Canon EOS M, kamera mirrorless Canon pertama dengan sensor APS-C

Canon menjadi satu-satunya produsen kamera yang belum meluncurkan varian kamera mirrorlessnya, setidaknya sampai akhirnya hari ini dia mengumumkan kehadiran EOS M, sistem kamera baru dengan sensor APS-C dan lensa EF-M. Kamera pertama yang diluncurkan Canon ini memang sangat terlambat, namun begitu diumumkan cukup melegakan karena Canon tidak mengikuti langkah Nikon yang membuat kamera mirrorless bersensor kecil. Canon justru bersaing dengan Sony NEX, Samsung NX dan Fuji X-Pro yang memakai sensor APS-C. Sebagai pasangan lensanya, tersedia lensa EF-M 22mm f/2 STM pancake dan 18-55mm f/3.5-5.6 STM IS.

canon_eos-m-with-speedlite-90ex

Kamera EOS M sendiri berdesain tipikal kamera mirrorless compact, dengan ciri ukuran kecil, tanpa viewfinder, tanpa lampu kilat (tapi ada hot shoe) dan tanpa roda mode eksposur. Namun karena sensor yang dipakainya berukuran besar (sama seperti DSLR Canon APS-C) maka bodinya tidak bisa dibuat sekecil Lumix GF3 atau Olympus Pen E-PM1 misalnya. Meski memakai sensor APS-C, kamera EOS M memakai mount yang berbeda dengan DSLR Canon, namun lensa Canon EF dan EF-S bisa dipasang di kamera ini dengan bantuan adapter. Bodi kamera berbahan magnesium alloy ini ada pilihan warna merah, hitam, silver dan putih.

canon_eos-m-silver-back

Spesifikasi dasar kamera EOS M :

  • sensor APS-C, 18 MP, hybrid MOS (sama seperti EOS 650D)
  • prosesor 14 bit Digic 5, bisa rekam RAW
  • 4,3 fps continuous shooting
  • ISO 100-12.800, bisa diangkat sampai ISO 25.600
  • LCD 3 inci, 1 juta titik,  layar sentuh, kapasitif, multi touch
  • flash hot shoe yang standar Canon
  • full HD 1080p 30 fps, stereo, continuous tracking AF

Cukup mengesankan, salah satu kamera mirrorless yang sarat fitur dan jaminan kualitas gambar karena sensornya yang besar. Apalagi harapan Canon kalau foto dan video akan bisa dibuat sama baiknya semakin mendekati kenyataan dengan sensor hybrid (bisa AF deteksi fasa via sensor) dan lensa STM (stepper motor). Masih ingat pengumuman EOS 650D? Saat itu Canon juga mengumumkan lensa STM yang cocok untuk rekam video, dimana auto fokusnya akan berjalan kontinu (tracking AF) namun suara motornya tidak akan terekam dalam rekaman video karena teknologi motor stepper baru ini.

eos-m-top-down

Tinggal apakah kamera ini akan disukai oleh fotografer ataukah oleh keluarga yang perlu kamera kecil dengan hasil maksimal. Fotografer mungkin akan menyayangkan ketiadaan lampu kilat ataupun jendela bidik, ataupun roda eksposur P/A/S/M yang biasa dijumpai di DSLR (tapi kamera EOS M tetap punya mode manual). Tapi yang jelas persaingan di era mirrorless kini sudah lengkap, semua merk punya perwakilan dan seharusnya ini membawa dampak positif bagi kita : produk semakin membaik, harga semakin terjangkau :)

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duo kamera pemula dari Sony : NEX-F3 dan SLT-A37

Bosan mencari kamera DSLR pemula yang cocok di hati? Mungkin bisa lihat dulu penawaran menarik dari Sony ini : kamera mirrorless pemula Sony NEX-F3 atau kamera translucent mirror pemula Sony A37. Keduanya bukan DSLR, tapi soal sensor keduanya sama dengan DSLR yaitu memakai sensor APS-C. Makin banyak pilihan di kelas pemula dong? Tentu saja..

Sony NEX-F3

nex-f3

Penerus NEX-C3 ini masih mengemas konsep kamera mirrorless kompak, yaitu berukuran mungil meski sensornya besar. Tapi dibanding C3, maka F3 ini tidak terlalu mungil karena dominasi gripnya yang tampak menonjol. Di dalam bodi NEX-F3 ini terdapat sensor CMOS 16 MP dengan crop factor 1,5x. Mount lensa Sony NEX memakai E-mount. Kabar baiknya, NEX-F3 dilengkapi dengan lampu kilat yang menonjol keatas, lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Layar LCD-nya unik dengan sistem lipat ke atas. Kamera ini bisa memotret cepat hingga 5,5 foto per detiknya. Dibundel dengan lensa kit 18-55mm OSS, harganya bersaing di kisaran 6 juta rupiah.

Sony SLT-A37

slt-a37a

Seri SLT Sony sudah berbeda dengan DSLR, meski sangat mirip. SLT yang menerapkan cermin transparan tidak perlu naik turun seperti DSLR, sehingga saat live view atau merekam video kamera SLT mampu tetap menikmati modul AF berbasis deteksi fasa yang akurat dan cepat. Kali ini sebagai penerus dari A35 muncullah Sony SLT-A37 yang memakai sensor CMOS 16 MP dan terpadu dengan stabilizer. Anda bisa memilih untuk melihat layar LCD yang cukup kecil dan kurang detil untuk ukuran kamera jaman sekarang yaitu 2,7 inci, 230 ribu piksel, atau melihat lewat jendela bidik elektronik yang punya 1,44 juta piksel.

slt-a37_rear

Meski tergolong kamera pemula, A37 dibekali 15 titik AF dengan 3 cross type, sehingga cocok untuk tracking AF saat merekam video (sesuai tujuan dibuatnya kamera SLT). Untuk membuatnya lebih mumpuni, Sony memberi kemampuan continuous shoot 7 foto per detik untuk kamera ini. Kalau mau menjajal A37 dengan lensa kit 18-135mm f/3.5-5.6 SAM, maka harganya sekitar 8 juta rupiah.

Kedua kamera pemula diatas sudah sarat fitur termasuk fitur manual eksposur maupun fitur khas Sony seperti Sweep Panorama, Clear Image Zoom dan Focus peaking untuk rekam video dengan manual fokus. Untuk pemula tapi canggih, enak kan..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

X-Pro1, Kamera mirrorless pertama dari Fuji

Seakan belum puas dengan mengumumkan sekaligus 30 kamera baru beberapa hari lalu, Fujifilm kini membuat kejutan lagi dengan meluncurkan kamera mirrorless pertama mereka, sekaligus kamera saku profesional berdesain retro yang bernama Fuji X-Pro1. Sensor yang dipilih Fuji tidaklah sekecil Nikon One ataupun Micro Four Thirds, tapi sensor APS-C yang lebih dahulu sudah dipilih oleh Sony NEX dan Samsung NX. Fuji menamai mount mereka dengan nama X-mount dan beberapa lensa sudah disiapkan untuk dipilih.

Kamera made in Japan yang kemungkinana akan dijual seharga 16 juta body only ini berbalut magnesium alloy dengan roda pengatur shutter speed layaknya kamera film manual. Bila kamera mirrorless lain hanya punya jendela bidik elektronik, maka Fuji X-Pro1 punya jendela bidik hybrid yaitu bisa optikal maupun elektronik, hanya dengan memindahkan tuas di bagian depan kamera. Jendela bidik optiknya punya cakupan 90%, bila ingin mendapat cakupan 100% maka pindahkan saja ke jendela bidik elektronik yang tajam dengan 1,44 juta titik.  Kamera yang mampu memotret hingga 6 foto per detik ini juga punya rentang ISO 200-6400, seperti DSLR pada umumnya. Fitur lainnya tergolong standar untuk ukuran kamera tahun 2012 seperti 24 fps full HD movie dengan kompresi H.264, berbagai mode bracketing, flash hot shoe dan mode simulasi film untuk hasil bervariasi.

xpro1_with_lenses

Tersedia tiga lensa Fujinon XF sebagai pilihan paketnya dan uniknya ketiganya adalah lensa fix, yaitu fix wide 18mm f/2.0 (setara 27mm), fix normal 35mm f/1.4 (setara 52mm) dan fix potret dan makro 60mm f/2.4 (setara 90mm). Lensa zoomnya akan menyusul di tahun ini juga, yang semestinya adalah lensa 18-55mm.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix DMC-GX1 lengkapi jajaran kamera mirrorless Panasonic

Lengkap sudah jajaran kamera mirroless dari Panasonic, mulai dari yang mungil dan simpel yaitu Lumix GF-3, yang mirip DSLR yaitu Lumix G3 dan yang baru saja diumumkan hari ini adalah Lumix GX1. Dari namanya kita tahu kalau ini adalah varian baru yang bukan penerus seri sebelumnya, karena GX1 ditargetkan untuk yang serius di fotografi namun perlu kamera kompak yang ringkas. Dari tampilan luarnya mudah disimpulkan kalau GX1 adalah kelahiran kembali GF-1 dengan desain yang retro dan keren, dengan pilihan warna hitam atau silver.

gx1k_front

Layaknya kamera micro Four Thirds lainnya, Lumix GX-1 punya sensor 4/3 dengan lensa yang bisa dilepas. Kali ini Panasonic membenamkan resolusi 16 MP pada keping sensor CMOS di GX1, bersamaan dengan fitur layar sentuh dan video dengan kompresi MPEG-4 lengkap dengan tata suara stereo. Sebagai lensa kit diberikan lensa Lumix dengan fokal 14-42mm f/3.5-5.6 OIS yang ada dua versi, yaitu versi biasa dan versi X. Bedanya kalau versi X lensanya bisa maju mundur seperti lensa kamera saku sehingga ukurannya saat sedang masuk akan sangat kecil. Namun lensa X tidak punya ring untuk manual zoom, sebagai gantinya tersedia tuas zoom di sisi kiri lensa layaknya kamera saku biasa.

gx1k_top

Karena tergolong kamera kompak, Lumix GX1 tidak menyediakan jendela bidik elektronik. Bila dirasa perlu, kita bisa membeli terpisah sebuah jendela bidik eksternal DMW-LVF2 yang dipasang di atas flash hot shoe. Tanpa adanya cermin (sesuai arti kata ‘mirrorless‘) maka tidak ada auto fokus yang cepat khas DSLR, sebagai gantinya dipakailah metoda deteksi kontras untuk mencari fokus. Untungnya Lumix GX1 memiliki kecepatan mencari fokus yang tergolong cepat dan hampir menyamai kinerja auto fokus DSLR, yaitu sekitar 0.1 detik saat cahaya cukup dan 1 detik saat kurang cahaya. Terdapat beragam metoda auto fokus seperti face detection (mendeteksi sampai 15 wajah sekaligus), AF tracking, 23-area, 1-area dan pinpoint focus. Kita bisa juga menentukan mana yang ingi dibuat fokus dengan menyentuh sebuah titik di layar LCD, atau bila ingin manual fokus bisa dengan menggeser indikator di layar.

gx1k_back

Dengan harganya yang cukup mahal, Lumix GX1 tampak lebih cocok untuk fotografer serius yang mencari kamera kompak namun tidak kompromi terhadap kinerja, hasil foto dan fitur kamera. Sayang layar LCD berukuran 3 inci di kamera ini tidak bisa dilipat, apalagi diputar.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah kamera-kamera baru pesaing kamera DSLR

Di awal September 2011 ini, Samsung dan Fuji secara bersamaan mengumumkan kehadiran kamera andalan mereka yaitu Samsung NX200 (penerus NX100) dan Fuji FinePix X10 (versi ‘murah’ dari X100). Kejutan ini memang semakin memeriahkan berita kehadiran kamera-kamera baru di paruh kedua tahun 2011 dimana sebelumnya sudah lebih dahulu hadir Nikon Coolpix P7100 (penerus P7000), Sony NEX 7 (flagship di seri NEX) dan Sony SLT A77 (penerus DSLR A700). Kesemua kamera ini ditujukan sebagai alternatif lain dari kamera tradisional DSLR yang memakai cermin dan prisma yang besar itu. Meski demikian, tidak semua kamera ini sama secara jenisnya, ada yang memiliki sensor kecil namun ada juga yang pakai sensor APS-C yang sama besarnya seperti sensor kamera DSLR.

Nikon Coolpix P7100

Kamera prosumer seharga 4 jutaan ini ditujukan untuk mereka yang serius dalam hal kendali dan pengaturan kamera saku, terbukti dengan banyaknya tombol dan tuas di seluruh bodi kamera Nikon P7100. Meski masih tergolong kelompok kamera saku namun ukuran P7100 lumayan besar dan berat sehingga tidak nyaman untuk dimasukkan ke saku. Kamera ini punya sensor CCD 10 MP berukuran sedikit lebih besar dari kebanyakan kamera saku lain  (1/1.7 inci), lensa 28-200mm f/2.8-5.6 dan kendali manual lengkap. Layar LCD 3 inci di kamera ini bisa dilipat untuk memudahkan komposisi. Nikon menargetkan P7100 sebagai kamera pendamping dari DSLR, atau sebagai kamera cadangan. Tapi dengan harga jualnya yang lumayan mahal, P7100 sudah bisa dianggap sebagai pesaing kamera DSLR pemula seperti EOS 1100D atau Nikon D3100.

Fuji FinePix X10

Inilah kamera saku dengan desain klasik namun sangat mewah asli buatan Jepang, sebagai generasi kedua kamera Fuji seri X (sebelumnya ada X100 dengan lensa fix dan sensor besar). Kali ini Fuji memberikan lensa jenis zoom dengan putaran manual yang dipadukan dengan switch on-off yang praktis, dengan rentang fokal 28-112mm f/2.0-2.8. Sensor di X10 memakai CMOS jenis EXR beresolusi 12 MP dengan ukuran lumayan lega yaitu 2/3 inci. Tersedia juga jendela bidik optik layaknya DSLR dengan cakupan 85%. Kamera ini juga mampu merekam video full HD, memotret hingga 10 gambar per detik dan terdapat stabilizer optik di lensanya. Seperti Nikon P7100, kamera Fuji X10 cocok sebagai pendamping kamera DSLR anda, apalagi bila anda tidak kuat membeli lensa DSLR dengan bukaan besar. Sayangnya harga jual X10 ini belum diumumkan.

Sony NEX-7

Bila kedua kamera di atas masih belum memuaskan anda karena hanya memakai sensor kecil, maka Sony NEX-7 mungkin bisa menggoda anda. Seri NEX dari Sony adalah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang tergolong di kelas kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara NEX-5N adalah kamera versi ekonomis dari NEX dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit. Bila kamera mungil ini sudah memakai sensor APS-C, untuk apa lagi memakai DSLR? Hasil fotonya pasti akan sama baiknya.

Samsung NX200

Sebagai pesaing langsung dari NEX milik Sony, Samsung juga memiliki seri kamera mirrorless berkode NX (penamaan yang mirip, kebetulan?) yang kini sudah mencapai generasi ke dua yaitu Samsung NX200 dengan sensor APS-C 20 MP CMOS. Sebagai mount lensa, Samsung mendesain NX-mount dan tersedia lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 OIS dan dijual bersamaan dengan NX200, namun belum diketahui harganya. Target menyaingi Sony NEX membuat Samsung harus mempersenjatai NX200 dengan berbagai kelebihan seperti manual mode, RAW, 7 fps burst, full HD movie dan layar  Amoled 3 inci yang sayangnya tidak bisa dilipat. Desain grip dari Samsung NX200 cukup cembung dan tampak nyaman digenggam sama halnya seperti Sony NEX-7. Samsung pun tengah menyiapkan jajaran lensa buatan sendiri dengan NX-mount untuk waktu mendatang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony hadirkan kamera SLT A77, A65, NEX-7 dan NEX-5N

Sony baru saja meluncurkan empat kamera dengan sensor DSLR APS-C, dimana dua kamera merupakan model SLT (Alpha SLT-A77 dan A65) dan dua lagi merupakan generasi NEX sebagai kamera mirrorless kompak (NEX-7 dan NEX-5N). Kejutan besar yang utama disini adalah dipakainya sensor beresolusi ekstra padat 24 MP (kecuali NEX-5N memakai 16 MP). Selain itu Sony juga memperkenalkan lensa baru dengan A mount dan E mount, serta sebuah adapter unik yang menghubungkan bodi NEX dengan lensa A mount. Simak selengkapnya disini.

Sony SLT-A77

Sony perlu waktu empat tahun untuk membuat penerus A700 yang amat populer, namun kini dalam teknologi baru dengan cermin translucent dan jendela bidik elektronik. Sony menargetkan A77 sebagai kamera terbaik dan tercanggih di kelas sensor APS-C, dengan sensor 24 MP CMOS, burst 12 gambar per detik, 19 titik AF ( 11 diantaranya cross type) dan viewfinder paling tajam di dunia dengan 2,4 juta dot berteknologi OLED.

Bodi kamera ini terbalut magnesium alloy, memiliki dua kendali di depan dan belakang plus sebuah joystick untuk kendali menu yang lebih cepat, dengan layar LCD utama 3 inci yang bisa dilipat maupun diputar. Terdapat juga LCD tambahan di bagian atas kamera. Kamera A77 dan A65 dilengkapi dengan GPS untuk geotagging. Shutter unit teruji sampai 150 ribu kali jepret, dengan sync 1/250 detik untuk flash dan maksimum speed adalah 1/8000 detik.

Tampak atas dari kamera A77 terlihat roda mode dial di bagian kiri dan LCD tambahan di bagian kanan.

Sebagai lensa kit A77, tersedia Sony DT 16-50mm f/2.8 SSM dan lensa ini bisa dibeli terpisah seharga 6 jutaan. Harga A77 sendiri body only adalah 13 jutaan atau bila dengan lensa kit tadi menjadi 19 jutaan. Minat?

Sony SLT-A65

Di kelas pemula, Sony menawarkan A65 yang lebih simpel dibanding dengan A77, dan tentunya lebih terjangkau. Meski tergolong di kelas pemula, namun A65 tetap memiliki sensor yang sama dengan A77 yaitu 24 MP. Meski untuk modul AF-nya A65 cukup dengan 11 titik AF (3 diantaranya cross type) dan masih sangat cepat dengan 10 fps burst. Soal viewfinder pun A65 ini memiliki resolusi yang sama tajamnya dengan si kakak A77.

Bodi kamera A65 memang hanya terbuat dari plastik yang membuat harganya cukup terjangkau. Layar LCD 3 inci di A65 bisa dilipat. Shutter maksimum adalah 1/4000 detik dan sync flash 1/160 detik saja.

Sebagai lensa kit A65, ada Sony DT 18-55mm f/3.5-5.6 dan harga jual A65 dengan lensa kit adalah 9 jutaan.

Kemampuan rekam video A77 dan A65 memiliki kesamaan dengan full HD 60 frame per detik progressive, continuous AF dan audio stereo. Terdapat juga tombol langsung untuk merekam video, colokan eksternal mic dan fitur manual eksposur bisa digunakan saat merekam video. Hasil rekaman video bisa ditampung di memory card modern SDXC karena A77 dan A65 sudah kompatibel dengan SDXC maupun Memory Stick. Terakhir, keduanya memiliki sensor dengan stabilizer Steady Shot yang berguna saat memotret maupun merekam video.

Sony NEX-7 dan NEX-5N

Inilah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang biasa disebut kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik dengan ketajaman yang sama seperti A77/A65, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara adiknya NEX-5N adalah kamera mungil dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit.

Sebagai lensa kit dari NEX-7 dan NEX-5N adalah 18-55mm f/3.5-5.6 OSS dengan E mount, namun Sony menawarkan beberapa lensa E mount baru (yang sudah dilengkapi stabilizer OSS)  untuk pemilik kamera NEX diantaranya :

  • lensa tele 55-210mm f/4.5-6.3 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 50mm f/1.8 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 24mm f/1.8 (9 jutaan)

Sedangkan adapter baru LA-EA2 memungkinkan auto fokus yang cepat karena terdapat translucent mirror di dalam adapter, membuat harganya melambung hampir mencapai 4 juta rupiah untuk adapter saja !

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax Q, kamera mirrorless yang serba kecil

Apakah anda merasa kamera mirrorless yang ada saat ini masih kurang kecil? Bila jawabannya adalah iya, maka sambutlah kejutan dari Pentax yang meluncurkan Pentax Q, sebuah sistem kamera lengkap dengan berbagai pilihan lensa, dengan ukuran dan sensor kecil. Alih-alih mengikuti tren dengan memakai sensor seukuran DSLR, Pentax Q justru mengadopsi ukuran sensor kamera saku yaitu 1/2.3 inci yang tergolong sangat kecil. Keputusan ini demi memungkinkan dibuatnya berbagai lensa yang kecil dan (semestinya) terjangkau.

pentaxq

Pentax Q merupakan kamera berukuran mungil, berdesain retro klasik, dengan mount lensa Q (crop factor 5,5x !!) dan sudah sarat dengan fitur modern. Sebagai perkenalan, ditawarkan paket penjualan dengan lensa kit fix 8.5mm f/1.9 (setara dengan 47mm) seharga 8 jutaan rupiah. Sebagai sensor dipilihlah keping CMOS beresolusi 12 MP berteknologi back illuminated, meski sayang sekali ukurannya sangat kecil. Namun dengan lensa kit bukaan besar, Pentax berharap pemakai kamera Q ini tidak mencoba memakai ISO tinggi, meski kamera ini bisa mencapai ISO 6400.

Beberap pilihan lensa Q lainnya adalah :

  • Standard zoom 27.5 – 83.0 mm (equiv). satu-satunya lensa zoom yang ada saat ini
  • Fisheye (160 derajat)
  • Toy lens wide 35 mm (equiv.)
  • Toy lens telephoto 100 mm (equiv.)

Note : Toy lens maksudnya bukan lensa mainan tapi menghasilkan efek seperti toy camera.

Kamera Pentax Q sendiri punya kemampuan berimbang dengan pesaing seperti bodi berbalut magnesium alloy, stabilizer pada sensor, fitur fotografi lengkap termasuk manual mode dan RAW, 5 fps burst, HDR mode, HD movie 1080p 30fps, flash hot shoe dan LCD 3 inci. Tidak ada jendela bidik optik atau elektronik pada bodinya, tapi anda bisa membeli eksternal viewfinder optik seharga 2 jutaan.

Lalu apakah hadirnya Pentax Q ini akan mampu meraih penjualan yang baik? Tak dipungkiri dengan harga jualnya saat ini masih ada beberapa kamera DSLR atau banyak kamera lain yang harganya lebih murah. Soal kualitas hasil foto pun memang akan menjadi tanda tanya sendiri karena dipakainya sensor kecil di kamera ini. Namun apapun itu, upaya Pentax ini perlu dihargai sebagai pendorong tren baru kamera kecil dengan lensa yang bisa dilepas. Ini akan menjadi tekanan buat menggeser dominasi kamera DSLR konvensional (dengan cermin dan pentaprisma, memakai lensa besar dan berat). Saat ini tercatat hanya Canon dan Nikon, dua papan atas produsen kamera konvensional  yang masih belum mau membuat kamera mungil dengan lensa yang bisa dilepas, takut bersaing mungkin?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rekomendasi kamera mirrorless 6 jutaan

Dana 6 jutaan sebenarnya sudah bisa digunakan untuk mendapatkan kamera berkualitas yang cukup mumpuni untuk dipakai sebagai sarana hobi maupun urusan yang lebih serius. Bila menengok di merk Canon atau Nikon, dana sebesar itu memang sudah bisa untuk membeli satu kamera DSLR kelas pemula yang tergolong lengkap seperti EOS 550D kit atau Nikon D5100 bodi only. Tapi siapa tahu anda bosan dengan merk yang itu-itu lagi, kenapa tidak kita coba bandingkan dengan merk lain yang sudah menawarkan format kamera baru bernama kamera mirrorless.

Kamera mirrorless atau kamera tanpa cermin, merupakan salah satu bagian dari format kamera EVIL (Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses). Kamera mirrorless memiliki lensa yang bisa dilepas bak sebuah DSLR, memiliki sensor yang juga sama besarnya dengan sensor DSLR, namun tanpa cermin yang membuat ukuran DSLR menjadi gemuk. Sebagai konsekuensinya, tidak ada jendela bidik optik di kamera mirrorless ini. Membidik gambar bisa dilakukan dari layar LCD dan (bila ada) juga dari viewfinder bertipe elektronik. Urusan auto fokus pada kamera mirrorless terpaksa hanya memakai teknologi deteksi kontras yang agak lambat namun saat ini kinerjanya semakin disempurnakan.

Pada prinsipnya perbedaan mendasar antara merk papan atas seperti Canon/Nikon dengan kompetitor adalah dalam hal kematangan sistem. Kedua merk besar itu sudah matang dalam membuat sebuah system camera (kamera, lensa, lampu kilat dsb), sehingga produk baru yang diluncurkan ya hanya meningkatkan sedikit demi sedikit fiturnya tanpa berinovasi lebih banyak. Bandingkan dengan terus berevolusinya kamera dari Sony, Panasonic, Olympus dan juga Samsung dengan berbagai ‘percobaan’ membuat kamera dan lensa baru. Bila anda tergolong suka pembaruan dan tergoda untuk menjajal sesuatu yang berbeda, namun tidak mau terlalu banyak berinvestasi besar untuk hal yang satu ini, berikut adalah pilihan kamera mirrorless terjangkau yang bisa dimiliki dengan dana 6 jutaan.

Olympus E-PL2 kit 14-42mm

Penerus E-PL1 ini menargetkan diri sebagai kamera mirrorless terjangkau yang bernuansa retro khas seri Pen dari Olympus lawas. Olympus E-PL2 punya desain yang lebih baik dari E-PL1 dengan grip yang lebih nyaman, dengan sensor 4/3 (crop factor 2x) dengan mount micro Four Thirds dan stabilizer pada sensornya. Meski mungil dan tak dilengkapi jendela bidik, kamera 12 MP ini sudah memiliki semua pengaturan manual eksposur dan termasuk untuk urusan merekam video HD 720p. Urusan auto fokus diklaim sudah lebih cepat dari E-PL1 demikian juga dengan kinerjanya secara umum. Sebagai lensa kit tersedia Zuiko 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6 dengan diameter 37mm saja.

olympus-e-pl2

Direkomendasikan untuk : fotografer yang menyukai bentuk lensa yang kecil (apalagi kalau pakai lensa pancake) dan yang ingin semua lensanya bisa mendapat efek stabilizer.

Lumix GF-2 kit 14-42mm

Sebagai pesaing langsung dari E-PL2, Panasonic yang juga penggagas format Micro Four Thirds menawarkan Lumix GF2 dengan spesifikasi mirip yaitu sensor 4/3 beresolusi 12 MP, namun urusan stabilizer diserahkan pada lensa OIS tertentu. Salah satu keistimewaan kamera ini adalah layar sentuhnya yang modern dan mampu merekam video full HD 1080i stereo. Soal auto fokus tak perlu diragukan karena Lumix dalam setiap seri kamera Micro Four Thirds memiliki kecepatan fokus yang mendekati kamera DSLR.

Sebagai lensa kit tersedia pilihan Lumix G Vario 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6mm OIS dengan diameter 52mm atau lensa fix Lumix G 14mm (ekivalen 28mm) f/2.5 diameter 46mm non OIS.

lumix-gf2

Direkomendasikan untuk : penyuka gadget canggih, suka layar sentuh, banyak merekam video dan suka telefoto dengan stabilizer di lensa.

Sony NEX-5 kit 18-55mm

Sony memperkenalkan kamera mirrorless mereka setahun silam dengan nama NEX yang memakai sensor DSLR APS-C dengan crop factor 1,5x. Untuk NEX-5 ini bahkan digunakan sensor beresolusi 14 MP dan bodi berbalut magnesium alloy yang ringan namun kuat. Mengusung mount khusus bernama E-mount, Sony NEX ini bisa dipasangi lensa Alpha mount dengan adapter khusus. Fiturnya cukup menjanjikan mulai dari kendali manual eksposur, layar LCD lipat dan full HD movie. Sebagai kompetitor Sony NEX, di lain pihak ada juga Samsung NX series yang sayangnya agak sulit ditemui di pasaran dalam negeri. Untuk lensa kit dari NEX ini tersedia Sony lens 18-55mm OSS f/3.5-5.6 dengan diameter filter 49mm atau pancake 16mm f/2.8 dengan E mount tentunya.

nex-3

Direkomendasikan untuk : fotografer yang suka memotret low light dengan noise rendah (layaknya DSLR) dan yang suka berbagai fitur pengolah gambar di dalam kamera (sweep panorama, auto HDR dsb).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..