Z7 dan Z6, duo mirrorless full frame andalan Nikon

Nikon resmi memperkenalkan kelahiran sistem baru di kamera modern, yaitu Nikon Z7 dan Z6, dengan desain mirrorless, Z mount dan tentunya lensa baru yang sesuai. Pertama ada Z7 yang menjadi produk topnya dengan 45 MP, 5 stop 5 axis IS di sensornya, 493 titik PDAF sensitif hingga -3 Ev, 9 fps bila tanpa focus tracking (5,5 fps dengan tracking), jendela bidik 3,6 juta titik, LCD lipat 3,2 inci dengan layar sentuh, bodi weathersealed dengan jendela OLED di bagian atas, satu slot kartu memori XQD dan baterai yang bertahan 330 jepretan.

Nikon Z7

Di sisi video tersedia 4K 30p yang mendukung PDAF dan IS di sensor, serta disediakan N-log 10 bit 422 bila melalui HDMI (8 bit 420 melalui kartu memori) dengan sederet fitur video lengkap seperti TC, zebra dll. Nikon Z7 dijual di US$3400 tanpa lensa, maka itu bagi yang mencari produk dengan harga lebih terjangkau, Nikon membuat versi Z6 yang dijual dibawah US$2000.

Layar LCD lipat, top OLED display, weathersealed body, spek dan ergonomi yang tampak menggoda

Dengan fisik luar yang sama dengan Z7, Nikon Z6 punya beberapa fitur yang tetap impresif seperti :

  • 24 MP
  • 273 titik fokus
  • ISO 100-51.200 (di Z7 ada ISO 64)
  • 12 fps (lebih cepat dari Z7, karena resolusi lebih rendah)
Nikon Z7 dipasangkan dengan lensa DSLR dibantu sebuah adapter

Sebagai lensanya, pengguna Nikon Z7 atau Z6 baru bisa memakai 3 lensa Z yang ada, yaitu 24-70mm f/4, 35mm f/1.8 dan 50mm f/1.8 dan bila mau pakai lensa Nikon F tersedia adapternya. Roadmap ke depan (rencana peluncuran lensa):

2019: Nikon Z 58mm f/0.95, Nikon Z 20mm f/1.8, Nikon  Z 85mm f/1.8, Nikon Z 24-70mm f/2.8, Nikon Z 70-200mm f/2.8, Nikon 14-24mm f/4

2020: Nikon Z 50mm f/1.2, Nikon Z 24mm f/1.8, Nikon Z 14-24mm f/2.8

Nikon Z7 akan bersaing dengan Sony A7RIII, sedangkan Z6 akan berhadapan dengan Sony A7 III. Menarik ya, kita tunggu saja perkembangan lebih lanjut ke depannya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Perkembangan Sony A7 dari masa ke masa

Sony A7 boleh jadi adalah kamera mirrorless yang banyak diminati, karena teknologinya, karena ukurannya, karena hasil fotonya dan khususnya karena harganya yang dianggap bersahabat untuk kelas full frame. Sony sampai saat ini sudah meluncurkan 3 generasi Sony A7, yaitu A7 generasi pertama (2013-2014), A7 II (2015-2016) dan A7 III (2017-2018). Ketiganya tetap mempertahankan sensor full frame 24 MP dengan low pass filter dan phase detect AF.

Peningkatan secara fisik tidak banyak dilakukan, setidaknya dari tampak luar bodi ketiganya masih mirip. A7 punya desain paling simpel, lalu A7 II didesain ulang sedikit, dengan penambahan tombol AF/MF-AEL di belakang, dan di A7 III memberi joystick dan dual SD card serta bodi weathersealed yang awalnya ditemui di A9. Sony A9 sendiri adalah top-nya seri Alpha full frame, maka tak heran hadirnya A7 III yang dibuat setelah muncul A9 membawa beberapa ‘inspirasi’ dari A9 seperti bodi, menu, fitur dan kinerja.

sony-a7ii-vs-a7iii-front

A7 generasi awal masih dijual saat ini dengan harga dibawah 15 juta, cocok untuk yang dana terbatas, atau yang ingin memakai lensa lama dengan adapter. A7 II dikisaran 20 jutaan menjadi produk paling laris dengan adanya 5 axis sensor shift (IBIS) yang membuat foto lebih tajam, dan A7 III yang hampir menyentuh angka 30 juta menjadi produk yang topnya dengan baterai besar, 4K video, layar sentuh dan bodi mantap. Tapi secara esensi, semua A7 punya sensor mirip-mirip (meski A7 III diklaim punya dynamic range lebih baik berkat BSI CMOS sensor).

Sony A7iii

Saran : untuk dana terbatas, A7 masih menarik untuk dimiliki, apalagi kalau terbiasa pakai tripod dan jarang foto subyek bergerak. A7 II disarankan untuk keseimbangan fitur dan harga, dan A7 III cocok untuk anda yang mencari kinerja tinggi, bodi tahan cuaca, dan bonus-bonus seperti layar sentuh, joystick, dual SD card dan baterai yang lebih besar. Kami sendiri beropini kalau A7 III inilah produk yang semestinya dibuat oleh Sony dari dulu, karena sudah lebih memikirkan kemudahan pengguna dan juga kegunaan lebih (baterai lebih besar, layar sentuh), dan menjawab keluhan di A7 sebelumnya (baterai, weather sealed dan 4K video) meski sayangnya akibat ini semua maka harga A7 III menjadi naik signifikan padahal secara substansi sensor masih sama dengan A7 II. Anda sendiri tertarik dengan yang mana?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

EOS M50, mirrorless Canon pertama dengan 4K video

Canon melengkapi satu lagi jajaran produk di kamera mirrorless bernama EOS M50 dengan segmentasi entry level (pemula) namun sudah dibekali dengan jendela bidik dan flash hot shoe. Posisi M50 ini bisa ada diantara M100 dan M5, dan punya sederet fitur dasar yang oke seperti sensor APS-C 24 MP, video 4K, prosesor Digic 8 dan Dual pixel AF yang lebih luas (dengan lensa tertentu).

canon-eos-m50

Secara fisik kamera berbobot 350g ini termasuk cukup ideal dengan ukuran kecil tapi ada sedikit grip, ada layar LCD lipat putar (bisa untuk vlog), dan ada mic input juga. Hanya ada satu roda kendali saja di bagian atas dan selebihnya diharap penggunanya memaksimalkan layar sentuh khas Canon yang terkenal mudah. Kinerja kamera karena ada di segmen basic maka tidak terlalu ‘wah’ dengan 7 fps foto berturut-turut (mode fokus AF-C), kabar baiknya area fokus meningkat dari 49 area ke 99 area, dan kini ada deteksi mata untuk fokus lebih cepat ke wajah.

Video 4K pertama di mirroless Canon

Untuk pertama kalinya diperkenalkan video 4K UHD di kamera kelas menengah ke bawah Canon. Ya ini adalah tanda bahwa kamera selanjutnya entah penerus 80D, penerus EOS M5 dst akan ada 4K juga, akhirnya. Meski demikian, untuk menghindari proses pixel binning, Canon menempuh cara mudah dengan hanya melakukan crop 1,6x dari ukuran sensor, yang artinya video akan jadi lebih tele. Lensa 24mm misalnya, akan setara dengan 40mm saat memotret, tapi akan kena crop lagi jadi setara lensa 60mm. Selain itu Dual pixel AF tidak berfungsi bila merekam video 4K, meski tetap bisa dipakai saat rekam FUll HD 1080.

Selain itu, untuk kali pertama juga diperkenalkan file RAW baru .CR3 yang lebih efisien data sehingga ukuran tidak terlalu besar. Perlu dilakukan update program editing seperti Adobe Lightroom untuk bisa membaca file RAW baru ini.

Jendela bidik OLED di M50 termasuk sedang dengan 2,3 juta dot meski terlihat tidak terlalu besar. Fitur lain seperti konektivitas tidak perlu kuatir, WiFi NFC dan Blutooth tentu ada. Baterai diuji hanya bisa dipakai 235 kali jepret, dan sayangnya tidak bisa diisi daya via USB.

Canon cukup pintar dengan kembali merilis produk untuk kelas bawah tapi memberi fitur yang esensial seperti jendela bidik (meski bukan yang kelas atas), hotshoe, roda P-Tv-Av-M, layar lipat, mic input dan hasil foto yang baik. Bonusnya tentu adalah 4K yang memang sudah seharusnya dari dulu diberikan. Dengan bandrol harga awal $900 dengan lensa kit, agaknya masih terlalu mahal karena kamera ini bukan kelas atas yang berperforma tinggi dan bodi nya juga tidak weathersealed. Kamera ini lebih kepada untuk kebutuhan sehari-hari, travel maupun video dan semoga harganya lama-lama akan semakin turun ke kisaran 7 jutaan. Ke depan kami berharap Canon akan banyak menambah lensa EF-M supaya lebih banyak orang yang tertarik untuk melirik sistem EOS M ini.


Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FujiFilm X-H1, serius untuk foto dan video

Fujifilm meluncurkan Fuji X-H1 sebagai kamera mirrorless yang ditargetkan menjadi produk foto dan juga video canggih. Desainnya seperti campuran antara X-T2 dengan Fuji GFX (medium format). Kamera ini berukuran cukup besar, tahan cuaca dan tahan beku, dengan grip yang mantap digenggam. Hal bagus lain diantaranya top LCD, jendela bidik besar dan layar sentuh.

lead

Masih dengan sensor 24 MP APS-C X-Trans sensor, kali ini dengan sistem sensor shift IS yang pertama kali diterapkan di sistem Fuji.  Auto fokusnya juga disempurnakan, demikian juga dengan kecepatan memotret yang meningkat hingga 11 fps (bila memakai battery grip). Di sisi video, tersedia 4K video F-log yang bisa direkam langsung ke kartu memori.

fujifilm+x-h1-2018-02-14-01

Fuji X-H1 menjadi andalan FujiFilm untuk merebut pengguna video yang selama ini memakai Sony atau Panasonic, di sisi lain juga ingin merangkul fotografer pro yang perlu kamera kelas serius.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix G9 : kamera kelas atas dari Panasonic

Kalau sebelumnya Panasonic sudah punya kamera kelas atas GH5 yang punya kelebihan di fitur videonya, maka kali ini muncul kamera Lumix G9 yang juga termasuk kelas pro yang lebih memfokuskan ke fitur fotografinya. Sebagai kamera kelas atas, tentu kita akan menjumpai sebuah produk yang sarat fitur canggih, spesifikasi tertinggi dan juga bodi yang mantap. Dan betul adanya, Lumix G9 ini punya sederet hal istimewa yang sebagian belum ada di kamera generasi sebelumnya. Fotografer profesional yang mencari kamera serius tapi dalam ekosistem Micro 4/3 perlu mengenali hal-hal menarik di Lumix G9 berikut ini.

  • kamera berbobot 650 gram ini benar-benar mantap, dengan ketahanan suhu hingga -10 derajat yang cocok dibawa ke daerah bersalju
  • jendela bidik OLED ukuran besar (3,86 juta dot, 120 fps, perbesaran 0,83x), layar LCD tambahan di atas, joystick dan dual slot SD card
  • sensor 20 MP yang mempunyai fitur OIS 5 axis, dan bisa bekerja sampai 6,5 stop

Sensor yang bisa bergerak ini juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan foto 80 MP, dengan cara penggabungan beberapa foto otomatis. Lumix G9 tetap punya fitur 4K video yang mantap, meski tidak selengkap di GH5, tapi juga menyediakan fitur video 60p.
G9 depan
Dari kinerjanya, G9 bisa menembak 9 fps pakai shutter mekanik dan hingga 20 fps bila pakai shutter elektronik, dengan mode fokus AF-C. Di mode AF-S bahkan bisa mencapai 60 fps full resolusi atau pakai 4K photo mode. Meski teknologi fokusnya tidak mengenal sistem Phase detect, tapi cara DFD yang diandalkan Panasonic selama ini diklaim memberi auto fokus yang sangat cepat, juga bisa diandalkan untuk fokus kontinu dengan 225 area deteksi kontras DFD. Salah satu kartu memori mendukung UHS-II sehingga memotret terus menerus atau rekam 4K dengan data yang besar bukan masalah untuk menuliskan semuanya ke kartu memori. Kapasitas baterai juga lumayan mencukupi namun kalau ingin aksesori battery grip juga ada.

G9 blkg

Panasonic yang terus mencoba membuat kamera yang berorientasi pada fotografer serius patut diapresiasi. Lumix G9 ini adalah produk paling matang, sudah sama besarnya dengan DSLR tapi tentunya punya banyak pilihan lensa yang tidak terlalu besar karena sistem Micro 4/3. Dari kualitas gambar, semestinya sensor 20 MP di G9 ini akan sama baiknya dengan GH5 atau Olympus EM1 mk II yang memang sudah menunjukkan peningkatan dibanding sensor 16 MP di kamera lumix terdahulu. Adanya jendela bidik yang mantap, tombol dan roda yang lengkap serta LCD kecil di atas menunjukkan Panasonic ingin memberi pengalaman menyenangkan untuk penghobi serius atau profesional. Harga kamera ini memang tidak murah (sekitar $1800 bodi saja), sejajar dengan beberapa kamera APS-C kelas menengah bahkan mendekati harga kamera full frame tertentu, tapi dari keseimbangan fitur dan harga yang ada, membuat Lumix G9 ini pantas diperhitungkan untuk profesional.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FujiFilm X-E3, mirrorless anyar Fuji berdesain rangefinder

Setelah migrasi dari sensor X-Trans 16 MP ke 24 MP di Fuji X-T2 dan X-T20, maka selanjutnya FujiFilm perlu memasang sensor serupa di penerus Fuji X-E2. Tapi sukses di X-T20 membuat banyak pihak ragu apa FujiFilm akan membuat penerus X-E2 atau tidak. Kini terjawab sudah ternyata FujiFilm mengumumkan hadirnya Fuji X-E3 dengan sensor 24 MP, fitur video 4K dan layar sentuh. Bahkan X-E3 menjadi kamera Fuji pertama dengan koneksi nirkabel Blutooth yang lebih hemat daya dibanding WiFi.

Fuji-XE3

Desain kamera X-E3 ini ala rangefinder, artinya posisi jendela bidik ada di pojok kiri atas, dan ini berbeda dengan desain ala SLR yang dipakai di X-T2/X-T20. Fuji X-E3 punya desain yang simpel, kini dengan dua roda dial (di depan dan di belakang), lalu sebuah joystick dan layar sentuh disediakan sehingga D-pad (tombol panah 4 arah) di kamera ini dihilangkan. Layar sentuhnya sendiri merupakan LCD 3 inci yang sayangnya tidak bisa dilipat, untuk jendela bidik elektronik cukup detail dengan 2,6 juta dot. Built-in flash ditiadakan di X-E3, sebagai gantinya diberikan mini eksternal flash yang bisa dipasang di hot shoe.Fuji-XE3b

Kinerja kamera ini kurang lebih sama dengan X-T20, seperti auto fokusnya dengan hybrid AF (PDAF 325 area), menembak kontinu 8 fps, dan aneka Film Simulation khas kamera Fuji. Dari spek dan desain kamera X-E3, maka kami meyakini Fuji ingin bersaing langsung dengan Sony A6300.

Konsumen tidak perlu bingung dengan banyaknya pilihan di line-up Fuji saat ini. Seperti biasa segmen basic tanpa jendela bidik tersedia X-A3 atau bahkan X-A10, lalu di segmen menengah ada X-T20 (SLR style) atau X-E3 ini (rangefinder style). Di segmen atas ada X-T2 (SLR style) atau X-Pro2 (rangefinder style).

Plus minus kamera ini :

  • (+) sensor 24 MP X-Trans
  • (+) desain rangefinder lebih ringkas
  • (+) kinerja fokus sudah oke dibanding seri sebelumnya
  • (+) video 4K
  • (+) layar sentuh
  • (-) flash dipisah dari bodi
  • (-) layar LCD tidak bisa dilipat
  • (-) grip kurang menonjol
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duel seimbang mirrorless APS-C terbaru

Kali ini kamera-gue akan menyajikan perbandingan yang relatif berimbang antara beberapa kamera mirrorless terbaru dengan sensor APS-C yang umumnya dihuni oleh Canon, Sony dan Fuji. Kenapa APS-C yang dibahas, sementara ada yang full frame dan ada yang micro 4/3 juga di pasaran? Ya karena kamera sensor APS-C saat ini cukup populer, hasil foto sudah sangat baik (sulit dibedakan dengan full frame untuk ISO 1600 ke bawah), dan harga lebih terjangkau. Lagipula membatasi topik lebih mudah dalam menyusun artikel ini, di kesempatan lain mungkin admin akan bahas perbandingan untuk micro 4/3 ataupun full frame.

Segmen pertama yang akan dibahas adalah segmen murah meriah, kamera di bawah 8 juta selalu menarik atensi banyak orang dan dulunya kita cenderung memilih DSLR seperti Canon 700D atau Nikon D5300 misalnya, tapi kini kalau mau yang kecil, bisa selfie dan hasil fotonya tetap bagus ada opsi dari lini mirrorless. Ingat karena kameranya kecil, maka soal ergonomi, handling dan kontrol (roda dan tombol) akan terbatas dan untuk fotografi bisa jadi kurang maksimal (untuk itu DSLR tetap jadi pilihan lebih disarankan).

Di lini paling murah ada Canon EOS M10, lalu untuk pemain lama yang masih tetap disegani ada Sony A5100 dan di sisi Fuji ada produk anyar X-A10 dengan desain khas Fuji yang retro. Semua kamera ini memakai layar yang bisa dilipat ke depan untuk selfie, dan sebagai kamera murah maka tidak ada jendela bidik di ketiga kamera ini.

Fuji-vs-Canon-Sony
Fuji X-A10 vs Canon EOS-M10 vs Sony A5100

Canon M10 secara umum punya fitur yang cukup, auto fokus lumayan baik, dan ada fitur bonus seperti HDR dan manual movie. Dengan sensor 18 MP yang sudah mencukupi, EOS M10 ini oke buat foto dan video juga. Implementasi layar sentuh jadi kekuatan M10 ini baik untuk pengaturan kamera, fokus, hasil foto hingga menu. Kekurangan EOS M10 ini adalah tidak ada roda mode kamera, semua mode harus diakses melalui Menu yang membuat agak repot. Sony A5100 bisa dibilang adalah A6000 tanpa jendela bidik, karena fiturnya mirip khususnya di sensor 24 MP dan auto fokus yang mantap (dan bisa menyentuh layar untuk memilih fokus). Pemakai Sony juga mudah dalam adaptasi lensa jadul karena tersedia adapter yang murah, walau terpaksa harus manual fokus saja. Fuji sediri agak mengejutkan saat meluncurkan X-A10 karena kami kira tadinya lini terbawah mereka adalah X-A3 tapi akhirnya Fuji merilis X-A10 dengan sensor 16 MP yang dilengkapi dengan shutter elektronik yang agak langka ditemui di kamera sekelasnya. X-A10 juga menyediakan roda mode P-A-S-M sehingga lebih mudah dalam ganti mode. Kekurangan X-A10 menurut kami adalah di auto fokusnya yang biasa saja (contrast detect) yang bakal hunting kalau lagi bekerja (tampak sekali saat lagi rekam video).

Di segmen kedua adalah segmen untuk penghobi fotografi, yang mencari kamera dengan fitur lebih dari sekedar kamera basic, tapi tetap mencari harga yang reasonable. Di segmen ini ada Canon EOS M5 yang relatif baru, lalu ada Sony A6300 yang merupakan peningkatan dari A6000, serta ada Fuji X-T20 yang juga adalah penerus X-T10. Jadi hanya Canon yang merupakan pendatang baru yang mencoba menantang pemain lama di mirrorless. Ketiga kamera ini punya ciri yaitu ada jendela bidik, dan ada flash hot shoe untuk memasang lampu kilat.

Canon EOS M5, photo by kamera-gue
Canon EOS M5, photo by kamera-gue

Canon M5 sendiri adalah produk yang tertinggi di keluarga Canon EOS M. Dia menjadi satu-satunya EOS M dengan jendela bidik, dengan sensor sama seperti EOS 80D (24 MP dengan dual pixel AF), layar selfie yang uniknya flip down, dan punya kinerja lumayan hingga 9 fps foto kontinu. Menurut kami masalah dengan EOS M5 adalah harga awalnya yang masih terlalu tinggi, dan juga tidak ada shutter elektronik cukup disayangkan mengingat ini adalah kamera hobi. Di sisi video EOS M5 memberi stabilisasi digital untuk video full HD-nya, ya memang tidak ada 4K di EOS M5 ini. Sony A6300 di lain pihak sudah mempelajari kekurangan dari A6000 dan menyempurnakannya, misal dengan desain tombol belakang ala Sony A7, memperbaiki kualitas jendela bidik dan meningkatkan kinerja auto fokus, serta memberi bonus video 4K. Kekurangan kamera ini mungkin hanya tidak ada layar sentuh saja sehingga agak repot kalau mau ganti titik fokus yang jumlahnya banyak itu. Fuji juga percaya diri mempersembahkan X-T20 yang lebih seperti mini X-T2, dengan sensor 24 MP X-Trans dan buffer lebih besar, auto fokus lebih mantap dan video 4K.

Di segmen yang lebih serius dan termasuk kelas berat, tinggal tersisa dua pemain yaitu Sony A6500 melawan Fuji XT2. Kedua kamera ini sama mantapnya, dimana A6500 adalah A6300 yang ditambah tenaganya serta diberi penstabil getar di sensornya, sedangkan Fuji X-T2 adalah X-T1 dengan auto fokus yang lebih canggih dan diberi sensor 24 MP serta 4K video. Walau canggih dan makin rumit, bodi Sony A6500 tetap sama dengan A6300 yang relatif kecil, sedang Fuji tampak agak besar dengan desain ala kamera SLR. Fuji X-T2 juga jadi satu-satunya kamera di artikel ini yang percaya diri dipakai saat hujan karena sudah weather-sealed body.

Sony A6500 dengan desain rangefinder dan Fuji X-T2 berdesain SLR
Sony A6500 dengan desain rangefinder dan Fuji X-T2 berdesain SLR

Jadi pilih yang mana? Tentu sesuaikan dengan tujuan dan anggaran. Dana dibawah 7-8 juta juga bisa dapat kamera yang hasil fotonya bagus. Kalau mencari yang 24 MP, auto fokus oke dan bisa pasang lensa jadul, maka Sony A5100 tetap tak terkalahkan. Di sisi lain Canon menawarkan spec basic, tapi harga terjangkau. Fuji X-A10 memberi alternatif khususnya yang lebih mencari fitur fotografi seperti roda P/A/S/M, classic chrome film simulation ataupun shutter elektronik. Dengan harga 9-15 jutaan ada Sony A6300 atau Fuji X-T20 yang sama-sama baiknya, dan EOS M5 siap menambah galau anda dalam memilih. Bahkan di kelas yang lebih mahal (diatas 15 juta) ada Sony A6500 dan Fuji X-T2 akan memberi fitur lebih, walau secara kualitas gambar ya kurang lebih sama saja dengan kamera APS-C lainnya.

Oke, itulah daftar kamera baru yang kami susun. Bagaimana kalau anda justru mencari kamera lama yang masih dijual, siapa tahu lebih murah? Ya tetap saja di tahun 2017 ini kamera lama masih dijual dan kadang ada promo cashback, semisal Sony A6000 kini setelah diskon dijual 8 jutaan, lalu Canon EOS M3 hanya 6 jutaan dan Fuji X-T10 juga ada di 9 jutaan. Ketiga kamera lawas ini etap sama baiknya, bukan karena ada produk penerusnya maka kamera lama ini jadi tidak layak dibeli kan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus E-M1 mark II resmi diluncurkan

Hari Kamis 1 Desember lalu di Citywalk Sudirman, Olympus Indonesia resmi meluncurkan kamera teratas yaitu OM-D E-M1 mark II. Di acara tersebut Quettfenn Lai (Olympus Regional Product Specialist) memaparkan berbagai keunggulan kamera 28 juta ini, seperti peningkatan di auto fokus, 5 axis IS hingga fitur 4K video. Berbekal sensor Micro 4/3, Olympus menawarkan keseimbangan antara kualitas foto dan kepraktisan dalam memakai kamera (berkat kamera dan lensanya yang signifikan lebih ringkas daripada DSLR).

p1160181-s
Sampel unit Olympus E-M1 mk II untuk dicoba awak media
Paparan tentang auto fokus diantara berbagai kamera top
Paparan tentang auto fokus diantara berbagai kamera top

Kamera top ini sudah tahan cipratan air, tahan beku -10 derajat, bisa dipakai sampai 200 ribu kali jepret tanpa masalah (kalau memakai shutter mekanik), bisa memotret sampai 60 fps dalam resolusi full 20 MP (kalau memakai shutter elektronik dan auto fokus single AF). Fitur lain seperti dual SD slot (UHS-II), buffer lega, prosesor quad core, layar sentuh dan jendela bidik yang nyaman menjadi penanda kamera elit ini. Kehebatan 5 axis IS disini bahkan diklaim bisa hingga 6,5 stop, dengan mudah bisa membuat foto tajam saat pakai shutter 1 hingga 2 detik tanpa tripod. Segmen market yang dituju diantaranya fotografer olah raga, jurnalis, liputan dan videografer serius.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..