Review singkat : Olympus E-M10 mark II

Olympus E-M10 mk II adalah kamera mirrorless kelas bawah di lini OM-D, ditujukan untuk fotografer pemula yang mencari kamera mirrorless yang lebih lengkap dan serius namun tidak semahal E-M5. Kamera seri OM-D punya ciri fisik mirip DSLR, dengan jendela bidik di bagian atas (bukan disamping kiri seperti kamera mirrorless ala rangefinder pada umumnya) dan sedikit lebih besar dari kamera seri Pen (misal EPL7, Pen F dsb), serta punya banyak kendali untuk aneka setting.

IMG_9169

Di generasi kedua dari lini E-M10 ini Olympus memberi 5 axis stabilizer (sebelumnya hanya 3 axis) dan peningkatan lain (electronic shutter, jendela bidik semakin detail, 60 fps video dsb) serta fitur baru seperti 4K timelapse dan AF target pad. Desain kedua kamera juga sedikit berbeda khususnya di tuas on-off, yang kini menjadi satu dengan tuas flash.

IMG_9159

Menurut kami desain EM10 mk II ini cukup ideal. Ukuran pas ditangan, grip cukup nyaman, bodi berbahan logam dan tata letak tombol dan roda yang pas. Layar lipat dan sentuh juga jadi bonus yang menyenangkan.

Di waktu yang terbatas kami tidak bisa menguji banyak hal dari kamera ini. Walau di foto ilustrasi ini kamera dipadankan dengan lensa 25mm fix, tapi selama review fotonya diambil dengan lensa 12-50mm f/3.5-6.3. Hal pertama yang kami lakukan setelah menerima pinjaman kamera ini adalah mengkustomisasi kamera ini sesuai selera pribadi penguji. Untungnya kamera Olympus terkenal bisa banyak dikustomisasi yang membuat kameranya terasa lebih personal. Beberapa hal yang kami atur sebelum memotret :

  • mengaktifkan Super Control Panel (SPC) untuk memudahkan ganti setting dengan cepat
  • memprogram tiga tombol Fn, Fn1 untuk auto fokus, Fn2 untuk setting WB+ISO, dan Fn3 untuk plus RAW
  • merubah aspek rasio jadi 3:2 (kalo ini karena kebiasaan pakai DSLR) resikonya megapiksel sedikit berkurang
  • mengatur parameter JPG (pic mode i-Enhance, Gradation Auto, Contrast -1, Sharpness +1, Saturation 0)
  • memilih mode focus area ke grup AF, servo AF-S
p1140448
Super Control Panel (SPC)

Kualitas foto dari sensor 16 MP di Olympus EM10 mk II termasuk baik, dengan ISO tinggi yang noisenya masih cukup aman di ISO 1600 bahkan ISO 3200 pun untuk ukuran cetak kecil masih oke. Bagi yang suka editing mungkin akan sedikit kecewa dengan RAW kamera ini yang 12 bit, khususnya saat foto yang diambil punya kontras yang melampaui dynamic range sensor micro 4/3.

Hal yang penting untuk direview dari sebuah kamera selain kualitas gambar menurut kami adalah kinerja secara umum dan auto fokusnya. Dari kinerja tidak ada keluhan, kamera ini bekerja cepat, bisa menembak sampai 8,5 foto per detik juga. Auto fokus juga cepat, dan mudah untuk mengganti area fokus dengan berbagai cara misal menyentuh layar atau menekan tombol D pad. Ada beberapa opsi area fokus di kamera ini yaitu Auto, Group, 1 area dan 1 area kecil.

Kamera Olympus E-M10 mk II ini punya beberapa hal yang kami sukai diantaranya :

  • hasil JPG terlihat sudah oke, tonal dan akurasi warna juga bagus
  • auto fokus cepat (kalau untuk benda diam), bisa sentuh layar juga
  • 5 axis stabilizer bekerja baik, kami bisa dapat 1/2 detik tanpa tripod dengan lensa 12mm
  • ada elektronik shutter, ada fitur peredam shutter shock, sync 1/250 detik, max 60 detik, ada live bulb juga
  • bisa rekam video dengan manual eksposur, saat rekam video bisa juga ambil foto

sedangkan hal-hal yang masih agak kami sayangkan dari kamera ini :

  • penurunan kualitas dan detail foto di ISO 1600 keatas
  • file 12 bit RAW tidak begitu leluasa untuk editing (umumnya 14 bit)
  • auto fokus tidak handal untuk benda bergerak, dan karena deteksi kontras kadang fokusnya tertipu oleh latar belakang yang lebih kontras
  • tidak ada perlindungan cuaca, meski masih wajar untuk kamera dengan harga terjangkau seperti ini
  • auto ISO terlalu sederhana, tidak ada pengaturan minimum shutter speed

Sebagai kesimpulan singkat, kamera EM10 mk II ini cocok untuk yang mencari sistem kamera micro 4/3 yang lengkap tapi dana terbatas. Memang tidak secanggih fitur di EM5 mk II tapi sudah mencukupi untuk banyak kebutuhan fotografi. Sisi lemahnya adalah untuk kebutuhan foto aksi yang perlu fokus kontinu dan/atau ISO tinggi, tapi untuk keperluan lain seperti travel, street, arsitektur, potret dsb kamera ini sudah sangat mumpuni.

Beberapa hasil foto dari mencoba kamera EM10 mk II, JPG tanpa edit :

Warna yang menarik
Reproduksi warna yang enak dilihat
Sunrise
Tonal yang natural saat keadaan sunrise
Sepeda
Metering cukup akurat, sedikit under saat bertemu banyak pasir putih
Warna warni direproduksi dengan baik
Warna warni direproduksi dengan baik
Aktivitas nelayan
Merekam aktivitas nelayan
Dynamic range masih termasuk baik
Dynamic range masih termasuk baik
Clarity dan detil
Clarity dan detil dari lensa 12-50mm f/3.5-6.3
Panning shot
Mencoba panning shot dengan IS mode 2
Pakai tripod dengan long exposure
Pakai tripod dengan long exposure
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod, hasil masih acceptable sharp

Foto selengkapnya dan dalam ukuran aslinya kami titipkan di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alpha A6500 : topnya mirrorless APS-C dari Sony

Bukan Sony namanya kalau tidak terus menelurkan produk baru. Kalau anda merasa A6300 (penerus A6000) adalah barang baru, maka kini sambutlah Alpha A6500 dengan beberapa peningkatan seperti layar sentuh (akhirnya) dan 5 Axis Steady Shot.

5-axis-a6500
Sensor di Sony A6500 bisa bergerak mendeteksi goyangan, bekerja sama dengan IS di lensa bisa, bekerja sendiri untuk lensa non IS juga bisa.

Kamera seharga $1400 bodi saja ini bisa dibilang topnya mirrorless dari Sony, untuk sensor APS-C. Artinya dia dibuat untuk bersaing dengan topnya dari merk lain seperti Fuji XT2, Samsung NX1, Nikon D500 dan Canon 7D mk II. Kini Sony memberi fitur layar sentuh untuk memilih titik / area fokus, juga berfungsi untuk menggeser area fokus saat mata sedang melihat di  jendela bidik.

slide-af

Spesifikasi dasar A6500 banyak kesamaan dengan  A6300, karena memang tidak banyak perubahan selain layar sentuh dan 5 Axis steady shot yang dulu sempat dirumorkan akan ditemui di A6300. Spesifikasi Sony A6500 termasuk tinggi dan mungkin terlalu tinggi bagi sebagian kita, seperti :

  • sensor 24 MP, ISO 100-51200
  • 11 fps, buffer bisa tampung 307 foto
  • fokus tercepat, 4D focus,  425 titik AF
  • 4K video dengan format Super 35mm, S-Log 3 gamma
  • magnesium alloy body, weather sealed
  • menu baru berwarna-warni  :)

sony-a6500-presentation1

Ya tentunya diatas kertas, bila harga tidak jadi masalah, kamera Sony A6500 adalah pemenang kontes spesifikasi sehingga memudahkan siapapun dalam memilih sebuah kamera. Tapi dari sisi harga perlu diketahui kalau $1400 adalah tinggi, dan mendekati teritori kamera full frame. Di kisaran $500 hingga $900 cukup banyak pilihan kamera APS-C walau tidak secanggih A6500 ini, sehingga kita lihat saja apakah spesifikasinya yang tinggi ini akan menjadi justifikasi orang untuk memilikinya, atau malah melirik kamera lain yang lebih terjangkau.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera mirrorless baru dari Canon : EOS M5

Canon baru saja merilis kamera mirrorless generasi ke-empat yang bukan diberi nama EOS M4 (karena Jepang tidak suka angka 4?) melainkan EOS M5. Inilah kamera mirrorless Canon yang dirancang jadi produk untuk enthusiast (bukan sekedar snapshooter), dengan aneka kendali eksternal (roda, tombol, layar sentuh) dan jendela bidik (akhirnya..)

eosm5big-728x403

Dilengkapi sensor sama dengan EOS 80D, yaitu APS-C 24 MP dengan teknologi dual pixel AF, kemampuan  auto fokusnya diklaim sama dengan 80D di mode live view. Kinerja secara umum juga membaik dengan prosesor baru, bisa mencapai 7 foto per detik dan ISO up to 25.600. Dari sisi videografi tidak ada yang spesial, tetap dengan 1080p saja tapii diberikan fitur bonus penstabil getar digital.

eosm-hr-eos-m5-efm15-3q-backlcd-hires

Dibanding EOS M3 yang tidak pakai jendela bidik, maka EOS M5 tentu lebih disukai, walau harga juga terpaut 3 jutaan untuk berbagai pembaruan yang ada. Bila EOS M3 layarnya bisa dilipat ke atas untuk selfie, maka di M5 penyuka selfie masih bisa lipat layar tapi ke bawah (karena kalau ke atas akan terhalang jendela bidik). Jendela bidik di M5 termasuk baik dengan 2,3 juta titik yang detail, dan saat melihat jendela bidik kita bisa jadikan layar sebagai touch pad untuk memilih titik fokus.

ef-m-18-150mm-f3-5-6-3-is-stm-graphite-side-675x450

Canon juga mengumumkan lensa mirrorless baru yaitu 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM dengan  kemampuan stabilitas di klaim sampai 4 stop. Dipasaran akan ditawarkan EOS M5 bodi saja (9-10 jutaan), kit 15-45mm (11 jutaan) atau kit 18-150mm (mungkin 15 jutaan). Memang pilihan lensa EOS M masih belum banyak (lensa native dengan kode EF-M) tapi dengan adapter maka lensa EF dan  EF-S pada dasarnya bisa dipakai, khususnya lensa dengan kode STM akaan  lebih enak buat auto fokus saat rekam video.

Beberapa pilihan lensa EF-M saat ini  :

  • fix 22mm f/2
  • wide 11-22mm
  • tele 55-200mm
  • makro 28mm f/3.5

diharapkan Canon segera merilis lensa :

  • semi profesional 16-50mm f/2.8, 50-150mm f/4
  • aneka lensa fix : 35mm, fix 50mm, 85mm, makro 100mm
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FujiFilm XT2, peningkatan signifikan dari XT1

FujiFilm kembali merilis kamera andalan penerus seri populer XT1 yang tentunya bernama FujiFilm XT2. Dari fisiknya terlihat kurang lebih sama desainnya dengan XT1 tapi dia lebih tinggi, memiliki joystick seperti di Fuji X-Pro2 yang sangat berguna untuk mengubah area fokus. Kini juga di  XT2 ada dual slot kartu memori SD card, jendela bidik yang lebih besar, dan layar LCD putar yang unik, membantu saat memotret portrait maupun landscape.

fuji-xt2Beberapa peningkatan lain dari X-T2 dari X-T1 sudah kita lihat di dalam Fuji X-Pro2 yaitu 24MP APS-C X-Trans sensor, mode Black & White ACROS. Kinerja kamera juga meningkat dengan pembaharuan sistem autofokus hybrid (325 area, 169 phase detection) dan maksimum foto kontinu secepat 8 foto per detik, tapi jika battery grip seperti foto diatas terpasang dan diisi dua baterai tambahan, maka kecepatan foto kontinu Fuji XT-2 menjadi 11 foto perdetik.

Yang mengejutkan adalah Fuji X-T2 dapat merekam video berkualitas 4K. Padahal kita ingat selama ini Fuji tidak dikenal sebagai perusahaan yang fokus dalam videografi. Tapi disini fitur videonya lumayan dengan F-Log flat profile dan 4K out HDMI juga.

Memotret vertikal tapi ingin layar dilipat keatas? Bisa..
Memotret vertikal tapi ingin layar dilipat keatas? Bisa..

Seiring kamera Fuji X-T2, Fuji juga mengumumkan flash baru EX F500 yang memiliki GN500 seharga $450. Tiga lensa juga diumumkan tapi baru akan terwujud akhir tahun dan tahun depan (2017) yaitu 23mm f/2 WR, 50mm f/2 WR dan 80mm f/2.8 OIS WR Macro.

Hadirnya Fuji X-T2 yang harganya USD 1599 (Di Indonesia mungkin sekitar Rp 23 juta) akan bersaing dengan kamera DSLR profesional bersensor APS-C lainnya seperti Canon 7D mk II, Nikon D500 dan di kamera mirrorless, akan bersaing dengan Sony A6300 dan A6500. Fuji XT2 ini tentu cocok untuk fotografi potret, street maupun pemandangan, juga bakal disukai oleh videografer yang memerlukan video 4K.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilih Canon 80D atau Sony A6300?

Kalau ditanya saat ini duel apa yang dianggap mewakili DSLR vs mirrorless favorit dan terbaru, maka boleh jadi jawabnya adalah Canon EOS 80D berhadapan dengan Sony A6300. Keduanya walau berangkat dari format kamera yang berbeda (satu pakai cermin, satu tanpa cermin) tapi punya banyak kesamaan seperti harga jual, sensor dan segmentasinya. Canon 80D dan Sony A6300 baru saja resmi diluncurkan di Indonesia dengan harga 14 jutaan bodi saja.

Mari cek sejarah kedua produk ini. Uniknya keduanya adalah kamera yang hadir menyempurnakan produk yang populer dimana Canon 80D adalah penerus 70D dan Sony A6300 adalah penerus A6000. Keduanya membawa beban target yang sama beratnya yaitu mesti jadi produk yang juga sukses seperti sebelumnya. Kita tahu Canon 70D termasuk sukses dalam memadukan kualitas, kinerja, dan harga dari sebuah kamera DSLR, demikian juga Sony A6000 membuat standar baru untuk kamera mirrorless performa tinggi.

Kedua kamera, Canon 80D dan Sony A6300 sama-sama pakai sensor APS-C dengan resolusi 24 MP. Canon 80D punya 45 titik fokus (semuanya cross-type) di mode normal, dan saat pakai live view juga auto fokusnya tetap handal berkat dual-pixel AF (pertama di temui di 70D).

Sony A6300 area fokusnya meningkat pesat dari 179 area menjadi 425 area, tertinggi di semua produk mirrorless yang ada. Kedua kamera juga sama-sama dirancang lebih tangguh (80D dinyatakan tahan cuaca, A6300 hanya disebut tahan debu dan kelembaban) dan mengusung fitur terkini seperti WiFi dan NFC.

80D A6300

Canon EOS 80D punya kekuatan di kematangan sistem, seperti pilihan lensa, flash dan aksesori (termasuk buatan pihak ketiga). Penyuka desain bodi kamera konvensional juga akan menyukai 80D yang gripnya lebih enak, tahan cuaca dan jendela bidik optiknya lebih besar dan terang. Bodi DSLR memang besar dan cenderung tidak praktis untuk traveling, tapi dibalik bodi yang besar jadi bisa ditempati banyak tombol dan LCD tambahan yang berguna. Layar lipat dan bisa disentuh juga jadi nilai plus Canon 80D, saat pakai live view atau rekam video akan terbantu saat ingin menentukan area fokus dengan menyentuh layar. Baterainya yang besar juga bisa tahan hampir 1000x memotret dalam sekali charge. Canon 80D dirancang juga untuk videografer, misalnya ada port headphone dan fitur video lebih lengkap. Tapi anehnya di 80D banyak juga kekurangan di sisi video seperti tidak ada 4K, tidak ada clean HDMI out, tidak ada zebra dan tidak ada S-log flat profile.

80D A6300 b

Di sisi lain Sony A6300 melanjutkan sukses A6000 dengan filosofi bodi kecil tapi lengkap dan handal. Masih sehebat A6000, di A6300 juga bisa menembak hingga 11 foto per detik, jauh diatas Canon 80D yang ‘hanya’ 7 foto per detik. Anda yang cenderung menyukai kamera modern mungkin akan lebih suka A6300 misalnya banyak fitur canggih seperti jendela bidik elektronik yang jernih, 4K video, hingga kebebasan menambah aplikasi di dalam kamera. Bagi yang menyukai street photography, A6300 sudah mendukung silent shutter sehingga tidak ada suara apapun saat memotret.80D A6300 c

Tapi perlu diingat bodi A6300 termasuk kecil sehingga gripnya kurang mantap, juga layar LCD-nya juga tidak mendukung layar sentuh. Beruntung adanya built-in flash dan hot shoe di A6300 membuat kamera ini makin serbaguna untuk berbagai pemakaian, meski tidak ada fitur wireless flash di A6300 sehingga penyuka strobist perlu membeli trigger sendiri. Masalah lain khas mirrorless adalah daya tahan baterai yang memaksa kita untuk punya beberapa baterai cadangan.

Yang kami suka dari Canon 80D :

  • ergonomi (bodi, grip, tombol, ada LCD tambahan)
  • auto fokus hybrid (oke juga saat live view)
  • layar sentuh
  • wireless flash
  • daya tahan baterai
  • Kecepatan startup lebih cepat (0.5 vs 1.4 detik)
  • Max shutter speed 1/8000 detik vs 1/4000

Yang kami suka dari Sony A6300 :

  • sarat fitur dalam bodi yang ringkas
  • cepat (burst cepat, AF cepat)
  • fitur video lengkap (4K, slow motion dsb)
  • jendela bidik jernih
  • sensor berkualitas tinggi (tajam, DR oke, noise rendah)
  • Ada focus peaking membantu saat manual fokus
  • Bisa diadaptasi dengan lensa-lensa SLR dengan adaptor

Jadi keduanya sebagai kamera dengan sensor APS-C memang hampir setara untuk harga, fitur dan kinerja, namun berbeda dalam jenisnya. Canon 80D mewakili kubu DSLR juga sebetulnya punya misi berat karena harus melawan Nikon D7200, serta tidak boleh overlap fitur dengan sang kakak yaitu 7D mk II. Saat ini kalau anda mencari DSLR kelas menengah yang handal dan mencukupi untuk banyak kebutuhan, kami tak ragu menyarankan Canon 80D, bahkan saat dana terbatas maka Canon 70D juga masih oke untuk dipilih.

Di sisi lain Sony A6300 mewakili kubu mirrorless juga bebannya berat karena banyak saingan di kisaran harga sama (Fuji X-Pro 2, Fuji X-T1, Samsung NX1 dan bahkan dari kubu micro 4/3 seperti Olympus E-M5 mk II atau Panasonic GX8).  Kami pun tak ragu untuk merekomendasikan Sony A6300 untuk aneka kebutuhan fotografi anda, khususnya sport atau travelling, bahkan kalau dana terbatas maka Sony A6000 pun masih oke untuk dipilih. Jadi, pilih sesuai keinginan dan kemampuan, dan mulailah menikmati hobi fotogafinya..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic Lumix DMC-GX8 dan GX85, pilih yang mana?

Panasonic tetap eksis di kancah kamera digital khususnya dengan produk mirroress, walau segmentasi produknya agak membingungkan. Kita tahu ada seri GH untuk yang serius, ada seri G untuk yang lebih umum (keduanya berbentuk seperti mini DSLR), lalu ada juga seri GX, GM dan GF yang ketiganya lebih kompak dan ringkas (ala rangefinder). Seri GX sendiri adalah seri teringgi di kelas kompak, dengan produk yang cukup sukses saat itu adalah Lumix GX7 (2013) dan kini diteruskan dengan suksesornya yaitu Lumix GX8 (2015). Tak lama berselang, uniknya Panasonic kembali hadirkan kamera di seri GX yaitu Lumix GX85 (atau GX80 di negara lain), dan lebih unik lagi kamera ini diberi nama lain GX7 mark II. Lho..?

Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7
Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7

Untuk bisa mengerti penamaan ini, kita perlu tahu dulu seperti apa Lumix GX8 dan apa bedanya dengan GX7. Kamera GX8 adalah penerus GX7 yang dinanti-nanti karena diyakini akan membawa Panasonic bisa bersaing dengan Olympus EM-5 mk II atau kamera lain sekelasnya. Sebagai kamera top tier / flagship, GX8 menyempurnakan beberapa hal di GX7 seperti sensor baru 20 MP (Sebelumnya 16 MP), Dual IS (di sensor dan di lensa), 8 fps memotret kontinu dan 4K UHD video. Masih seperti GX7, jendela bidik di GX8 bisa dilipat ke atas untuk memotret sambil menunduk. Masalah dengan GX8 adalah harganya yang termasuk tinggi (15 juta belum dapat lensa), lalu ukurannya jadi membesar (dan lebih berat) serta issue shutter shock yang mengganggu (di shutter speed tertentu foto jadi kurang tajam).

Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)
Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)

Maka itu (mungkin) akhirnya Panasonic memutuskan membuat satu kamera lagi, berada diantara GX7 dan GX8 baik dari segi fitur, ukuran dan harga. Berangkat dari rancang desain GX7, namun dengan jendela bidik yang tidak bisa dilipat, Lumix GX85 hadir bulan lalu sebagai pelipur lara. Mengapa? Karena di GX85 teknologi shutter yang bermasalah di GX8 diperbaiki dengan sistem peredam sehingga tidak membuat foto kurang tajam. Kami sendiri kurang setuju bila GX85 diberi nama GX7 mk II, karena istilah mark II biasanya peningkatan dari produk sebelumnya. Mungkin akan lebih tepat dinamai GX7 lite saja karena jendela bidiknya juga tidak bisa dilipat.

GX8 - GX85 - GX7
GX8 – GX85 – GX7

Apa perbedaan antara GX85 dengan GX7 dan GX8? Wah ini agak membingungkan, tapi kami coba uraikan untuk anda :

Sensor :

  • GX7 : 16 MP
  • GX85 : 16 MP tanpa low pass filter
  • GX8 : 20 MP

Shutter :

  • GX7 : 1/8000 detik, 5 fps
  • GX85 : 1/4000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps
  • GX8 : 1/8000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps

Layar / jendela bidik :

  • GX7 : LCD
  • GX85 : LCD
  • GX8 : OLED

Video :

  • GX7 : Full HD
  • GX85 : 4K
  • GX8 : 4K

So, pilih yang mana? Saat ini Lumix GX7 juga masih dijual, boleh dibeli kalau mengejar harga diskon atau cuci gudang. Tapi bila tidak perlu EVF lipat, tunggu saja sampai GX85 masuk pasaran tanah air, estimasi sekitar 12 jutaan sudah dapat lensa. Tapi bila anda ingin mencari yang top-nya, misal untuk resolusi ekstra tinggi dan fitur terkini maka GX8 layak dibeli.

Kompetisi yang cukup berat buat duo kamera Lumix ini :

GX85 : Olympus EM10 mk II, Fuji XT10, Sony A6000

GX8 : Olympus EM5 mk II, Fuji X-T1, Sony A6300

Good luck Panasonic..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony A6300 hadir, kini dengan 425 titik fokus dan video 4K

Sony A6000 termasuk kamera mirrorless yang sukses dalam penjualan, berkat fitur dan harganya yang seimbang dan fungsional. Banyak pihak menantikan penerus dari Sony A6000, dan kini terjawab sudah dengan lahirnya Sony A6300, dengan bentuk luar yang nyaris sama tapi membawa sejumlah peningkatan di berbagai lini. Walau masih memakai sensor APS-C 24 MP, tapi kini sensornya lebih efisien sehingga bisa mencapai ISO lebih tinggi.

Sony A6300 top

Dari fisiknya, perbedaan paling terlihat adalah di bagian belakang dimana kini ada tuas AF/MF-AEL yang biasa ditemui di kamera A7. Jendela bidik juga semakin detail, naik dari 1,4 juta titik jadi 2,3 juta titik. Layar LCD di A6300 masih tidak mengenal sistem layar sentuh, yang mana agak mengherankan disaat merk lain sudah lumrah memberi layar sentuh. Di bagian dalam ada sejumlah peningkatan, misal rangka bodi yang lebih kokoh, dan banyaknya titik fokus deteksi fasa di sensor semakin banyak menjadi 425 titik fokus.

AF Sony A6300

Kinerja auto fokus memang menjadi jualan utama di Sony A6300 ini, dengan jargon 4D focus, diklaim mejadi kamera dengan auto fokus tercepat di dunia. Diimbangi dengan kecepatan shot kontinu 11 fps (atau 8 fps bila live view) diharapkan kamera ini mampu membuat fotografer aksi beralih dari DSLR ke kamera ini. Saat mode fokus di AF-C, kemampuan kamera ini dalam memfokus benda bergerak cepat tampaknya lebih meyakinkan, walau sayangnya masih top speednya ada di 1/4000 detik.

Bagi penyuka video juga akan tertarik dengan Sony A6300, bayangkan kamera seharga USD 1000 ini sudah bisa rekam video 4K dengan X-AVCS 100 Mbps langsung ke kartu memori.  Juga ada S-log Gamma 3 yang biasanya dijumpa di kamera kelas atas.

Hadirnya Sony A6300 mematahkan rumor kalau penerus A6000 akan pakai sensor 28 MP, atau ada IBIS (stabilizer di sensor). Tapi menurut kami 24 MP sudah sangat mencukupi tinggal kinerja ISO tingginya diperbaiki saja, semoga hasil ISO tinggi A6300 lebih baik dari A6000.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengapa lensa DSLR bisa dipasang di kamera mirrorless (dengan adapter)

Saat ini kamera mirrorless semakin berjaya, penggunanya semakin banyak. Ukuran yang lebih kecil dari DSLR dibarengi peningkatan fitur membuat mulai banyak yang tertarik mencobanya. Sebagian besar penggunanya tentu akan memakai lensa yang sesuai mount-nya, misal Sony Alpha dengan lensa-lensa E mount atau Olympus dengan lensa Micro 4/3 mount. Tapi ada juga sebagian pengguna mirrorless yang justru memasang lensa DSLR di kamera mirrorless mereka. Mengapa hal ini bisa dilakukan? Kita bahas sama-sama yuk..

Pertama kita mesti melihat dulu lensa DSLR seperti apa yang dipasang di kamera mirrorless. Sebagian besar ternyata adalah lensa lama, alias lensa manual, seperti Canon FD, Nikon AF atau bahkan lensa mount M42. Lensa-lensa ini bisa jadi koleksi lawas, atau didapat di pasar lensa bekas, yang kemudian dipakai di mirrorless. Walau ada juga lensa modern yang dipasang di mirrorless seperti lensa Canon EOS atau Nikon AF-S.

A6000 12-24mm

Apa alasan dibalik semua ini? Tentu jawabannya bisa beragam, misal ingin nostalgia dengan lensa lamanya, atau cari lensa yang terjangkau, atau memang lensa yang diinginkan belum tersedia sehingga terpaksa memasang lensa DSLR. Ingat kalau sistem mirrorless masih tergolong baru, pilihan lensa yang ada memang belum sebanyak sistem DSLR yang sudah berpuluh-puluh tahun ada.

m_FLANGE_2

Bagaimana penjelasan teknis dari fenomena ini? Untuk bisa memahami itu kita perlu tahu dulu desain lensa, bahwa setiap lensa dirancang untuk mengirim gambar ke sensor. Jarak dari belakang lensa ke sensor namanya flange back distance. Di sistem DSLR kira-kira jaraknya 4 cm, dan itu sudah sejak jaman SLR film begitu. Alasannya karena di DSLR ada cermin yang membuat sensor jadi harus agak mundur ke belakang, sehingga semua lensa harus dirancang untuk punya jarak flange back sekitar 4 cm. Di mirrorless yang tentunya tanpa cermin, jarak flange back ini bisa dibuat lebih pendek, sekitar 1-2 cm. Perancang lensa mirroless harus mendesain ulang rancangan lensa karena menyesuaikan flange back yang jauh lebih pendek.

flange DSLR

Selisih jarak ini yang membuka peluang memasang lensa DSLR di mirrorless, dengan adapter. Prinsip adapter memang hanya merubah desain mount, misal mount lensa Nikon supaya bisa masuk ke E-mount di bodi Sony Alpha/NEX. Tapi kegunaan penting lain dari adapter adalah menambah jarak flange back kamera yang tadinya pendek jadi panjang sehingga memungkinkan dipasang lensa DSLR. Bila tidak dipanjangkan, maka fokus dari lensa DSLR akan jatuh dibelakang sensor dan itu artinya kamera tidak akan bisa fokus.

flange mirr

Memasang adapter punya kompromi sendiri. Pertama adalah mayoritas adapter dibuat simpel tanpa chip atau kontak elektronik. Artinya jangan harap lensanya bisa auto fokus, maka itu adapter yang simpel memang dirancang untuk lensa-lensa lama yang manual fokus dan manual aperture. Di kamera pun harus pakai mode M, dan perlu pakai kamera yang ada opsi untuk bisa memotret tanpa lensa. Tidak ada bantuan light meter di kamera, kita harus andalkan histogram untuk akurasi eksposur dan memakai focus peaking (bila ada) untuk manual fokus.

Metabones-Canon-EF-Sony

Tapi untuk anda yang tidak suka cara lama, ada juga adapter yang canggih dengan kemampuan menterjemahkan perintah AF dari kamera (misal kamera Sony A) dan mengkode ulang perintahnya dan dikirimkan ke lensa (misal lensa Canon EOS) sehingga auto fokusnya berfungsi. Tapi adapter semacam ini harganya mahal, pilihannya lebih sedikit dan kadang AF-nya terasa lebih lambat. Ada juga adapter yang dibuat untuk antar sistem dalam satu merk, misal kamera mirrorless Canon EOS-M bisa dipasangkan dengan lensa Canon EF dan auto fokusnya tetap jalan, karena adapternya dibuat oleh Canon juga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..