Lumix GX7 hadir, kami ulas head-to-head dengan Fuji X-E1

Era kamera saku sudah beralih ke konsep mirrorless compact, karena tekanan berat dari smartphone modern yang kameranya canggih. Di kelompok mirrorless compact ini tiap produsen punya andalan, dan kebetulan lagi tren desain ala rangefinder (nuansa retro) seperti kamera masa lalu. Hari ini  Panasonic baru saja mengumumkan kehadiran Lumix GX7 sebagai penerus GX1. Desainnya keren, masih cukup pocketable dan pastinya sarat fitur. Lawan sepadan menurut kami adalah Fuji X-E1, walau bisa dibilang juga setara dengan kamera mirrorless lain seperti Olympus E-P5 atau Sony NEX-6.

Lumix GX7

Di kubu Micro Four Thirds, baik Panasonic maupun Olympus punya banyak produk untuk diandalkan. Olympus cukup konsisten dalam membuat kamera berdesain klasik (diberi nama Olympus Pen) sedangkan Panasonic mendesain kameranya berkonsep modern. Di masa lalu Lumix GF1 dan GF2 cukup keren dengan desain retro, tapi kini penerusnya sudah kembali berdesain ‘normal’. Bagi anda yang merindukan desain khas retro-klasik, Panasonic menghadirkan lagi di kamera terbarunya Lumix GX7 (penerus GX1-lompatan yang banyak dari angka 1 ke angka 7).

lumix-gx7

Lumix GX7 memakai sensor 16 MP Four Thirds (crop factor 2x), bodi magnesium alloy, jendela bidik elektronik yang sangat detil dan bisa dilipat keatas (kamera lain biasanya menjadikan ini sebagai aksesori tambahan), layar LCD 3 inci yang juga bisa dilipat, pertama kalinya memakai stabilizer pada bodi, ISO maksimum 12.800, lampu kilat mungil yang pop-up (ada juga flash hot-shoe) dan dua roda kendali.

lumix-gx7_2

Fitur movie di kamera ini juga kelas atas, termasuk focus peaking, opsi 24p dan kendali manual saat rekam video. Microphone stereo jadi satu-satunya penangkap audio di kamera ini, karena tidak ada input untuk mic eksternal. Fitur Wi-Fi yang lagi jadi tren juga tersedia disini, lengkap dengan NFC. Shutter di Lumix GX7 mampu memotret hingga kecepatan 1/8000 detik, dan saat memakai flash bisa hingga 1/320 detik, serta burst 5 fps yang cukup lumayan.

Dibandingkan dengan Fuji X-E1

Fuji X-E1 adalah versi ‘ekonomis’ dari X-Pro1 yang terkenal akan hybrid viewfindernya. Di X-E1 tidak lagi ditemui hybrid viewfinder, sebagai gantinya adalah jendela bidik elektronik biasa (namun tetap berkualitas). Lumix GX7 menang dalam hal kemampuan melipat jendela bidik ini. Keduanya sama-sama memakai teknologi OLED untuk jendela bidik ini. Untuk layar LCD Lumix GX7 unggul jauh karena lebih lega (3 inci vs 2,8 inci) dan mengadopsi sistem layar lipat serta sistem layar sentuh.

Komparasi Lumix GX7 dan Fuji X-E1

Fuji X-E1 menang dalam hal sensor (lebih luas, secara teori hasil fotonya lebih baik dan bokehnya juga lebih blur) tapi dalam prakteknya kualitas foto sensor APS-C dan Four Thirds nyaris identik (kecuali di ISO sangat tinggi).  Fuji X-E1 juga punya kendali shutter yang klasik, dengan memilih angka-angka shutter speed yang sudah tersedia pada roda di bagian atas kamera.

Mengnai harga keduanya relatif berimbang di kisaran 10 jutaan bodi saja. Pilihan lensa Fuji XF belum begitu sebanyak lensa Micro Four Thirds, apalagi sejak Lumix GX7 mengadopsi sistem peredam getar di bodi, maka semua lensa Micro Four Thirds buatan Olympus atau merk lain bisa dipakai dengan tetap mendapat efek stabilisasi. Sangat menarik..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera apa untuk belajar fotografi

Pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh mereka yang hendak membeli kamera dan bingung lantaran banyaknya pilihan dan jenis kamera yang ada saat ini. Hal penting yang perlu digarisbawahi dari pertanyaan diatas adalah ‘belajar fotografi’, setidaknya si penanya tahu bahwa dia punya visi akan memakai kameranya untuk mendukung hobi fotografi, bukan untuk asal jepret saja. Kita akan bahas kamera seperti apa sih yang cocok untuk belajar fotografi itu.

Kalau anda tergolong seorang snapshooter, atau yang suka memotret asal jepret saja, pada dasarnya anda tidak perlu kamera khusus, pakai saja kamera saku atau bahkan kamera ponsel. Saat ini ponsel cerdas sudah punya sensor yang resolusinya tinggi, auto fokus dan ada lampu kilatnya. Tapi jangan salah, meski cuma ponsel berkamera, dia juga bisa menghasilkan foto yang bagus, misalnya dipakai oleh orang yang paham soal komposisi atau saat ketemu momen yang tepat.

Kembali ke topik. Kalau disederhanakan, semua kamera, film dan digital, dari di ponsel sampai DSLR tentu bisa untuk belajar fotografi. Karena fotografi kan luas, tidak hanya aturan baku eksposur maupun hal-hal teknis seperti metering dan fokus. Tapi kalau dibahas soal kamera apa yang secara teknis bisa mendukung pemahaman kita terhadap dunia fotografi, nah ini mulai seru.

Idealnya, kalau kita mau puas memaksimalkan kamera kita untuk memahami fotografi, carilah kamera yang

  • punya mode manual eksposur, artinya kita bisa menentukan sendiri mau memakai shutter speed dan aperture lensanya
  • ada dudukan lampu kilat eksternal untuk kita belajar pencahayaan
  • bisa menyimpan file RAW sehingga hasil fotonya bisa diedit sendiri
  • bisa manual fokus yang berguna saat auto fokus meleset atau gagal
  • punya tombol dan roda kendali yang bisa untuk mengganti setting dengan cepat

kalau dilihat kelima item diatas, pilihannya akan mengerucut pada kamera-kamera lumayan mahal, paling tidak sudah seharga 3 jutaan. Well, ya bagaimana lagi, kalau kamera 2 juta kebawah memang lebih untuk snapshot saja dan itupun pasarnya sudah digerus oleh ponsel cerdas. Tapi kalau anda perlu kamera terjangkau yang bisa buat memahami fotografi, paling tidak poin pertama itu wajib, yaitu bisa manual eksposur. Cirinya ada mode M, yang biasanya dilengkapi juga dengan mode semi-manual seperti A (Aperture priority) dan S (Shutter priority). Dengannya, kita bisa menentukan efek kreatif seperti memakai shutter speed lambat misal untuk menghaluskan gerakan air (di pantai, sungai, air terjun dsb) atau mengatur ruang tajam (Depth of Field) dengan merubah nilai bukaan lensa.

canon-650d-stm

Jadi, kalau dananya cukup, usahakan beli kamera DSLR untuk belajar fotografi. Selain pengaturannya lengkap, hasil fotonya juga bagus. Memang mahal dan perlu beli berbagai tambahan lagi seperti lensa, flash dll tapi itu sepadan dengan ilmu yang akan kita dapat. Kalau yang suka dengan kameramirrorless pada dasarnya oke juga, dia sama seperti DSLR juga dan tentu cocok untuk belajar fotografi.

p7700

Bila dana terbatas, di kisaran 3 jutaan ada kamera non DSLR (lensanya tidak bisa diganti) yang punya kelengkapan lumayan. Misalnya bisa mode manual, ada dudukan flash dan bisa RAW. Kamera ini disebut kamera prosumer, atau bridge-camera atau kamera advance compact. Ada beberapa produk yang cukup populer seperti Canon seri-G, Nikon seri-P, Fuji seri-HS dan Lumix seri-FZ. Bila hanya perlu kamera kecil yang cukup lengkap dan canggih, ada Canon seri-S, Olympus seri-XZ dan Lumix seri-LX.

Tambahan info :

Kalau sudah beli kameranya, bisa ikuti kelas fotografi kami untuk lebih cepat paham dengan panduan dari seorang praktisi dan photography enthusiast, sekaligus penulis buku yaitu Enche Tjin. Anda bisa memilih kelas sesuai kebutuhan :

  • kelas fotografi sabtu-minggu plus belajar lighting, info disini
  • kelas fotografi malam (3 hari), info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Canon, info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Nikon, info disini
  • kelas 1 hari memaksimalkan kamera compact / saku, info disini
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS M, kamera mirrorless Canon pertama dengan sensor APS-C

Canon menjadi satu-satunya produsen kamera yang belum meluncurkan varian kamera mirrorlessnya, setidaknya sampai akhirnya hari ini dia mengumumkan kehadiran EOS M, sistem kamera baru dengan sensor APS-C dan lensa EF-M. Kamera pertama yang diluncurkan Canon ini memang sangat terlambat, namun begitu diumumkan cukup melegakan karena Canon tidak mengikuti langkah Nikon yang membuat kamera mirrorless bersensor kecil. Canon justru bersaing dengan Sony NEX, Samsung NX dan Fuji X-Pro yang memakai sensor APS-C. Sebagai pasangan lensanya, tersedia lensa EF-M 22mm f/2 STM pancake dan 18-55mm f/3.5-5.6 STM IS.

canon_eos-m-with-speedlite-90ex

Kamera EOS M sendiri berdesain tipikal kamera mirrorless compact, dengan ciri ukuran kecil, tanpa viewfinder, tanpa lampu kilat (tapi ada hot shoe) dan tanpa roda mode eksposur. Namun karena sensor yang dipakainya berukuran besar (sama seperti DSLR Canon APS-C) maka bodinya tidak bisa dibuat sekecil Lumix GF3 atau Olympus Pen E-PM1 misalnya. Meski memakai sensor APS-C, kamera EOS M memakai mount yang berbeda dengan DSLR Canon, namun lensa Canon EF dan EF-S bisa dipasang di kamera ini dengan bantuan adapter. Bodi kamera berbahan magnesium alloy ini ada pilihan warna merah, hitam, silver dan putih.

canon_eos-m-silver-back

Spesifikasi dasar kamera EOS M :

  • sensor APS-C, 18 MP, hybrid MOS (sama seperti EOS 650D)
  • prosesor 14 bit Digic 5, bisa rekam RAW
  • 4,3 fps continuous shooting
  • ISO 100-12.800, bisa diangkat sampai ISO 25.600
  • LCD 3 inci, 1 juta titik,  layar sentuh, kapasitif, multi touch
  • flash hot shoe yang standar Canon
  • full HD 1080p 30 fps, stereo, continuous tracking AF

Cukup mengesankan, salah satu kamera mirrorless yang sarat fitur dan jaminan kualitas gambar karena sensornya yang besar. Apalagi harapan Canon kalau foto dan video akan bisa dibuat sama baiknya semakin mendekati kenyataan dengan sensor hybrid (bisa AF deteksi fasa via sensor) dan lensa STM (stepper motor). Masih ingat pengumuman EOS 650D? Saat itu Canon juga mengumumkan lensa STM yang cocok untuk rekam video, dimana auto fokusnya akan berjalan kontinu (tracking AF) namun suara motornya tidak akan terekam dalam rekaman video karena teknologi motor stepper baru ini.

eos-m-top-down

Tinggal apakah kamera ini akan disukai oleh fotografer ataukah oleh keluarga yang perlu kamera kecil dengan hasil maksimal. Fotografer mungkin akan menyayangkan ketiadaan lampu kilat ataupun jendela bidik, ataupun roda eksposur P/A/S/M yang biasa dijumpai di DSLR (tapi kamera EOS M tetap punya mode manual). Tapi yang jelas persaingan di era mirrorless kini sudah lengkap, semua merk punya perwakilan dan seharusnya ini membawa dampak positif bagi kita : produk semakin membaik, harga semakin terjangkau :)

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duo kamera pemula dari Sony : NEX-F3 dan SLT-A37

Bosan mencari kamera DSLR pemula yang cocok di hati? Mungkin bisa lihat dulu penawaran menarik dari Sony ini : kamera mirrorless pemula Sony NEX-F3 atau kamera translucent mirror pemula Sony A37. Keduanya bukan DSLR, tapi soal sensor keduanya sama dengan DSLR yaitu memakai sensor APS-C. Makin banyak pilihan di kelas pemula dong? Tentu saja..

Sony NEX-F3

nex-f3

Penerus NEX-C3 ini masih mengemas konsep kamera mirrorless kompak, yaitu berukuran mungil meski sensornya besar. Tapi dibanding C3, maka F3 ini tidak terlalu mungil karena dominasi gripnya yang tampak menonjol. Di dalam bodi NEX-F3 ini terdapat sensor CMOS 16 MP dengan crop factor 1,5x. Mount lensa Sony NEX memakai E-mount. Kabar baiknya, NEX-F3 dilengkapi dengan lampu kilat yang menonjol keatas, lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Layar LCD-nya unik dengan sistem lipat ke atas. Kamera ini bisa memotret cepat hingga 5,5 foto per detiknya. Dibundel dengan lensa kit 18-55mm OSS, harganya bersaing di kisaran 6 juta rupiah.

Sony SLT-A37

slt-a37a

Seri SLT Sony sudah berbeda dengan DSLR, meski sangat mirip. SLT yang menerapkan cermin transparan tidak perlu naik turun seperti DSLR, sehingga saat live view atau merekam video kamera SLT mampu tetap menikmati modul AF berbasis deteksi fasa yang akurat dan cepat. Kali ini sebagai penerus dari A35 muncullah Sony SLT-A37 yang memakai sensor CMOS 16 MP dan terpadu dengan stabilizer. Anda bisa memilih untuk melihat layar LCD yang cukup kecil dan kurang detil untuk ukuran kamera jaman sekarang yaitu 2,7 inci, 230 ribu piksel, atau melihat lewat jendela bidik elektronik yang punya 1,44 juta piksel.

slt-a37_rear

Meski tergolong kamera pemula, A37 dibekali 15 titik AF dengan 3 cross type, sehingga cocok untuk tracking AF saat merekam video (sesuai tujuan dibuatnya kamera SLT). Untuk membuatnya lebih mumpuni, Sony memberi kemampuan continuous shoot 7 foto per detik untuk kamera ini. Kalau mau menjajal A37 dengan lensa kit 18-135mm f/3.5-5.6 SAM, maka harganya sekitar 8 juta rupiah.

Kedua kamera pemula diatas sudah sarat fitur termasuk fitur manual eksposur maupun fitur khas Sony seperti Sweep Panorama, Clear Image Zoom dan Focus peaking untuk rekam video dengan manual fokus. Untuk pemula tapi canggih, enak kan..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

X-Pro1, Kamera mirrorless pertama dari Fuji

Seakan belum puas dengan mengumumkan sekaligus 30 kamera baru beberapa hari lalu, Fujifilm kini membuat kejutan lagi dengan meluncurkan kamera mirrorless pertama mereka, sekaligus kamera saku profesional berdesain retro yang bernama Fuji X-Pro1. Sensor yang dipilih Fuji tidaklah sekecil Nikon One ataupun Micro Four Thirds, tapi sensor APS-C yang lebih dahulu sudah dipilih oleh Sony NEX dan Samsung NX. Fuji menamai mount mereka dengan nama X-mount dan beberapa lensa sudah disiapkan untuk dipilih.

Kamera made in Japan yang kemungkinana akan dijual seharga 16 juta body only ini berbalut magnesium alloy dengan roda pengatur shutter speed layaknya kamera film manual. Bila kamera mirrorless lain hanya punya jendela bidik elektronik, maka Fuji X-Pro1 punya jendela bidik hybrid yaitu bisa optikal maupun elektronik, hanya dengan memindahkan tuas di bagian depan kamera. Jendela bidik optiknya punya cakupan 90%, bila ingin mendapat cakupan 100% maka pindahkan saja ke jendela bidik elektronik yang tajam dengan 1,44 juta titik.  Kamera yang mampu memotret hingga 6 foto per detik ini juga punya rentang ISO 200-6400, seperti DSLR pada umumnya. Fitur lainnya tergolong standar untuk ukuran kamera tahun 2012 seperti 24 fps full HD movie dengan kompresi H.264, berbagai mode bracketing, flash hot shoe dan mode simulasi film untuk hasil bervariasi.

xpro1_with_lenses

Tersedia tiga lensa Fujinon XF sebagai pilihan paketnya dan uniknya ketiganya adalah lensa fix, yaitu fix wide 18mm f/2.0 (setara 27mm), fix normal 35mm f/1.4 (setara 52mm) dan fix potret dan makro 60mm f/2.4 (setara 90mm). Lensa zoomnya akan menyusul di tahun ini juga, yang semestinya adalah lensa 18-55mm.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix DMC-GX1 lengkapi jajaran kamera mirrorless Panasonic

Lengkap sudah jajaran kamera mirroless dari Panasonic, mulai dari yang mungil dan simpel yaitu Lumix GF-3, yang mirip DSLR yaitu Lumix G3 dan yang baru saja diumumkan hari ini adalah Lumix GX1. Dari namanya kita tahu kalau ini adalah varian baru yang bukan penerus seri sebelumnya, karena GX1 ditargetkan untuk yang serius di fotografi namun perlu kamera kompak yang ringkas. Dari tampilan luarnya mudah disimpulkan kalau GX1 adalah kelahiran kembali GF-1 dengan desain yang retro dan keren, dengan pilihan warna hitam atau silver.

gx1k_front

Layaknya kamera micro Four Thirds lainnya, Lumix GX-1 punya sensor 4/3 dengan lensa yang bisa dilepas. Kali ini Panasonic membenamkan resolusi 16 MP pada keping sensor CMOS di GX1, bersamaan dengan fitur layar sentuh dan video dengan kompresi MPEG-4 lengkap dengan tata suara stereo. Sebagai lensa kit diberikan lensa Lumix dengan fokal 14-42mm f/3.5-5.6 OIS yang ada dua versi, yaitu versi biasa dan versi X. Bedanya kalau versi X lensanya bisa maju mundur seperti lensa kamera saku sehingga ukurannya saat sedang masuk akan sangat kecil. Namun lensa X tidak punya ring untuk manual zoom, sebagai gantinya tersedia tuas zoom di sisi kiri lensa layaknya kamera saku biasa.

gx1k_top

Karena tergolong kamera kompak, Lumix GX1 tidak menyediakan jendela bidik elektronik. Bila dirasa perlu, kita bisa membeli terpisah sebuah jendela bidik eksternal DMW-LVF2 yang dipasang di atas flash hot shoe. Tanpa adanya cermin (sesuai arti kata ‘mirrorless‘) maka tidak ada auto fokus yang cepat khas DSLR, sebagai gantinya dipakailah metoda deteksi kontras untuk mencari fokus. Untungnya Lumix GX1 memiliki kecepatan mencari fokus yang tergolong cepat dan hampir menyamai kinerja auto fokus DSLR, yaitu sekitar 0.1 detik saat cahaya cukup dan 1 detik saat kurang cahaya. Terdapat beragam metoda auto fokus seperti face detection (mendeteksi sampai 15 wajah sekaligus), AF tracking, 23-area, 1-area dan pinpoint focus. Kita bisa juga menentukan mana yang ingi dibuat fokus dengan menyentuh sebuah titik di layar LCD, atau bila ingin manual fokus bisa dengan menggeser indikator di layar.

gx1k_back

Dengan harganya yang cukup mahal, Lumix GX1 tampak lebih cocok untuk fotografer serius yang mencari kamera kompak namun tidak kompromi terhadap kinerja, hasil foto dan fitur kamera. Sayang layar LCD berukuran 3 inci di kamera ini tidak bisa dilipat, apalagi diputar.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah kamera-kamera baru pesaing kamera DSLR

Di awal September 2011 ini, Samsung dan Fuji secara bersamaan mengumumkan kehadiran kamera andalan mereka yaitu Samsung NX200 (penerus NX100) dan Fuji FinePix X10 (versi ‘murah’ dari X100). Kejutan ini memang semakin memeriahkan berita kehadiran kamera-kamera baru di paruh kedua tahun 2011 dimana sebelumnya sudah lebih dahulu hadir Nikon Coolpix P7100 (penerus P7000), Sony NEX 7 (flagship di seri NEX) dan Sony SLT A77 (penerus DSLR A700). Kesemua kamera ini ditujukan sebagai alternatif lain dari kamera tradisional DSLR yang memakai cermin dan prisma yang besar itu. Meski demikian, tidak semua kamera ini sama secara jenisnya, ada yang memiliki sensor kecil namun ada juga yang pakai sensor APS-C yang sama besarnya seperti sensor kamera DSLR.

Nikon Coolpix P7100

Kamera prosumer seharga 4 jutaan ini ditujukan untuk mereka yang serius dalam hal kendali dan pengaturan kamera saku, terbukti dengan banyaknya tombol dan tuas di seluruh bodi kamera Nikon P7100. Meski masih tergolong kelompok kamera saku namun ukuran P7100 lumayan besar dan berat sehingga tidak nyaman untuk dimasukkan ke saku. Kamera ini punya sensor CCD 10 MP berukuran sedikit lebih besar dari kebanyakan kamera saku lain  (1/1.7 inci), lensa 28-200mm f/2.8-5.6 dan kendali manual lengkap. Layar LCD 3 inci di kamera ini bisa dilipat untuk memudahkan komposisi. Nikon menargetkan P7100 sebagai kamera pendamping dari DSLR, atau sebagai kamera cadangan. Tapi dengan harga jualnya yang lumayan mahal, P7100 sudah bisa dianggap sebagai pesaing kamera DSLR pemula seperti EOS 1100D atau Nikon D3100.

Fuji FinePix X10

Inilah kamera saku dengan desain klasik namun sangat mewah asli buatan Jepang, sebagai generasi kedua kamera Fuji seri X (sebelumnya ada X100 dengan lensa fix dan sensor besar). Kali ini Fuji memberikan lensa jenis zoom dengan putaran manual yang dipadukan dengan switch on-off yang praktis, dengan rentang fokal 28-112mm f/2.0-2.8. Sensor di X10 memakai CMOS jenis EXR beresolusi 12 MP dengan ukuran lumayan lega yaitu 2/3 inci. Tersedia juga jendela bidik optik layaknya DSLR dengan cakupan 85%. Kamera ini juga mampu merekam video full HD, memotret hingga 10 gambar per detik dan terdapat stabilizer optik di lensanya. Seperti Nikon P7100, kamera Fuji X10 cocok sebagai pendamping kamera DSLR anda, apalagi bila anda tidak kuat membeli lensa DSLR dengan bukaan besar. Sayangnya harga jual X10 ini belum diumumkan.

Sony NEX-7

Bila kedua kamera di atas masih belum memuaskan anda karena hanya memakai sensor kecil, maka Sony NEX-7 mungkin bisa menggoda anda. Seri NEX dari Sony adalah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang tergolong di kelas kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara NEX-5N adalah kamera versi ekonomis dari NEX dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit. Bila kamera mungil ini sudah memakai sensor APS-C, untuk apa lagi memakai DSLR? Hasil fotonya pasti akan sama baiknya.

Samsung NX200

Sebagai pesaing langsung dari NEX milik Sony, Samsung juga memiliki seri kamera mirrorless berkode NX (penamaan yang mirip, kebetulan?) yang kini sudah mencapai generasi ke dua yaitu Samsung NX200 dengan sensor APS-C 20 MP CMOS. Sebagai mount lensa, Samsung mendesain NX-mount dan tersedia lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 OIS dan dijual bersamaan dengan NX200, namun belum diketahui harganya. Target menyaingi Sony NEX membuat Samsung harus mempersenjatai NX200 dengan berbagai kelebihan seperti manual mode, RAW, 7 fps burst, full HD movie dan layar  Amoled 3 inci yang sayangnya tidak bisa dilipat. Desain grip dari Samsung NX200 cukup cembung dan tampak nyaman digenggam sama halnya seperti Sony NEX-7. Samsung pun tengah menyiapkan jajaran lensa buatan sendiri dengan NX-mount untuk waktu mendatang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony hadirkan kamera SLT A77, A65, NEX-7 dan NEX-5N

Sony baru saja meluncurkan empat kamera dengan sensor DSLR APS-C, dimana dua kamera merupakan model SLT (Alpha SLT-A77 dan A65) dan dua lagi merupakan generasi NEX sebagai kamera mirrorless kompak (NEX-7 dan NEX-5N). Kejutan besar yang utama disini adalah dipakainya sensor beresolusi ekstra padat 24 MP (kecuali NEX-5N memakai 16 MP). Selain itu Sony juga memperkenalkan lensa baru dengan A mount dan E mount, serta sebuah adapter unik yang menghubungkan bodi NEX dengan lensa A mount. Simak selengkapnya disini.

Sony SLT-A77

Sony perlu waktu empat tahun untuk membuat penerus A700 yang amat populer, namun kini dalam teknologi baru dengan cermin translucent dan jendela bidik elektronik. Sony menargetkan A77 sebagai kamera terbaik dan tercanggih di kelas sensor APS-C, dengan sensor 24 MP CMOS, burst 12 gambar per detik, 19 titik AF ( 11 diantaranya cross type) dan viewfinder paling tajam di dunia dengan 2,4 juta dot berteknologi OLED.

Bodi kamera ini terbalut magnesium alloy, memiliki dua kendali di depan dan belakang plus sebuah joystick untuk kendali menu yang lebih cepat, dengan layar LCD utama 3 inci yang bisa dilipat maupun diputar. Terdapat juga LCD tambahan di bagian atas kamera. Kamera A77 dan A65 dilengkapi dengan GPS untuk geotagging. Shutter unit teruji sampai 150 ribu kali jepret, dengan sync 1/250 detik untuk flash dan maksimum speed adalah 1/8000 detik.

Tampak atas dari kamera A77 terlihat roda mode dial di bagian kiri dan LCD tambahan di bagian kanan.

Sebagai lensa kit A77, tersedia Sony DT 16-50mm f/2.8 SSM dan lensa ini bisa dibeli terpisah seharga 6 jutaan. Harga A77 sendiri body only adalah 13 jutaan atau bila dengan lensa kit tadi menjadi 19 jutaan. Minat?

Sony SLT-A65

Di kelas pemula, Sony menawarkan A65 yang lebih simpel dibanding dengan A77, dan tentunya lebih terjangkau. Meski tergolong di kelas pemula, namun A65 tetap memiliki sensor yang sama dengan A77 yaitu 24 MP. Meski untuk modul AF-nya A65 cukup dengan 11 titik AF (3 diantaranya cross type) dan masih sangat cepat dengan 10 fps burst. Soal viewfinder pun A65 ini memiliki resolusi yang sama tajamnya dengan si kakak A77.

Bodi kamera A65 memang hanya terbuat dari plastik yang membuat harganya cukup terjangkau. Layar LCD 3 inci di A65 bisa dilipat. Shutter maksimum adalah 1/4000 detik dan sync flash 1/160 detik saja.

Sebagai lensa kit A65, ada Sony DT 18-55mm f/3.5-5.6 dan harga jual A65 dengan lensa kit adalah 9 jutaan.

Kemampuan rekam video A77 dan A65 memiliki kesamaan dengan full HD 60 frame per detik progressive, continuous AF dan audio stereo. Terdapat juga tombol langsung untuk merekam video, colokan eksternal mic dan fitur manual eksposur bisa digunakan saat merekam video. Hasil rekaman video bisa ditampung di memory card modern SDXC karena A77 dan A65 sudah kompatibel dengan SDXC maupun Memory Stick. Terakhir, keduanya memiliki sensor dengan stabilizer Steady Shot yang berguna saat memotret maupun merekam video.

Sony NEX-7 dan NEX-5N

Inilah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang biasa disebut kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik dengan ketajaman yang sama seperti A77/A65, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara adiknya NEX-5N adalah kamera mungil dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit.

Sebagai lensa kit dari NEX-7 dan NEX-5N adalah 18-55mm f/3.5-5.6 OSS dengan E mount, namun Sony menawarkan beberapa lensa E mount baru (yang sudah dilengkapi stabilizer OSS)  untuk pemilik kamera NEX diantaranya :

  • lensa tele 55-210mm f/4.5-6.3 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 50mm f/1.8 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 24mm f/1.8 (9 jutaan)

Sedangkan adapter baru LA-EA2 memungkinkan auto fokus yang cepat karena terdapat translucent mirror di dalam adapter, membuat harganya melambung hampir mencapai 4 juta rupiah untuk adapter saja !

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..