Sepuluh tips dan trik tentang ISO kamera

Kita tahu kalau ISO merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan eksposur di kamera. ISO yang di masa lalu dikenal dengan ASA (kecepatan film) di era digital ini menyatakan kepekaan sensor terhadap cahaya. Kamera masa kini umumnya bisa punya nilai ISO yang sangat tinggi, yang secara teori artinya kamera bisa membuat foto jadi lebih terang walau dipakai di tempat yang kurang cahaya, tanpa bantuan flash. Kali ini kami akan ulas lebih dalam tips-tips mengenai ISO di kamera digital, tentunya supaya anda  lebih paham dalam mengoptimalkan fitur ini.

Inilah sepuluh tips dan trik yang kami  sajikan berkaitan dengan ISO :

Hasil foto terbaik didapat di ISO terendah

Ingat selalu akan hal ini. ISO dasar, atau ISO terendah (misal ISO 100) akan memberi hasil foto yang kualitas fotonya paling bagus. Sebaliknya di ISO tinggi foto akan muncul noise. Di era film, ASA tinggi memberi hasil noise yang artistik karena terlihat grainy, tapi di era digital noise yang muncul lebih cenderung merusak foto. Tipsnya adalah, gunakan ISO rendah untuk mendapat kualitas foto terbaik dan bebas noise, bila memungkinkan. Hubungan antara ISO dan noise pernah kami ulas di artikel ini.

Menaikkan ISO : memaksa sensor memberi output lebih

gx1_sensor

Saat pakai ISO rendah ternyata foto jadi gelap atau shutter speed jadi sangat lambat, kita juga boleh menaikkan ISO. Ingat juga kalau ISO pada dasarnya adalah kepekaan/sensitivitas sensor kamera dimana semakin tinggi nilainya maka semakin peka sensor kamera terhadap cahaya. Sensor sebagai alat elektronik, punya tegangan keluaran tertentu. Dengan menaikkan ISO, maka sensor dipaksa untuk memberi keluaran yang lebih tinggi. Memang memakai ISO tinggi tidak akan ada efek terhadap sensor (tidak merusak sensor),  tapi sekedar mengingatkan kalau ISO tinggi ya artinya sensor memang dipaksa supaya lebih sensitif. Keuntungannya, walau hanya ada sedikit saja cahaya sudah bisa mengambil foto yang terang, misal di dalam ruangan.

Sensor besar, ISO tinggi masih aman

Tidak setiap kamera punya sensor yang (ukurannya) sama. Kamera DSLR dan hampir semua kamera mirrorless punya sensor cukup besar, di kubu lain ada kamera saku dan ponsel yang sensornya kecil. Kira-kira inilah perbandingan ukuran sensor yang dianggap cukup besar hingga besar, dari kiri sensor 1 inci milik Nikon 1, lalu Micro Four Thirds, APS-C dan Full Frame 35mm. Sensor yang ukurannya lebih kecil dari ilustrasi dibawah ini tidak disarankan untuk pakai ISO tinggi karena hasil fotonya akan jelek, misal sensor 2/3 inci, sensor 1/1,7 inci dan sensor 1/2.5 inci.

sensor-size-cmp

Keuntungan kamera dengan sensor yang lebih besar adalah hasil foto yang didapat bisa lebih baik, khususnya saat memakai ISO tinggi. Kamera DSLR full frame 35mm masih memberi hasil foto yang baik di ISO 3200, kamera DSLR APS-C hasil fotonya masih oke di ISO 1600. Sensor 1 inci dan sensor Micro Four Thirds juga cukup baik di ISO 1600 tapi tentu masih lebih baik hasil dari sensor dari APS-C.

Bingung? pakai ISO Auto aja dulu

Bagi mereka yang baru memakai kamera mungkin masih bingung dengan fitur ISO ini. Pertanyaan paling sering muncul adalah jadi saya harus pakai ISO berapa? Kalau tidak ada ide mau pakai nilai ISO berapa, biarkan kamera yang pilihkan untuk kita. Di mode Auto yang namanya ISO memang diatur otomatis oleh kamera. Di mode lainnya, misal mode P (Program), kita bisa memilih nilai ISO, atau bisa juga memilih ISO Auto. Dengan ISO Auto maka kamera mengukur cahaya dulu dan memilihkan ISO yang paling cocok.

ISO Lo dan Hi

Di kamera yang lebih canggih kerap dijumpai ada ISO Low dan ISO High. Ini maksudnya adalah nilai ISO yang diperluas dari rentang standarnya, supaya lebih banyak pilihan. Misal nilai ISO terendah adalah ISO 200, tapi ada ISO Low maka ISO Low dianggap setara dengan ISO 100. Sebaliknya misal ISO tertinggi adalah ISO 6400 tapi diatasnya ada ISO High maka dianggap setara dengan ISO 12800.

iso-lo-hi

Lalu pertanyaannya, kenapa harus begitu? Karena pada dasarnya produsen kamera tidak mengharapkan kita memakai ISO Low atau ISO High, dan lebih suka memilih salah satu dari rentang ISO normal saja. Salah satu alasannya karena diluar ISO normal hasil fotonya dikuatirkan tidak bagus dan bisa jadi merugikan nama baik produsen kamera itu. Di kamera Canon bahkan untuk menampilkan ISO H perlu dibuka dulu lewat menu (Custom function).

Kapan pakai ISO dasar ?

Pertanyaan bagus. ISO dasar dipakai bila cahaya cukup terang atau kita pakai flash, atau lampu studio. Tapi dalam prakteknya, banyak skenario fotografi yang memerlukan ISO rendah. Misalnya saat ingin memakai speed rendah di siang hari (untuk bisa merekam efek gerakan) dan saat memotret long eksposur (durasi sampai ditas 1 detik).

Contoh foto long eksposur diatas diambil dengan kamera Nikon J3 memakai ISO dasar 160 dan durasi shutter 4 detik, tentunya dengan tripod. Walau keadaan aslinya sudah gelap, tapi foto ini nampak terang karena pakai speed lambat, bukan karena pakai ISO tinggi.

ISO tinggi untuk meningkatkan kekuatan flash

Tips untuk membuat lampu kilat lebih bertenaga adalah dengan memakai ISO tinggi. Untuk membuktikannya, cobalah ambil foto ruangan yang luas dan agak gelap dengan lampu kilat di ISO rendah, lihat betapa lampu kilat cenderung gagal untuk menerangi seluruh ruangan. Ulangi foto tersebut dengan ISO tinggi dan lihat bedanya.

ISO tinggi di siang hari?

Saat memotret di siang hari yang terik, tentunya pakai ISO rendah saja sensor kamera sudah bisa membuat foto yang terang. Lalu apakah boleh pakai ISO tinggi di siang hari? Jawabannya selain mubazir juga bisa berpotensi bikin foto jadi over eksposur (terlalu terang). Tapi adakalanya ISO tinggi di siang hari bisa dipakai, misal saat memakai  bukaan sangat kecil (misal f/22) tapi ingin dapat shutter speed sangat cepat (misal 1/4000 detik). Biasanya dipakai untuk lensa-lensa tele seperti foto berikut ini :

Nikon D5100, ISO 3200, 200mm, f/5.6, 1/400 detik
Nikon D5100, lensa 200mm, 1/400 detik, f/5.6, ISO 3200

Saat memakai lensa tele yang bukaannya tidak besar, guna menjamin foto tetap tajam dan tidak blur karena getaran, kita perlu memilih shutter speed yang cukup tinggi dan ini bisa didapat dengan menaikkan ISO, walaupun di siang hari.

Saat tidak bawa tripod, ISO bisa bantu foto tetap tajam

Tripod dibutuhkan untuk membuat kamera stabil saat mengambil gambar, sehingga hasil foto tidak blur karena getaran/goyang. Kenapa selama ini kita bisa memotret dengan tajam walau tanpa tripod? Jawabannya karena kebetulan kita memakai shutter speed cukup tinggi (misal 1/60 detik). Tapi coba memotret tanpa tripod dengan kecepatan 1/2 detik maka foto dijamin blur dan tidak bisa dinikmati.

Nikon D5100, 1/10 detik, f/4, ISO 6400, tanpa tripod
Nikon D5100, lensa 12mm, 1/10 detik, f/4, ISO 6400, tanpa tripod

Nah adakalanya tripod yang dibutuhkan tidak sedang bersama kita, dan tidak ada pilihan lain selain memotret dengan memegang kameranya. Maka prinsipnya kita harus membatasi kecepatan shutter jangan lebih lambat dari  nilai tertentu (biasanya memakai rumus 1/panjang fokal). Kadang dalam banyak kondisi, untuk itu kita perlu menaikkan ISO. Saat tidak memakai tripod prinsipnya adalah : lebih baik foto noise (karena ISO tinggi) tapi hasilnya tajam (tidak blur) daripada dapat foto yang foto bersih (karena ISO rendah) tapi blur.

ISO tinggi untuk aksi

Ini yang paling sulit, bagaimana jiga benda yang akan difoto bergerak? ISO tinggi adalah senjata andalan fotografer aksi, wartawan dan mungkin juga paparazi. Dengan ISO tinggi, mereka bisa memaksa kamera untuk selalu mendapat kecepatan shutter yang tinggi, sehingga bisa membekukan gerakan.

Untuk lebih pahamnya, lihat contoh foto disamping. Dengan ISO rendah, obyek yang bergerak akan gagal untuk di’bekukan’ karena speed kamera yang kalah cepat dengan gerakan si obyek. ISO tinggi akan membuat shutter speed kamera naik dan bisa membuat obyek yang bergerak jadi beku.

Di tempat yang kurang cahaya, membekukan gerakan tanpa flash menjadi tantangan yang amat sulit (walau misal sudah pakai lensa bukaan besar), dan hanya bisa dicapai dengan menaikkan ISO setinggi-tingginya . Maka itu kamera DSLR full frame akan sangat membantu untuk para jurnalis dan fotografer aksi, karena di ISO yang sangat tinggi pun (misal ISO 6400) hasil foto dari kamera DSLR full frame masih cukup bagus).

Kesimpulan

Fitur ISO sudah sedemikian akrab di telinga dan kadang kita justru tidak begitu peduli dengan potensi kegunaannya. Padahal ISO inilah yang membuat fotografi digital begitu berbeda, begitu praktis. Pahami kapan waktu yang tepat untuk memakai ISO rendah, dan sebaliknya kapan memakai ISO tinggi. Di masa lalu untuk hanya merubah ASA, orang harus menghabiskan dulu filmnya baru ganti dengan film baru. Kini tinggal tekan tombol dan ISO pun berubah. Nikmatilah..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Menyikapi ‘Highlight Clipping’ pada kontras tinggi

Sering kita baca di sebuah review kamera digital yang menyatakan kekurangan dari kamera yang direview, cenderung mengalami highlight clipping. Disini kami akan jelaskan arti dari istilah highlight clipping pada sebuah foto, mengapa bisa terjadi dan cara menyikapinya. Dari istilah, highlight artinya area terang dalam sebuah foto. Lawannya adalah shadow (area gelap). Sebuah foto yang eksposurnya lengkap akan memiliki area shadow, midtone dan highlight yang berimbang. Namun bila area highlight terlalu terang maka akan terjadi clipping atau terlalu terang sehingga detail di daerah terang tersebut hilang (washout).

images

Tidak seperti mata manusia, setiap sensor kamera punya rentang jangkauan dinamis (dynamic range) yang lebih terbatas. Sensor tidak sanggup untuk merekam seluruh rentang terang gelap yang sangat lebar di alam ini.  Untuk menjaga foto tetap pada eksposur yang tepat, kamera akan melakukan metering dan menentukan nilai shutter, aperture dan ISO yang sesuai untuk setiap kondisi pemotretan. Meski kemampuan sensor dalam menangkap terang gelap di alam ini terbatas, foto yang dihasilkan semestinya tetap punya terang gelap yang pas karena kamera berpatokan pada medium grey 18% dalam mencari eksposur. Tapi semakin kontras obyek yang difoto, kamera akan semakin kesulitan dalam menghasilkan foto yang eksposurnya tepat. Disinilah setiap kamera memiliki pendekatan yang berbeda tergantung prosesor dan insinyur pembuatnya.

Contoh highlight clipping

Kamera saku dan sejenisnya, dengan sensor kecil, lebih rentan mengalami highlight clipping. Obyek yang cukup kontras sudah bisa membuat kamera saku kesulitan dan area putih yang dihasilkan akan cenderung washout (lihat detil jendela yang washout pada foto diatas). Kamera DSLR dengan sensor lebih besar pun tetap bisa mengalami  highlight clipping bila dipakai memotret obyek yang sangat kontras. Jadi bila anda memang hanya memiliki kamera dengan sensor kecil, perlu memahami keterbatasan sensor kamera anda dalam menangkap rentang terang gelap di alam ini.

Ada beberapa cara menyikapi dan menyiasati keadaan highlight clipping, diantaranya :

  • periksa histogram, cek apakah area terang berada terlalu kekanan sehingga over eksposur?
  • saat melihat hasil foto di kamera, aktifkan fitur ‘highlight clipping indicator’ sehingga area putih yang mengalami washout akan ditandai oleh kamera dalam bentuk kedip-kedip
  • tidak semua area terang yang washout itu dianggap gagal, bila yang mengalami washout bukan obyek foto yang penting maka abaikan saja
  • namun bila area terang yang washout itu adalah bidang penting dalam foto, maka foto tersebut perlu diulang
  • bila kamera sering mengalami clipping di area kontras tinggi, bisa turunkan komponsasi eksposur ke -1/3 sehingga foto akan dibuat 1/3 stop lebih gelap (foto yang lebih gelap akan membuat detil di area shadow lebih hitam)
  • kamera tertentu (seperti EOS 550) punya fitur highlight tone priority, fitur tersebut bisa diaktifkan bila kita sering memotret benda putih guna menjaga detilnya
  • banyak kamera modern yang punya fitur peningkat dynamic range (Active D Lighting, Dynamic Range Optimizer dsb) yang akan menaikkan detil di area gelap (shadow), perhatikan bahwa fitur ini umumnya tidak berhasil mencegah highlight clipping sehingga meski fitur ini diaktifkan namun hasilnya clipping tetap terjadi
  • bila kamera anda ada fitur RAW, gunakan file RAW untuk memotret area kontras tinggi lalu edit secara manual di komputer untuk menyelamatkan detil di area terang yang mungkin tidak bisa direkam dengan format JPG
  • bantuan lampu tambahan untuk menyeimbangkan kontras bisa dicoba, yang umum adalah pemakaian flash di siang hari (fill flash) atau gunakan reflektor
  • terakhir, sebisa mungkin hindari obyek foto yang terlalu kontras.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Memilih lensa sesuai ukuran sensor DSLR

Kamera DSLR yang biasa kita pakai umumnya memakai sensor ukuran APS-C atau yang lebih kecil dari sensor ukuran full frame 35mm. Sensor APS-C akan membawa dampak adanya crop factor terhadap lensa yang dipasang, sehingga rentang fokal lensa akan 1.5 kali lebih panjang.  Awalnya di era SLR film, setiap fokal lensa akan memberikan fokal aktual yang apa-adanya. Sebuah lensa 50mm akan memberikan perspektif dan sudut gambar yang memang seperti yang semestinya sebuah lensa 50mm. Dengan era digital yang menggunakan sensor APS-C, maka ada penyesuaian dimana setiap lensa yang dipasang akan mengalami koreksi 1.5x sehingga lensa 50mm akan jadi ekuivalen 85mm. Alhasil di APS-C, lensa wide tidak lagi terlalu wide, dan lensa tele akan jadi semakin tele.

crop factorMengapa bisa terjadi demikian, jawabannya sederhana, karena sensor APS-C ukurannya lebih kecil dari sensor full frame, sehingga bidang gambar yang dicakup juga lebih kecil. Untuk itu produsen lensa juga berpikir, kenapa tidak membuat lensa yang sesuai dengan sensor APS-C saja? Akhirnya saat ini sudah banyak diproduksi lensa khusus sensor APS-C, seperti lensa EF-S (Canon), lensa DX (Nikon) dan juga buatan produsen lensa lain seperti dari Tamron, Sigma atau Tokina. Lensa-lensa ini bentuknya lebih kecil, dengan diameter bidang gambar yang lebih kecil (disesuaikan dengan ukuran sensor) dan tidak cocok untuk dipasang di DSLR full frame.

Apakah kita harus selalu memilih lensa semacam ini? Tidak juga, tidak ada pantangan bagi pemilik DSLR APS-C untuk memakai lensa full frame, apalagi lensa full frame punya pilihan yang lebih banyak dan umumnya lensa profesional adalah lensa full frame. Baik lensa full frame maupun lensa khusus DSLR APS-C keduanya tetap dibuat dengan spesifikasi fokal lensa yang sesuai standar mengacu pada angle of view (sudut gambar yang dibentuk). Sebagai contoh, lensa Nikon DX 35mm meski dibuat khusus untuk Nikon APS-C, namun lensa ini tetaplah punya sudut yang ekivalen dengan lensa 35mm, walau nantinya akan mengalami crop sehingga sudut yang dibentuk akan setara dengan 52mm. Jadi yang menentukan hasil foto kita bukan fokal lensanya saja tapi sudut ekivalennya, dan itu tergantung dengan berapa crop factor atau ukuran sensornya.

angle_view

Kesalahan mendasar pemula dalam memilih lensa adalah dia mengabaikan crop factor, meski tidak fatal tapi bisa membawa kekecewaan. Seorang yang membeli lensa Canon 17-40mm bisa jadi akan kecewa saat memasang lensa ini di kamera EOS 60D, karena dia tidak akan pernah bisa merasakan fokal wide 17mm yang dibayangkannya, melainkan setara dengan lensa 28mm. Seorang yang membeli lensa 28-300mm bisa jadi akan terheran-heran saat kemampuan paling wide sebenarnya dari lensa ini adalah 42mm, bukannya 28mm (42mm bukan lagi tergolong wide).

crop-factor-sensor-size

Berikut kami sajikan beberapa fokal lensa favorit di era fotografi film, dan bagaimana efeknya bila terkena crop factor, dan lensa seperti apa yang perlu dibeli oleh pemilik DSLR APS-C untuk bisa memiliki fokal lensa yang sama seperti lensa tersebut :

1. Fix normal : lensa populer 50mm

Inilah lensa paling populer di kalangan fotografer dari jaman dulu. Sesuai namanya, lensa fix tidak bisa dizoom, namun keuntungannya bisa memiliki bukaan lensa amat besar. Lensa ini bila dipasang di kamera APS-C akan terkoreksi menjadi 75mm. Untuk itu bila ingin merasakan fokal 50mm, carilah lensa 30mm atau 35mm.

2. Wide zoom : lensa pemandangan 17-40mm (Canon), 16-35mm (Nikon) dsb

Inilah lensa wide kelas mewah yang jadi idaman pecinta fotografi wideangle. Lensa semacam ini umumnya dijual di atas 10 juta rupiah. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C maka fokalnya akan menjadi 26-60mm yang kurang begitu wide. Solusinya, carilah lensa wide untuk APS-C seperti 10-22mm (Canon), 10-24mm (Nikon), 10-20mm (Sigma) dsb.

3. Zoom normal 1 : lensa pro 24-70mm

Inilah lensa zoom normal paling disukai para fotogafer karena kemampuan widenya yang cukup dan telenya yang lumayan. Bila lensa ini dipasang di DSLR APS-C akan menjadi 36-105mm yang sudah tidak wide lagi. Untuk bisa merasakan fokal 24-70mm, pemakai DSLR APS-C semestinya membeli lensa 17-55mm (Canon-Nikon), 17-50mm (Tamron-Sigma).

4. Zoom normal 2 : lensa ekonomis 28-80mm (Canon), 28-70mm (Nikon)

Pilihan lain lensa zoom normal khususnya di jaman dulu adalah 28-80mm yang akan jadi tanggung bila dipasang di DSLR APS-C, karena fokalnya akan menjadi 42-120mm yang tidak umum. Saat ini bila anda punya DSLR pemula dengan lensa kit 18-55mm, inilah lensa masa kini yang fokalnya bisa dibilang menyamai lensa 28-80mm di jaman dulu. Opsi lain ada juga lensa 16-70mm atau 17-70mm.

5. Super zoom / all round : lensa sapu jagat 28-200 atau 28-300mm

Dulu pun sudah dikenal lensa sapu jagat yang bisa menjangkau fokal wide 28mm sampai tele 200mm bahkan super tele 300mm seperti lensa 28-200mm dan 28-300mm. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C, lagi-lagi posisi wide 28mm akan jadi tanggung karena terkena crop factor ke 42mm. Bila anda suka akan rentang lensa sangat panjang, belilah lensa 18-135mm atau 18-200mm untuk kamera DSLR APS-C anda.

6. Tele zoom 1 : lensa pro 70-200mm

Inilah lensa tele zoom kelas profesional yang biasa disebut dengan lensa termos (karena besarnya) dan harganya sekitar 20 juta. Bila anda iseng membeli lensa ini di kamera DSLR APS-C, anda akan mendapat keuntungan yaitu mendapat jangkauan tele yang lebih panjang yaitu menjadi 100-300mm. Tapi bila anda punya DSLR APS-C dan memang menginginkan lensa dengan fokal persis 70-200mm, anda bisa membeli lensa seperti Tokina 50-135mm atau Sigma 50-150mm.

7. Tele zoom 2: lensa ekonomis 70-300mm

Inilah lensa tele paling populer di kalangan pemula dan hobi fotografi, karena murah dan telenya lumayan panjang. Bila lensa ini dipakai di DSLR APS-C, keuntungannya adalah fokal lensa efektif menjadi sangat panjang yaitu 100-450mm. Maka itu lensa ini sangat disukai oleh baik pemilik DSLR full frame maupun DSLR APS-C. Namun bila anda pemilik DSLR APS-C merasa ingin memiliki lensa dengan fokal efektif 70-300mm, maka anda cukup membeli lensa tele murah meriah seperti 55-200mm.

Sebagai rangkuman, berikut tabel konversi crop factor untuk beberapa fokal umum, dimana Nikon, Fuji, Sony dan Samsung itu perkaliannya 1,5 sedangkan Canon itu 1,6 kali.

Fokal lensa

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Beberapa pertanyaan pemula tentang kameranya

Banyak hal yang mungkin belum dipahami oleh pemula dalam memilih maupun memakai kamera digital, beberapa bahkan terlalu mendasar sehingga membuatnya malu untuk bertanya. Padahal hal-hal yang mendasar inilah yang perlu dipahami dengan baik sehingga tidak menjadi salah kaprah bahkan terjebak dalam mitos yang tidak benar. Kami coba susun daftar tanya jawab yang mungkin bisa mewakili satu atau dua pertanyan yang anda sedang rasakan saat ini, semoga bisa membantu memberi pencerahan untuk anda. Selamat membaca..

Apakah mega piksel berarti kualitas ?

Dalam marketing, mega piksel dijadikan jargon utama untuk menjual kamera. Calon pembeli dipaksa untuk menganggap kalau semakin tinggi mega piksel kamera maka hasil fotonya akan semakin bagus. Nyatanya mega piksel sebagai istilah lain dari resolusi sensor, menandakan berapa banyak piksel yang dimiliki oleh sensor. Semakin tinggi resolusi, semakin detail foto yang dihasilkan sehingga bisa dicetak ukuran besar. Foto yang bagus secara teknis ditentukan dari ketajaman lensa, kualitas sensor dan seberapa besar tingkat kompresi JPEG yang dipilih.

Samakah resolusi 8 MP di kamera ponsel dan di kamera digital ?

Sama. Jumlah piksel pada keping sensor kamera ponsel 8 MP memang ada 8 juta piksel. Bedanya adalah luas penampang sensor, dimana kamera ponsel punya sensor berukuran sangat kecil yang membuatnya kurang mampu menangkap dynamic range, tonal dan kontras dari obyek yang difoto.

Mengapa hasil foto dari kamera saya tidak bagus ?

Ini bisa banyak kemungkinan, karena foto yang bagus itu bisa secara teknis maupun secara seni. Umumnya kita mengeluhkan hasil foto kamera yang kurang bagus tanpa mengevaluasi dulu apakah kita sudah benar dalam memakai kamera. Biasanya foto jadi jelek karena salah dalam memfokus, goyang saat memotret, memaksakan memotret di tempat yang cahayanya kurang, memotret melawan cahaya dan sebagainya. Tapi bila anda sudah melakukan yang terbaik tapi hasil fotonya tetap jelek (hasil soft, kontras rendah atau ada distorsi lensa yang nyata) rasanya anda perlu mencari kamera lain.

Mengapa foto saya gelap meski sudah memakai lampu kilat ?

Lampu kilat punya keterbatasan jangkauan, seberapa jauh jangkauan lampu ditentukan dari kekuatan pancaran lampu, yang diistilahkan Guide Number (GN). Lampu kilat tidak dimaksudkan untuk menerangi obyek yang terlalu luas, seperti di dalam aula atau gedung pertemuan. Gunakan lampu kilat untuk menerangi obyek yang dekat, misal berjarak 1 hingga 5 meter dari kamera.

Apakah membiarkan semua setting AUTO itu aman ?

Untuk saat ini bisa dibilang sudah aman. Kamera sudah memiliki metoda metering yang lebih baik, plus kinerja white balance yang juga sudah lebih akurat. Bila kamera anda hanya punya mode AUTO, usahakan pengaturan ISO jangan dibuat AUTO, melainkan manual saja. Gunakan ISO terendah dan naikkan hanya bila perlu.

Untuk apa ada ISO tinggi ?

Terkadang kita dihadapkan pada kondisi pencahayaan yang kurang mencukupi, seperti saat senja atau di dalam ruangan. Saat-saat seperti ini kita perlu merubah nilai ISO ke arah yang lebih tinggi supaya sensitivitas sensor ditingkatkan sehingga kamera lebih peka menangkap cahaya yang kurang. ISO tinggi juga berguna bila kita ingin menaikkan kecepatan shutter misalnya seperti saat ingin membekukan momen cepat seperti aksi olahraga. Misal dengan ISO 100 kita cuma mendapat kecepatan 1/500 detik, maka menaikkan ISO ke 200 akan memungkinkan kita memakai kecepatan shutter 1/1000 detik.

Mengapa hasil foto saya berbintik noise ?

Itulah hasil foto yang diambil dengan ISO tinggi, apalagi kalau kameranya punya sensor kecil. Sensor meningkatkan sensitivitasnya saat ISO dinaikkan, sehingga noisenya ikut naik dan tampak seperti bintik-bintik / grain yang mengganggu. Lebih parah lagi, ada noise lain berupa bintik warna yang sulit dihilangkan walau pakai software pengurang noise.

Apa guna stabilizer ?

Stabilizer dibutuhkan untuk meredam getaran tangan yang terjadi saat memotret, sehingga resiko hasil foto jadi blur bisa dikurangi. Stabilizer semakin diperlukan bila kita memotret memakai kecepatan shutter lambat (sekitar 1/20 detik atau lebih lambat) ataupun saat memakai fokal lensa tele (di atas 100mm). Stabilizer tidak diperlukan bila kita memotret memakai tripod, ataupun memotret dengan kecepatan shutter cukup tinggi (di atas 1/60 detik).

Apakah Digital Stabilizer itu juga sama ?

Tidak. Istilah Digital Image Stabilizer adalah penipuan yang jahat. Ini hanya akal-akalan produsen untuk mengecoh pembeli yang awam. Trik ini hanya menaikkan ISO untuk menaikkan kecepatan shutter sehingga resiko blur bisa dicegah. Pastikan bila anda perlu fitur stabilizer (dan sebetulnya memang perlu) carilah kamera yang memiliki fitur stabilizer pada lensa atau pada sensor.

Bagaimana dengan Digital Zoom ?

Ini juga sama, akal-akalan dari jaman dahulu. Lupakan saja dan fasilitas ini jangan dipakai karena akan merusak kualitas foto yang dihasilkan.

Mengapa foto saya sering blur bila lensa di zoom ?

Pertama, istilah lensa ‘di zoom’ itu salah kaprah. Lensa zoom adalah lensa yang bisa berubah fokal lensanya dari fokal terdekat (wide) ke fokal terjauh (tele). Pertanyaannya seharusnya begini : mengapa foto sering blur bila memakai fokal tele (misal 100mm atau lebih) ? Desain lensa kamera pada umumnya memiliki bukaan diafragma yang semakin mengecil saat lensa ‘di zoom’ ke posisi tele. Hampir semua lensa memiliki bukaan besar saat posisi wide (sekitar f/2.8) namun mengecil di posisi tele (sekitar f/5.6). Bukaan yang lebih kecil akan menyebabkan cahaya yang masuk ke kamera juga berkurang sehingga kamera akan menurunkan kecepatan shutter untuk mengimbangi penurunan cahaya ini. Turunnya kecepatan shutter ini akan berdampak pada mudahnya foto menjadi blur akibat getaran tangan. Ingat, guna mencegah blur, kecepatan shutter jangan lebih lambat dari rumus 1/panjang fokal (misal memakai fokal 100mm maka kecepatan shutter minimal 1/100 detik).

Jenis memori apa yang sebaiknya saya pakai ?

Hampir semua kamera modern memakai memori jenis SD card. Bila hanya untuk foto, apapun jenis memori SD card pada prinsipnya sama. Tapi bila hendak merekam video, apalagi yang resolusi HD, maka memori dengan kecepatan baca tulis yang tinggi mutlak diperlukan. Untuk memudahkan, kini memori diberi kelas seperti kelas 2, kelas 4, kelas 6 dst. Untuk menjamin rekaman video tidak patah-patah, gunakan memori kelas 6 atau lebih. Kini ada juga memori SD card dengan kapasitas tinggi seperti SDHC dan SDXC, perhatikan dulu apakah kamera anda kompatibel dengan memori seperti itu atau tidak.

Mengapa kamera saya terasa lambat ?

Lambat bisa jadi karena prosesor internal kamera memang punya kinerja pas-pasan. Yang paling menyebalkan adalah lambat karena shutter lag, alias jeda saat menekan tombol rana. Kita bisa kehilangan momen karena meski waktu memotret sudah tepat tapi kamera terlambat mengambil gambar. Lambat yang lain adalah shot-to-shot, kita membuang waktu menunggu kamera siap mengambil gambar, setelah kita selesai memotret. Akan lebih parah kalau mode lampu kilat dalam kondisi aktif, bisa jadi kita harus menunggu sampai 7 detik untuk bisa memotret lagi. Kamera DSLR tidak mengalami kasus seperti itu karena prosesornya bertenaga, kalaupun ada jeda shot-to-shot itu karena ada proses JPEG yang berat seperti fitur peningkat dynamic range yang aktif.

Mengapa tanpa lampu kilat hasil foto di ruangan malah lebih terang ?

Saat suasana sekitar mulai redup, kamera akan mengatur eksposur supaya tetap terjaga dalam batas wajar (tidak terlalu gelap tidak terlalu terang). Untuk itu kamera akan melambatkan kecepatan shutter sehingga banyak cahaya yang bisa dimasukkan ke sensor. Inilah yang dinamakan ambient lighting atau pencahayaan alami tanpa lampu kilat. Pastikan tangan kita memegang kamera dengan kokoh, atau gunakan tripod agar tidak goyang saat memotret dengan teknik seperti ini.

Mengapa kadang-kadang kamera saya tidak bisa mengunci fokus ?

Auto fokus pada kamera memakai sistem pendeteksi kontras. Gambar yang ditangkap oleh sensor akan dikirim ke prosesor dalam kamera lalu kamera akan mengevaluasi kontras terbaik dan menganggapnya sebagai fokus yang tepat. Proses ini berlangsung sekitar sekian mili detik hingga dua detik, tergantung bermacam kondisi. Bila kamera diarahkan pada obyek yang tidak kontras, atau obyek yang kurang terang, maka auto fokus kamera akan kesulitan mencari dan mengunci fokus.

Itulah diantaranya beberapa pertanyaan mendasar yang kerap dilontarkan para pemula. Memang untuk memahami lebih dalam tidak akan cukup dengan membaca tanya jawab di atas. Untuk itu di kesempatan sebelumnya kami sudah menyajikan beberapa artikel yang lebih spesifik dalam membahas suatu topik, diantaranya :

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ayo pahami spesifikasi kamera digital

Kamera digital itu unik. Dalam kamera digital kita menjumpai istilah fotografi klasik sekaligus ketemu dengan istilah teknologi digital modern yang kadang membuat minder saat membaca spesifikasinya. Padahal saat hendak memilih sebuah kamera, semestinya kita memahami dulu spesifikasi dan apakah sudah sesuai dengan kebutuhan kita. Kali ini kami sajikan spesifikasi umum dari kamera digital disertai penjelasan singkat, dengan harapan anda bisa terhindar dari kesalahan saat memutuskan atau memilih produk kamera digital.

Seputar sensor kamera

Resolusi (dinyatakan dalam megapiksel) :

Resolusi menyatakan jumlah piksel dari sensor, semakin besar maka foto yang dihasilkan semakin detail (terkait ukuran cetak maksimal), namun ukuran file foto akan semakin besar. Kamera generasi sekarang punya sensor beresolusi minimal 10 MP dan menurut kami sudah sangat mencukupi untuk pemakaian sehari-hari. Resolusi kamera yang dipaksakan terlalu tinggi malah berpotensi membuat hasil foto kurang baik, bahkan saat ini kamera non DSLR sepertinya membatasi diri untuk tidak melebihi resolusi di atas 14 MP.

Ukuran sensor (dinyatakan dalam inci) :

Sensor kecil vs sensor APS-C
Sensor kecil vs sensor APS-C

Ukuran sensor menyatakan luas keping sensor dimana semakin besar sensor maka semakin baik kemampuan sensor dalam menghasilkan foto berkualitas tinggi. Ukuran sensor berhubungan langsung dengan noise yang dihasilkan di ISO tinggi. Sensor kecil berukuran antara 1/2 inci hingga 2/3 inci dan biasa dijumpai di sebagian besar kamera saku, sedang sensor besar biasanya dijumpai di kamera DSLR seperti Four Thirds, APS-C dan Full frame. Hindari memilih kamera yang sensornya berukuran terlalu kecil apalagi yang resolusinya terlalu tinggi, misal sensor 1/2.3 inci dengan resolusi 14 MP secara piksel akan terlalu rapat (high pixel density).

Jenis sensor (CCD atau CMOS) :

Sensor CCD sudah matang secara teknologi, menghasilkan foto yang bagus namun boros daya dan lambat. Sensor CMOS sedang terus disempurnakan, hasil fotonya sudah hampir menyamai hasil CCD, keuntungan CMOS adalah hemat daya dan kerjanya sangat cepat (cocok untuk high speed shooting) cuma sayangnya sensor CMOS masih lebih mahal dibanding CCD. Bila tidak perlu foto kecepatan tinggi hingga 10 fps (frame per detik), sensor CCD sudah sangat mencukupi untuk dipakai sehari-hari.

Seputar lensa

Rentang fokal (dalam mm) :

Menyatakan jangkauan wide hingga tele dari sebuah lensa, misalnya 28-140mm artinya lensa ini punya fokal terpendek 28mm dan fokal terpanjang 140mm. Kekuatan zoom optik dari lensa ini dihitung dengan membagi fokal terpanjang terhadap fokal terpendek, misal 140 dibagi 28 = 5 x zoom. Jadi kamera dengan lensa 28-140mm bisa disebut punya 5x zoom optik. Kamera modern kini punya lensa yang semakin wide dengan fokal hingga 24mm yang sudah sangat baik untuk fotografi wideangle.

Contoh rentang fokal lensa kamera di pasaran :

  • 35-105mm (3x zoom)
  • 28-280mm (10x zoom)
  • 25-600mm (24x zoom)

Bukaan diafragma :

lensMenyatakan bukaan maksimal diafragma lensa yang berhubungan dengan kemampuan lensa memasukkan cahaya ke sensor. Misalnya pada spesifikasi suatu lensa ditulis f/2.8-4.5 artinya bukaan lensa maksimal pada posisi fokal terpendek adalah f/2.8 dan pada posisi fokal terpanjang adalah f/4.5. Ingat kalau angka ini semakin kecil artinya bukaannya semakin besar, jadi f/2.8 lebih besar dari f/4.5.

Belakangan ini semakin banyak kamera dengan lensa yang bukaan maksimalnya kurang besar sehingga kurang bisa memasukkan cahaya dengan jumlah banyak, akibatnya kamera perlu waktu lebih lama untuk mendapat eksposur yang tepat. Lensa semacam ini biasa disebut lensa lambat.

Contoh beberapa bukaan lensa yang ada di pasaran :

  • f/2.8-4.1  (tergolong punya bukaan besar terutama di f/2.8)
  • f/3.1-5.4 (tergolong cukup lambat)
  • f/3.6-5.9 (tergolong sangat lambat, sebaiknya dihindari saja)

Istilah lensa :

Umumnya spesifikasi lensa yang perlu dicermati adalah adanya elemen lensa Aspherical Lens dan Low Dispersion Lens. Keduanya diperlukan untuk menghasilkan foto yang lebih baik dan tajam. Lensa yang baik memiliki minimal satu elemen lensa Low Dispersion, bila lebih akan semakin baik, kontras semakin tinggi dan ketajaman lebih terjaga.

Seputar fitur utama

Manual mode :

pasmKendali eksposur untuk mendapat pencahayaan terbaik ada di kecepatan shutter dan bukaan aperture (diafragma) lensa. Keduanya diatur secara otomatis oleh kamera dengan menganalisa terang gelapnya obyek yang difoto. Kamera digital modern kini semakin memanjakan kita dengan membolehkan kita mengatur secara manual komponen shutter dan aperture tersebut, dengan mode seperti Shutter Priority dan Aperture Priority. Bila pada spesifikasi kamera dijumpai manual mode atau P/A/S/M (Program/Aperture/Shutter/Manual) maka itu tandanya kamera bisa diatur secara manual. Bila tidak, artinya kita hanya pasrahkan pada keputusan dari prosesor kamera saja alias pakai mode Auto saja.

Image Stabilizer :

Fitur ini penting untuk mencegah getaran yang berpotensi membuat foto menjadi blur, terutama saat memakai speed lambat dan/atau saat memakai fokal tele. Kamera memiliki sensor yang mendeteksi getaran dan melakukan kompensasi untuk mengatasi getaran itu. Ada dua jenis prinsip kerja stabilizer yaitu Optical Shift dan Sensor Shift. Prinsip yang pertama adalah memakai elemen stabilizer pada lensa, sedang yang kedua menjadikan sensor kamera bisa bergerak mengkompensasikan getaran. Keduanya memberi hasil yang sama baiknya.

Sensitivitas ISO :

Rentang ISO bermula dari ISO dasar (terendah) misal ISO 100 dan naik secara kelipatan dua, misal ISO 200 – ISO 400 – ISO 800 dan ISO 1600.  Semakin naik ISO kamera maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya meski resikonya naiknya noise. Kamera digital masa kini umumnya bisa mencapai ISO 1600 meski ada juga yang bisa diatas itu tapi hasilnya sudah sangat noise. Perhatikan kalau ada beberapa model kamera yang tidak memberi keleluasaan kepada pemakainya untuk memilih nilai ISO yang diinginkan, alias hanya ada ISO Auto saja (kamera seperti ini sebaiknya tidak usah dipilih).

Movie recording :

Bila dulu kemampuan merekam video terkesan hanya formalitas namun kini semakin digarap serius oleh produsen kamera. Ada beberapa hal terkait kemampuan merekam video, diantaranya :

  • Resolusi video : ada beberapa pilihan seperti VGA (640 x 480 piksel), WVGA (848 x 480 piksel), High Definition (1280 x 720 piksel atau 1920 x 1080 piksel). Semakin tinggi resolusi video semakin tajam hasil videonya namun semakin besar ukuran filenya.
  • FPS (frame per second) : idealnya antara 24 hingga 30 fps untuk menjamin tayangan yang tidak patah-patah.
  • Kompresi video : umumnya memakai metoda kuno Motion JPEG yang mudah untuk diedit, kini juga tersedia kompresi modern AVCHD atau H.264 yang lebih efisien namun sulit untuk diedit.

Bila anda sering merekam video apalagi yang beresolusi tinggi, gunakan memori yang punya kecepatan baca tulis yang tinggi, misalnya SDHC class 6.

Seputar pendukung utama

Lampu kilat :

Lampu kilat pada kamera punya kemampuan terbatas, dinyatakan dalam GN (Guide Number). Semakin besar GN maka daya pancarnya semakin tinggi. Perhatikan apakah ada fitur tingkat lanjut seperti Slow Sync, Front Sync atau Rear Sync untuk kreativitas ekstra, dan perhatikan apakah kamera anda punya dudukan untuk memasang lampu kilat eksternal.

Layar LCD :

flip-lcdLayar LCD di kamera modern umumnya berukuran 2,5 inci hingga 3 inci. Lebih penting meninjau berapa kerapatan piksel dari layar LCD di kamera, hindari LCD beresolusi rendah (dibawah 200 ribu piksel) karena sulit menilai ketajaman foto dari LCD yang kurang baik. Ada juga kamera dengan LCD yang bisa dilipat atau diputar untuk kemudahan memotret dengan sudut yang sulit, seperti memotret sambil berjongkok.

Baterai :

Baterai umumnya terbagi antara jenis Lithium dan AA. Lithium lebih tahan lama, cepat diisi ulang namun harganya mahal. Baterai AA kurang awet namun mudah mencarinya di warung. Umumnya baterai bisa dipakai untuk 250 sampai 500 kali memotret meski tergantung juga pada banyak faktor.

Itulah beberapa spesifikasi umum dari kamera dan semoga anda bisa lebih bisa mengenali deretan istilah dan angka pada spesifikasi kamera yang anda incar.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony luncurkan kamera EVIL APS-C

Kamera EVIL : Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses, alias kamera modern dengan sensor DSLR, lensa yang bisa dilepas namun tanpa cermin ini semakin naik daun. Bila di kelompok sensor Four Thirds telah digarap oleh Panasonic dan Olympus dengan format Micro 4/3, maka di kelas APS-C sudah diramaikan oleh Samsung (Samsung NX10) dan kini Sony dengan NEX-3 dan NEX-5. Seperti apa kehebatan Sony EVIL ini?

Pertama, kamera Sony ini memakai sensor  23.4 x 15.6 mm Exmor APS HD CMOS dengan ukuran yang sama seperti kamera DSLR Sony Alpha. Meski demikian, mount yang dipakai kini adalah E mount, sehingga lensa Sony Alpha perlu adapter untuk bisa dipasang di Sony NEX ini (itupun hanya bisa manual fokus). Meski mengusung sensor yang sama, NEX 3 berbeda dengan NEX5 dalam hal material bahan (polycarbonate vs magnesium) dan pula berbeda dalam resolusi HD movie (720 vs 1080) maupun encoder (MP4 vs AVCHD).

nex-3

Meski memiliki ukuran bodi yang kecil, sensor di Sony NEX ini berukuran besar dan sudah dilengkapi sistem anti debu yang memakai low pass filter. Sebagaimana layaknya kamera mirrorless lainnya, tidak ada cermin pada kamera Sony NEX ini. Artinya tidak ada jendela bidik optik dan tidak ada pula auto fokus berbasis deteksi fasa. Sebagai gantinya disediakan fasilitas live view melalui layar LCD nya yang berukuran 3 inci yang bisa dilipat, plus auto fokus berbasis deteksi kontras dengan 25 titik fokus.

nex-5

Pada bodinya yang kecil tampaknya Sony kesulitan menempatkan sebuah lampu kilat sehingga harus memisahkannya menjadi unit tersendiri (dijual jadi satu dengan kamera). Sayangnya tidak disediakan flash hot shoe untuk memasang lampu kilat berdaya besar. Lampu kilat mungil ini punya GN hanya 7 meter dan flash sync 1/160 detik. Untuk urusan ISO mengingat sensor yang dipakai cukup besar maka wajar Sony berani membuat kamera NEX dengan ISO maksimal 12800.

nex-5adaptr

Sebagai paket lensanya, Sony sudah membuat lensa pancake 16mm f/2.8 dan lensa zoom 18-55mm f/3.5-5.6 OSS serta lensa super zoom 18–200mm f/3.5-6.3 OSS.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengapa file format RAW itu penting

Banyak kamera modern yang kini sudah dilengkapi dengan fitur RAW file format. Bisa jadi fitur ini adalah salah satu alasan anda memiliki kamera tersebut, atau bahkan justru fitur itu tidak pernah anda gunakan sama sekali. Bagi para profesional, memotret memakai RAW merupakan keharusan. Namun untuk para pemula, apakah fitur ini sebenarnya penting? Jawabannya secara singkat adalah iya, temukan alasannya mengapa di artikel ini.

RAW file format adalah file asli yang dikeluarkan oleh sensor kamera dan belum diolah oleh kamera. Singkatnya file RAW ini file mentah yang masih berukuran besar dan belum bisa langsung dipakai seperti layaknya file JPEG. Tidak semua kamera menyediakan file RAW, umumnya hanya disediakan JPEG saja. Karena RAW adalah keluaran langsung dari sensor, tiap kamera dengan teknologi sensor yang berbeda punya file RAW yang berbeda juga. Sialnya file ini benar-benar tidak kompatibel satu sama lain, untuk mengolahnya pun diperlukan software yang sudah mendukung RAW dari kamera tersebut.

raw-files

File RAW berisi informasi terang gelap yang ditangkap oleh setiap piksel (dalam 12 atau 14 bit) dan sudah melalui filter warna (RGB). File ini umumnya berukuran puluhan megabyte dan memakai nama berbeda sesuai produsennya, seperti NEF (untuk Nikon) dan CR2 (untuk Canon). Memiliki file RAW ibarat memiliki film negatif dan proses yang kita lakukan di komputer laksana post processing di studio cetak foto.

File RAW murni tanpa mengalami proses internal kamera, seperti :

  • demosaicing (Bayer interpolation)
  • koreksi Gamma (curve)
  • white balance (WB)
  • sharpening
  • noise reduction (NR)
  • kompresi (lossy)

Sehingga semua proses diatas bisa dilakukan sesuka kita memakai software di komputer. Sebagai info, file JPEG juga bisa diproses / olah digital namun banyak keterbatasan karena sudah mengalami proses diatas.

raw

Ada banyak keuntungan bila kita bisa mengolah foto berformat RAW, diantaranya :

  • terhindar dari under / over eksposure (bisa kompensasi eksposur)
  • mengatur white balance dengan lebih akurat
  • mengatur setting dasar seperti sharpening, noise reduction, kontras dan curve secara leluasa
  • mendapat dynamic range lebih lebar
  • mengatur kadar pengurang noise sesuai kebutuhan
  • leluasa bermain warna dan saturasi
  • bebas menentukan tingkat rasio kompresi JPEG

Sedangkan kesulitan saat memakai file RAW umumnya seperti :

  • ukuran yang besar membuat memori dan hard disk cepat penuh
  • perlu komputer dengan spesifikasi kencang
  • memakan waktu lama untuk mengolah banyak foto
  • perlu software atau plugin khusus untuk mengolah RAW

Jadi bila ingin memaksimalkan fitur RAW di kamera anda, mulailah dengan mencari tahu software yang cocok untuk mengolahnya. Salah satu software gratisan rekomendasi kami adalah RAW therapee, linknya tersedia di subdirektori pustaka/freeware.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Antara sensor CCD dan CMOS

Satu hal yang kerap membuat bimbang tatkala seseorang hendak membeli kamera digital adalah jenis atau teknologi sensor yang digunakan, yaitu antara CCD ataukah CMOS. Kebingungan ini semakin parah saat kita mendapat informasi yang keliru soal perbedaan keduanya, atau terlanjur meyakini kalau satu lebih baik dari lainnya. Sebelum membahas lebih lanjut, kami sampaikan dulu kalau saat ini baik CCD maupun CMOS mampu memberikan hasil foto yang sama baiknya. Perbedaan utama keduanya hanyalah masalah teknologi.

Sensor CCD (charge coupled device) maupun Sensor CMOS (complementary metal oxide semiconductor) hanyalah bagian dari kamera digital berbentuk sekeping chip untuk menangkap cahaya, menggantikan fungsi film pada era kamera film. Pada kepingan ini terdapat jutaan piksel yang sensitif terhadap cahaya (foton) dan energi cahaya yang diterima mampu dirubah dalam bentuk sinyal tegangan. Perbedaan teknis keduanya adalah dalam bagaimana tiap piksel itu memproses cahaya yang ditangkapnya. Piksel pada sensor CCD merubah cahaya menjadi elektron dan output dari sensor CCD memberikan hasil berupa tegangan, alias benar-benar piranti analog. Maka itu pada kamera bersensor CCD, proses analog-to-digital conversion (ADC) dilakukan diluar chip sensor.  Sebaliknya, tiap piksel pada sensor CMOS mampu menghasilkan tegangan keluaran sendiri (berkat transistor yang ada pada setiap piksel) sehingga memungkinkan membuat chip CMOS yang terintegrasi dengan rangkaian ADC.

Prinsip kerja sistem CCD
Prinsip kerja sistem CCD

Prinsip kerja sistem CMOS
Prinsip kerja sistem CMOS

Baik sensor CCD maupun sensor CMOS, keduanya sudah cukup lama dikembangkan meski pada awalnya kualitas CMOS memang kalah dibanding dengan CCD. Maka itu CCD awalnya lebih diutamakan untuk dipakai pada kamera digital sementara CMOS hanya ditujukan untuk dipakai di kamera ponsel. Lambat laun riset telah berhasil meningkatkan kualitas sensor CMOS dengan harapan bisa menyamai kualitas sensor CCD. Kini sensor CCD sendiri justru mulai dikembangkan untuk kamera ponsel, sebaliknya sensor CMOS yang semakin disempurnakan mulai diterapkan di kamera digital. Persilangan ini menandakan sudah tidak lagi ada perbedaan berarti dalam hal kualitas gambar antara keduanya. Kini pada kamera DSLR kelas menengah dan atas saat ini sudah memakai sensor CMOS, sementara DSLR ekonomis masih memakai CCD. Sebagian besar kamera non DSLR masih memakai sensor CCD.

Lebih lanjut mengenai perbedaan keduanya, inilah plus minus sensor CCD dan CMOS saat ini :

Sensor CCD

Plus :

  • matang secara teknologi
  • desain sensor sederhana (lebih murah)
  • sensitivitas tinggi (termasuk dynamic range)
  • tiap piksel punya kinerja yang sama (uniform)

Minus :

  • desain sistem keseluruhan (CCD plus ADC) jadi lebih rumit dan boros daya
  • kecepatan proses keseluruhan lebih lambat dibanding CMOS
  • sensitif terhadap smearing atau blooming (kebocoran piksel) saat menangkap cahaya terang

Sensor CMOS

Plus :

  • praktis, keping sensor sudah termasuk rangkaian ADC (camera on a chip)
  • hemat daya berkat integrasi sistem
  • kecepatan proses responsif  (berkat parralel readout structure)
  • tiap piksel punya transistor sendiri sehingga terhindar dari masalah smearing atau blooming

Minus :

  • proses pematangan teknologi (untuk menyamai kualitas CCD perlu biaya besar)
  • piksel dengan transistor didalamnya menurunkan sensitivitas piksel (area penerima cahaya menjadi berkurang)
  • piksel yang mampu mengeluarkan tegangan sendiri kurang baik dalam hal keseragaman kinerja (uniformity)

Jadi, baik sensor CCD maupun CMOS memang berbeda total secara desain. CCD punya keunggulan dalam hal sensitivitas meski berpotensi terganggu saat berhadapan dengan cahaya terang. CMOS unggul dalam hal kecepatan hingga lebih cocok dipakai di kamera dengan fps (burst) tinggi. Namun keduanya sudah didesain untuk sanggup memberikan hasil foto yang berkualitas tinggi, jadi fokuskan saja pilihan pada hal-hal lain seperti memilih lensa yang berkualitas dan melatih teknik memotret yang baik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..