Pixel TR-331/332 wireless TTL trigger harga terjangkau

Penyuka strobist punya satu lagi pilihan radio trigger untuk berkreasi dengan lampu flashnya. Adalah Pixel Enterprise Limited yang meramaikan dunia strobist dengan produknya TR-331 (untuk Nikon) dan TR-332 (untuk Canon) yang memungkinkan kamera dan lampu kilat bisa berkomunikasi secara wireless, dengan tetap mendukung fungsi TTL-nya. Dengan demikian anda yang  sudah punya lampu kilat seperti SB-800, Nissin Di622 atau 430EX II tetap bisa mengatur setting flash secara wireless. Apalagi harga produk ini juga lumayan terjangkau di kisaran 800 ribuan.

pixel-tr-331-box

pixel-tr-331-open-box

Dalam kemasan kotaknya terdapat unit transmitter (TX) dan receiver (RX), kabel PC sync serta dua baterai CR2. Unit TX berfungsi murni sebagai transmitter yang dipasang pada flash hot shoe di kamera. Sayangnya pada bagian atas unit TX ini tidak terdapat hot shoe untuk menempatkan lampu kilat seperti layaknya Yongnuo RF-602. Pada unit RX terdapat dudukan untuk light stand Berikut spesifikasi Pixel TR-331 dan TR-332 :

  • memakai frekuensi 2,4 GHz, ada 16 kanal
  • bisa dipakai hingga 65 meter
  • memakai layar LCD pada kedua unit
  • bisa dihubungkan ke lampu studio melalui kabel
  • mendukung FP mode hingga 1/8000 detik
  • waktu stand-by 1000 jam untuk RX unit dan 500 jam untuk TX unit
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Yongnuo YN460 dan YN465 flash speedlite

Merk lampu kilat Yongnuo mungkin terdengar asing di telinga kita, meski di pasaran banyak dijumpai merk lampu kilat lain yang biasa disebut merk 3rd party, sebut saja misalnya Nissin, Sunpak atau Tronic. Bila di kesempatan lalu kami menguji lampu kilat profesional merk Nissin, kali ini kami ingin menguji lampu kilat murah meriah yaitu Yongnuo YN460 dan YN465. Keduanya hampir sama secara spesifikasi, kecuali YN465 sudah mendukung mode TTL sementara YN460 sepenuhnya dioperasikan secara manual.

yn460-465
Yongnuo YN460 dan YN 465

Yongnuo YN460 dan YN465 adalah lampu kilat ukuran standar yang ditenagai 4 buah baterai AA. Keduanya diklaim memiliki GN 33 dan memakai rangkaian sirkuit elektronik modern IGBT. YN460 memiliki mount universal (kecuali untuk DSLR Sony) dengan hanya 1 pin kontak, sedang YN465 sementara ini hanya ada versi Nikon dengan pin kontak yang mendukung fasilitas TTL flash dari DSLR Nikon. Yongnuo YN460 lebih dahulu dikenal karena harganya yang murah dan kemampuan pengaturan daya output secara manual, sehingga banyak dipakai oleh pecinta strobist. Tak lama berselang barulah Yongnuo meluncurkan YN465 dengan kelebihan bisa memilih mau pakai mode TTL atau mode manual. Hadir sebagai flash 3rd party ekonomis, keduanya sama-sama tidak dilengkapi dengan zoom head, baik auto ataupun manual.

Pin kontak data TTL YN465
Pin kontak data TTL YN465

Lampu kilat merk Yongnuo secara mengejutkan ternyata memiliki material plastik yang cukup baik dan kokoh. Pada saat kami memutar flash head ke atas bawah ataupun kiri kanan kami rasakan begitu mantap dan tidak terkesan murahan. Tidak ada magazine baterai untuk menampung empat buah baterai AA, kami harus memasukkan keempat baterai satu per satu. Untuk YN460 proses on off lampu dilakukan dengan menekan tombol power selama 3 detik, sedang pada YN465 dengan memutar knob. Setelah diputar, YN465 akan masuk ke mode TTL dan bila knob diputar lagi barulah mode berpindah ke manual. Baik YN460 maupun YN 465 memiliki 7 tingkat daya output dari 1/64 hingga 1/1 yang diwakili oleh 7 indikator LED. Bedanya, pada YN460 pengaturan daya ini dengan menekan tombol plus/minus, sedang pada YN465 dengan memutar potensio ke arah kanan.

Dalam paket penjualan disertakan pula flash stand, soft pouch dan manual singkat dalam bahasa Inggris dan China. Baiklah, kita tinjau lebih jauh keduanya dengan menilik spesifikasinya :

  • Circuit design: IGBT
  • Up/down ward angle: 0-90 degree
  • Left/right angle: 0-270 degree
  • Power Source: 4 X AA size batteries (Alkaline or Ni-MH are usable)
  • Battery Life: 100 – 1500 times (with alkaline batteries)
  • Recycle Time: 5 sec(with alkaline batteries)
  • Color Temperature: 5600K
  • Flash Duration: 1/800S – 1/20000S
  • Flash adjustment: 7 difference flash power level ( 1/1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64 )
  • Power Saving:  Stand by mode, 30mins to power off mode. 60mins to power off when using the optic mode (YN460)
  • Dimensions: 72X135X85mm
  • Weight: 250g

Yongnuo YN460

YN460 tampak depan
YN460 tampak depan

Kami sampaikan dulu di awal bahwa YN460 ini sepenuhnya dioperasikan secara manual. Artinya, kalau pengaturan daya lampu tidak tepat maka hasil foto akan over atau under. YN460 bisa dipakai di DSLR apa saja kecuali Sony, bahkan bisa dipakai di kamera non DSLR selama tersedia flash hot-shoe. Hanya ada satu pin kontak pada YN460 yang berfungsi untuk menerima sinyal trigger dari kamera, sementara tiga buah pin data yang ada di kamera tidak tersambung kemana-mana. Saat kami uji memakai Nikon D40 kamera tidak mengenali lampu yang terpasang (ada pesan di LCD : lighting is poor, flash recommended). Hal ini membuat kamera selalu menganggap bahwa kita sedang memotret tanpa lampu kilat, sehingga eksposur akan dihitung berdasar hasil metering apa adanya. Untuk itu bila dipakai di tempat kurang cahaya, lebih aman fitur Auto ISO dimatikan saja, gunakan mode shutter priority (S) dan asumsikan kamera akan memakai bukaan maksimal. Untuk mencegah blur akibat getaran tangan, gunakan speed 1/60 detik dan aturlah kendali daya yang ada pada tombol di bagian belakang YN460.

YB460 tampak belakang
YB460 tampak belakang

Keuntungan dari masalah diatas adalah, kita bebas untuk memakai nilai shutter berapa pun tanpa harus dibatasi oleh maksimum sync-speed dari kamera. Di siang hari kita bisa memilih memakai bukaan besar (untuk mengejar bokeh) tanpa harus kuatir speed yang akan naik tinggi. Kami bahkan pernah mencoba memakai speed 1/1000 detik dan hasilnya tetap baik. Tak heran kalau lampu kilat manual semacam ini begitu disukai para strobist photographer.

Fill-in flash, 1/1000s, f/4
Fill-in flash, 1/1000s, f/4

Untuk lebih menunjang hobi strobist, YN460 telah dilengkapi dengan sensor slave untuk menjadi off-shoe flash alias lampu yang terpisah dari kamera. Sensor ini akan terpicu oleh cahaya dari lampu kilat lain selama dalam jarak yang wajar. Cukup tekan tombol mode di lampu kilat dan YN460 akan berpindah dari mode manual (M) ke mode slave (S), bahkan kendali manual pun tetap bisa diatur saat memakai mode slave ini. Sayangnya posisi sensor slave ini berada di dalam lampu itu sendiri sehingga saat kita memasang aksesori seperti diffuser atau dome, sensor ini jadi terhalang. Yongnuo baru-baru ini telah meluncurkan YN460 mark II yang memiliki sensor slave di belakang plastik merah di bagian depan (pada YN460, plastik merah di depan hanya hiasan saja, dia bukan AF assist light).

Yongnuo YN465 (for Nikon)

Nikon D40 plus YN465
Nikon D40 plus YN465

YN465 bisa jadi merupakan lampu kilat TTL termurah yang ada di pasaran saat ini. Dengan memakai mode TTL, komunikasi data antara kamera dan lampu berjalan dengan sinkron. Kamera akan mengenali lampu yang ada dan mengirim informasi mengenai daya pancar lampu yang harus dikeluarkan berdasar hasil metering. Tak peduli mode apapun yang dipakai, entah itu auto, program (P), aperture priority (A) atau shutter priority (S), dan tak peduli pada posisi fokal lensa berapa pun, kamera akan berupaya membuat daya pancar lampu akan memberikan eksposur yang tepat. Hal ini akan sangat memudahkan saat kita memotret peristiwa yang cepat dimana bila memakai mode manual akan beresiko ketinggalan momen. Sayangnya YN465 tidak memiliki sensor slave untuk bermain strobist. Namun mengingat YN465 sudah mendukung TTL menurut kami sebaiknya YN465 ini digunakan on-shoe saja (dipasang di kamera). 

Tampilan belakang YN465
Tampilan belakang YN465

Hasil pengujian kami, digunakan di dalam ruangan YN465 mampu menerangi ruangan dengan baik dan eksposur yang dihasilkan pun tepat. Kami juga menguji memotret model yang lucu di bawah ini dengan berbagai fokal lensa yaitu 18mm,  30mm dan 60mm untuk melihat konsistensi eksposur. Inilah crop yang diambil dengan tiga posisi fokal lensa yang berbeda, dengan posisi flash dihadapkan langsung ke objek (tidak di-bouncing) :

yn465-18mm

yn465-30mm

yn465-66mm

Tampak meski tingkat eksposur yang dihasilkan masih wajar, namun konsistensi TTL bukanlah hal yang mudah didapat untuk Yongnuo YN465. Di posisi 18mm sebaran cahaya yang dihasilkan tidak merata kecuali jika ditambah diffuser built-in. Di posisi 30mm didapat eksposur yang paling tepat, sedangkan memakai fokal 66mm foto tampak sedikit under. Mungkin juga under ini dikarenakan tiadanya fitur zoom-head pada lampu kilat Yongnuo. Kabar baiknya, AF assist lamp pada YN465 berfungsi dengan baik yaitu saat cahaya kurang mencukupi, kamera akan menginstruksikan lampu kilat untuk memancarkan sinar merah untuk membantu kamera mencari fokus.

Pengujian kedua adalah melakukan kompensasi flash yang diatur pada kamera. Tujuannya untuk melihat apakah perintah kamera untuk menaikkan atau menurunkan daya output lampu dapat dilakukan dengan benar. Kami mencoba memotret dengan tiga macam nilai kompensasi yaitu Ev nol, Ev plus 1 stop dan Ev minus 1 stop. 

ev-test

Hasil foto diatas menunjukkan kalau kompensasi flash berhasil dilakukan dengan tepat. Kamera diset di mode A dengan f/5.6 dan kamera memilih nilai shutter di 1/60 detik, dan terbukti pengaturan daya output lampu bisa mengimbangi kompensasi yang diinginkan. Pada Ev 0 eksposur tampak pas, sedang Ev +1 tampak bagian putih bunga menjadi clipping/over, sedang pada Ev -1 foto keseluruhan tampak under.

Kesimpulan

Tak banyak yang bisa anda lakukan dengan lampu kilat seharga 400 ribuan (YN460) dan 700 ribuan (YN465). Saat ini Nikon SB400 sebagai lampu kilat TTL Nikon termurah pun harganya diatas satu juta. Dengan dana satu jutaan, SB400 disaingi ketat oleh Nissin Di622 dan merk lain seperti Sunpak yang juga sudah mendukung TTL. Yongnuo mencuri celah di segmen di bawah 1 jutaan, dengan menawarkan kepraktisan dengan kendali yang simpel, namun disisi lain tetap menjaga prinsip minimalis dengan tiadanya fitur zoom-head ataupun port data.

Bagi anda yang suka bermain flash manual, atau suka bereksperimen dengan off-shoe, maka YN460 cocok untuk dimiliki. YN460 bahkan memungkinkan kita memakai shutter speed tinggi tanpa masalah. Hanya saja untuk berkreasi wireless total diperlukan radio trigger semacam PT-04 atau CTR-301. YN460 akan membuat pemakainya sedikit kesulitan pada awalnya, mengingat diperlukan setting yang tepat antara kamera (shutter, aperture, ISO) dan power level di lampu kilat. YN460 bisa dibilang lampu kilat untuk strobist yang ideal : murah, praktis, bisa manual dan bisa slave.

Sebaliknya, bila anda akan sering memakai flash pada kamera (on-shoe) maka anda perlu flash yang mendukung fitur TTL kamera. Untuk itu YN465 lebih cocok untuk anda, lagipula saat hasil TTL ternyata meleset, toh kendali manualnya pun tetap ada. Satu hal yang disayangkan, YN465 tidak memiliki mode slave optik, meski tetap kompatibel dengan radio trigger (kami tidak tahu apakah fungsi TTL tetap berfungsi saat memakai radio trigger). Bila anda bingung pilih yang mana, ambil saja keduanya (YN465 dan YN460) sekaligus. Jadikan YN465 sebagai master yang terpasang di kamera, lalu YN460 bisa sebagai flash cadangan, atau bisa dipakai sebagai slave flash yang powernya bisa diatur secara manual. Total harga keduanya tidak sampai 1,5 juta kok, masih lebih murah dari Nissin Di622. Hanya saja urusan ketahanan alias keawetan adalah hal yang lain lagi. Produk Yongnuo masih belum teruji bisa bertahan berapa lama, apalagi quality control tiap item bisa saja berbeda.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Bermacam produk off-shoe untuk pecinta strobist

Komunitas pecinta fotografi strobist saat ini sudah semakin banyak. Kepuasan menghasilkan foto dengan teknik pencahayaan yang diatur sedemikian rupa itu ternyata membuat banyak orang terus ingin berkreasi memotret dengan lampu kilat. Foto yang dibuat dengan teknik ini mampu memberi kesan profesional, berkarakter, berdimensi dan unik. Jangan sangka untuk menggeluti hobi ini kita harus merogoh kocek amat dalam, karena ternyata gear yang diperlukan harganya cukup terjangkau.

Inti dari teknik strobist adalah memotret dengan lampu kilat yang terpisah dari kamera (off-shoe). Lampu kilat ini diatur di posisi tertentu sehingga akan memberi hasil yang berbeda dibanding lampu kilat terpasang di hot-shoe. Bagi yang perlu hasil lebih profesional, bisa digunakan lebih dari satu lampu yang menyala bersamaan. Antara kamera dan lampu kilat perlu adanya sinkronisasi sehingga timingnya tepat.

Cara yang umum dipakai untuk men-trigger lampu kilat yang terpisah dari kamera yaitu :

  • memakai kabel
  • memakai sensor cahaya (mata kucing)
  • memakai gelombang infra-red (IR)
  • memakai gelombang radio (RF)

Kabel flash
Kabel flash

Cara apa yang dipilih tentu tergantung pada kebutuhan dan dana yang ada. Kabel lebih kepada kemudahan pemakaian namun terbatas penempatan dan jumlah lampu yang bisa di-trigger. Mata kucing juga praktis meski di siang hari jadi kurang sensitif. Sistem infra merah sudah jarang dipakai karena repot, antara kamera dan lampu harus segaris, tidak boleh terhalang. Metoda RF dianggap sebagai metode off-shoe yang terbaik meski juga yang termahal. Lampu kilat kelas atas umumnya sudah memiliki pemancar RF terintegrasi sehingga bisa bermain wireless trigger dengan puas.

RF transmit receive unit

Yongnuo CTR-301P RF trigger
Yongnuo CTR-301P RF trigger

Bila anda hanya memiliki lampu kilat biasa (tanpa kemampuan wireless) maka anda perlu memiliki satu set pemancar-penerima sinyal yang dipasang apda hot-shoe kamera dan pada lampu kilat. Merk yang umum dipakai diantaranya Pocket Wizard, PT-04 dan Yongnuo CTR-301P. Perhatikan kalau tidak semua merk lampu kilat kompatibel dengan merk pemancar ini, untuk itu tanyakan pada penjual sebelum membeli.

Lampu kilat eksternal

Yongnuo YN460
Yongnuo YN460

Sebagai sumber cahaya utama kebutuhan strobist, tentulah yang dibutuhkan adalah lampu kilat (eksternal). Karena digunakan dalam kondisi terpisah dari kamera, maka pada dasarnya merk apa pun tidak masalah. Tidak ada resiko perbedaan tegangan yang berbahaya buat kamera karena lampu kilat ini tidak dipasang langsung pada kamera. Namun dengan memakai lampu kilat semerk dan ditrigger dengan commander yang sesuai, maka fungsi TTL bisa dinikmati secara off-shoe.

Anggaplah anda sudah cukup puas dengan pengaturan intensitas daya lampu secara manual (non TTL), maka beberapa merk lampu kilat ekonomis ini bisa saja dipakai untuk berkreasi secara off-shoe :

  • Nissin : Di466, Di 622 dsb
  • Tronic : TR 20, TR 26, TR 28, CN 505
  • Yongnuo : YN 460 dan YN 462
  • Merk lain seperti Metz, Vivitar, Sunpak dll

Aksesori lain yang perlu dimiliki untuk mendukung hobi ini diantaranya baterai AA atau NiNH dalam jumlah cukup banyak, kaki lampu kilat dan bila perlu tiang penyangga lampu atau tripod.

So, berkreasi dengan strobist? Mengapa tidak?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..