Olympus E-M1 mark II resmi diluncurkan

Hari Kamis 1 Desember lalu di Citywalk Sudirman, Olympus Indonesia resmi meluncurkan kamera teratas yaitu OM-D E-M1 mark II. Di acara tersebut Quettfenn Lai (Olympus Regional Product Specialist) memaparkan berbagai keunggulan kamera 28 juta ini, seperti peningkatan di auto fokus, 5 axis IS hingga fitur 4K video. Berbekal sensor Micro 4/3, Olympus menawarkan keseimbangan antara kualitas foto dan kepraktisan dalam memakai kamera (berkat kamera dan lensanya yang signifikan lebih ringkas daripada DSLR).

p1160181-s
Sampel unit Olympus E-M1 mk II untuk dicoba awak media
Paparan tentang auto fokus diantara berbagai kamera top
Paparan tentang auto fokus diantara berbagai kamera top

Kamera top ini sudah tahan cipratan air, tahan beku -10 derajat, bisa dipakai sampai 200 ribu kali jepret tanpa masalah (kalau memakai shutter mekanik), bisa memotret sampai 60 fps dalam resolusi full 20 MP (kalau memakai shutter elektronik dan auto fokus single AF). Fitur lain seperti dual SD slot (UHS-II), buffer lega, prosesor quad core, layar sentuh dan jendela bidik yang nyaman menjadi penanda kamera elit ini. Kehebatan 5 axis IS disini bahkan diklaim bisa hingga 6,5 stop, dengan mudah bisa membuat foto tajam saat pakai shutter 1 hingga 2 detik tanpa tripod. Segmen market yang dituju diantaranya fotografer olah raga, jurnalis, liputan dan videografer serius.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review singkat : Olympus E-M10 mark II

Olympus E-M10 mk II adalah kamera mirrorless kelas bawah di lini OM-D, ditujukan untuk fotografer pemula yang mencari kamera mirrorless yang lebih lengkap dan serius namun tidak semahal E-M5. Kamera seri OM-D punya ciri fisik mirip DSLR, dengan jendela bidik di bagian atas (bukan disamping kiri seperti kamera mirrorless ala rangefinder pada umumnya) dan sedikit lebih besar dari kamera seri Pen (misal EPL7, Pen F dsb), serta punya banyak kendali untuk aneka setting.

IMG_9169

Di generasi kedua dari lini E-M10 ini Olympus memberi 5 axis stabilizer (sebelumnya hanya 3 axis) dan peningkatan lain (electronic shutter, jendela bidik semakin detail, 60 fps video dsb) serta fitur baru seperti 4K timelapse dan AF target pad. Desain kedua kamera juga sedikit berbeda khususnya di tuas on-off, yang kini menjadi satu dengan tuas flash.

IMG_9159

Menurut kami desain EM10 mk II ini cukup ideal. Ukuran pas ditangan, grip cukup nyaman, bodi berbahan logam dan tata letak tombol dan roda yang pas. Layar lipat dan sentuh juga jadi bonus yang menyenangkan.

Di waktu yang terbatas kami tidak bisa menguji banyak hal dari kamera ini. Walau di foto ilustrasi ini kamera dipadankan dengan lensa 25mm fix, tapi selama review fotonya diambil dengan lensa 12-50mm f/3.5-6.3. Hal pertama yang kami lakukan setelah menerima pinjaman kamera ini adalah mengkustomisasi kamera ini sesuai selera pribadi penguji. Untungnya kamera Olympus terkenal bisa banyak dikustomisasi yang membuat kameranya terasa lebih personal. Beberapa hal yang kami atur sebelum memotret :

  • mengaktifkan Super Control Panel (SPC) untuk memudahkan ganti setting dengan cepat
  • memprogram tiga tombol Fn, Fn1 untuk auto fokus, Fn2 untuk setting WB+ISO, dan Fn3 untuk plus RAW
  • merubah aspek rasio jadi 3:2 (kalo ini karena kebiasaan pakai DSLR) resikonya megapiksel sedikit berkurang
  • mengatur parameter JPG (pic mode i-Enhance, Gradation Auto, Contrast -1, Sharpness +1, Saturation 0)
  • memilih mode focus area ke grup AF, servo AF-S
p1140448
Super Control Panel (SPC)

Kualitas foto dari sensor 16 MP di Olympus EM10 mk II termasuk baik, dengan ISO tinggi yang noisenya masih cukup aman di ISO 1600 bahkan ISO 3200 pun untuk ukuran cetak kecil masih oke. Bagi yang suka editing mungkin akan sedikit kecewa dengan RAW kamera ini yang 12 bit, khususnya saat foto yang diambil punya kontras yang melampaui dynamic range sensor micro 4/3.

Hal yang penting untuk direview dari sebuah kamera selain kualitas gambar menurut kami adalah kinerja secara umum dan auto fokusnya. Dari kinerja tidak ada keluhan, kamera ini bekerja cepat, bisa menembak sampai 8,5 foto per detik juga. Auto fokus juga cepat, dan mudah untuk mengganti area fokus dengan berbagai cara misal menyentuh layar atau menekan tombol D pad. Ada beberapa opsi area fokus di kamera ini yaitu Auto, Group, 1 area dan 1 area kecil.

Kamera Olympus E-M10 mk II ini punya beberapa hal yang kami sukai diantaranya :

  • hasil JPG terlihat sudah oke, tonal dan akurasi warna juga bagus
  • auto fokus cepat (kalau untuk benda diam), bisa sentuh layar juga
  • 5 axis stabilizer bekerja baik, kami bisa dapat 1/2 detik tanpa tripod dengan lensa 12mm
  • ada elektronik shutter, ada fitur peredam shutter shock, sync 1/250 detik, max 60 detik, ada live bulb juga
  • bisa rekam video dengan manual eksposur, saat rekam video bisa juga ambil foto

sedangkan hal-hal yang masih agak kami sayangkan dari kamera ini :

  • penurunan kualitas dan detail foto di ISO 1600 keatas
  • file 12 bit RAW tidak begitu leluasa untuk editing (umumnya 14 bit)
  • auto fokus tidak handal untuk benda bergerak, dan karena deteksi kontras kadang fokusnya tertipu oleh latar belakang yang lebih kontras
  • tidak ada perlindungan cuaca, meski masih wajar untuk kamera dengan harga terjangkau seperti ini
  • auto ISO terlalu sederhana, tidak ada pengaturan minimum shutter speed

Sebagai kesimpulan singkat, kamera EM10 mk II ini cocok untuk yang mencari sistem kamera micro 4/3 yang lengkap tapi dana terbatas. Memang tidak secanggih fitur di EM5 mk II tapi sudah mencukupi untuk banyak kebutuhan fotografi. Sisi lemahnya adalah untuk kebutuhan foto aksi yang perlu fokus kontinu dan/atau ISO tinggi, tapi untuk keperluan lain seperti travel, street, arsitektur, potret dsb kamera ini sudah sangat mumpuni.

Beberapa hasil foto dari mencoba kamera EM10 mk II, JPG tanpa edit :

Warna yang menarik
Reproduksi warna yang enak dilihat
Sunrise
Tonal yang natural saat keadaan sunrise
Sepeda
Metering cukup akurat, sedikit under saat bertemu banyak pasir putih
Warna warni direproduksi dengan baik
Warna warni direproduksi dengan baik
Aktivitas nelayan
Merekam aktivitas nelayan
Dynamic range masih termasuk baik
Dynamic range masih termasuk baik
Clarity dan detil
Clarity dan detil dari lensa 12-50mm f/3.5-6.3
Panning shot
Mencoba panning shot dengan IS mode 2
Pakai tripod dengan long exposure
Pakai tripod dengan long exposure
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod, hasil masih acceptable sharp

Foto selengkapnya dan dalam ukuran aslinya kami titipkan di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus PEN-F : kamera klasik yang terlahir kembali

Ditengah eforia desain kamera digital yang seperti kamera klasiik, seperti dibuat oleh Fuji dan Olympus, hadirlah Olympus PEN-F yang banyak kemiripan dengan kamera Olympus buatan tahun 1960 namun dengan fitur terkini dan modern. Belum lama diluncurkan, kamera seharga USD 1200 ini meraih banyak atensi fotografer khususnya yang menyukai foto street atau sekedar menjadikan kameranya sebagai collector edition. Bagaimana kehandalan kamera ini dan apa bedanya dengan lini OM-D yang juga populer?

4953358856

Sebagai info awal, segmentasi kamera ini pada dasarnya adalah untuk segmen hobi, consumer hingga enthusiast. Bedakan dengan OM-D yang ditujukan lebih ke semi-pro, dengan pembeda utama adalah fitur weathersealing yang absen di kelas PEN-F. Berbekal sensor baru 20 MP Micro Four Thirds tanpa low pass filter, 5 axis stabilisasi yang juga bisa dipakai untuk merangkai satu foto 50 MP dengan sensor shiftnya, serta kemampuan 10 fps (max 1/8000 detik) membuat PEN-F tidak bisa dianggap sebelah mata oleh siapapun.

1233349693

Kamera berbahan campuran almunium dan magnesium ini dipenuhi aneka roda dan tombol di sekeliling bodinya, juga punya jendela bidik OLED yang jernih, serta LCD lipat putar yang sudah mendukung sentuhan. Di bagian depan ada roda untuk mengatur semacam efek kreatif termasuk foto hitam putih. Ada 4 custom mode yang disediakan di roda dial, sehingga bisa semakin banyak user setting yang bisa disimpan.

2708840194

Tersedia dua pilihan desain, yaitu kombinasi hitam silver dan full hitam semua. Dibanding OM-D seperti EM5 atau yang lain, PEN-F ini menang di megapiksel (20 MP vs 16 MP). Selain sensornya, perbedaan lain lebih ke desain fisik seperti cara melipat layar, lalu EM10 punya built-in flash, beberapa OM-D ada colokan mic dan ini tidak ada di PEN F. Tapi kami secara umum sangat menyukai PEN-F karena menyempurnakan semua PEN lama seperti EP5, EPL7 dan sebagainya yang kurang sukses penjualannya. Btw tahun peluncuran PEN-F ini adalah bertepatan dengan 80 tahun hadirnya Olympus di kancah fotografi dunia.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus hadirkan OM-D EM10 generasi kedua

Kabar menarik dari kubu kamera mirrorless, kali ini dari produsen yang terkenal dengan seri kamera klasiknya yaitu Olympus. Seri OM-D terjangkau yaitu E-M10 telah dibuatkan generasi keduanya, atau bernama lengkap Olympus OM-D E-M10 II. Masih mengandalkan sensor 4/3 dengan 16 MP, E-M10 II ini disempurnakan dengan 5 axis stabilizer dan 4K timelapse video. Keren? Simak selengkapnya fitur-fitur kamera retro klasik ini..

Olympus EM10 II

Olympus E-M10 II sepintas mirip dengan E-M5 dan E-M1, walau perbedaan utamanya adalah E-M10 tidak dilindungi oleh sistem weatherealed sehingga tidak untuk dipakai saat cuaca jelek (hujan, misalnya). Walau termasuk seri termurah, material bahan E-M10 II dari bahan logam berkualitas, dengan roda kendali yang besar dan mantap saat diputar. Layar LCD yang bisa dilipat ini juga sudah berjenis touchscreen, bahkan bisa dipakai untuk memidahkan area fokus saat mata kita melihat di jendela bidik.

OMD EM10 top

Fitur dan spesifikasi E-M10 II :

  • 16 MP, LiveMOS 4/3, bisa ISO 25.600
  • peredam getar 5-axis (yaw/pitch/roll/vertical/horizontal)
  • menembak kontinu hingga 8,5 fps
  • jendela bidik OLED 2,3 juta dot (0,62x)
  • 60-1/16000 detik (sync flash 1/250 detik)
  • built-in flash, 5,6 meter ISO 100
  • WiFi
  • fitur khas Olympus : berbagai filter efek, live-bulb dan live-time

Kekurangan dari kamera E-M10 II adalah masih memakai teknologi AF deteksi kontras, sehingga kurang handal untuk memotret aksi yang bergerak/berpindah dengan cepat. Selain itu sebagaimana layaknya mirrorless pada umumnya, sektor baterai juga jadi kendala. Walau masih termasuk sedang, kemampuan baterai untuk 320 kali jepret terasa kurang aman kalau untuk jalan-jalan seharian.

Olympus EM10 back

Harga Olympus E-M10 II adalah USD 650 bodi saja, atau USD 800 dengan lensa kit mungil 14-42mm powerzoom. Bodi bisa pilih yang hitam semua atau hitam dan silver.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus perbarui lini OM-D dengan E-M5 mark II

Sebelumnya Olympus E-M5 adalah produk premium yang cukup laris, hingga hadirnya E-M1 yang lebih ditujukan untuk pro. Kali ini Olympus membuat generasi penerus dari E-M5 yang diberi nama OM-D E-M5 mark II. Tetap dengan ciri desain retro berbahan magnesium alloy yang lengkap dengan jendela bidik, banyak peningkatan dilakukan Olympus, diantaranyaTruPic VII Image Processing dan layar sentuh  yang bisa dilipat.

olympus-om-d-e-m5ii-camera

Bodi Olympus E-M5 mark II sudah dirancang tahan debu dan cipratan air serta suhu rendah, seperti di E-M1. Didalamnya terdapat sensor yang tetap sama yaitu 16 MP dengan sistem peredam getar 5 axis yang diklaim bisa meredam hingga 5 stop. Jendela bidiknya kini lebih detail dengan 2,3 juta titik dan kemampuan videonya bisa full HD 60p setara dengan 77 Mbps yang berkualitas tinggi. Fitur baru yang cukup unik adalah kemampuan menggabungkan delapan foto hingga menjadi sebuah foto 40 MP.

oly_e-m5ii_bk_t001

Tak ketinggalan fitur Wifi juga disematkan di bodi kamera E-M5 mark II ini. Kamera standar micro four thirds ini tersedia warna hitam yang berkesan modern dan hitam kombinasi silver yang terlihat klasik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji bikin X-T1, Olympus keluarkan OM-D EM-10

Seru nih, hanya dalam waktu dua hari, dua kamera baru yang cukup mirip telah diumumkan kehadirannya. Keduanya adalah kamera mirrorless yang keren, yaitu Fuji X-T1 dan Olympus OM-D EM-10. Fuji X-T1 hadir dengan desain yang berbeda dengan seri X sebelumnya, kini lebih mirip seri OM-D milik Olympus dengan adanya ‘tonjolan’ di bagian atas, sebagai tempat untuk jendela bidik. Selain itu X-T1 dipenuhi kendali ala kamera jadul yang perlu diputar ke angka tertentu, seperti ISO, shutter dan kompensasi eksposur. Olympus sendiri membuat OM-D EM10 sebagai kamera paling terjangkau dari seri OM-D dan harganya bisa bersaing langsung dengan Olympus Pen. Walau Fuji X-T1 dan Olympus EM10 tidak bisa diadu head-to-head secara langsung, tapi keduanya menarik untuk sama-sama diulas.

xt1-vs-em10

Fuji X-T1

Respon positif langsung menyebar di internet bahkan saat kamera Fuji X-T1 baru dirumorkan kehadirannya. Alasannya karena Fuji dibilang sukses meramu strategi yang berorientasi pada fotografer, misal kualitas sensor X-trans ukuran APS-C, bodi yang berkualitas tinggi, dan lensa yang juga bagus. Line up Fuji mirrorless sebenarnya sudah cukup lengkap dari X-Pro1, X-E1 dan X-E2, X-A1 dan X-M1 namun Fuji kembali menambah pilihan dengan mengeluarkan X-T1 yang desainnya agak berbeda, lebih retro klasik dan harganya cukup tinggi.

xt1_top_18-55mm

Fitur utama Fuji X-T1 :

  • sensor APS-C X-Trans 16 MP
  • phase detect AF
  • bodi magnesium tahan cuaca
  • 8 fps
  • jendela bidik OLED 2,3 juta piksel
  • roda pengatur ISO, shutter dan eksposur comp.
  • WiFi

Harga kamera ini 15 jutaan bodi saja, cukup tinggi ya..

Olympus OM-D EM-10

Olympus OM-D EM10

Sebetulnya Olympus menargetkan kamera OM-D itu berada di atas seri Pen, dengan fitur kelas atas dan bodi tahan cuaca. Diawali dengan EM5 (12 jutaan) dan kemudian hadir EM-1 (15 jutaan), agak mengejutkan saat hari ini Olympus membuat lagi OM-D ketiga yaitu EM-10 yang akan dijual 8 jutaan saja. Tentunya EM-10 tidak membawa semua kehebatan di seri OM-D sebelumnya, misalkan untuk menekan harga maka tidak ada phase detect dan weather seal di bodi EM-10. Tapi layaknya kamera OM-D lain, EM-10 punya fitur utama seperti :

  • sensor 16 MP dengan Micro Four Thirds mount (2x crop)
  • bodi magnesium
  • layar lipat dan layar sentuh
  • in bodi stabilizer (3 axis)
  • 8 fps
  • built-in flash (pertama di seri OM-D) dan bisa mentrigger flash eksternal
  • WiFi

Kedua kamera ini tentu bukan berada di kasta yang sama, karena Fuji X-T1 termasuk kamera kelas elit dengan bodi mantap dan fitur canggih, sedangkan OM-D EM-10 adalah kamera OM-D ekonomis untuk mereka yang perlu kamera berkualitas khas OM-D namun merasa E-M5 (apalagi E-M1) terlalu mahal. Keduanya sama-sama kamera mirrorless yang matang dalam arti baik Fuji dan Olympus cukup banyak pengalaman dalam membuat kamera yang tepat dalam hal kualitas, ergonomi dan lensanya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review kamera mirrorless Olympus Pen E-PL5

Kali ini kami akan menyampaikan review untuk kamera Olympus E-PL5 dengan lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 yang dipasaran di jual di harga 7 jutaan.  Apakah kamera yang harga dan fiturnya berimbang dengan rata-rata kamera DSLR pemula ini mampu mengesankan anda? Kita simak saja ulasannya..

Kamera yang diuji kali ini termasuk kelompok mirrorless compact, cirinya ukurannya termasuk kecil (sedikit lebih besar dari kamera saku umumnya), sensor ukuran besar (aspek rasio 4:3, crop factor 2x) dan bisa menerima lensa apa saja dengan mount Micro 4/3. Bagi yang belum begitu mengenal kamera mirrorless disarankan membaca juga artikel ini. Sekedar mengenal posisi kamera ini di lini Olympus Pen, E-PL5 adalah seri Lite (menengah), dibawah E-P5 sebagai kamera Pen kasta tertinggi. Dibawah E-PL5 ini masih ada seri yang lebih mendasar yaitu Pen-Mini dengan produknya E-PM2. Sebelum E-PL5 hadir, ada produk lama seperti E-PL3 (seperti biasa, orang Jepang sering melewatkan angka 4). Peningkatan dari E-PL3 ke E-PL5 diantaranya dalam hal megapiksel, ISO maksimum, kecepatan tembak dan ada layar sentuh.

Kita mulai saja. E-PL5 punya sensor yang sama dengan kamera kelas atas OM-D E-M5 yaitu LiveMOS 16.1 MP yang mampu mencapai ISO tertinggi 25.600. Beberapa fitur unggulan lain diantaranya :

  • punya fitur peredam getar, lensa apa saja bisa jadi lebih stabil (untuk foto dan video)
  • pengaturan manual PASM lengkap dengan mode dialnya
  • kecepatan tembak hingga 8 foto per detik
  • bodi desain retro, bahan logam kokoh, dapat ekstra grip, pilihan warna hitam, putih dan silver
  • full HD stereo
  • dibekali 12 Art filter dan 6 Art effect
  • layar lipat, ukuran 3 inci, layar sentuh kapasitif, touch AF shutter
  • ada dudukan lampu kilat, plus dapat lampu kilat mini (karena tidak ada built-in flash di bodi)

Tinjuan bodi dan lensa

Pertama yang akan di ulas tentu saja adalah tampak luar dan bagaimana rasanya kamera ini saat digenggam. Dilihat dari depan saat belum dipasang lensa tentu adalah mount dan sensor yang terlihat dominan, lalu di pojok atas ada lampu kecil untuk self timer maupun lampu bantuan fokus. Dari atas bisa dilihat ada dudukan lampu kilat eksternal (atau untuk aksesori lain misal jendela bidik elektronik), roda mode dial PASM dll, tombol jepret dan tombol on-off. Masih di atas tapi agak sedikit ke belakang ditemui tombol playback, tombol delete, colokan aksesori (AP2), tombol Fn, tombol magnify dan tombol langsung rekam video.

Olympus E-PL5 with lens

Di belakang ada layar LCD lipat yang aspek rasionya 16:9 sehingga terasa sekali dominasinya, tinggal tersisa sedikit ruang di sebelah kanan untuk aneka tombol dan roda kendali. Di sisi kanan ada pintu kecil untuk colokan mikro HDMI dan mikro USB, lalu di bawah ada pintu untuk baterai dan kartu SD, serta lubang untuk memasang tripod.

Olypus E-PL5 back

Saat digenggam, kamera berbobot 300 gram ini (belum termasuk lensa) terasa mantap karena cukup berat, ada grip di depan dan ada tonjolan untuk menahan jempol di belakang. Pengoperasian dengan satu tangan masih bisa selama tidak menekan tombol playback dan delete. Saat mencoba melipat layar LCD, kami temui sudut lipatannya sangat berguna karena bisa ke bawah (untuk memotret sambil mengangkat kamera ke atas) atau layar dilipat hingga menghadap ke atas (untuk low angle hingga selfie). Satu hal yang tidak bisa kita lakukan dengan layar ini adalah melipatnya ke dalam untuk melindungi layar saat kamera tidak dipakai.

Lensa M Zuiko 14-42mm

Lensa kit yang disediakan cukup kecil, punya rentang fokal 14-42mm (setara 24-84mm) dan rentang diafragma f/3.5-5.6 serta diameter filter 37mm. Di lensa tertulis jarak fokus minimum lensa ini adalah 25cm (cukup dekat untuk foto close-up) hingga infinity. Ada ring untuk manual fokus di lensa, tapi prinsip kerjanya adalah elektronik. Ada tuas untuk mengunci lensa juga, jadi misalnya lensa posisi terkunci lalu kamera dinyalakan akan ada pesan di layar untuk me-unlock lensanya (dengan cara memutar ke fokal 14mm).

Kinerja dan pemakaian

Kamera generasi modern, layaknya sebuah komputer rata-rata punya kinerja lebih baik berkat kemajuan teknologi prosesor didalamnya. Kamera E-PL5 ini juga terasa responsif mulai dari waktu start-up, shutter lag, shot-to-shot hingga melihat-lihat hasil foto semuanya terasa cepat. Urusan kecepatan fokus di kamera Olympus juga sudah dikenal cepat walau berbasis deteksi kontras saja. Ada beberapa mode auto fokus di kamera ini, termasuk fokus kontinu, manual fokus dan fokus dengan menyentuh layar. Di tempat agak gelap, kinerja auto fokus sedikit menurun tapi masih tergolong cepat, jarang sampai terjadi mis fokus (meleset). Kamera ini dengan jitu juga bisa mengenali wajah manusia sehingga bisa fokus langsung ke area wajah. Asyiknya, dengan satu sentuhan jari kita juga bisa memilih titik fokus sekaligus mengambil foto, fitur ini dinamai Touch AF shutter.

touch-af

Kecepatan tembak maksimum 8 foto per detik terasa sangat mantap, penulisan data ke kartu memori akan lebih terasa cepat dengan kartu yang kelas 10 atau lebih cepat. Di mode dial E-PL5 ada pilihan untuk rekam video, tapi walau posisi dial bukan berada disana kita tetap bisa memulai rekam video dengan menekan tombol movie. Sayangnya dari pengujian kami, rekaman video akan berhenti dan disimpan jadi satu file bila tombol jepret ditekan untuk mengambil foto. Setelah foto diambil dan disimpan, kamera akan otomatis lanjut merekam video dengan nama file baru. Menurut kami ini tidak praktis, di kamera lain umumnya saat sedang merekam video tiba-tiba tombol jeptret ditekan, maka foto diambil tapi video tetap lanjut merekam.

Untuk mengganti setting penting seperti eksposur (ISO, shutter, diafragma), lalu ukuran file foto, WB, metering dan sebagainya harus menekan tombol OK lalu navigasi lebih lanjut dengan tombol 4 arah (atas bawah dan kiri kanan). Tidak ada satu tombol yang menampilkan quick setting di LCD seperti kamera lain (atau kamera OM-D), padahal dengan layar sentuh semestinya lebih mudah mengganti setting dengan menekan layar, cukup disayangkan. Ada tombol INFO yang bisa dipakai untuk menampilkan detail setting di layar dan menampilkan live histogram. Tombol empat arah juga punya fungsi jalan pintas seperti kompensasi eksposur, memilih titik fokus, memilih mode flash dan drive mode/self timer. Unik dan hebatnya di kamera ini, hampir setiap tombol bisa dikustomisasi melalui menu. Jadi kita bisa mengganti fungsi default dari masing-masing tombol, lalu juga roda kendali serta tombol rekam video. Kamera ini bahkan bisa menyimpan setting favorit kita.

Custom menu E-PL5

Di menu, pengaturan lanjutan (Custom menu) disembunyikan dengan tujuan tidak dirubah oleh pemakai yang masih awam, tapi dengan membukanya kita akan bertemu setting yang sangat lengkap dan terbagi sampai 10 kelompok dari A sampai J, masing-masing punya peran untuk mengatur fokus, tombol, drive mode, display, eksposur, flash, warna WB, record/erase, movie dan utility. Disinilah kita bisa mengkustomisasi kamera ini sepuas-puasnya, bahkan lebih canggih daripada kamera DSLR dengan harga yang sama. Misalnya di kamera ini bisa lebih lanjut mengatur rentang histogram (default dari 0-255), live bulb, menjaga tone hangat di Auto WB, memilih dpi output, bagaimana kamera akan menghapus file bila foto yang diambil dengan setting RAW+JPG di-delete, hingga adanya kompensasi eksposur untuk setiap mode metering.

Di kamera juga tersedia banyak pilihan pop art dan bracketing, termasuk HDR. Ada juga fitur multiple exposure untuk menggabungkan dua foto jadi satu. Bagi yang senang memotret sesuatu yang jauh juga akan terbantu dengan fitur tele converter (2x digital zoom). Sayangnya tidak ditemui fitur sweep panorama atau timelapse di kamera ini. Sedikit kekurangan lain dari kamera ini yang kami temui adalah, setelah mengakses mode HDR BKT dan menentukan settingnya, kamera hanya mengambil tiga foto yang siap untuk digabung jadi HDR di komputer, bukannya digabung otomatis di kamera seperti fitur HDR di kamera lain.

Hasil foto

Contoh foto ini diambil dengan lensa kit M.Zuiko 14-42mm f/3.5-5.6 untuk sekaligus menguji kualitas lensa dan juga kemampuan ISO tinggi dari kamera dengan sensor Four Thirds ini. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link ke flickr di bawahnya foto.

ISO 1600 :

ISO 1600 di E-PL5

File asli

ISO 3200 :

ISO 3200 di E-PL5

File asli

Dari kedua contoh foto diatas tampak kualitas foto masih cukup baik di ISO 1600 dan ISO 3200, dengan noise yang masih cukup wajar. Hasil 100% crop dari foto di ISO 3200 adalah seperti ini :

p1010203-crop

Untuk contoh foto berikut ini diambil dengan lensa Lumix 45-150mm OIS, karena sebagai sesama anggota Micro Four Thirds, lensa milik Panasonic ini bisa juga dipakai di kamera Olympus. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link flickr di bawahnya foto.

Foto diambil dengan aneka efek art filter :

Miniatur efek

File asli

Art efek

File asli

BW efek

File asli

Kesimpulan

Persaingan ketat di segmen kamera mirrorless bisa disederhanakan seperti adu kamera dengan sensor Four Thirds dan sensor APS-C (seperti Sony NEX, Fuji X, Canon EOS-M dan Samsung NX) yang juga punya bermacam produk andalan. Untuk tetap bisa kompetitif, Olympus perlu strategi cerdas dalam membuat segmentasi kameranya. Olympus E-PL5 sebagai kamera mirrorless compact berhasil memberi bukti bahwa kamera canggih dengan hasil foto baik dan kinerja tinggi tidak harus dibandrol terlalu mahal. Berada di segmen menengah, E-PL5 termasuk punya value tinggi dan sudah matang dalam hal teknologi. Bodi yang mantap dan ergonomi yang pas membuatnya cukup ringkas untuk dipakai namun tidak mudah selip dari genggaman. Penyempurnaan dari era E-PL3 cukup banyak, fakta kalau kamera ini memakai sensor milik OM-D EM-5 dan layar sentuh juga tidak bisa diabaikan. Kinerja kamera seperti auto fokus dan in body stabilizer juga tidak ada keluhan, bekerja baik sesuai ekspektasi kami. Kami juga terkesan dengan banyaknya fitur kelas atas yang dimiliki E-PL5 seperti live bulb, aneka bracketing, multi exposure, DOF preview dan bermacam art filter yang siap pakai. Selain itu, lensa kit yang dimiliki juga termasuk punya kualitas optik yang baik, sepintas yang melihat kecilnya tidak menyangka kalau hasil fotonya tajam.

Dengan segala kelebihan diatas, kami juga mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti lampu kilat yang terpisah dari bodi. Walaupun dalam paket penjualan lampu kilat ini disertakan juga, tapi tetap akan lebih repot bila kita harus selalu membawanya dan memasangnya bila perlu. Belum lagi dengan memasang flash maka aksesori lain seperti jendela bidik elektronik jadi tidak bisa dipasang juga. Lalu yang namanya layar LCD jadi sorotan kritik kami karena beberapa hal, misal aspek rasio 16:9 itu tidak umum dan memakan ruang belakang kamera (sehingga tombol dan roda kendali terdesak di sisi kanan), lalu sistem layar lipat yang tidak umum (walau tetap kami apresiasi daripada tidak bisa dilipat sama sekali) dan kerapatan piksel LCD yang dibawah rata-rata (hanya 400 ribuan piksel). Dari kinerja kamera, yang kami keluhkan hanya rekaman video yang harus berhenti saat kamera dipakai untuk mengambil foto. Harapan lain yang belum ada di kamera ini sebutlah misalnya auto ISO yang biasa saja (tidak bisa dikustomisasi lebih lanjut untuk prioritas shutter speed), tidak ada timelapse dan sweep panorama, tidak ada WiFi dan tidak bisa menggabungkan otomatis tiga foto hasil HDR kamera.

Kesimpulan akhir, kamera Olympus E-PL5 plus lensa kit, dengan segala kelebihan dan fiturnya sebetulnya cukup sepadan dengan harga jualnya di kisaran 7 jutaan. Anda akan mendapat kamera berdesain keren, hasil foto bagus, kinerja tinggi dan bisa banyak kustomisasi tombol dan fitur lanjutan. Tinggal apakah anda bisa menerima hal-hal kecil yang menjadi catatan kami (seperti lampu kilat terpisah, layar LCD dengan aspek rasio yang tidak umum, issue rekam video putus saat ambil foto dan HDR yang tidak bisa digabung). Jangan lupakan juga pilihan lensa yang cukup banyak baik dari Olympus, Lumix maupun produsen lensa pihak ketiga akan jadi faktor tambahan untuk memilih sistem kamera ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera kelas pro untuk Micro Four Thirds : Olympus OM-D E-M1

Hari ini Olympus meluncurkan kamera seri OM-D yang bernama Olympus E-M1, sekaligus menggantikan posisi produk sebelumnya E-M5 sebagai pengisi kasta tertinggi dari jajaran kamera Micro Four Thirds dari Olympus. Berbekal peningkatan dalam performa auto fokus dan kendali eksternal, kamera seharga 14 jutaan ini juga sekaligus menjadi penerus dari DSLR kelas atas di masa lalu (Olympus E-5) karena memang tidak akan ada lagi DSLR yang akan dibuat oleh Olympus.

oly-e-m1

Selamat tinggal DSLR. Kamera mirrorless E-M1 ini bentuknya mirip DSLR mini, dan siap menjadi kamera idaman fotografer pro dengan spek utama berupa :

  • sensor Four Thirds 16 MP Live MOS (2x crop factor)
  • ISO 100-25.600
  • 5 axis stabilizer
  • shutter 60 detik sampai 1/8000 detik
  • flash sync 1/320 detik
  • 9 frame per detik
  • WiFi built-in
  • 2 mode HDR

e-m1-top-miring

Dan berikut adalah itur unggulan dari Olympus E-M1 :

Bodi mantap

Meski cukup kecil, kamera dengan bodi magnesium alloy ini tangguh dan tahan cuaca, tersedia banyak opsi kustomisasi berkat banyaknya tombol/roda kendali di sekeliling kamera ini. Terdapat juga  jendela bidik elektronik yang besar serta layar LCD lipat yang berjenis layar sentuh. Dilihat dari segala sisi pun kamera bergaya retro ini memang tampak keren..

Auto fokus cepat

Auto fokus tercepat dengan 37 titik detektor fasa di sensor, atau 81 area detektor kontras. Lensa Zuiko Digital (atau lensa yang didesain untuk DSLR Olympus) akan bisa menikmati cepatnya auto fokus deteksi fasa layaknya DSLR (namun hanya bisa manual fokus saat merekam video). Sebelumnya, kinerja auto fokus lensa Zuiko mengalami kompromi saat dipasang di kamera Micro 4/3 (memakai adapter). Sedangkan lensa Micro 4/3 (namanya adalah lensa M.Zuiko) akan menikmati deteksi kontras dan deteksi fasa di kamera ini, tergantung mode fokusnya. Di mode fokus kontinu maka yang dipakai adalah deteksi fasa. Performa fokus kontinu kamera ini menyamai kamera DSLR. Di mode fokus single atau rekam video yang dipakai adalah deteksi kontras.

Hasil foto terbaik diantara semua kamera Olympus

Setidaknya itulah klaim dari press release kamera ini, dengan dukungan prosesor TruePic VII dan dihilangkannya low pass filter, membuat hasil foto E-M1 tentu akan lebih tajam. Hebatnya penajaman foto bersifat adaptif, diberikan seperlunya tergantung lensa dan angka bukaan lensa yang dipilih. Soal pengaturan foto pun bisa dilakukan di kamera, seperti mengatur kurva shadow dan highlight, sera pengaturan lain seperti gamma, hue dan saturasi untuk hasil foto yang ‘matang’ tanpa perlu mengedit lagi di komputer. Apalagi Art Filter di kamera Olympus terkenal lengkap dan berguna.

Jendela bidik elektronik terbaik

Jendela bidik di E-M1 ini cerdas dan bisa mengatur tingkat kecerahan tampilan sesuai cahaya lingkungan di luar. Dengan begitu saat di tempat gelap, tampilan jendela bidik tidak ‘dipaksakan’ untuk terang dan akan terlihat lebih alami seperti melihat jendela bidik optik. Kerapatan piksel di jendela bidik ini punya 2,35 juta titik sehingga detilnya luar biasa tajam. Selain itu tidak ada lag yang terlihat di jendela bidik ini, jadi mirip seperti melihat langsung aslinya.

Pilihan kit lensa profesional M.Zuiko 12-40mm f/2.8

Olympus E-M1 with 12-24mm

Bila mencari lensa yang fokalnya setara dengan 24-80mm bukaan konstan f/2.8 kali ini Olympus sudah meluncurkan lensa profesional M.Zuiko 12-40mm f/2.8 yang diameter filternya 62mm. Lensa 14 elemen dalam 9 grup ini tahan debu, cuaca dan beku. Kemampuan makronya lumayan dengan jarak minimum 20cm. Sebagai pelengkap lensa ini, di tahun depan juga akan keluar lensa yang setara dengan 80-300mm yaitu M.Zuiko 40-150mm f/2.8

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..