Kamera saku baru dari Canon: PowerShot G5X II dan G7X III

Kamera saku masih punya tempat di kalangan fotografer, buktinya produsen seperti Canon masih terus meluncurkan produk baru. Fungsi kamera saku sebenarnya cukup banyak, sebagai dedicated camera (bukan kamera yang ada di ponsel) sebuah kamera saku bisa menjadi alternatif fotografi ringan seperti travel, street, candid dan casual shoot lainnya. Bahkan profesional bisa menjadikan kamera saku sebagai kamera pelengkap maupun backup saat bekerja bila sewaktu-waktu ada hal tidak diinginkan terjadi pada kamera utamanya. Di era dimana orang kini sudah biasa melakukan vlogging bahkan live streaming, sebuah kamera akan menjadi alat yang memungkinkan para content creator berinteraksi dengan para followernya, dan kadang kamera yang ringkas akan lebih disukai karena alasan kepraktisan.

Canon yang sejak lama rutin melahirkan banyak kamera saku PowerShot kini meregenerasi ulang dua seri G yang terkenal yaitu G5X dan G7X. Kini G5X II hadir dengan desain berubah banyak dari sebelumnya, kini desainnya mengecil dan bahkan sekilas mirip dengan G7X yang tidak lagi menonjolkan jendela bidik di tengah seperti mini DSLR. Dibanding G5X yang lama, Canon menghilangkan flash hot shoe di G5X II ini demi mengakomodir jendela bidik pop-up. Sedangkan G7X III tidak berubah banyak secara desain tapi memberi banyak penambahan pada fitur utama. Sebagai info, kedua kamera memakai sensor yang sama yaitu 20 MP 1 inci dengan sistem stack sensor khas Sony, dengan kecepatan foto kontinu meningkat hingga 8 fps RAW+JPG bila pakai shutter mekanik, dan hebatnya ada shutter elektronik yang bisa memotret 20 fps. Digic8 yang ditanamkan sebagai dapur pacu kedua kamera ini memungkinkan kamera saku ini mampu merekam video 4K tanpa crop, meski kedua kamera tidak dibekali sistem Dual Pixel AF seperti di kakaknya yang mirrorless atau DSLR.

Continue reading Kamera saku baru dari Canon: PowerShot G5X II dan G7X III

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon G1X mark III, sensor APS-C pada kamera saku premium

Bila ditanya kamera saku dengan kualitas foto setara kamera serius, biasanya cuma ada sedikit sekali pilihan yang ada. Mungkin karena harga kamera saku itu bakal sama mahalnya dengan kamera DSLR sehingga akan susah dimengerti banyak orang, karena biasanya orang menganggap kamera saku itu ya murah(an). Tapi bayangkan misalnya 80% kebutuhan fotografi masyarakat modern itu adalah merekam kehidupan harian mereka, atau daily life seperti foto grup, foto jalan-jalan hingga makanan. Dan untuk itu kualitas tetap ingin dapat yang terbaik tapi tidak perlu kamera besar dengan aneka lensa yang besar juga. Maka mestinya kamera saku dengan sensor berkualitas tinggi adalah jawaban yang lebih tepat untuk itu.

G1X iii depan

Canon akhirnya merilis kamera saku premium, yaitu PowerShot G1X mark III yang untuk kali pertama memakai sensor APS-C 24 MP, sama dengan di Canon EOS 80D atau EOS M5. Hebatnya meski sensor APS-C termasuk besar, tapi desain kamera dan lensanya tidak jadi terlalu besar, malah lebih kecil dan lebih ringan daripada produk sebelumnya yaitu G1X mk II. Kritik pada G1X mk II yang tidak terdapat jendela bidik, dijawab Canon di generasi G1X ke tiga ini dengan OLED finder 2,3 juta dot, melengkapi layar sentuh 3 inci yang bisa dilipat putar.

G1X iii vs ii

Bagaimana dengan lensanya? Bisa jadi lensanya yang ekuivalen 24-70mm ini adalah bagian yang paling ‘biasa saja’ di pengumuman kali ini, karena secara fisika memang tidak mungkin membuat lensa yang bukaannya besar, zoomnya panjang tapi ukurannya kecil untuk sensor besar. Pasti ada yang harus dikorbankan, dan untuk itu Canon mengorbankan kekuatan zoom (hanya 3x zoom) dan bukaan lensa (hanya f/2.8 di 24mm hingga f/5.6 di 70mm). Bahasa gampangnya, lensa ini mirip sekali dengan lensa kit di kamera DSLR dan mirrorless, hanya saja lensa di G1X mk III ini permanen (tidak bisa diganti).

G1X iii blkg

Beberapa hal menarik di Canon G1X mk III diantaranya :

  • Dual Pixel AF untuk auto fokus cepat seperti DSLR
  • menembak 7 foto per detik
  • leaf shutter up to 1/2000 detik, bisa sync flash juga di 1/2000 detik
  • ada 3 stop ND filter
  • ada 3 roda untuk pengaturan setting
  • bodi tahan debu dan tetesan air
  • dan hal-hal yang semestinya ada dari dulu : panorama, star mode, time lapseG1X iii atas

Tidak usah heran, meski oke untuk rekam video juga, tapi memang tidak ada pilihan resolusi 4K video, juga tidak ada port untuk mic, sehingga penggunaan video hanya untuk pelengkap saja.

G1X iii seal

 

Hal lain yang termasuk standar untuk era saat ini adalah adanya konektivitas WiFi, Bluetooth dan NFC untuk generasi yang ingin serba cepat dan terhubung. Canon G1X mk III akan dijual sekitar 15 jutaan, menjadi kamera saku kelas mahal seperti Sony RX100 (tapi sensornya 1 inci) atau Leica D Lux (sensor Micro 4/3). Tertarik?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon punya banyak lini kamera saku serius Powershot, pilih yang mana?

Kamera saku memang nasibnya suram karena serbuan ponsel cerdas. Tapi bagi Canon, bisnis kamera saku harus terus hidup, maka itu seri Powershot kini memiliki banyak pilihan produk premium. Dengan bandrol harga yang cukup lumayan, kamera yang ditujukan untuk pendamping kamera utama ini punya berbagai fitur serius yang disukai fotografer. Apa saja pilihan yang ada? Berikut ke-lima produknya.

Canon G1X mk II

family-g1x

Kamera serius dengan sensor besar ini paling senior dan paling tinggi kastanya di kelas Powershot. Lensanya sudah termasuk baik dengan spek 24-120mm f/2.0-3.9 sedangkan kemampuan bidiknya 5,2 fps. Yang suka jendela bidik perlu menambah aksesori yang bisa dipasang di hot shoe. Inilah kamera yang ditujukan untuk mengejar kualitas gambar terbaik di kelasnya.

Canon G3X

family-g3x

Kamera dengan kasta dibawah G1X namun dengan harga yang lebih tinggi berkat lensanya yang termasuk superzoom 24-600mm f/2.8-5.6 yang didukung sensor 1 inci, membuatnya ideal untuk safari dengan gear minimal. Sama seperti G1X, anda perlu membeli aksesori jendela bidik bila perlu. Pengoperasian zoom lensanya diputar dengan tangan, mestinya bisa menghemat baterai.

Canon G5X

family-g5x

Kamera ini termasuk baru, kekuatan utamanya adalah di jendela bidik elektronik dan layar LCD yang bisa dilipat putar. Dari spek sensor dan lensa kamera ini persis sama dengan Canon G7X. Sebagai bonus, tersedia flash hot shoe untuk memasang lampu kilat. Adanya hot shoe membuat kamera ini agak jangkung dan sulit untuk dimasukkan ke saku.

Canon G7X

family-g7x

Kamera ini hadir lebih awal dari G5X, dirancang menjadi kamera saku premium dengan sensor 1 inci dan lensa bukaan besar 24-100mm f/1.8-2.8 yang bersaing dengan Sony RX100. Cocok untuk kebutuhan dasar fotografi maupun untuk travel biasa. Kamera ini tidak ada hot shoe sehingga tidak bisa pasang flash atau aksesori jendela bidik eksternal.

Canon G9X

family-g9x

Seri paling buncit di lini Powershot premium hadir bareng dengan G5X, bedanya G9X murni seperti kamera saku basic yang mengandalkan sensor 1 inci, dan lensa 28-84mm f/2.0-4.9 dan layar LCD-nya tidak bisa dilipat. Cocok untuk anda yang mencari kamera saku dengan hasil foto lebih baik dari kamera saku pada umumnya.

Harga kamera ini bervariasi mulai dari 5 hingga 10 juta rupiah, sudah bersaing dengan harga DSLR, namun memiliki kekuatan di ukuran dan lensa yang berkualitas. Sebagai info, sensor 1 inci sudah dianggap standar minimum untuk bicara kualitas, diatas itu ada pilihan sensor 4/3 milik Panasonic dan barulah APS-C. Nikon dan Samsung juga mengembangkan kamera dengan sensor 1 inci tapi dalam bentuk kamera mirrorless. Dari pengamatan kami sensor 1 inci punya hasil yang baik hingga ISO 1600, bahkan setara dengan hasil foto dari kamera DSLR generasi awal (tahun 2005-2007). Maka itu harga kamera Canon ini tidak bisa dibilang murah, karena kualitas sensornya yang termasuk baik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon G7X : kamera saku serius dengan sensor 1 inci

Cari kamera saku yang lebih ‘serius’ ? Maka carilah kamera yang punya sensor lebih besar dari rata-rata, dan punya lensa yang berkualitas tinggi. Canon PowerShot G7X adalah salah satu kamera baru yang dirancang premium, dengan sensor 1 inci (sama seperti Sony RX100), lensa bukaan besar (f/1.8-2.8) dan fokal lensa yang berguna (24-100mm) dikemas dalam ukuran kecil dan ringan. Saat diluncurkan, kamera ini dibandrol 7 jutaan, cukup tinggi bahkan lebih mahal dari beberapa kamera DSLR dan mirrorless. Seiring tren foto selfie, Canon G7X juga ikut-ikutan membuat LCD yang bisa dilipat ke atas, tertarik?

canon-powershot-g7-x-camera

Spek dasar dan unggulan :

  • sensor 1 inci, CMOS, 20 MP
  • lensa 24-100mm f/1.8-2.8 dengan 9 bilah diafragma
  • ISO maks 12800
  • layar LCD lipat 3 inci, touchscreen
  • burst 6,5 foto per detik
  • video 1080p 6fps
  • mode Star untuk memotret bintang

Ilustrasi perbandingan ukuran dan tebal Canon G7X dengan Sony RX100, yang menjadi pesaingnya.

g7x-vs-rx100

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Minor update dari Canon : Powershot G16 dan S120, serta lensa EF-S 55-200mm STM

Beberapa produk kamera dan lensa Canon hari ini mendapatkan regenerasi yang sifatnya hanya minor update, seperti kamera premium Powershot G16 (penerus G15) dan kamera saku premium Powershot S120 (penerus S110). Perubahan minor yang dilakukan membuktikan kalau saat ini produsen kamera belum menemukan terobosan besar untuk membuat berita ‘wow’ seperti dulu, entah di sensornya atau di teknologi lainnya. Selain itu lensa tele zoom ekonomis EF-S 55-250mm f/4.5-5.6 IS juga mendapat motor baru yaitu STM sehingga lebih mudah saat dipakai auto fokus saat merekam video.

Beberapa perubahan minor di G16 diantaranya desain grip dan tata letak tombol yang dipindah.

canon-g16

canon-g16-b

Canon G16 masih memakai sensor 12 MP berukuran 1/1,7 inci, lensanya juga masih dengan spesifikasi 28-140mm f/1.8-2.8 dan ada jendela bidik optik yang jadi khas kamera di seri G. Hal-hal yang positif di seri G terkini tetap dipertahankan seperti bukaan lensa ekstra besar dan tidak menaikkan resolusi sensor (untuk mencegah hasil foto malah semakin jelek). Sayangnya Canon masih belum memberi layar sentuh atau layar lipat di kamera ini, mungkin karena sudah ada jendela bidik dan sudah banyak tombol/roda kendali di kamera ini.

canon-s120

Canon S120 sendiri masih jadi kamera saku premium yang mengandalkan ukuran mungil dengan fitur tinggi. Bedanya kini lensa 24-120mm di Canon S120 bisa membuka lebih besar yaitu f/1.8-5.7 (sebelumnya f/2.0-5.9) dan sedikit perubahan di belakang. Layar S120 tetap berjenis layar sentuh, walau tidak bisa dilipat seperti kamera pesaing.

Kedua kamera sudah tentu memiliki fitur WiFi dan soal kinerja memang mengesankan karena bisa memotret sampai 12 foto per detik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah kamera ‘high end compact’ dengan harga selangit

Kamera DSLR semakin murah, canggih dan terjangkau. Tapi masih ada lho fotografer yang mencari kamera saku kelas atas, walau harganya bisa menyamai harga kamera DSLR. Kamera semacam ini disebut juga high-end compact. Alasan utamanya karena mereka enggan membawa kamera yang besar dan menarik perhatian orang, misalnya seperti di keramaian. Kamera saku high-end memang kecil, praktis dan ringkas, tapi tidak berarti kemampuannya juga kecil. Kamera-kamera berikut ini punya fitur yang sepadan dengan harganya, banyak kendali eksternal, bisa simpan file RAW, full HD dan tentunya manual mode yang lengkap. Kita simak yuk..

Canon Powershot G1X : sensor ekstra besar, bodi juga besar

Kamera buatan awal 2012 ini sudah pernah kami ulas disini. Bodi Canon G1X sudah tidak bisa disebut kamera saku, tapi lebih ke kamera compact prosumer. Bodi besar karena mengakomodir sensor besar (hampir seukuran sensor APS-C) dan tentunya lensa juga besar. Kamera seharga 6 jutaan ini beresolusi 14 MP dan bisa mencapai ISO 12800.

canong1xlcd-screen

Plus : sensor besar (1,5 inci), jendela bidik optik, ISO 12800, ND filter, flash hot shoe, layar lipat

Minus : besar, berat, bukaan lensa maksimal di posisi tele cuma f/5.8

Sony CyberShot RX100 : sensor besar dalam bodi mungil

Kamera yang diperkenalkan bulan lalu ini dijual sangat mahal, mungkin hampir mencapai 7 juta rupiah. Keunggulannya adalah sensor cukup besar (1 inci, alias sama dengan sensor Nikon 1), resolusi tinggi 20 MP, lensa Zeiss bukaan besar f/1.8 dan ukurannya yang kecil, mirip seukuran Canon S100. Tidak mudah membuat kamera kecil dengan lensa bukaan besar dan sensor relatif besar, maka itu kamera ini membuat kamera saku berlensa cepat seperti Lumix LX5 atau Olympus XZ-1 seperti tidak ada apa-apanya.

sonyrx100

Plus : sensor lumayan besar (1 inci), lensa bukaan f/1.8 (pada posisi 29mm), bisa 10 fps

Minus : tidak ada flash hot shoe, LCD tidak bisa dilipat, bukaan lensa maksimal di posisi tele cuma f/4.9, tidak ada grip

Samsung EX2F : dengan layar lipat dan WiFi

Kamera penerus EX1 ini baru saja diumumkan kehadirannya hari ini. Mengusung tagline ‘World’s brightest compact lens’ kamera EX2F ini memang punya lensa ajib, yaitu Schneider 24-80mm f/1.4-2.7 yang jadi impian banyak fotografer. Sensor BSI CMOS 12 MP yang dipakai memang hanya berukuran 1/1.7 inci saja, atau setara dengan kamera saku kelas menengah lainnya. Kamera seharga 6 jutaan ini juga sudah dilengkapi dengan WiFi.

samsung-ex2f

Plus : lensa ‘ideal’ dalam fokal maupun bukaan, layar Amoled lipat, ND filter, flash hot shoe, WiFi

Minus : sensor ‘kalah besar’ dibanding Sony RX100

Panasonic Lumix LX7 : bermodal lensa Leica 24mm f/1.4

Panasonic akhirnya membuat penerus dari kamera premium LX5 yang populer, dengan meluncurkan Lumix LX7 dengan lensa bukaan besar f/1.4 buatan Leica. Lensa di Lumix LX7 punya fokal 24-90mm f/1.4-2.3 yang bisa dibilang sedikit lebih unggul dari lensa Schneider di Samsung EX2F diatas. Bedanya Lumix LX7 tidak memakai layar lipat dan tidak ada fitur WiFi. Sebagai sensornya dipakai sensor MOS 10 MP berukuran 1/1,7 inci. Terdapat akses langsung ke ND filter di bodi belakang, sangat praktis. Seperti LX5, terdapat aspect ratio selector di dekat ring lensa, suatu fitur yang jarang ditemui di kamera lainnya. Harga TBA.

lx7k_front

Plus : lensa ‘ideal’ dalam fokal maupun bukaan, multi aspect ratio, 3 stop ND filter, flash hot shoe

Minus : sensor lebih kecil dari LX5 (1/1.7 inci vs 1/1.63 inci), layar tidak bisa dilipat

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Enggan bikin mirrorless, Canon hadirkan Powershot G1 X

Kamera mirrorless, atau kamera yang bisa berganti lensa namun tanpa cermin, sudah semakin populer. Alasannya kamera format ini bisa memberikan kualitas hasil foto yang sebaik kamera DSLR, bisa berganti lensa seperti DSLR namun dengan meniadakan cermin maka ukurannya bisa dibuat sekecil kamera saku. Bagi pemain besar DSLR seperti Canon dan Nikon, terjun di bisnis ini akan berpotensi mematikan penjualan DSLR mereka sendiri. Tak heran kalau Nikon lantas membuat kamera mirrorless mereka dengan sensor kecil, dan Canon bahkan tidak kunjung membuat kamera mirrorless apapun, setidaknya sampai saat ini. Canon justru memperkenalkan kamera saku Powershot seri G dengan sensor ekstra besar, sangat besar untuk ukuran kamera saku yang lensanya tidak bisa dilepas. Sambutlah Canon Powershot G1 X, kamera yang bentuknya mirip dengan Powershot G12 namun sangat berbeda dalam hal ukuran sensornya.

g1xsensor

Bodi Canon Powershot G1 X bahkan lebih bongsor dari kebanyakan kamera mirrorless. Bila dilihat dari ukuran sensornya, G1 X bahkan punya sensor yang lebih besar dari Four Thirds milik Olympus dan Panasonic, sensor G1 X hanya sedikit lebih kecil dari sensor APS-C, yaitu dengan diagonal 1,5 inci. Sebagai kamera dengan lensa yang tidak bisa dilepas, insinyur pembuat G1 X harus berjuang mencari kombinasi terbaik antara ukuran dan fokal lensa khususnya nilai aperture. Hal ini mungkin mudah untuk sensor kamera saku biasa yang kecil (1/2.3 inci) namun sangat tidak mudah untuk sensor sebesar 1,5 inci. Maka itu lensa G1 X dengan fokal 28-112mm f/2.8-5.8 adalah jawabannya. Jadi lupakan soal wideangle 24mm atau bukaan besar saat telefoto, untuk itu banyak kamera saku lain yang sensornya kecil.

canon-g1-x

Sensor besar yang dipakai canon G1 X membawa beberapa konsekuensi positif maupun negatif. Sisi baiknya jelas, hasil foto akan bersih dari noise pada pemakaian ISO yang lebih tinggi, layaknya kamera DSLR pada umumnya. Selain itu sensor besar juga akan membuat bokeh yang lebih baik, dengan latar belakang yang blur. Setidaknya inilah alasan kenapa orang enggan memakai kamera saku yang sensornya kecil. Canon sepertinya ingin menunjukkan bahwa kalau hanya ingin mendapat hasil foto yang bagus, seseorang tidak harus membeli DSLR atau kamera mirrorless dan berinvestasi dengan beragam lensa yang mahal.

powershot-g1x_rear

Secara umum fitur yang dimiliki kamera Canon G1 X sepadan dengan harganya di kisaran 7 jutaan, seperti bodi yang kokoh, flash hot shoe, layar LCD 3 inci yang bisa dilipat, manual eksposur lengkap dengan roda kompensasi eksposur, built-in ND filter, ISO 12800, 14 bit RAW dan full HD stereo dengan kemampuan fokus kontinu (tidak seperti pada DSLR Canon) tapi belum ada info apakah G1 X bisa melakukan zoom optik saat merekam video. Kecepatan burst G1 X agak mengecewakan dengan 4.5 fps sampai 6 gambar, lalu melambat sampai 1,9 fps saja. Bila dipakai untuk memotret, baterai G1 X bisa bertahan sampai 250 kali jepret, sebuah angka yang cukup biasa saja. Terdapat jendela bidik optik yang umum dijumpai di kamera seri G lainnya, meski bukanlah jendela bidik seperti pada DSLR sehingga memungkinkan kesalahan paralaks saat mengkomposisikan gambar melalui jendela bidik ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lima kamera saku super murah di 2011

Dana yang terbatas bukan halangan untuk memiliki sebuah kamera saku idaman. Kemajuan jaman telah membawa dampak positif buat konsumen. Kali ini kami sajikan lima kamera saku buatan tahun 2011, yang dahulu bila kita membeli kamera dengan spesifikasi serupa harganya bisa mencapai 1,5 jutaan, namun kini kamera-kamera ini dijual super murah, antara 600-800 ribuan rupiah saja. Anda yang mungkin baru ingin terjun ke dunia fotografi yang lebih baik dari sekedar memotret memakai kamera ponsel, ada baiknya untuk memiliki satu diantara kelima kamera berikut ini.

Casio Exilim EX-ZS5 (800 ribuan)

Inilah kamera keren dari Casio yang terkenal dengan ketipisannya berkat memakai baterai Lithium dan desain lensa yang unik. Kamera dengan sensor 14 MP ini sudah dilengkapi dengan lensa yang sanggup menjangkau area wide 26mm hingga tele 130mm, alias 5x zoom optikal. Untuk urusan merekam video, kamera ini mampu merekam video berformat MJPEG dengan resolusi 848 x 480 piksel yang tergolong baik. Kamera ini  memiliki layar LCD cukup besar yaitu 2,7 inci.

casio_ex-zs5

Plus : wide 26mm, bodi tipis, WVGA movide, super macro mode

Minus : tidak ada

Nikon Coolpix L23 (700 ribuan)

Meski murah, desain Nikon L23 yang mungil dan sexy ini tidak mengesankan kamera murahan. Meski tampak kalah dibanding pesain dalam urusan resolusi sensor, sejatinya resolusi kamera ini sudah mencukupi yaitu dengan sensor 10 MP. Urusan lensa, Nikon L23 ini tidak kalah dengan Casio EX-ZS5, yaitu memiliki rentang 28-140mm atau 5x zoom optikal. Kemampuan merekam video Nikon L23 cukuplah dengan resolusi VGA atau 640 x 480 piksel, dengan layar LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai dengan dua baterai AA.

nikon-coolpix-l23

Plus : lensa wide 28mm

Minus : sensor berukuran kecil (1/2.9 inci)

Canon Powershot A800 (700 ribuan)

Canon lebih dahulu dikenal sebagai produsen kamera saku termurah dengan produk Powershot seri A, hingga saat ini kehadiran A800 masih menjadi pilihan Canon di kelas termurah. Mengusung sensor yang sama dengan Nikon L23, Canon A800 juga merasa cukup pede dengan sensor 10 MP, dengan didukung lensa Canon 37-112mm atau 3,3 x zoom optik yang tidak terlalu wide. Kemampuan rekam video juga cukup dengan resolusi VGA dan layar LCD berukuran 2,5 inci serta ditenagai dua baterai AA.

canon-a800

Plus : super macro mode

Minus : lensa kurang wide

Olympus T-100 (600 ribuan)

Di awal tahun 2011 Olympus meluncurkan kamera saku termurahnya yaitu T-100 dengan desain tipis dan minimalis berkat pemakaian baterai Lithium. Sensor di T-100 cukup lumayan dengan resolusi 12 MP, dibekali lensa 36-108mm alias 3x zoom optik yang tergolong standar. Kemampuan rekam video T-100 juga hanya resolusi VGA saja, serta layar T-100 cukup kecil dengan 2,4 inci.

olympus-t-100

Plus : fitur AF tracking

Minus : layar kurang lega

Kodak EasyShare C1530 (600 ribuan)

Kodak yang kini semakin kurang populer masih terus mencoba bertahan di tengah persaingan kamera digital dengan mengandalkan berbagai produk di segmen bawah. Kali ini sebagai perwakilan kami hadirkan Kodak C1530 yang sudah memakai sensor 14 MP ini punya lensa dengan rentang 32-96mm atau 3x zoom optik yang lumayan cukup wide meski agak kurang tele. Kodak 1530 sudah bisa merekam video resolusi VGA, dilengkapi dengan layar LCD 3 inci dan ditenagai dua buah baterai AA.

kodakc1530

Plus : layar besar, fitur share

Minus : desain agak jelek

Kesimpulan

Kelima kamera diatas memang sulit dipercaya, dijual dengan rentang harga 600-800 ribuan saja. Meski demikian kelimanya memang hanya menjadi kamera termurah di tiap merk yang ditujukan untuk pembeli dengan dana terbatas. Ada beberapa keterbatasan yang mesti disandang oleh kamera murah, sebutlah misalnya hanya memiliki fitur auto saja, tidak ada fitur image stabilizer atau HD movie yang biasa dijumpai di kamera berharga diatas 1 jutaan. Namun untuk urusan fotografi kelima kamera di atas sudah mampu menyajikan gambar yang tajam dengan resolusi tinggi (antara 10-14 MP) dan beberapa bahkan punya lensa yang wide. Rekomendasi kami adalah Casio Exilim EX-ZS5 dengan sensor 14 MP, lensa wide 26mm dan WVGA movie mode yang hampir mendekati resolusi HD.

Bila anda menginginkan salah satu dari lima kamera di atas, anda juga bisa membelinya melalui kami, dijamin aman dan tetap murah.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..