Review lensa fix Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang sudah punya beberapa produk lensa fix seperti SP 35mm f/1.8, SP 45mm f/1.8 dan SP 85mm f/1.8 yang tersedia untuk mount DSLR Canon dan Nikon. Tidak puas dengan tiga lensa diatas, Tamron juga akhirnya merilis satu lensa fix 35mm yang bukaannya lebih besar yaitu SP 35mm f/1.4 Di USD. Dari kode namanya dapat dikenali kalau lensa 35mm ini adalah lensa SP yang kualitasnya tinggi, kode ‘Di’ artinya untuk full frame dan ‘USD’ yang artinya motor fokusnya ultrasonic yang cepat dan senyap. Kali ini kami mendapat kesempatan mencoba lensa Tamron SP 35mm f/1.4 (dengan mount Canon) untuk melihat bagaimana handalnya lensa ini untuk berbagai keadaan, termasuk seperti apa bokehnya, auto fokusnya dan tentunya ketajamannya.

Ditinjau dari fokal lensanya, Tamron SP 35mm f/1.4 ini termasuk dalam lensa lebar, meski tentu tidak selebar lensa seperti 28mm atau 24mm. Maka fokal lensa 35mm ini tergolong banyak kegunaannya, untuk dipakai sehari-hari hingga pekerjaan komersial akan banyak bisa mengandalkan fokal 35mm ini. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C, maka fokal lensanya akan ekuivalen dengan lensa 50mm di full frame, jadi boleh saja orang memasang lensa Tamron 35mm ini bila bertujuan untuk menjadi lensa 50mm, dengan memasangnya di bodi APS-C.

Gambar 1

Sebagai lensa fix, saya tidak meragukan kualitas optik lensa ini, apalagi Tamron sendiri memiliki kebanggaan atas produk ini sebagai puncak kulminasi kemampuan mereka dalam memproduksi sebuah lensa selama 40 tahun, seperti kata Tamron saat merilis lensa ini: “We want to deliver a perfect image to people who love photography.” dengan menyusun 14 elemen yang tergolong sangat banyak untuk sebuah lensa fix (maka itu lensa ini juga tidak bisa dibilang kecil, dengan panjang 10cm dan berat diatas 800 gram). Elemen tambahan untuk menjaga kualitas foto seperti BBAR II juga diberikan di lensa ini, menjaga timbulnya flare dan ghosting saat memotret melawan cahaya. Bokeh lensa ini juga diklaim lembut dan menarik dengan 9 bilah diafragma yang bulat, dan berjenis elektronik aperture. Continue reading Review lensa fix Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang yang konsisten merilis lensa untuk berbagai kamera khususnya DSLR, terus memberi alternatif menarik untuk fotografer hobi maupun profesi yang mencari harga yang wajar dengan kualitas tak kalah dengan lensa yang harganya lebih mahal. Bila sebelumnya Tamron sudah membuat lensa 35-150mm yang fokal lensa zoomya mencukupi untuk bermacam kebutuhan harian seperti 35mm, 50mm, 85mm dan sebagainya, maka kali ini kami akan mengupas lensa Tamron 17-35mm f/2.8-4 yang termasuk lensa ultra lebar ekonomis untuk DSLR Canon dan Nikon.

Fokal 17mm memberi perspektif dan kesan lebar yang berbeda dari yang kita lihat

Umumnya lensa lebar disukai oleh mereka yang menekuni fotografi pemandangan atau interior. Dari golongan fokal lensa, sebetulnya 35mm sudah termasuk lebar, meski saat ini orang akan lebih terkesan oleh lensa 28mm apalagi 24mm. Tapi bila yang dicari justru fokal lensa yang sangat lebar, maka angka 17mm adalah langkah aman untuk mendapat perspektif dramatis yang ekstra luas. Memang dalam persaingan lensa masa kini, produsen terus membuat lensa yang semakin lebar seperti 16mm, 14mm hingga 10mm untuk full frame, yang berdampak pada harga yang makin mahal sedangkan belum tentu kita butuh sampai selebar itu. Kami ingat dulu itu lensa ultra lebar dari Canon yang umum itu hanya Canon 17-40mm saja, atau Nikon 16-35mm. Maka itu lensa Tamron 17-35mm ini kami lihat punya rentang fokal yang pas, dimulai dari 17mm dan diakhiri hingga 35mm, dan bila ingin meneruskan zoom diatas 35mm langsung pasang lensa Tamron 35-150mm, terus menyambung kalau belum puas ada Tamron 150-600mm, lengkap dan tanpa overlap sedikit pun, mantap..

Dipasang di bodi Nikon D600, perpaduan lensa dan kamera tampak seimbang, pas dan tidak (terlalu) memberatkan saat dibawa.

Baiklah, cukup pendahuluannya, kita langsung masuk ke topik. Kami mencoba lensa yang nama lengkapnya Tamron 17-35mm f/2.8-4 Di OSD dengan mount Nikon, dipasang di D600 full frame. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C maka akan rugi karena jadi tidak ultra wide lagi. Berikut fakta-fakta lensa ini :

  • untuk dipakai di DSLR, dengan mount Canon atau Nikon
  • berat 460 mm
  • diameter filter 77mm
  • motor fokus OSD (bukan USD)
  • tidak ada penstabil getar VC
  • tidak ada indikator jarak fokus untuk membantu hiperfokal/infinity
  • lensa hanya sedikit memanjang saat diputar zoomnya
  • ada karet pencegah masuknya air di bagian mount belakang

Continue reading Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : lensa Tamron 18-200mm VC

Inilah review kami untuk lensa Tamron 18-200mm VC. Lensa yang bernama lengkap Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 Di II VC ini adalah lensa untuk DSLR (Canon/Nikon) dengan sensor APS-C yang memberikan fokal lensa setara 28-300mm di full frame. Dengan rentang fokal sepanjang ini kebutuhan foto yang bervariasi dari wide hingga tele bisa dicakup hanya dengan satu lensa saja. Biasanya lensa ini dibeli oleh mereka yang ingin ‘naik kelas’ dari lensa kit, alih-alih menambah satu lensa tele seperti 55-200mm maka sekalian saja lensa kitnya diganti dengan lensa superzoom seperti Tamron 18-200mm VC ini.

Lensa dengan rentang 18-200mm saat ini bukan yang paling panjang dalam hal rentang zoom, karena ada juga lensa lain seperti 18-250mm hingga bahkan 18-400mm. Tapi keuntungan dari lensa 18-200mm ini adalah ‘cukup’ dalam banyak hal, seperti cakupan lensa yang cukup (jarang juga orang pakai diatas 200mm untuk foto sehari-hari), ukuran yang cukup (tidak terlalu besar), bobot yang cukup ringan (hanya 400 gram) dan harga yang cukup murah (biasanya lensa superzoom harganya diatas 5 juta, tapi ini dibawah 3 juta saja). Dan Tamron dulu juga pernah membuat lensa 18-200mm yang sudah digantikan dengan lensa 18-200mm VC, ya tentu VC disini adalah pembeda utamanya.

VC, atau Vibration Compensation, adalah fitur peredam getar yang bila diaktifkan bisa membantu kita mendapat foto yang tajam saat tangan kita sedikit goyang, khususnya di shutter speed agak lambat, dibawah 1/100 detik. Fitur VC juga membantu memberi tampilan yang lebih stabil di jendela bidik, selama tombol shutter ditekan dan ditahan setengah. Perlu diingat bila shutter terlalu lambat maka VC tidak bisa membantu, misal dibawah 1/10 detik tentu harus pakai tripod. Tapi hadirnya VC di lensa ekonomis ini kami apresiasi karena bakal memudahkan dalam memotret khususnya bila pakai fokal lensa yang lebih tele (diatas 50mm). Dalam prakteknya VC di lensa ini terbukti bisa menstabilkan getaran pada shutter agak lambat.

VC Off, 1/20 detik, 65mm
VC On, 1/20 detik, 65mm

Contoh diatas menunjukkan bedanya pakai VC dan tidak. Dengan fokal lensa diset ke 65mm (ekuiv. 100mm di full frame), foto yang tajam bisa didapat di 1/20 detik atau lebih dari 2 stop.

Lensa 18-200mm VC juga mendapat desain luar yang baru dan tampak lebih modern, dengan warna hitam doff yang keren. Di bodinya terdapat tuas fokus AF-MF, tuas VC On-Off dan Zoom lock yang mencegah lensa memanjang karena gravitasi saat menghadap ke bawah. Ring manual fokus ada di ujung depan dan hanya bisa diputar kalau tuas fokus di posisi MF, artinya di lensa ini tidak didesain untuk bisa langsung manual fokus setelah auto fokus, yang mana adalah wajar mengingat segmen dan harga lensanya. Bicara soal fokus, motor untuk auto fokus di lensa ini memang bukan yang kelas ultrasonic seperti lensa Canon USM atau Tamron USD, tapi juga bukan motor fokus jadul yang berisik. Motor fokusnya cukup senyap dan cukup cepat, dengan teknologi yang mengutip dari web Tamron adalah DC motor-gear train, yang artinya masih pakai gear. Untuk mode servo AF-S motor fokus di lensa ini tidak ada masalah, namun untuk AF-C memang kecepatan motor AF-nya akan kesulitan bila suyek yang difoto bergerak terlalu cepat.

Tentunya yang perlu diketahui paling utama dari sebuah lensa adalah kualitas optiknya. Sebelum kesana, perlu dimaklumi dulu bahwa lensa superzoom manapun memang tidak bisa mendapatkan performa optik sangat tinggi, karena lensa semacam ini dirancang untuk kepraktisan (zoom panjang) dan bukan untuk mengejar kualitas optik terbaik. Apalagi dari harganya kita tentu sudah bisa memprediksi kualitas optiknya. Tapi jangan salah sangka juga, optik di lensa ini termasuk baik, setara dengan lensa kit pada umumnya. Itu akibat modernisasi manufaktur khususnya dalah desain lensa pakai komputer sehingga hasilnya bisa tetap sesuai standar masa kini.

Untuk melihat kualitas optik ada beberapa faktor yang perlu ditinjau :

Sharpness

Tentunya bagian yang difokus harus tampak tajam, nah lensa ini bisa menghasilkan foto yang cukup tajam khususnya di kamera dengan sensor dibawah 20 MP. Pada bagian tengah ketajaman termasuk baik, dan di bagian tepi ketajaman agak menurun. Performa lensa paling tajam diantara 18-100mm dan tampak lebih soft di 135mm apalagi di 200mm. Warna dan kontras juga termasuk baik, meski kemampuan rendering detail mikro kontras (clarity) dari lensa ini tidak begitu tinggi.

Bokeh

Bagian yang tidak fokus akan menghasilkan gambar yang blur dan itu kerap dicari sebagai bokeh, nah biasanya bokeh yang menarik didapat di bukaan besar dan fokal lensa terpanjang. Nah lensa ini sayangnya menghasilkan bokeh yang kurang blur, masih tampak agak jelas meski sudah memakai f/6.3 di 200mm. Wajar mengingat lensa ini bukan lensa bukaan besar.

Distorsi dan fringing

Cacat lensa kadang bukan menandakan lensa bermasalah, cacat lensa itu diartikan kekurangan lensa yang masih bisa ditoleransi akibat beberapa faktor. Diantara hal yang sering dijumpai dari lensa adalah distorsi dan fringing. Untungnya keduanya dengan mudah bisa dikoreksi melalui editing foto. Lensa 18-200mm ini distorsinya di posisi wide 18mm cukup terasa, dan itu wajar. Yang agak aneh adalah di fokal 35mm keatas justru mengalami distorsi cekung (pincushion). Selain itu di keadaan kontras tinggi akan muncul sedikit fringing yang berwarna keunguan.

Sampel foto

Beberapa foto yang diambil dengan lensa ini (dalam ukuran yang sudah diperkecil) :

Kesimpulan

Secara umum lensa ini ditujukan untuk mereka pengguna DSLR yang perlu satu lensa yang praktis seperti untuk traveling atau penghobi pemula. Kualitas optik memang termasuk sedang-sedang saja, tapi bayangkan dengan harga dibawah 3 juta kita mendapat satu lensa yang termasuk modern, ada VC, dan tidak terlalu besar/berat sehingga bisa menjadi pengganti lensa kit seperti 18-55mm paketan dari pabriknya. Beberapa kekurangan dari lensa ini bisa dimaafkan mengingat harga jualnya, dan dengan pemahaman fotografi dan teknik yang baik pada dasarnya tidak ada masalah untuk bisa mendapat foto-foto yang indah dengan lensa ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa sapu jagad ambisius : Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro

Walaupun enaknya memotret dengan kamera DSLR (atau mirrorless) adalah bisa berganti-ganti lensa, tapi ada juga orang yang lebih tertarik kalau bisa pakai satu lensa saja yang bisa mencakup kebutuhan wide sampai tele. Bagi mereka, lensa superzoom atau sapu jagad memang jadi opsi yang lebih cocok, apalagi kalau dibawa travelling. Lensa DSLR memang jarang yang punya rentang zoom panjang, bahkan dulu 18-200mm sudah tergolong istimewa. Tapi kini batasan itu mulai dilampaui, seperti lensa Sigma 18-270mm, Nikon 18-300mm yang bisa menjangkau lebih tele dari 200mm. Tapi Tamron yang baru muncul ini keren, fokal terpendeknya bisa mencapai 16mm yang relatif lebar (ekivalen 24mm di sensor APS-C). Rasio zoomnya adalah 18,8x yang sepertinya memecahkan rekor untuk lensa superzoom saat ini.

Berikut penampakan lensa Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro :

tamron-16-300mm-f35-63g-di-ii-vc-pzd-macro-lens

Didalam lensa seharga 7 juta ini tersusun atas tiga elemen lensa Molded-Glass Aspherical, sebuah elemen lensa Hybrid Aspherical, dua elemen lensa LD (Low Dispersion), sebuah elemen lensa XR (Extra Refractive index) dan satu elemen baru yaitu UXR (Ultra-Extra Refractive Index) yang punya indeks refraksi lebih tinggi dari XR, dan bisa membuat ukuran lensa jadi lebih kecil.

Opini kami :

  • alternatif menarik dibanding Nikon 18-300mm bila tujuannya ingin lensa yang lebih terjangkau
  • dengan fokalnya yang cukup wide (16mm setara 24mm) menarik untuk dipakai memotret pemandangan dan interior
  • value produk sudah oke, karena ada VC (penstabil getaran), motor fokus PZD (halus dan cepat) serta bisa makro-makroan (1:2,9 dengan MFD 40cm)
  • kualitas optik termasuk standar, lensa sapu jagat tidak didesain untuk mengoptimalkan kualitas hasil tapi kepraktisan
  • desain baru lensa Tamron ini terlihat lebih pro, balutan warna hitam, tekstur dan gelang zoom – fokus desain baru
  • Tamron berhasil membuat lensa yang berukuran kecil (panjangnya 10cm) dan bobot ringan (1/2 kg) – setara dengan lensa Nikon 18-300mm generasi kedua
  • lensa ini cocok untuk all round lens, praktis buat jalan-jalan dan foto harian
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tamron lengkapi lensa 18-270mm dengan motor Piezo Drive

Untuk urusan lensa superzoom buat DSLR, Tamron memang jagonya. Saat yang lain membuat lensa sapu jagad dengan kekuatan zoom optik sekitar 11x, maka Tamron sudah membuat yang 15x yaitu dengan lensa 18-270mm f/3.5-6.3 yang kalau dikonversikan ke 35mm maka setara dengan 28-419mm dengan ukuran yang kecil dan ringan. Tamron bahkan melengkapi lensa ini dengan stabilizer optik bernama VC (Vibration Compensation) sehingga saat memotret dengan fokal panjang tak perlu kuatir akan blur. Kini Tamron menyempurnakan lensa ini dengan membenamkan motor AF baru bernama Piezo Drive yang berputar cepat dan bersuara halus.

Bahkan kenyataannya Tamron tak sekedar memberi motor Piezo Drive pada lensa 18-270mm ini. Tamron juga mendesain ulang bodi lensanya, sehingga kini si lensa baru ini berukuran lebih kecil yaitu 88mm x 74.4mm (dibanding dulu 101mm x 79.6mm) dan berbobot lebih ringan dengan 450 gram (dulunya 560 gram). Sebagai konsekuensi, diameter filter lensa baru ini juga mengecil menjadi 62mm (dulunya 72 mm). Urusan makro juga cukup menyenangkan karena lensa ini bisa mengunci fokus untuk benda yang berada setengah meter di depan lensa, pada rentang fokal berapapun.

tamron-18-270pzd1

Tamron 18-270mm PZD ini hadir dalam mount Nikon, Canon dan Sony. Pemakai DSLR Nikon tanpa motor fokus di bodi seperti D3000-D5000 tak perlu kuatir memakai lensa ini karena pasti bisa auto fokus berkat motor piezoelektrik yang hampir sama kualitasnya dengan sistem Silent Wave dari Nikon atau Ultrasonic dari Canon. Hanya saja lensa ini bukan untuk DSLR full frame karena diameter image circle yang lebih kecil dari sensor 35mm. Bagi anda yang menyukai kepraktisan dalam memotret, maka lensa mungil dengan zoom ekstra panjang ini bisa jadi pertimbangan. Harga belum diumumkan, tapi harga lensa Tamron 18-270mm VC lama (non Piezo) sekitar 4,5 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Tamron 70-300mm baru dengan stabilizer dan motor micro

Lensa 70-300mm tergolong lensa tele-zoom yang populer. Tamron sebagai produsen lensa 3rd party yang sering membuat produk yang sukses di pasaran juga punya produk lensa dengan rentang 70-300mm ini. Namun Tamron yang kala itu bermaksud membuat lensa tele murah meriah, tidak membenamkan fitur stabilizer pada lensanya. Setelah sang kompetitor yaitu Sigma meluncurkan lensa 70-300mm dengan stabilizer (yang baru saja kami review), kini Tamron pun meluncurkan produk sejenis yang dilengkapi dengan stabilizer. Lebih lagi, Tamron juga melengkapi lensa ini dengan motor AF untuk menjamin kompatibilitas dengan DSLR Nikon entry-level. Hebatnya, motor AF di lensa Tamron ini menggunakan sistem ultrasonic (seperti USM milik Canon dan SWM milik Nikon) yang bersuara halus dan bekerja lebih cepat.

tamron-70-300-vc

Nama lensa baru ini adalah Tamron SP 70-300mm f/4-5.6 Di VC USD yang sementara baru tersedia untuk mount Nikon, rencana akan dilepas di kisaran harga 4 jutaan, atau sekitar 1 juta lebih murah dari lensa Nikon AF-S 70-300mm VR. Lensa ini memiliki 17 elemen yang tersusun dalam 12 grup, meski secara optik mungkin lensa Nikon masih lebih superior, namun secara fitur bisa dibilang semua kemampuan lensa Nikon bisa disamai oleh lensa Tamron ini.

Cara kerja VC
Cara kerja VC (credit : Tamron)

Beberapa fitur unggulan lensa ini diantaranya :

  • memakai stabilizer optik (VC-Vibration Compensation) dengan tiga koil yang diklaim sanggup bekerja hingga 4 stop
  • memakai motor fokus bertipe USD (Ultrasonic Silent Drive) yang bukan hanya cepat dan bersuara halus dalam mengunci fokus, namun juga memungkinkan dilakukannya manual fokus langsung dengan memutar ring fokus tanpa memindah tuas AF-MF
  • memakai sistem internal focusing sehingga tidak ada elemen depan lensa yang berputar saat mencari fokus
  • bisa dipakai untuk DSLR APS-C maupun DSLR full frame
  • memakai elemen lensa XLD (Extra Low Dispersion) untuk kontras dan ketajaman yang prima
  • tersedia jendela focusing scale untuk membantu mengukur jarak terhadap obyek yang difoto

Tak dipungkiri satu fitur yang paling mengesankan dari lensa Tamron 70-300mm ini adalah motor USD. Inilah kali pertama Tamron melengkapi lensanya dengan motor ini, dan inilah yang membedakan Tamron 70-300mm dengan pesaingnya Sigma 70-300mm yang hanya dilengkapi dengan motor biasa. Dikutip dari web resmi Tamron, fitur USD bekerja seperti ini :

Tamron’s USD works with high-frequency ultrasonic vibrations which are produced by a ring called a ‘stator’. Energy from the vibrations is used to rotate an attached metallic ring known as a ‘rotor’. Piezoelectric ceramic, an element that produces ultrasonic vibrations when voltage of a specific frequency is applied is arranged in a ring formation on the stator. This electrode configuration of piezoelectric ceramic causes two ultrasonic vibrations to occur in the stator.

By effectively combining these two ultrasonic vibrations, it is possible to convert the energy from the vibrations that produced simple motion into energy known as ‘deflective traveling waves’, which then moves around the circumference (rotation direction) of the ring.

With the USD, the friction between these deflective traveling waves created on the metallic surface of the stator and the surface of the rotor produce force, causing the rotor to rotate. The focusing ring of the lens, which is linked to the rotor, is thus moved, creating a fast and smooth auto-focus drive.

Kami menantikan hadirnya produk ini di pasaran dan penasaran dengan kualitas optiknya dan kinerja fitur USD dan VC-nya. Tapi diatas kertas inilah lensa tele yang paling sarat fitur yang pernah dibuat oleh produsen lensa alternatif.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilihan lensa ekonomis untuk DSLR pemula

Banjirnya produk DSLR pemula (entry level) telah membawa perubahan pada segmentasi pembeli kamera digital. Bila dahulu mereka yang punya DSLR kebanyakan adalah para fotografer yang sudah punya koleksi lensa lama, maka kini banyak pemilik DSLR (pemula) yang baru pertama kali bergabung di dunia DSLR. Dengan demikian, umumnya kelompok ini barulah berkenalan dengan satu macam lensa, yaitu lensa kit yang disediakan dalam paket penjualan. Kalaupun sedang berencana membeli DSLR, adakalanya mereka bingung apakah akan membeli DSLR plus lensa kit ataukah DSLR body-only.

lensaSebelum membahas lebih jauh, kami luruskan dahulu bahwa lensa kit yang umum dijadikan paket penjualan DSLR adalah lensa zoom dengan rentang fokal yang setara dengan 28-85mm, dengan bukaan f/3.5-5.6 dan berbahan plastik. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan lensa kit semacam ini. Harga jualnya yang tergolong murah tidak berarti lensa kit memakai elemen optik murahan. Harga murah karena desain lensa kit ini memakai bukaan variabel (tidak konstan) yang tergolong kecil, pemakaian material bodi dan mounting dari bahan plastik, dan minimnya fitur profesional seperti distance marking skale. Namun lensa kit masa kini sebagian sudah dilengkapi dengan fitur yang bermanfaat seperti motor fokus dan stabilizer optik.

Bila  anda sedang mempertimbangkan lensa lain selain lensa kit, atau saat anda hanya ingin membeli DSLR body only dan perlu mencari lensa ekonomis yang bisa diandalkan, berikut kami hadirkan beberapa jenis lensa ekonomis dengan harga dibawah 5 juta, sebagai bahan pertimbangan anda.

Lensa fix/prime

Lensa dengan fokal tetap memang jadi unggulan utama karena ketajaman dan bokehnya yang tak tertandingi oleh lensa zoom, maka itu wajar bila ada yang menganggap lensa prime merupakan lensa wajib untuk fotografer. Selain itu lensa fix jauh lebih murah bila dibanding dengan lensa zoom, karena hanya memiliki sedikit komponen optik. Namun memakai lensa fix tentu perlu banyak ekstra usaha untuk berganti komposisi karena anda tidak bisa bermain zoom. Fokal lensa fix yang cukup populer adalah lensa prime dengan fokal ‘normal’ 50mm, meski ada juga fix yang wide hingga fix yang (sangat) tele. Meski demikian, untuk urusan potret wajah, anda bisa memilih lensa fix dengan fokal berapapun asal diatas 35mm (dibawah 35mm sudah tergolong wideangle yang kurang cocok untuk potret wajah karena efek distorsi lensa).

Contoh lensa prime 50mm f/1.8
Contoh lensa prime 50mm f/1.8

Lensa fix yang populer karena harganya adalah lensa normal (sekitar 50mm) dengan bukaan berkisar antara f/1.8 hingga f/2.8 karena secara ukuran bukaan diafragma sudah cukup besar (atau biasa disebut lensa cepat) sehingga sudah sangat handal dipakai di kondisi low-light, meski bukaannya tentu tidak sebesar lensa fix kelas mahal seperti f/1.4 apalagi f/1.2.

Pilihan lensa prime normal dengan harga terjangkau diantaranya :

  • Canon EF 50mm f/1.8 II (1 jutaan)
  • Nikon AF 50mm f/1.8 (1 jutaan – tidak bisa auto fokus bila dipakai di D40-D5000)
  • Nikon AF-S 35mm f/1.8 DX (3 jutaan, bisa autofokus di D40-D5000)
  • Sony SAL 50mm f/1.8 DT (2 jutaan)
  • Pentax DA 40mm f/2.8 (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 35mm f/3.5 macro

Lensa zoom – tele

Bila seseorang telah memiliki sebuah lensa kit, umumnya telah merasakan kurangnya kemampuan telephoto dari lensa kit yang memang terbatas. Maka itu untuk memenuhi hasrat ingin menjangkau lebih jauh, pemilik DSLR plus lensa kit lalu mencari lensa kedua yang berjenis lensa zoom tele. Lensa zoom tele artinya lensa zoom dengan variabel fokal yang berkisar di rentang tele, biasanya dimulai dari 50mm hingga 400mm. Tidak semua lensa tele itu berjenis lensa zoom, ada juga lensa tele yang fix di suatu fokal tertentu, misal 500mm. Dalam hal ini kami pilihkan lensa zoom tele supaya praktis dan sekaligus kami pilihkan yang harganya juga terjangkau. Diantara beberapa pilihan lensa zoom tele, rentang yang dianggap cukup ekonomis adalah rentang 50-200mm dan 70-300mm.  Lensa zoom semacam ini punya bukaan diafragma yang variabel sehingga bisa dijual lebih murah dan ukurannya lebih kecil, bedakan dengan lensa zoom tele yang punya bukaan konstan f/2.8 atau f/4 yang berukuran besar dan harganya mahal.

Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)
Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)

Pilihan lensa zoom tele ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS (2,5 jutaan)
  • Nikon AF-S 55-200mm f/4-5.6 VR (2,5 jutaan)
  • Pentax DA 50-200mm f/4-5.6 ED (2,5 jutaan)
  • Sony SAL 55-200mm f/4-5.6 DT (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 40-150mm f/4-5.6 (2,5 jutaan)
  • Sigma APO 70-300mm f/4-5.6 DG macro (3 jutaan)
  • Tamron AF 70-300mm f/4-5.6 Di LD (2,5 jutaan)

Lensa zoom – all-round

Lensa zoom all-round atau all in-one diterjemahkan sebagai lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang efektif untuk segala keperluan dari wide hingga tele. Tak seperti lensa kit yang zoomnya umumnya pendek (3x), lensa zoom all-round dirasa lebih praktis dan lebih panjang (5-10x). Praktis karena cukup punya satu lensa sehingga mengurangi frekuensi berganti lensa hanya untuk mendapat fokal tertentu (apalagi bila sering berganti lensa beresiko masuknya debu ke dalam sensor), meski secara optik tentu semakin panjang zoom lensa maka ketajamannya juga akan semakin menurun. Meski tidak ada aturan baku, lensa zoom all-round ini biasanya bermula dari 18, 24 atau 28mm dan berakhir di 100 hingga 200mm. Bila anda memilih membeli lensa zoom all-round, maka lensa kit yang sudah anda miliki bisa dijual saja.

Kekurangan lensa zoom semacam ini adalah masalah bukaan lensa yang tidak mungkin dibuat besar dan konstan. Sebagai konsekuensi dari rumitnya susunan optik didalam lensa, maka desain aperture di dalam lensa semacam ini umumnya bermula dari f/3.5 di posisi wide-end dan mengecil hingga f/6.3 di posisi tele-end. Maka itu lensa ini biasa disebut dengan lensa lambat, dan tidak cocok dipakai di daerah kurang cahaya.

Lensa all-around Pentax 18-250mm
Lensa all-around Pentax 18-250mm

Pilihan lensa zoom all-round yang cukup terjangkau diantaranya :

  • Canon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS baru (4 jutaan)
  • Nikon AF-S 18-105mmf/3.5-5.6 DX VR (3.5 jutaan)
  • Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 (3 jutaan)
  • Sigma 18-200mm f/3.5-6.5 DC OS (4 jutaan)

Adapun lensa zoom all-round lain yang dijual di kisaran 5 hingga 10 juta, bagi sebagian orang masih tergolong ekonomis meski tak dipungkiri bagi sebagian lainnya sudah tergolong mahal. Padahal banyak lensa-lensa berkualitas di kisaran harga ini, maka sebagai bonus kami sampaikan juga beberapa produk lensa yang mungkin menarik minat anda bila dananya mencukupi :

  • Canon : EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (7 jutaan), EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM (6 jutaan)
  • Nikon : AF-S 18-200mm f/3.5-5.6 VR (8 jutaan), AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR (6 jutaan)
  • Olympus : Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5 II (6,5 jutaan),  Zuiko ED 12-60mm f/2.8-4.0 SWD (9,5 jutaan)
  • Pentax : DA 18-250mm f/3.5-6.3 ED SMC (6 jutaan)
  • Sony : 18-200mm f/3.5-6.3 DT (6 jutaan), SAL 16-105mm f/3.5-5.6 DT ( 7 jutaan)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alternatif lensa makro ekonomis dari Tamron

Terobosan baru dilakukan oleh produsen lensa Tamron dengan meluncurkan lensa makro dengan bukaan ekstra besar, bernama SP AF60mm f/2 Di II LD (IF) MACRO 1:1 yang punya bobot cukup ringan, 400 gram saja. Lensa 1:1 yang didesain untuk DSLR APS-C ini punya tiga tipe mounting yaitu mounting Canon, Nikon (ada motornya) dan Sony. Keunggulan utama lensa ekonomis ini tentu adalah bukaan maksimalnya yang ekstra besar yaitu f/2.0 atau satu stop lebih besar dari pesaing yang umumnya di f/2.8 sehingga cocok dipakai di saat low light.

tamronmacro2-302x400
Tamron 60mm f/2.0

Berikut fitur lensa Tamron 60mm f/2.0 ini dikutip dari siaran persnya :

  • Medium telephoto 1:1 life-size macro lens featuring a fast maximum aperture of F/2.0 that strikes a fine balance between attractive out-of-focus effects and sharpness
  • Employment of special low-dispersion glass elements
  • Working distance of 100mm, the longest distance among lenses in this class
  • Meticulous countermeasures against ghosting and flare

Adapun sistem mekanik di dalam lensa ini :

  • Lightweight and compact macro lens boasts f/2.0 fast maximum aperture
  • Internal focusing system for enhanced ease of use
  • Full-time manual control mechanism
  • Simple and attractive outer design

Berikut spesifikasi mendasar lensa ini :

  • Focal Length – 60mm
  • Maximum Aperture -f/2.0
  • Angle of View (diagonal) – 26 degrees and 35 minutes (APS-C size equivalent)
  • Optical Construction – 14 elements in 10 groups
  • Minimum Focusing Distance – 0.23m (9.1in.)
  • Max. Magnification Ratio – 1:1
  • Minimum Working Distance – 100mm (3.94in.)
  • Filter Diameter – 55mm
  • Overall Length – 80mm (3.15in.)
  • Maximum Diameter – 73mm (2.9in.)
  • Weight – 400g (14.1oz.)
  • Diaphragm Blade Number – 7
  • Minimum Aperture – F/22
  • Standard Accessory – Lens Hood
  • Compatible Mounts – For Canon, Nikon (with built-in AF motor) and Sony

Dengan memiliki lensa ini, pemakai DSLR APS-C seperti Canon EOS 500D atau 50D, Nikon D5000, D90 hingga D300 atau Sony (selain A900) akan mendapatkan lensa makro kemampuan 1:1 yang ringan dan kecil, dan sekaligus mendapat lensa fix 60mm (equiv. 90mm) yang cocok untuk potret berkat bukaannya f/2.0 dengan bokeh yang tentunya juga baik. Cukup punya satu lensa, bisa buat makro, juga buat potret kan? Bahkan urusan low-light juga lensa ini bakal punya kinerja hampir sama dengan lensa 50mm f/1.8, misalnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..