Pilihan flash eksternal untuk kamera Canon

Flash eksternal merupakan aksesori yang sangat direkomendasikan sebagai pelengkap sistem kamera terutama kamera DSLR guna mendapat hasil foto dengan pencahayaan yang lebih baik. Kegunaan utamanya adalah sebagai sumber cahaya yang bisa dikendalikan, baik kekuatannya maupun arah datangnya sinar. Apalagi built-in flash pada kamera punya kekuatan terbatas dan arah sinarnya tidak bisa dibelokkan, membuatnya tidak fleksibel dalam berbagai kondisi pemotretan. Bagi anda pemilik kamera Canon, berikut pilihan flash eksternal yang bisa anda pertimbangkan.

Flash pemula : Speedlite 270EX II (GN 27)

canon-270ex-ii

Inilah flash eksternal mungil yang hanya ditenagai oleh dua baterai AA, dengan harga jual sekitar 1,5 juta. Canon 270EX II merupakan generasi kedua yang disempurnakan, dengan kemampuan sebagai slave flash dalam sistem wireless. Meski kecil namun 270EX II sudah dilengkapi AF assist beam dan punya jangkauan zoom head yang bisa diatur yaitu untuk lensa 28mm dan 50mm. Tidak ada layar LCD di bagian belakang karena semua pengaturan flash ini dilakukan dari bodi kamera. Flash ini hanya bisa diputar ke atas hingga 90 derajat, namun tidak bisa ke kiri atau ke kanan.

Flash untuk videografer : Speedlite 320EX (GN 32)

canon-320ex

Boleh dibilang inilah flash hybrid pertama yang bisa dipakai untuk sumber cahaya saat memotret dan merekam video, berkat adanya sebuah lampu LED yang bisa memberikan cahaya kontinu untuk membantu pencahayaan saat merekam video (dan bisa menjadi AF assist beam juga). Cahaya dari lampu LED ini bisa menerangi area yang dijangkau oleh lensa 50mm dan bisa terus menyala selama 3,5 jam. Flash seharga 2 juta ini juga sudah bisa menjadi slave flash meski bukan sebagai commander. Kemampuan zoom head juga bisa dipilih untuk lensa 24mm dan 50mm, dengan kebebasan diputar atas bawah maupun kiri kanan. Flash 320EX ini sudah memakai empat buah baterai AA.

Flash populer : Speedlite 430EX II (GN 43)

canon-430ex-ii

Di masa lalu Speedlite 430EX adalah flash paling populer karena kemampuan dan harganya yang berimbang. Kini penerusnya yang bernama 430EX II hadir dengan beberapa peningkatan seperti 20% lebih cepat dan recycle yang tanpa suara. Flash 430EX II seharga 2,5 juta ini sudah dilengkapi dengan layar LCD dan berbagai tombol untuk pengaturan mode dan zoom head dari 24-105mm. Sama seperti 320EX, 430EX II ini pun hanya bisa menjadi slave flash tapi bukan sebagai commander.

Flash mewah : Speedlite 580EX II (GN 58)

canon-580ex-ii

Inilah flagship dari flash eksternal Canon yang dijual di harga 4 juta rupiah. Bodinya yang besar, sudah weather sealed, menu yang lengkap dan daya besar menjadi daya tarik bagi para profesional. Flash 580EX II mampu menjadi commander yang bisa mentrigger flash lain sepertu 430EX II hingga 270EX II. Selain mengandalkan 4 baterai AA, flash ini bisa ditenagai dari sumber daya eksternal. Ada juga PC port untuk koneksi ke perangkat lain. Semua fasilitas ada di flash ini termasuk pengaturan manual dan FP mode.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Sunpak PZ42X flash

Lengkap, handal dan terjangkau. Itulah yang orang cari saat akan membeli sebuah peranti fotografi termasuk aksesori lampu kilat eksternal. Kalau ketiga kriteria itu yang dikehendaki, rasa-rasanya lampu kilat dari Sunpak dengan nama PZ42X ini layak dinominasikan. Betapa tidak, lampu kilat ini sudah punya fitur lengkap yang bakal memuaskan hobi anda, pun kinerjanya handal dan harganya terjangkau. Kali ini kami berkesempatan mencoba unit ini dan kami tuliskan reviewnya untuk anda.

sunpak-pz42xSunpak PZ42X dijual di kisaran harga 1,4 jutaan. Produk yang ditenagai 4 buah baterai AA ini diklaim memiliki GN 42 yang lumayan kuat. Sepintas Sunpak PZ42X tampak tak banyak berbeda seperti produk flash lain yang sekelas (semisal Nissin atau Yongnuo) namun saat melihat lebih dekat barulah kehebatan lampu kilat ini terlihat. Karena PZ42X sudah mendukung TTL, maka saat membeli produk ini pastikan memilih jenis yang sesuai untuk kamera yang anda miliki, seperti Canon, Nikon atau Sony. Sunpak PZ42X ini tidak memiliki port apapun untuk memasang kabel syncro.

Beberapa nilai plus dari Sunpak PZ42X diantaranya :

  • bekerja secara TTL maupun manual (M)
  • ada fitur zoom head, dan bisa auto maupun manual
  • memakai layar LCD yang besar
  • tersedia lampu AF assist
  • bebas mengatur level output dan kompensasi (Ev)

Bila anda menyukai lampu kilat yang selalu terpasang di kamera (on shoe) maka anda akan menyukai fitur TTL dari Sunpak ini. TTL sendiri maksudnya adalah daya pancar lampu kilat akan disesuaikan dengan pengaturan kamera seperti shutter, aperture dan ISO. Jadi resiko foto terlalu terang atau terlalu gelap bisa dihindari dengan memakai mode TTL.

Fitur zoom head sendiri memungkinkan gerakan maju mundur pada lampu kilat sesuai posisi zoom lensa. Fitur ini memastikan meski kita melakukan zoom sekalipun, jangkauan lampu akan tetap mampu mencapai obyek yang dimaksud. Zoom head pada Sunpak ini memiliki rentang setara dengan 24mm hingga 105mm (atau 16-70mm untuk kamera yang memakai lensa APS-C). Bila digerakkan secara manual (dengan menekan tombol) mekanik zoom akan bergerak pada posisi zoom 24mm, 28mm, 35mm, 50mm, 70mm, 85mm dan 105mm.

Bila tidak suka memakai mode TTL, seperti saat memakai lampu terpisah dari kamera (off shoe), maka bisa mencoba mode M (manual). Pengaturan manual membolehkan kita untuk memakai daya full power (1/1) hingga daya terendah (1/64). Selain itu kita juga bisa melakukan kompensasi Ev ke arah positif atau negatif (bisa juga diatur lewat kamera).

Pemakaian

Untuk menghidupkan lampu kilat Sunpak PZ42X cukup dengan menggeser tuas on-off yang lebih praktis daripada menekan tombol seperti pada lampu merk lain. Hanya ada dua tombol utama sebagai kendali sekaligus mengatur menu lampu kilat ini, yaitu tombol MODE dan tombol SELECT. MODE dipakai untuk berganti setting sementara SELECT untuk mengganti settingnya, simpel meski perlu menekan tombol berkali-kali. Bila salah satu tombol ditekan, layar LCD akan diterangi oleh backlight berwarna merah.

sunpak-pz42x-detail

Lampu ini bisa ‘diangguk-angguk’ dan ‘digeleng-geleng’ seperti layaknya lampu kilat lain (untuk keperluan bouncing), juga tersedia wide diffuser bila perlu. Saat kami mencoba Sunpak PZ42X ini dalam kondisi on-shoe, fitur TTL berfungsi dengan baik. Kamera mengenali lampu kilat ini dan fitur TTL memberikan hasil yang konsisten di berbagai fokal lensa. Fitur zoom head juga bekerja sesuai namanya, terasa ada gerakan di bagian lampu saat lensa di zoom maju mundur (dan indikator fokal di LCD juga ikut menyesuaikan). Demikian juga dengan AF assist lamp berwarna merah yang akan menyala saat kondisi gelap, sayangnya intensitas cahaya merahnya masih kurang terang bila dibanding dengan AF assist lamp built in di DSLR Nikon.

Pengaturan kompensasi Ev bisa dilakukan di lampu kilat maupun di kamera. Kali ini kami mencoba mengubah nilai flash Ev di kamera, yaitu Ev +1 (over 1 stop), Ev 0 dan Ev -1 (under 1 stop). Inilah hasilnya :

Flash Ev +1
Flash Ev +1
Flash Ev 0
Flash Ev 0
Flash Ev -1
Flash Ev -1

Kami menemukan sesekali kamera tidak bisa mengenali lampu kilat Sunpak ini, sehingga fitur TTL otomatis tidak bekerja. Sebuah resiko yang memang bisa saja terjadi pada produk 3rd party apapun karena secara prinsip produsen kamera tidak pernah berbagi rahasia TTL mereka untuk pihak luar. Namun secara umum fitur dan kinerja Sunpak PZ42X ini sudah memenuhi standar, bahkan bisa menjadi alternatif merk dedicated seperti Canon 430 Ex-II atau Nikon SB600.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kapan perlu memakai lampu kilat?

flash-built-in

Pertanyaan yang simpel. Anda mungkin kesal karena judul diatas terkesan terlalu mudah untuk dijawab. Tapi tunggu dulu. Meski sederhana, penggunaan lampu kilat yang tidak tepat ternyata masih sering dilakukan oleh sebagian dari kita. Bila anda ingin menghasilkan foto yang baik, ketahuilah saat yang tepat untuk menggunakan lampu kilat. Untuk itu simak info dan tips dari kami kali ini.

Lampu kilat yang kita bahas bersifat umum, bisa yang berjenis built-in (menyatu pada kamera) maupun lampu kilat eksternal. Lampu kilat built-in banyak dijumpai di kamera ponsel kelas atas, semua kamera saku dan sebagian besar kamera DSLR. Fungsinya jelas, sebagai sumber cahaya tambahan yang menerangi objek di depan kamera saat tombol rana ditekan. Kekuatan lampu kilat diukur dengan istilah GN (Guide Number) yang menggambarkan kemampuan menerangi objek dalam jarak tertentu, dalam satuan meter. Lampu kilat modern sudah mendukung teknologi TTL yang bisa diatur kekuatannya sesuai jarak objek ke kamera, sehingga resiko terlalu terang atau terlalu gelap bisa dihindarkan.

Banyak orang yang membiarkan mode lampu kilat pada kameranya di posisi Auto. Di posisi ini, lampu akan menyala saat suasana sekitar gelap. Artinya siang hari lampu kilat tidak akan menyala bila di posisi Auto. Ini adalah kebiasaan yang kurang tepat karena seringkali pemakaian lampu kilat justru diperlukan di siang hari. Kenapa? Karena sinar matahari yang amat terik akan membuat kontras tinggi pada daerah yang terhalang oleh bayangan sehingga daerah yang terhalang itu akan jadi gelap. Lampu kilat diperlukan untuk menerangi area yang gelap akibat bayangan tadi. Kasus yang lebih umum terjadi misalnya, saat kita memotret objek yang ada dibawah bayangan semisal pohon. Pemakaian lampu kilat di siang hari untuk menerangi objek yang gelap akibat bayangan disebut juga dengan istilah fill-in flash.

Contoh pemakaian Fill-in Flash
Contoh pemakaian Fill-in Flash

Kedua, lampu kilat diperlukan untuk melawan sinar dari belakang objek (backlight). Bayangkan saat objek yang akan kita foto duduk persis di balik jendela sehingga cahaya terang dari jendela akan membuat objek yang akan difoto menjadi siluet (lihat contoh di bawah). Dengan lampu kilat, maka kita bisa mencegah siluet ini dan objek yang duduk di balik jendela itu akan tampak jelas.

Perbedaan foto backlight tanpa flash dan dengan flash (credit : Gizmodo)
Perbedaan foto backlight tanpa flash dan dengan flash (credit : Gizmodo)

Ketiga, di saat kita perlu memotret namun tidak ada sumber cahaya apapun di sekitar kita, atau cahaya lampu sekitar yang ada tidak cukup kuat untuk menerangi objek (mendapat eksposur yang tepat), kita harus memakai lampu kilat. Artinya, pemakaian lampu kilat dalam kondisi ini dianggap darurat/terpaksa. Tapi jangan berharap banyak akan kemampuan lampu kilat dalam menerangi ruangan gelap yang luas karena kemampuannya terbatas.

Ketiga situasi yang perlu lampu kilat di atas disimpulkan lagi disini :

  • saat objek dibawah bayangan matahari (fill-in flash)
  • saat objek dibalik sinar terang (backlight compensation flash)
  • saat gelap dan kita tidak punya sumber cahaya lain

Supaya adil, kami sampaikan juga saat-saat lampu kilat sebaiknya tidak digunakan. Pertama, tentu saat penggunaan lampu kilat dilarang seperti di acara konser musik, rumah ibadah dsb. Kedua adalah saat kita ingin mendapat foto dengan available light (natural light). Maksudnya, dengan memilih kecepatan shutter yang lambat, kita juga bisa mengambil foto cahaya sekitar yang ada dengan baik, seperti suasana cafe yang temaram atau lampu-lampu gedung dan jalan raya. Tapi perlu diingat dengan mamakai shutter lambat maka kita perlu tripod, dan gerakan objek apapun yang terekam kamera akan menimbulkan kesan motion blur.

Sekedar tips dari kami, inilah yang perlu diperhatikan dalam memotret memakai lampu kilat :

  • jarak tembak lampu kilat terbatas sehingga jagalah jarak optimal antara kamera dengan objek
  • lampu kilat memerlukan waktu untuk mengisi kapasitor sehingga ada waktu tunggu (jeda) antar foto sekitar 4-7 detik, hindari memakai lampu kilat bila anda sering mengambil banyak foto dalam waktu singkat
  • bila ada mode “red-eye flash” di kamera anda, sebaiknya tidak usah dipakai karena kurang efektif dan lebih menguras baterai (karena lampu akan menyala dua kali)
  • hindari menembakkan lampu kilat pada bayi karena beresiko mengganggu penglihatannya kelak
  • bila pada kamera anda ada fasilitas pengaturan power output manual, tidak ada salahnya dicoba untuk mengetahui karakter output lampu dari power terendah sampai tertinggi
  • bila lampu kilat pada kamera anda sudah berteknologi TTL, bila hasil foto dengan lampu masih belum memuaskan bisa dikompensasi dengan ‘flash compensation
  • bila anda memakai lampu kilat eksternal, upayakan untuk memaksimalkan semua fungsi lampu tersebut dengan mencoba teknik bouncing, memakai fill-in reflektor dan memakai diffuser

Di penggunaan tingkat lanjut, lampu kilat bisa dijadikan alat untuk membuat kesan profesional pada sebuah foto. Misalnya dengan mode slow sync, rear sync (2nd curtain), hingga bermain strobist (off-shoe). Untuk membahas mengenai hal ini akan kita lakukan di kesempatan berikutnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Yongnuo YN460 dan YN465 flash speedlite

Merk lampu kilat Yongnuo mungkin terdengar asing di telinga kita, meski di pasaran banyak dijumpai merk lampu kilat lain yang biasa disebut merk 3rd party, sebut saja misalnya Nissin, Sunpak atau Tronic. Bila di kesempatan lalu kami menguji lampu kilat profesional merk Nissin, kali ini kami ingin menguji lampu kilat murah meriah yaitu Yongnuo YN460 dan YN465. Keduanya hampir sama secara spesifikasi, kecuali YN465 sudah mendukung mode TTL sementara YN460 sepenuhnya dioperasikan secara manual.

yn460-465
Yongnuo YN460 dan YN 465

Yongnuo YN460 dan YN465 adalah lampu kilat ukuran standar yang ditenagai 4 buah baterai AA. Keduanya diklaim memiliki GN 33 dan memakai rangkaian sirkuit elektronik modern IGBT. YN460 memiliki mount universal (kecuali untuk DSLR Sony) dengan hanya 1 pin kontak, sedang YN465 sementara ini hanya ada versi Nikon dengan pin kontak yang mendukung fasilitas TTL flash dari DSLR Nikon. Yongnuo YN460 lebih dahulu dikenal karena harganya yang murah dan kemampuan pengaturan daya output secara manual, sehingga banyak dipakai oleh pecinta strobist. Tak lama berselang barulah Yongnuo meluncurkan YN465 dengan kelebihan bisa memilih mau pakai mode TTL atau mode manual. Hadir sebagai flash 3rd party ekonomis, keduanya sama-sama tidak dilengkapi dengan zoom head, baik auto ataupun manual.

Pin kontak data TTL YN465
Pin kontak data TTL YN465

Lampu kilat merk Yongnuo secara mengejutkan ternyata memiliki material plastik yang cukup baik dan kokoh. Pada saat kami memutar flash head ke atas bawah ataupun kiri kanan kami rasakan begitu mantap dan tidak terkesan murahan. Tidak ada magazine baterai untuk menampung empat buah baterai AA, kami harus memasukkan keempat baterai satu per satu. Untuk YN460 proses on off lampu dilakukan dengan menekan tombol power selama 3 detik, sedang pada YN465 dengan memutar knob. Setelah diputar, YN465 akan masuk ke mode TTL dan bila knob diputar lagi barulah mode berpindah ke manual. Baik YN460 maupun YN 465 memiliki 7 tingkat daya output dari 1/64 hingga 1/1 yang diwakili oleh 7 indikator LED. Bedanya, pada YN460 pengaturan daya ini dengan menekan tombol plus/minus, sedang pada YN465 dengan memutar potensio ke arah kanan.

Dalam paket penjualan disertakan pula flash stand, soft pouch dan manual singkat dalam bahasa Inggris dan China. Baiklah, kita tinjau lebih jauh keduanya dengan menilik spesifikasinya :

  • Circuit design: IGBT
  • Up/down ward angle: 0-90 degree
  • Left/right angle: 0-270 degree
  • Power Source: 4 X AA size batteries (Alkaline or Ni-MH are usable)
  • Battery Life: 100 – 1500 times (with alkaline batteries)
  • Recycle Time: 5 sec(with alkaline batteries)
  • Color Temperature: 5600K
  • Flash Duration: 1/800S – 1/20000S
  • Flash adjustment: 7 difference flash power level ( 1/1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64 )
  • Power Saving:  Stand by mode, 30mins to power off mode. 60mins to power off when using the optic mode (YN460)
  • Dimensions: 72X135X85mm
  • Weight: 250g

Yongnuo YN460

YN460 tampak depan
YN460 tampak depan

Kami sampaikan dulu di awal bahwa YN460 ini sepenuhnya dioperasikan secara manual. Artinya, kalau pengaturan daya lampu tidak tepat maka hasil foto akan over atau under. YN460 bisa dipakai di DSLR apa saja kecuali Sony, bahkan bisa dipakai di kamera non DSLR selama tersedia flash hot-shoe. Hanya ada satu pin kontak pada YN460 yang berfungsi untuk menerima sinyal trigger dari kamera, sementara tiga buah pin data yang ada di kamera tidak tersambung kemana-mana. Saat kami uji memakai Nikon D40 kamera tidak mengenali lampu yang terpasang (ada pesan di LCD : lighting is poor, flash recommended). Hal ini membuat kamera selalu menganggap bahwa kita sedang memotret tanpa lampu kilat, sehingga eksposur akan dihitung berdasar hasil metering apa adanya. Untuk itu bila dipakai di tempat kurang cahaya, lebih aman fitur Auto ISO dimatikan saja, gunakan mode shutter priority (S) dan asumsikan kamera akan memakai bukaan maksimal. Untuk mencegah blur akibat getaran tangan, gunakan speed 1/60 detik dan aturlah kendali daya yang ada pada tombol di bagian belakang YN460.

YB460 tampak belakang
YB460 tampak belakang

Keuntungan dari masalah diatas adalah, kita bebas untuk memakai nilai shutter berapa pun tanpa harus dibatasi oleh maksimum sync-speed dari kamera. Di siang hari kita bisa memilih memakai bukaan besar (untuk mengejar bokeh) tanpa harus kuatir speed yang akan naik tinggi. Kami bahkan pernah mencoba memakai speed 1/1000 detik dan hasilnya tetap baik. Tak heran kalau lampu kilat manual semacam ini begitu disukai para strobist photographer.

Fill-in flash, 1/1000s, f/4
Fill-in flash, 1/1000s, f/4

Untuk lebih menunjang hobi strobist, YN460 telah dilengkapi dengan sensor slave untuk menjadi off-shoe flash alias lampu yang terpisah dari kamera. Sensor ini akan terpicu oleh cahaya dari lampu kilat lain selama dalam jarak yang wajar. Cukup tekan tombol mode di lampu kilat dan YN460 akan berpindah dari mode manual (M) ke mode slave (S), bahkan kendali manual pun tetap bisa diatur saat memakai mode slave ini. Sayangnya posisi sensor slave ini berada di dalam lampu itu sendiri sehingga saat kita memasang aksesori seperti diffuser atau dome, sensor ini jadi terhalang. Yongnuo baru-baru ini telah meluncurkan YN460 mark II yang memiliki sensor slave di belakang plastik merah di bagian depan (pada YN460, plastik merah di depan hanya hiasan saja, dia bukan AF assist light).

Yongnuo YN465 (for Nikon)

Nikon D40 plus YN465
Nikon D40 plus YN465

YN465 bisa jadi merupakan lampu kilat TTL termurah yang ada di pasaran saat ini. Dengan memakai mode TTL, komunikasi data antara kamera dan lampu berjalan dengan sinkron. Kamera akan mengenali lampu yang ada dan mengirim informasi mengenai daya pancar lampu yang harus dikeluarkan berdasar hasil metering. Tak peduli mode apapun yang dipakai, entah itu auto, program (P), aperture priority (A) atau shutter priority (S), dan tak peduli pada posisi fokal lensa berapa pun, kamera akan berupaya membuat daya pancar lampu akan memberikan eksposur yang tepat. Hal ini akan sangat memudahkan saat kita memotret peristiwa yang cepat dimana bila memakai mode manual akan beresiko ketinggalan momen. Sayangnya YN465 tidak memiliki sensor slave untuk bermain strobist. Namun mengingat YN465 sudah mendukung TTL menurut kami sebaiknya YN465 ini digunakan on-shoe saja (dipasang di kamera). 

Tampilan belakang YN465
Tampilan belakang YN465

Hasil pengujian kami, digunakan di dalam ruangan YN465 mampu menerangi ruangan dengan baik dan eksposur yang dihasilkan pun tepat. Kami juga menguji memotret model yang lucu di bawah ini dengan berbagai fokal lensa yaitu 18mm,  30mm dan 60mm untuk melihat konsistensi eksposur. Inilah crop yang diambil dengan tiga posisi fokal lensa yang berbeda, dengan posisi flash dihadapkan langsung ke objek (tidak di-bouncing) :

yn465-18mm

yn465-30mm

yn465-66mm

Tampak meski tingkat eksposur yang dihasilkan masih wajar, namun konsistensi TTL bukanlah hal yang mudah didapat untuk Yongnuo YN465. Di posisi 18mm sebaran cahaya yang dihasilkan tidak merata kecuali jika ditambah diffuser built-in. Di posisi 30mm didapat eksposur yang paling tepat, sedangkan memakai fokal 66mm foto tampak sedikit under. Mungkin juga under ini dikarenakan tiadanya fitur zoom-head pada lampu kilat Yongnuo. Kabar baiknya, AF assist lamp pada YN465 berfungsi dengan baik yaitu saat cahaya kurang mencukupi, kamera akan menginstruksikan lampu kilat untuk memancarkan sinar merah untuk membantu kamera mencari fokus.

Pengujian kedua adalah melakukan kompensasi flash yang diatur pada kamera. Tujuannya untuk melihat apakah perintah kamera untuk menaikkan atau menurunkan daya output lampu dapat dilakukan dengan benar. Kami mencoba memotret dengan tiga macam nilai kompensasi yaitu Ev nol, Ev plus 1 stop dan Ev minus 1 stop. 

ev-test

Hasil foto diatas menunjukkan kalau kompensasi flash berhasil dilakukan dengan tepat. Kamera diset di mode A dengan f/5.6 dan kamera memilih nilai shutter di 1/60 detik, dan terbukti pengaturan daya output lampu bisa mengimbangi kompensasi yang diinginkan. Pada Ev 0 eksposur tampak pas, sedang Ev +1 tampak bagian putih bunga menjadi clipping/over, sedang pada Ev -1 foto keseluruhan tampak under.

Kesimpulan

Tak banyak yang bisa anda lakukan dengan lampu kilat seharga 400 ribuan (YN460) dan 700 ribuan (YN465). Saat ini Nikon SB400 sebagai lampu kilat TTL Nikon termurah pun harganya diatas satu juta. Dengan dana satu jutaan, SB400 disaingi ketat oleh Nissin Di622 dan merk lain seperti Sunpak yang juga sudah mendukung TTL. Yongnuo mencuri celah di segmen di bawah 1 jutaan, dengan menawarkan kepraktisan dengan kendali yang simpel, namun disisi lain tetap menjaga prinsip minimalis dengan tiadanya fitur zoom-head ataupun port data.

Bagi anda yang suka bermain flash manual, atau suka bereksperimen dengan off-shoe, maka YN460 cocok untuk dimiliki. YN460 bahkan memungkinkan kita memakai shutter speed tinggi tanpa masalah. Hanya saja untuk berkreasi wireless total diperlukan radio trigger semacam PT-04 atau CTR-301. YN460 akan membuat pemakainya sedikit kesulitan pada awalnya, mengingat diperlukan setting yang tepat antara kamera (shutter, aperture, ISO) dan power level di lampu kilat. YN460 bisa dibilang lampu kilat untuk strobist yang ideal : murah, praktis, bisa manual dan bisa slave.

Sebaliknya, bila anda akan sering memakai flash pada kamera (on-shoe) maka anda perlu flash yang mendukung fitur TTL kamera. Untuk itu YN465 lebih cocok untuk anda, lagipula saat hasil TTL ternyata meleset, toh kendali manualnya pun tetap ada. Satu hal yang disayangkan, YN465 tidak memiliki mode slave optik, meski tetap kompatibel dengan radio trigger (kami tidak tahu apakah fungsi TTL tetap berfungsi saat memakai radio trigger). Bila anda bingung pilih yang mana, ambil saja keduanya (YN465 dan YN460) sekaligus. Jadikan YN465 sebagai master yang terpasang di kamera, lalu YN460 bisa sebagai flash cadangan, atau bisa dipakai sebagai slave flash yang powernya bisa diatur secara manual. Total harga keduanya tidak sampai 1,5 juta kok, masih lebih murah dari Nissin Di622. Hanya saja urusan ketahanan alias keawetan adalah hal yang lain lagi. Produk Yongnuo masih belum teruji bisa bertahan berapa lama, apalagi quality control tiap item bisa saja berbeda.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Bermacam produk off-shoe untuk pecinta strobist

Komunitas pecinta fotografi strobist saat ini sudah semakin banyak. Kepuasan menghasilkan foto dengan teknik pencahayaan yang diatur sedemikian rupa itu ternyata membuat banyak orang terus ingin berkreasi memotret dengan lampu kilat. Foto yang dibuat dengan teknik ini mampu memberi kesan profesional, berkarakter, berdimensi dan unik. Jangan sangka untuk menggeluti hobi ini kita harus merogoh kocek amat dalam, karena ternyata gear yang diperlukan harganya cukup terjangkau.

Inti dari teknik strobist adalah memotret dengan lampu kilat yang terpisah dari kamera (off-shoe). Lampu kilat ini diatur di posisi tertentu sehingga akan memberi hasil yang berbeda dibanding lampu kilat terpasang di hot-shoe. Bagi yang perlu hasil lebih profesional, bisa digunakan lebih dari satu lampu yang menyala bersamaan. Antara kamera dan lampu kilat perlu adanya sinkronisasi sehingga timingnya tepat.

Cara yang umum dipakai untuk men-trigger lampu kilat yang terpisah dari kamera yaitu :

  • memakai kabel
  • memakai sensor cahaya (mata kucing)
  • memakai gelombang infra-red (IR)
  • memakai gelombang radio (RF)

Kabel flash
Kabel flash

Cara apa yang dipilih tentu tergantung pada kebutuhan dan dana yang ada. Kabel lebih kepada kemudahan pemakaian namun terbatas penempatan dan jumlah lampu yang bisa di-trigger. Mata kucing juga praktis meski di siang hari jadi kurang sensitif. Sistem infra merah sudah jarang dipakai karena repot, antara kamera dan lampu harus segaris, tidak boleh terhalang. Metoda RF dianggap sebagai metode off-shoe yang terbaik meski juga yang termahal. Lampu kilat kelas atas umumnya sudah memiliki pemancar RF terintegrasi sehingga bisa bermain wireless trigger dengan puas.

RF transmit receive unit

Yongnuo CTR-301P RF trigger
Yongnuo CTR-301P RF trigger

Bila anda hanya memiliki lampu kilat biasa (tanpa kemampuan wireless) maka anda perlu memiliki satu set pemancar-penerima sinyal yang dipasang apda hot-shoe kamera dan pada lampu kilat. Merk yang umum dipakai diantaranya Pocket Wizard, PT-04 dan Yongnuo CTR-301P. Perhatikan kalau tidak semua merk lampu kilat kompatibel dengan merk pemancar ini, untuk itu tanyakan pada penjual sebelum membeli.

Lampu kilat eksternal

Yongnuo YN460
Yongnuo YN460

Sebagai sumber cahaya utama kebutuhan strobist, tentulah yang dibutuhkan adalah lampu kilat (eksternal). Karena digunakan dalam kondisi terpisah dari kamera, maka pada dasarnya merk apa pun tidak masalah. Tidak ada resiko perbedaan tegangan yang berbahaya buat kamera karena lampu kilat ini tidak dipasang langsung pada kamera. Namun dengan memakai lampu kilat semerk dan ditrigger dengan commander yang sesuai, maka fungsi TTL bisa dinikmati secara off-shoe.

Anggaplah anda sudah cukup puas dengan pengaturan intensitas daya lampu secara manual (non TTL), maka beberapa merk lampu kilat ekonomis ini bisa saja dipakai untuk berkreasi secara off-shoe :

  • Nissin : Di466, Di 622 dsb
  • Tronic : TR 20, TR 26, TR 28, CN 505
  • Yongnuo : YN 460 dan YN 462
  • Merk lain seperti Metz, Vivitar, Sunpak dll

Aksesori lain yang perlu dimiliki untuk mendukung hobi ini diantaranya baterai AA atau NiNH dalam jumlah cukup banyak, kaki lampu kilat dan bila perlu tiang penyangga lampu atau tripod.

So, berkreasi dengan strobist? Mengapa tidak?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nissin Di866: lampu kilat alternatif dengan GN besar

Anda yang sedang mencari lampu kilat berdaya besar untuk kamera DSLR kini punya satu lagi pilihan ekonomis yang menarik. Merk Nissin sudah lama jadi produsen lampu kilat alternatif yang kompatibel dengan DSLR merk Canon dan Nikon. Salah satu produknya yang laris saat ini adalah Nissin Di622 yang dijual hanya seharga 1,5 jutaan, padahal untuk mendapat Nikon SB-600 perlu dana setidaknya 2,5 jutaan. Bagi anda yang perlu tenaga dan fitur lebih dari Nissin Di622, kini telah hadir Nissin Di866, produk paling elit dari Nissin yang ditargetkan jadi alternatif dari lampu kilat kelas atas seperti SB-800 atau 580EX.

Nissin Di866 (credit : briefnotes.net)
Nissin Di866 (credit : briefnotes.net)

Nissin Di866 ini punya embel-embel ‘professional’ bukan asal tempel. Pada lampu kilat seharga 3 juta ini sudah dilengkapi dengan dukungan iTTL/E-TTL dan GN 60 (ISO 100 / 105mm). Inilah produk pertama Nissin yang dilengkapi dengan layar LCD (warna!) yang mendukung auto rotation, dan sederet kemampuan lain seperti bouncing, wireless sync, hingga AF beam. Tersedia juga fitur fill-in sub flash (aktif bila di-bouncing) dan fitur external auto-exposure sensor . Ditenagai oleh 4 baterai AA, Di866 ini mampu bertahan hingga 150 kali nyala. Seperti biasa, update firmware bisa dilakukan untuk mendukung model DSLR masa depan.

Tentu saja para profesional akan selalu menjaga kompatibilitas satu merk, namun bagi anda yang ingin memiliki lampu kilat sarat fitur tanpa harus menguras kantong, bisa jadi produk high-end dari Nissin ini layak dijajal. Semestinya dengan fitur baru yang ditawarkan, masalah inkonsistensi eksposure pada Nissin seri sebelumnya sudah tidak akan dijumpai lagi.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..