Nikon luncurkan lensa DX 16-80mm f/2.8-4, ini bedanya dengan lensa Sigma 17-70mm f/2.8-4 C

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran lensa DX kelas premium yaitu AF-S 16-80mm f/2.8-4E VR yang ditujukan menjadi pengganti lensa AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 VR. Secara kebetulan, dari dulu Sigma sudah punya lensa yang mirip, yaitu Sigma DC 17-70mm f/2.8-4 yang di generasi ketiga (2012) telah disempurnakan dengan OS dan HSM serta mendapat logo C (contemporary). Lensa Sigma ini sudah lama kami rekomendasikan sebagai lensa pengganti dari lensa kit, tapi sejak Nikon 16-80mm ini hadir, apakah ini berarti Nikon mengambil alih kejayaan Sigma di kelas lensa all round ini?

Lensa Nikon 16-80mm ini adalah lensa yang menggairahkan lagi dunia DX yang seakan terlupakan, bahkan lensa ini menjadi lensa elit dengan logo N (Nano), bukaan besar f/2.8 (walau tidak konstan) dan tidak lagi pakai kendali aperture mekanik (ada simbol E di nama lensanya, artinya electronic aperture). Sigma sendiri membuat lensa 17-70mm untuk berbagai mount, misalnya untuk mount Canon EOS maka desain aperture-nya juga dikendalikan secara elektronik, jadi bukan hal yang istimewa sebenarnya.

Sigma 17-70mm vs Nikon

Dari tabel diatas memang terlihat banyaknya kesamaan antara kedua lensa. Rentang fokal memang Nikon sedikit lebih lebar dan lebih tele, tapi Sigma lebih mudah untuk makro dan harganya hanya setengah dari harga lensa Nikon. Di lain pihak lensa Nikon baru ini punya coating mewah dan bisa manual fokus langsung dengan memutar cincin fokus. Tapi diluar dugaan sebenarnya Sigma masih bisa mengimbangi secara desain dan kinerja, seperti elemen lensanya, fitur penstabil getaran dan motor fokus yang senyap. Hanya saja secara kualitas hasil foto belum bisa dibuktikan karena lensa Nikon ini belum ada di pasaran, kalau kami prediksi memang Nikon bakal lebih baik hasil fotonya daripada Sigma, khususnya bila menyangkut faktor ketajaman, distorsi, vignetting dan corner softness.

Anda sendiri pilih yang mana?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sigma ciptakan rekor dengan lensa zoom f/1.8 bukaan konstan

Luar biasa, Sigma mencatat rekor dunia sebagai produsen lensa pertama yang sanggup membuat lensa zoom dengan bukaan konstan f/1.8 saat mengumumkan lensa 18-35mm f/1.8 DC HSM. Rekor sebelumnya dipegang oleh Olympus dengan lensa Micro Four Thirds 14-35mm f/2.0. Biasanya lensa zoom mewah pun bukaan maksimalnya ‘hanya’ f/2.8 saja. Dengan lensa zoom bukaan sangat besar seperti ini memungkinkan dipakainya shutter speed tinggi dan/atau memotret di tempat kurang cahaya.

sigma-18-35

Berikut spesifikasi lensa Sigma 18-35mm ini :

  • diameter image circle : DC (untuk sensor APS-C)
  • fokal efektif setara 28-52mm
  • bukaan maksimum f/1.8, minimum f/16
  • jumlah bilah diafragma : 9 buah
  • kerumitan desain : 17 elemen, 12 grup (termasuk 5 SLD dan 4 aspherik)
  • diameter filter : 72mm
  • fokus minimum : 28 cm
  • motor fokus : ada (ultrasonic)
  • stabilizer optik : tidak ada

sigma-18-35-insideSigma sendiri kini membuat tiga kelompok untuk lensa mereka yaitu Art, Contemporary dan Sport. Lensa ini sendiri masuk di kelompok Art, bersama lensa fenomenal lainnya yaitu Sigma 35mm f/1.4 DG HSM.

Konstruksi lensa berbobot 810 gram ini sangat rumit, hingga memerlukan 5 elemen SLD (Special Low Dispersion) untuk mencegah cacat kromatik dan menaikkan kontras, serta 4 elemen lensa aspherik untuk mengurangi distorsi. Terdapat coating lensa khusus untuk mengurangi flare. Selain itu lensa ini juga kompatibel dengan USB dock untuk focus alignment di masa depan.

Secara aplikasi, lensa zoom bukaan besar seperti ini akan berguna untuk banyak kebutuhan mulai dari landscape, potret, travelling, sport hingga wedding.

Aspek teknis lainnya

Bicara lensa itu banyak membahas hal-hal teknis seperti ketajaman, kecepatan lensa (lens speed), brightness dan sebagainya. Tapi hal-hal rumit ini tak perlu dibuat pusing, sekedar tahu saja bahwa lensa dengan bukaan besar tentu lebih serbaguna daripada yang bukaannya agak kecil.

sigma-18-35-mtf

Dari teori aperture kita tahu bahwa f/2.0 itu 1 stop lebih terang dari f/2.8 sehingga lensa Sigma ini bahkan bisa lebih lagi, sehingga bisa meminimalkan pemakaian ISO tinggi yang tidak perlu. Tapi secara alamiah setiap lensa akan cenderung soft pada bukaan terbesarnya, untuk itu kita perlu menunggu hasil pembuktian MTF chart dari lensa yang kemungkinan akan dijual diatas 20 juta rupiah ini. Update Juni 2013 : harga perkenalan ternyata ‘hanya’ 8 juta rupiah !!

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa makro 180mm f/2.8 dari Sigma

Sigma menorehkan sejarah dengan membuat lensa makro pertama dan satu-satunya di dunia dengan fokal fix 180mm dan bukaan maksimum f/2.8 yang sudah dilengkapi dengan stabilizer optik. Setelah diumumkan awal tahun ini, kini Sigma merilis harga resmi untuk lensa APO Macro 180mm f/2.8 EX DG OS HSM yaitu sekitar 16 juta rupiah. Meski bukan termasuk lensa zoom, lensa ini tersusun atas banyak elemen lensa, yaitu 19 elemen dalam 14 grup. Lensa semacam ini akan sangat disukai pecinta makro (1:1) maupun yang perlu lensa telefoto.

sigma-180mm_f28_os_macro

Sedikit gambaran spek lensa besar ini, diantaranya memakai 9 bilah diafragma, bukaan minimum f/22, kompatibel dengan DSLR full frame, diameter filter 86mm dan panjang keseluruhan adalah 20 cm. Lensa ini juga kompatibel dengan teleconverter 1,4x dan 2x bila ingin menambah kemampuan telenya. Belum ada info mount apa saja yang sudah didukung lensa ini, tapi kemungkinan baru mount Canon EF dan Nikon AF yang lebih dulu didukung.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Lensa Sigma 70-300mm DG OS

Inilah review kami terhadap lensa tele buatan Sigma yang punya nama lengkap Sigma 70-300mm f/4-5.6 DG OS yang kehadirannya diumumkan September tahun silam. Rentang fokal 70-300mm memang identik dengan rentang tele populer yang disukai para pencari lensa tele. Sigma sendiri sudah membuat beberapa versi lensa 70-300mm dan inilah versi terbaru mereka, cocok dipakai oleh pemilik DSLR crop sensor ataupun full-frame.

sigma_70_300_os

Saat ini jajaran lensa tele 70-300mm yang dimiliki Sigma cukup banyak disesuaikan dengan kebutuhan pembelinya, diantaranya :

  • Sigma 70-300mm : paling murah
  • Sigma 70-300mm APO : lebih mahal, dengan ekstra lensa ED
  • Sigma 70-300mm OS : paling mahal, dengan stabilizer

Sigma melakukan langkah yang tepat dengan membenamkan fitur stabilizer OS pada lensa 70-300mm OS ini, meski untuk itu harga jual lensa ini terpaksa naik hampir dua kali lipatnya.  Sayangnya lensa ini tidak lagi memiliki fitur makro seperti lensa non OS sehingga hilanglah kemampuan lensa ini dalam mengunci fokus pada benda yang berada dekat dengan kamera.

Pada produk yang kami coba (Nikon-mount) telah dilengkapi dengan motor fokus untuk menjamin kompatibilitas dengan DSLR Nikon entry level semisal D5000/D3000. Namun motor pada lensa ini bukan motor HSM khas Sigma melainkan motor biasa (seperti pada lensa Canon non USM) yang bersuara keras dan tidak terlalu cepat dalam mencari fokus. Kami mencoba auto fokus lensa ini di kamera Nikon D40 dan tidak ada masalah dengan sistem auto fokus di lensa ini, kamera dan lensa berkomunikasi dengan baik tanpa masalah.

d40-sigma-70-300mm

Kesan pertama

Lensa Sigma 70-300mm memiliki desain yang tergolong standar dengan kualitas rancang bangun yang cukup baik. Terdapat dua putaran di lensa ini yaitu untuk zoom dan untuk manual fokus. Putaran zoom terasa seret dan agak berat, sementara putaran manual fokus lebih terasa ringan. Sayangnya elemen depan lensa ini yang punya diameter filter 62mm ikut berputar saat mencari fokus.  Ada dua tuas di sisi kiri lensa yaitu On-Off sistem stabilizer OS dan tuas AF-M untuk auto fokus – manual fokus. Semua lensa Sigma memakai mount berbahan logam, tak terkecuali lensa ini juga memakai mount logam yang kokoh dan kuat.

Elemen optik dan fokus

Susunan optik Sigma 70-300mm terdiri dari 16 elemen dalam 11 grup, memiliki 9 blades diafragma dengan bukaan maksimal f/4 (di 70mm) dan f/5.6 (di 300mm) dan bukaan minimum f/32. Lensa berbobot 600 gram ini hanya mampu mengunci fokus ke obyek yang berada 1,5 meter di depannya, akibat dihilangkannya fitur makro yang dijumpai di lensa Sigma 70-300mm versi sebelumnya. Dalam paket penjualannya disertakan juga lens hood untuk mencegah flare.

Rentang fokal lensa Sigma ini adalah 70-300mm yang setara dengan 105-450mm pada kamera APS-C. Pada posisi fokal 70mm, lensa ini berada di dimensi terpendeknya yaitu 12 cm dan lensa ini akan semakin memanjang saat dizoom dan terukur panjangnya menjadi 18 cm saat di zoom ke posisi 300mm. Panjang lensa ini masih bisa bertambah sedikit bila ring manual fokus diputar. Ring fokus sendiri berfungsi bila kita ingin memakai manual fokus, dan tuas AF-M dipindah ke posisi M. Putaran manual fokus cukup presisi dan nyaman, sayangnya elemen lensa di depan harus maju mundur dan ikut berputar. Lampu konfirmasi fokus di viewfinder (titik berwarna hijau) akan menyala bila fokus terbaik telah didapat saat proses manual fokus.

Lensa ini memiliki bukaan aperture maksimal f/4 pada posisi 70mm, lalu berturut-turut mengecil menjadi f/4.8 pada posisi 100mm, f/5 pada posisi 135mm, f/5.3 pada posisi 200mm dan f/5.6 pada posisi 300mm. Bukaan terkecil dari lensa ini adalah f/32 dimana pastinya telah terjadi efek difraksi yang nyata bila kita memakai bukaan sangat kecil.

Zoom power

Pengujian pertama yang kami lakukan adalah melihat picture angle pada posisi fokal ekstrim 70mm dan 300mm, inilah hasilnya.

Ketajaman dan Difraksi

Selanjutnya kami menguji ketajaman dan efek difraksi yang terjadi untuk beberapa macam bukaan lensa (fokal lensa 200mm) mulai f/5.3 hingga f/32 dan inilah hasilnya. Seperti yang telah kami duga, ketajaman lensa ini pada fokal 200mm masih sangat baik, dan perbedaan ketajaman antara f/5.3 dan f/8 hampir sulit dibedakan. Mulai f/16 didapat latar yang semakin jelas dan mulai muncul kesan penurunan ketajaman akibat bukaan kecil. Pada f/22 danf/32 obyek yang difoto sudah semakin blur namun latar justru semakin tampak jelas.

Ini gambar aslinya :

Dan ini hasil crop untuk berbagai bukaan diafragma :

crop1

crop2

crop3

crop4

crop5

Optical Stabilizer test

Satu hal yang paling membuat penasaran banyak pihak adalah kemampuan OS dari lensa ini (yang diklaim mampu hingga 4 stop). Pengujian kami lakukan pada posisi fokal 200mm dan kecepatan 1/40 detik dengan mengambil dua gambar (satu OS posisi off, satu posisi on). Dalam kondisi tanpa stabilizer, diperlukan setidaknya kecepatan 1/200 detik bila memakai fokal 200mm. Maka kami anggap menguji kinerja stabilizer lensa ini dengan kecepatan 1/40 detik masih cukup fair, karena sudah 2 stop lebih rendah dari 1/200 detik. Foto sebelah kiri adalah hasil yang didapat dengan OS off, tampak blur akibat getaran tangan. Sedangkan foto sebelah kanan tampak tajam berkat fitur OS on.

os-test

Bokeh test

Lensa tele memiliki keindahan bokeh yang mendekati lensa prime meski tentu untuk itu perlu memakai fokal terjauh dan bukaan terbesar. Kami coba mencari tahu bokeh yang dihasilkan pada fokal 300mm dan f/5.6 dan inilah hasilnya.

bokeh

Fringing test

Purple fringing adalah hal yang umum terjadi saat kamera menangkap obyek dengan perbedaan kontras tinggi terutama pada posisi fokal terpendeknya, dan lensa ini pun tak luput dari masalah serupa. Muncul kesan warna keunguan pada batas tepi daun dan hal ini bisa diminimalisir dengan memakai fokal yang lebih panjang atau bukaan lebih kecil.

fringing

Kesimpulan

Lensa third party seperti lensa Sigma ini merupakan pilihan kedua apabila lensa semerk seperti Canon atau Nikon dirasa diluar dari budget, memang secara optik dan kualitas bodi memang tidak bisa sebaik lensa aslinya. Namun lensa Sigma 70-300mm OS ini punya bandrol harga yang berbeda tipis dengan misalnya Nikon AF-S 70-300mm VR yang membuatnya terasa terlalu mahal. Bila anda memerlukan lensa 70-300mm yang terjangkau, lensa Sigma non OS (seperti Sigma APO) bisa dibeli dengan harga 2 jutaan, adapun kualitas optik antara Sigma non OS dan Sigma OS kami yakin relatif sama.

Lensa Sigma 70-300mm OS ini secara umum memiliki performa optik yang baik, ketajaman yang baik (terutama di fokal 70mm hingga 200mm) dan relatif aman dari masalah lensa seperti flare dan purple fringing. Karakter warna yang dihasilkan cukup natural dengan kontras yang memuaskan. Lensa ini juga memiliki fitur wajib lensa tele yaitu stabilizer optik yang efektif setidaknnya untuk 2 stop. Ada dua hal yang kami sayangkan pada lensa ini, pertama tidak digunakannya motor HSM untuk auto fokus, kedua adalah dihilangkannya fitur makro yang sangat berguna.

Dengan harga 4 jutaan anda bisa memiliki lensa ini, atau anda bisa menabung lagi untuk membeli lensa Canon 75-300mm IS USM/Nikon 70-300mm VR yang lebih baik, atau menunggu hadirnya Tamron 70-300mm dengan VC (stabilizer optik) dan motor USD (Ultrasonic Silent Drive) yang secara umum sekelas dengan Sigma 70-300mm ini.

Utuk contoh hasil foto lainnya bisa dilihat disini (klik untuk resolusi asli 6 MP) :

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panduan memilih lensa DSLR

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fix
Pentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wide
Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normal
Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Adalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang dianggap memenuhi kebutuhan wide hingga tele biasa. Lensa semacam ini mampu mengakomodir rentang fokal normal di kisaran 50mm sehingga mampu  menghasilkan foto yang rendah distorsi, dan menghasilkan persepektif yang sama seperti apa yang dilihat oleh mata manusia. Lensa zoom normal akan semakin mahal bila memiliki bukaan besar apalagi bila punya bukaan konstan f/2.8 yang tergolong kelas profesi0nal.

Contoh lensa zoom normal kelas mahal :

  • Lensa 24-70mm f/2.8
  • Lensa 17-55mm f/2.8

Sedangkan lensa zoom normal ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 17-85mm f/4-5.6
  • Nikon AF-S 16-85 f/3.5-5.6
  • Pentax DA 17-70mm f/4
  • Sony SAL DT 18-70mm f/3.5-5.6
  • Olympus Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 17-70mm f/2.8-4

Lensa zoom tele

tele2-8
Nikon AF-S 70-200mm f/2.8 VR

Lensa zoom tele menjadi salah satu lensa yang favorit banyak orang karena kemampuannya untuk dipakai memotret obyek yang jauh, ditambah lagi harganya yang cukup terjangkau. Belum lagi lensa tele mampu menghasilkan foto dengan bokeh yang baik (DOF tipis), bisa dibilang hampir menyamai hasil yang didapat dengan memakai lensa prime.

Namun perlu diingat kalau lensa zoom tele berkisar di fokal tele diatas 100mm, sehingga rentan goyang akibat getaran tangan. Untuk itu para profesional lebih memilih lensa tele bukaan besar dan ditambah fitur stabilizer, sehingga lensa tele masih bisa dipakai di saat kondisi kurang cahaya.

Lensa zoom tele terbagi dua kelompok, yaitu kelompok profesional dan kelompok biasa.

Untuk zoom tele profesional diantaranya :

  • Canon EF 70-200mm f/2.8
  • Nikon AF-S 70-200mm f/2.8  (gambar di atas)
  • Pentax DA 60-250mm f/4
  • Sony SAL 70-200mm f/2.8
  • Olympus Zuiko 90-250mm f/2.8
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 70-200mm f/2.8
tele
Sigma 70-300mm f/4-5.6

Untuk zoom tele biasa, umumnya terdapat pilihan 70-300mm (gambar di atas) yang fokal telenya cukup panjang dan 55-250mm (gambar di bawah) yang lebih ekonomis. Perhatikan kalau lensa tele ekonomis punya variabel aperture (misalnya f/4-5.6), sehingga bukaannya akan semakin mengecil saat lensa di-zoom maksimal. Maka itu lensa tele semacam ini dihindari oleh para profesional karena sulit diandalkan di saat perlu speed tinggi.

tele2
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6

Meski demikian, lensa tele ekonomis seperti ini laris manis karena harganya murah dan hasil fotonya di tempat yang cukup cahaya masih sangat baik. Jadilah lensa semacam ini menjadi lensa favorit untuk kebutuhan harian dan untuk sekedar hobi.

Lensa zoom all-round  / super zoom / sapu jagad

tamron_18-270
Tamron 18-270mm f/3.5-5.6 VC

Adalah istilah untuk lensa zoom dengan kemampuan mencover rentang wide hingga tele yang ekstrim, hingga lensa ini mampu menggantikan beberapa macam lensa sehingga praktis dipakai kemana saja. Umumnya lensa ini memiliki rentang fokal 18-200mm, meski ada juga yang bisa mencapai 18-270mm (lihat gambar di atas). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih lensa jenis ini :

  • Lensa ini praktis namun tergolong mahal
  • Lensa ini hanya tersedia untuk jenis variable aperture saja
  • Kemampuan optik dari lensa ini tergolong pas-pasan (karena banyaknya elemen optik di dalamnya)
  • Usahakan memilih lensa jenis ini yang dilengkapi dengan fitur stabilizer optik

Itulah panduan memilih lensa DSLR yang kami sajikan. Untuk diskusi dan pertanyaan bisa disampaikan melalui forum yang ada atau lewat komentar di bawah ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera Sigma dengan sensor Foveon kembali hadir

Di ajang Photo Marketing Association (PMA) 2010 kali ini, kejutan besar justru datang dari Sigma. Selain merilis banyak lensa baru atau menyempurnakan lensa lama, Sigma juga menghadirkan tiga kamera bersensor Foveon. Sensor Foveon memiliki karakteristik khas dengan tiga lapis filter warna RGB yang menjamin keindahan warna seperti aslinya. Ketiga kamera itu adalah Sigma SD15 (DSLR), Sigma DP2s dan Sigma DP1x (kamera saku). Ingin tahu seperti apa ketiganya? Kami ulas semuanya untuk anda.

Sensor Foveon X3 adalah sensor dengan tiga lapis filter warna berjenis CMOS dengan ukuran yang sama seperti sensor DSLR APS-C, sehingga crop factor yang dihasilkan juga sama. Sensor Foveon X3 ini memiliki resolusi 14 MP total, artinya resolusi ini adalah penggabungan dari 3 layer warna RGB yang ditumpuk, sehingga resolusi aktual foto sesungguhnya adalah 2652 x 1768 piksel (atau kurang dari 5 MP). Karena di tiap pikselnya sensor ini memiliki filter RGB tersendiri, maka tidak dikenal interpolasi warna yang selama ini dijumpai di sensor konvensional. Hasilnya, warna mampu direproduksi seindah aslinya, tidak pucat karena teknik interpolasi. Apalagi dengan memakai format RAW, menghasilkan foto dengan warna warni indah bisa diwujudkan lebih mudah lagi.

Ketiga kamera Sigma baru ini merupakan penerus dari seri sebelumnya, kini dengan memakai layar LCD berukuran 3 inci yang sedang jadi tren di tahun ini. Inilah ketiga kamera Sigma baru di tahun 2010 :

Sigma SD15

sigma-sd15

Kamera DSLR yang diperkenalkan tahun 2008 ini akhirnya siap untuk diproduksi masal tahun ini. Berbekal sensor Foveon X3 14 MP, kamera ini siap bersaing dengan merk lain dengan sederet fitur menawan. Sejak tahun 2002, Sigma telah meluncurkan beberapa produk DSLR seri SD seperti SD9, SD 10 dan SD14. Kamera dengan mounting lensa Sigma SA ini memang cuma punya 5 titik AF, tapi kalau ditinjau dari fitur lainnya sudah tergolong lumayan, seperti sensor metering dengan 77 segmen dan finder berjenis prisma. Untuk adu spesifikasi dengan merk lain mungkin Sigma SD15 ini masih kalah, tapi inilah kamera DSLR satu-satunya dengan sensor Foveon yang ada di pasaran.

Sigma DP2s

sigma-dp2s

Kamera saku yang lensanya tidak bisa di-zoom ini mungkin tidak membuat kebanyakan orang tertarik. Desainnya yang kotak berwarna hitam dengan lensa fix 24mm memang tidak akan mencatat rekor dalam penjualan. Tapi secara esensi, kamera ini menjadi idaman para profesional yang mencari kualitas hasil foto terbaik yang bisa diberikan oleh sebuah kamera saku. Dibalik ukurannya yang kecil, tersimpan sensor Foveon X3 14 MP yang sama seperti yang dipakai Sigma SD15. Karena sensor ini berukuran setara dengan sensor DLSR APS-C, maka lensa fix 24mm di kamera ini akan setara dengan fokal 41mm dengan bukaan f/2.8 yang cepat, sehingga cocok untuk dipakai foto potret atau low light. Tersedia RAW file format dan flash hot shoe untuk mendukung kerja para profesional. Urusan kecepatan fokus yang jadi kekurangan Sigma DP2 sudah disempurnakan di Sigma DP2s ini.

Sigma DP1x

sigma-dp1x

Kamera ini merupakan penerus Sigma DP1s yang lensanya juga fix, hanya berbeda di fokal lensa saja dengan DP2. Bila DP2 memakai lensa 24mm yang setara dengan 41mm, disini digunakan lensa yang lebih wide yaitu 16mm (setara 28mm) namun bukaan maksimalnya lebih kecil yaitu f/4. Sigma DP1x juga memakai sensor Foveon X3 14 MP berukuran APS-C, RAW dan flash hot shoe serta ditunjang dengan kinerja auto fokus yang telah disempurnakan. Kamera ini cocok untuk dipakai untuk para profesional saat memotret landscape dan interior, namun lensanya yang hanya bisa membuka di f/4 kurang cocok dipakai untuk urusan kecepatan tinggi, apalagi tidak tersedia fitur stabilizer pada kamera Sigma DP apapun.

Contoh hasil foto Sig,aa DP2 dengan sensor Foveon
Contoh hasil foto Sigma DP2 dengan sensor Foveon

Lensa Sigma

Selain meluncurkan tiga kamera, di ajang PMA 2010 Sigma juga meluncurkan banyak lensa baru dengan mount Nikon, Canon, Pentax, Sony dan Sigma, yaitu :

Lensa untuk DSLR Full Frame (berkode DG) :

  • Sigma APO 70-200mm f/2.8 EX DG OS HSM (lensa tele profesional cepat kini dengan stabilizer OS)
  • Sigma APO 50-500mm f/4.5-6.3 DG OS HSM (lensa super tele juga kini dilengkapi OS)
  • Sigma 85mm f/1.4 EX DG HSM (lensa prime kelas elit)

Lensa untuk DSLR crop / APS-C (berkode DC) :

  • Sigma 8-16mm f/4.5-5.6 DC HSM (lensa paling wide yang pernah ada untuk APS-C)
  • Sigma 17-50mm f/2.8 EX DC OS HSM (lensa profesional normal untuk APS-C, kini dengan OS)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon 15-85mm/Nikon 16-85mm vs Sigma 17-70mm

Lensa idaman banyak orang adalah lensa yang memiliki kualitas optik baik, memiliki rentang fokal efektif (dari wide hingga tele), berfitur lengkap (stabilizer, motor micro) dan harganya terjangkau. Dalam dunia fotografi, lensa zoom yang harganya terjangkau itu identik dengan lensa dengan bukaan variabel, alias lensa lambat. Keuntungannya, lensa lambat memiliki desain yang lebih kecil dan bobot lebih ringan untuk kenyamanan dalam bepergian. Bila anda mencari lensa zoom normal berkualitas baik sebagai pengganti lensa kit, pertimbangkan ketiga pilihan kami kali ini.

Kami pernah mengulas tentang lensa Sigma 17-70mm generasi II alias versi 17-70mm yang telah dilengkapi dengan OS dan HSM. Bukaan diafragma lensa ini mengagumkan dengan f maksimal f/2.8 di posisi 17mm dan f/4.0 di posisi wide. Meski masih tergolong lambat di posisi tele, namun kemampuan memasukkan cahaya dari bukaan f/4.0 ini masih lebih baik dari f/5.6 apalagi f/6.3. Sigma 17-70mm memiliki mount yang kompatibel untuk Canon dan Nikon.

Salah satu lensa zoom normal favorit untuk pengganti lensa kit adalah lensa dengan fokal 16-85mm (untuk Nikon) atau 15-85mm (untuk Canon). Kedua lensa ini tergolong baru, sama-sama lambat (f/3.5-5.6) dan secara umum memiliki optik yang baik dan fitur lengkap. Kedua lensa ini bukan tergolong lensa profesional dan hanya ditujukan untuk dipakai di DSLR sensor APS-C.

Inilah head-to head antara Canon 15-85mm dan Nikon 16-85mm melawan Sigma 17-70mm

battle-of-3-lenses

Nama lengkap :

  • Canon : EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM
  • Nikon : AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR
  • Sigma : 17-70mm f/2.8-4.0 DC OS HSM

Rentang fokal :

  • Canon dan Nikon unggul di rentang fokal dengan rentang setara 24-130mm (5x zoom) yang lebih bermanfaat dalam urusan wide angle.
  • Sigma dengan fokal 17-70mm memang hanya setara dengan 26-105mm alias 4x zoom saja.

Bukaan diaframa :

  • Canon dan Nikon memakai desain aperture yang hanya mampu membuka maksimal di f/3.5 pada posisi wide dan mengecil hingga f/5.6 di posisi tele.
  • Sigma membolehkan kita memakai f/2.8 di posisi wide dan masih membuka dengan cukup besar di f/4 pada posisi tele. Untuk kondisi low light atau untuk mengejar speed tinggi, bukaan f/4 ini masih cukup berguna.
  • Ketiganya memiliki 7 leaf diafragma berjenis bulat.

Desain :

  • Canon berbobot 575 gram, Nikon 486 gram dengan material plastik, mounting logam dan diameter filter 67 mm (Nikon) dan 72 mm (Canon).
  • Sigma berbobot 535 gram, juga dengan material plastik, mounting logam namun memiliki diameter filter 72 mm.

Optik :

  • Canon : 17 elemen, 12 grup, 1 ED, 3 aspherical.
  • Nikon : 17 elemen, 11 grup, 2 ED, 3 aspherical.
  • Sigma : 17 elemen, 13 grup, 1 ED, 3 aspherical.

Fitur :

  • Ketiganya dilengkapi stabilizer optik yaitu IS (Canon), VR (Nikon) atau OS (Sigma)
  • Ketiganya juga dilengkapi motor fokus mikro di dalam lensa yang bernama USM (Canon), SWM (Nikon) atau HSM (Sigma)
  • Canon dan Nikon dilengkapi distance scale yang berada dibalik kaca, sedang Sigma lebih simpel dengan tulisan skala di ujung lensa.

Kompatibilitas :

  • Ketiganya bukan untuk full frame karena berlogo EF-S (Canon), DX (Nikon) dan DC (Sigma)

Makro :

  • Canon : jarak terdekat ke obyek 35 cm
  • Nikon : jarak terdekat ke obyek 38 cm, dengan rasio 1 : 4.6
  • Sigma : jarak terdekat ke obyek 22 cm, dengan rasio 1 : 2.7 (cocok untuk makro)

Harga :

  • Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM : 6,6 juta
  • Nikon AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR : 6,1 juta
  • Sigma 17-70mm f/2.8-4.0 DC OS HSM : 4,3 juta

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sigma 17-70mm f/2.8-4 OS HSM, lensa zoom normal untuk semua

Sigma Corporation baru-baru ini meluncurkan satu lagi lensa barunya yaitu Sigma 17-70mm f/2.8-4 DC OS HSM Macro. Memang lensa ini bukanlah sama sekali jenis lensa baru, justru lebih tepat disebut sebagai penyempurna lensa 17-70mm f/2.8-4.5 yang sudah ada sebelumnya. Dengan fokal lensa yang amat populer dengan rentang 17-70mm (setara 24-105mm di DSLR APS-C) dan bukaan maksimal f/2.8 di posisi wide 17mm, lensa ekonomis yang difavoritkan banyak orang ini kini semakin menarik dan lebih baik secara fitur.

sigma-17-70-f28-4-dc-osSatu hal yang patut diacungi jempol untuk lensa ini adalah ditambahkannya fasilitas stabilizer (OS) di dalam lensa. Bila lensa 17-70mm lama cukup disayangkan karena tidak ada sistem OS, maka lensa 17-70mm baru ini sudah menyediakan fitur penstabil gambar yang akan mengkompensasi getaran tangan saat memotret umumnya di posisi fokal panjang dan speed rendah. Tidak tanggung-tanggng, kemampuan OS di lensa ini diklaim sanggup bekerja hingga 4 stop lebih rendah dibanding lensa lamanya.

Hal kedua yang menjadi berita baiknya adalah semakin membesarnya bukaan maksimal lensa ini di fokal terpanjang. Bila dicermati, lensa 17-70mm lama membuka maksimal  di f/4.5 (masih lebih baik daripada kebanyakan lensa lain di f/5.6) namun lensa 17-70mm baru ini bahkan bisa membuka lebih besar lagi di f/4.0 pada posisi 70mm. Kombinasi bukaan besar f/2.8 di posisi wide, f/4.0 di posisi tele dan tersedianya fitur OS, membuat lensa ini serasa lensa mahal yang bisa diandalkan di situasi low-light.

Rentang lensa 17-70mm tak dipungkiri merupakan rentang idola yang tergolong zoom standar. Rentang ini mampu mengakomodir kebutuhan wideangle dasar hingga fotografi potret. Untuk menjangkau area yang cukup jauh, lensa ini pun punya kemampuan tele yang sedikit lebih baik dari lensa 18-55mm. Berhubung lensa Sigma 17-70mm adalah jenis DC, maka lensa ini tidak cocok dipasang di DSLR full-frame. Namun bila digunakan di DSLR cropped-sensor, rentang fokal efektif akan berkisar di 24-105mm (4x zoom) yang tergolong all-round lens. Sebagai bonus, Sigma masih mempertahankan motor fokus HSM sehingga kompatibel dengan Nikon D40-D60-D300-D5000. Selain itu motor HSM menjamin kecepatan dan kehalusan proses auto fokus. Sigma masih mempertahankan keberadaan 3 lensa aspherical dan satu lensa ED, yang kini berada dalam susunan 17 elemen dalam 13 grup di lensa ini. Sigma pun masih melanjutkan fitur makro pada lensa ini, sehingga lensa 17-70mm inipun bisa berfungsi sebagai lensa makro kecil-kecilan dengan rasio reporduksi 1:2.7 dan bisa mengunci fokus terdekat hanya sedekat 22 cm saja.

Lensa Sigma 17-70mm baru ini nantinya tersedia untuk semua mount DSLR, seperti Canon, Nikon, Pentax dan Sony.  Dengan bukaan sangat baik di f/2.8-4.0 dan masih ditambah fitur lain seperti OS, HSM dan macro, maka tak heran kalau lensa dengan diameter filter 72mm ini bakal jadi lensa favorit semua orang. Kisaran harga jual lensa ini sekitar 6 jutaan, bakal jadi pesaing kuat lensa lain yang fokalnya hampir sama seperti 18-70mm f/3.5-5.6.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..