Lensa sapu jagad ambisius : Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro

Walaupun enaknya memotret dengan kamera DSLR (atau mirrorless) adalah bisa berganti-ganti lensa, tapi ada juga orang yang lebih tertarik kalau bisa pakai satu lensa saja yang bisa mencakup kebutuhan wide sampai tele. Bagi mereka, lensa superzoom atau sapu jagad memang jadi opsi yang lebih cocok, apalagi kalau dibawa travelling. Lensa DSLR memang jarang yang punya rentang zoom panjang, bahkan dulu 18-200mm sudah tergolong istimewa. Tapi kini batasan itu mulai dilampaui, seperti lensa Sigma 18-270mm, Nikon 18-300mm yang bisa menjangkau lebih tele dari 200mm. Tapi Tamron yang baru muncul ini keren, fokal terpendeknya bisa mencapai 16mm yang relatif lebar (ekivalen 24mm di sensor APS-C). Rasio zoomnya adalah 18,8x yang sepertinya memecahkan rekor untuk lensa superzoom saat ini.

Berikut penampakan lensa Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro :

tamron-16-300mm-f35-63g-di-ii-vc-pzd-macro-lens

Didalam lensa seharga 7 juta ini tersusun atas tiga elemen lensa Molded-Glass Aspherical, sebuah elemen lensa Hybrid Aspherical, dua elemen lensa LD (Low Dispersion), sebuah elemen lensa XR (Extra Refractive index) dan satu elemen baru yaitu UXR (Ultra-Extra Refractive Index) yang punya indeks refraksi lebih tinggi dari XR, dan bisa membuat ukuran lensa jadi lebih kecil.

Opini kami :

  • alternatif menarik dibanding Nikon 18-300mm bila tujuannya ingin lensa yang lebih terjangkau
  • dengan fokalnya yang cukup wide (16mm setara 24mm) menarik untuk dipakai memotret pemandangan dan interior
  • value produk sudah oke, karena ada VC (penstabil getaran), motor fokus PZD (halus dan cepat) serta bisa makro-makroan (1:2,9 dengan MFD 40cm)
  • kualitas optik termasuk standar, lensa sapu jagat tidak didesain untuk mengoptimalkan kualitas hasil tapi kepraktisan
  • desain baru lensa Tamron ini terlihat lebih pro, balutan warna hitam, tekstur dan gelang zoom – fokus desain baru
  • Tamron berhasil membuat lensa yang berukuran kecil (panjangnya 10cm) dan bobot ringan (1/2 kg) – setara dengan lensa Nikon 18-300mm generasi kedua
  • lensa ini cocok untuk all round lens, praktis buat jalan-jalan dan foto harian
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alternatif lensa kit standar untuk kamera DSLR

Setiap kamera digital dijual dengan dua opsi pilihan : body only atau dipaketkan dengan lensa kit. Kebanyakan kamera DSLR ekonomis adalah sudah paket plus lensa kit, bahkan ada yang dobel kit (tambah lensa tele). Lensa kit yang dipaketkan beragam jenisnya, walau umumnya punya kesamaan ciri yaitu lensa kecil dengan jenis standar zoom, rentang fokal 18-55mm dan bukaan f/3.5-5.6 plus anti getar (VR/IS dsb).

Di artikel terdahulu kami pernah membahas tentang plus minus lensa kit, yang bisa jadi ada hal-hal yang membuat kita kurang puas saat memakainya. Saat itulah mungkin kita akan bertanya-tanya, apakah lensa ini mau tetap dipakai atau diganti. Bila memang ingin mencari lensa lain untuk menggantikan lensa kit, berikut kami sajikan beberapa alternatif yang bisa anda baca :

Lensa sapu jagat

Lensa dengan istilah yang unik ini maksudnya adalah lensa superzoom, dengan fokal yang serba-bisa dari wide (misal 18mm) hingga tele (misal 200mm atau bahkan 300mm). Dengan satu lensa ini saja kita bisa maksimalkan untuk berbagai kebutuhan seperti pemandangan, liputan, potret maupun candid. Pilihan yang umum biasanya Canon EF-S 18-200mm (gambar di bawah ini), Nikon AF-S 18-200mm (dan kini ada juga yang 18-300mm), lalu ada Sigma dan Tamron juga bisa dicoba (misal 18-250mm). Semua lensa di kategori ini semestinya sudah dilengkapi dengan fitur anti getar karena fokal telenya akan rawan getaran tangan saat memotret.

canon-ef-s-18-200mm-f35-56-is

Kekurangan lensa ini adalah harganya cukup tinggi (6-10 jutaan) dan ukurannya cukup besar. Saat memakai fokal paling tele, lensa ini bisa memanjang sampai 2x lipat. Selain itu kualitas optiknya juga pas-pasan, walau bukan berarti jelek.

Lensa all-around

Lensa kategori ini hampir sama dengan lensa sapu jagat, tapi rentang fokalnya lebih pendek khususnya dalam hal kemampuan telenya. All-around juga bisa diartikan lensa serba guna (general purpose), yang mencakup dari wide (18mm) hingga agak tele (misal 70mm). Lensa dengan fokal seperti ini cocok untuk pemandangan hingga potret, tapi bukan untuk kebutuhan tele yang jauh. Lensa ini harganya lebih terjangkau dibanding lensa sapujagat/superzoom, di kisaran 4-6 jutaan dan kualitas optiknya relatif bagus. Fitur anti getar umumnya sudah disematkan di lensa kategori all-around.

nikon-nikkor-16-85mm-vr

Kenapa lensa semacam ini dipilih untuk menggantikan lensa kit, alasan utamanya adalah dalam hal kualitas bodinya. Lensa di kelas ini punya bodi yang lebih mantap, mount logam, motor fokus yang lebih handal dan manual fokus yang lebih nyaman. Pilihan di kelas ini adalah Canon EF-S 15-85mm, Nikon AF-S 16-85mm (contoh gambar di atas) dan Sigma 17-70mm DC. Kekurangan lensa ini adalah, bila kekampuan telenya belum membuat anda puas, anda akan perlu membeli satu lensa khusus tele zoom seperti 70-300mm.

Lensa standar bukaan besar

Lensa di kelas ini punya ciri bukaan maksimumnya besar (f/2.8) dan konstan (dari wide hingga tele bukaan maksimumnya tetap besar). Jangan heran karena itulah harga lensa seperti ini bisa berkali-kali lipat dari harga lensa kit (asumsi harga lensa kit adalah 2 juta). Nikon misalnya, punya lensa AF-S 17-55mm f/2.8 yang harganya diatas 10 juta, demikian juga dengan Canon. Alternatif hemat ada Sigma 17-50mm f/2.8 seharga 6 juta dan dari Tamron di kisaran 4 juta. Paling terjangkau adalah Tamron AF 17-50mm f/2.8 non VC yang dijual dibawah 3 juta, seperti gambar di bawah ini :

tamron-17-50mm

Keuntungan lensa ini adalah bukaan besar bisa membantu mendapat foto yang terang walau cahaya kurang, lalu bisa dapat bokeh yang lebih blur dan kualitas optiknya relatif paling baik dibanding lensa sekelasnya. Maka itu lensa seperti ini sering dipakai untuk liputan khususnya wedding. Kekurangannya adalah harganya mahal dan rentang fokalnya cukup pendek (hanya sampai 55mm) jadi persis sama dengan lensa kit 18-55mm.

Kesimpulan

Lensa kit, seperti lensa 18-55mm f/3.5-5.6 pada dasarnya sudah mencukupi untuk berbagai kebutuhan fotografi sehari-hari, ditinjau dari fokal, bukaan dan kualitas optik. Tapi saat kita ingin mengganti lensa kit itu, pilihan terbagi tiga skenario :

  • mengutamakan rentang fokal (supaya cukup bawa satu lensa) : pilih lensa super zoom
  • mencari lensa ‘tengah-tengah’ (dari rentang fokal, harga dan kualitas) : pilih lensa all round
  • mengutamakan bukaan besar (atau bisa juga karena mengutamakan hasil foto) : pilih lensa standar bukaan besar

manapun yang anda pilih, ketiga kelompok ini memiliki kesamaan di rentang fokal yang standar yaitu mulai dari 16/17/18mm hingga suatu nilai tele tertentu. Perlu diingat adakalanya kita juga butuh lensa wide yang lebih lebar misal 10mm hingga 16mm (kategori ultra-wide), adakalanya kita juga perlu lensa dengan bukaan ekstra besar (misal f/1.8) sehingga perlu juga punya lensa fix (prime). Kesamaan lainnya adalah semua lensa di sini didesain khusus kamera DSLR dengan sensor APS-C, yaitu dengan diameter bidang gambar yang lebih kecil dari sensor full frame. Kami tidak mengulas lensa berjenis full frame, walau boleh-boleh saja anda beli lalu dipasang di kamera APS-C anda, misal lensa Canon 17-40mm f/4 L (yang sejatinya adalah lensa wide untuk DSLR Canon full frame).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa makro 180mm f/2.8 dari Sigma

Sigma menorehkan sejarah dengan membuat lensa makro pertama dan satu-satunya di dunia dengan fokal fix 180mm dan bukaan maksimum f/2.8 yang sudah dilengkapi dengan stabilizer optik. Setelah diumumkan awal tahun ini, kini Sigma merilis harga resmi untuk lensa APO Macro 180mm f/2.8 EX DG OS HSM yaitu sekitar 16 juta rupiah. Meski bukan termasuk lensa zoom, lensa ini tersusun atas banyak elemen lensa, yaitu 19 elemen dalam 14 grup. Lensa semacam ini akan sangat disukai pecinta makro (1:1) maupun yang perlu lensa telefoto.

sigma-180mm_f28_os_macro

Sedikit gambaran spek lensa besar ini, diantaranya memakai 9 bilah diafragma, bukaan minimum f/22, kompatibel dengan DSLR full frame, diameter filter 86mm dan panjang keseluruhan adalah 20 cm. Lensa ini juga kompatibel dengan teleconverter 1,4x dan 2x bila ingin menambah kemampuan telenya. Belum ada info mount apa saja yang sudah didukung lensa ini, tapi kemungkinan baru mount Canon EF dan Nikon AF yang lebih dulu didukung.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon 1, sistem kamera mini baru dari Nikon

Setelah lama ditunggu, akhirnya Nikon memutuskan untuk ikut terjun di dunia kamera miniatur DSLR alias kamera mirrorless, menyusul langkah Olympus, Panasonic, Sony, Samsung dan Pentax yang lebih dahulu hadir. Hal ini menepis anggapan kalau Nikon tidak akan mau membuat kamera mirrorless karena sudah nyaman dengan penjualan kamera DSLR mereka. Untuk langkah awal Nikon meluncurkan format baru bernama Nikon 1 dengan diawali oleh dua tipe kamera yaitu Nikon V1 dan Nikon J1 dengan lensa yang tentunya bisa dilepas. Seperti apa kamera Nikon 1 ini? Simak selengkapnya.

Inilah spesifikasi dasar dari kamera Nikon mirrorless yang baru saja diluncurkan :

  • nama : Nikon 1
  • format kamera : mirrorless (tanpa cermin seperti di DSLR)
  • pilihan produk : J1 (kamera saku ekonomis) dan V1 (kamera saku premium)
  • nama mount lensa : Nikon CX
  • jenis sensor : CMOS
  • ukuran sensor : 13.2 x 8.8mm
  • crop factor : 2,7x
  • lensa kit : 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm)
  • lensa lain yang sudah tersedia : Lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm dan lensa 10-100mm VR (setara 28-280mm).

Nikon 1 hadir dengan mengisi celah antara kamera mirrorless bersensor Four Thirds (sensor besar) dan kamera Pentax Q (sensor kecil). Dari ukuran sensor yang dipilih Nikon, dihasilkan crop factor yang baru yaitu 2,7x bernama Nikon CX sehingga untuk mendapatkan lensa yang punya rentang fokal 28-80mm Nikon harus membuat lensa sangat wide yaitu 10-30mm. Padahal kubu Four Thirds yang punya 2x crop factor saja kesulitan untuk membuat lensa wide. Maka format CX ini memang lebih cocok untuk rentang fokal tele, terbukti lensa tele yang setara dengan 80-300mm cukup diwujudkan dengan membuat lensa 30-110mm saja. Keuntungan sensor Nikon 1 adalah memungkinkan untuk dibuat lensa yang berukuran lumayan kecil, seperti gambar di atas. Bandingkan dengan format Sony NEX yang lensanya saja sudah besar.

Ukuran sensor Nikon 1 yang lebih besar dari sensor kamera saku (lihat gambar di atas) bisa membawa keuntungan lain yaitu semestinya sanggup memberi hasil foto yang relatif bersih dari noise di ISO menengah (sampai dengan ISO 400). Setidaknya ISO 800 bisa dipakai bila terpaksa, dengan noise yang masih bisa ditolerir. Sebagai pembanding, kamera saku akan mulai noise di ISO 200, sedangkan kamera DSLR mulai noise di ISO 800. Tapi sensor Nikon 1 masih kurang memadai untuk mendapatkan kesan foto yang namanya bokeh atau latar belakang yang blur, meski memakai bukaan besar sekalipun.

Lalu untuk siapa Nikon membuat kamera mirrorless ini? Pada dasarnya bukan hal yang mudah untuk meminta para fotografer beralih dari DSLR ke kamera mirrorless. Alasan utama adalah harga kamera mirrorless yang bahkan masih lebih mahal dari kamera DSLR pemula. Alasan lain adalah kurangnya pilihan lensa dan tidak semua orang rela meninggalkan kenyamanan mengintip melalui jendela bidik optik. Nikon sadar betul akan hal itu dan dari awal tidak menargetkan para pecinta DSLR Nikon untuk memiliki Nikon 1. DSLR Nikon ditujukan untuk mereka yang hobi fotografi sampai fotografer kelas pro, sedang Nikon 1 lebih diposisikan sebagai pengisi celah antara kamera saku dan DSLR. Maka itu Nikon 1 akan disukai oleh mereka yang tidak ingin memiliki DSLR (mungkin karena ukurannya atau karena tidak ingin pusing memilih lensa), mereka yang mencari kamera kecil yang lensanya bisa dilepas namun hasilnya tetap memenuhi standar, atau mereka yang ingin memanfaatkan kameranya untuk foto maupun video namun mudah digunakan (point and shoot).

Bila anda ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga baru Nikon ini, berikut kami sampaikan juga spesifikasi keduanya :

Nikon J1

  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF (hybrid-dengan deteksi fasa dan deteksi kontras) tercepat di dunia
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret
  • dijual seharga 6 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :

  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat built-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret
  • dijual seharga 8 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Pemilik flash Nikon tampaknya harus gigit jari karena untuk bisa memasang flash di Nikon V1 perlu membeli lampu kilat SB-N5 seharga 1 jutaan yang bisa dipasang di Accesory Port. Untungnya flash SB-N5 ini serba bisa, yaitu berfungsi sebagai flash dan LED untuk rekam video. Kepala flashnya juga bisa diputar kiri kanan maupun ke atas bawah untuk teknik bouncing / menembakkan flash ke langit-langit. Uniknya, meski flash ini adalah eksternal namun tidak memiliki baterai sehingga dalam bekerja dia mengambil daya dari baterai yang ada di kamera.

Semuanya kembali ke pasar. Pasarlah yang akan menentukan apakah Nikon 1 akan sukses atau gagal. Dengan harga jualnya, kita bisa memilih DSLR kit seperti Nikon D5100 atau mirrorless lain seperti Lumix GF-3 atau Olympus E-PL3. Persaingan bakal ketat, tapi Nikon bukan tanpa persiapan untuk terjun di dunia baru ini. Nikon bahkan sudah mempersiapkan berbagai lensa dan aksesori khusus untuk format ini. Kalaupun Nikon 1 akan gagal, setidaknya Nikon sudah mencoba mengisi semua segmen mulai dari kamera saku, kamera DSLR dan kamera mirrorless. Bagaimana dengan sikap yang akan diambil Canon sebagai pesaing Nikon, apakah juga akan berani membuat kamera mirrorless

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fokal lensa, Picture angle dan Perspektif

Perhatikan saat memakai lensa zoom, betapa banyaknya orang yang tidak peduli pada berapa fokal lensa yang sedang dipakainya. Dia hanya memakai lensa pada posisi paling wide, lalu bila dirasa kurang dekat dia melakukan zooming sehingga obyek tampak mendekat. Jangan heran kalau foto yang dihasilkan oleh orang semacam ini juga biasa-biasa saja, bahkan bisa nampak tidak alami karena distorsi lensa. Jangan-jangan kita juga seperti itu, bahkan kita belum mengetahui apa kaitan antara fokal lensa, bidang gambar dan persepektif? Jangan kuatir, artikel ini mencoba menjelaskannya untuk anda.

Fokal lensa

Sudah menjadi hal yang umum apabila sebuah kamera memiliki lensa zoom yang panjang fokalnya bisa berubah-ubah.  Fokal lensa sendiri berhubungan langsung dengan picture angle (sudut gambar) dimana fokal yang pendek biasa disebut dengan wideangle, sehingga biasa disebut lensa wide, sedang fokal panjang biasa disebut telephoto, sehingga biasa disebut lensa tele. Kita tahu kalau keuntungan dari lensa wide adalah kemampuan membuat foto dengan bidang gambar yang lebar, terkesan luas dan punya sudut gambar yang besar, sedang lensa tele punya keuntungan akibat sudut gambarnya yang sempit sehingga bisa mengambil foto yang berada jauh menjadi  tampak dekat.

Selain lensa zoom, kita mungkin pernah mencoba lensa fix atau lensa dengan fokal yang tetap. Banyak lensa fix yang cukup populer semisal lensa 50mm, atau lensa fix yang wide seperti 28mm, atau lensa fix yang tele seperti 105mm. Lensa fix punya keuntungan dalam kualitas optik, biaya produksi yang lebih murah serta ukuran yang lebih kecil. Tapi memotret memakai lensa fix agak lebih repot dibanding memakai lensa zoom karena kita hanya punya satu picture angle yang tetap. Bila obyek yang akan difoto terlalu dekat maka kitalah yang harus mundur, bila obyek yang difoto masih tampak terlalu jauh maka kita harus melangkah mendekati obyek.

Picture angle

angle_of_view

Picture angle atau sudut gambar hanyalah istilah yang mewakili luasnya area bidang yang bisa diambil oleh kamera atau lensa. Semakin luas bidang gambar maka semakin lebar sudut gambarnya. Lensa wide akan menghasilkan gambar dengan sudut lebar. Sebaliknya semakin sempit bidang gambar maka semakin sempit sudut gambarnya. Sudut sendiri seperti biasa dinyatakan dalam derajat.

Sebuah lensa zoom, misal 28-105mm, dengan mudah kita mengatakan kalau lensa ini mampu dipakai untuk mengambil foto dengan fokal wide 28mm hingga tele 105mm. Namun kita juga bisa mengatakan kalau lensa ini memiliki sudut gambar yang bisa dirubah mulai dari sudut lebar (sekitar 65 derajat) hingga sudut yang sempit (sekitar 19 derajat). Memiliki satu lensa zoom seperti ini dirasa praktis dan mampu menggantikan beberapa lensa fix seperti 28mm, 35mm, 50mm, 85mm dan 105mm. Inilah alasan mengapa lensa zoom begitu populer, meski secara kualitas optik masih kalah dibanding dengan lensa fix.

Perspektif

Kalau anda serius ingin mendalami fotografi, memahami lensa dari sisi fokal dan picture angle saja masih kurang lengkap. Ada satu dampak nyata dalam fotografi terkait fokal lensa yaitu perspektif (dan efek sampingnya yang dinamakan distorsi). Perspektif adalah bagaimana kesan yang dihasilkan oleh obyek dan latar relatif terhadap jaraknya ke kamera. Inilah yang sering diabaikan, dilupakan bahkan tidak diketahui sebagian dari kita dalam memakai lensa zoom (pemakai lensa fix biasanya sudah mengerti soal perspektif).

focal_lengthCoba perhatikan gambar di sebelah kanan. Ketiga foto ini nampak sama, ada botol merah sebagai obyek utama, ada botol biru sebagai latar dan sepintas komposisinya nampak hampir sama. Lalu apa  yang membedakan ketiga foto disebelah ini? Fokal lensanya? Betul. Foto yang atas diambil memakai fokal 18mm, yang tengah memakai 34mm dan yang bawah 55mm. Tapi ada satu perbedaan utama yang nampak sebagai akibat dari pemakaian fokal yang berbeda itu, jawabannya adalah perspektif.

Apakah anda menyadari kalau ketiga foto disebelah ini diambil dengan jarak yang berbeda antara obyek terhadap kamera? Foto pertama memaksa kamera untuk berada sangat dekat dengan obyek, foto kedua membuat kamera bergeser agak mundur menjauhi obyek dan foto ketiga adalah foto dimana obyek dan kamera berada di jarak yang terjauh. Ketiganya memberikan perspektif yang berbeda.

Perhatikan, dengan memakai 18mm maka obyek akan relatif nampak lebih besar dari latar (botol biru nampak sangat kecil) sehingga bisa memicu kesalahpahaman akan kenyataan sebenarnya. Lagipula dengan memakai lensa lebar akan menghasilkan distorsi (lihat botol merah tampak miring). Dengan fokal 34mm mulai didapat perspektif yang lebih baik dan distorsi yang semakin kecil. Pada fokal 55mm didapatlah perspektif yang alami dan tanpa distorsi. Inilah mengapa lensa fix 50mm atau 55mm begitu populer, karena memiliki perspektif normal dan tanpa distorsi.

Jadi intinya adalah, lensa zoom dibuat untuk kemudahan kita dalam berganti sudut gambar, guna mendapatkan perspektif yang sesuai keinginan kita. Lensa zoom bukan untuk membuat orang malas bergerak sehingga lebih suka memakai zoom untuk mendekatkan yang jauh saja. Sebelum memotret, pikirkan dulu obyek apa yang akan kita foto (pemandangan, human interest atau benda yang jauh) lalu tentukan fokal berapa yang akan kita pakai, dan antisipasilah perspektif yang akan terbentuk nantinya. Jangan segan untuk maju mundur untuk bereksplorasi dengan perspektif, anda bisa memotret orang dengan jarak dekat memakai fokal yang wide untuk mendapat perspektif yang unik atau bisa saja memotret orang dari jarak jauh dengan fokal tele untuk mendapat perspektif normal, terserah anda. Satu lagi contoh mengenai berbagai fokal lensa dan perspektif yang dihasilkan :

perspektif




Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon luncurkan lensa DX 55-300mm VR

Seiring dengan peluncuran DSLR Nikon D3100, Nikon juga meluncurkan empat lensa baru, tiga diantaranya berformat FX dan satu DX. Lensa DX yang diluncurkan kali ini masuk ke kelompok lensa tele-zoom murah meriah yang bernama AF-S DX 55-300mm f/4.5-5.6 ED VR. Rentang fokal yang ditawarkan memang cukup mengesankan dengan total zoom 5,5x zoom. Sebagai info, sebelumnya Nikon sudah punya lensa tele murah yang populer yaitu AF-S 55-200mm dan lensa tele FX yaitu AF-S 70-300mm. Bagaimana posisi lensa ini diantara dua lensa lain yang lebih dahulu ada, simak tinjauan kami selengkapnya.

Perbedaan antara AF-S 55-200mm dan AF-S 70-300mm cukup jelas. Selain berbeda harga (2 jutaan vs 4 jutaan), rentang fokal keduanya juga berbeda. Namun ingat kalau AF-S 55-200mm adalah lensa DX sedangkan AF-S 70-300mm adalah lensa FX. Bila lensa 55-200mm dipasang di kamera DX (seperti D40 sampai D300) maka fokal efektif lensa tersebut akan setara dengan 82.5-300mm sehingga hampir sama dengan lensa 70-300mm yang dipasang di kamera FX (misal D700 atau D3). Masalahnya adalah, banyak dari pemakai kamera Nikon DX yang ingin merasakan kemampuan tele zoom yang lebih dari 200mm, sehingga mereka ‘terpaksa’ membeli lensa 70-300mm hanya demi bisa merasakan kemampuan tele 300mm (450mm eqiv.).  Padahal lensa AF-S 70-300mm ini selain punya dimensi yang panjang (14 cm) juga berat (740 gram) bandingkan dengan lensa AF-S 55-200mm (10 cm, 330 gram).

nikkor-55-300mm-f4_5-5_6

Hadirnya lensa Nikon AF-S 55-300mm VR ini menjadi solusi bagi anda yang mencari lensa DX dengan kemampuan tele yang lebih dari 200mm, tanpa memberatkan anda saat membawanya. Mengapa? Karena lensa ini hanya memiliki panjang 12cm dan berat 500 gram, benar-benar berada diantara lensa 55-200mm dan 70-300mm. Rahasia dibalik ukurannya yang mungil adalah digunakannya elemen lensa High Refractive Index (HRI) yang mampu menjaga dimensi lensa keseluruhan tetap ringkas.

af-s-55-300-mtf

Sepintas lensa 55-300mm ini tidak banyak berbeda dengan lensa 55-200mm, baik dalam segi desain maupun fitur. Keduanya tergolong lensa zoom lambat (bukaan kecil) yang tidak cocok dipakai dalam kondisi low-light dan keduanya menempatkan ring fokus di bagian depan lensa yang menyulitkan untuk manual fokus. Tapi jangan kecewa dulu, karena hal-hal tadi memang wajar untuk lensa semurah ini. Sekarang kami paparkan hal-hal istimewa yang tak semestinya dijumpai di lensa yang murah ini :

  • memiliki elemen lensa sebanyak 17 elemen yang tersusun atas 11 grup (2 diantaranya lensa ED dan 1 lensa HRI)
  • memakai teknologi VR generasi ke-II yang diklaim mampu bekerja hingga 4 stop
  • memakai 9 blade diafragma, bukaan maksimum f/4.5-5.6 dan minimum f/22-29
  • memakai motor SWM untuk auto fokus yang cepat dan halus

Selain berbeda di rentang fokal, perbedaan lain antara lensa 55-200mm dengan 55-300mm diantaranya :

  • bukaan maksimum (55-200mm sedikit lebih unggul dengan f/4)
  • 55-200mm memakai diameter filter 52mm, 55-300mm memakai filter 58mm (70-300mm memakai 67mm)

Satu hal yang agak disayangkan dari lensa 55-300mm ini menurut kami adalah harga perkenalan awal yang terlalu tinggi (4 jutaan) yang hampir sama dengan harga lensa 70-300mm saat ini. Padahal lensa 70-300mm punya banyak kelebihan dibanding lensa 55-300mm seperti :

  • format FX
  • sistem Inner Focus (IF)
  • kualitas optik yang lebih baik
  • bisa manual focus override
  • kinerja motor SWM yang lebih cepat
  • mode VR ada active dan normal

Jadi bila anda punya dana 4 jutaan, saat ini sudah sangat perlu lensa tele zoom yang mampu menjangkau hingga 300mm (450mm eqiv.) dan tidak masalah dengan bobot lensa, saran kami tetaplah memilih lensa AF-S 70-300mm VR. Namun bila anda awalnya ingin membeli lensa AF-S 55-200mm namun merasa perlu rentang antara 200mm hingga 300mm, dan mencari lensa yang ringan dan praktis untuk dibawa bepergian, tunggu saja kehadiran lensa AF-S 55-300mm ini nanti di bulan September 2010. Namun bila anda tetap merasa lensa AF-S 55-200mm saja sudah mencukupi untuk kebutuhan fotografi anda, mengapa tidak? Lensa yang pernah kami review ini sangat murah dan punya optik yang baik dan masih tetap menjadi lensa populer hingga saat ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Tamron 70-300mm baru dengan stabilizer dan motor micro

Lensa 70-300mm tergolong lensa tele-zoom yang populer. Tamron sebagai produsen lensa 3rd party yang sering membuat produk yang sukses di pasaran juga punya produk lensa dengan rentang 70-300mm ini. Namun Tamron yang kala itu bermaksud membuat lensa tele murah meriah, tidak membenamkan fitur stabilizer pada lensanya. Setelah sang kompetitor yaitu Sigma meluncurkan lensa 70-300mm dengan stabilizer (yang baru saja kami review), kini Tamron pun meluncurkan produk sejenis yang dilengkapi dengan stabilizer. Lebih lagi, Tamron juga melengkapi lensa ini dengan motor AF untuk menjamin kompatibilitas dengan DSLR Nikon entry-level. Hebatnya, motor AF di lensa Tamron ini menggunakan sistem ultrasonic (seperti USM milik Canon dan SWM milik Nikon) yang bersuara halus dan bekerja lebih cepat.

tamron-70-300-vc

Nama lensa baru ini adalah Tamron SP 70-300mm f/4-5.6 Di VC USD yang sementara baru tersedia untuk mount Nikon, rencana akan dilepas di kisaran harga 4 jutaan, atau sekitar 1 juta lebih murah dari lensa Nikon AF-S 70-300mm VR. Lensa ini memiliki 17 elemen yang tersusun dalam 12 grup, meski secara optik mungkin lensa Nikon masih lebih superior, namun secara fitur bisa dibilang semua kemampuan lensa Nikon bisa disamai oleh lensa Tamron ini.

Cara kerja VC
Cara kerja VC (credit : Tamron)

Beberapa fitur unggulan lensa ini diantaranya :

  • memakai stabilizer optik (VC-Vibration Compensation) dengan tiga koil yang diklaim sanggup bekerja hingga 4 stop
  • memakai motor fokus bertipe USD (Ultrasonic Silent Drive) yang bukan hanya cepat dan bersuara halus dalam mengunci fokus, namun juga memungkinkan dilakukannya manual fokus langsung dengan memutar ring fokus tanpa memindah tuas AF-MF
  • memakai sistem internal focusing sehingga tidak ada elemen depan lensa yang berputar saat mencari fokus
  • bisa dipakai untuk DSLR APS-C maupun DSLR full frame
  • memakai elemen lensa XLD (Extra Low Dispersion) untuk kontras dan ketajaman yang prima
  • tersedia jendela focusing scale untuk membantu mengukur jarak terhadap obyek yang difoto

Tak dipungkiri satu fitur yang paling mengesankan dari lensa Tamron 70-300mm ini adalah motor USD. Inilah kali pertama Tamron melengkapi lensanya dengan motor ini, dan inilah yang membedakan Tamron 70-300mm dengan pesaingnya Sigma 70-300mm yang hanya dilengkapi dengan motor biasa. Dikutip dari web resmi Tamron, fitur USD bekerja seperti ini :

Tamron’s USD works with high-frequency ultrasonic vibrations which are produced by a ring called a ‘stator’. Energy from the vibrations is used to rotate an attached metallic ring known as a ‘rotor’. Piezoelectric ceramic, an element that produces ultrasonic vibrations when voltage of a specific frequency is applied is arranged in a ring formation on the stator. This electrode configuration of piezoelectric ceramic causes two ultrasonic vibrations to occur in the stator.

By effectively combining these two ultrasonic vibrations, it is possible to convert the energy from the vibrations that produced simple motion into energy known as ‘deflective traveling waves’, which then moves around the circumference (rotation direction) of the ring.

With the USD, the friction between these deflective traveling waves created on the metallic surface of the stator and the surface of the rotor produce force, causing the rotor to rotate. The focusing ring of the lens, which is linked to the rotor, is thus moved, creating a fast and smooth auto-focus drive.

Kami menantikan hadirnya produk ini di pasaran dan penasaran dengan kualitas optiknya dan kinerja fitur USD dan VC-nya. Tapi diatas kertas inilah lensa tele yang paling sarat fitur yang pernah dibuat oleh produsen lensa alternatif.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panduan memilih lensa DSLR

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fix
Pentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wide
Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normal
Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Adalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang dianggap memenuhi kebutuhan wide hingga tele biasa. Lensa semacam ini mampu mengakomodir rentang fokal normal di kisaran 50mm sehingga mampu  menghasilkan foto yang rendah distorsi, dan menghasilkan persepektif yang sama seperti apa yang dilihat oleh mata manusia. Lensa zoom normal akan semakin mahal bila memiliki bukaan besar apalagi bila punya bukaan konstan f/2.8 yang tergolong kelas profesi0nal.

Contoh lensa zoom normal kelas mahal :

  • Lensa 24-70mm f/2.8
  • Lensa 17-55mm f/2.8

Sedangkan lensa zoom normal ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 17-85mm f/4-5.6
  • Nikon AF-S 16-85 f/3.5-5.6
  • Pentax DA 17-70mm f/4
  • Sony SAL DT 18-70mm f/3.5-5.6
  • Olympus Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 17-70mm f/2.8-4

Lensa zoom tele

tele2-8
Nikon AF-S 70-200mm f/2.8 VR

Lensa zoom tele menjadi salah satu lensa yang favorit banyak orang karena kemampuannya untuk dipakai memotret obyek yang jauh, ditambah lagi harganya yang cukup terjangkau. Belum lagi lensa tele mampu menghasilkan foto dengan bokeh yang baik (DOF tipis), bisa dibilang hampir menyamai hasil yang didapat dengan memakai lensa prime.

Namun perlu diingat kalau lensa zoom tele berkisar di fokal tele diatas 100mm, sehingga rentan goyang akibat getaran tangan. Untuk itu para profesional lebih memilih lensa tele bukaan besar dan ditambah fitur stabilizer, sehingga lensa tele masih bisa dipakai di saat kondisi kurang cahaya.

Lensa zoom tele terbagi dua kelompok, yaitu kelompok profesional dan kelompok biasa.

Untuk zoom tele profesional diantaranya :

  • Canon EF 70-200mm f/2.8
  • Nikon AF-S 70-200mm f/2.8  (gambar di atas)
  • Pentax DA 60-250mm f/4
  • Sony SAL 70-200mm f/2.8
  • Olympus Zuiko 90-250mm f/2.8
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 70-200mm f/2.8
tele
Sigma 70-300mm f/4-5.6

Untuk zoom tele biasa, umumnya terdapat pilihan 70-300mm (gambar di atas) yang fokal telenya cukup panjang dan 55-250mm (gambar di bawah) yang lebih ekonomis. Perhatikan kalau lensa tele ekonomis punya variabel aperture (misalnya f/4-5.6), sehingga bukaannya akan semakin mengecil saat lensa di-zoom maksimal. Maka itu lensa tele semacam ini dihindari oleh para profesional karena sulit diandalkan di saat perlu speed tinggi.

tele2
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6

Meski demikian, lensa tele ekonomis seperti ini laris manis karena harganya murah dan hasil fotonya di tempat yang cukup cahaya masih sangat baik. Jadilah lensa semacam ini menjadi lensa favorit untuk kebutuhan harian dan untuk sekedar hobi.

Lensa zoom all-round  / super zoom / sapu jagad

tamron_18-270
Tamron 18-270mm f/3.5-5.6 VC

Adalah istilah untuk lensa zoom dengan kemampuan mencover rentang wide hingga tele yang ekstrim, hingga lensa ini mampu menggantikan beberapa macam lensa sehingga praktis dipakai kemana saja. Umumnya lensa ini memiliki rentang fokal 18-200mm, meski ada juga yang bisa mencapai 18-270mm (lihat gambar di atas). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih lensa jenis ini :

  • Lensa ini praktis namun tergolong mahal
  • Lensa ini hanya tersedia untuk jenis variable aperture saja
  • Kemampuan optik dari lensa ini tergolong pas-pasan (karena banyaknya elemen optik di dalamnya)
  • Usahakan memilih lensa jenis ini yang dilengkapi dengan fitur stabilizer optik

Itulah panduan memilih lensa DSLR yang kami sajikan. Untuk diskusi dan pertanyaan bisa disampaikan melalui forum yang ada atau lewat komentar di bawah ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..