Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang yang konsisten merilis lensa untuk berbagai kamera khususnya DSLR, terus memberi alternatif menarik untuk fotografer hobi maupun profesi yang mencari harga yang wajar dengan kualitas tak kalah dengan lensa yang harganya lebih mahal. Bila sebelumnya Tamron sudah membuat lensa 35-150mm yang fokal lensa zoomya mencukupi untuk bermacam kebutuhan harian seperti 35mm, 50mm, 85mm dan sebagainya, maka kali ini kami akan mengupas lensa Tamron 17-35mm f/2.8-4 yang termasuk lensa ultra lebar ekonomis untuk DSLR Canon dan Nikon.

Fokal 17mm memberi perspektif dan kesan lebar yang berbeda dari yang kita lihat

Umumnya lensa lebar disukai oleh mereka yang menekuni fotografi pemandangan atau interior. Dari golongan fokal lensa, sebetulnya 35mm sudah termasuk lebar, meski saat ini orang akan lebih terkesan oleh lensa 28mm apalagi 24mm. Tapi bila yang dicari justru fokal lensa yang sangat lebar, maka angka 17mm adalah langkah aman untuk mendapat perspektif dramatis yang ekstra luas. Memang dalam persaingan lensa masa kini, produsen terus membuat lensa yang semakin lebar seperti 16mm, 14mm hingga 10mm untuk full frame, yang berdampak pada harga yang makin mahal sedangkan belum tentu kita butuh sampai selebar itu. Kami ingat dulu itu lensa ultra lebar dari Canon yang umum itu hanya Canon 17-40mm saja, atau Nikon 16-35mm. Maka itu lensa Tamron 17-35mm ini kami lihat punya rentang fokal yang pas, dimulai dari 17mm dan diakhiri hingga 35mm, dan bila ingin meneruskan zoom diatas 35mm langsung pasang lensa Tamron 35-150mm, terus menyambung kalau belum puas ada Tamron 150-600mm, lengkap dan tanpa overlap sedikit pun, mantap..

Dipasang di bodi Nikon D600, perpaduan lensa dan kamera tampak seimbang, pas dan tidak (terlalu) memberatkan saat dibawa.

Baiklah, cukup pendahuluannya, kita langsung masuk ke topik. Kami mencoba lensa yang nama lengkapnya Tamron 17-35mm f/2.8-4 Di OSD dengan mount Nikon, dipasang di D600 full frame. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C maka akan rugi karena jadi tidak ultra wide lagi. Berikut fakta-fakta lensa ini :

  • untuk dipakai di DSLR, dengan mount Canon atau Nikon
  • berat 460 mm
  • diameter filter 77mm
  • motor fokus OSD (bukan USD)
  • tidak ada penstabil getar VC
  • tidak ada indikator jarak fokus untuk membantu hiperfokal/infinity
  • lensa hanya sedikit memanjang saat diputar zoomnya
  • ada karet pencegah masuknya air di bagian mount belakang

Continue reading Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : lensa Tamron 18-200mm VC

Inilah review kami untuk lensa Tamron 18-200mm VC. Lensa yang bernama lengkap Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 Di II VC ini adalah lensa untuk DSLR (Canon/Nikon) dengan sensor APS-C yang memberikan fokal lensa setara 28-300mm di full frame. Dengan rentang fokal sepanjang ini kebutuhan foto yang bervariasi dari wide hingga tele bisa dicakup hanya dengan satu lensa saja. Biasanya lensa ini dibeli oleh mereka yang ingin ‘naik kelas’ dari lensa kit, alih-alih menambah satu lensa tele seperti 55-200mm maka sekalian saja lensa kitnya diganti dengan lensa superzoom seperti Tamron 18-200mm VC ini.

Lensa dengan rentang 18-200mm saat ini bukan yang paling panjang dalam hal rentang zoom, karena ada juga lensa lain seperti 18-250mm hingga bahkan 18-400mm. Tapi keuntungan dari lensa 18-200mm ini adalah ‘cukup’ dalam banyak hal, seperti cakupan lensa yang cukup (jarang juga orang pakai diatas 200mm untuk foto sehari-hari), ukuran yang cukup (tidak terlalu besar), bobot yang cukup ringan (hanya 400 gram) dan harga yang cukup murah (biasanya lensa superzoom harganya diatas 5 juta, tapi ini dibawah 3 juta saja). Dan Tamron dulu juga pernah membuat lensa 18-200mm yang sudah digantikan dengan lensa 18-200mm VC, ya tentu VC disini adalah pembeda utamanya.

VC, atau Vibration Compensation, adalah fitur peredam getar yang bila diaktifkan bisa membantu kita mendapat foto yang tajam saat tangan kita sedikit goyang, khususnya di shutter speed agak lambat, dibawah 1/100 detik. Fitur VC juga membantu memberi tampilan yang lebih stabil di jendela bidik, selama tombol shutter ditekan dan ditahan setengah. Perlu diingat bila shutter terlalu lambat maka VC tidak bisa membantu, misal dibawah 1/10 detik tentu harus pakai tripod. Tapi hadirnya VC di lensa ekonomis ini kami apresiasi karena bakal memudahkan dalam memotret khususnya bila pakai fokal lensa yang lebih tele (diatas 50mm). Dalam prakteknya VC di lensa ini terbukti bisa menstabilkan getaran pada shutter agak lambat.

VC Off, 1/20 detik, 65mm
VC On, 1/20 detik, 65mm

Contoh diatas menunjukkan bedanya pakai VC dan tidak. Dengan fokal lensa diset ke 65mm (ekuiv. 100mm di full frame), foto yang tajam bisa didapat di 1/20 detik atau lebih dari 2 stop.

Lensa 18-200mm VC juga mendapat desain luar yang baru dan tampak lebih modern, dengan warna hitam doff yang keren. Di bodinya terdapat tuas fokus AF-MF, tuas VC On-Off dan Zoom lock yang mencegah lensa memanjang karena gravitasi saat menghadap ke bawah. Ring manual fokus ada di ujung depan dan hanya bisa diputar kalau tuas fokus di posisi MF, artinya di lensa ini tidak didesain untuk bisa langsung manual fokus setelah auto fokus, yang mana adalah wajar mengingat segmen dan harga lensanya. Bicara soal fokus, motor untuk auto fokus di lensa ini memang bukan yang kelas ultrasonic seperti lensa Canon USM atau Tamron USD, tapi juga bukan motor fokus jadul yang berisik. Motor fokusnya cukup senyap dan cukup cepat, dengan teknologi yang mengutip dari web Tamron adalah DC motor-gear train, yang artinya masih pakai gear. Untuk mode servo AF-S motor fokus di lensa ini tidak ada masalah, namun untuk AF-C memang kecepatan motor AF-nya akan kesulitan bila suyek yang difoto bergerak terlalu cepat.

Tentunya yang perlu diketahui paling utama dari sebuah lensa adalah kualitas optiknya. Sebelum kesana, perlu dimaklumi dulu bahwa lensa superzoom manapun memang tidak bisa mendapatkan performa optik sangat tinggi, karena lensa semacam ini dirancang untuk kepraktisan (zoom panjang) dan bukan untuk mengejar kualitas optik terbaik. Apalagi dari harganya kita tentu sudah bisa memprediksi kualitas optiknya. Tapi jangan salah sangka juga, optik di lensa ini termasuk baik, setara dengan lensa kit pada umumnya. Itu akibat modernisasi manufaktur khususnya dalah desain lensa pakai komputer sehingga hasilnya bisa tetap sesuai standar masa kini.

Untuk melihat kualitas optik ada beberapa faktor yang perlu ditinjau :

Sharpness

Tentunya bagian yang difokus harus tampak tajam, nah lensa ini bisa menghasilkan foto yang cukup tajam khususnya di kamera dengan sensor dibawah 20 MP. Pada bagian tengah ketajaman termasuk baik, dan di bagian tepi ketajaman agak menurun. Performa lensa paling tajam diantara 18-100mm dan tampak lebih soft di 135mm apalagi di 200mm. Warna dan kontras juga termasuk baik, meski kemampuan rendering detail mikro kontras (clarity) dari lensa ini tidak begitu tinggi.

Bokeh

Bagian yang tidak fokus akan menghasilkan gambar yang blur dan itu kerap dicari sebagai bokeh, nah biasanya bokeh yang menarik didapat di bukaan besar dan fokal lensa terpanjang. Nah lensa ini sayangnya menghasilkan bokeh yang kurang blur, masih tampak agak jelas meski sudah memakai f/6.3 di 200mm. Wajar mengingat lensa ini bukan lensa bukaan besar.

Distorsi dan fringing

Cacat lensa kadang bukan menandakan lensa bermasalah, cacat lensa itu diartikan kekurangan lensa yang masih bisa ditoleransi akibat beberapa faktor. Diantara hal yang sering dijumpai dari lensa adalah distorsi dan fringing. Untungnya keduanya dengan mudah bisa dikoreksi melalui editing foto. Lensa 18-200mm ini distorsinya di posisi wide 18mm cukup terasa, dan itu wajar. Yang agak aneh adalah di fokal 35mm keatas justru mengalami distorsi cekung (pincushion). Selain itu di keadaan kontras tinggi akan muncul sedikit fringing yang berwarna keunguan.

Sampel foto

Beberapa foto yang diambil dengan lensa ini (dalam ukuran yang sudah diperkecil) :

Kesimpulan

Secara umum lensa ini ditujukan untuk mereka pengguna DSLR yang perlu satu lensa yang praktis seperti untuk traveling atau penghobi pemula. Kualitas optik memang termasuk sedang-sedang saja, tapi bayangkan dengan harga dibawah 3 juta kita mendapat satu lensa yang termasuk modern, ada VC, dan tidak terlalu besar/berat sehingga bisa menjadi pengganti lensa kit seperti 18-55mm paketan dari pabriknya. Beberapa kekurangan dari lensa ini bisa dimaafkan mengingat harga jualnya, dan dengan pemahaman fotografi dan teknik yang baik pada dasarnya tidak ada masalah untuk bisa mendapat foto-foto yang indah dengan lensa ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review singkat : Olympus E-M10 mark II

Olympus E-M10 mk II adalah kamera mirrorless kelas bawah di lini OM-D, ditujukan untuk fotografer pemula yang mencari kamera mirrorless yang lebih lengkap dan serius namun tidak semahal E-M5. Kamera seri OM-D punya ciri fisik mirip DSLR, dengan jendela bidik di bagian atas (bukan disamping kiri seperti kamera mirrorless ala rangefinder pada umumnya) dan sedikit lebih besar dari kamera seri Pen (misal EPL7, Pen F dsb), serta punya banyak kendali untuk aneka setting.

IMG_9169

Di generasi kedua dari lini E-M10 ini Olympus memberi 5 axis stabilizer (sebelumnya hanya 3 axis) dan peningkatan lain (electronic shutter, jendela bidik semakin detail, 60 fps video dsb) serta fitur baru seperti 4K timelapse dan AF target pad. Desain kedua kamera juga sedikit berbeda khususnya di tuas on-off, yang kini menjadi satu dengan tuas flash.

IMG_9159

Menurut kami desain EM10 mk II ini cukup ideal. Ukuran pas ditangan, grip cukup nyaman, bodi berbahan logam dan tata letak tombol dan roda yang pas. Layar lipat dan sentuh juga jadi bonus yang menyenangkan.

Di waktu yang terbatas kami tidak bisa menguji banyak hal dari kamera ini. Walau di foto ilustrasi ini kamera dipadankan dengan lensa 25mm fix, tapi selama review fotonya diambil dengan lensa 12-50mm f/3.5-6.3. Hal pertama yang kami lakukan setelah menerima pinjaman kamera ini adalah mengkustomisasi kamera ini sesuai selera pribadi penguji. Untungnya kamera Olympus terkenal bisa banyak dikustomisasi yang membuat kameranya terasa lebih personal. Beberapa hal yang kami atur sebelum memotret :

  • mengaktifkan Super Control Panel (SPC) untuk memudahkan ganti setting dengan cepat
  • memprogram tiga tombol Fn, Fn1 untuk auto fokus, Fn2 untuk setting WB+ISO, dan Fn3 untuk plus RAW
  • merubah aspek rasio jadi 3:2 (kalo ini karena kebiasaan pakai DSLR) resikonya megapiksel sedikit berkurang
  • mengatur parameter JPG (pic mode i-Enhance, Gradation Auto, Contrast -1, Sharpness +1, Saturation 0)
  • memilih mode focus area ke grup AF, servo AF-S
p1140448
Super Control Panel (SPC)

Kualitas foto dari sensor 16 MP di Olympus EM10 mk II termasuk baik, dengan ISO tinggi yang noisenya masih cukup aman di ISO 1600 bahkan ISO 3200 pun untuk ukuran cetak kecil masih oke. Bagi yang suka editing mungkin akan sedikit kecewa dengan RAW kamera ini yang 12 bit, khususnya saat foto yang diambil punya kontras yang melampaui dynamic range sensor micro 4/3.

Hal yang penting untuk direview dari sebuah kamera selain kualitas gambar menurut kami adalah kinerja secara umum dan auto fokusnya. Dari kinerja tidak ada keluhan, kamera ini bekerja cepat, bisa menembak sampai 8,5 foto per detik juga. Auto fokus juga cepat, dan mudah untuk mengganti area fokus dengan berbagai cara misal menyentuh layar atau menekan tombol D pad. Ada beberapa opsi area fokus di kamera ini yaitu Auto, Group, 1 area dan 1 area kecil.

Kamera Olympus E-M10 mk II ini punya beberapa hal yang kami sukai diantaranya :

  • hasil JPG terlihat sudah oke, tonal dan akurasi warna juga bagus
  • auto fokus cepat (kalau untuk benda diam), bisa sentuh layar juga
  • 5 axis stabilizer bekerja baik, kami bisa dapat 1/2 detik tanpa tripod dengan lensa 12mm
  • ada elektronik shutter, ada fitur peredam shutter shock, sync 1/250 detik, max 60 detik, ada live bulb juga
  • bisa rekam video dengan manual eksposur, saat rekam video bisa juga ambil foto

sedangkan hal-hal yang masih agak kami sayangkan dari kamera ini :

  • penurunan kualitas dan detail foto di ISO 1600 keatas
  • file 12 bit RAW tidak begitu leluasa untuk editing (umumnya 14 bit)
  • auto fokus tidak handal untuk benda bergerak, dan karena deteksi kontras kadang fokusnya tertipu oleh latar belakang yang lebih kontras
  • tidak ada perlindungan cuaca, meski masih wajar untuk kamera dengan harga terjangkau seperti ini
  • auto ISO terlalu sederhana, tidak ada pengaturan minimum shutter speed

Sebagai kesimpulan singkat, kamera EM10 mk II ini cocok untuk yang mencari sistem kamera micro 4/3 yang lengkap tapi dana terbatas. Memang tidak secanggih fitur di EM5 mk II tapi sudah mencukupi untuk banyak kebutuhan fotografi. Sisi lemahnya adalah untuk kebutuhan foto aksi yang perlu fokus kontinu dan/atau ISO tinggi, tapi untuk keperluan lain seperti travel, street, arsitektur, potret dsb kamera ini sudah sangat mumpuni.

Beberapa hasil foto dari mencoba kamera EM10 mk II, JPG tanpa edit :

Warna yang menarik
Reproduksi warna yang enak dilihat
Sunrise
Tonal yang natural saat keadaan sunrise
Sepeda
Metering cukup akurat, sedikit under saat bertemu banyak pasir putih
Warna warni direproduksi dengan baik
Warna warni direproduksi dengan baik
Aktivitas nelayan
Merekam aktivitas nelayan
Dynamic range masih termasuk baik
Dynamic range masih termasuk baik
Clarity dan detil
Clarity dan detil dari lensa 12-50mm f/3.5-6.3
Panning shot
Mencoba panning shot dengan IS mode 2
Pakai tripod dengan long exposure
Pakai tripod dengan long exposure
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod, hasil masih acceptable sharp

Foto selengkapnya dan dalam ukuran aslinya kami titipkan di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review Canon EOS 70D

Canon 70D adalah kamera DSLR kelas menengah pengganti 60D dan diposisikan di bawah 7D dan di atas Canon Rebel (700D, 750D dsb). Diluncurkan pertama kali sekitar 2 tahun yang lalu (2013), kamera ini masih populer sampai saat ini dan dijual di kisaran 11 jutaan bodi saja.

Canon 70D menurut kami termasuk kamera DSLR kelas menengah yang bila ditinjau dari hasil foto maupun dari sisi kinerja, bisa dikatakan 70D itu punya keseimbangan fitur-kinerja-harga yang paling pas. Selain itu tentunya kamera ini mudah dipakai dan ukurannya pas (ergonomi, tombol, grip) dan harganya wajar. Canon EOS 70D punya banyak peningkatan dibanding 60D seperti titik fokus dari 9 titik jadi 19 titik, ada dual pixel AF, fitur HDR, ada Auto ISO yang seperti Nikon, dan layar lipatnya mendukung sistem layar sentuh.

DSC_2385 cr

Sensor di EOS 70D adalah APS-C CMOS 20 MP yang hasil fotonya sudah tergolong baik, tapi tidak terlalu istimewa (dalam hal skor DxO mark atau dalam hal jumlah piksel). Kinerja shoot kontinu juga sedang-sedang saja (7 fps), ISO sampai 12.800 dan bodinya juga masih berbalut plastik, bukan magnesium alloy.  Kami sempat membandingkan 70D dengan 760D (Rebel T6s) karena banyak kesamaan fitur, tapi akhirnya 70D bagaimanapun tetap lebih layak untuk dipilih. Misalnya karena jendela bidik dari prisma yang lebih nyaman, ada fitur HDR, multiple exposure, AF fine tune, konversi RAW ke JPG di kamera hingga fitur videonya yang sudah ditambah opsi kompresi rendah All-I untuk hasil lebih baik, walau ukuran file jadi lebih besar. Sebagai info, fitur movie servo AF dimungkinkan bila lensa yang dipasang adalah berjenis STM, selain itu maka servo AF akan terlihat kurang mulus transisinya.

DSC_2264 sml
Canon 70D tampak belakang dengan berbagai tombol dan roda kendali

Continue reading Review Canon EOS 70D

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review singkat kamera mirrorless Sony Alpha A6000

Sony Alpha A6000 adalah salah satu contoh kamera mirrorless yang sukses, dengan meraih banyak impresi positif dari fotografer dan juga pembuat review kamera. Kami sebelumnya lebih dahulu menulis review tentang Sony A5100, yang banyak kemiripan dengan A6000 khususnya dalam performa auto fokus dan ISO. Untuk itu di review A6000 kami tidak lagi menguji hal-hal tersebut melainkan hanya mengulas secara umum fisik dan menu kameranya saja.

Beberapa fakta dan data Sony A6000 :

  • Sensor CMOS 24 MP APS-C
  • 11 fps kontinu
  • ISO up to 25600
  • jendela bidik EVF 1.44 juta dot
  • layar LCD 3 inci bisa dilipat atas bawah
  • Autofokus 179 phase detect, 25 area contrast detect
  • built-in flash dan hot shoe

Tinjauan bodi :

IMG_0189

Sony A6000 memiliki bodi yang termasuk kompak, berbahan logam dan tidak terlalu besar. Bagian gripnya terasa enak digenggam. Kamera berbobot 285 gram ini punya kendali bak kamera kelas menengah dengan dua roda dial dan aneka tombol langsung (ISO, AEL, C1 dan C2). Di bagian atas ada mode kamera, lampu kilat dan hot shoe. Jendela bidik elektronik yang menjadi kekuatan utama kamera ini, berada pas di pojok kiri atas dan punya tampilan jernih dan detail.

IMG_0190

Kelebihan utama Sony A6000 adalah kinerja yang melampaui banyak kamera DSLR, seperti auto fokus yang hybrid AF ini disertai dengan kecepatan foto berturut-turut yang sangat cepat yaitu 11 foto per detik dengan autofokus kontinu. Di tempat dengan cahaya cukup, auto fokus deteksi fasa bisa diandalkan untuk kecepatan dan akurasi fokus. Ada juga aksesori adapter yang membuat lensa apa saja bisa dipasang di A6000, biasanya orang suka pasang lensa manual fokus dan itu memerlukan kamera yang ada bantuan focus peaking. Di A6000 focus peaking akan membantu saat pemakainya melakukan manual fokus.

IMG_0192

Pengoperasian Sony A6000 menurut kami ada plus minusnya. Plusnya misal ada dua tombol Custom (C1 dan C2) yang bisa difungsikan sebagai jalan pintas ke macam-macam fitur. Lalu adanya dua roda juga memudahkan dalam mengganti setting dengan cepat. Minusnya, roda mode kamera ‘tenggelam’ dalam bodi (tidak menonjol ke atas) sehingga sulit diputar dengan dua jari, terasa keras dan berat. Lalu tanpa ada sistem layar sentuh, merubah titik/area fokus menjadi hal yang agak repot.

IMG_0194

Sistem menu dari Sony A6000 juga dirombak total dari NEX. Sistem menu lebih menyerupai gaya Sony Alpha, mengikuti perubahan namanya. Sistem menu kamera ini terkesan lebih teratur dengan sistem kategori dan menu per-halaman dibandingkan dengan sistem menu NEX yang menggulung tanpa akhir. Hanya saja bagi yang belum terbiasa akan merasa menu di A6000 terlalu banyak dan terpencar-pencar.

Pengaturan kualitas gambar :

P1070969

Pilihan format video yang berlimpah :

P1070971

Kustomisasi auto fokus cukup banyak :

P1070973

Ada fitur focus peaking juga :

P1070979

Tombol Fn bisa dikonfigurasi untuk menampilkan setting sesuka kita :

P1070982

Demikian juga tombol C1, C2 (delete), AEL, tombol tengah, kiri, kanan dan bawah :

P1070983

Ada 4 pilihan focus area : Auto (Wide), Zone, Center dan Flexible Spot.

P1070988

P1070989

Sony A6000 cocok untuk mereka yang mencari kamera sarat fitur, terjangkau tapi tidak terlalu besar dan berat. Secara spesifik kamera ini juga cocok untuk penggemar fotografi jalanan (street photography), fotografi aksi/olahraga dan dokumentasi acara-acara keluarga.

Plus :

  • auto fokus cepat, akurat setara DSLR
  • kualitas foto 24 MP yang baik
  • ada Play Memories Apps
  • menembak kontinu sangat cepat
  • bodi logam, jendela bidik elektronik, LCD lipat
  • WiFi dan NFC

Minus :

  • tidak touchscreen
  • Auto ISO basic
  • roda mode kamera sulit diputar
  • tidak dapat charger (mengisi daya via USB)

Beberapa contoh foto :

Sawarna, lensa 16-70mm f/4 :

The Breeze BSD, lensa 16mm f/2.8 pancake :

sample DSC00210 16 pancake

Lensa FE 28mm f/2 :

sample DSC00395 28fe

Sunda Kelapa, lensa 16-70mm f/4 :

sample DSC01095

 

 

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review kamera mirrorless Sony Alpha A5100

Kamera Sony Alpha A5100 merupakan varian unik di jajaran mirrorless Sony, yang dulunya pakai nama Sony NEX. Unik karena Sony saat ini sudah punya A5000 (penerus NEX-3) dan A6000 (pengganti NEX6 dan NEX7), lalu hadirlah A5100 yang bisa dibilang adalah penerus NEX5T dengan beberapa fitur yang diambil dari A6000 (walaupun dari bentuk persis sama dengan A5000). Bingung? Singkatnya, Sony A5100 adalah A5000 dengan sensor 24 MP yang dilengkapi piksel pendeteksi fasa untuk auto fokus sehebat A6000. Kami menguji kamera A5100 ini dengan lensa kit 16-50mm powerzoom dan juga lensa 18-105mm f/4. Simak review kami selengkapnya.

Fitur utama Sony A5100 :

  • sensor 24 MP ukuran APS-C
  • hybrid AF (179 titik deteksi fasa, 25 area deteksi kontras)
  • ISO 100-25600, burst 6 fps
  • layar sentuh (tapi cuma untuk memilih titik fokus dan memotret)
  • built-in flash, bisa di bounce
  • simultan recording full HD dan HD720, ada XAVC S codec

Perbedaan utama dengan A6000 :

  • A5100 tidak ada jendela bidik
  • A5100 tidak ada flash hot shoe
  • A6000 tidak bisa sentuh layar

a5100-p1030079

Tinjauan Fisik

Kamera mirrorless mungil ini terlihat pas bila dipaketkan dengan lensa 16-50mm powerzoom. Tampak depan ada dudukan lensa E-mount standar Sony, di bagian atas tidak ada roda dial PASM ataupun flash hot shoe, di belakang ada berbagai tombol umum seperti MENU, movie, roda untuk ganti setting, D pad (kendali 4 arah), tombol DELETE dan HELP. Tidak ada tombol Fn di A5100, untuk itu melalui pengaturan menu kita bisa atur kegunaan tombol HELP menjadi fungsi lain yang menurut kita penting. Untuk berganti mode misal Auto, PASM, movie, scene mode dsb bisa menekan tombol OK lalu memutar roda. Agak repot memang, tapi kamera ini memang didesain minimalis dan tidak cocok untuk fotografer yang sering berganti setting dengan cepat.

a5100-p1030072

Foto atas : Tampak depan dengan LCD di flip ke atas dan lampu kilat terangkat. Layar LCD ini punya resolusi tinggi dan aspek rasio 16:9 yang lebih optimal untuk rekam video HD. Foto bawah : tampak belakang.

a5100-p1030070

Dirancang tanpa jendela bidik, maka satu-satunya cara untuk memotret adalah dengan live view melalui LCD utama. Karena layar di A5100 punya aspek rasio 16:9 maka foto dengan aspek rasio 3:2 akan menyisakan baris hitam di kiri dan kanan layar, yang secara jeli dimanfaatkan Sony untuk indikator setting. Dengan demikian sepintas kita bisa meninjau setting kamera sebelum memotret, misal contoh tampilan setting di bawah ini menunjukkan kamera dalam mode P, 1/60 detik, f/5.6 ISO Auto, drive mode Continuous Hi, fokus servo AF-S, WB 4800K, baterai 35% dan masih banyak lagi informasi tambahan lainnya. Bila semua tulisan di kiri kanan ini justru tampak mengganggu, bisa dihilangkan dengan menekan tombol DISP.

lcd-a5100

Menu dan Fitur

Menu khas Sony Alpha cukup berbeda dengan Sony NEX, disini menu disusun mendatar dengan berbagai tab dan nomor. Cukup rapi, walau agak memusingkan di awal. Tidak ada My Menu atau Custom Menu sehingga kita harus hafal setiap setting favorit itu ada di tab apa dan nomor berapa. Tab yang paling pertama adalah Tab Shooting Menu yang terbagi atas 8 halaman (!). Jadi misal anda ingin mengganti WB maka masuklah ke Tab Shooting Menu halaman 5, baris kedua. Untuk mengubah fungsi tombol menjadi sesuai kebutuhan kita, masuk ke Tab kedua (Setting Menu) halaman 5 baris kedua. Disana bisa diatur tombol Center, Left, Right, Down dan Button menjadi fungsi lain semisal AF, WB Image Quality dan sebagainya.

a5100-menu-p1030045

Pengaturan video juga cukup lengkap, dengan opsi format video XAVC S (25p/50p 50 Mpbs, pastikan kartu memori yang dipasang punya spesifikasi tinggi), AVCHD (ini yang lebih umum) dan MP4 (hanya ada pilihan 1440×1080 12Mbps dan 640×480 3 Mbps). Untuk AVCHD kita bisa memilih berbagai frame rate seperti 25p (FH 17 Mbps dan FX 24 Mbps), 50i (FH 17 Mbps dan FX 24 Mbps) dan 50p (PS 28 Mbps). Perhatikan kalau di format XAVC S tidak bisa memakai fitur Dual Video REC karena tingginya bandwidth video.

a5100-menu-p1030046

Pada Shooting Mode kita bisa beralih dari Intelligent Auto, Superior Auto, P, A, S, M, Movie Mode (didalamnya juga ada pilihan P,A,S,M untuk movie), Sweep Panorama dan Scene Selection yang berlimpah (Portrait, Sports Action, Macro, Landscape dll). Yang kami suka dari Scene mode ini disertai penjelasan dan contoh fotonya sehingga membantu untuk pemula. Contoh dibawah ini adalah tampilan di LCD saat mengakses Scene Handheld Twilight.

Handheld twilight

Kinerja dan performa

Kinerja kamera A5100 terasa responsif, tidak terasa ada shutter lag, auto fokus juga cepat seperti prediksi kami. Dengan kemampuan tembak hingga 6 foto per detik maka kamera pemula ini sudah menyamai DSLR kelas semi pro. Saat kami uji menembak cepat kamera ini sanggup meladeni tanpa kesulitan. Suara shutter terdengar lembut sehingga meski dipakai menembak kontinu suaranya tidak terlalu berisik. Pada playback mode, roda belakang sangat berguna untuk melihat banyak foto bergantian secara cepat. Kemampuan lampu kilat memang terbatas, paling hanya untuk menerangi obyek yang jaraknya 2-3 meter saja, untungnya flash di kamera ini bisa dipaksa ke atas untuk bounce ke langit-langit.

Urusan sensor 24 MP di kamera ini tentu sudah setara dengan kamera modern lain yang punya ciri kualitas ISO tinggi yang baik sampai ISO 1600 dan bisa menjaga noise tetap minimum di ISO diatasnya. Kami menguji berbagai setting dari ISO 100 sampai ISO 25600 dan terlihat memuaskan, warna dan detail tetap terjaga di ISO 3200 sampai ISO 6400. Berikut contoh berbagai ISO selain ISO dasar, mulai dari rentang yang aman (ISO 200-1600) dan rentang yang tinggi (ISO 3200-25600). Cek juga file aslinya di flickr untuk memastikan dalam tampilan 100%.

ISO 200-1600 : flickr

low-iso-A5100

ISO 3200-25600 :  flickr

high-iso-A5100

Auto fokus

Hal utama yang paling ingin segera kami coba dari kamera ini adalah auto fokusnya, yang sudah memakai sistem hybrid AF, perpaduan antara deteksi kontras dan deteksi fasa. Secara teori sistem ini menggabungkan dua keunggulan dari masing-masing cara, deteksi fasa untuk kecepatan dan deteksi kontras untuk akurasi fokus. Hanya bila kondisi agak gelap barulah kamera ini bergantung pada deteksi kontras saja. Di A5000 (kamera  sebelum A5100) tidak ada sistem hybrid AF, yang ada hanya deteksi kontras layaknya kamera non DSLR pada umumnya. Sony A5100 diberikan fitur hybrid AF yang persis sama dengan milik Sony A6000 yang mana kami akui merupakan peningkatan yang signifikan untuk ukuran kamera pemula.

dsc01271-rz

Untuk mode AF-C yang khusus dirancang mengikuti fokus pada subyek yang bergerak, kamera A5100 ini dengan baik bisa menjaga fokus pada subyek yang bergerak, khususnya mendekat atau menjauh dari kamera. Contoh foto di atas diambil pakai pode fokus AF-C, dengan lensa 18-105mm f/4. File asli bisa dilihat di flickr. Hal ini tidak lepas dari adanya fitur hybrid AF, tidak terlihat adanya  focus hunting saat mencari fokus ke benda yang bergerak. Kami menguji juga bagaimana kamera ini bisa melakukan auto fokus kontinu saat kamera dipakai untuk memotret berturut-turut. Kombinasi antara 6 fps dengan hybrid AF tentu membuat penasaran apakah kamera ini bisa menyamai kinerja DSLR kelas cepat?

Fokus kontinu untuk sepeda yang mendekat
Foto atas : auto fokus kontinu cocok untuk sepeda yang mendekat
Hybrid AF berguna untuk fokus kontinu seperti ini
Hybrid AF berguna untuk fokus ke momen bergerak seperti olah raga sepak bola

Dalam pengujian di lapangan, kamera ini dalam mode AF-C mampu mengunci gerakan sepeda atau anak-anak yang bermain bola yang arahnya mendekati kamera. Dengan memakai mode burst 6 fps bisa dianalisa rasio sukses dan gagalnya. Dari beberapa kali pengujian umumnya kamera A5100 berhasil menjaga fokus pada subyek utama, walau kadang juga fokusnya meleset ke belakang.

Kesimpulan

Menjadi kamera pemula tidak berarti kompromi pada performa. Sony A5100 menunjukkan bahwa kinerja cepat dengan auto fokus yang modern bukan hanya milik kamera kelas mahal saja. Sebagai kamera modern, kita juga akan menikmati sensor 24 MP yang detail, kemampuan ISO tinggi yang masih layak, fitur WiFi dan NFC serta prosesor yang cepat. Adanya sistem layar sentuh merupakan bonus menarik, walau kami akan lebih senang andaikata bisa mengatur setting dengan menyentuh layar. Sayangnya layar sentuh di A5100 ini hanya bisa untuk memilih titik fokus dan untuk memotret saja. Memang karena ukurannya yang kecil kita harus kompromi pada hal-hal lain seperti jendela bidik, flash hot shoe, roda dial PASM dan tombol Fn yang semuanya absen di kamera ini.

Fitur lain yang cukup mengejutkan untuk kamera A5100 adalah kemampuan videonya, dimana kita bisa mengatur eksposur secara manual saat rekam video, juga memilih format pro XAVC S dan ada dual recording di mode AVCHD. Dengan hybrid AF, rekaman video juga lebih terbantu dalam hal auto fokus yang mulus dan tidak hunting. Sayangnya saat sedang merekam video, kamera ini tidak bisa ‘dipaksa’ untuk mengambil foto juga (dengan menekan tombol shutter). Memang tidak banyak kamera yang bisa memotret saat sedang rekam video, Sony A5100 ini salah satu yang tidak bisa. Kekurangan kecil lain yang tergolong lumrah adalah dalam hal baterai dimana selain ukurannya yang relatif kecil, juga cara mencharge baterai yang seperti ponsel (mencolokkan kabel USB ke kamera maka baterai akan terisi) repot kalau kita ingin mengisi baterai cadangan.

Tapi dengan segala kelebihannya, Sony A5100 memberi ‘warning’ pada produsen lain bahwa teknologi terus berkembang dan bukan hal yang sulit untuk menerapkan semua hal baru di kamera pemula sekalipun.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review kamera mirrorless Olympus Pen E-PL5

Kali ini kami akan menyampaikan review untuk kamera Olympus E-PL5 dengan lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 yang dipasaran di jual di harga 7 jutaan.  Apakah kamera yang harga dan fiturnya berimbang dengan rata-rata kamera DSLR pemula ini mampu mengesankan anda? Kita simak saja ulasannya..

Kamera yang diuji kali ini termasuk kelompok mirrorless compact, cirinya ukurannya termasuk kecil (sedikit lebih besar dari kamera saku umumnya), sensor ukuran besar (aspek rasio 4:3, crop factor 2x) dan bisa menerima lensa apa saja dengan mount Micro 4/3. Bagi yang belum begitu mengenal kamera mirrorless disarankan membaca juga artikel ini. Sekedar mengenal posisi kamera ini di lini Olympus Pen, E-PL5 adalah seri Lite (menengah), dibawah E-P5 sebagai kamera Pen kasta tertinggi. Dibawah E-PL5 ini masih ada seri yang lebih mendasar yaitu Pen-Mini dengan produknya E-PM2. Sebelum E-PL5 hadir, ada produk lama seperti E-PL3 (seperti biasa, orang Jepang sering melewatkan angka 4). Peningkatan dari E-PL3 ke E-PL5 diantaranya dalam hal megapiksel, ISO maksimum, kecepatan tembak dan ada layar sentuh.

Kita mulai saja. E-PL5 punya sensor yang sama dengan kamera kelas atas OM-D E-M5 yaitu LiveMOS 16.1 MP yang mampu mencapai ISO tertinggi 25.600. Beberapa fitur unggulan lain diantaranya :

  • punya fitur peredam getar, lensa apa saja bisa jadi lebih stabil (untuk foto dan video)
  • pengaturan manual PASM lengkap dengan mode dialnya
  • kecepatan tembak hingga 8 foto per detik
  • bodi desain retro, bahan logam kokoh, dapat ekstra grip, pilihan warna hitam, putih dan silver
  • full HD stereo
  • dibekali 12 Art filter dan 6 Art effect
  • layar lipat, ukuran 3 inci, layar sentuh kapasitif, touch AF shutter
  • ada dudukan lampu kilat, plus dapat lampu kilat mini (karena tidak ada built-in flash di bodi)

Tinjuan bodi dan lensa

Pertama yang akan di ulas tentu saja adalah tampak luar dan bagaimana rasanya kamera ini saat digenggam. Dilihat dari depan saat belum dipasang lensa tentu adalah mount dan sensor yang terlihat dominan, lalu di pojok atas ada lampu kecil untuk self timer maupun lampu bantuan fokus. Dari atas bisa dilihat ada dudukan lampu kilat eksternal (atau untuk aksesori lain misal jendela bidik elektronik), roda mode dial PASM dll, tombol jepret dan tombol on-off. Masih di atas tapi agak sedikit ke belakang ditemui tombol playback, tombol delete, colokan aksesori (AP2), tombol Fn, tombol magnify dan tombol langsung rekam video.

Olympus E-PL5 with lens

Di belakang ada layar LCD lipat yang aspek rasionya 16:9 sehingga terasa sekali dominasinya, tinggal tersisa sedikit ruang di sebelah kanan untuk aneka tombol dan roda kendali. Di sisi kanan ada pintu kecil untuk colokan mikro HDMI dan mikro USB, lalu di bawah ada pintu untuk baterai dan kartu SD, serta lubang untuk memasang tripod.

Olypus E-PL5 back

Saat digenggam, kamera berbobot 300 gram ini (belum termasuk lensa) terasa mantap karena cukup berat, ada grip di depan dan ada tonjolan untuk menahan jempol di belakang. Pengoperasian dengan satu tangan masih bisa selama tidak menekan tombol playback dan delete. Saat mencoba melipat layar LCD, kami temui sudut lipatannya sangat berguna karena bisa ke bawah (untuk memotret sambil mengangkat kamera ke atas) atau layar dilipat hingga menghadap ke atas (untuk low angle hingga selfie). Satu hal yang tidak bisa kita lakukan dengan layar ini adalah melipatnya ke dalam untuk melindungi layar saat kamera tidak dipakai.

Lensa M Zuiko 14-42mm

Lensa kit yang disediakan cukup kecil, punya rentang fokal 14-42mm (setara 24-84mm) dan rentang diafragma f/3.5-5.6 serta diameter filter 37mm. Di lensa tertulis jarak fokus minimum lensa ini adalah 25cm (cukup dekat untuk foto close-up) hingga infinity. Ada ring untuk manual fokus di lensa, tapi prinsip kerjanya adalah elektronik. Ada tuas untuk mengunci lensa juga, jadi misalnya lensa posisi terkunci lalu kamera dinyalakan akan ada pesan di layar untuk me-unlock lensanya (dengan cara memutar ke fokal 14mm).

Kinerja dan pemakaian

Kamera generasi modern, layaknya sebuah komputer rata-rata punya kinerja lebih baik berkat kemajuan teknologi prosesor didalamnya. Kamera E-PL5 ini juga terasa responsif mulai dari waktu start-up, shutter lag, shot-to-shot hingga melihat-lihat hasil foto semuanya terasa cepat. Urusan kecepatan fokus di kamera Olympus juga sudah dikenal cepat walau berbasis deteksi kontras saja. Ada beberapa mode auto fokus di kamera ini, termasuk fokus kontinu, manual fokus dan fokus dengan menyentuh layar. Di tempat agak gelap, kinerja auto fokus sedikit menurun tapi masih tergolong cepat, jarang sampai terjadi mis fokus (meleset). Kamera ini dengan jitu juga bisa mengenali wajah manusia sehingga bisa fokus langsung ke area wajah. Asyiknya, dengan satu sentuhan jari kita juga bisa memilih titik fokus sekaligus mengambil foto, fitur ini dinamai Touch AF shutter.

touch-af

Kecepatan tembak maksimum 8 foto per detik terasa sangat mantap, penulisan data ke kartu memori akan lebih terasa cepat dengan kartu yang kelas 10 atau lebih cepat. Di mode dial E-PL5 ada pilihan untuk rekam video, tapi walau posisi dial bukan berada disana kita tetap bisa memulai rekam video dengan menekan tombol movie. Sayangnya dari pengujian kami, rekaman video akan berhenti dan disimpan jadi satu file bila tombol jepret ditekan untuk mengambil foto. Setelah foto diambil dan disimpan, kamera akan otomatis lanjut merekam video dengan nama file baru. Menurut kami ini tidak praktis, di kamera lain umumnya saat sedang merekam video tiba-tiba tombol jeptret ditekan, maka foto diambil tapi video tetap lanjut merekam.

Untuk mengganti setting penting seperti eksposur (ISO, shutter, diafragma), lalu ukuran file foto, WB, metering dan sebagainya harus menekan tombol OK lalu navigasi lebih lanjut dengan tombol 4 arah (atas bawah dan kiri kanan). Tidak ada satu tombol yang menampilkan quick setting di LCD seperti kamera lain (atau kamera OM-D), padahal dengan layar sentuh semestinya lebih mudah mengganti setting dengan menekan layar, cukup disayangkan. Ada tombol INFO yang bisa dipakai untuk menampilkan detail setting di layar dan menampilkan live histogram. Tombol empat arah juga punya fungsi jalan pintas seperti kompensasi eksposur, memilih titik fokus, memilih mode flash dan drive mode/self timer. Unik dan hebatnya di kamera ini, hampir setiap tombol bisa dikustomisasi melalui menu. Jadi kita bisa mengganti fungsi default dari masing-masing tombol, lalu juga roda kendali serta tombol rekam video. Kamera ini bahkan bisa menyimpan setting favorit kita.

Custom menu E-PL5

Di menu, pengaturan lanjutan (Custom menu) disembunyikan dengan tujuan tidak dirubah oleh pemakai yang masih awam, tapi dengan membukanya kita akan bertemu setting yang sangat lengkap dan terbagi sampai 10 kelompok dari A sampai J, masing-masing punya peran untuk mengatur fokus, tombol, drive mode, display, eksposur, flash, warna WB, record/erase, movie dan utility. Disinilah kita bisa mengkustomisasi kamera ini sepuas-puasnya, bahkan lebih canggih daripada kamera DSLR dengan harga yang sama. Misalnya di kamera ini bisa lebih lanjut mengatur rentang histogram (default dari 0-255), live bulb, menjaga tone hangat di Auto WB, memilih dpi output, bagaimana kamera akan menghapus file bila foto yang diambil dengan setting RAW+JPG di-delete, hingga adanya kompensasi eksposur untuk setiap mode metering.

Di kamera juga tersedia banyak pilihan pop art dan bracketing, termasuk HDR. Ada juga fitur multiple exposure untuk menggabungkan dua foto jadi satu. Bagi yang senang memotret sesuatu yang jauh juga akan terbantu dengan fitur tele converter (2x digital zoom). Sayangnya tidak ditemui fitur sweep panorama atau timelapse di kamera ini. Sedikit kekurangan lain dari kamera ini yang kami temui adalah, setelah mengakses mode HDR BKT dan menentukan settingnya, kamera hanya mengambil tiga foto yang siap untuk digabung jadi HDR di komputer, bukannya digabung otomatis di kamera seperti fitur HDR di kamera lain.

Hasil foto

Contoh foto ini diambil dengan lensa kit M.Zuiko 14-42mm f/3.5-5.6 untuk sekaligus menguji kualitas lensa dan juga kemampuan ISO tinggi dari kamera dengan sensor Four Thirds ini. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link ke flickr di bawahnya foto.

ISO 1600 :

ISO 1600 di E-PL5

File asli

ISO 3200 :

ISO 3200 di E-PL5

File asli

Dari kedua contoh foto diatas tampak kualitas foto masih cukup baik di ISO 1600 dan ISO 3200, dengan noise yang masih cukup wajar. Hasil 100% crop dari foto di ISO 3200 adalah seperti ini :

p1010203-crop

Untuk contoh foto berikut ini diambil dengan lensa Lumix 45-150mm OIS, karena sebagai sesama anggota Micro Four Thirds, lensa milik Panasonic ini bisa juga dipakai di kamera Olympus. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link flickr di bawahnya foto.

Foto diambil dengan aneka efek art filter :

Miniatur efek

File asli

Art efek

File asli

BW efek

File asli

Kesimpulan

Persaingan ketat di segmen kamera mirrorless bisa disederhanakan seperti adu kamera dengan sensor Four Thirds dan sensor APS-C (seperti Sony NEX, Fuji X, Canon EOS-M dan Samsung NX) yang juga punya bermacam produk andalan. Untuk tetap bisa kompetitif, Olympus perlu strategi cerdas dalam membuat segmentasi kameranya. Olympus E-PL5 sebagai kamera mirrorless compact berhasil memberi bukti bahwa kamera canggih dengan hasil foto baik dan kinerja tinggi tidak harus dibandrol terlalu mahal. Berada di segmen menengah, E-PL5 termasuk punya value tinggi dan sudah matang dalam hal teknologi. Bodi yang mantap dan ergonomi yang pas membuatnya cukup ringkas untuk dipakai namun tidak mudah selip dari genggaman. Penyempurnaan dari era E-PL3 cukup banyak, fakta kalau kamera ini memakai sensor milik OM-D EM-5 dan layar sentuh juga tidak bisa diabaikan. Kinerja kamera seperti auto fokus dan in body stabilizer juga tidak ada keluhan, bekerja baik sesuai ekspektasi kami. Kami juga terkesan dengan banyaknya fitur kelas atas yang dimiliki E-PL5 seperti live bulb, aneka bracketing, multi exposure, DOF preview dan bermacam art filter yang siap pakai. Selain itu, lensa kit yang dimiliki juga termasuk punya kualitas optik yang baik, sepintas yang melihat kecilnya tidak menyangka kalau hasil fotonya tajam.

Dengan segala kelebihan diatas, kami juga mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti lampu kilat yang terpisah dari bodi. Walaupun dalam paket penjualan lampu kilat ini disertakan juga, tapi tetap akan lebih repot bila kita harus selalu membawanya dan memasangnya bila perlu. Belum lagi dengan memasang flash maka aksesori lain seperti jendela bidik elektronik jadi tidak bisa dipasang juga. Lalu yang namanya layar LCD jadi sorotan kritik kami karena beberapa hal, misal aspek rasio 16:9 itu tidak umum dan memakan ruang belakang kamera (sehingga tombol dan roda kendali terdesak di sisi kanan), lalu sistem layar lipat yang tidak umum (walau tetap kami apresiasi daripada tidak bisa dilipat sama sekali) dan kerapatan piksel LCD yang dibawah rata-rata (hanya 400 ribuan piksel). Dari kinerja kamera, yang kami keluhkan hanya rekaman video yang harus berhenti saat kamera dipakai untuk mengambil foto. Harapan lain yang belum ada di kamera ini sebutlah misalnya auto ISO yang biasa saja (tidak bisa dikustomisasi lebih lanjut untuk prioritas shutter speed), tidak ada timelapse dan sweep panorama, tidak ada WiFi dan tidak bisa menggabungkan otomatis tiga foto hasil HDR kamera.

Kesimpulan akhir, kamera Olympus E-PL5 plus lensa kit, dengan segala kelebihan dan fiturnya sebetulnya cukup sepadan dengan harga jualnya di kisaran 7 jutaan. Anda akan mendapat kamera berdesain keren, hasil foto bagus, kinerja tinggi dan bisa banyak kustomisasi tombol dan fitur lanjutan. Tinggal apakah anda bisa menerima hal-hal kecil yang menjadi catatan kami (seperti lampu kilat terpisah, layar LCD dengan aspek rasio yang tidak umum, issue rekam video putus saat ambil foto dan HDR yang tidak bisa digabung). Jangan lupakan juga pilihan lensa yang cukup banyak baik dari Olympus, Lumix maupun produsen lensa pihak ketiga akan jadi faktor tambahan untuk memilih sistem kamera ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa Nikon AF-S 18-300mm VR

Review kali ini akan mengulas lensa sapujagat baru dari Nikon yaitu AF-S 18-300mm f/3.5-5.6 VR. Lensa seharga 10 juta rupiah ini memiliki kode DX yang artinya didesain untuk DSLR Nikon APS-C, bukan full frame. Fokal lensa ini sangat serbaguna, ekivalen mulai dari 27mm hingga 450mm sehingga secara teori cukup bawa satu lensa ini bisa dipakai apa saja. Lensa ini juga melengkapi koleksi lensa sapujagad Nikon lainnya yang lebih dulu populer yaitu AF-S 18-200mm.

Tinjauan fisik

Lensa sepanjang 12cm dan berbobot 830 gram ini termasuk lensa berukuran besar, bila dipadankan dengan kamera DSLR kecil maka tampak kurang proporsional, alias lebih besar lensa daripada kamera. Saat diletakkan di meja pun yang menyentuh meja adalah lensanya, bukan kameranya :)

d510018300

Didalam lensa besar ini ada 3 elemen lensa ED dan 3 elemen lensa aspheris, total berjumlah 19 elemen dalam 14 grup. Lensa berbahan plastik ini memakai diameter filter 77mm, dan memakai 9 bilah diafragma. Teknologi di lensa ini yang paling menarik adalah 4 stop VR dengan mode Active dan Normal. Selain itu ring manual fokus di lensa ini bisa diputar kapan saja, tak perlu harus menggeser tuas mode AF dulu.

switch

Ada juga kunci 18mm untuk mencegah lensa ini melorot kalau mengadap bawah. Terdapat jendela pengukur jarak dengan indikasi fokus minimum adalah 45cm, lumayan untuk kebutuhan close up. Di bagian bawah ada serial dengan tulisan kalau lensa ini dibuat di Thailand. Mount lensa tentu saja terbuat dari logam, namun tidak terdapat gelang karet untuk mencegah air seperti lensa kelas pro.

Rentang Fokal

Lensa ini didesain untuk mereka yang perlu satu lensa untuk segala kebutuhan, dari wideangle hingga telefoto. Seiring lensa di zoom, bagian depannya akan memanjang dari posisi terpendek (12cm) hingga terpanjang (22cm).  Putaran zoom terasa mantap, tidak terlalu longgar maupun berat. Indikator fokal ditandai dengan angka 18mm, 28mm, 50mm, 105mm, 200mm dan 300mm. Dari posisi 105mm ke 300mm putarannya sangat dekat, sepertinya lensa ini tidak ditujukan untuk memilih fokal yang presisi untuk telefotonya, cukuplah memilih 105mm, 200mm dan 300mm. Bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 di 18mm, lalu menjadi f/4 di 28mm dan sudah mengecil sampai f/5.6 di 70mm.

zoom-18-300mm

Rentang fokal seluas ini menghindarkan kita membawa dua lensa, misal 18-55mm dan 55-300mm, atau 18-70mm dan 70-300mm. Dengan hanya satu lensa maka kita tidak membuang waktu untuk mengganti lensa dan mencegah debu masuk ke sensor. Perbedaan gambar yang dihasilkan antara fokal 200mm dan 300mm tidak terlalu signifikan, kita bisa juga lakukan cropping dari fokal 200mm kalau mau.

200vs300

Perhatikan gambar diatas yang menunjukkan perbedaan fokal 200mm dan 300mm dari lensa yang sama.

Kinerja

Untuk menilai kinerja lensa ini, kami menguji kemampuan VR dan fokusnya. Untuk kecepatan mencari fokus, kami rasakan lensa ini cukup cepat dan akurat, tapi tidak semantap fokusnya lensa Nikon kelas pro. Paling tidak kita bisa memutar ring manual fokus kapan saja, tanpa takut merusak mekanisme fokus didalamnya. Tidak ada elemen lensa yang maju mundur ataupun berputar saat kamera mencari fokus.

Lensa dengan klaim 4 stop VR ini kami uji memang memberi kinerja baik. Dengan VR diaktifkan, kami bisa dapatkan hasil tajam tanpa tripod di kecepatan 1/20 detik pada fokal 300mm.

vr-testing

Kualitas Optik

Bokeh

crop-asli

Lensa dengan fokal tele (diatas 100mm) bisa juga dinikmati bokehnya, meski bukaan maksimalnya hanya f/5.6 saja. Hal ini membuat lensa ini juga bisa menghasilkan bokeh yang lumayan bak lensa fix asal diputar ke posisi 200mm hingga 300mm.

Ketajaman dan kontras

crop-300mm

Lensa Nikon terkenal tajam, demikian juga dengan lensa 18-300mm ini. Pada bukaaan maksimal, lensa ini tajam dari fokal 18mm hingga 300mm, dengan titik terlemah adalah di 300mm (agak soft sedikit seperti crop foto diatas). Pada bukaan f/8 didapat ketajaman optimal. Soal kontras dan tone tidak ada masalah, hasil foto tampak natural dan warnanya akurat. Ditemui sedikit purple fringe di area kontras tinggi dan pada fokal wide.

Sampel foto (resolusi asli)

Sampel 1 :

1/500s, f/9, ISO 800, 300mm

Sampel 2 :

1/1250s, f/5.6, ISO 400, 300mm

Kesimpulan

Lensa yang nyaris ideal ini justru memiliki kelemahan dalam harga dan ukurannya. Harganya yang mahal dan bentuknya yang besar dan berat, membuat lensa 18-200mm masih lebih menarik dan perbedaan antara 200mm hingga 300mm hampir tidak kentara. Untuk mengatasi kekurangan jangkauan lensa, hasil foto 200mm pun bisa dicrop. Tapi bagi anda yang mencari pengganti kombinasi dua lensa, maka lensa 18-300mm ini tidak ada masalah dalam hal optik dan kinerja. Bagi anda yang dananya terbatas, dengan harga 1/3 dari lensa ini, anda juga bisa menjajal lensa tajam yaitu 18-105mm yang pernah kami review sebelumnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..