Enam panduan mengatur setting kamera untuk memotret di kondisi yang sulit

mode-dial-canonKita tahu setting di kamera modern itu sangat banyak, yang tentunya sangat membantu kita dalam menghadapi berbagai kondisi pemotretan sehari-hari. Namun kita juga tahu masih banyak pemilik kamera yang tidak (mau) tahu kegunaan setting-setting tersebut, sehingga tidak dimanfaatkan saat menghadapi kondisi yang cukup sulit atau tidak ideal. Kita boleh saja pakai mode AUTO dan kamera akan pikirikan apa setting terbaik untuk setiap kondisi, tapi kan kita tidak punya kendali atas setting tersebut dan juga kita tidak pernah belajar darinya. Pada akhirnya kita bisa jadi tidak puas dengan hasilnya. Boleh dibilang mode AUTO itu lebih cocok dipakai dalam kondisi yang ideal saja, seperti cukup cahaya, bendanya tidak bergerak dan momennya tidak berlalu dengan cepat. Namun saat kondisi menjadi lebih sulit, pencahayaan menantang, warna sumber cahaya yang tidak mudah, subyek terus bergerak, kita tidak bisa lagi mengandalkan mode AUTO di kamera. Kali ini kami akan berbagi banyak tips penting untuk menghadapi bermacam kondisi sulit, tentunya dengan menjelaskan setting apa yang harus dipilih. Ada baiknya setelah dibaca, anda juga praktekkan untuk lebih memahami dan bisa membuktikan sendiri. Ayo mulai..

Kondisi 1 : cahaya berubah-ubah

Misal : saat memotret konser dengan lampu sorot dan lampu latar (LED) yang terus berubah

Pertama yang harus diingat adalah, jangan pakai mode Manual exposure. Biarkan kamera menghitung sendiri cahayanya dan memberikan nilai ekpsosur yang tepat untuk kita. Bisa gunakan mode P (Program) atau A/Av (Aperture Priority) atau S/Tv (Shutter Priority). Gunakan juga mode metering Spot, lalu kunci pengukuran metering ke obyek utama yang ingin difoto, ini dilakukan supaya kita bisa mendapat pengukuran yang pas walau cahayanya sulit.

spot-metering

Bila kita merasa setting eksposur yang diberikan kamera sudah pas, bisa kita kunci setting dengan menekan dan menahan tombol AE-Lock (simbol bintang di kamera Canon, atau tombol AE-L di kamera lain). Tak perlu menunggu lama, setelah jempol kita menahan tombol ini segeralah mengambil foto untuk mencegah perubahan cahaya lagi. Selamat mencoba..

ae-lock-canon

Kondisi 2 : kontras tinggi

Misal : siang hari outdoor matahari terik dan subyek yang akan difoto tampak gelap

hdr in camera

Disini tidak ada satu solusi yang mudah, karena memang kenyataannya dynamic range sensor kamera tidak bisa menyamai apa yang kita lihat. Maka kamera selalu kesulitan untuk menangkap semua terang gelap di alam dengan sama baiknya. Biasanya yang terjadi adalah langit menjadi terlalu terang, atau justru obyek utamanya jadi terlalu gelap. Ada beberapa setting kamera yang bisa dicoba dengan plus minus masing-masingnya :

  • Mengatur kompensasi eksposur, biasanya dikompensasi ke arah + (positif), cocok bila kita ingin obyek utama terlihat terang namun background terpaksa jadi terlalu terang/over (untuk mengembalikan detail di daerah yang over memang hampir mustahil, tapi cobalah pakai RAW dan diatur highlight settingnya di olah digital kadang-kadang bisa membantu sedikit)

tombol-ev

  • Mengatur fitur Active D Lighting (Nikon), Auto Lighting Optimizer (Canon), bisa menjaga kontras dimana hasil fotonya diusahakan tidak ada yang terlalu terang dan terlalu gelap (tidak bisa pakai RAW)

active_d-lighting

  • memakai mode in camera HDR (bila ada), seperti contoh foto atas kanan (mode ini tidak cocok bila obyeknya bergerak dan juga tidak bisa pakai RAW)

03-canon-hdr-mode-settings

Tips tambahan : di kamera Canon ada fitur Highlight Tone Priority, ini bisa diaktifkan untuk mencegah over eksposur di daerah putih seperti baju pengantin atau langit.

Kondisi 3 : subyek bergerak, momen sulit diprediksi

Misal : aktivitas outdoor, event olahraga, perlombaan dsb

dsc_4408

Yang perlu diingat disini adalah untuk mendapatkan foto yang timingnya pas, diperlukan fokus dan drive kontinu (terus menerus). Selain itu tentu shutter speed harus dipilih yang cukup cepat supaya obyeknya beku/diam.

canon7d-af-mode

Drive continu bisa dipilih di drive mode, biasanya kamera bisa memotret mulai dari 4 foto per detik yang cukup lumayan untuk memotret berturut-turut. Kamera lebih canggih bahkan bisa memotret sampai 11 foto per detik. Untuk mengaktifkan fokus kontinu pilih mode AF-C (di kamera Nikon dan Sony) atau AF mode ke AI Servo (di kamera Canon). Selanjutnya tentu kita harus membidik obyeknya, tekan dan tahan setengah tombol jeptret (atau tekan dan tahan tombol AF-ON) lalu saat momennya tiba tekan penuh tombol jepret cukup lama supaya bisa diambil banyak foto. Nantinya pilih dari sekian foto yang diambil manakah yang momen dan timingnya paling pas.

Kondisi 4 : aktivitas di tempat kurang cahaya

Misal : seremoni indoor (wedding, wisuda, pentas seni dsb)

ISO

Kondisi seperti ini kerap kita hadapi, dan bisa dibagi dua kelompok : bisa dibantu flash dan tidak. Idealnya kita punya flash eksternal yang bisa di bounce ke langit-langit sehingga cahayanya lebut dan natural. Untuk menambah kekuatan flash bisa juga naiikan ISO hingga ISO 800. Namun bila flash tidak bisa dipakai (entah karena dilarang atau jangkauannya terbatas) maka hal yang penting adalah gunakan bukaan maksimal (lensa yang bisa f/2.8 atau lebih besar akan lebih embantu) dan naikkan ISO cukup tinggi (ISO 1600-3200) supaya foto jadi terang, shutter speed tetap cepat sehingga momen yang difoto tidak blur.

dsc_8848-bounce

Walau tampak terang, foto diatas diambil di dalam ruangan yang kurang cahaya. Untuk itu penggunaan flash dengan bounce akan membantu pencahayaan. Jangan lupa karena aktivitas di dalam ruangan ini umumnya dinamis (bergerak), tips di kondisi 3 diatas seperti AF mode kontinu kadang tetap diperlukan.

Kondisi 5 : warna sumber cahaya yang sulit

Misal : di cafe/resto/hotel, bermacam sumber cahaya bercampur (matahari, lampu, flash)

Paling aman pakailah format file RAW lalu diedit belakangan, sesuaikan setting White Balance yang diinginkan. Tapi bila kita mau hasil akurat tanpa perlu repot edit, maka kita perlu siapkan kertas putih di lokasi pemotretan, lalu lakukan prosedur Custom/Preset WB atau Measure WB. Syaratnya, kertas putih harus difoto penuh, dengan sumber cahaya yang sama dengan yang akan kita pakai nanti. Dengan begitu kamera akan mengerti setting WB optimal dari kertas putih tadi.

WB pakai kertas putih

Khusus di cafe/resto/hotel umumnya disengaja memberi pencahayaan hangat (lampu tungsten yang kekuningan) sehingga membuat dilema saat difoto. Bila kita netralkan maka seolah-olah di lokasi itu lampunya putih netral (tidak ada kesan hangat), tapi bila dibiarkan kuning maka orang yang ada di foto tersebut warnanya (kulit, baju dsb) jadi tidak netral.

Contoh warna kuning dinetralkan jadi putih, benar secara teknis tapi jadi tidak terlihat warna aslinya :

p1000163-netral

Lalu difoto lagi dengan menjaga warna aslinya, lebih hangat (kuning) tapi tidak netral :

p1000164-hangat

wb-shift

WB shift juga bisa dilakukan bila kita sudah tahu ingin membiaskan hasil warna akhir ke arah mana : Hijau – Magenta atau Biru – Merah. Idealnya titik tengah akan memberi hasil netral apabila setting WB sama dengan sumber cahayanya. Tapi kalau kita mau geser bisa juga, dengan menggeser ke kanan maka tone warna akan semakin kemerahan. Bila titik tengah memberi hasil yang tidak netral (misal akibat gangguan dari warna biru pada cahaya yang ada) maka ada baiknya WB shift digeser ke kanan supaya hasil akhirnya tidak lagi biru. WB shift juga boleh dipakai untuk membuat warna sengaja berbeda, misal di daerah berkabut putih akan lebih unik bila WB di geser ke warna biru.

Kondisi 6 : balance flash di tempat low light atau fill flash untuk backlight

Misal : foto potret dengan flash, tapi ingin suasana sekeliling terlihat terang, atau sebaliknya mengisi flash saat backlighting

Flash slow speed dimaksudkan unyuk menerangi subyek yang dekat, namun untuk menangkap ambient light perlu shutter speed yang cukup lambat, misal di belakangnya ada lampu-lampu gedung. Biasanya dipilih 1/30 detik hingga 1/8 detik. Perhatikan kalau tripod sebaiknya dipakai untuk speed lambat.

Foto berikut pakai shutter 1/20 detik, ISO 800 dan lampu flash :

dsc_7633

Bedakan dengan foto berikut ini :

dsc_5327

Ini perkecualian karena backlight / melawan matahari, jadi shutter speed boleh lebih cepat (misal 1/100 detik) tapi supaya obyek utama tidak jadi siluet maka flash tetap diset untuk menyala seperti foto diatas.

————————————————————————————————————————————————

Untuk belajar teknik fotografi bersama saya dan Enche Tjin, ikuti kelas Mastering Teknik.

Untuk memahami istilah-istilah fotografi, beli buku Kamus Fotografi.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera apa untuk belajar fotografi

Pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh mereka yang hendak membeli kamera dan bingung lantaran banyaknya pilihan dan jenis kamera yang ada saat ini. Hal penting yang perlu digarisbawahi dari pertanyaan diatas adalah ‘belajar fotografi’, setidaknya si penanya tahu bahwa dia punya visi akan memakai kameranya untuk mendukung hobi fotografi, bukan untuk asal jepret saja. Kita akan bahas kamera seperti apa sih yang cocok untuk belajar fotografi itu.

Kalau anda tergolong seorang snapshooter, atau yang suka memotret asal jepret saja, pada dasarnya anda tidak perlu kamera khusus, pakai saja kamera saku atau bahkan kamera ponsel. Saat ini ponsel cerdas sudah punya sensor yang resolusinya tinggi, auto fokus dan ada lampu kilatnya. Tapi jangan salah, meski cuma ponsel berkamera, dia juga bisa menghasilkan foto yang bagus, misalnya dipakai oleh orang yang paham soal komposisi atau saat ketemu momen yang tepat.

Kembali ke topik. Kalau disederhanakan, semua kamera, film dan digital, dari di ponsel sampai DSLR tentu bisa untuk belajar fotografi. Karena fotografi kan luas, tidak hanya aturan baku eksposur maupun hal-hal teknis seperti metering dan fokus. Tapi kalau dibahas soal kamera apa yang secara teknis bisa mendukung pemahaman kita terhadap dunia fotografi, nah ini mulai seru.

Idealnya, kalau kita mau puas memaksimalkan kamera kita untuk memahami fotografi, carilah kamera yang

  • punya mode manual eksposur, artinya kita bisa menentukan sendiri mau memakai shutter speed dan aperture lensanya
  • ada dudukan lampu kilat eksternal untuk kita belajar pencahayaan
  • bisa menyimpan file RAW sehingga hasil fotonya bisa diedit sendiri
  • bisa manual fokus yang berguna saat auto fokus meleset atau gagal
  • punya tombol dan roda kendali yang bisa untuk mengganti setting dengan cepat

kalau dilihat kelima item diatas, pilihannya akan mengerucut pada kamera-kamera lumayan mahal, paling tidak sudah seharga 3 jutaan. Well, ya bagaimana lagi, kalau kamera 2 juta kebawah memang lebih untuk snapshot saja dan itupun pasarnya sudah digerus oleh ponsel cerdas. Tapi kalau anda perlu kamera terjangkau yang bisa buat memahami fotografi, paling tidak poin pertama itu wajib, yaitu bisa manual eksposur. Cirinya ada mode M, yang biasanya dilengkapi juga dengan mode semi-manual seperti A (Aperture priority) dan S (Shutter priority). Dengannya, kita bisa menentukan efek kreatif seperti memakai shutter speed lambat misal untuk menghaluskan gerakan air (di pantai, sungai, air terjun dsb) atau mengatur ruang tajam (Depth of Field) dengan merubah nilai bukaan lensa.

canon-650d-stm

Jadi, kalau dananya cukup, usahakan beli kamera DSLR untuk belajar fotografi. Selain pengaturannya lengkap, hasil fotonya juga bagus. Memang mahal dan perlu beli berbagai tambahan lagi seperti lensa, flash dll tapi itu sepadan dengan ilmu yang akan kita dapat. Kalau yang suka dengan kameramirrorless pada dasarnya oke juga, dia sama seperti DSLR juga dan tentu cocok untuk belajar fotografi.

p7700

Bila dana terbatas, di kisaran 3 jutaan ada kamera non DSLR (lensanya tidak bisa diganti) yang punya kelengkapan lumayan. Misalnya bisa mode manual, ada dudukan flash dan bisa RAW. Kamera ini disebut kamera prosumer, atau bridge-camera atau kamera advance compact. Ada beberapa produk yang cukup populer seperti Canon seri-G, Nikon seri-P, Fuji seri-HS dan Lumix seri-FZ. Bila hanya perlu kamera kecil yang cukup lengkap dan canggih, ada Canon seri-S, Olympus seri-XZ dan Lumix seri-LX.

Tambahan info :

Kalau sudah beli kameranya, bisa ikuti kelas fotografi kami untuk lebih cepat paham dengan panduan dari seorang praktisi dan photography enthusiast, sekaligus penulis buku yaitu Enche Tjin. Anda bisa memilih kelas sesuai kebutuhan :

  • kelas fotografi sabtu-minggu plus belajar lighting, info disini
  • kelas fotografi malam (3 hari), info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Canon, info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Nikon, info disini
  • kelas 1 hari memaksimalkan kamera compact / saku, info disini
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Coolpix A, kamera saku DX pertama dari Nikon

Nikon akhirnya meluncurkan kamera saku Coolpix kelas atas dengan sensor besar, yang diberi nama Coolpix A. Kamera yang masih terlihat mungil ini ternyata mempunyai sensor besar seukuran APS-C (ukurannya sama seperti kamera DSLR Nikon DX, misal D7000). Meski agak terlambat dibanding pesaing, upaya bersejarah Nikon ini tetap menarik buat disimak.

Coolpix A dengan sensor APS-C

Rancang desain Coolpix A terinspirasi dari kamera saku Coolpix P300 series yang termasuk kamera saku premium Nikon dengan sensor kecil. Bentuknya terkesan formal, kotak tapi manis dengan pilihan warna hitam atau silver.  Kamera seharga 10 jutaan ini punya lensa 18,5mm (setara 28mm) dengan bukaan maksimal f/2.8 dan sensor 16 MP ukuran APS-C. Kesamaan desain Coolpix A dengan P300 series juga tampak dari ring disekitar lensa yang bisa diputar untuk mengatur bukaan atau manual fokus.

nikon-coolpix-a

Sebagai kamera top class dari Nikon Coolpix yang disiapkan untuk melawan merk lain yang lebih dulu ada (Canon G1X, Sony RX100, Fuji X100s dsb) maka Coolpix A ini pasti dilengkapi fitur fotografi lengkap seperti RAW file, virtual horizon dan flash hot shoe. Untuk kinerjanya bisa memotret sampai 4 foto per detik, dan bisa hingga ISO normal 6400. Bagi yang perlu jendela bidik optik harus membeli terpisah sebagai aksesori.

Nikon juga keluarkan Coolpix P330

Di kelas P300 series Nikon juga hadirkan produk baru penerus P310 yang kini diberi nama P330 (rupanya nama P320 dilewat) dengan perubahan utama dalam resolusi sensor yang turun dari 16 MP jadi 12 MP. Tapi turunnya resolusi ini malah diapresiasi banyak pihak karena memang best practice membuktikan kamera saku dengan sensor kecil lebih baik memakai resolusi 10-12 MP saja, daripada memaksakan pakai 16-20 MP. Apalagi ukuran sensor di P330 naik sedikit dari sebelumnya 1/2,3 inci jadi 1/1,7 inci sehingga secara teori hasil fotonya pasti ada perubahan ke arah yang lebih baik.

nikon-p330

Nikon Coolpix P330 dipersiapkan untuk melawan Canon S110 dengan banyak kemiripan spesifikasi, termasuk bukaan lensa yang besar di posisi wide dan pakai ring di lensa untuk mengganti setting. P330 juga bisa simpan file RAW dan kisaran harganya sekitar 3,5 jutaan. Sayangnya desain lensa zoom 24-120mm VR di P330 ini punya bukaan maksimal yang mengecil di posisi tele, yaitu persisnya adalah f/1.8-5.6. Lagipula seperti pada Canon S110, tidak dijumpai adanya flash hot shoe untuk memasang lampu kilat eksternal.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon hadirkan kamera ‘compact’ kelas atas : Coolpix P7700

Nikon kemarin mengumumkan kehadiran kamera prosumer kelas atas, Coolpix P7700 yang merupakan penyempurnaan dari seri sebelumnya yaitu P7100 (2011) dan P7000 (2010). Kamera compact sarat fitur yang berukuran  agak besar ini hadir cukup terlambat, karena saat ini persaingan sudah semakin keras dengan hadirnya berbagai kamera saku berlensa cepat maupun kamera mirrorless dengan lensa yang bisa dilepas. Lalu apakah P7700 masih akan diminati oleh para fotografer? Simak saja sederet fiturnya berikut ini.

p7700

Coolpix P7700 menjadi kamera tercanggih dan terbaik dari Nikon di kelas kamera compact, untuk lensa yang menyatu dengan bodi. Kamera ini semestinya masuk ke daftar kamera compact dengan harga selangit yang artikelnya kami susun bulan lalu. Meski di kelompok yang sama Canon sudah meluncurkan Canon G1X dengan sensor besar 1,5 inci, Nikon tidak meladeninya bahkan sensor yang dirumorkan akan berukuran 1 inci pun tidak terbukti. Nyatanya P7700 masih memakai sensor kecil 1/1.7 inci yang kerap dipakai kamera prosumer compact seperti Lumix LX7 atau Canon S100. Lalu apa keuntungan dari kecilnya sensor BSI CMOS 12 MP ini? Sensor kecil memudahkan desain lensa yang bisa membuka besar dan punya rentang zoom yang panjang, tak heran kalau P7700 punya lensa yang impresif yaitu Nikkor ED 28-200mm f/2-4 dengan stabilizer optik VR generasi kedua.

p7700-top

Kami menyukai desain bodinya yang tampak mantap digenggam, berbahan magnesium alloy dan dilengkapi berbagai tombol dan kendali eksternal di sana sini. Belum lagi ada tiga roda kendali layaknya kamera profesional, yaitu satu di depan atas (diputar dengan telunjuk), satu di belakang atas (diputar dengan jempol) dan ketiga adalah roda yang berfungsi juga sebagai tombol empat arah (juga diputar dengan jempol). Roda untuk kompensasi eksposur juga masih dipertahankan di P7700 ini, demikian juga dengan roda pengaturan cepat untuk berbagai setting seperti ISO, WB, QUAL, BKT, Picture Style dan My Menu (bahkan roda ini tidak dijumpai di DSLR Nikon).

p7700_back

Layar LCD lipat seperti jadi hal wajib di kamera masa kini, karena memudahkan untuk merekam video maupun memotret dengan sudut-sudut tidak umum. Nikon menghilangkan jendela bidik optik di P7700, suatu hal yang dikritik banyak orang meski fungsinya bisa dibilang tidak terlalu penting (berbeda dengan jendela bidik optik di DSLR). Nikon memberikan lampu kilat built-in yang bisa mengendalikan flash eksternal secara TTL, juga menyediakan hot shoe untuk aksesori flash maupun GPS.

Spesifikasi dasar P7700 :

  • sensor BSI-CMOS 12 MP, ukuran 1/1,7 inci
  • lensa 7,1 x zoom, 28-200mm f/2-4 dengan built-in ND filter
  • full manual mode, RAW
  • 8 foto per detik
  • ISO 80-3200, bisa diangkat ke 6400
  • full HD, bisa manual esksposur, stereo, bisa zoom optik
  • layar 3 inci, 900 ribu piksel, bukan layar sentuh

Kamera dengan harga hampir 5 juta ini mungkin hanya akan dibeli oleh sebagian kecil fotografer saja, baik itu sebagai hobi maupun sebagai cadangan untuk bekerja. Kamera ini juga mungkin cocok untuk anda yang :

  • tidak suka kamera dengan lensa yang bisa dilepas
  • perlu lensa zoom 7x dengan bukaan besar
  • perlu kamera yang ada manual mode, dengan banyak  tombol dan kendali eksternal layaknya DSLR
  • perlu kamera yang bisa bekerjasama dengan flash Nikon
  • jarang memakai ISO tinggi
  • tidak perlu lensa yang lebih wide dari 28mm
  • tidak mencari bokeh seperti DSLR

Note :

di hari yang sama dengan peluncuran P7700, Nikon juga memperkenalkan kamera saku pertama di dunia dengan OS Android (versi 2.3 Ginger Bread) dengan nama Coolpix S800c.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah kamera ‘high end compact’ dengan harga selangit

Kamera DSLR semakin murah, canggih dan terjangkau. Tapi masih ada lho fotografer yang mencari kamera saku kelas atas, walau harganya bisa menyamai harga kamera DSLR. Kamera semacam ini disebut juga high-end compact. Alasan utamanya karena mereka enggan membawa kamera yang besar dan menarik perhatian orang, misalnya seperti di keramaian. Kamera saku high-end memang kecil, praktis dan ringkas, tapi tidak berarti kemampuannya juga kecil. Kamera-kamera berikut ini punya fitur yang sepadan dengan harganya, banyak kendali eksternal, bisa simpan file RAW, full HD dan tentunya manual mode yang lengkap. Kita simak yuk..

Canon Powershot G1X : sensor ekstra besar, bodi juga besar

Kamera buatan awal 2012 ini sudah pernah kami ulas disini. Bodi Canon G1X sudah tidak bisa disebut kamera saku, tapi lebih ke kamera compact prosumer. Bodi besar karena mengakomodir sensor besar (hampir seukuran sensor APS-C) dan tentunya lensa juga besar. Kamera seharga 6 jutaan ini beresolusi 14 MP dan bisa mencapai ISO 12800.

canong1xlcd-screen

Plus : sensor besar (1,5 inci), jendela bidik optik, ISO 12800, ND filter, flash hot shoe, layar lipat

Minus : besar, berat, bukaan lensa maksimal di posisi tele cuma f/5.8

Sony CyberShot RX100 : sensor besar dalam bodi mungil

Kamera yang diperkenalkan bulan lalu ini dijual sangat mahal, mungkin hampir mencapai 7 juta rupiah. Keunggulannya adalah sensor cukup besar (1 inci, alias sama dengan sensor Nikon 1), resolusi tinggi 20 MP, lensa Zeiss bukaan besar f/1.8 dan ukurannya yang kecil, mirip seukuran Canon S100. Tidak mudah membuat kamera kecil dengan lensa bukaan besar dan sensor relatif besar, maka itu kamera ini membuat kamera saku berlensa cepat seperti Lumix LX5 atau Olympus XZ-1 seperti tidak ada apa-apanya.

sonyrx100

Plus : sensor lumayan besar (1 inci), lensa bukaan f/1.8 (pada posisi 29mm), bisa 10 fps

Minus : tidak ada flash hot shoe, LCD tidak bisa dilipat, bukaan lensa maksimal di posisi tele cuma f/4.9, tidak ada grip

Samsung EX2F : dengan layar lipat dan WiFi

Kamera penerus EX1 ini baru saja diumumkan kehadirannya hari ini. Mengusung tagline ‘World’s brightest compact lens’ kamera EX2F ini memang punya lensa ajib, yaitu Schneider 24-80mm f/1.4-2.7 yang jadi impian banyak fotografer. Sensor BSI CMOS 12 MP yang dipakai memang hanya berukuran 1/1.7 inci saja, atau setara dengan kamera saku kelas menengah lainnya. Kamera seharga 6 jutaan ini juga sudah dilengkapi dengan WiFi.

samsung-ex2f

Plus : lensa ‘ideal’ dalam fokal maupun bukaan, layar Amoled lipat, ND filter, flash hot shoe, WiFi

Minus : sensor ‘kalah besar’ dibanding Sony RX100

Panasonic Lumix LX7 : bermodal lensa Leica 24mm f/1.4

Panasonic akhirnya membuat penerus dari kamera premium LX5 yang populer, dengan meluncurkan Lumix LX7 dengan lensa bukaan besar f/1.4 buatan Leica. Lensa di Lumix LX7 punya fokal 24-90mm f/1.4-2.3 yang bisa dibilang sedikit lebih unggul dari lensa Schneider di Samsung EX2F diatas. Bedanya Lumix LX7 tidak memakai layar lipat dan tidak ada fitur WiFi. Sebagai sensornya dipakai sensor MOS 10 MP berukuran 1/1,7 inci. Terdapat akses langsung ke ND filter di bodi belakang, sangat praktis. Seperti LX5, terdapat aspect ratio selector di dekat ring lensa, suatu fitur yang jarang ditemui di kamera lainnya. Harga TBA.

lx7k_front

Plus : lensa ‘ideal’ dalam fokal maupun bukaan, multi aspect ratio, 3 stop ND filter, flash hot shoe

Minus : sensor lebih kecil dari LX5 (1/1.7 inci vs 1/1.63 inci), layar tidak bisa dilipat

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Menyikapi ‘Highlight Clipping’ pada kontras tinggi

Sering kita baca di sebuah review kamera digital yang menyatakan kekurangan dari kamera yang direview, cenderung mengalami highlight clipping. Disini kami akan jelaskan arti dari istilah highlight clipping pada sebuah foto, mengapa bisa terjadi dan cara menyikapinya. Dari istilah, highlight artinya area terang dalam sebuah foto. Lawannya adalah shadow (area gelap). Sebuah foto yang eksposurnya lengkap akan memiliki area shadow, midtone dan highlight yang berimbang. Namun bila area highlight terlalu terang maka akan terjadi clipping atau terlalu terang sehingga detail di daerah terang tersebut hilang (washout).

images

Tidak seperti mata manusia, setiap sensor kamera punya rentang jangkauan dinamis (dynamic range) yang lebih terbatas. Sensor tidak sanggup untuk merekam seluruh rentang terang gelap yang sangat lebar di alam ini.  Untuk menjaga foto tetap pada eksposur yang tepat, kamera akan melakukan metering dan menentukan nilai shutter, aperture dan ISO yang sesuai untuk setiap kondisi pemotretan. Meski kemampuan sensor dalam menangkap terang gelap di alam ini terbatas, foto yang dihasilkan semestinya tetap punya terang gelap yang pas karena kamera berpatokan pada medium grey 18% dalam mencari eksposur. Tapi semakin kontras obyek yang difoto, kamera akan semakin kesulitan dalam menghasilkan foto yang eksposurnya tepat. Disinilah setiap kamera memiliki pendekatan yang berbeda tergantung prosesor dan insinyur pembuatnya.

Contoh highlight clipping

Kamera saku dan sejenisnya, dengan sensor kecil, lebih rentan mengalami highlight clipping. Obyek yang cukup kontras sudah bisa membuat kamera saku kesulitan dan area putih yang dihasilkan akan cenderung washout (lihat detil jendela yang washout pada foto diatas). Kamera DSLR dengan sensor lebih besar pun tetap bisa mengalami  highlight clipping bila dipakai memotret obyek yang sangat kontras. Jadi bila anda memang hanya memiliki kamera dengan sensor kecil, perlu memahami keterbatasan sensor kamera anda dalam menangkap rentang terang gelap di alam ini.

Ada beberapa cara menyikapi dan menyiasati keadaan highlight clipping, diantaranya :

  • periksa histogram, cek apakah area terang berada terlalu kekanan sehingga over eksposur?
  • saat melihat hasil foto di kamera, aktifkan fitur ‘highlight clipping indicator’ sehingga area putih yang mengalami washout akan ditandai oleh kamera dalam bentuk kedip-kedip
  • tidak semua area terang yang washout itu dianggap gagal, bila yang mengalami washout bukan obyek foto yang penting maka abaikan saja
  • namun bila area terang yang washout itu adalah bidang penting dalam foto, maka foto tersebut perlu diulang
  • bila kamera sering mengalami clipping di area kontras tinggi, bisa turunkan komponsasi eksposur ke -1/3 sehingga foto akan dibuat 1/3 stop lebih gelap (foto yang lebih gelap akan membuat detil di area shadow lebih hitam)
  • kamera tertentu (seperti EOS 550) punya fitur highlight tone priority, fitur tersebut bisa diaktifkan bila kita sering memotret benda putih guna menjaga detilnya
  • banyak kamera modern yang punya fitur peningkat dynamic range (Active D Lighting, Dynamic Range Optimizer dsb) yang akan menaikkan detil di area gelap (shadow), perhatikan bahwa fitur ini umumnya tidak berhasil mencegah highlight clipping sehingga meski fitur ini diaktifkan namun hasilnya clipping tetap terjadi
  • bila kamera anda ada fitur RAW, gunakan file RAW untuk memotret area kontras tinggi lalu edit secara manual di komputer untuk menyelamatkan detil di area terang yang mungkin tidak bisa direkam dengan format JPG
  • bantuan lampu tambahan untuk menyeimbangkan kontras bisa dicoba, yang umum adalah pemakaian flash di siang hari (fill flash) atau gunakan reflektor
  • terakhir, sebisa mungkin hindari obyek foto yang terlalu kontras.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Bermacam pilihan ‘Picture Style’ pada kamera digital

Keuntungan era fotografi digital salah satunya adalah kemudahan untuk mengolah secara digital setiap foto yang dihasilkan oleh kamera, bahkan sebelum foto diambil kita sudah bisa menentukan akan dibuat seperti apa ‘gaya’ yang kita sukai, misalnya seberapa tajam, seberapa kontras dan seberapa pekat warna yang akan kita inginkan. Hal semacam ini dinamakan ‘Picture Style’ (tiap kamera mungkin akan berbeda istilah) dan semestinya kita bisa memakai fasilitas ini dengan baik supaya meminimalisir pengolahan foto di komputer nantinya (olah digital).

picture-style-300x224

Kamera digital biasa seperti kamera saku, tidak banyak memberi keleluasaan kita untuk menentukan dan memodifikasi parameter pengolahan foto. Umumnya mereka hanya memberi beberapa opsi dasar seperti Standar, Vivid dan Natural. Pada kamera yang lebih canggih (prosumer atau DSLR)  membolehkan kita untuk memaksimalkan hasil olahan foto sehingga bagi yang tidak mau repot mengolah di komputer, foto hasil jepretan kita bisa langsung dipamerkan atau dicetak.  Pilihan yang disediakan kamera untuk mengolah foto pada dasarnya hanya merubah beberapa parameter dasar berikut ini :

  • Sharpening (ketajaman) : trik manipulasi digital untuk membuat gambar tampak lebih tajam
  • Contrast (kontras) : seberapa lebar perbedaan antara area terang dan gelap dari sebuah gambar
  • Saturation (kepekatan warna) : seberapa pekat warna dalam sebuah gambar
  • Brightness (keterangan) : pengaturan tingkat keterangan / kecerahan dari sebuah gambar
  • Hue (tonal warna) : pergeseran warna untuk pengaturan akurasi warna yang lebih presisi

pict-ctrl

Dari lima parameter pengaturan di atas bisa dihasilkan berbagai kombinasi yang bisa disesuaikan untuk bermacam kebutuhan, maupun selera si fotografer. Untuk mengakomodir beberapa kondisi umum, pihak produsen kamera sudah menyediakan preset yang sudah dioptimalkan untuk :

  • Standard : hasil foto dengan ketajaman, kontras dan saturasi yang dinaikkan sampai batas yang bisa diterima secara umum (pilihan ini juga menjadi style default dari kamera)
  • Portrait : dioptimalkan untuk menghasilkan tonal kulit manusia lebih akurat, brightness di set lebih tinggi dengan ketajaman yang cenderung kurang (agak soft) guna mencegah kerutan atau jerawat di wajah terlalu tampak jelas
  • Landscape : dioptimalkan untuk foto pemandangan dengan ekstra ketajaman dan ekstra kontras dan ekstra peningkatan warna di daerah hijau dan biru sehingga foto pemandangan nampak lebih ‘hidup’
  • Vivid (hanya di Nikon) : meningkatkan kepekatan warna menjadi lebih kuat daripada warna aslinya, juga meningkatkan ketajaman dan kontras untuk hasil foto yang lebih ‘berwarna’
  • Neutral : hasil foto tidak diolah, semua kendali dibuat flat sehingga memudahkan untuk diolah lagi di komputer
  • Faithful (hanya di Canon) : hampir seperti Standard namun kamera berusaha menjaga warna tetap se-alami warna aslinya (kalau di standard saturasi warna sudah lebih ditingkatkan)
  • Monochrome : dengan menghilangkan elemen warna, didapatlah foto dengan gradasi warna hitam putih (grayscale) untuk kebutuhan tertentu, dimana ketajaman dan kontras akan berpengaruh pada nuansa hitam putih yang ingin ditonjolkan.

Bila ingin melihat pengaturan yang ada dalam bentuk grafik dua dimensi bisa juga mengakses menu grid, nantinya muncul grafik dengan sumbu vertikal mewakili kontras (semakin ke atas semakin kontras) dan sumbu horizontal mewakili saturasi (semakin ke kanan semakin berwarna). Contoh untuk DSLR Nikon adalah seperti di bawah ini :

grid-adjust

Kamera modern bahkan membolehkan kita untuk memodifikasi lagi preset yang sudah dibuat, juga menyediakan beberapa custom style yang bisa disimpan untuk kondisi khusus. Bila mau, kita juga bisa membuat berbagai style melalui aplikasi komputer, misalnya Canon punya Picture Style Editor dan Nikon juga punya Picture Control Utility. Kini bahkan sudah banyak dijumpai seseorang yang membuat sendiri sebuah pengaturan Picture Style lalu dibagikan bahkan diperjualbelikan, cukup dengan mendownload atau di copy di memory card maupun melalui komputer yang tersambung ke kamera (misal dengan EOS Utility). File untuk Canon berekstensi .pf2 dan untuk Nikon adalah .ncp dan berukuran sangat kecil (di bawah 100 byte saja).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji HS20 EXR dan F550/500 EXR, dengan sensor EXR 16 MP

Ajang CES 2011 juga dimeriahkan oleh Fujifilm yang menghadirkan beberapa update rutin seperti HS20 EXR (penerus HS10) dan F550/500 EXR (penerus F300 EXR). HS20 EXR sesuai namanya kini memakai sensor EXR (dulu CMOS), sementara F550/500 (bedanya cuma dalam hal GPS) juga memakai sensor EXR 16 MP. Tibalah masanya kamera di tahun ini beralih ke sensor 16 MP yang semakin membuat risau dan kekuatiran akan noise dan ukuran file yang besar. Tapi apapun itu, Fuji cukup konsisten dalam membuat regenerasi produknya, ditengah persaingan ketat dengan produsen papan atas sekelas Canon atau Nikon.

Fuji HS20 EXR

Penerus dari Fuji HS10 (10 MP) hadir lagi dengan lensa yang sama, yaitu 30x zoom optik. Bedanya, kini sensor yang dipakai pada HS20 adalah jenis EXR dan beresolusi 16 MP. Kamera ini diklaim sanggup mengunci fokus dalam waktu 0,16 detik. Kabar baiknya, kini fitur flash pada HS20 sudah mendukung TTL flash. Lensa Super Fujinon EBC yang dimiliki  HS20 EXR sepintas nampak seperti lensa Canon L series dengan gelang merah melingkari ujungnya, kebetulan?

fujifilm-hs20exr

fujifilm-hs20exrc

fujifilm-hs20exrb

Apa kata Fuji soal HS20 ini?

Record-breaking, innovative, versatile; the new Fujifilm FinePix HS20 EXR is all this and so much more. Replacing the multiple award-winning FinePix HS10; this latest addition to the range of Fujifilm bridge cameras represents the perfect picture taking solution for photographers who want the specification and picture quality of an SLR without the heavy camera bag and huge dent in their bank balance. With a class-leading feature set that includes a brand new EXR CMOS sensor, high speed continuous shooting capability, improved user interface, versatile video functions, 16 megapixel resolution and a 30x zoom lens with advanced anti-blur technologies, the HS20 EXR sets new standards in bridge camera functionality and performance.

Berikut spesifikasinya :

  • EXR CMOS 16 MP, ukuran 1/2 inci
  • 30x zoom, 24 – 720 mm, f/2.8-5.6
  • LCD 3.0 inci yang bisa dilipat,  460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • Burst 8 fps, video bisa hingga 320 fps (320 x 112 piksel)
  • Baterai AA x 4, bertahan hingga 350 jepret
  • Electronic level
  • Raw file format
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format
  • Stabilizer sensor-shift
  • EXR Auto mode
  • Colour fringing reduction and corner sharpness improvement
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode
  • TTL flash control with optional external flashes

Fuji F550/500 EXR

Penerus F300 EXR ini kini hadir dalam dua varian, satu dengan GPS (F550) dan satu tanpa GPS (F500). Tidak banyak peningkatan yang berarti dari F300 ke F500, bahkan spesifikasi lensa dan bentuk kameranya pun sama persis (kecuali sedikit tonjolan di atas pada F550 yang berfungsi sebagai antena GPS). Bedanya, F300 dulu memakai sensor 12 MP, kini F500 melompat jauh ke sensor 16 MP. Lucunya, kini tidak lagi disebut-sebut soal hybrid AF (contrast dan phase detect) yang dulu sempat dibanggakan Fuji di F300. Rupanya istilah hybrid AF tidak berarti banyak dalam penjualan F300 sehingga tidak lagi dipakai.

fujifilm-f550exr

fujifilm-f550exrb

Apa kata Fuji soal F550/500 EXR ini?

Following in the footsteps of the award-winning FinePix F200 EXR and F300 EXR models, this latest recruit to the range is the ideal camera for discerning point-and-shoot photographers or SLR users who want to travel light but don’t want to compromise image quality and picture-taking versatility. Superb results are assured with exciting new features including an innovative 16 megapixel EXR CMOS sensor, advanced GPS functions, high speed shooting capabilities, a 15x wide-angle zoom lens, Full HD movie functionality and an improved user interface. With a stylish design and pocketable dimensions, the FinePix F550 EXR is set to become the must-have compact in 2011.

Berikut spesifikasinya :

  • fitur GPS (untuk F550)
  • lensa 15x zoom,  24 – 360 mm, f/3.5-5.3
  • AF cepat
  • LCD 3.0 inci, 460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • burst 8 fps (untuk F500)
  • Raw file format (untuk F550)
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format, stereo
  • Stabilizer sensor-shift
  • New EXR Auto mode
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode

Soal harganya, Fuji HS20 akan dijual di kisaran 5 juta sedang F550/F300 di kisaran 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..