Akhirnya Samsung NX10 diluncurkan, plus 3 pilihan lensa

Samsung membuktikan keseriusannya dalam dunia fotografi dengan menepati janjinya untuk membuat kamera berformat baru, dengan konsep lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable), sensor ukuran APS-C dan tanpa mirror (cermin) seperti pada kamera DSLR. Sambutlah produk Samsung NX10 sebagai varian baru dalam dunia kamera digital, melengkapi kiprah Panasonic dan Olympus yang sebelumnya sudah membuka babak baru dengan kamera Micro Four Thirds.

Format EVIL (Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses) camera mungkin adalah format kamera yang jadi impian setiap orang. Ukuran yang kecil, bobotnya ringan, hasil foto yang baik dan keleluasaan berganti lensa sudah bisa memberikan gambaran betapa idealnya format ini. Format Micro Four Thirds, terlepas dari harga jualnya, adalah format baru yang disambut positif oleh kalangan fotografer dan punya masa depan cerah. Melihat kesuksesan format Micro 4/3 ini (yang memakai sensor Four Thirds), menginspirasi Samsung untuk membuat format serupa, namun dengan sensor yang sedikit lebih besar.

Samsung NX10
Samsung NX10

Apa yang membuat Samsung NX10 ini begitu dinantikan? Tak lain adalah karena dipakainya sensor CMOS ukuran APS-C  beresolusi 14,6 MP sehingga kualitas gambar kamera ini diyakini akan sama seperti hasil kamera DSLR pada umumnya. Urusan noise di ISO tinggi juga bisa dijaga tetap rendah bahkan NX10 ini bisa mencapai ISO 3200. Sebagai kamera tanpa cermin, NX10 mengandalkan prinsip live-view murni melalui LCD ataupun viewfinder, sementara urusan auto fokus memakai prinsip contrast-detect saja. Samsung mengklaim proses auto fokus bisa dibuat sangat cepat berkat  DRIMe II Pro engine yang memakai algoritma AF tingkat lanjut. Urusan lensa, NX10 ini memakai mount lensa khusus meski tersedia adapter untuk lensa Pentax. Layar LCD berjenis Amoled ukuran 3 inci dan viewfinder beresolusi 941 ribu piksel menjadi andalan Samsung juga, ditambah tentunya fitur HD movie sebagai fitur wajib kamera modern juga disediakan di NX10 ini.

Hadir sebagai pilihan awal, tiga buah lensa buatan Samsung yang cukup mengagumkan :

  • lensa zoom standar 18-55mm f/3.5-5.6 IS (ya, IS itu Image Stabilizer layaknya lensa Canon)
  • lensa zoom tele 55-200mm f/4.0-5.6 IS
  • lensa prime 30mm f/2.0 (diameter filter 43 mm, cukup mungil..)

Harga Samsung NX10 belum diumumkan, tapi kurang lebih akan sama dengan harga Lumix GH1 di kisaran 10 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax K-x, DSLR super lengkap yang terjangkau

Saat bicara akan kamera DSLR yang harganya terjangkau, tentu kita terbayang akan kamera DSLR berukuran kecil yang punya kinerja pas-pasan dan fitur seadanya. Sadar kalau persaingan DSLR di kelas pemula semakin ketat, Pentax pun merasa perlu untuk membuat kejutan pada penerus dari K-m (K-2000), produk DSLR basic dari Pentax yang ditujukan untuk mengisi segmen market kelas 6 jutaan. Hal itu terbukti pada hari ini akhirnya Pentax mengumumkan kelahiran Pentax K-x, sang penerus dari Pentax K-m,  sebuah DSLR mungil yang semestinya masih tergolong kelas basic namun ternyata punya fitur super lengkap dan kinerja tinggi.

Pentax k-x
Pentax K-x (credit : stevesdigicams)

Inilah alasan mengapa kami menyebutnya DSLR super lengkap dan berkinerja tinggi :

  • Sensor CMOS berformat APS-C 12.4 MP dengan sensor-shift Shake Reduction hingga 4 stop, plus anti debu.
  • Live view dengan metoda phase dan contrast detect, lengkap dengan histogram.
  • Face detection yang mampu mendeteksi wajah hingga 16 wajah sekaligus.
  • Memakai modul auto fokus mutakhir SAFOX VIII dengan 11 titik AF, 9 diantaranya cross type.
  • Kemampuan merekam video HD 1280 x 720 piksel, 24 fps, M-JPEG.
  • ISO yang amat lebar dari 200 – 6400, bahkan bisa ditingkatkan menjadi ISO 100 – 12800 bila perlu.
  • Kinerja shutter yang tinggi dengan burst 4.7 fps, top speed 1/6000 detik dan usia shutter hingga 100 ribu kali jepret.
  • Fitur HDR yang menggabung tiga foto jadi satu foto HDR tanpa bantuan komputer.
  • Ditenagai baterai berjenis AA, mampu dipakai hingga 1900 kali dengan baterai AA Lithium dan 1100 kali dengan baterai AA alkaline.

Dalam paket penjualannya, Pentax K-x dibundel dengan lensa kit. Tersedia tiga pilihan lensa kit yang bisa dipilih, yaitu :

  • single kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm($649.95)
  • dobel kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm dan smc PENTAX DA L 50-200mm ($749.95)
  • dobel kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm lens and the smc PENTAX DA L 55-300mm ($849.95)

Dengan hadirnya Pentax K-x, maka peta kompetisi DSLR papan bawah semakin menarik. Diatas kertas, diantara semua pilihan yang ada, praktis Pentax K-x menjadi pemenang dalam hal fitur dan kinerja. Hal ini karena strategi Pentax yang berbeda dari produsen lain, dimana Pentax justru membenamkan fitur kelas berat pada kamera ringan ini sehingga sulit dicari kekurangannya. Pesaing yang kelasnya sama umumnya memakai sensor 10 MP, 7 titik AF, tanpa fitur movie dan tanpa live view. Belum lagi soal ISO yang bisa hingga ISO 12800 dan dukungan wireless flash. Soal kinerja pun pesaing umumnya berkisar di 3 fps untuk burst dan 1/4000 detik untuk shutter tercepatnya. Namun hal paling mengesankan pada Pentax K-x ini menurut kami adalah disediakannya fitur HD movie yang tadinya hanya diberikan di DSLR kelas 8 jutaan (seperti EOS 500D dan Nikon D5000), dan juga pemakaian 11 titik AF (pada Pentax K-m memakai 5 titik) yang mana 9 diantaranya berjenis cross type, sungguh luar biasa. Adapun hal-hal yang sama saja seperti pesaing diantaranya ukuran dan resolusi LCD (2,7 inci), viewfinder tipe mirror dengan 0.85x dan 96% coverage, dan khususnya adalah dimensi kamera yang kecil dan ringan (meski bobot K-x tergolong berat dengan 580 gram).

Pentax K-x ini dalam urusan HD movie dan resolusi sensor bisa dibilang berhasil mengungguli semua kompetitor yang ada , bahkan dalam hal lainnya Pentax K-x mampu mengalahkan pesaing seperti :

  • Canon EOS 1000D : kalah dalam hal jumlah titik AF (7 titik) dan kinerja secara umum (mungkin penerus dari 1000D bisa menjadi pesaing paling imbang dari K-x).
  • Nikon D3000 : kalah dalam hal  live view dan kinerja secara umum.
  • Sony A230 : kalah dalam  live view, jumlah titik AF (9 titik) dan kinerja secara umum.
  • Olympus E-450 : kalah dalam hal jumlah titik AF (hanya 3 titik), tanpa stabilizer di bodi dan kalah untuk kinerja secara umum.

So, bisa jadi Pentax K-x ini bakal jadi kamera DSLR kelas murah yang terbaik di atas kertas. Sayangnya Pentax selalu kalah dalam hal promosi dan beriklan, serta dukungan lensa Pentax di tanah air tidak sebanyak lensa lain seperti Canon atau Nikon.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilihan lensa ekonomis untuk DSLR pemula

Banjirnya produk DSLR pemula (entry level) telah membawa perubahan pada segmentasi pembeli kamera digital. Bila dahulu mereka yang punya DSLR kebanyakan adalah para fotografer yang sudah punya koleksi lensa lama, maka kini banyak pemilik DSLR (pemula) yang baru pertama kali bergabung di dunia DSLR. Dengan demikian, umumnya kelompok ini barulah berkenalan dengan satu macam lensa, yaitu lensa kit yang disediakan dalam paket penjualan. Kalaupun sedang berencana membeli DSLR, adakalanya mereka bingung apakah akan membeli DSLR plus lensa kit ataukah DSLR body-only.

lensaSebelum membahas lebih jauh, kami luruskan dahulu bahwa lensa kit yang umum dijadikan paket penjualan DSLR adalah lensa zoom dengan rentang fokal yang setara dengan 28-85mm, dengan bukaan f/3.5-5.6 dan berbahan plastik. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan lensa kit semacam ini. Harga jualnya yang tergolong murah tidak berarti lensa kit memakai elemen optik murahan. Harga murah karena desain lensa kit ini memakai bukaan variabel (tidak konstan) yang tergolong kecil, pemakaian material bodi dan mounting dari bahan plastik, dan minimnya fitur profesional seperti distance marking skale. Namun lensa kit masa kini sebagian sudah dilengkapi dengan fitur yang bermanfaat seperti motor fokus dan stabilizer optik.

Bila  anda sedang mempertimbangkan lensa lain selain lensa kit, atau saat anda hanya ingin membeli DSLR body only dan perlu mencari lensa ekonomis yang bisa diandalkan, berikut kami hadirkan beberapa jenis lensa ekonomis dengan harga dibawah 5 juta, sebagai bahan pertimbangan anda.

Lensa fix/prime

Lensa dengan fokal tetap memang jadi unggulan utama karena ketajaman dan bokehnya yang tak tertandingi oleh lensa zoom, maka itu wajar bila ada yang menganggap lensa prime merupakan lensa wajib untuk fotografer. Selain itu lensa fix jauh lebih murah bila dibanding dengan lensa zoom, karena hanya memiliki sedikit komponen optik. Namun memakai lensa fix tentu perlu banyak ekstra usaha untuk berganti komposisi karena anda tidak bisa bermain zoom. Fokal lensa fix yang cukup populer adalah lensa prime dengan fokal ‘normal’ 50mm, meski ada juga fix yang wide hingga fix yang (sangat) tele. Meski demikian, untuk urusan potret wajah, anda bisa memilih lensa fix dengan fokal berapapun asal diatas 35mm (dibawah 35mm sudah tergolong wideangle yang kurang cocok untuk potret wajah karena efek distorsi lensa).

Contoh lensa prime 50mm f/1.8
Contoh lensa prime 50mm f/1.8

Lensa fix yang populer karena harganya adalah lensa normal (sekitar 50mm) dengan bukaan berkisar antara f/1.8 hingga f/2.8 karena secara ukuran bukaan diafragma sudah cukup besar (atau biasa disebut lensa cepat) sehingga sudah sangat handal dipakai di kondisi low-light, meski bukaannya tentu tidak sebesar lensa fix kelas mahal seperti f/1.4 apalagi f/1.2.

Pilihan lensa prime normal dengan harga terjangkau diantaranya :

  • Canon EF 50mm f/1.8 II (1 jutaan)
  • Nikon AF 50mm f/1.8 (1 jutaan – tidak bisa auto fokus bila dipakai di D40-D5000)
  • Nikon AF-S 35mm f/1.8 DX (3 jutaan, bisa autofokus di D40-D5000)
  • Sony SAL 50mm f/1.8 DT (2 jutaan)
  • Pentax DA 40mm f/2.8 (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 35mm f/3.5 macro

Lensa zoom – tele

Bila seseorang telah memiliki sebuah lensa kit, umumnya telah merasakan kurangnya kemampuan telephoto dari lensa kit yang memang terbatas. Maka itu untuk memenuhi hasrat ingin menjangkau lebih jauh, pemilik DSLR plus lensa kit lalu mencari lensa kedua yang berjenis lensa zoom tele. Lensa zoom tele artinya lensa zoom dengan variabel fokal yang berkisar di rentang tele, biasanya dimulai dari 50mm hingga 400mm. Tidak semua lensa tele itu berjenis lensa zoom, ada juga lensa tele yang fix di suatu fokal tertentu, misal 500mm. Dalam hal ini kami pilihkan lensa zoom tele supaya praktis dan sekaligus kami pilihkan yang harganya juga terjangkau. Diantara beberapa pilihan lensa zoom tele, rentang yang dianggap cukup ekonomis adalah rentang 50-200mm dan 70-300mm.  Lensa zoom semacam ini punya bukaan diafragma yang variabel sehingga bisa dijual lebih murah dan ukurannya lebih kecil, bedakan dengan lensa zoom tele yang punya bukaan konstan f/2.8 atau f/4 yang berukuran besar dan harganya mahal.

Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)
Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)

Pilihan lensa zoom tele ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS (2,5 jutaan)
  • Nikon AF-S 55-200mm f/4-5.6 VR (2,5 jutaan)
  • Pentax DA 50-200mm f/4-5.6 ED (2,5 jutaan)
  • Sony SAL 55-200mm f/4-5.6 DT (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 40-150mm f/4-5.6 (2,5 jutaan)
  • Sigma APO 70-300mm f/4-5.6 DG macro (3 jutaan)
  • Tamron AF 70-300mm f/4-5.6 Di LD (2,5 jutaan)

Lensa zoom – all-round

Lensa zoom all-round atau all in-one diterjemahkan sebagai lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang efektif untuk segala keperluan dari wide hingga tele. Tak seperti lensa kit yang zoomnya umumnya pendek (3x), lensa zoom all-round dirasa lebih praktis dan lebih panjang (5-10x). Praktis karena cukup punya satu lensa sehingga mengurangi frekuensi berganti lensa hanya untuk mendapat fokal tertentu (apalagi bila sering berganti lensa beresiko masuknya debu ke dalam sensor), meski secara optik tentu semakin panjang zoom lensa maka ketajamannya juga akan semakin menurun. Meski tidak ada aturan baku, lensa zoom all-round ini biasanya bermula dari 18, 24 atau 28mm dan berakhir di 100 hingga 200mm. Bila anda memilih membeli lensa zoom all-round, maka lensa kit yang sudah anda miliki bisa dijual saja.

Kekurangan lensa zoom semacam ini adalah masalah bukaan lensa yang tidak mungkin dibuat besar dan konstan. Sebagai konsekuensi dari rumitnya susunan optik didalam lensa, maka desain aperture di dalam lensa semacam ini umumnya bermula dari f/3.5 di posisi wide-end dan mengecil hingga f/6.3 di posisi tele-end. Maka itu lensa ini biasa disebut dengan lensa lambat, dan tidak cocok dipakai di daerah kurang cahaya.

Lensa all-around Pentax 18-250mm
Lensa all-around Pentax 18-250mm

Pilihan lensa zoom all-round yang cukup terjangkau diantaranya :

  • Canon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS baru (4 jutaan)
  • Nikon AF-S 18-105mmf/3.5-5.6 DX VR (3.5 jutaan)
  • Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 (3 jutaan)
  • Sigma 18-200mm f/3.5-6.5 DC OS (4 jutaan)

Adapun lensa zoom all-round lain yang dijual di kisaran 5 hingga 10 juta, bagi sebagian orang masih tergolong ekonomis meski tak dipungkiri bagi sebagian lainnya sudah tergolong mahal. Padahal banyak lensa-lensa berkualitas di kisaran harga ini, maka sebagai bonus kami sampaikan juga beberapa produk lensa yang mungkin menarik minat anda bila dananya mencukupi :

  • Canon : EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (7 jutaan), EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM (6 jutaan)
  • Nikon : AF-S 18-200mm f/3.5-5.6 VR (8 jutaan), AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR (6 jutaan)
  • Olympus : Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5 II (6,5 jutaan),  Zuiko ED 12-60mm f/2.8-4.0 SWD (9,5 jutaan)
  • Pentax : DA 18-250mm f/3.5-6.3 ED SMC (6 jutaan)
  • Sony : 18-200mm f/3.5-6.3 DT (6 jutaan), SAL 16-105mm f/3.5-5.6 DT ( 7 jutaan)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Buyer guide : Delapan kamera prosumer super zoom baru

Kamera digital prosumer identik dengan kamera serius yang punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera prosumer hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera prosumer laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi kamera prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih. Salah satu cara prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.

Mengapa kamera prosumer?

Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobot prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.

Apa kekurangan kamera prosumer?

Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :

  • Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
  • Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
  • Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
  • Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.

Rekomendasi kami

Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera  prosumer super zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad. Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.

Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya

canon-sx1Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1 dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe. Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD 1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1 jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya.  Catatan : kami juga menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.

Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).

Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat

casio-ex-fh20Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20 dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072 x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan burst DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.

Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.

Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap

fuji-s1500Fuji memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik saja. Namun kami sengaja pilihkan Fuji S1500 ini dengan dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4 baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga dibawah tiga juta saja.

Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).

Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie

kodak-z1015lKodak tidak punya pilihan lain kecuali fokus di kelas prosumer, mengingat di kelas DSLR Kodak tidak punya produk apapun. Seperti biasanya, andalan Kodak adalah lensanya yang dipercayakan pada Schneider untuk kualitas terbaik. Kali ini Kodak hadir dengan Kodak Z1015IS, kembali memakai desain kamera yang lagi-lagi cukup aneh, dengan resolusi 10 MP, lensa 15x zoom (28-420mm) yang anehnya memakai bukaan diafragma f/3.5 pada posisi wide. Kamera berlayar LCD 3 inci ini sudah dilengkapi dengan fitur stabilizer optik,  RAW file format dan HD movie 30 fps.

Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan bukaan maksimal f/3.5 saja.

Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom

lumix-fz28Sukses Panasonic dalam merajai pasaran kamera prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama Lumix FZ28 yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) namun tetap bertahan di 18x zoom optik, serta memakai Venus 4 engine yang lebih bertenaga. Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas, pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan. Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 menjadi yang terbaik diantara kamera dengan zoom lensa sejenis.

Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.

Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom

niko-p90Kurang sukses dengan Coolpix P80, Nikon hadir kembali dengan penerusnya yaitu Coolpix P90 yang membuat kejutan dengan desain lensanya yang bermula dari 26mm dan berakhir di 624mm (atau 24x zoom optik). Tampak ambisius memang, terlebih Nikon kini mengusung sensor dengan resolusi 12 MP guna memenangkan persaingan. Kamera yang berdesain cantik ini punya tata letak tombol yang apik, layar LCD lipat dan sudah dilengkapi stabilizer pada sensornya.

Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini, belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu kilat pada kamera ini membuat upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.

Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax

pentax-x70Persaingan panas diramaikan oleh pendatang baru di kelas super zoom, yaitu Pentax yang menjajal peruntungannya dengan meluncurkan Pentax X70. Kamera super zoom berlensa 24x zoom ini juga punya rentang yang persis sama seperti Nikon P90 yaitu 26-624mm, bahkan sama-sama memakai sensor 12 MP. Bedanya Pentax ini tidak memakai LCD lipat, dan sudah mendukung movie HD meski hanya 15 fps. Soal stabilizer, Pentax juga menerapkan sistem sesnsor shift seperti halnya Nikon P90.

Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.

Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR

sony-cybershot-hx1Tibalah kita di produk terakhir yaitu Sony DSC-HX1 yang mengusung sensor CMOS 9 MP. Dengan target menyaingi langsung Canon SX1 dan Casio FH20, Sony ini pun mengemas lensa Sony G dengan kemampuan zoom 20x. Kode G sendiri menunjukkan pemakaian 6 blade diafragma (hampir menyerupai lensa DSLR dengan 7 blade) untuk kualitas lensa yang lebih baik. Fitur lainnya adalah layar LCD lipat berukuran 3 inci, sweep panorama, steady shot (stabilizer optik), stereo HD movie 1440 x 1080 dan Bionz prosesor (milik DSLR Sony Alpha).

Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file format, tapi begitulah kenyataannya.

Kesimpulan

tabel

Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada Olympus SP-590 dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi kali ini.

Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :

  • Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
  • Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x, 15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
  • Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR. Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10 MP.
  • Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya Canon SX1 yang memilikinya.
  • Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini. Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1 dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga gambar video akan tampak patah-patah.

Itulah daftar kamera prosumer yang bisa kami rekomendasikan untuk tahun ini, semoga bermanfaat. Diskusikan dengan kami melalui forum bila ada hal-hal yang kurang jelas, salam..


Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengenal fitur Image Stabilizer pada kamera digital

Prinsip kerja stabilizer
Prinsip kerja stabilizer

Satu hal yang kini banyak dijumpai pada kamera digital generasi baru adalah fitur ‘Image stabilizer’. Panasonic menamai fitur ini dengan istilah ‘Mega OIS’ sementara Canon menyebutnya dengan istilah Image Stabilizer/IS, Pentax dengan Anti Shake/AS, Nikon dengan Vibration Reduction/VR dan Sony dengan Super Steady Shot. Menyusul merk lain seperti Olympus, Kodak dan Fuji juga akhirnya mengikuti tren ini dengan melengkapi kameranya memakai stabilizer. Seberapa pentingkah fitur yang penstabil gambar ini dalam fotografi digital? Mari kita kenali lebih jauh tentang fitur ini.

Pada awalnya fitur stabilizer lahir dari banyaknya kekecewaan konsumen saat mendapati foto yang blur saat diambil dengan speed rendah ataupun posisi fokal lensa yang panjang. Dalam teori fotografi dinyatakan kalau foto yang bebas blur hanya bisa didapat dengan memakai shutter minimal satu per panjang fokal. Jadi saat memotret di posisi fokal lensa 80mm, dibutuhkan kecepatan shutter setidaknya 1/80 detik. Masalahnya saat cahaya sekitar kurang mencukupi, speed kamera bisa turun (misal 1/20 detik) dan resiko foto blur karena getaran tangan mulai muncul. Dengan stabilizer, diharap kamera bisa dipakai pada kecepatan  shutter 3 hingga 4 stop lebih rendah dari kamera tanpa stabilizer. Tentu saja bila kita memakai tripod, permasalahan resiko blur ini sama sekali tidak ada, tapi kan tidak selamanya orang memotret membawa tripod. Dari sinilah muncul ide membuat fitur stabilizer pada kamera, dengan prinsip kerja mekanik yang mendeteksi getaran tangan (melalui gyro sensor) dan mengkompensasi getaran tersebut (secara mekanik) sehingga mendapat foto yang tetap tajam.

Terdapat dua perbedaan prinsip kerja image stabilizer yaitu optical shift dan sensor shift.  Baik kedua standar ini bisa dijumpai pada kamera digital ataupun kamera DSLR. Pada sistem kamera (saku dan prosumer) uniknya satu merk kamera bisa memakai sistem stabilizer yang berbeda-beda di jajaran produknya. Misal Fuji menerapkan sistem sensor shift pada kamera Finepix S1500 namun memakai sistem optical shift pada kamera Finepix S100FS. Pada beberapa kamera tertentu, fitur stabilizer juga bisa diaktifkan saat mengambil gambar video, ini merupakan suatu nilai lebih karena video yang dihasilkan akan tampak lebih baik berkat berkurangnya getaran tangan.

Untuk sistem DSLR, produsen kamera terbagi dalam dua kelompok, yaitu menerapkan stabilizer pada bodi (berbasis sensor shift) dan pada lensa (berbasis lens shift). Merk yang memiliki sistem stabilizer pada bodi adalah Pentax (AS), Sony (Steady Shot) dan Olympus (IS). Untuk Nikon, Canon dan Panasonic (Micro Four Thirds) lebih memilih menerapkan sistem stabilizer pada lensanya. Terdapat untung rugi dari kedua pilihan ini : Sistem stabilizer pada bodi kamera DSLR memungkinkan memotret pada shutter lambat dengan memakai lensa apapun. Artinya semua lensa apapun yang dipasang pada DSLR jenis ini dapat langsung merasakan fitur stabilisasi gambar ini. Kekurangannya, untuk mengkompensasi getaran tangan saat memakai lensa tele, sistem semacam ini masih kurang efektif. Selain itu efek stabilisasi dengan menggerakkan sensor tidak bisa ditampilkan di viewfinder. Sebaliknya, sistem stabilizer pada lensa (VR-Nikon, IS-Canon, MegaOIS-Panasonic) memaksa pemakainya untuk memilih jenis lensa yang dilengkapi stabilizer, bayangkan jika kita perlu memiliki tiga lensa maka biaya yang harus dibayar jadi lebih mahal dibanding stabilizer pada bodi. Terlepas dari soal biaya, keuntungan sistem stabilizer di lensa ini adalah dalam hal kinerjanya yang lebih optimal baik untuk low-light ataupun tele photo.

Banyak dari kita menganggap fitur stabilizer ini begitu canggihnya dan berharap terlalu berlebihan hingga kadang kecewa karena hasil foto tetap blur meski fitur ini sudah diaktifkan.  Padahal tetap saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan sehingga fitur ini bekerja efektif, diantaranya :

  • Stabilizer yang ‘asli’ adalah yang memiliki elemen mekanik yang bergerak (optical shift atau sensor shift). Pastikan kamera yang akan dibeli bukan menggunakan stabilizer akal-akalan seperti digital stabilizer yang hanya menaikkan ISO/sensitivitas belaka.
  • Umumnya terdapat 3 modus kerja dari stabilizer : Active, normal dan off. Gunakan sesuai kondisi, active saat kita perlu gambar yang stabil saat membidik (misalnya dengan lensa panjang), normal untuk mengaktifkan stabilizer hanya saat shutter ditekan, dan off saat menggunakan tripod.
  • Stabilizer tidak otomatis membuat setiap foto yang diambil pada kecepatan rendah menjadi bebas blur. Setidaknya, resiko gambar menjadi blur akibat getaran tangan dapat diminimalisir. Perlu diingat bahwa stabilizer tidak dapat dipakai untuk pemotretan dengan shutter amat lambat. Jika kita hendak menggunakan shutter 1/2 detik atau lebih lambat, gunakan saja tripod.
  • Stabilizer hanya untuk mengkompensasi gerakan tangan (handshake) dan bukan gerakan objek (moving object). Objek yang bergerak saat difoto pada shutter lambat tetap akan tampak buram. Untuk itu gunakan sensitivitas / ISO tinggi atau (bila memungkinkan) mintalah si objek untuk diam sejenak.
  • Meski saat memotret fitur stabilizer sudah aktif namun usahakan tetap mempertahankan teknik dasar dalam memotret yang baik seperti menjaga kamera di posisi yang diam/steady, posisi tubuh yang stabil (jangan memotret sambil bergerak) dan menahan nafas saat menekan tombol rana.
  • Mengambil beberapa foto sekaligus secara beruntun (burst mode) bisa memperbesar peluang untuk mendapat foto yang tajam, maka itu untuk mendapat hasil yang terbaik ambillah sedikitnya tiga foto sekaligus lalu pilihlah yang terbaik.
  • Terakhir, jangan lupa mematikan fitur ini saat memotret memakai tripod.

Perlu tidaknya sebuah kamera memiliki fitur stabilizer ini tentunya kembali kepada masing-masing pemakainya. Apalagi kamera (atau lensa) yang dilengkapi sistem ini harganya cenderung lebih mahal dan relatif lebih boros daya baterai. Namun umumnya mereka yang sering memotret dalam kondisi cahaya minim tanpa tripod, atau mereka yang sering memotret dengan lensa panjang akan merasakan manfaat dari fitur ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

DSLR untuk pemula di 2009, pilih yang mana?

Tahun 2007-2008 menjadi tahun yang menyenangkan bagi fotografer pemula yang membeli DSLR kelas pemula atau entry-level. Betapa tidak, saat itu tercatat banyak produk baru yang harganya terus membuat semua pihak tercengang, karena terus turun hingga menembus angka psikologis (dibawah) lima juta. Seiring krisis ekonomi global di akhir 2008, harga kamera DSLR pun kembali merangkak naik. Kisaran harga DSLR kelas pemula kini berada di kisaran 6 sampai 7 juta, sementara DSLR kelas semi-pro kini berada di atas 10 juta. Hal ini menyebabkan mereka yang belum sempat membeli kamera di tahun lalu menjadi kecewa, karena asumsi harga yang terlanjur ditargetkannya bergeser satu hingga dua juta.

Kini tak perlu lagi menyalahkan masa lalu. Faktanya, saat ini kurs rupiah sekitar 11.000 dan harga DSLR ini sudah stabil di kisaran sekarang. Bila memang sudah ngebet ingin segera memiliki kamera DSLR baru, tak perlu menunggu harga turun lagi yang entah kapan. Berikut daftar DSLR entry level yang bisa dipertimbangkan untuk dibeli pada tahun 2009 ini. Sebagai catatan, di daftar kali ini kami tidak memasukkan DSLR kelas upper entry level yang salah satu cirinya bisa merekam HD movie, karena harga jualnya terlampau tinggi untuk ukuran DSLR murah (contoh : Canon EOS 500D dan Nikon D5000).

Inilah mereka, DSLR murah di tahun 2009, urut dari harga yang terendah :

  1. Sony Alpha A300 (5,7 jutaan)
  2. Canon EOS 1000D (5,8 jutaan)
  3. Pentax K-m (6 jutaan)
  4. Nikon D60 (6,7  jutaan)
  5. Olympus E-620 (7 jutaan)

Kesamaan mendasar

Faktanya, kelima kamera diatas adalah kamera DSLR entry level. Mereka berbagi sensor yang sama (kecuali Olympus dengan sensor agak lebih kecil berformat 4/3), bahkan mereka memakai resolusi yang sama-sama 10 MP (kecuali Olympus dengan 12 MP). Mereka sama-sama dilengkapi dengan lensa kit dalam penjualannya. Soal bodi kamera juga mereka memakai material plastik yang ringan dan kompak, menunjukkan ciri kamera kelas pemula (DSLR kelas pro memakai bodi magnesium alloy). Kinerja shutter secara umum juga sepadan, demikian juga dengan kemampuan ISOnya. Kelimanya juga dijual dengan harga dibawah 7 juta (kelimanya tidak memiliki fitur HD movie recording yang membuat harga DSLR jadi naik). Singkatnya, kelimanya sama-sama baik dan berkualitas, sehingga di awal kami sampaikan saja kalau DSLR manapun yang anda pilih pada dasarnya akan mampu memberikan hasil foto yang baik. Belum puas? Simak lebih jauh plus minus dari kelima kamera DSLR pemula dibawah ini.

Sony Alpha A300 : sarat fitur tak harus mahal

dslr-a300Bahkan Sony A200 pun dijual lebih murah lagi, paket lensa kit hanya 5 juta. Tapi kita tidak sedang membahas A200, kita membahas A300 disini. Sony A300 memakai sistem stabilizer pada bodi, layaknya Pentax dan Olympus. Sony Alpha A300 dan A350 menjadi pendobrak dunia DSLR modern dengan memberi solusi berbeda dalam menyaisati lambatnya auto fokus dalam mode live-view, dengan metoda sensor terpisah sewa bus jogja. Kecepatan fokus ini tidak menjadikan harga jual A300 lantas jadi tinggi, bahkan Sony A300 ini harganya termurah diantara kelima kamera disini. Bisa dibilang kalau Sony menerapkan strategi spec up, price down pada produk DSLR Alpha.

Plus

Inilah DSLR dengan kecepatan fokus tertinggi saat live-view. Bahkan, A300 ini punya layar LCD 2.7 inci yang bisa dilipat. O ya, urusan kinerja, A300 juga handal. Dengan modul AF 9 titik tentu kamera ini cocok untuk urusan jepret cepat seperti candid. Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Kemampuan shutternya standar dengan 3 fps unlimited, dan tersedia wireless flash commander untuk kreatifitas fotografi dengan lampu kilat. Bahkan menurut kami plus-plus ini semakin lengkap dengan harga jualnya yang juga wajar, bahkan cenderung murah, cukup dengan 5,7 juta plus lensa kit 18-70mm yang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Minus

Bila anda berharap live-view di A300 ini cepat, memang betul adanya. Tapi sensor terpisah membuat live-view ini tidak presisi, tidak dapat menampilkan histogram, dan tidak bisa di-enlarge untuk manual fokus assist. Sony juga masih berkutat mencari metoda tebaik untuk membuat foto JPEG dari Alpha series ini supaya bisa menyamai hasil JPEG kamera lain. Bila anda sering memotret JPEG, cobalah bereksperimen dengan setting JPEG yang paling baik menurut anda.

Dukungan lensa

Pada dasarnya dukungan lensa Sony SAL-DT dari Sony cukup lengkap dan berkualitas. Masalahnya di tanah air mungkin stoknya belum banyak, ditambah lagi tidak banyak lensa alternatif yang mendukung mount dari Sony. Bila anda cukup puas dengan lensa kit DT 18-70mm, sementara optimalkan saja dulu lensa tersebut. Bila ingin mencari lensa tele, pertimbangkan DT 75-300mm dan untuk widenya bisa coba DT 11-18mm.

Penerus Sony A300 di 2009

Sony sudah membuat produk pengganti A300 yang bernama A330, meski tidak ada perubahan signifikan dari upgrade tersebut. Oleh karena itu selama stoknya masih ada, kami masih merekomendasikan A300 saja.

Canon EOS 1000D : versi hemat dari EOS 450D

canon-eos-1000dEntah mengapa waktu itu Canon meluncurkan EOS 1000D (Rebel Xs) disaat penjualan EOS 450D sedang bagus-bagusnya. Tapi kini harga 450D sudah hampir sejajar dengan kamera DSLR semi-pro lawas seperti Nikon D80 sehingga 1000D ini jadi lumayan dicari oleh para budget-minded, apalagi 400D kini sudah semakin sulit dicari. EOS 1000D diluncurkan tengah tahun 2008 dengan paket lensa kit 18-55mm yang sudah dilengkapi IS. kamera ini memakai sensor CMOS 10 MP, dengan 7 titik AF dan mampu mencapai ISO 1600. Cukup mengejutkan saat mengetahui bahwa 1000D sudah dilengkapi dengan live-view, meski masih kalah mantap dari 450D. Kinerja shutter cukup standar dengan 3 fps, dan layar LCD juga standar dengan 2,5 inci.

Plus

Live view jadi andalan 1000D, beserta segala kelebihan lain dari Canon seperti kinerja noise reduction yang baik dan tone yang karakternya juga baik. EOS 1000D pun bisa dipasangkan dengan berbagai lensa EF, EF-S ataupun lensa alternatif merk lain. Kami tempatkan 7 titik AF sebagai nilai plus kamera ini, meski sebenarnya ini adalah down-spec bila dibanding dengan 400D yang punya 9 titik AF. O ya, EOS 1000D juga memakai sistem anti debu yang serupa dengan yang dipakai di 450D.

Minus

Sebagian fotografer tidak bisa menerima kenyataan kalau ada kamera DSLR tidak dilengkapi dengan spot metering, karena fitur ini penting untuk dipakai di kala kondisi pencahayaan amat sulit. Faktanya, 1000D tidak punya spot metering. Apakah ketiadaan ini membuat anda merasa keberatan atau tidak, terserah anda. Kekurangan lainnya cukup mendasar, yaitu bodi kamera ini yang terasa kurang nyaman karena terbalut plastik tanpa lapisan karet layaknya 400D atau 450D.

Dukungan lensa

Tidak perlu kuatir akan dukungan lensa dari Canon. Untuk teman lensa kit, bisa dipilih lensa tele EF-S 55-250mm dan lensa widenya bisa menjajal EF-S 10-22mm. Bila bosan dengan lensa kit dan ingin menjajal lensa kit yang terbaik dari Canon, cobalah EF-S 17-85mm USM.

Penerus EOS 1000D di 2009

Belum ada, setidaknya sampai tulisan ini dibuat Juli 2009 ini. Rumornya, Canon akan membuat penerus 1000D yang akan bernama EOS 2000D dengan fitur HD movie. Sudah bisa diprediksi, harga jual 2000D akan melonjak jauh sehingga EOS 1000D bagaimana pun masih lebih menarik dalam hal harga jual.

Pentax K-m : versi hemat dari K200D

pentax-k-mDi daftar ketiga ini kami sajikan kamera yang tergolong mungil yaitu Pentax K-m (K2000). Rupanya Pentax terinspirasi oleh Canon saat membuat 1000D, karena Pentax juga mengalami hal yang sama. Produk andalannya di kelas entry level, K200D rupanya terlalu mahal dan membuat Pentax terpaksa meluncurkan satu lagi produk yang lebih murah dari K200D ini. Alhasil lahirlah Pentax K-m, dengan ciri tidak lagi memakai bodi weather sealed, dan membuat lensa kit baru yang lebih kecil dan ringan. Pentax memakai stabilizer pada sensor CCD 10 MPnya, sehingga artinya semua lensa yang dipasang di bodi Pentax akan merasakan efek stabilisasi hingga 3 stop. Versi hemat artinya tentu ada aspek yang dikurangi, dalam hal ini jumlah titik AF pada Pentax K-m ini hanya 5 titik saja (dibanding 11 titik pada K200D). Tapi 5 titik ini masih lumayan karena masih fleksibel saat kamera dipakai memotret vertikal atau horizontal. Soal ISO pun Pentax ini mampu mencapai ISO 3200 yang cukup mengagumkan untuk kamera sekelas ini. Inilah satu-satunya DSLR dengan tenaga 4 buah baterai AA.

Plus

Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Secara umum kinerja dan performa menyamai K200D, bahkan burst-nya mengalahkan K200D dengan 3.5 fps yang mana amat baik untuk kamera semurah ini. Layar LCD pun tampak lega dengan ukuran 2,7 inci.

Minus

Saat pesaingnya EOS 100D menyertakan fitur live-view, Pentax K-m ini hadir tanpa fitur tersebut. Selain itu indikator titik AF tidak ditampilkan di viewfinder layaknya DSLR lain. Belum ada info apakah ada sistem anti debu di Pentax K-m ini.  Selain kedua hal diatas, praktis tidak ada hal negatif yang dijumpai di kamera ini, bahkan sejujurnya kamera ini semestinya dapat mengungguli EOS 1000D seandainya memiliki live-view.

Dukungan lensa

Belum ada info apakah lensa kit DA-L 18-55mm ini telah memakai motor SDM atau belum. Tapi lensa Pentax terkenal akan kualitas dan harganya. Bila perlu lensa tele, bisa pertimbangkan DA 50-200mm dan untuk widenya bisa mencoba DA 12-24mm. Bila tidak puas dengan lensa kitnya, jajal saja lensa sapu jagad dengan rentang ekstra panjang, DA 18-250mm. Sayangnya lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina jarang punya stok dengan mount KAF Pentax.

Nikon D60 : kualitas di dalam kesederhanaan

D60

Adalah Nikon D60, si pengganti D40 yang kini mengusung sensor CCD beresolusi 10 MP, dibekali lensa kit 18-55mm VR, fitur anti-debu, active-D lighting dan Expeed engine Nikon. Kamera ini mampu mencapai ISO 1600 (dan ISO setara 3200 bila dinaikkan satu tingkat dari ISO 1600), dengan kecepatan burst 3 fps. Modul AF memakai 3 titik AF saja, sangat basic, namun tersedia mode continuous servo untuk mengunci fokus benda yang bergerak. Inilah kamera yang tidak sarat fitur berlimpah namun tetap menjaga kualitas khas Nikon dalam kesederhanaannya.

Plus

Apa sih yang jadi kekuatan utama dari DSLR termurah dari Nikon ini?  Faktanya, anda tidak akan menemukan fitur modern seperti live-view di D60. Tapi mengapa masih banyak orang yang terus mengincar dan membeli D60 ini? Bisa jadi alasannya cukup subjektif,  karena yang jadi andalan Nikon D60 pun adalah fitur yang pada dasarnya ada di semua kamera DSLR, namun diyakini pada D60 fitur tersebut lebih baik dan efektif. Diantaranya : metering yang handal, Auto ISO yang efektif, noise reduction yang tepat, karakter warna / tone yang consumer friendly, ergonomi dan tata lentak tombol yang nyaman, menu yang mudah dipahami, hingga white balance yang jarang meleset. Anda boleh tidak sependapat, kami katakan sekali lagi, ini subjektif sekali. Jangan sampai ada anggapan kamera lain meteringnya jelek, misalnya. Tapi dapat kami katakan kalau Nikon membuat setiap kameranya dengan cermat, termasuk D60 ini yang mampu memberi hasil foto yang baik, dan pemakai D60 dapat ikut merasakan seperti apa rasanya memakai dan menikmati hasil foto dari DSLR Nikon. Bila anda ‘brand minded’, dan memang meyakini kalau hasil foto dari Nikon memang mantap, pilih saja D60 tanpa harus memperdulikan kekurangan dari D60 di bawah ini.

Minus

Ada dua hal yang menjadi kekurangan utama D60 : ketiadaan motor AF di bodi dan jumlah titik AF yang hanya tiga titik. Sejumlah Nikon mania mengeluhkan lensa-lensa lawasnya (Nikon AF atauNikon AF-D) tidak bisa auto fokus di D60, sementara pecinta candid dan sport photography mengeluhkan titik AF yang terlalu sedikit pada D60. Awalnya kami tidak melihat ketiadaan live-view adalah suatu kekurangan fatal, tapi mengingat kompetitor sudah ada yang memakai live-view, bolehlah kami sebut D60 ini semestinya juga dilengkapi dengan live-view. Buat yang senang memotret bracketing untuk foto HDR juga akan kecewa karena fitur yang amat standar ini bahkan tidak dijumpai di D60. Nikon D60 pun kurang fleksibel karena ketiadaan dukungan wireless flash ataupun asesori resmi battery grip.

Dukungan lensa

Tidak dipungkiri lagi, dukungan lensa Nikon selalu jadi alasan utama mengapa orang memilih DSLR Nikon. Betul kalau D60 tidak bisa auto fokus di lensa Nikon lama, tapi kini jajaran lensa Nikon AF-S baru sudah semakin banyak. Lensa kit D60 pun sudah amat baik plus sudah ada VRnya. Bila ingin menambah lensa lagi, pertimbangkan AF-S 55-200mm untuk telenya, dan AF-S 12-24mm untuk widenya. Bila bosan memakai lensa kit, tersedia lensa lain pengganti lensa kit yang bagus dan terjangkau seperti AF-S 18-135mm, AF-S 18-105mm atau AF-S 16-85mm, kesemuanya lensa DX. (Catatan : lensa Nikon non-DX juga bisa dipakai, meski ukurannya lebih besar dari lensa DX).

Penerus D60 di 2009 (update 30 Juli 2009)

Nikon D3000 dengan 11 titik AF dan LCD berukuran 3 inci. Baik D3000 dan D60 masih sama-sama memakai sensor CCD 10 MP, tanpa live-view dan burst 3 fps. Bila D3000 ini sudah tersedia di pasaran, maka D60 ini secara alami akan diskontinu.

Olympus E620 : fitur dan kinerja mendekati kamera DSLR semi-pro

oly-e520Penerus E520 ini masih tergolong DSLR entry-level, meski sebenarnya secara fitur sudah mendekati DSLR semi-pro.  Terinspirasi dari sukses E-30, Olympus membuat kejutan dengan perubahan radikal pada E620 dengan banyak penyempurnaan yang membuatnya mampu bersaing dengan DSLR entry-level lain. Tersedia paket dengan lensa kit 14-42mm (di beberapa tempat dijual dengan paket dobel lens kit 40-150mm), dengan sensor NMOS 12 MP beraspek rasio 4 : 3 dan crop factor 2x, maka lensa kit ini menjadi setara dengan 28-85mm. E620 telah dilengkapi layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, live-view, anti debu, dan stabilizer pada bodinya. So, meski E620 di daftar ini menjadi yang termahal (dan terbaru), namun dengan segala kelebihan fiturnya memang layak untuk menjadi yang terbaik di kelas DSLR pemula.

Plus

Live-view dengan face detection, 7 titik AF (sebelumnya 3 titik AF di E520), anti debu SSWM, stabilizer pada bodi (4 stop) sehingga lensa yang terpasang mengalami efek stabilisasi, flash wireless untuk kreativitas lampu kilat, desain bodi tampak kokoh dan tidak murahan, layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, shadow adjustment technology, sebagian tombolnya bisa menyala dalam gelap, 4 fps burst mode yang cepat, dan mendukung dua macam memory card (CF dan xD).

Minus

Gambar lebih noise di ISO tinggi dibanding kompetitor (karena ukuran sensor yang lebih kecil dari APS-C), cenderung mengalami highlight clipping, viewfinder lebih kecil dari pesaingnya, tata letak tombol tersebar di berbagai sisi bodi kamera.

Dukungan lensa

Terdapat beberapa lensa Zuiko yang berkualitas, dengan asumsi crop factor 2x dari sensor Olympus, membuat lensa tele akan mendapat keuntungan lebih dimana fokal 200mm bisa menjadi 400mm, misalnya. Sebagai teman dari lensa kit, bisa dipertimbangkan Zuiko ED 40-150mm dan untuk lensa widenya bisa memakai ED 9-18mm.

Kesimpulan

DSLR entry-level menjadi produk primadona mereka yang punya anggaran terbatas ataupun mereka yang baru menerjuni dunia fotografi digital. Dengan dana 5 sampai 7 juta, sudah bisa  didapat kamera DSLR yang cukup lengkap, berkualitas tinggi dan berkinerja lumayan dan memiliki paket lensa kit yang memadai untuk mulai belajar memotret. Meski ada juga DSLR entry level yang punya harga 8 jutaan (seperti EOS 450D/500D, Pentax K200D atau Nikon D5000) namun menurut kami dengan dana 7 juta atau kurang kita sudah bisa memiliki DSLR kelas pemula yang baik, dan dana 8 juta sebetulnya lebih baik dipakai untuk membeli DSLR semi-pro bodi only semisal Nikon D80 atau Canon 40D.

Dari daftar 5 kamera DSLR pemula di atas, yang bisa disimpulkan adalah :

  • harga jual : termahal Olympus E-620, termurah Sony A300
  • jumlah titik AF : terbanyak  Sony A300 (9 titik), paling sedikit Nikon D60 (3 titik)
  • kecepatan burst : tercepat Olympus E-620 (4 fps), Pentax K-m (3,5 fps)
  • sanggup hingga ISO 3200 : Olympus E620, Pentax K-m, Sony A300
  • wireless flash commander : Sony A300 dan Olympus E620
  • stabilizer di bodi : Olumpus E620 dan Pentax K-m
  • baterai : Pentax K-m pakai 4 x AA, lainnya baterai lithium
  • kesamaan umum : shutter max (1/4000 detik), viewfinder coverage (0.95-0.96 %), flash range (11-13m), resolusi LCD (230 ribu piksel) khusus Olympus E620 LCD bisa dilipat.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax K-7 : penyempurnaan total dari K20D

Peluncuran produk DSLR merk papan atas Canon dan Nikon seringkali dilakukan berbarengan. Di lain pihak, persaingan dua merk ‘oposisi’ Sony dan Pentax  juga tak kalah panas. Baik Sony dan Pentax juga menginginkan ‘kue’ penjualan yang tinggi di kelas DSLR sensor APS-C utamanya DSLR kelas low-end dan kelas mid/semi-pro. Bila kemarin Sony baru saja meluncurkan (sekaligus) tiga produk DSLR baru mereka, maka kini giliran Pentax yang baru saja mengumumkan sebuah DSLR kelas semi-pro baru (penerus K-20D) yang bernama Pentax K-7 (tampaknya tahun ini banyak yang menyukai angka 7 ya….). Pentax K-7 ini ditujukan untuk mengemban misi maha berat karena harus menjaga persaingan dengan banyak produk seperti Nikon D300 (dan bakal penerusnya nanti : D400?), Nikon D90, Canon 50D, Olympus E-30, S0ny A700 dan Sony A380 (yang baru saja diluncurkan). Continue reading Pentax K-7 : penyempurnaan total dari K20D

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..