kartu memori mendukung UHS-II sehingga memotret terus menerus atau rekam 4K dengan data yang besar bukan masalah untuk menuliskan semuanya ke kartu memori. Kapasitas baterai juga lumayan mencukupi namun kalau ingin aksesori battery grip juga ada.

G9 blkg

Panasonic yang terus mencoba membuat kamera yang berorientasi pada fotografer serius patut diapresiasi. Lumix G9 ini adalah produk paling matang, sudah sama besarnya dengan DSLR tapi tentunya punya banyak pilihan lensa yang tidak terlalu besar karena sistem Micro 4/3. Dari kualitas gambar, semestinya sensor 20 MP di G9 ini akan sama baiknya dengan GH5 atau Olympus EM1 mk II yang memang sudah menunjukkan peningkatan dibanding sensor 16 MP di kamera lumix terdahulu. Adanya jendela bidik yang mantap, tombol dan roda yang lengkap serta LCD kecil di atas menunjukkan Panasonic ingin memberi pengalaman menyenangkan untuk penghobi serius atau profesional. Harga kamera ini memang tidak murah (sekitar $1800 bodi saja), sejajar dengan beberapa kamera APS-C kelas menengah bahkan mendekati harga kamera full frame tertentu, tapi dari keseimbangan fitur dan harga yang ada, membuat Lumix G9 ini pantas diperhitungkan untuk profesional.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review kamera mirrorless Olympus Pen E-PL5

Kali ini kami akan menyampaikan review untuk kamera Olympus E-PL5 dengan lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 yang dipasaran di jual di harga 7 jutaan.  Apakah kamera yang harga dan fiturnya berimbang dengan rata-rata kamera DSLR pemula ini mampu mengesankan anda? Kita simak saja ulasannya..

Kamera yang diuji kali ini termasuk kelompok mirrorless compact, cirinya ukurannya termasuk kecil (sedikit lebih besar dari kamera saku umumnya), sensor ukuran besar (aspek rasio 4:3, crop factor 2x) dan bisa menerima lensa apa saja dengan mount Micro 4/3. Bagi yang belum begitu mengenal kamera mirrorless disarankan membaca juga artikel ini. Sekedar mengenal posisi kamera ini di lini Olympus Pen, E-PL5 adalah seri Lite (menengah), dibawah E-P5 sebagai kamera Pen kasta tertinggi. Dibawah E-PL5 ini masih ada seri yang lebih mendasar yaitu Pen-Mini dengan produknya E-PM2. Sebelum E-PL5 hadir, ada produk lama seperti E-PL3 (seperti biasa, orang Jepang sering melewatkan angka 4). Peningkatan dari E-PL3 ke E-PL5 diantaranya dalam hal megapiksel, ISO maksimum, kecepatan tembak dan ada layar sentuh.

Kita mulai saja. E-PL5 punya sensor yang sama dengan kamera kelas atas OM-D E-M5 yaitu LiveMOS 16.1 MP yang mampu mencapai ISO tertinggi 25.600. Beberapa fitur unggulan lain diantaranya :

  • punya fitur peredam getar, lensa apa saja bisa jadi lebih stabil (untuk foto dan video)
  • pengaturan manual PASM lengkap dengan mode dialnya
  • kecepatan tembak hingga 8 foto per detik
  • bodi desain retro, bahan logam kokoh, dapat ekstra grip, pilihan warna hitam, putih dan silver
  • full HD stereo
  • dibekali 12 Art filter dan 6 Art effect
  • layar lipat, ukuran 3 inci, layar sentuh kapasitif, touch AF shutter
  • ada dudukan lampu kilat, plus dapat lampu kilat mini (karena tidak ada built-in flash di bodi)

Tinjuan bodi dan lensa

Pertama yang akan di ulas tentu saja adalah tampak luar dan bagaimana rasanya kamera ini saat digenggam. Dilihat dari depan saat belum dipasang lensa tentu adalah mount dan sensor yang terlihat dominan, lalu di pojok atas ada lampu kecil untuk self timer maupun lampu bantuan fokus. Dari atas bisa dilihat ada dudukan lampu kilat eksternal (atau untuk aksesori lain misal jendela bidik elektronik), roda mode dial PASM dll, tombol jepret dan tombol on-off. Masih di atas tapi agak sedikit ke belakang ditemui tombol playback, tombol delete, colokan aksesori (AP2), tombol Fn, tombol magnify dan tombol langsung rekam video.

Olympus E-PL5 with lens

Di belakang ada layar LCD lipat yang aspek rasionya 16:9 sehingga terasa sekali dominasinya, tinggal tersisa sedikit ruang di sebelah kanan untuk aneka tombol dan roda kendali. Di sisi kanan ada pintu kecil untuk colokan mikro HDMI dan mikro USB, lalu di bawah ada pintu untuk baterai dan kartu SD, serta lubang untuk memasang tripod.

Olypus E-PL5 back

Saat digenggam, kamera berbobot 300 gram ini (belum termasuk lensa) terasa mantap karena cukup berat, ada grip di depan dan ada tonjolan untuk menahan jempol di belakang. Pengoperasian dengan satu tangan masih bisa selama tidak menekan tombol playback dan delete. Saat mencoba melipat layar LCD, kami temui sudut lipatannya sangat berguna karena bisa ke bawah (untuk memotret sambil mengangkat kamera ke atas) atau layar dilipat hingga menghadap ke atas (untuk low angle hingga selfie). Satu hal yang tidak bisa kita lakukan dengan layar ini adalah melipatnya ke dalam untuk melindungi layar saat kamera tidak dipakai.

Lensa M Zuiko 14-42mm

Lensa kit yang disediakan cukup kecil, punya rentang fokal 14-42mm (setara 24-84mm) dan rentang diafragma f/3.5-5.6 serta diameter filter 37mm. Di lensa tertulis jarak fokus minimum lensa ini adalah 25cm (cukup dekat untuk foto close-up) hingga infinity. Ada ring untuk manual fokus di lensa, tapi prinsip kerjanya adalah elektronik. Ada tuas untuk mengunci lensa juga, jadi misalnya lensa posisi terkunci lalu kamera dinyalakan akan ada pesan di layar untuk me-unlock lensanya (dengan cara memutar ke fokal 14mm).

Kinerja dan pemakaian

Kamera generasi modern, layaknya sebuah komputer rata-rata punya kinerja lebih baik berkat kemajuan teknologi prosesor didalamnya. Kamera E-PL5 ini juga terasa responsif mulai dari waktu start-up, shutter lag, shot-to-shot hingga melihat-lihat hasil foto semuanya terasa cepat. Urusan kecepatan fokus di kamera Olympus juga sudah dikenal cepat walau berbasis deteksi kontras saja. Ada beberapa mode auto fokus di kamera ini, termasuk fokus kontinu, manual fokus dan fokus dengan menyentuh layar. Di tempat agak gelap, kinerja auto fokus sedikit menurun tapi masih tergolong cepat, jarang sampai terjadi mis fokus (meleset). Kamera ini dengan jitu juga bisa mengenali wajah manusia sehingga bisa fokus langsung ke area wajah. Asyiknya, dengan satu sentuhan jari kita juga bisa memilih titik fokus sekaligus mengambil foto, fitur ini dinamai Touch AF shutter.

touch-af

Kecepatan tembak maksimum 8 foto per detik terasa sangat mantap, penulisan data ke kartu memori akan lebih terasa cepat dengan kartu yang kelas 10 atau lebih cepat. Di mode dial E-PL5 ada pilihan untuk rekam video, tapi walau posisi dial bukan berada disana kita tetap bisa memulai rekam video dengan menekan tombol movie. Sayangnya dari pengujian kami, rekaman video akan berhenti dan disimpan jadi satu file bila tombol jepret ditekan untuk mengambil foto. Setelah foto diambil dan disimpan, kamera akan otomatis lanjut merekam video dengan nama file baru. Menurut kami ini tidak praktis, di kamera lain umumnya saat sedang merekam video tiba-tiba tombol jeptret ditekan, maka foto diambil tapi video tetap lanjut merekam.

Untuk mengganti setting penting seperti eksposur (ISO, shutter, diafragma), lalu ukuran file foto, WB, metering dan sebagainya harus menekan tombol OK lalu navigasi lebih lanjut dengan tombol 4 arah (atas bawah dan kiri kanan). Tidak ada satu tombol yang menampilkan quick setting di LCD seperti kamera lain (atau kamera OM-D), padahal dengan layar sentuh semestinya lebih mudah mengganti setting dengan menekan layar, cukup disayangkan. Ada tombol INFO yang bisa dipakai untuk menampilkan detail setting di layar dan menampilkan live histogram. Tombol empat arah juga punya fungsi jalan pintas seperti kompensasi eksposur, memilih titik fokus, memilih mode flash dan drive mode/self timer. Unik dan hebatnya di kamera ini, hampir setiap tombol bisa dikustomisasi melalui menu. Jadi kita bisa mengganti fungsi default dari masing-masing tombol, lalu juga roda kendali serta tombol rekam video. Kamera ini bahkan bisa menyimpan setting favorit kita.

Custom menu E-PL5

Di menu, pengaturan lanjutan (Custom menu) disembunyikan dengan tujuan tidak dirubah oleh pemakai yang masih awam, tapi dengan membukanya kita akan bertemu setting yang sangat lengkap dan terbagi sampai 10 kelompok dari A sampai J, masing-masing punya peran untuk mengatur fokus, tombol, drive mode, display, eksposur, flash, warna WB, record/erase, movie dan utility. Disinilah kita bisa mengkustomisasi kamera ini sepuas-puasnya, bahkan lebih canggih daripada kamera DSLR dengan harga yang sama. Misalnya di kamera ini bisa lebih lanjut mengatur rentang histogram (default dari 0-255), live bulb, menjaga tone hangat di Auto WB, memilih dpi output, bagaimana kamera akan menghapus file bila foto yang diambil dengan setting RAW+JPG di-delete, hingga adanya kompensasi eksposur untuk setiap mode metering.

Di kamera juga tersedia banyak pilihan pop art dan bracketing, termasuk HDR. Ada juga fitur multiple exposure untuk menggabungkan dua foto jadi satu. Bagi yang senang memotret sesuatu yang jauh juga akan terbantu dengan fitur tele converter (2x digital zoom). Sayangnya tidak ditemui fitur sweep panorama atau timelapse di kamera ini. Sedikit kekurangan lain dari kamera ini yang kami temui adalah, setelah mengakses mode HDR BKT dan menentukan settingnya, kamera hanya mengambil tiga foto yang siap untuk digabung jadi HDR di komputer, bukannya digabung otomatis di kamera seperti fitur HDR di kamera lain.

Hasil foto

Contoh foto ini diambil dengan lensa kit M.Zuiko 14-42mm f/3.5-5.6 untuk sekaligus menguji kualitas lensa dan juga kemampuan ISO tinggi dari kamera dengan sensor Four Thirds ini. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link ke flickr di bawahnya foto.

ISO 1600 :

ISO 1600 di E-PL5

File asli

ISO 3200 :

ISO 3200 di E-PL5

File asli

Dari kedua contoh foto diatas tampak kualitas foto masih cukup baik di ISO 1600 dan ISO 3200, dengan noise yang masih cukup wajar. Hasil 100% crop dari foto di ISO 3200 adalah seperti ini :

p1010203-crop

Untuk contoh foto berikut ini diambil dengan lensa Lumix 45-150mm OIS, karena sebagai sesama anggota Micro Four Thirds, lensa milik Panasonic ini bisa juga dipakai di kamera Olympus. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link flickr di bawahnya foto.

Foto diambil dengan aneka efek art filter :

Miniatur efek

File asli

Art efek

File asli

BW efek

File asli

Kesimpulan

Persaingan ketat di segmen kamera mirrorless bisa disederhanakan seperti adu kamera dengan sensor Four Thirds dan sensor APS-C (seperti Sony NEX, Fuji X, Canon EOS-M dan Samsung NX) yang juga punya bermacam produk andalan. Untuk tetap bisa kompetitif, Olympus perlu strategi cerdas dalam membuat segmentasi kameranya. Olympus E-PL5 sebagai kamera mirrorless compact berhasil memberi bukti bahwa kamera canggih dengan hasil foto baik dan kinerja tinggi tidak harus dibandrol terlalu mahal. Berada di segmen menengah, E-PL5 termasuk punya value tinggi dan sudah matang dalam hal teknologi. Bodi yang mantap dan ergonomi yang pas membuatnya cukup ringkas untuk dipakai namun tidak mudah selip dari genggaman. Penyempurnaan dari era E-PL3 cukup banyak, fakta kalau kamera ini memakai sensor milik OM-D EM-5 dan layar sentuh juga tidak bisa diabaikan. Kinerja kamera seperti auto fokus dan in body stabilizer juga tidak ada keluhan, bekerja baik sesuai ekspektasi kami. Kami juga terkesan dengan banyaknya fitur kelas atas yang dimiliki E-PL5 seperti live bulb, aneka bracketing, multi exposure, DOF preview dan bermacam art filter yang siap pakai. Selain itu, lensa kit yang dimiliki juga termasuk punya kualitas optik yang baik, sepintas yang melihat kecilnya tidak menyangka kalau hasil fotonya tajam.

Dengan segala kelebihan diatas, kami juga mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti lampu kilat yang terpisah dari bodi. Walaupun dalam paket penjualan lampu kilat ini disertakan juga, tapi tetap akan lebih repot bila kita harus selalu membawanya dan memasangnya bila perlu. Belum lagi dengan memasang flash maka aksesori lain seperti jendela bidik elektronik jadi tidak bisa dipasang juga. Lalu yang namanya layar LCD jadi sorotan kritik kami karena beberapa hal, misal aspek rasio 16:9 itu tidak umum dan memakan ruang belakang kamera (sehingga tombol dan roda kendali terdesak di sisi kanan), lalu sistem layar lipat yang tidak umum (walau tetap kami apresiasi daripada tidak bisa dilipat sama sekali) dan kerapatan piksel LCD yang dibawah rata-rata (hanya 400 ribuan piksel). Dari kinerja kamera, yang kami keluhkan hanya rekaman video yang harus berhenti saat kamera dipakai untuk mengambil foto. Harapan lain yang belum ada di kamera ini sebutlah misalnya auto ISO yang biasa saja (tidak bisa dikustomisasi lebih lanjut untuk prioritas shutter speed), tidak ada timelapse dan sweep panorama, tidak ada WiFi dan tidak bisa menggabungkan otomatis tiga foto hasil HDR kamera.

Kesimpulan akhir, kamera Olympus E-PL5 plus lensa kit, dengan segala kelebihan dan fiturnya sebetulnya cukup sepadan dengan harga jualnya di kisaran 7 jutaan. Anda akan mendapat kamera berdesain keren, hasil foto bagus, kinerja tinggi dan bisa banyak kustomisasi tombol dan fitur lanjutan. Tinggal apakah anda bisa menerima hal-hal kecil yang menjadi catatan kami (seperti lampu kilat terpisah, layar LCD dengan aspek rasio yang tidak umum, issue rekam video putus saat ambil foto dan HDR yang tidak bisa digabung). Jangan lupakan juga pilihan lensa yang cukup banyak baik dari Olympus, Lumix maupun produsen lensa pihak ketiga akan jadi faktor tambahan untuk memilih sistem kamera ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera kelas pro untuk Micro Four Thirds : Olympus OM-D E-M1

Hari ini Olympus meluncurkan kamera seri OM-D yang bernama Olympus E-M1, sekaligus menggantikan posisi produk sebelumnya E-M5 sebagai pengisi kasta tertinggi dari jajaran kamera Micro Four Thirds dari Olympus. Berbekal peningkatan dalam performa auto fokus dan kendali eksternal, kamera seharga 14 jutaan ini juga sekaligus menjadi penerus dari DSLR kelas atas di masa lalu (Olympus E-5) karena memang tidak akan ada lagi DSLR yang akan dibuat oleh Olympus.

oly-e-m1

Selamat tinggal DSLR. Kamera mirrorless E-M1 ini bentuknya mirip DSLR mini, dan siap menjadi kamera idaman fotografer pro dengan spek utama berupa :

  • sensor Four Thirds 16 MP Live MOS (2x crop factor)
  • ISO 100-25.600
  • 5 axis stabilizer
  • shutter 60 detik sampai 1/8000 detik
  • flash sync 1/320 detik
  • 9 frame per detik
  • WiFi built-in
  • 2 mode HDR

e-m1-top-miring

Dan berikut adalah itur unggulan dari Olympus E-M1 :

Bodi mantap

Meski cukup kecil, kamera dengan bodi magnesium alloy ini tangguh dan tahan cuaca, tersedia banyak opsi kustomisasi berkat banyaknya tombol/roda kendali di sekeliling kamera ini. Terdapat juga  jendela bidik elektronik yang besar serta layar LCD lipat yang berjenis layar sentuh. Dilihat dari segala sisi pun kamera bergaya retro ini memang tampak keren..

Auto fokus cepat

Auto fokus tercepat dengan 37 titik detektor fasa di sensor, atau 81 area detektor kontras. Lensa Zuiko Digital (atau lensa yang didesain untuk DSLR Olympus) akan bisa menikmati cepatnya auto fokus deteksi fasa layaknya DSLR (namun hanya bisa manual fokus saat merekam video). Sebelumnya, kinerja auto fokus lensa Zuiko mengalami kompromi saat dipasang di kamera Micro 4/3 (memakai adapter). Sedangkan lensa Micro 4/3 (namanya adalah lensa M.Zuiko) akan menikmati deteksi kontras dan deteksi fasa di kamera ini, tergantung mode fokusnya. Di mode fokus kontinu maka yang dipakai adalah deteksi fasa. Performa fokus kontinu kamera ini menyamai kamera DSLR. Di mode fokus single atau rekam video yang dipakai adalah deteksi kontras.

Hasil foto terbaik diantara semua kamera Olympus

Setidaknya itulah klaim dari press release kamera ini, dengan dukungan prosesor TruePic VII dan dihilangkannya low pass filter, membuat hasil foto E-M1 tentu akan lebih tajam. Hebatnya penajaman foto bersifat adaptif, diberikan seperlunya tergantung lensa dan angka bukaan lensa yang dipilih. Soal pengaturan foto pun bisa dilakukan di kamera, seperti mengatur kurva shadow dan highlight, sera pengaturan lain seperti gamma, hue dan saturasi untuk hasil foto yang ‘matang’ tanpa perlu mengedit lagi di komputer. Apalagi Art Filter di kamera Olympus terkenal lengkap dan berguna.

Jendela bidik elektronik terbaik

Jendela bidik di E-M1 ini cerdas dan bisa mengatur tingkat kecerahan tampilan sesuai cahaya lingkungan di luar. Dengan begitu saat di tempat gelap, tampilan jendela bidik tidak ‘dipaksakan’ untuk terang dan akan terlihat lebih alami seperti melihat jendela bidik optik. Kerapatan piksel di jendela bidik ini punya 2,35 juta titik sehingga detilnya luar biasa tajam. Selain itu tidak ada lag yang terlihat di jendela bidik ini, jadi mirip seperti melihat langsung aslinya.

Pilihan kit lensa profesional M.Zuiko 12-40mm f/2.8

Olympus E-M1 with 12-24mm

Bila mencari lensa yang fokalnya setara dengan 24-80mm bukaan konstan f/2.8 kali ini Olympus sudah meluncurkan lensa profesional M.Zuiko 12-40mm f/2.8 yang diameter filternya 62mm. Lensa 14 elemen dalam 9 grup ini tahan debu, cuaca dan beku. Kemampuan makronya lumayan dengan jarak minimum 20cm. Sebagai pelengkap lensa ini, di tahun depan juga akan keluar lensa yang setara dengan 80-300mm yaitu M.Zuiko 40-150mm f/2.8

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duo andalan baru Olympus Pen : E-P5 dan E-PL6

Belum lama ini Olympus melakukan regenerasi rutin pada dua kamera mirrorless kompak mereka yaitu di seri Olympus Pen dengan menghadirkan E-P5 dan di seri Olympus Pen Lite dengan E-PL6. Kedua kamera meski masih memakai sensor yang sama yaitu Four Thirds 16 MP namun lebih disempurnakan dalam fitur dan kinerja. Untuk E-PL5 sendiri sudah memiliki fitur Wi-Fi didalamnya. Kematangan Olympus dalam membuat kamera mirrorless semakin terlihat di kedua produk ini.

Olympus Pen E-P5

e-p5

Inilah kamera retro dengan ukuran kompak yang kinerja dan fiturnya tak kalah dengan kamera DSLR, bahkan yang kelas canggih sekalipun. Sebut saja misalnya kecepatan shutter hingga 1/8000 detik, bisa 9 fps burst dan kendali eksternal yang berlimpah. Kamera ini juga lengkap termasuk ada lampu kilat built-in hingga fitur Wi-Fi. Layar sentuhnya juga bisa dipakai untuk memilih titik AF hingga memotret.

Olympus Pen Lite E-PL6

e-pl6

Kamera seri Pen Lite merupakan versi ‘terjangkau’ dari kamera seri Pen Olympus, dengan mempertahankan desain yang tetap retro. Kini E-PL6 hadir dengan beberapa peningkatan seperti low ISO, shutter lag lebih singkat, interval timer dan time lapse. Dibanding E-P5, maka kamera ini kalah dalam hal stabilizer yang tidak sehebat E-P5 (E-P5 memakai 5 axis IS), tidak ada flash built-in dan tidak ada WiFi. Tapi layar sentuh di E-PL6 ini juga bisa dipakai untuk memilih titik AF dan memotret.

Kedua kamera ini sudah memiliki fitur Art Filter yang berlimpah khas Olympus. Selain itu berbagai pilihan lensa Micro Four Thirds dari Olympus dan Panasonic bisa dipilih untuk mendampingi kamera dengan crop factor 2x ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic Lumix G3, lebih mungil dan lebih murah dari G2

Satu lagi penyegaran di kelas kamera Micro Four Thirds dilakukan oleh Panasonic. Bila sebelumnya Panasonic agak membingungkan dengan membuat dua kelas kamera yang mirip (Lumix G2 dan GH2), kini telah hadir penerus G2 yang bernama Lumix G3 dengan ukuran yang 25% lebih mungil dan harga lebih terjangkau daripada G2. Dengan demikian GH2 menjadi satu-satunya kamera Micro Four Thirds yang berdimensi paling besar (mirip DSLR), lalu kamera GF2 menjadi kamera yang paling kecil (mirip kamera saku) dan G3 ini menjadi kamera yang ukurannya diantara GH2 dan GF2.

lumix-g3-lcd

Langkah yang dilakukan Panasonic dalam merubah G2 ke G3 membawa beberapa konsekuensi. Sebutlah diantaranya hilangnya berbagai tombol dan tuas penting untuk pengaturan kamera. Selain itu ukuran yang lebih mungil membuat G3 kehilangan grip yang dominan di G2. Untuk itu G3 lebih cocok dipilih oleh kaum hawa sedangkan bagi yang ingin merasakan sensasi seperti DSLR lebih mantap memakai GH2 saja. Namun G3 kini dibekali sensor 16 MP yang sama seperti GH2, meningkat lumayan banyak dari 12 MP di seri G1 dan G2. Perbedaan G3 terhadap pendahulunya tampak seperti gambar di bawah ini (kiri G2 dan kanan G3) :

g2-vs-g3

Lumix G3 kini memiliki kemampuan full HD video dengan suara stereo dalam format AVCHD, Venus Engine VI FHD processor, Photo Style dan filter Creative Control filters. Lumix G3 tersedia dalam warna putih, merah dan hitam dengan harga 5 jutaan (bodi saja) atau 6 jutaan (dengan lensa kit).

Adapun sejarah kamera Lumix seri G sejak 2008 hingga saat ini adalah :

Lumix G1 (Sep 2008) :

  • 12 MP
  • ISO 3200
  • tanpa fitur movie
  • lensa kit 14-45mm
  • layar LCD lipat
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)

Lumix G2 (Mar 2010) :

  • 12 MP
  • ISO 6400
  • HD movie 1280 x 720 (AVCHD lite)
  • lensa kit 14-42mm
  • layar LCD lipat, touchscreen
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)
  • mendukung SDXC card

Lumix G3 (Mei 2011) :

  • 16 MP
  • ISO 6400
  • HD movie 1980 x 1080 (AVCHD), stereo
  • lensa kit 14-42mm
  • layar LCD lipat, touchscreen
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)
  • mendukung SDXC card
  • Photo Style dan filter Creative Control filters
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic hadirkan Lumix GF2 dengan layar sentuh

Sedikit kejutan di bulan November ini saat Panasonic meluncurkan kamera saku berformat Micro Four Thirds bernama Lumix DMC-GF2 sebagai penerus GF1 yang diperkenalkan setahun lalu. Kamera dengan sensor besar dan lensa yang bisa dilepas ini semakin memikat dengan layar sentuh, teknologi Intelligent Resolution dan tombol iA tersendiri. Uniknya, penerus GF1 ini justru lebih mungil dari sebelumnya dan ukurannya semakin mendekati kamera saku premium seperti Lumix LX5.

lumix-gf2

Meski Panasonic tidak merubah spesifikasi sensor yang dipakai di GF2 (12 MP, Live MOS) namun dalam kinerja prosesor Venus FHD pada kamera Lumix GF2 lebih bertenaga dan mendukung video HD 1080 dengan 60 fps. Mode manual tetap ada di GF2 meski mode dial fisik dihilangkan dan dipindah ke menu yang diakses melalui layar sentuh 3 incinya (bertipe resistive, bukan capasitive). Dengan layar sentuh, kita bukan cuma bisa mengakses menu namun juga bisa untuk menentukan titik fokus, manual fokus, dan playback foto.

Sebagai kamera yang hampir sekelas dengan DSLR, kamera GF2 juga memiliki fitur lengkap seperti RAW, ISO 6400, shutter 60-1/4000 detik dan dudukan lampu kilat eksternal. Khusus untuk mode video, kini GF2 mendukung audio stereo (Dolby Digital) dan mampu terus mencari fokus saat merekam video. Kamera GF2 akan diluncurkan Januari 2011 dengan pilihan paket lensa fix 14mm f/2.5 (setara 28mm) atau dengan lensa zoom 14-42mm IS f/3.5-5.6 (setara 28-84mm).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Akhirnya Samsung NX10 diluncurkan, plus 3 pilihan lensa

Samsung membuktikan keseriusannya dalam dunia fotografi dengan menepati janjinya untuk membuat kamera berformat baru, dengan konsep lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable), sensor ukuran APS-C dan tanpa mirror (cermin) seperti pada kamera DSLR. Sambutlah produk Samsung NX10 sebagai varian baru dalam dunia kamera digital, melengkapi kiprah Panasonic dan Olympus yang sebelumnya sudah membuka babak baru dengan kamera Micro Four Thirds.

Format EVIL (Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses) camera mungkin adalah format kamera yang jadi impian setiap orang. Ukuran yang kecil, bobotnya ringan, hasil foto yang baik dan keleluasaan berganti lensa sudah bisa memberikan gambaran betapa idealnya format ini. Format Micro Four Thirds, terlepas dari harga jualnya, adalah format baru yang disambut positif oleh kalangan fotografer dan punya masa depan cerah. Melihat kesuksesan format Micro 4/3 ini (yang memakai sensor Four Thirds), menginspirasi Samsung untuk membuat format serupa, namun dengan sensor yang sedikit lebih besar.

Samsung NX10
Samsung NX10

Apa yang membuat Samsung NX10 ini begitu dinantikan? Tak lain adalah karena dipakainya sensor CMOS ukuran APS-C  beresolusi 14,6 MP sehingga kualitas gambar kamera ini diyakini akan sama seperti hasil kamera DSLR pada umumnya. Urusan noise di ISO tinggi juga bisa dijaga tetap rendah bahkan NX10 ini bisa mencapai ISO 3200. Sebagai kamera tanpa cermin, NX10 mengandalkan prinsip live-view murni melalui LCD ataupun viewfinder, sementara urusan auto fokus memakai prinsip contrast-detect saja. Samsung mengklaim proses auto fokus bisa dibuat sangat cepat berkat  DRIMe II Pro engine yang memakai algoritma AF tingkat lanjut. Urusan lensa, NX10 ini memakai mount lensa khusus meski tersedia adapter untuk lensa Pentax. Layar LCD berjenis Amoled ukuran 3 inci dan viewfinder beresolusi 941 ribu piksel menjadi andalan Samsung juga, ditambah tentunya fitur HD movie sebagai fitur wajib kamera modern juga disediakan di NX10 ini.

Hadir sebagai pilihan awal, tiga buah lensa buatan Samsung yang cukup mengagumkan :

  • lensa zoom standar 18-55mm f/3.5-5.6 IS (ya, IS itu Image Stabilizer layaknya lensa Canon)
  • lensa zoom tele 55-200mm f/4.0-5.6 IS
  • lensa prime 30mm f/2.0 (diameter filter 43 mm, cukup mungil..)

Harga Samsung NX10 belum diumumkan, tapi kurang lebih akan sama dengan harga Lumix GH1 di kisaran 10 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix DMC-GF1, satu lagi kamera saku berformat Micro Four Thirds

Sukses Olympus menghadirkan kamera saku bersensor Four Thirds yang bernama E-P1 (digital pen) rupanya membuat Panasonic juga harus meladeni mitranya dalam konsorsium Micro Four Thirds ini dengan produk sejenis. Bila sebelumnya format Micro Four Thirds diwujudkan oleh Panasonic dalam bentuk SLR-like (seperti G1 dan GH1), kini Panasonic menghadirkan kamera saku bersensor 4/3 dengan nama Lumix GF1. Bayangkan kualitas sensor DSLR yang tertanam pada kamera yang desain bodinya seperti Lumix LX3, dengan dukungan banyak pilihan lensa, kinerja Venus HD engine dan fitur super lengkap, semuanya terpadu di kamera seharga 9 juta ini (plus lensa kit).

Lumix GF1 (credit : stevesdigicams)
Lumix GF1 (credit : stevesdigicams)

Apa yang anda dapat dengan membayar semahal itu untuk sebuah kamera saku? Pertama tentunya adalah kualitas, kedua adalah kinerja, dan ketiga bisa jadi kepraktisan. Kualitas jadi jaminan karena sensor LiveMOS 12 MP yang tertanam di kamera ini membuatnya handal dipakai di ISO tinggi dengan noise rendah. Soal kinerja pun tampaknya tak usah diragukan lagi. Masih ingat kecepatan auto fokus di G1/GH1? Meski cuma mengandalkan prinsip contrast detect, auto fokus hasil inovasi Lumix ini mampu menyamai kecepatan DSLR pemula (yang berbasis phase detect). Selain itu, kepraktisan juga ditawarkan GF1 ini karena bodi dan lensa yang ringkas memudahkan untuk juru foto yang tidak ingin ribet membawa peralatan besar yang menarik perhatian. Apalagi dengan lensa kit 20mm f/1.7 yang disediakan (lihat gambar di atas), ukuran kamera ini sangat luar biasa kompak dan pocketable.

Hal-hal yang membuat Lumix GF1 ini mengagumkan adalah :

  • format interchangeable lenses, dengan mount Four Thirds (2x crop factor)
  • tersedia dua pilihan lensa kit : Lumix fix 20mm f/1.7 atau zoom 14-45mm f/3.5-5.6 OIS
  • lengkap, termasuk sudah ada lampu kilat internal dan AF assist
  • auto fokus yang cepat, mengalahkan auto fokus pada E-P1
  • HD movie 720p dengan kompresi modern AVCHD (E-P1 memakai M-JPEG)
  • flash hot shoe yang bisa dipasang aksesori electronic viewfinder tambahan
  • LCD 3 inci (aspek rasio 3 : 2) dengan resolusi 460 ribu piksel
  • RAW dan JPEG file format
  • bila ingin memasang lensa 4/3, tersedia adapter khusus

Dari poin di atas tampak kalau Lumix GF1 ini mengungguli saingannya Olympus E-P1 utamanya dalam urusan lampu kilat built-in dan kecepatan auto fokus. Sebagaimana yang kita tahu, E-P1 dikritik pedas karena absennya lampu yang penting ini. Meski demikian, Olympus E-P1 juga punya beberapa keunggulan dibanding GF1 seperti kendali dual wheel dan audio stereo saat merekam video. Bila anda suka stabilizer di bodi, maka E-P1 juga boleh dibilang menang karena punya IS di bodi, sementara Lumix memang mengandalkan IS di lensa. Urusan sensor yang langsung terekspos bila lensa dilepas telah diimbangi dengan fitur anti debu sehingga mengurangi resiko menempelnya debu pada sensor.

Selain meluncurkan kamera Lumix GF1 dan lensa Lumix prime ataupun Lumix DC Vario / zoom, Panasonic juga mengumumkan kelahiran lensa Leica pertama di dunia yang berformat Micro 4/3. Sambutlah LEICA DG MACRO-ELMARIT 45mm f/2.8 MEGA O.I.S, sebuah lensa prime macro ekuivalen 90mm yang dijamin punya ketajaman khas Leica, dan pastinya kompatibel dengan sistem auto fokus di kamera Lumix seperti GF1 ataupun G/GH1. Harga lensa ini saja sudah menyamai harga kamera GF1 alias sekitar 9 juta.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..