Lensa Nikon 50mm f/1.8 kini dengan kode AF-S

Nikon boleh dibilang sangat terlambat dalam melakukan penambahan motor SWM di lensa populernya yaitu 50mm f/1.8 atau biasa disebut dengan lensa fix normal. Fokal 50mm sangat populer untuk foto potret, sedang f/1.8 sudah jadi favorit untuk dipakai di low light dan harganya jauh lebih murah daripada f/1.4. Tapi apapun itu, akhirnya Nikon mendapat apresiasi saat meluncurkan lensa AF-S 50mm f/1.8G yang secara desain mirip dengan AF-S 35mm f/1.8.

nikon-50mm-af-s

Meski bentuknya mirip, AF-S 50mm f/1.8 ini adalah lensa FX sedang AF-S 35mm f/1.8 adalah lensa DX. Artinya ini akan jadi kabar baik buat pemakai DSLR Nikon FX (full frame) maupun pemakai DSLR Nikon DX (APS-C) yang di kemudian hari berencana akan beralih ke format FX. Sebagai info, di format DX lensa ini akan setara dengan fokal 75mm yang sudah cenderung disebut dengan lensa tele.

Lensa AF-S 50mm f/1.8 ini memiliki 7 elemen dalam 6 grup, dengan satu elemen aspherik. Bukaan terkecil lensa ini adalah f/16 dengan kemampuan fokus terdekat di kisaran setengah meter. Cukup mengejutkan, lensa ini memiliki diameter filter 58mm karena produk sebelumnya (AF 50mm f/1.8D) memakai diameter filter 52mm (yang sudah punya filter 52mm harus beli filter lagi).

Terdapat ring manual fokus di bagian depan lensa ini yang bisa langsung diputar kapan saja untuk beralih dari mode auto fokus ke manual fokus. Bobot lensa ini cukup ringan yaitu 185 gram saja. Harga belum diketahui, mungkin di kisaran 3 jutaan rupiah.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Samsung siapkan lensa-lensa baru untuk kamera mirrorless NX

Untuk mendukung jajaran kamera mirrorless Samsung NX, Samsung harus terus membuat berbagai lensa yang kompatibel sehingga penjualan kamera seri NX bisa menyamai kamera sejenis dari kubu Micro 4/3. Sebelumnya Samsung sudah cukup baik dalam membuat lensa wajib yaitu lensa fix (30mm), lensa kit (18-55mm) dan lensa tele ekonomis (50-200mm). Cukup? Tentu saja belum. Maka itu Samsung mengumumkan kehadiran lima lensa baru yang akan tersedia akhir tahun ini.

2011nxlenslineup

Kelima lensa baru ini merupakan perwakilan dari lensa favorit (bila ditinjau dari rentang fokalnya) dan semestinya akan disambut positif oleh para pemakai maupun calon pemilik Samsung NX.

Samsung 85mm f/1.4 SSA iFn

Inilah lensa fix atau prime yang cocok untuk potret, lengkap dengan motor fokus SSA (Super Sonic Actuator) dan memiliki bukaan besar f/1.4 hingga f/22.

Samsung 60mm f/2.8 SSA iFn OIS Macro

Lensa fix ini memiliki fokal 60mm dengan bukaan yang lebih kecil yaitu f/2.8 namun selain memiliki motor fokus SSA juga memiliki fitur OIS (stabilizer) dan fasilitas makro.

Samsung 16mm f/2.4 iFn

Inilah lensa wide yang setara dengan 24mm dalam ukuran sangat kecil (pancake lens) yang punya bukaan f/2.4 yang cocok untuk landscape dan arsitektur.

Samsung 20mm f/2.8 iFn

Inilah pilihan lain untuk lensa wide yang setara dengan 30mm yang juga dalam bentuk pancake lens yang punya bukaan f/2.8 yang cocok untuk urusan jurnalistik.

Samsung 18-200mm f/3.5-6.5 OIS iFn

Inilah lensa superzoom yang dioptimalkan untuk merekam video sehingga tidak perlu kuatir suara motor fokus akan ikut terekam dalam rekaman video, berkat adanya Voice Coil Motor.

Samsung 16-80mm f/3.5-4.5 OIS iFn

Sama seperti lensa superzoom di atas, Samsung 16-80mm juga didesain untuk bisa dipakai merekam video. Bedanya, lensa ini lebih wide dengan 16mm namun hanya memiliki tele terjauh 80mm. Secara optik lensa dengan rentang lebih pendek seperti lensa ini akan memberikan kualitas optik yang lebih baik dari lensa panjang seperti 18-200mm.

Samsung 20-50mm f/3.5-5.6 iFn

Inilah lensa dengan rentang normal yang dari rentang memang overlap dengan lensa kit, namun ditujukan lebih kepada mereka yang mencari lensa berukuran sangat kecil, lebih kecil dari lensa kit 18-55mm.

samsung18-200_60

Sebagai info, fitur iFn sendiri adalah fasilitas baru yang diperkenalkan oleh Samsung untuk memudahkan pengaturan berbagai setting kamera melalui putaran yang ada di lensa.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fokal lensa, Picture angle dan Perspektif

Perhatikan saat memakai lensa zoom, betapa banyaknya orang yang tidak peduli pada berapa fokal lensa yang sedang dipakainya. Dia hanya memakai lensa pada posisi paling wide, lalu bila dirasa kurang dekat dia melakukan zooming sehingga obyek tampak mendekat. Jangan heran kalau foto yang dihasilkan oleh orang semacam ini juga biasa-biasa saja, bahkan bisa nampak tidak alami karena distorsi lensa. Jangan-jangan kita juga seperti itu, bahkan kita belum mengetahui apa kaitan antara fokal lensa, bidang gambar dan persepektif? Jangan kuatir, artikel ini mencoba menjelaskannya untuk anda.

Fokal lensa

Sudah menjadi hal yang umum apabila sebuah kamera memiliki lensa zoom yang panjang fokalnya bisa berubah-ubah.  Fokal lensa sendiri berhubungan langsung dengan picture angle (sudut gambar) dimana fokal yang pendek biasa disebut dengan wideangle, sehingga biasa disebut lensa wide, sedang fokal panjang biasa disebut telephoto, sehingga biasa disebut lensa tele. Kita tahu kalau keuntungan dari lensa wide adalah kemampuan membuat foto dengan bidang gambar yang lebar, terkesan luas dan punya sudut gambar yang besar, sedang lensa tele punya keuntungan akibat sudut gambarnya yang sempit sehingga bisa mengambil foto yang berada jauh menjadi  tampak dekat.

Selain lensa zoom, kita mungkin pernah mencoba lensa fix atau lensa dengan fokal yang tetap. Banyak lensa fix yang cukup populer semisal lensa 50mm, atau lensa fix yang wide seperti 28mm, atau lensa fix yang tele seperti 105mm. Lensa fix punya keuntungan dalam kualitas optik, biaya produksi yang lebih murah serta ukuran yang lebih kecil. Tapi memotret memakai lensa fix agak lebih repot dibanding memakai lensa zoom karena kita hanya punya satu picture angle yang tetap. Bila obyek yang akan difoto terlalu dekat maka kitalah yang harus mundur, bila obyek yang difoto masih tampak terlalu jauh maka kita harus melangkah mendekati obyek.

Picture angle

angle_of_view

Picture angle atau sudut gambar hanyalah istilah yang mewakili luasnya area bidang yang bisa diambil oleh kamera atau lensa. Semakin luas bidang gambar maka semakin lebar sudut gambarnya. Lensa wide akan menghasilkan gambar dengan sudut lebar. Sebaliknya semakin sempit bidang gambar maka semakin sempit sudut gambarnya. Sudut sendiri seperti biasa dinyatakan dalam derajat.

Sebuah lensa zoom, misal 28-105mm, dengan mudah kita mengatakan kalau lensa ini mampu dipakai untuk mengambil foto dengan fokal wide 28mm hingga tele 105mm. Namun kita juga bisa mengatakan kalau lensa ini memiliki sudut gambar yang bisa dirubah mulai dari sudut lebar (sekitar 65 derajat) hingga sudut yang sempit (sekitar 19 derajat). Memiliki satu lensa zoom seperti ini dirasa praktis dan mampu menggantikan beberapa lensa fix seperti 28mm, 35mm, 50mm, 85mm dan 105mm. Inilah alasan mengapa lensa zoom begitu populer, meski secara kualitas optik masih kalah dibanding dengan lensa fix.

Perspektif

Kalau anda serius ingin mendalami fotografi, memahami lensa dari sisi fokal dan picture angle saja masih kurang lengkap. Ada satu dampak nyata dalam fotografi terkait fokal lensa yaitu perspektif (dan efek sampingnya yang dinamakan distorsi). Perspektif adalah bagaimana kesan yang dihasilkan oleh obyek dan latar relatif terhadap jaraknya ke kamera. Inilah yang sering diabaikan, dilupakan bahkan tidak diketahui sebagian dari kita dalam memakai lensa zoom (pemakai lensa fix biasanya sudah mengerti soal perspektif).

focal_lengthCoba perhatikan gambar di sebelah kanan. Ketiga foto ini nampak sama, ada botol merah sebagai obyek utama, ada botol biru sebagai latar dan sepintas komposisinya nampak hampir sama. Lalu apa  yang membedakan ketiga foto disebelah ini? Fokal lensanya? Betul. Foto yang atas diambil memakai fokal 18mm, yang tengah memakai 34mm dan yang bawah 55mm. Tapi ada satu perbedaan utama yang nampak sebagai akibat dari pemakaian fokal yang berbeda itu, jawabannya adalah perspektif.

Apakah anda menyadari kalau ketiga foto disebelah ini diambil dengan jarak yang berbeda antara obyek terhadap kamera? Foto pertama memaksa kamera untuk berada sangat dekat dengan obyek, foto kedua membuat kamera bergeser agak mundur menjauhi obyek dan foto ketiga adalah foto dimana obyek dan kamera berada di jarak yang terjauh. Ketiganya memberikan perspektif yang berbeda.

Perhatikan, dengan memakai 18mm maka obyek akan relatif nampak lebih besar dari latar (botol biru nampak sangat kecil) sehingga bisa memicu kesalahpahaman akan kenyataan sebenarnya. Lagipula dengan memakai lensa lebar akan menghasilkan distorsi (lihat botol merah tampak miring). Dengan fokal 34mm mulai didapat perspektif yang lebih baik dan distorsi yang semakin kecil. Pada fokal 55mm didapatlah perspektif yang alami dan tanpa distorsi. Inilah mengapa lensa fix 50mm atau 55mm begitu populer, karena memiliki perspektif normal dan tanpa distorsi.

Jadi intinya adalah, lensa zoom dibuat untuk kemudahan kita dalam berganti sudut gambar, guna mendapatkan perspektif yang sesuai keinginan kita. Lensa zoom bukan untuk membuat orang malas bergerak sehingga lebih suka memakai zoom untuk mendekatkan yang jauh saja. Sebelum memotret, pikirkan dulu obyek apa yang akan kita foto (pemandangan, human interest atau benda yang jauh) lalu tentukan fokal berapa yang akan kita pakai, dan antisipasilah perspektif yang akan terbentuk nantinya. Jangan segan untuk maju mundur untuk bereksplorasi dengan perspektif, anda bisa memotret orang dengan jarak dekat memakai fokal yang wide untuk mendapat perspektif yang unik atau bisa saja memotret orang dari jarak jauh dengan fokal tele untuk mendapat perspektif normal, terserah anda. Satu lagi contoh mengenai berbagai fokal lensa dan perspektif yang dihasilkan :

perspektif




Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon hadirkan DSLR semi-pro penerus D90 : D7000

Hari ini Nikon merilis kamera DSLR kelas menengah baru yang bernama D7000. Kamera yang ditargetkan untuk menggantikan D90 yang begitu populer selama 2 tahun kebelakang ini kini dijual sedikit lebih mahal dengan harga 12 jutaan body only. Hadirnya Nikon D7000 ini bisa diduga adalah jawaban Nikon atas lahirnya Canon EOS 60D dimana keduanya berbagi kemiripan spesifikasi, punya harga jual yang sama dan sama-sama tergolong kamera semi profesional di kelas sensor APS-C. Nikon sendiri sejak hadirnya D5000 tampaknya sudah konsisten untuk menamai jajaran kamera DSLRnya dengan empat digit angka yang lebih aman untuk antisipasi penamaan kameranya hingga beberapa generasi mendatang.

Kalau sebelumnya Nikon mengejutkan pasar dengan membuat D3100 yang pertama memakai prosesor Expeed 2, 1080 HD video dan AF saat video, kini D7000 juga mengusung fitur serupa. Nikon D7000 ini sudah mengikuti tren dengan kemampuan merekam video berformat HD movie 1080p 24fps dengan auto fokus secara kontinu dan keleluasaan mengatur setting video secara manual. Namun andalan Nikon D7000 bukan cuma dalam hal video saja, justru sebagai kamera semi-pro D7000 lebih ditargetkan untuk memanjakan fotografer yang serius menekuni hobi fotografi dengan sederet fitur kelas atas dengan harga yang masih cukup terjangkau.

Berikut fitur dasar dari Nikon D7000 :

  • sensor 16.2 MP, CMOS, APS-C (format DX, crop factor 1.5x)
  • ISO 100-6400, bisa dipaksa hingga ISO 25.600
  • LCD 3 inci resolusi VGA, 920 ribu piksel
  • burst 6 fps (tidak bertambah cepat bila memakai baterai grip MB-D11)
  • usia shutter teruji hingga 150 ribu kali
  • shutter 30-1/8000 detik, max flash sync 1/250 detik (1/320 detik untuk FP)
  • weather proof, magnesium alloy body
  • kemampuan untuk wireless flash commander
  • pentaprisma, 100% finder coverage, 0.94x
  • dual SD slot
  • Multi-CAM 4800DX, 39 titik AF (9 diantaranya cross type), 3D AF tracking, fine tune AF
  • 2016 pixel AE metering (pertama dalam sejarah Nikon)
  • prosesor Expeed 2
  • pilihan 12 bit atau 14bit RAW
  • Quiet shutter release
  • HD movie, 1080p – 24fps, 720p – 30fps, H.264 codec
  • AF saat video, maksimum rekam 20 menit
  • virtual horizon
  • EN-EL15 baterai Lithium (baru)
  • paket body only (12 juta) atau dengan lensa kit AF-S 18-105mm VR (15 juta)

Ditinjau dari spesifikasi di atas nampak kalau hampir untuk semua aspek terdapat peningkatan signifikan dibanding D90, bahkan menyerupai fitur pada D300. Maka itu rasanya wajar bila pemilik D90 pun bakal tergoda untuk upgrade ke D7000 ini. Bodi kamera ini sepintas masih mirip dengan D90 dengan perbedaan adanya tombol khusus untuk live-view dan movie (persis seperti pada D3100).  Nikon D7000 punya tata letak tombol sebelah kiri yang sama seperti D90 yaitu untuk mengakses MENU, WB, ISO, dan QUALity. Namun pada D7000 disediakan tombol putar untuk mengakses mode pemotretan S, CL, CH seperti pada D300 (tombol putar semacam ini tidak ada di D90). Pada mode dial D7000 tidak lagi diberikan beberapa Scene Mode seperti Landscape, Macro dsb. Sebagai gantinya, tersedia satu pilihan Scene Mode, dua User Profile yang bisa disimpan (U1 dan U2) untuk menemani mode P, A, S, M dan AUTO.

D7000 ini bisa jadi membuat orang yang tadinya berencana membeli  kamera DSLR profesional D300s jadi berpikir dua kali, apalagi soal ISO dan modul metering D7000 justru lebih unggul dari D300s. Namun meski demikian dalam beberapa aspek D7000 ini masih belum secepat dan selengkap D300s, misalnya ketiadaan tombol langsung AF-ON dan tanpa selektor mode metering dan focus area yang memudahkan. D300s juga punya burst yang lebih cepat yang diperlukan oleh para jurnalis dan profesional lainnya.

Di saat bersamaan Nikon juga meluncurkan :

  • lensa fix lebar yang cepat : AF-S 35mm f/1.4 (17 jutaan)
  • lensa tele fix yang cepat : AF-S 200mm f/2.0 VR (60 jutaan)
  • lampu kilat baru SB-700 (3 jutaan)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips memotret saat low-light

Banyak yang penasaran bagaimana cara terbaik untuk memotret saat low light alias kondisi minim cahaya. Hal ini selalu menjadi topik yang menarik karena banyak yang kecewa saat melihat foto yang dibuatnya tampak blur atau malah noise parah sehingga tak layak dinikmati. Kondisi low light sendiri dijumpai pada banyak tempat dan waktu seperti di dalam ruangan, dan di sore hari terutama saat menjelang senja. Low light bukan berarti gelap, karena saat gelap mata anda tidak bisa melihat apa pun (demikian juga dengan kamera anda). Low light itu adalah saat mata kita masih bisa melihat obyek dengan baik (dengan pencahayaan yang ada) namun intensitas cahayanya terlalu rendah untuk kamera bisa menggunakan speed tinggi.

Jadi kuncinya disini adalah kamera perlu waktu yang cukup untuk mendapat eksposur yang tepat saat low light. Waktu yang diperlukan bervariasi tergantung intensitas cahaya yang ada, bisa 1/20 detik bahkan bisa hingga 1 detik. Inilah nilai shutter speed yang rentan terhadap goyangan yang berpotensi menjadikan foto anda blur. Maka itu inilah tips kami saat menghadapi kondisi low light :

Perbaiki kondisi pencahayaan

Paling utama bila anda bisa lakukan adalah perbaiki dulu kondisi pencahayaan sekitar. Inilah hal sepele yang kadang terlupakan, saat di dalam rumah misalnya. Bisa jadi anda memaksakan memotret namun lupa menyalakan semua lampu yang ada di rumah. Memang lampu rumah tidak terlalu berdampak besar buat menaikkan kecepatan shutter kamera, tapi setidaknya mampu memberi penerangan pada obyek yang akan difoto kan?  Bila bisa menambahkan lampu sorot (seperti pada saat resepsi pernikahan) maka anda bisa merubah kondisi low light menjadi kondisi yang lebih terang. Prinsipnya selagi masih bisa memotret dalam kondisi cahaya cukup, mengapa tidak?

Gunakan bukaan besar

Kendali banyaknya cahaya yang masuk ke lensa adalah aperture dan ini bisa diatur untuk membesar (f kecil) dan mengecil (f besar). Kenali dulu berapa bukaan maksimal lensa yang anda pakai, apakah f/1.8 atau f/3.5 misalnya. Bila lensa anda memiliki bukaan maksimal f/3.5 maka hindari memakai bukaan yang lebih kecil seperti f/5.6 atau f/8. Prinsipnya hindari memakai bukaan lensa kecil sehingga kamera bisa memakai shutter yang lebih cepat.

Tips tambahan yang berkaitan dengan aperture / bukaan lensa diantaranya :

  • bila anda memakai DSLR, ingatlah kalau lensa prime punya bukaan lebih besar dari lensa zoom, maka bila anda akan memotret low light untuk event penting usahakan memakai lensa prime (fix) atau kalau memakai lensa zoom pakailah lensa zoom bukaan konstan yang besar (f/2.8)
  • bila anda memakai lensa zoom berjenis variable aperture (bukaan maksimalnya akan semakin mengecil bila lensa di zoom) hindari memakai zoom tinggi saat memotret low light (gunakan fokal terpendek dari lensa zoom) misal anda memakai lensa 70-300mm maka gunakan saja posisi fokal 70mm saat low light guna mendapat bukaan maksimalnya

Aktifkan fitur Image Stabilizer

Image Stabilizer (IS) pada lensa Canon
Image Stabilizer (IS)

Fitur stabilizer berfungsi meredam getaran tangan saat memotret dengan kecepatan rendah, sehingga foto yang dihasilkan tetap tajam. Pada kondisi low light dengan kecepatan shutter yang tidak terlalu rendah (hingga 1/8 detik) penggunaan fitur stabilizer ini masih bisa diandalkan. Setidaknya blur yang terjadi akibat getaran tangan saat memotret bisa diredam dan foto yang dihasilkan saat low light bisa tetap tajam. Periksa kembali kamera dan lensa anda, pastikan fitur ini sudah diaktifkan. Sebagai info, fitur stabilizer ini tidak bisa meredam blur akibat gerakan obyek yang difoto (motion blur). Untuk mengatasi motion blur, baca tips selanjutnya yaitu menaikkan ISO.

Naikkan ISO secara bijaksana

ISO artinya sensitivitas sensor, semakin tinggi ISO semakin sensitif sensor terhadap cahaya. Dengan menaikkan nilai ISO dua kali lipat anda mendapat keuntungan bisa memakai shutter speed dua kali lebih cepat. Bila memakai ISO 100 kamera anda menunjukkan speed 1/20 detik, menaikkan ke ISO 200 akan membuat kamera anda bisa memakai speed 1/40 detik. Inilah mengapa menaikkan ISO menjadi harapan banyak orang saat low light.

Menaikkan ISO membawa implikasi naiknya noise pada foto. Kenali bagaimana noise yang dihasilkan kamera anda saat ISO dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi, setidaknya di ISO 800 dan ISO 1600. Kamera modern dengan algoritma noise reduction modern masih memberi foto yang baik di ISO 800 dan jadikanlah nilai ISO ini sebagai ISO yang berimbang antara shutter yang lebih cepat dengan kualitas foto yang masih bisa diterima. Bila ISO 800 pun kurang mencukupi, dan anda perlu memakai ISO 1600, putuskan secara bijak. Prinsip memakai ISO tinggi adalah lebih baik memiliki foto yang noise daripada tidak mendapat foto sama sekali.

Perhatikan contoh kasus berikut. Suatu sore saat saya main ke kebun binatang, kondisi sudah cukup gelap sehingga saya memakai ISO 800. Saya ingin memotret obyek yang menarik ini, sayangnya kebetulan dia tidak bisa diam. Memang saya sudah mengatifkan fitur stabilizer yang membuat foto tetap tajam meski memakai speed lambat, tampak dari dedaunan yang tampak tajam. Sayangnya gerakan obyek ini membuat dia menjadi blur saat difoto atau motion blur dan kasus ini hanya bisa diatasi dengan memakai shutter yang lebih cepat. Karena saya sudah memakai bukaan lensa maksimal, maka pilihan terakhir adalah dengan menaikkan ke ISO 1600, sehingga saya bisa mendapat kecepatan shutter yang lebih tinggi meski resiko noise lebih tampak dalam foto.

ISO 800ISO 1600

Gunakan tripod

Inilah tips yang kurang disukai sebagian dari kita karena terbayang betapa ribet dan repotnya memakai tripod. Tapi percayalah, tripod ini adalah penyelamat anda apalagi saat fitur stabilizer tak mampu lagi menolong rendahnya speed akibat low light. Setidaknya milikilah sebuah tripod yang ringan namun kokoh, bawalah saat anda memotret karena anda tak pernah tahu kapan anda memerlukan tripod.

Bila terpaksa : nyalakan lampu kilat

Ini adalah tips terakhir dan sekaligus tips termudah yang bisa dilakukan siapa pun tanpa harus memiliki tripod, tanpa harus bermain ISO, aperture atau stabilizer. Bahkan bila kamera anda adalah kamera saku yang serba otomatis, mungkin hanya dengan lampu kilatlah anda bisa mendapat foto yang cukup terang saat low light. Jadi pemakaian lampu kilat memang terkesan terpaksa, apa boleh buat dan daripada tidak dapat foto sama sekali.  Dengan memakai lampu kilat, anda menambah pencahayaan sekaligus kamera akan memakai shutter yang cukup aman (biasanya di 1/60 detik). Namun memakai lampu kilat akan memberi konsekuensi sendiri dan anda perlu tahu kapan memakai lampu kilat dan tahu bagaimana memaksimalkan pemakaiannya.

Bisakah tips di atas digabung?

Jawabannya adalah tentu bisa dan sebaiknya begitu. Saat low light, bila memungkinkan tambahkan penerangan yang cukup, gunakan ISO yang lebih tinggi (ISO 400 – ISO 3200), bukalah aperture lensa anda semaksimal mungkin (f/1.4 sampai f/3.5), hidupkan stabilizer dan bila perlu dibantu dengan lampu kilat. Maka memotret saat low light bukan lagi jadi hambatan anda mendapat foto yang diinginkan. Selamat mencoba..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panduan memilih lensa DSLR

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fix
Pentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wide
Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normal
Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Adalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang dianggap memenuhi kebutuhan wide hingga tele biasa. Lensa semacam ini mampu mengakomodir rentang fokal normal di kisaran 50mm sehingga mampu  menghasilkan foto yang rendah distorsi, dan menghasilkan persepektif yang sama seperti apa yang dilihat oleh mata manusia. Lensa zoom normal akan semakin mahal bila memiliki bukaan besar apalagi bila punya bukaan konstan f/2.8 yang tergolong kelas profesi0nal.

Contoh lensa zoom normal kelas mahal :

  • Lensa 24-70mm f/2.8
  • Lensa 17-55mm f/2.8

Sedangkan lensa zoom normal ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 17-85mm f/4-5.6
  • Nikon AF-S 16-85 f/3.5-5.6
  • Pentax DA 17-70mm f/4
  • Sony SAL DT 18-70mm f/3.5-5.6
  • Olympus Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 17-70mm f/2.8-4

Lensa zoom tele

tele2-8
Nikon AF-S 70-200mm f/2.8 VR

Lensa zoom tele menjadi salah satu lensa yang favorit banyak orang karena kemampuannya untuk dipakai memotret obyek yang jauh, ditambah lagi harganya yang cukup terjangkau. Belum lagi lensa tele mampu menghasilkan foto dengan bokeh yang baik (DOF tipis), bisa dibilang hampir menyamai hasil yang didapat dengan memakai lensa prime.

Namun perlu diingat kalau lensa zoom tele berkisar di fokal tele diatas 100mm, sehingga rentan goyang akibat getaran tangan. Untuk itu para profesional lebih memilih lensa tele bukaan besar dan ditambah fitur stabilizer, sehingga lensa tele masih bisa dipakai di saat kondisi kurang cahaya.

Lensa zoom tele terbagi dua kelompok, yaitu kelompok profesional dan kelompok biasa.

Untuk zoom tele profesional diantaranya :

  • Canon EF 70-200mm f/2.8
  • Nikon AF-S 70-200mm f/2.8  (gambar di atas)
  • Pentax DA 60-250mm f/4
  • Sony SAL 70-200mm f/2.8
  • Olympus Zuiko 90-250mm f/2.8
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 70-200mm f/2.8
tele
Sigma 70-300mm f/4-5.6

Untuk zoom tele biasa, umumnya terdapat pilihan 70-300mm (gambar di atas) yang fokal telenya cukup panjang dan 55-250mm (gambar di bawah) yang lebih ekonomis. Perhatikan kalau lensa tele ekonomis punya variabel aperture (misalnya f/4-5.6), sehingga bukaannya akan semakin mengecil saat lensa di-zoom maksimal. Maka itu lensa tele semacam ini dihindari oleh para profesional karena sulit diandalkan di saat perlu speed tinggi.

tele2
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6

Meski demikian, lensa tele ekonomis seperti ini laris manis karena harganya murah dan hasil fotonya di tempat yang cukup cahaya masih sangat baik. Jadilah lensa semacam ini menjadi lensa favorit untuk kebutuhan harian dan untuk sekedar hobi.

Lensa zoom all-round  / super zoom / sapu jagad

tamron_18-270
Tamron 18-270mm f/3.5-5.6 VC

Adalah istilah untuk lensa zoom dengan kemampuan mencover rentang wide hingga tele yang ekstrim, hingga lensa ini mampu menggantikan beberapa macam lensa sehingga praktis dipakai kemana saja. Umumnya lensa ini memiliki rentang fokal 18-200mm, meski ada juga yang bisa mencapai 18-270mm (lihat gambar di atas). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih lensa jenis ini :

  • Lensa ini praktis namun tergolong mahal
  • Lensa ini hanya tersedia untuk jenis variable aperture saja
  • Kemampuan optik dari lensa ini tergolong pas-pasan (karena banyaknya elemen optik di dalamnya)
  • Usahakan memilih lensa jenis ini yang dilengkapi dengan fitur stabilizer optik

Itulah panduan memilih lensa DSLR yang kami sajikan. Untuk diskusi dan pertanyaan bisa disampaikan melalui forum yang ada atau lewat komentar di bawah ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera Sigma dengan sensor Foveon kembali hadir

Di ajang Photo Marketing Association (PMA) 2010 kali ini, kejutan besar justru datang dari Sigma. Selain merilis banyak lensa baru atau menyempurnakan lensa lama, Sigma juga menghadirkan tiga kamera bersensor Foveon. Sensor Foveon memiliki karakteristik khas dengan tiga lapis filter warna RGB yang menjamin keindahan warna seperti aslinya. Ketiga kamera itu adalah Sigma SD15 (DSLR), Sigma DP2s dan Sigma DP1x (kamera saku). Ingin tahu seperti apa ketiganya? Kami ulas semuanya untuk anda.

Sensor Foveon X3 adalah sensor dengan tiga lapis filter warna berjenis CMOS dengan ukuran yang sama seperti sensor DSLR APS-C, sehingga crop factor yang dihasilkan juga sama. Sensor Foveon X3 ini memiliki resolusi 14 MP total, artinya resolusi ini adalah penggabungan dari 3 layer warna RGB yang ditumpuk, sehingga resolusi aktual foto sesungguhnya adalah 2652 x 1768 piksel (atau kurang dari 5 MP). Karena di tiap pikselnya sensor ini memiliki filter RGB tersendiri, maka tidak dikenal interpolasi warna yang selama ini dijumpai di sensor konvensional. Hasilnya, warna mampu direproduksi seindah aslinya, tidak pucat karena teknik interpolasi. Apalagi dengan memakai format RAW, menghasilkan foto dengan warna warni indah bisa diwujudkan lebih mudah lagi.

Ketiga kamera Sigma baru ini merupakan penerus dari seri sebelumnya, kini dengan memakai layar LCD berukuran 3 inci yang sedang jadi tren di tahun ini. Inilah ketiga kamera Sigma baru di tahun 2010 :

Sigma SD15

sigma-sd15

Kamera DSLR yang diperkenalkan tahun 2008 ini akhirnya siap untuk diproduksi masal tahun ini. Berbekal sensor Foveon X3 14 MP, kamera ini siap bersaing dengan merk lain dengan sederet fitur menawan. Sejak tahun 2002, Sigma telah meluncurkan beberapa produk DSLR seri SD seperti SD9, SD 10 dan SD14. Kamera dengan mounting lensa Sigma SA ini memang cuma punya 5 titik AF, tapi kalau ditinjau dari fitur lainnya sudah tergolong lumayan, seperti sensor metering dengan 77 segmen dan finder berjenis prisma. Untuk adu spesifikasi dengan merk lain mungkin Sigma SD15 ini masih kalah, tapi inilah kamera DSLR satu-satunya dengan sensor Foveon yang ada di pasaran.

Sigma DP2s

sigma-dp2s

Kamera saku yang lensanya tidak bisa di-zoom ini mungkin tidak membuat kebanyakan orang tertarik. Desainnya yang kotak berwarna hitam dengan lensa fix 24mm memang tidak akan mencatat rekor dalam penjualan. Tapi secara esensi, kamera ini menjadi idaman para profesional yang mencari kualitas hasil foto terbaik yang bisa diberikan oleh sebuah kamera saku. Dibalik ukurannya yang kecil, tersimpan sensor Foveon X3 14 MP yang sama seperti yang dipakai Sigma SD15. Karena sensor ini berukuran setara dengan sensor DLSR APS-C, maka lensa fix 24mm di kamera ini akan setara dengan fokal 41mm dengan bukaan f/2.8 yang cepat, sehingga cocok untuk dipakai foto potret atau low light. Tersedia RAW file format dan flash hot shoe untuk mendukung kerja para profesional. Urusan kecepatan fokus yang jadi kekurangan Sigma DP2 sudah disempurnakan di Sigma DP2s ini.

Sigma DP1x

sigma-dp1x

Kamera ini merupakan penerus Sigma DP1s yang lensanya juga fix, hanya berbeda di fokal lensa saja dengan DP2. Bila DP2 memakai lensa 24mm yang setara dengan 41mm, disini digunakan lensa yang lebih wide yaitu 16mm (setara 28mm) namun bukaan maksimalnya lebih kecil yaitu f/4. Sigma DP1x juga memakai sensor Foveon X3 14 MP berukuran APS-C, RAW dan flash hot shoe serta ditunjang dengan kinerja auto fokus yang telah disempurnakan. Kamera ini cocok untuk dipakai untuk para profesional saat memotret landscape dan interior, namun lensanya yang hanya bisa membuka di f/4 kurang cocok dipakai untuk urusan kecepatan tinggi, apalagi tidak tersedia fitur stabilizer pada kamera Sigma DP apapun.

Contoh hasil foto Sig,aa DP2 dengan sensor Foveon
Contoh hasil foto Sigma DP2 dengan sensor Foveon

Lensa Sigma

Selain meluncurkan tiga kamera, di ajang PMA 2010 Sigma juga meluncurkan banyak lensa baru dengan mount Nikon, Canon, Pentax, Sony dan Sigma, yaitu :

Lensa untuk DSLR Full Frame (berkode DG) :

  • Sigma APO 70-200mm f/2.8 EX DG OS HSM (lensa tele profesional cepat kini dengan stabilizer OS)
  • Sigma APO 50-500mm f/4.5-6.3 DG OS HSM (lensa super tele juga kini dilengkapi OS)
  • Sigma 85mm f/1.4 EX DG HSM (lensa prime kelas elit)

Lensa untuk DSLR crop / APS-C (berkode DC) :

  • Sigma 8-16mm f/4.5-5.6 DC HSM (lensa paling wide yang pernah ada untuk APS-C)
  • Sigma 17-50mm f/2.8 EX DC OS HSM (lensa profesional normal untuk APS-C, kini dengan OS)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa wide baru dari Nikon untuk DSLR format FX

Setelah lama dirumorkan, Nikon akhirnya merilis dua lensa kelas premium anyar berformat FX. Artinya, lensa ini memiliki diameter lebih besar sehingga bisa dipakai di kamera SLR film maupun DSLR full-frame. Lensa pertama yang dirilis adalah lensa fix 24mm yang punya bukaan besar (f/1.4) sementara lensa kedua adalah lensa zoom 16-35mm dengan bukaan konstan f/4. Tentu saja dilihat dari fokal lensa tadi, terbayang sudah kalau pecinta landscape akan bergembira dengan hadirnya dua lensa wide kelas atas ini.

Nikon AF-S 24mm f/1.4G ED
Nikon AF-S 24mm f/1.4G ED

Lensa fix AF-S 24mm f/1.4G ED memiliki diameter filter 77mm, dilapisi coating Nano untuk mengurangi pantulan dan flare, dan bila dipakai di format DX maka akan setara dengan 36mm. Lensa seharga 20 juta ini menggantikan lensa fix lawas Nikon 28mm f/1.4 yang diakui ketajamannya. Bila kita ingat setahun yang lalu, Canon sudah lebih dulu meluncurkan lensa yang persis sama yaitu 24mm f/1.4L II seharga 17 juta.

Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR
Nikon AF-S 16-35mm f/4G ED VR

Lensa zoom AF-S 16-35mm f/4G ED VR merupakan produk baru yang tidak bisa dibandingkan dengan lensa Nikon lama. Hal ini karena disini Nikon memakai desain aperture konstan f/4 yang sebelumnya dipakai di lensa AF-S 12-24mm. Lensa legendaris Nikon lama, 18-35mm f/2.8 punya rentang fokal yang mirip dengan lensa AF-S 16-35mm f/4 VR ini, meski tentu secara kecepatan lensa bukan padanan seimbang. Kekuatan utama lensa ini ada di sistem VR-nya, pertama untuk lensa wide berformat FX. Meski punya bukaan maksimum f/4, namun lensa ini tidak lantas tampak kecil. Fisiknya hampir sama besar seperti lensa 24-70mm f/2.8, diameter filter 77mm, bobotnya 680 gram dan akan dijual di kisaran harga 12 jutaan. Bagi anda pemilik DSLR Nikon DX bila ingin memiliki lensa ini maka fokalnya akan setara dengan 24-52mm yang agak tanggung untuk wide dan tentu kurang untuk tele.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..