Basic setting kamera yang wajib untuk dipahami

shooting-menuPercaya atau tidak,  banyak pemilik kamera digital yang masih belum memahami setting dasar dari kameranya, sehingga dalam memotret dia hanya mengandalkan mode Auto dan pasrah akan hasil akhir nantinya. Padahal kita tahu bahwa kamera punya banyak setting dan kesalahan setting akan membuat hasil foto bisa mengecewakan sehingga ada saja orang yang merasa ragu untuk mencoba berbagai setting yang ada di kameranya. Betul kalau mode Auto pada kamera masa kini sudah amat cerdas dalam membuat foto yang aman, tapi apakah anda tidak ingin menjajal berbagai setting yang ada di kamera anda? Setidaknya kita harus mengenali dan pernah mencoba seluruh setting dasar yang ada pada kamera yang kita miliki sehingga tahu apa yang harus dirubah saat berhadapan dengan situasi yang berbeda-beda.

Meski tampak sepele, tapi setting berikut ini bisa membantu anda menghasilkan foto yang lebih baik, bila diatur dengan benar. Untuk lebih jelasnya, baca juga buku manual kamera anda karena apa yang kami sampaikan berikut ini bersifat umum.

Ukuran foto (resolusi sensor)

Foto atau gambar format digital diukur dengan satuan piksel dan ini terkait dengan resolusi yang dimiliki sensor kamera, dimana resolusi sensor menandakan ukuran maksimal foto yang bisa dihasilkan (dinyatakan dalam mega piksel). Kamera masa kini telah mengalami peningkatan dalam jumlah piksel pada keping sensornya dan kita tahu kalau semakin tinggi resolusinya maka semakin detail foto yang dihasilkan.

Berapapun resolusi yang dimiliki oleh kamera digital, biasanya terdapat pilihan setting resolusi yaitu :

  • resolusi maksimum (large) : disini kamera akan menghasilkan foto dengan resolusi penuh dan otomatis file foto yang dihasilkan juga akan berukuran besar. Gunakan resolusi tertinggi ini bila anda memang sedang memotret sesuatu yang penting, kaya detail, berencana banyak melakukan cropping atau akan mencetak ukuran besar.
  • resolusi menengah (medium) : kamera akan menghasilkan foto dengan ukuran menengah yang masih cukup detail namun ukuran filenya tidak terlalu besar. Setting ini cocok dipakai untuk memotret sehari-hari.
  • resolusi kecil (small) : bila anda hanya perlu foto berukuran kecil untuk ditampilkan di web dan tidak berencana untuk dicetak ataupun melakukan cropping, resolusi kecil ini bisa saja dipakai.

Kualitas foto (kompresi JPEG)

Banyak orang yang salah paham kalau kualitas foto itu ditentukan dari resolusinya. Padahal resolusi menyatakan detail foto sementara kualitas ditentukan dari tingkat kompresi JPEG yang bisa kita atur settingnya. Semakin tinggi kompresi JPEG maka kualitas foto akan makin rendah karena preses kompresi ini bersifat lossy alias menurunkan kualitas. Foto berkualitas rendah akan tampak adanya artifak atau kotak-kotak akibat proses kompresi yang tinggi, namun memiliki ukuran file yang rendah.

Setting kualitas yang umumnya dijumpai di kamera :

  • kualitas tertinggi (super fine, best atau high quality) : bila perlu foto berkualitas tinggi dan minim artifak, pilih setting dengan kompresi terendah ini, namun ukuran file akan sangat besar (sekitar 4-5 MB per foto).
  • kualitas menengah (fine, better atau medium quality) : cocok untuk digunakan sehari-hari, masih aman dari artifak yang mengganggu namun file foto tidak terlalu besar.
  • kualitas dasar (normal, good atau basic quality) : bisa dipilih kalau sedang kondisi darurat, misalnya kebetulan kartu memori yang ada kapasitasnya rendah, atau sisa ruang simpan di kartu memori tinggal sedikit. Di setting ini kompresi JPEG sangat tinggi sehingga sebuah file foto bisa berukuran kecil namun akan banyak mengalami efek kompresi seperti artifak yang bakal terlihat di hasil foto.

Sensitivitas sensor (ISO)

ISO dalam fotografi digital menandakan seberapa sensitif sensor terhadap cahaya. Tiap kamera punya ISO dasar (atau ISO terendah) yang umumnya diantara ISO 80 hingga ISO 200. Di ISO terendah ini sensor memberikan hasil foto yang rendah noise sehingga umumnya kebanyakan orang membiarkan kameranya selalu memakai ISO rendah. Padahal adanya pilihan nilai ISO pada kamera disediakan tentu untuk kemudahan kita, dan kapan memakai ISO rendah dan kapan harus menaikkan ISO tentu perlu kita pahami.

  • ISO rendah (ISO 80 – 200) cocok untuk dipakai sehari-hari, selama cahaya sekitar cukup terang seperti saat memotret di siang hari.  ISO rendah juga bisa dipilih bila kita ingin fotonya terhindar dari noise atau saat sedang bermain slow speed.
  • ISO menengah (ISO 400 – 800) bisa jadi nilai kompromi antara sensitivitas dan noise, dalam arti di ISO menengah ini kita mendapat sensor yang lebih sensitif namun dengan noise yang tidak terlalu tinggi. Gunakan ISO menengah bila cahaya sekitar sudah mulai redup, atau saat memakai ISO dasar ternyata shutter speed terlampau lambat dan berpotensi blur. Noise yang muncul akibat memakai ISO menengah ini masih bisa dikurangi memakai software komputer.
  • ISO tinggi (ISO 1000 – 6400) adalah peningkatan ekstrim dari sensitivitas sensor yang akan membuat sensor sangat sensitif terhadap cahaya sekaligus membuat banyak noise pada foto. Gunakan ISO tinggi bila cahaya yang ada tidak mencukupi bagi kamera untuk mendapat eksposur yang tepat, atau bila kita ingin mendapatkan shutter speed yang tinggi. Pada kebanyakan kamera digital, ISO tinggi umumnya memberi hasil foto yang penuh noise dan kurang baik untuk dicetak.

Kompensasi Eksposur (Ev)

Setting yang satu ini kadang dipahami banyak orang sebagai kendali terang gelap, meski yang lebih tepatnya adalah bagaimana kita memberikan instruksi pada kamera untuk merubah nilai nol eksposur. Setting Ev menjadi setting dasar kamera digital mulai dari kamera kelas pro hingga kamera ponsel, dan nyatanya setting ini sangat bermanfaat untuk mengatasi kendala terang gelap yang tidak sesuai keinginan kita. Nilai default Ev adalah 0 (nol) dimana kamera berupaya mencari nilai shutter dan aperture terbaik hasil pengukuran kondisi pencahayaan saat itu (metering). Pada nilai Ev 0 biasanya area terang (highlight) dan gelap (shadow) berada pada kondisi yang imbang, meski karakter tiap kamera bisa sedikit berbeda. Dalam kondisi tertentu, adakalanya metering kamera tidak memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan kita, entah objeknya terlalu over atau terlalu under. Nah, bila sudah begitu kita bisa merubah nilai Ev ini ke arah :

  • Positif Ev (mulai dari +1/3 Ev hingga +3 Ev) dilakukan bila kita ingin membuat bagian yang gelap menjadi lebih terang, meski dengan resiko bagian terang jadi terbakar (blown). Biasanya di area yang kontrasnya tinggi seperti saat sinar matahari terik, atau ada sinar dari belakang objek (backlight), maka foto perlu dikompensasi ke arah positif.
  • Negatif Ev (mulai dari -1/3 Ev hingga -3 Ev) dilakukan bila kita ingin mengurangi area yang terang jadi lebih gelap, seperti saat memotret sunset. Tanpa menurunkan Ev, foto sunset akan terlalu terang dan niscaya momen indah saat matahari terbenam itu tidak akan terekam dengan baik.

Mode lampu kilat (flash)

Lampu kilat yang ada pada kamera tampaknya cukup sepele karena hanya berfungsi sebagai lampu tambahan. Namun adakalanya pemilik kamera masih sering mengabaikan setting flash saat memotret. Umumnya setting flash ini dibiarkan di posisi Auto dimana flash akan menyala hanya kalau suasana sudah cukup gelap. Padahal seringkali kita perlu flash di siang hari, dan bisa saja kita justru tidak boleh menyalakan flash di malam hari. Untuk itu inilah setting dasar lampu kilat kamera secara umum yang perlu dipahami :

  • Auto : menyala otomatis saat mulai gelap. Biasakan untuk tidak memakai mode flash Auto.
  • Flash on : selalu menyala setiap memotret. Gunakan setting ini bila ingin memotret dengan lampu kilat seperti saat tidak ada sumber cahaya apapun selain dari lampu kamera, atau saat siang hari tapi objek yang akan difoto terhalang bayangan sehingga gelap. Flash di siang hari juga bisa dipakai untuk melawan backlight.
  • Flash on plus red-eye : sama seperti di atas, namun lampu kilat akan menyala dua kali untuk mencegah mata merah. Ada saja orang yang memakai setting ini tanpa memahami mode ini untuk apa, sehingga dia memakai setting ini setiap kali memotret, siang atau malam. Padahal dengan dua kali lampu kilat menyala, potensi kehilangan momen cukup tinggi karena ada jeda saat memotret dan hingga saat gambar diambil. Lagi pula dengan seringnya lampu kilat menyala akan membuat baterai cepat habis.
  • Flash off : kebalikan dengan flash on, setting flash off tentu mencegah lampu kilat menyala saat memotret. Pertama, gunakan setting ini saat cahaya sekitar sudah cukup banyak. Kedua, matikan flash saat kita perlu memotret dengan available light (sumber cahaya alami) seperti memotret lilin, night shot atau ruangan yang sangat luas. Ketiga, setting ini berguna saat penggunaan lampu kilat dilarang seperti saat konser di panggung pertunjukan atau di rumah ibadah. Keempat, jangan pakai lampu kilat bila hasil foto akan mengalami pantulan lampu seperti memotret dari balik jendela mobil, memotret ikan di akuarium dan memotret benda yang mengkilat.

White balance

Terakhir, setting dasar yang kerap diabaikan adalah pengaturan karakter warna white balance. Alasan umum mengapa jarang ada yang suka mencoba bermain-main dengan setting ini adalah karena di posisi Auto WB, hasil foto sudah cukup aman dan warnanya jarang meleset. Hanya saja apakah kita akan pasrah pada mode Auto saat berhadapan dengan sumber cahaya putih yang berbeda-beda? Di alam ini sumber cahaya putih sangat banyak mulai dari matahari, lampu neon, lampu pijar hingga lampu kilat. Bila kamera salah dalam mengenali sumber cahaya yang ada, hasil foto akan jadi kebiruan atau kemerahan sehingga merusak mood dari sebuah foto. Bila pada kamera sudah tersedia preset WB untuk berbagai sumber cahaya tersebut, cobalah untuk memakai setting yang sesuai supaya karakter warnanya lebih tepat.

Itulah setting dasar kamera digital yang perlu dikenali, dipahami dan dicoba. Masih banyak setting lain yang tingkatnya lebih advanced, namun dengan mengoptimalkan setting dasar saja diharap kita sudah bisa menjaga hasil foto supaya tidak mengecewakan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips mengurangi noise pada foto

Noise pada fotografi digital tampaknya sudah jadi istilah yang akrab didengar namun tentu kehadirannya tidak dikehendaki. Noise berupa bintik-bintik pada foto yang umumnya akibat pemakaian ISO tinggi ini tampak mengganggu keindahan sebuah foto dan banyak orang yang berupaya untuk menghilangkannya. Meski pada kamera sudah tersedia fasilitas pengurang noise, tapi akan lebih lengkap bila kita bisa melakukannya memakai software pada komputer. Kali ini kami sajikan tips memakai software Neat Image untuk mengurangi noise sehingga foto anda akan jadi lebih indah.

Sebelum masuk ke bahasan utama, sekilas kita awali dengan mengenal noise ini. Sensor kamera digital yang merupakan perangkat analog memiliki sensitivitas (ISO) yang bisa ditingkatkan bila perlu. Dengan naiknya sensitivitas, maka noise yang tadinya rendah ikut naik dan mulai mengganggu. Pada sensor kecil (dipakai di kamera saku dan kamera ponsel) noise akan semakin parah karena kemampuan sensor dalam menangkap cahaya tidak sebaik sensor besar (pada kamera DSLR). Noise berupa titik-titik pada foto selanjutnya diupayakan untuk dihilangkan, meski urusan ini membawa konsekuensi foto akan jadi soft atau kehilangan detail. Maka itu diperlukan teknik pengurang noise (bukan penghilang noise) yang mampu mengurangi titik-titik tadi tanpa membuat foto jadi kehilangan detail.

Meski di dalam kamera sudah disediakan fasilitas pengurang noise, alangkah baiknya bila upaya ini dilakukan melalui komputer saja. Hal ini dikarenakan keleluasaan kontrol kita dalam mengatur tingkat pengurangan noise yang paling kita sukai. Salah satu program perangkat lunak yang umum dipakai adalah Neat Image versi 6.0 yang bisa diunduh disini. Pemakaian program ini cukup mudah, anda cukup menginstalnya di komputer lalu menjalankannya.

Tampilan program Neat Image
Tampilan program Neat Image
Setting noise reduction
Setting noise reduction

Langkah pertama adalah membuka file foto yang akan diproses. Setelah foto dibuka, klik tab Device Noise Profile. Lalu klik pada Auto Profile. Program secara otomatis akan mencari profil noise yang paling mendekati dan seragam lalu menganalisa tingkat noisenya. Lihatlah pada sidebar sebelah kanan, disana tampak status kamera yang dipakai,  data teknis (EXIF), dan indikator analisa warna (RGB). Selanjutnya klik tab Noise Filter Setting, disinilah pengaturan dan kendali noise ditentukan. Tersedia filter preset yang umumnya sudah mewakili keperluan yang sering digunakan, seperti filter dan sharpen, pilihlah advanced untuk preset yang lebih lengkap. Bila anda tidak puas dengan preset yang diberikan, aturlah secara manual setting pengurang noise yang ada (noise level, reduction amount dan sharpening). Jangan lupa, tiap setting bisa dilakukan preview untuk melihat apakah pengaturan yang anda buat sudah pas atau belum. Terakhir tentu klik tab Output Image dan klik save.

Mudah bukan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kaitan antara ISO dan noise dalam fotografi digital

Sebagai pembuka, bolehlah sekedar mengingat kembali bahwa dasar fotografi adalah bermain dengan cahaya, dimana banyak sedikitnya cahaya yang ditangkap oleh kamera dipengaruhi oleh berapa kecepatan shutter dan besarnya bukaan diafragma. Dalam era fotografi film dikenal dengan nilai ASA pada film yang menandakan sensitivitas film tersebut terhadap cahaya. Istilah ISO pada fotografi digital (mengacu pada standar ISO 12232) pun ekuivalen seperti ASA untuk film, dimana dalam hal ini ISO menyatakan nilai sensitivitas sensor pada kamera digital.

ccd
Sensor CCD

Sensor, baik CCD maupun CMOS, adalah komponen utama dari sebuah kamera digital, yaitu berupa sekeping cip silikon yang tersusun atas jutaan piksel yang peka cahaya. Pada saat gambar yang datang dari lensa mengenai sensor maka tiap-tiap piksel tersebut akan menangkap energi cahaya yang datang dan merubahnya menjadi besaran sinyal tegangan. Seberapa sensitif sensor mampu menangkap cahaya inilah yang dinyatakan oleh besaran ISO. Setiap sensor memiliki nilai ISO dasar/ISO normal yaitu nilai sensitivitas terendah dari sensor yang umumnya ekuivalen dengan ISO50 hingga ISO200 (tergantung jenis dan merk kamera). Pada nilai ISO normal ini kepekaan sensor terhadap cahaya berada pada level terendah sehingga dibutuhkan cukup banyak cahaya untuk mendapatkan foto dengan exposure yang tepat. Oleh karena itu umumnya ISO normal hanya dipakai saat pemotretan outdoor di siang hari.

ISO selectorUntuk mengukur cahaya, istilahnya metering, kamera memiliki sistem pengukur cahaya (light meter) yang menginformasikan seberapa banyak cahaya yang akan masuk mengenai sensor. Apabila cahaya yang diterima sensor terlalu rendah (kadang kamera memberi warning low light pada layar LCD) maka pilihan yang ada untuk menjaga exposure adalah dengan memperbesar diafragma, melambatkan shutter, dan/atau menaikkan nilai ISO. Pada kamera saku yang serba otomatis, nilai shutter dan diafragma akan ditentukan secara otomatis oleh kamera berdasarkan hasil pengukuran cahaya. Apabila pada kondisi kurang cahaya kombinasi shutter dan diafragma tidak mampu menghasilkan exposure yang tepat, barulah nilai ISO perlu dinaikkan. Apabila mode ISO pada kamera diset ke AUTO, maka kamera akan menaikkan nilai ISO secara otomatis. Pada kamera yang memungkinkan untuk dapat menentukan nilai ISO secara manual, nilai ISO yang lebih tinggi dapat kita pilih dalam faktor kelipatan mulai dari 200, 400, 800, 1600 hingga 3200. Bahkan kini kamera digital terbaru mulai menawarkan kemampuan ISO 6400 untuk sensitivitas ekstra tinggi.

ISO rendah dan ISO tinggiPerlu dicatat bahwa dengan nilai ISO yang lebih tinggi juga memungkinkan pemotretan dengan kecepatan shutter yang lebih cepat. Hal ini dikarenakan ISO tinggi memberikan sensitivitas tinggi sehingga kamera tidak memerlukan banyak cahaya untuk mendapat exposure yang tepat. Shutter cepat ini bermanfaat untuk membuat objek yang bergerak jadi nampak diam. Istilahnya, membekukan objek (lihat gambar perbandingan di samping). Penggunaan ISO rendah (misalnya ISO 100) akan membuat shutter kurang cepat (misal 1/20 detik) untuk mampu menangkap gerakan si anak. Dengan menaikkan ISO (misal ISO 800), didapat nilai shutter yang lebih cepat (misal 1/160 detik) sehingga si anak jadi nampak diam. Terkadang pada kamera yang tidak dilengkapi stabilizer, pemakaian ISO tinggi juga dapat dimanfaatkan untuk mencegah gambar menjadi blur. Dengan ISO tinggi diharapkan getaran tangan yang biasanya rawan membuat gambar blur bisa dihindari karena shutter yang lebih cepat.

Sayangnya peningkatan ISO juga akan membawa efek negatif yang tidak diinginkan. Meningkatkan ISO berarti meningkatkan sensitivitas sensor, sehingga sinyal yang lemah pun dapat menjadi kuat. Masalahnya, pada proses kerja sensor juga menghasilkan noise yang mengiringi sinyal aslinya. Bila ISO dinaikkan, noise yang awalnya kecil pun akan ikut menjadi tinggi. Noise yang tinggi akan tampak mengganggu pada hasil foto dan muncul berupa titik-titik warna yang tidak enak untuk dilihat. Masalah noise ini akan lebih parah apabila jenis sensor yang digunakan adalah sensor berukuran kecil, seperti yang umum dipakai pada kamera saku. Kenapa? Karena sensor kecil memiliki ukuran titik/piksel yang kecil juga, dan secara teori piksel kecil lebih rentan terhadap noise dibandingkan piksel berukuran lebih besar. Oleh karena itulah kamera digital SLR lebih baik dalam menghasilkan foto pada ISO tinggi, karena kamera DSLR memakai sensor yang lebih besar (dan lebih mahal biaya produksinya).

Noise pada berbagai jenis kamera
Noise pada berbagai jenis kamera

Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi noise? Pertama tentunya sebisa mungkin hindari pemakaian ISO terlalu tinggi. Namun apabila terpaksa mamakai ISO tinggi, kamera digital masa kini telah memiliki sistem pengurang noise (Noise Reduction/NR) yang secara otomatis akan mencoba memperhalus hasil foto sebelum disimpan menjadi sebuah file. Tiap merk kamera punya ‘pendekatan’ tersendiri untuk mengatasi noise ini. Bisa jadi merk A akan sedikit menerapkan NR sehingga foto tampak masih agak noise namun memiliki detail lebih baik. Merk B bisa saja memakai NR terlalu berlebih sehingga foto yang dihasilkannya bersih dari noise namun detilnya ikut hilang. Sayangnya sampai saat ini belum ada metoda NR yang mampu menghilangkan noise namun sekaligus mempertahankan detail foto dengan sama baiknya. Apabila untuk kebutuhan fotografi ternyata banyak membuat foto dengan memakai ISO tinggi, sebaiknya memakai kamera profesional dengan sensor berukuran besar (2/3 inci, APS-C atau bahkan Full Frame) yang memiliki Signal to Noise ratio yang baik, sehingga efek dari noise ini dapat dikurangi.

Kesimpulan

  • Nilai ISO dalam fotografi digital menyatakan sensitivitas dari sensor yang dipakai pada kamera digital.
  • Apabila melalui pengaturan shutter dan diafragma tetap tidak bisa didapat exposure yang tepat (biasanya pada kondisi cahaya rendah) maka bisa dicoba menaikkan nilai ISO.
  • Selain untuk pemotretan saat cahaya rendah, pemakaian ISO tinggi juga cocok untuk mencegah blur akibat getaran tangan (apabila kamera tidak dilengkapi fitur stabilizer) atau untuk fotografi kecepatan tinggi, karena ISO tinggi memungkinkan pemakaian shutter lebih cepat dibanding ISO rendah.
  • Menaikkan nilai ISO akan membuat efek samping adanya noise pada hasil foto.
  • Metoda Noise Reduction (NR) dapat digunakan untuk mengurangi noise yang muncul, namun idealnya proses NR tetap mampu sedapat mungkin mempertahankan detail foto supaya tetap tajam.

Saran

  • Carilah kamera yang memiliki sensor berukuran lebih besar dibanding kamera pada umumnya sehingga efek dari noise ini dapat dikurangi.
  • Membiarkan mode ISO dalam posisi AUTO bisa jadi dapat membuat kamera otomatis menaikkan nilai ISO terlalu tinggi bila digunakan pada tempat yang kurang cahaya, alternatifnya aturlah nilai ISO secara manual dengan disesuaikan kondisi pemotretan.
  • Apabila harus menggunakan ISO tinggi, apabila tersedia, gunakan format file RAW sehingga bisa dilakukan noise reduction secara software melalui PC.
  • Jangan membeli kamera digital yang :
  1. tidak bisa mengatur ISO secara manual
  2. memakai image stabilizer palsu dengan menaikkan ISO
  3. memiliki mega piksel tinggi tapi ukuran sensor kecil -> akan sangat noise di ISO tinggi
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji F200EXR, si kamera saku serba bisa

Akhirnya diluncurkan juga, kamera digital dari Fuji dengan sensor SuperCCD generasi EXR. Kamera yang bernama Finepix F200EXR ini sepintas mirip dengan pendahulunya, F100fd namun dengan layar yang lebih besar. Kamera ini menjadi kamera pertama dalam jajaran Finepix yang mengadopsi sensor baru EXR, dan diharapkan di bulan-bulan mendatang sensor EXR juga akan dipasangkan pada kamera semi-pro sekelas Finepix S100fs dan kamera super zoom sekelas S8100fd.

Fuji F200 EXR

Bagi yang belum menyimak info soal sensor baru ini, intinya secara singkat bahwa sensor EXR merupakan hasil riset Fuji yang menggabungkan sensor SuperCCD tipe HR dan tipe SR. Tipe HR mampu memberi resolusi tinggi dengan noise yang rendah, biasa dipakai di kamera saku hingga kamera semi-pro, sementara tipe SR adalah jawaranya dynamic-range, digunakan di kamera DSLR Fuji S series. Dengan bersatunya kedua teknologi sensor ini, bisa dibayangkan cukup dengan sebuah sensor bisa didapat kemampuan fotografi digital resolusi tinggi yang noisenya rendah dan punya dynamic range yang lebih baik.

Sebagai pembuka, berikut kutipan fitur utamanya :

  • 12 Megapixel SuperCCD EXR sensor (1/1.6 inch)
  • F3.3-5.1, 5X optical zoom lens, equivalent to 28 – 140 mm
  • Sensor-shift image stabilization
  • 3-inch LCD display with 230,000 pixels
  • Full manual controls + numerous scene modes
  • ISO range of 100 – 12,800
  • Super Intelligent Flash
  • Face Detection 3.0
  • Records movies at 640 x 480 (30 fps) with sound
  • 48MB onboard memory + xD/SD/SDHC card slot
  • Uses NP-50 lithium-ion battery

Di atas kertas memang tidak nampak ada yang menonjol dari deretan fitur diatas (kecuali ISOnya yang bisa mencapai ISO 12.800, wow!) bahkan merk pesaing bisa mengungguli Fuji ini khususnya dalam fitur movie yang rata-rata sudah memakai resolusi HD. Bahkan bila disimak spesifikasi lensanya, meski rentang fokalnya amat efektif (28-140mm), namun tidak demikian halnya dengan bukaan maksimalnya. Ya, Fuji ini layaknya kamera saku generasi sekarang, lebih memilih desain lensa ekonomis yang tidak bisa membuka hingga f/2.8 seperti kamera-kamera generasi sebelum ini. Tapi kita tidak sedang membahas itu, kita sedang ingin mengupas tentang bagaimana sensor EXR ini bisa diandalkan dalam berbagai kondisi pemotretan.

Kita mulai saja. Baik dipilih secara manual ataupun otomatis, sensor EXR seolah bisa berperan sebagai tiga sensor berbeda. Bila mode EXR diset ke auto, kamera akan menentukan sensor EXR harus berperan sebagai apa, tergantung kondisi pemotretan. Peran yang bisa dipilih pada sensor EXR adalah :

  • Fine Capture (resolusi tinggi), artinya sensor berfungsi normal dengan resolusi maksimal 12 MP, cocok untuk pemotretan sehari-hari dengan kondisi cahaya normal (mencukupi). Dengan kata lain, mode ini persis sama seperti memakai kamera digital manapun.
  • Pixel Fusion (sensitivitas tinggi, noise rendah), artinya dengan memilih mode ini setiap piksel yang berdampingan akan digabungkan untuk memberikan sensitivitas 2x lebih tinggi, sehingga noise bisa ditekan lebih rendah. Perhatikan kalau dengan metoda gabungan dua piksel bertetangga ini maka resolusi efektif sensor EXR menjadi 6 MP.
  • Dual Capture (dynamic Range yang lebar), prinsipnya sama seperti fotografi HDR yaitu menggabung dua foto yang berbeda eksposure. Namun bedanya dengan teknik HDR, kita tidak perlu memotret beberapa foto untuk digabung di komputer, cukup sistem internal sensor EXR yang melakukannya. Prinsipnya, setengah dari jumlah piksel di sensor EXR akan menangkap foto dengan eskposure yang lebih tinggi (terang), sementara setengahnya lagi bertugas mengambil foto dengan eksposure lebih rendah (gelap). Kedua foto yang berbeda eksposure tersebut digabung oleh prosesor internal kamera dan hasil akhirnya adalah sebuah foto 6 MP yang punya jangkauan dinamik yang lebar.

Meski kamera ini bisa menentukan secara otomatis mode EXR mana yang cocok untuk situasi pemotretan saat itu, namun tentu sebaiknya sang pemakai kameralah yang menentukan kapan harus memakai mode Fine Capture, kapan harus memakai Pixel Fusion dan kapan harus memakai Dual Capture. Berikut ini adalah beberapa skenario pemotretan yang memungkinkan kita secara spesifik memilih mode sensor EXR secara manual :

  • Mode Fine Capture tentu dipakai bila perlu resolusi tinggi 12 MP, seperti foto yang sarat dengan detail (landscape) atau bila akan dilakukan cropping nantinya. Di mode ini diperlukan cahaya yang mencukupi dan merata, artinya tidak ada perbedaan area yang terlalu gelap atau terang pada satu bidang gambar.
  • Mode Pixel Fusion akan menunjukkan kehebatannya bila dipakai di tempat kurang cahaya. Bilamana diperlukan memotret memakai ISO tinggi dan tanpa lampu kilat,  seperti foto indoor, memotret konser musik, atau di tempat yang penggunaan lampu kilat tidak diijinkan, gunakan saja mode ini.
  • Mode Dual Capture, adalah terobosan baru mendapat foto dengan dynamic range tinggi tanpa harus mengolah lewat software komputer. Mode ini bisa digunakan pada area pemotretan yang punya kontras tinggi, yaitu terdapat area amat terang dan amat gelap pada sebuah bidang foto. Tanpa mode ini, kita akan terpaksa memilih untuk mengorbankan daerah gelap (shadow) demi menyelamatkan daerah terang (highlight) atau sebaliknya.

Kami tidak begitu antusias pada mode pertama, karena mode fine capture adalah mode standar semua kamera saku yang punya resolusi tinggi. Selain membuat ukuran foto jadi besar, resolusi tinggi juga membuat berat saat proses loading dan editing foto di komputer. Bila memakai kamera EXR ini, kami merasa hanya perlu memakai dua mode ‘khusus’ lainnya yaitu mode pixel fusion (anggap saja ini mode malam hari) dan mode dual capture (anggap saja mode siang hari). Betul kalau kedua mode ’siang-malam’ ini akan menghasilkan foto beresolusi 6 MP saja, tapi bagi kebanyakan orang, 6 MP ini sudah amat mencukupi.Sebagai penutup, singkatnya Fuji F200EXR mampu memberi terobosan besar dalam dunia fotografi digital yang selama ini ‘mentok’  saat mendesain sensor kecil yang selalu bermasalah dengan noise yang tinggi dan rendahnya dynamic range. Dalam dimensi yang kecil, kamera berlensa 5x zoom ini bisa berperan banyak yaitu sebagai kamera normal beresolusi tinggi, kamera yang juga handal di ISO tinggi layaknya DSLR, dan kamera HDR yang sanggup memberi dynamic range tinggi tanpa perlu menguasai teknik HDR di komputer.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..