Trio mirrorless full frame Sony Alpha : A7, A7R dan A7s

Minggu lalu kami berkesempatan hadir di acara peluncuran Sony Alpha A7s di daerah Senayan City Jakarta. Kemunculan A7s melengkapi dua Aplha mirrorless fullframe yang lebih dulu ada yaitu A7 dan A7R. Strategi Sony dalam membuat tiga varian ini karena menyesuaikan kebutuhan penggunanya yang beragam. Ketiganya sama-sama mengusung E-mount yang dipasangkan dengan lensa FE. Seperti apa perbedaan ketiganya?

sony-a7

Sony A7 : Perfection for all

Kamera ini cocok untuk mereka yang menginginkan mirrorless full-frame yang terjangkau dan berkinerja tinggi. Keunggulan A7 adalah auto fokusnya yang cepat berbasis deteksi fasa dan kontras, serta sensornya yang sudah mencapai 24 MP cukup untuk fotografi umum sampai cetak besar. Harga A7 sudah mengalami penurunan dan kini dijual cukup kompetitif $1500 bodi saja (bersaing dengan Canon 6D dan Nikon D610).

Sony A7R : Reality realized

Bagi yang menyukai foto sangat detail dan tajam, A7R bisa jadi jawaban tepat. Sensor 36 MP di A7R tidak diberi low pass filter sehingga detil dan ketajamannya maksimal. Kami pernah mengulas A7 dan A7R di artikel sebelumnya. Singkatnya, sensor di A7R mengingatkan kami pada Nikon D800E atau D810 yang juga baru saja diluncurkan. Harga A7R saat ini $2300 bodi saja.

Sony A7s : Sensitivity mastered

Inilah kamera terbaru dan termahal dari trio A7, dengan keunggulan di ISO tinggi hingga 409,600 sehingga memotret di tempat gelap pun tidak masalah. Selain itu A7s punya sederet fitur lain seperti silent shutter, video 4K dan sensor 12 MP dengan dynamic range 15 stop. Harga $2500 bodi saja saat peluncuran.

Sony Alpha A7-A7R-A7s

Untuk lensanya Sony mengembangkan format FE lens yang bisa dipasang di kamera E-mount, termasuk keluarga A7 ini. Lensa E lama seperti milik Sony NEX juga bisa dipasang di trio A7 tapi akan mengalami crop signifikan akibat vignetting. Beberapa lensa Sony FE yang sudah ada dan yang akan datang adalah :

  • Zeiss 24-70mm f/4 OSS
  • Sony G 70-200mm f/4 OSS
  • Zeiss 55mm f/1.8
  • Zeiss 35mm f/2.8
  • Sony G 16-35mm f/4 OSS (akan datang)
  • akan datang : berbagai lensa fix (100mm macro dan 85mm untuk potret)

Sony FE lens

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony Cybershot RX100 III, kamera saku sensor 1 inci yang makin mantap

Sony kembali meluncurkan kamera saku kelas premium, penerus dari RX100 dan RX100 II yang tentu saja bernama RX100 III. Di generasi ketiga ini, Sony tetap memakai sensor 1 inci, dengan tujuan mendapat hasil foto yang lebih baik dari rata-rata kamera saku lain, tapi tetap menjaga ukuran kamera kompak dan bisa dimasukkan ke saku. Sebagai lensanya dipakailah Zeiss 24-70mm yang punya bukaan f/1.8-2.8 yang impresif. Kehebatan lain kamera ini adalah punya jendela bidik elektronik yang pop-up, sesuatu yang belum pernah terpikir untuk dibuat sebelumnya. Untuk siapa kamera mungil seharga 8 jutaan ini ditujukan? Kita simak saja..

sony-rx100-iii

Fotografer akan menyukai fitur manual di kamera ini, seperti roda di depan dan di belakang (yang jadi ciri kamera saku premium), dan fitur manual mode serta RAW file. Bagi yang suka selfie juga dimanjakan dengan layar lipatnya yang bisa dilipat ke atas sehingga menghadap depan (rasanya kamera baru lagi tren model LCD lipat seperti ini ya..). Kamera modern ini sudah bisa memberi video 60p dan keluaran videonya via HDMI juga uncompressed. Yang menarik, karena bukaan lensanya termasuk besar maka ada disediakan ND filter di dalam kamera (3 stop). Tak lupa WiFi dan NFC yang juga jadi fitur wajib kamera modern disediakan di kamera ini. Di balik ringkasnya bodi kamera ini, teka-teki yang muncul adalah bagaimana Sony mendesain lensanya bisa muat didalamnya? Rupanya mereka memakai teknik gabungan dua elemen lensa asperikal yang mampu menghemat ruang. Teknik ini entah mengapa belum pernah dilakukan sebelumnya (padahal dengan begitu setiap lensa bisa dibuat lebih kecil kan..).

sony-rx100-iii-back

Kamera mungil lain yang juga pakai sensor 1 inci adalah Nikon 1 dan Samsung NX mini. Uniknya keduanya adalah kamera mirrorless dan harganya dibawah Sony RX100 III. Tapi Sony percaya diri menjual dengan harga setinggi itu karena faktor lensanya, dimana kamera mirrorless misalnya Samsung NX mini seharga 5 juta memang sudah dapat lensa kit tapi tidak mungkin setara dengan Zeiss 24-70 f/1.8-2.8 yang mengesankan itu. Tapi mirrorless punya keuntungan bisa berganti lensa bila mau, misalnya ingin memoret dengan fokal lensa tele diatas 70mm. Tertarik?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony A77 mark II : SLT strikes back..

Sony kembali mengumumkan kehadiran kamera A77 mark II, sebuah kabar baik bagi pemakai lensa A-mount, dan yang merindukan kehadiran kamera non mirrorless. Kamera SLT kelas menengah ini menyempurnakan A77 dengan 79 titik AF – 15 diantaranya berjenis cross type (mengalahkan semua kamera DSLR), burst 12 fps, dan memakai sensor APS-C 24 MP. Yang menarik, lensa kit kamera A77 mark II ini adalah lensa 16-50mm f/2.8 yang termasuk lensa profesional. Layar LCD lipat di A77 mark II juga unik, karena punya banyak engsel sehingga bisa diputar untuk berbagai angle seperti low angle, high angle bahkan selfie yang lagi tren.

Spek dan fitur utama :

  • Exmor 24 MP APS-C
  • A mount, translucent mirror
  • 12 fps continuous shoot
  • advanced AF, 79 titik dengan 15 cross type
  • ISO 100-25.600
  • prosesor canggih : detail repro, diffraction red, area specific NR
  • bodi magnesium alloy weatherproof
  • layar LCD 3 inci bisa dilipat berbagai angle
  • jendela bidik OLED 2,4 juta dot

Komparasi dengan pesaing terdekat (Canon 70D dan Nikon D7100) :

Dari Photo Rumors
Dari Photo Rumors
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony A6000 siap ‘ganggu’ DSLR menengah ke bawah

Bulan ini mulai ramai dibahas kamera mirrorless terbaru dari Sony yaitu Alpha A6000. Kamera yang menjadi kelahiran kembali NEX-6 (2012) ini dibekali beberapa fitur tambahan untuk memanjakan fotografer. Walau sebelumnya Sony sudah banyak berusaha membuat berbagai kamera mirrorless dari yang paling murah (NEX-3) sampai yang paling elit (A7) tapi bisa jadi inilah kamera yang bakal meraih perhatian praktisi fotografi. Bahkan kami memprediksi kehadiran Sony A6000 bisa mengganggu penjualan kamera DSLR kelas menengah (harga 11-13 jutaan) dan beberapa DSLR kelas bawah (pemula) yang dijual 8 jutaan. Mengapa bisa begitu?

Kita tahu kamera mirrorless menang dalam hal ukuran yang lebih kecil, dibanding dengan DSLR. Tapi dalam hal kemampuan berganti lensa, kamera mirrorless sama saja dengan DSLR karena ada mount dan sensornya pun umumnya berukuran cukup besar. Kalau bicara soal kinerja, fitur dan ukuran bodi kamera mirrorless sendiri berbeda-beda. Ada yang terlalu kecil hingga tidak punya jendela bidik (Panasonic GF6/GM1, Olympus Pen, Nikon 1, Sony NEX 3/5), namun ada yang lengkap seperti DSLR tapi terlalu mahal (seperti Olympus EM-1, Panasonic GH3, Fuji X-T1). Kamera mirrorless pun umumnya kalah dalam satu hal dibanding DSLR, yaitu urusan auto fokus.

Maka itu Sony A6000 berpeluang menjadi kamera alternatif DSLR kelas menengah ke bawah, karena fitur, kinerja dan harganya berimbang. Dengan harga 10 juta pas, sudah dapat lensa kit 16-50mm OSS. Di kelompok mirrorless, A6000 bisa jadi pesaing serius untuk kamera Olympus EM-10, Lumix GX7, Samsung NX30 dan Fuji X-E2. Kompetitor A6000 di kancah DSLR adalah kamera sekelas Nikon D7100 atau Canon EOS 70D. Bahkan kamera DSLR kelas bawah seperti Nikon D5300 kit 18-55mm (9 juta) dan Canon EOS 700D kit 18-135mm (9,5 juta) pun bakal tersaingi oleh A6000. Kenapa?

sony-a6000
Sony A6000 dengan lensa 16-50mm OSS

Pertama ukuran dan resolusi sensor A6000 sama, yaitu APS-C 24 MP (EOS 700D bahkan hanya 18 MP) sehingga kualitas hasil fotonya secara teori sama saja. Lalu auto fokus Sony A6000 sudah dibekali oleh 179 piksel deteksi fasa di sensornya sehingga bisa memfokus secepat kamera DSLR. Belum cukup sampai disitu, A6000 bisa memotret sampai 11 foto per detik, mengalahkan DSLR menengah manapun. Soal video bahkan A6000 lebih unggul karena AF deteksi fasa bisa diterapkan juga saat merekam video, plus fasilitas focus peaking dan zebra untuk yang melakukan manual fokus.

sony-a6000-6

Biasanya kamera mirrorless kalah dibanding DSLR karena tidak adanya jendela bidik, atau kurang lengkap dalam hal fitur lainnya. Tapi A6000 punya jendela bidik OLED yang jernih, lalu layaknya kamera untuk dipakai serius, ada dua roda dial dan hot shoe. Bayangkan, Nikon D5300 seharga 9 juta pun hanya punya satu roda dial, dan bahkan tidak punya tombol pintas ke fungsi ISO, WB, AF dsb. Sebagai bonus tambahan, ada fitur khas Sony seperti sweep panorama, juga ada in camera HDR dan WiFi plus NFC. Kesemua ini hadir dalam bodi yang ringas namun mantap digenggam karena grip yang besar dan material yang mewah.

Sony A6000 menu

Kekurangan kamera A6000 yang paling terasa adalah tidak adanya layar sentuh, walau layarnya bisa dilipat. Penggunaan layar sentuh saat ini merupakan kebutuhan karena memudahkan pemakaian juga bisa memilih titik fokus di layar. Selain itu masalah umum Sony adalah lambatnya lahir lensa-lensa baru yang ditunggu, serta visi jangka panjang yang kurang konsisten (seperti merubah nama NEX kembali jadi Alpha).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sistem kamera full frame mirrorless dari Sony : A7 dan A7R

Sony kembali menjadi headline dengan meluncurkan kamera mirrorless dengan sensor full frame, yaitu A7 dan A7R. Kedua kamera ini berbagi bentuk yang sama, hanya beda dalam hal sensor yaitu A7 memakai sensor 24 MP dengan low pass filter, sedangkan A7R memakai sensor 36 MP tanpa low pass filter. Jadilah kedua kamera kembar ini menjadi kamera terkecil untuk jenis kamera full frame dengan lensa yang bisa dilepas (interchangeable lenses). Sebelumnya Sony sudah membuat kamera DSLR full frame A99 namun dengan sistem cermin transparan. Simak informasi penting seputar kamera A7 dan A7R ini.

Bodi kecil, tapi bukan seri NEX

sony-a7r

Sony terkenal banyak berinovasi dalam membuat bermacam kamera. Dulu kita kenal kamera SLT yang punya cermin tembus pandang, lalu Sony membuat kamera mirrorless APS-C dengan nama Sony NEX. Selanjutnya, belum lama ini Sony membuat kamera mirip DSLR, dengan sensor APS-C tapi pada dasarnya tetap kamera mirrorless, uniknya dia tidak diberi nama NEX tapi Alpha A3000 yang harganya cuma 4 jutaan sudah plus lensa. Kini walau masih mirip dengan bodi-bodi kamera NEX, kamera full frame baru ini juga masuknya ke seri Alpha, bukan NEX. Bingung ya?

Memakai E-mount

Sony memulai babak baru dalam sistem kamera saat meluncurkan E-mount, dimana format baru ini (yang awalnya untuk kamera NEX) membutuhkan lensa-lensa baru yang cocok dengan sensor APS-C dalam kamera mirrorless. Ironisnya, lensa-lensa E-mount ini tidak didesain untuk sensor full frame karena diameternya lebih kecil. Tapi faktanya Sony A7 dan A7R memakai E-mount, sehingga semua lensa Sony NEX bisa dipasang di kamera ini, tapi akan tampak ada vignetting. Opsi lain adalah fotonya akan mengalami crop otomatis sehingga resolusinya turun.

a7r-front-e-mount

Lalu bagaimana supaya sensor full frame ini tetap bisa dioptimalkan sepenuhnya? Jawabannya adalah Sony harus membuat lensa baru (lagi) yang memakai E-mount tapi untuk full frame. Ya, lensa khusus ini akan diberi nama lensa FE dan Sony menjanjikan akan membuat 5 lensa FE dalam waktu dekat. Lalu bagaimana dengan pemilik lensa A-mount (lensa DSLR)? Tetap saja perlu adapter khusus untuk bisa memasang lensa A-mount ke kamera ini.

Ada autofokus deteksi fasa, tapi hanya untuk A7 saja

Kedua kamera kembar ini dibedakan sensornya untuk menyesuaikan kebutuhan fotografi pembelinya. A7 dengan sensor 24 MP dan ada low pass filter lebih serbaguna, anggaplah seperti sensor Nikon D600. Sedangkan A7R dengan sensor 36 MP tanpa low pass filter didesain untuk yang perlu ketajaman ekstra, anggaplah seperti sensor Nikon D800E. Uniknya, sensor di kamera A7 sudah ditanam piksel pendeteksi fasa (sesuatu terobosan yang sedang populer di kamera mirrorless, seperti pada Olympus E-M1) sehingga singkat kata kamera A7 bisa auto fokus dengan cepat layaknya kamera DSLR. Faktanya, ada 117 piksel pendeteksi fasa di sensor kamera A7.

Tapi uniknya fitur ini tidak diberikan di kamera A7R sehingga untuk auto fokus hanya bisa melalui deteksi kontras (walau Sony mengklaim proses AF dengan deteksi kontras di kamera A7R berlangsung sangat cepat). Alasan dari teka-teki ini adalah ternyata berkaitan dengan dihilangkannya low pass filter, karena menurut Sony piksel pendeteksi fasa hanya bisa bekerja dengan low pass filter terpasang.

Lensa zoom Zeiss FE bukaan maksimalnya f/4

sony fe-lenses

Menjadi sistem kamera alternatif yang mungil, tentu jadi dilema saat lensanya dibuat terlalu besar. Maka itu lensa Zeiss FE jenis zoom yang bisa mengakomodir rentang 27-40mm dan 70-200mm ‘terpaksa’ diberi bukaan maksimal f/4 mungkin untuk menjaga ukurannya tetap kecil. Untungnya dengan f/4 di full frame masih bisa memberi bokeh yang baik dan juga untuk memberi foto yang sama terangnya dengan lensa f/2.8 di kamera APS-C, pemakai Sony A7/A7R dengan lensa f/4 bisa menaikkan ISO tanpa kuatir noise yang berlebihan (karena sensor full frame). Untuk bisa menikmati lensa f/2.8 ada pilihan lensa fix Zeiss FE 35mm, dan untuk menikmati bokeh yang super creamy, ada lensa Zeiss FE 55mm f/1.8 yang cukup mahal. Oh, untungnya ada lensa murmer Sony G FE 28-70mm f/3.5-5.6 OSS yang lebih cocok jadi lensa kit kamera ini.

Info tambahan :

  • harga 1700$ (A7) 2300$ (A7R) body only
  • jendela bidik OLED resolusi ekstra tinggi
  • tidak ada lampu kilat built-in

Untuk spesifikasi dan ulasan mengenai Sony A7 dan A7R bisa dibaca di infofotografi.com

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Seperti apa kemampuan handycam dengan resolusi Ultra HD?

Handycam adalah merk dagang dari Sony, tapi istilah ini sudah akrab ditelinga dan jadi istilah umum yang artinya sama juga dengan camcorder. Sebagai alat yang memang didesain untuk merekam video, perjalanan handycam cukup panjang, mulai dari format kaset, DVD, hardisk hingga flash (solid state) dipakai untuk media rekamnya. Ukuran gambar (yang berhubungan dengan kualitas) juga berkembang, dari Standard Definition (SD), lalu ke High Definition (HD) yang cirinya punya bidang gambar widescreen 16:9. Format HD pun berevolusi jadi full HD dan kini sudah menjelang era Ultra HD. Seperti apa kemampan handycam yang bisa merekam video ultra HD ini?

ax1view1

Baru-baru ini Sony meluncurkan handycam kelas semi-pro FCR-AX1 yang mampu merekam video resolusi 4K, atau 4x HD biasa, atau disebut juga dengan ultra HD. Dalam hitungan piksel, maka bidang gambar video ini adalah 3840×2160 piksel (setara dengan foto 8 MP) yang melebar dengan aspek rasio 16:9. Untuk media simpan data digunakan kartu memori jenis QXD, karena bit rate video 4K yang sebesar 150 Mb/s tidak bakal tertampung di kartu memori biasa. Membawa nama handycam, kamera AX1 ini memang masih didesain untuk kelas consumer, bukan kelas pro walau fitur-fiturnya sudah bisa memenuhi banyak kebutuhan para profesional.

hd-vs-4k

Kita tinjau fitur-fitur dari perekam video seharga 50 jutaan ini :

Fitur dasar

Lensa G 31.5-630mm f/1.6-3.4 OSS (20x zoom), ND filter, sensor Exmor 1/2.3 inci CMOS, dua slot kartu QXD, LCD 3,5 inci wide kerapatan 1,2 juta titik.

Video Audio format

4K ( 3840×2160 piksel), 60 fps, X AVC S codec (1 jam video 4K atau 3 jam video full HD dalam kartu memori 32 GB) kompresi MPEG4 AVC/H.264 long GOP, linear PCM audio.

Konektivitas

  • Kamera pertama dengan dukungan kabel HDMI 2.0 untuk ke TV 4K
  • Audio input dengan sepasang XLR (balanced audio)
  • built-in stereo mic
  • Untuk TV biasa, video output bisa disesuaikan jadi 1920×1080 piksel

Bonus

Bayangkan melakukan editing video 4K, seperti apa software yang mesti dipakai? Maka itu Sony memberi ‘bonus’ berupa aplikasi editing VEGAS PRO 12 Editing Software. Bonus sesungguhnya adalah sekeping kartu QXD 32 GB, lumayan..

Camcorder lain yang sudah lebih dulu hadir dengan kemampuan 4K adalah JVC GY-HMQ10, sayangnya belum mendukung kabel HDMI 2.0 sehingga perlu ada 4 port HDMI untuk menampilkan resolusi 4K ke TV 4K.  Dengan satu port HDMI 2.0, maka cukup satu kabel yang dihubungkan ke TV 4K maka video sangat detil bisa dinikmati di layar TV. Sebagai info, ukuran TV dengan resolusi 4K itu umumnya diatas 60 inci ya, seperti TV Panasonic ini :

panasonic-4k-tv_500

Standar untuk kabel HDMI 2.0 adalah :

  • kapasitas bandwidth 18 Gbps
  • video 3840×2160 piksel 60 fps tidak terkompres
  • 32 kanal audio
  • bentuk konektor yang sama dengan HDMI
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Hal-hal menarik dibalik hadirnya kamera Sony A3000

Hari ini seperti yang sudah ramai dirumorkan, Sony meluncurkan kamera Sony A3000 dengan lensa kit 18-55mm OSS. Hadirnya A3000 ini menarik karena inilah kamera mirrorless Sony pertama yang bakal memakai desain seperti DSLR (walau agak lebih kecil). Selama ini Sony seperti kebingungan dalam membuat segmentasi produknya, saat menamatkan produksi kamera DSLR, lalu beralih ke kamera SLT (yang mirip DSLR tapi cerminnya transparan) dan kemudian membuat kamera mirrorless NEX yang cukup mahal.

sony_a3000

Sony A3000 tampil simpel dan minim tombol. Dalam beberapa fiturnya kamera ini menyamai kamera DSLR, seperti memiliki kemampuan ISO 100-16.000, bisa tukar lensa, fitur manual mode, flash hot shoe, HD video dan roda dial di bagian belakang. Apa saja hal-hal menarik dibalik kamera nan simpel ini?

sonyalpha3000 back

Kamera mirrorless, tapi bukan NEX

Ya, Sony A3000 bukanlah generasi NEX. Beda dalam hal desain dan harga. NEX itu konsepnya adalah pocketable sementara A3000 adalah miniatur DSLR. Kesamaan A3000 dan NEX adalah sama-sama memakai E-mount, yang lensanya relatif mungil dan baru. Bagi sebagian (kebanyakan) orang, menggenggam kamera yang berdesain ala DSLR lebih mantap, dan terkesan lebih serius.

Ada yang unik disini. Sony A3000 kira-kira diposisikan di bawah seri NEX. Padahal desain kamera mirrorless ala kamera DSLR ini, kalau di merk lain dijadikan kamera flagship atau top class mereka, misal Lumix GH3, Olympus OM-D dan Samsung NX20.

Punya jendela bidik

Kebanyakan kamera Sony NEX tidak dilengkapi dengan jendela bidik. Pemakainya harus mengandalkan layar LCD terus menerus selama memotret, yang mana lebih menguras baterai. Belum lagi kadang layar LCD sulit dilihat bila kita berada di bawah sinar matahari terik. Sony A3000 ini punya jendela bidik, tentunya adalah elektronik, dengan resolusi 768 ribu titik, lumayan daripada LCD utamanya yang hanya 230 ribu titik saja.

Lensa kit dengan OSS

Lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 adalah versi OSS yang menunjukkan kalau fitur stabilizer di kamera A3000 diserahkan ke lensa, karena pada bodi A3000 tidak ada fitur stabilizer di sensornya. Lensa kit ini sendiri memakai E-mount, sesuai desain dari kamera A3000 yang hanya menerima lensa dengan E-mount. Bagi yang ingin memasang lensa A-mount diperlukan sebuah adapter khusus.

Sensornya ukuran APS-C

Tentu saja, belum ada alasan buat Sony untuk tidak memakai sensor APS-C. Jadi soal kualitas hasil foto kamera ini tak perlu diragukan, tentu setara dengan Sony NEX, Sony SLT dan kamera lain dengan sensor APS-C. Resolusi pikselnya sendiri adalah 20 MP dengan crop factor 1,5x.

Harganya cukup murah

Jadi, kira-kira berapa harga kamera baru dengan sensor 20 MP APS-C dan berdesain laksana DSLR ini? Kabarnya harga jualnya akan di kisaran 4 jutaan sudah termasuk lensa, cukup murah untuk kamera yang mirip DSLR, sensor sama dengan DSLR dan fitur juga nyaris sama.

Lalu apa bedanya dengan kamera DSLR ‘betulan’?

Tidak ada prisma sehingga lupakan yang namanya jendela bidik optik di A3000. Tidak ada pula auto fokus berbasis deteksi fasa, dengan sejumlah titik fokus tertentu. Sebagai gantinya adalah auto fokus deteksi kontras dengan 25 area, yang kecepatannya sedikit kalah dibanding DSLR.

UPDATE :

Per Oktober 2013 Sony A3000 sudah tersedia di Tokocamzone seharga Rp. 4.450.000

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah jajaran kamera saku underwater terbaru di 2013

Kamera saku untuk kebutuhan outdoor yang didesain tangguh dan tahan air pilihannya memang tidak terlalu banyak. Tiap merk paling hanya punya satu atau dua versi dan harganya juga lebih mahal. Tapi buat yang senang berpetualang, kamera saku tangguh lebih menarik untuk dipunyai karena tak perlu kuatir kameranya rusak kalau dipakai dalam kondisi ekstrim, hingga masuk ke air sekalipun. Di awal tahun ini berikut pilihan kamera outdoor waterproof yang bisa kami rangkum untuk anda.

Pentax WG-3 : bodi kekar, bukaan lensa besar

pentax-wg-3

Pentax WG-3 memakai sensor 16 MP dengan stabilizer, lensa 25-100mm f/2-4.9 yang membuatnya percaya diri dipakai di kondisi kurang cahaya. Kamera ini bisa dibilang tahan segalanya, seperti air (hingga 13 meter), debu dan suhu -10 derajat, bahkan saat dijatuhkan dari ketinggian 2 meter pun masih tidak apa-apa. Lupa menduduki kamera ini saat disimpan di saku belakang celana anda? Tak usah kuatir, kamera ini tahan tekanan dan tidak akan retak hanya karena kedudukan.

Untuk menebus semua kehebatannya, siapkan dana 3,5 jutaan rupiah. Versi lain ada WG-3 GPS yang sesuai namanya, sudah dibekali penerima GPS untuk geotagging.

Nikon Coolpix AW110 : siap menyelam sampai dalam

nikon-aw110

Nikon Coolpix AW110 punya sensor CMOS 16 MP dengan layar OLED dan lensa 28-140mm plus stabilizer VR. Selain dilengkapi GPS dan WiFi (yang mana sebuah penambahan fitur yang berguna) kamera ini juga mampu diajak menyelam sampai kedalamam 18 meter, dan tentu tahan jatuh hingga 2 meter, suhu dingin -10 derajat dan tahan debu.

Sama seperti Pentax diatas, harga Nikon ini juga di kisaran 3,5 jutaan. Bila ingin Nikon underwater yang terjangkau juga ada pilihan Nikon S31 seharga 1 jutaan yang cuma bisa menyelam hingga 4,5 meter saja.

Olympus Stylus Tough TG-830 iHS : harga dan kemampuan yang berimbang

olympus-tg-830-ihs

Untuk pilihan yang lebih terjangkau namun tak kalah mantapnya, ada Olympus Stylus Tough TG-830 iHS yang punya sensor 16 MP dengan stabilizer dan lensa 28-140mm. Kemampuan outdoornya diantaranya bisa dibawa menyelam hingga 10 meter, tahan jatuh dari ketinggian 2 meter, tahan suhu hingga -10 derajat dan tahan debu. Fitur bawaan diantaranya built-in GPS untuk geotagging. Harganya sekitar 2,8 jutaan. Untuk versi lebih terjangkau ada juga Stylus Tough TG-630 iHS 12 MP tanpa GPS, harga 2 jutaan.

Sony Cyber-shot DSC-TX30 dan TF1 : kamera-kamera outdoor yang stylish

sony-dsc-tx30

Sony Cyber-shot DSC-TX30 adalah kamera tahan air hingga 10 meter yang tertipis di dunia. Lensa Zeissnya bisa menjangkau dari 26-130mm dengan sensor 18 MP plus OIS. Layar OLED di belakang sangat lebar dan dioperasikan dengan sistem sentuh, entah apakah sistem ini efektif bila kita memakai sarung tangan. Fitur lainnya, kamera ini tahan jatuh dari ketinggian 1,5 meter dan tahan suhu dingin hingga -10 derajat.

sony-dsc-tf1

Sedangkan Cyber-shot TF1 dibuat untuk yang tidak perlu layar sentuh, namun tetap memiliki fitur khas kamera outdoor seperti tahan air hingga 10 meter. Sensor kamera ini pakai CCD 16 MP plus OIS, agak unik saat melihat kamera era sekarang yang masih pakai sensor CCD, maka tak heran kalau videonya hanya sampai HD 720p saja.

Harganya kedua kamera ini sekitar 2 jutaan rupiah.

Fujifilm Finepix XP60 : harga paling terjangkau

fuji-xp60

Fujifilm juga punya produk outdoor yaitu Finepix XP60, dengan sensor CMOS 16 MP plus stabilizer, lensa 28-140mm yang bukaannya relatif kecil. Ketangguhannya agak pas-pasan yaitu hanya bisa menyelam hingga 6 meter, lalu tahan jatuh dari ketinggian 1,5 meter. Kabar baiknya, kamera ini bisa memotret sampai 10 foto per detik untuk momen tak terduga.

Estimasi harga jualnya dibawah 2 juta.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..