Memilih kamera sesuai kebutuhan

Banyak sekali pertanyaan yang datang ke kami tentang kamera apa yang sebaiknya dibeli. Walau sudah banyak tulisan yang kami buat, pembaca sepertinya semakin bingung mau beli kamera apa. Pertanyaan yang masuk umumnya seputar bagus mana kamera A atau B? Apakah kamera ini cocok untuk saya, dan pertanyaan sejenis yang mengesankan terlalu kuatir salah beli. Padahal jaman sekarang semua kamera pada dasarnya punya fitur dan kualitas yang berimbang, asal berada di segmen yang sama. Apple to apple katanya.. Maka kali ini kami tulis lagi panduan memilih kamera yang didasarkan pada kebutuhan , bukan keinginan. Membedakan kebutuhan dan keinginan bisa jadi cara yang efektif untuk mendapat kamera idaman yang cocok.

Kenali kebutuhan anda, ikuti tanya jawab interaktif berikut ini :

Berapa budget anda, untuk sebuah sistem kamera (kamera dan lensa) ?

Dengan dana terbatas, memang pilihan tidak begitu banyak. Tapi kamera yang dijual dengan harga terjangkau juga tidak ada keluhan dalam hasil foto, asalkan sudah pakai sensor ukuran sedang (misal Micro Four Thirds hingga APS-C). Misal saat ini kamera seperti Samsung NX3000, Canon 1200D atau Nikon D3300 sudah lebih dari cukup fiturnya, hasil foto dan videonya juga oke. Saat ini mulai banyak dijumpai juga kamera saku dengan lensa permanen (tidak bisa diganti) yang sensornya 1 inci sehingga hasil fotonya setingkat lebih baik dari kamera saku biasa. Kamera saku seperti ini memang tidak murah, kadang hampir sama dengan harga kamera DSLR pemula lho..

canon-powershot-g7-x-camera

Dengan dana berlimpah, pikirkan apakah mau dihabiskan untuk bodi yang kelas atas atau seimbang dengan lensanya. Misal anda punya dana 22 juta, apakah mau beli kamera seharga 20 juta lalu 2 juta beli lensa, atau cari kamera seharga 10 juta dan beli lensa 12 juta? Ingat harga lensa yang baik umumnya lebih mahal, tapi kualitasnya juga tidak mengecewakan. Sony A6000 dengan lensa 16-70mm f/4 adalah contoh kombinasi bodi yang dan lensa yang bagus.

Seperti apa tuntutan anda terhadap kualitas hasil foto?

Kualitas foto, ditentukan dari sensornya. Saat bicara sensor, kita ingatnya megapiksel kan? Padahal kualitas foto bukan dihitung dari megapiksel tapi dari ukuran fisik sensor (panjang kali lebar, dalam mm). Sensor full frame (36x24mm) memberi hasil foto terbaik, sensor APS-C (24x16mm) sedikit dibawah full frame. Sensor kecil seperti di kamera ponsel hasil fotonya pasti pas-pasan saja. Intinya kualitas foto bukan di megapiksel, tapi di ukuran sensor.

sony-a7

Saat ini sensor APS-C mampu memberi hasil foto yang baik, hingga ISO 3200. Tapi bila anda ingin foto yang lebih bersih dari noise di ISO 3200, atau ingin foto RAW yang sangat leluasa di edit maka sensor full frame lebih cocok untuk anda. Kamera full frame tidak murah, tapi memang semakin terjangkau. Saat ini Nikon D610, Canon 6D atau Sony A7 semakin diminati karena kualitas hasil fotonya yang tinggi dan harganya masih terjangkau. Bila anda sudah puas dengan hasil dari sensor APS-C, maka pilihan menjadi sangat mudah. Bahkan Sony A3000 yang dijual di kisaran 3-4 juta sudah bisa memberi hasil foto yang baik, walau kamera ini kurang disarankan karena kinerjanya auto fokusnya kurang cepat.

Apakah kinerja yang cepat itu penting?

Bayangkan anda seorang peliput kegiatan olahraga. Momen yang cepat, aksi tak terduga, subyek yang terus bergerak dan durasi yang lama tentu perlu diimbangi dengan kamera yang kinerja tinggi. Bila faktor seperti kemampuan fokus kontinu yang tinggi, menembak kontinu yang tinggi atau daya tampung memori yang luas (buffer) maka kamera yang biasa-biasa saja tidak cocok untuk anda. Untuk itu tersedia Canon 7D mark II, Sony A77 mk II atau minimal Nikon D7200.

nikon-d750-enthusiast-camera

Bagaimana bila dana tidak mencukupi untuk membeli kamera yang kinerjanya tinggi? Ya kita mesti cari kamera yang lebih terjangkau, tapi tetap punya kinerja yang mencukupi walau kurang maksimal. Misal bisa cari mirrorless yang sudah hybrid AF (Sony A6000, Samsung NX500, Fuji X-T1/X-T10) atau DSLR kelas menengah (Canon 70D, Nikon D7100).

panasonic-lumix-gf7

Bila kinerja cepat bukan alasan utama kita membeli kamera, maka kamera pemula pun sudah cukup memadai. Tapi ingat juga bahkan kamera yang sangat mahal pun belum tentu kinerjanya sangat cepat, misal Nikon D810, Sony A7R karena justru dirancang untuk fotografer pemandangan.

Bentuk kamera, ukuran dan beratnya

Ini lebih ke personalitas anda. Apa anda mencari kamera utama? Atau kamera back-up untuk jalan-jalan? Atau anda ingin mencari satu kamera yang bisa diajak serius maupun santai? Saat ini bentuk kamera beragam, dari yang besar seperti DSLR, ada yang kecil dan juga sedang. Bentuk yang besar lebih nyaman digenggam, stabil dan mengesankan keseriusan kita :)

img_main01

Tapi bentuk yang kecil biasanya ringan, mudah dibawa dan tidak menarik perhatian orang saat diipakai. Perhatikan juga desain kamera, saat ini musim lagi desain retro klasik yang seperti kamera lama, kadang disertai pengaturan yang juga klasik (seperti Nikon Df, Fuji X-T1) yang agak membingungkan bagi pemakai pemula.

Apakah faktor lain juga penting?

Faktor lain yang juga menentukan sangat beragam bagi setiap orang, kami coba susun beberapa faktor lain yang bisa menjadi pertimbangan anda :

  • bodi yang tahan cuaca (weathersealed), penting bila sering memotret outdoor
  • kemampuan video yang baik, seperti 4K, codec khusus (XAVC-S), S-log gamma, timecode, headphone jack dsb
  • jendela bidik, bila suka yang optik maka DSLR lebih cocok, bila cari mirrorless apakah jendela bidik elektronik penting bagi anda
  • layar LCD, bisa dilipat? bisa diputar? bisa disentuh? LCD atau Amoled?
  • baterai, ingin yang besar tapi awet, atau yang bisa di-cas dengan powerbank?
  • konektivitas, GPS, WiFi, NFC yang penting bagi sebagian orang, tidak berguna bagi sebagian lainnya
  • dukungan flash, hot shoe di kamera adalah penting, juga dukungan flash eksternal
  • ketersediaan beragam lensa, juga dukungan adapter untuk memasang lensa lama
  • kustomisasi tombol dan roda, berguna untuk personalisasi kamera kita dan akses cepat
  • dukungan teman, klub, komunitas yang sama berguna untuk belajar dan saling support
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Enam panduan mengatur setting kamera untuk memotret di kondisi yang sulit

mode-dial-canonKita tahu setting di kamera modern itu sangat banyak, yang tentunya sangat membantu kita dalam menghadapi berbagai kondisi pemotretan sehari-hari. Namun kita juga tahu masih banyak pemilik kamera yang tidak (mau) tahu kegunaan setting-setting tersebut, sehingga tidak dimanfaatkan saat menghadapi kondisi yang cukup sulit atau tidak ideal. Kita boleh saja pakai mode AUTO dan kamera akan pikirikan apa setting terbaik untuk setiap kondisi, tapi kan kita tidak punya kendali atas setting tersebut dan juga kita tidak pernah belajar darinya. Pada akhirnya kita bisa jadi tidak puas dengan hasilnya. Boleh dibilang mode AUTO itu lebih cocok dipakai dalam kondisi yang ideal saja, seperti cukup cahaya, bendanya tidak bergerak dan momennya tidak berlalu dengan cepat. Namun saat kondisi menjadi lebih sulit, pencahayaan menantang, warna sumber cahaya yang tidak mudah, subyek terus bergerak, kita tidak bisa lagi mengandalkan mode AUTO di kamera. Kali ini kami akan berbagi banyak tips penting untuk menghadapi bermacam kondisi sulit, tentunya dengan menjelaskan setting apa yang harus dipilih. Ada baiknya setelah dibaca, anda juga praktekkan untuk lebih memahami dan bisa membuktikan sendiri. Ayo mulai..

Kondisi 1 : cahaya berubah-ubah

Misal : saat memotret konser dengan lampu sorot dan lampu latar (LED) yang terus berubah

Pertama yang harus diingat adalah, jangan pakai mode Manual exposure. Biarkan kamera menghitung sendiri cahayanya dan memberikan nilai ekpsosur yang tepat untuk kita. Bisa gunakan mode P (Program) atau A/Av (Aperture Priority) atau S/Tv (Shutter Priority). Gunakan juga mode metering Spot, lalu kunci pengukuran metering ke obyek utama yang ingin difoto, ini dilakukan supaya kita bisa mendapat pengukuran yang pas walau cahayanya sulit.

spot-metering

Bila kita merasa setting eksposur yang diberikan kamera sudah pas, bisa kita kunci setting dengan menekan dan menahan tombol AE-Lock (simbol bintang di kamera Canon, atau tombol AE-L di kamera lain). Tak perlu menunggu lama, setelah jempol kita menahan tombol ini segeralah mengambil foto untuk mencegah perubahan cahaya lagi. Selamat mencoba..

ae-lock-canon

Kondisi 2 : kontras tinggi

Misal : siang hari outdoor matahari terik dan subyek yang akan difoto tampak gelap

hdr in camera

Disini tidak ada satu solusi yang mudah, karena memang kenyataannya dynamic range sensor kamera tidak bisa menyamai apa yang kita lihat. Maka kamera selalu kesulitan untuk menangkap semua terang gelap di alam dengan sama baiknya. Biasanya yang terjadi adalah langit menjadi terlalu terang, atau justru obyek utamanya jadi terlalu gelap. Ada beberapa setting kamera yang bisa dicoba dengan plus minus masing-masingnya :

  • Mengatur kompensasi eksposur, biasanya dikompensasi ke arah + (positif), cocok bila kita ingin obyek utama terlihat terang namun background terpaksa jadi terlalu terang/over (untuk mengembalikan detail di daerah yang over memang hampir mustahil, tapi cobalah pakai RAW dan diatur highlight settingnya di olah digital kadang-kadang bisa membantu sedikit)

tombol-ev

  • Mengatur fitur Active D Lighting (Nikon), Auto Lighting Optimizer (Canon), bisa menjaga kontras dimana hasil fotonya diusahakan tidak ada yang terlalu terang dan terlalu gelap (tidak bisa pakai RAW)

active_d-lighting

  • memakai mode in camera HDR (bila ada), seperti contoh foto atas kanan (mode ini tidak cocok bila obyeknya bergerak dan juga tidak bisa pakai RAW)

03-canon-hdr-mode-settings

Tips tambahan : di kamera Canon ada fitur Highlight Tone Priority, ini bisa diaktifkan untuk mencegah over eksposur di daerah putih seperti baju pengantin atau langit.

Kondisi 3 : subyek bergerak, momen sulit diprediksi

Misal : aktivitas outdoor, event olahraga, perlombaan dsb

dsc_4408

Yang perlu diingat disini adalah untuk mendapatkan foto yang timingnya pas, diperlukan fokus dan drive kontinu (terus menerus). Selain itu tentu shutter speed harus dipilih yang cukup cepat supaya obyeknya beku/diam.

canon7d-af-mode

Drive continu bisa dipilih di drive mode, biasanya kamera bisa memotret mulai dari 4 foto per detik yang cukup lumayan untuk memotret berturut-turut. Kamera lebih canggih bahkan bisa memotret sampai 11 foto per detik. Untuk mengaktifkan fokus kontinu pilih mode AF-C (di kamera Nikon dan Sony) atau AF mode ke AI Servo (di kamera Canon). Selanjutnya tentu kita harus membidik obyeknya, tekan dan tahan setengah tombol jeptret (atau tekan dan tahan tombol AF-ON) lalu saat momennya tiba tekan penuh tombol jepret cukup lama supaya bisa diambil banyak foto. Nantinya pilih dari sekian foto yang diambil manakah yang momen dan timingnya paling pas.

Kondisi 4 : aktivitas di tempat kurang cahaya

Misal : seremoni indoor (wedding, wisuda, pentas seni dsb)

ISO

Kondisi seperti ini kerap kita hadapi, dan bisa dibagi dua kelompok : bisa dibantu flash dan tidak. Idealnya kita punya flash eksternal yang bisa di bounce ke langit-langit sehingga cahayanya lebut dan natural. Untuk menambah kekuatan flash bisa juga naiikan ISO hingga ISO 800. Namun bila flash tidak bisa dipakai (entah karena dilarang atau jangkauannya terbatas) maka hal yang penting adalah gunakan bukaan maksimal (lensa yang bisa f/2.8 atau lebih besar akan lebih embantu) dan naikkan ISO cukup tinggi (ISO 1600-3200) supaya foto jadi terang, shutter speed tetap cepat sehingga momen yang difoto tidak blur.

dsc_8848-bounce

Walau tampak terang, foto diatas diambil di dalam ruangan yang kurang cahaya. Untuk itu penggunaan flash dengan bounce akan membantu pencahayaan. Jangan lupa karena aktivitas di dalam ruangan ini umumnya dinamis (bergerak), tips di kondisi 3 diatas seperti AF mode kontinu kadang tetap diperlukan.

Kondisi 5 : warna sumber cahaya yang sulit

Misal : di cafe/resto/hotel, bermacam sumber cahaya bercampur (matahari, lampu, flash)

Paling aman pakailah format file RAW lalu diedit belakangan, sesuaikan setting White Balance yang diinginkan. Tapi bila kita mau hasil akurat tanpa perlu repot edit, maka kita perlu siapkan kertas putih di lokasi pemotretan, lalu lakukan prosedur Custom/Preset WB atau Measure WB. Syaratnya, kertas putih harus difoto penuh, dengan sumber cahaya yang sama dengan yang akan kita pakai nanti. Dengan begitu kamera akan mengerti setting WB optimal dari kertas putih tadi.

WB pakai kertas putih

Khusus di cafe/resto/hotel umumnya disengaja memberi pencahayaan hangat (lampu tungsten yang kekuningan) sehingga membuat dilema saat difoto. Bila kita netralkan maka seolah-olah di lokasi itu lampunya putih netral (tidak ada kesan hangat), tapi bila dibiarkan kuning maka orang yang ada di foto tersebut warnanya (kulit, baju dsb) jadi tidak netral.

Contoh warna kuning dinetralkan jadi putih, benar secara teknis tapi jadi tidak terlihat warna aslinya :

p1000163-netral

Lalu difoto lagi dengan menjaga warna aslinya, lebih hangat (kuning) tapi tidak netral :

p1000164-hangat

wb-shift

WB shift juga bisa dilakukan bila kita sudah tahu ingin membiaskan hasil warna akhir ke arah mana : Hijau – Magenta atau Biru – Merah. Idealnya titik tengah akan memberi hasil netral apabila setting WB sama dengan sumber cahayanya. Tapi kalau kita mau geser bisa juga, dengan menggeser ke kanan maka tone warna akan semakin kemerahan. Bila titik tengah memberi hasil yang tidak netral (misal akibat gangguan dari warna biru pada cahaya yang ada) maka ada baiknya WB shift digeser ke kanan supaya hasil akhirnya tidak lagi biru. WB shift juga boleh dipakai untuk membuat warna sengaja berbeda, misal di daerah berkabut putih akan lebih unik bila WB di geser ke warna biru.

Kondisi 6 : balance flash di tempat low light atau fill flash untuk backlight

Misal : foto potret dengan flash, tapi ingin suasana sekeliling terlihat terang, atau sebaliknya mengisi flash saat backlighting

Flash slow speed dimaksudkan unyuk menerangi subyek yang dekat, namun untuk menangkap ambient light perlu shutter speed yang cukup lambat, misal di belakangnya ada lampu-lampu gedung. Biasanya dipilih 1/30 detik hingga 1/8 detik. Perhatikan kalau tripod sebaiknya dipakai untuk speed lambat.

Foto berikut pakai shutter 1/20 detik, ISO 800 dan lampu flash :

dsc_7633

Bedakan dengan foto berikut ini :

dsc_5327

Ini perkecualian karena backlight / melawan matahari, jadi shutter speed boleh lebih cepat (misal 1/100 detik) tapi supaya obyek utama tidak jadi siluet maka flash tetap diset untuk menyala seperti foto diatas.

————————————————————————————————————————————————

Untuk belajar teknik fotografi bersama saya dan Enche Tjin, ikuti kelas Mastering Teknik.

Untuk memahami istilah-istilah fotografi, beli buku Kamus Fotografi.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Hal-hal yang sebaiknya dilakukan setelah membeli kamera digital

Anda baru saja membeli sebuah kamera DSLR atau kamera mirrorless? Selamat, tentu ini adalah momen yang menyenangkan buat anda. Apalagi kalau kamera ini adalah yang pertama kali anda beli, pasti terasa lebih spesial. Anda tentu akan banyak mengutak-atik kamera tersebut dan akan sering memotret apa saja dan menikmati hasil fotonya. Tapi sebelum anda lebih jauh mengeksplor kamera baru itu, ada baiknya hal-hal berikut ini dilakukan. Apa saja? Inilah dia..

Baca buku manual

Buku manual, atau mungkin dokumentasi dalam format PDF, sangat dianjurkan dibaca baik-baik sebelum kamera anda dipakai. Cari informasi mengenai panduan singkat, apa yang dilarang, bagaimana cara mengisi (charge) serta memasang baterai dan sebagainya. Pahami betul bagaimana pengaturan kamera, fungsi tombol-tombolnya, mode kamera dan bagaimana memaksimalkan fiturnya. Tips : bila anda perlu dipandu dalam hal ini, kami punya kelas kupas tuntas kamera DSLR di Jakarta, rutin setiap bulan sekali.

Siapkan kartu memori baru

Kadang sebagai bonus dari toko, kita diberi kartu memori secara cuma-cuma. Tapi untuk lebih aman dan terjamin, pastikan kita membeli kartu memori sendiri sesuai kebutuhan. Carilah yang asli, kapasitas tinggi (misal 16 GB) dan kecepatan tinggi (misal kelas 10). Dengan begitu kamera siap untuk dipakai memotret cepat dan merekam video tanpa masalah. Memori palsu atau tidak jelas bisa beresiko membuat kamera error, atau minimal foto-foto anda gagal disimpan.

Belilah aksesori dasar

Alokasikan sedikit dana untuk membeli aksesori dasar yang lumayan dibutuhkan, seperti tisu lensa, peniup debu dan tas kamera. Dengan demikian kamera akan selalu terlindung saat dibawa, dan selalu siap dibersihkan saat terkena noda atau debu. Hindari pakai tisu biasa yang banyak seratnya, tisu lensa bisa dibeli di toko kacamata atau di toko kamera.

Investasikan sebuah Dry box atau kotak kedap udara

drybox

Idealnya menyimpan kamera bukan di tas, tapi di dry box. Di tas itu hanya saat kamera akan dibawa bepergian. Dry box dibutuhkan untuk menyimpan kamera dan lensanya, sehingga tidak berjamur akibat lembab. Bila dry box terlalu mahal, belilah kotak plastik kedap udara lalu masukkan silica gel atau serap air. Lensa yang berjamur akan sulit dibersihkan, dan bila nanti akan dijual harganya bakal jatuh. Saat di dalam dry box, lepaskan lensa dari kamera dan keluarkan juga baterainya.

Bekali pengetahuan dasar manajemen file foto

Foto-foto anda akan bertambah banyak setiap hari. Tidak mungkin semuanya hanya disimpan di kartu memori kan? Bagi yang awam dengan komputer, mulailah membiasakan mengerti manajemen file foto karena anda akan punya ribuan foto yang perlu disimpan. Buatlah alur kerja yang baik mulai dari proses pemindahan foto dari kartu memori ke komputer, pengaturan folder dan editing dasar (rename, resize, rotate, crop, enhance dan convert). Biasakan juga rutin melakukan backup ke DVD/hardsisk eksternal.

Mulai menyusun daftar belanja

Ini yang paling seru, sekaligus penuh racun, hehe… Banyak hal yang tadinya tidak terpikirkan tiba-tiba jadi terasa perlu untuk dibeli. Cobalah untuk dipilah secara bijak mana dulu yang prioritas, misalnya :

  • lensa tambahan, bisa lensa fix yang murah (seperti 50mm f/1.8) atau lensa tele murah (seperti 55-200mm)
  • pengganti lensa kit, bila lensa kit kurang memuaskan bisa pertimbangkan lensa lain untuk jadi pengganti lensa kit (misal lensa 18-200mm, atau lensa bukaan besar seperti 17-50mm f/2.8)
  • tripod, ini juga penting untuk memotret dengan stabil dan tidak goyang/blur
  • flash eksternal, perlu untuk menambah kekuatan flash dan menghemat baterai kamera (dibanding memakai flash built-in)
  • aneka filter (CPL, ND, atau setidaknya UV) sesuai kebutuhan
  • baterai cadangan (apalagi baterai di kamera mirrorless lebih cepat terkuras)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ayo pahami spesifikasi kamera digital

Kamera digital itu unik. Dalam kamera digital kita menjumpai istilah fotografi klasik sekaligus ketemu dengan istilah teknologi digital modern yang kadang membuat minder saat membaca spesifikasinya. Padahal saat hendak memilih sebuah kamera, semestinya kita memahami dulu spesifikasi dan apakah sudah sesuai dengan kebutuhan kita. Kali ini kami sajikan spesifikasi umum dari kamera digital disertai penjelasan singkat, dengan harapan anda bisa terhindar dari kesalahan saat memutuskan atau memilih produk kamera digital.

Seputar sensor kamera

Resolusi (dinyatakan dalam megapiksel) :

Resolusi menyatakan jumlah piksel dari sensor, semakin besar maka foto yang dihasilkan semakin detail (terkait ukuran cetak maksimal), namun ukuran file foto akan semakin besar. Kamera generasi sekarang punya sensor beresolusi minimal 10 MP dan menurut kami sudah sangat mencukupi untuk pemakaian sehari-hari. Resolusi kamera yang dipaksakan terlalu tinggi malah berpotensi membuat hasil foto kurang baik, bahkan saat ini kamera non DSLR sepertinya membatasi diri untuk tidak melebihi resolusi di atas 14 MP.

Ukuran sensor (dinyatakan dalam inci) :

Sensor kecil vs sensor APS-C
Sensor kecil vs sensor APS-C

Ukuran sensor menyatakan luas keping sensor dimana semakin besar sensor maka semakin baik kemampuan sensor dalam menghasilkan foto berkualitas tinggi. Ukuran sensor berhubungan langsung dengan noise yang dihasilkan di ISO tinggi. Sensor kecil berukuran antara 1/2 inci hingga 2/3 inci dan biasa dijumpai di sebagian besar kamera saku, sedang sensor besar biasanya dijumpai di kamera DSLR seperti Four Thirds, APS-C dan Full frame. Hindari memilih kamera yang sensornya berukuran terlalu kecil apalagi yang resolusinya terlalu tinggi, misal sensor 1/2.3 inci dengan resolusi 14 MP secara piksel akan terlalu rapat (high pixel density).

Jenis sensor (CCD atau CMOS) :

Sensor CCD sudah matang secara teknologi, menghasilkan foto yang bagus namun boros daya dan lambat. Sensor CMOS sedang terus disempurnakan, hasil fotonya sudah hampir menyamai hasil CCD, keuntungan CMOS adalah hemat daya dan kerjanya sangat cepat (cocok untuk high speed shooting) cuma sayangnya sensor CMOS masih lebih mahal dibanding CCD. Bila tidak perlu foto kecepatan tinggi hingga 10 fps (frame per detik), sensor CCD sudah sangat mencukupi untuk dipakai sehari-hari.

Seputar lensa

Rentang fokal (dalam mm) :

Menyatakan jangkauan wide hingga tele dari sebuah lensa, misalnya 28-140mm artinya lensa ini punya fokal terpendek 28mm dan fokal terpanjang 140mm. Kekuatan zoom optik dari lensa ini dihitung dengan membagi fokal terpanjang terhadap fokal terpendek, misal 140 dibagi 28 = 5 x zoom. Jadi kamera dengan lensa 28-140mm bisa disebut punya 5x zoom optik. Kamera modern kini punya lensa yang semakin wide dengan fokal hingga 24mm yang sudah sangat baik untuk fotografi wideangle.

Contoh rentang fokal lensa kamera di pasaran :

  • 35-105mm (3x zoom)
  • 28-280mm (10x zoom)
  • 25-600mm (24x zoom)

Bukaan diafragma :

lensMenyatakan bukaan maksimal diafragma lensa yang berhubungan dengan kemampuan lensa memasukkan cahaya ke sensor. Misalnya pada spesifikasi suatu lensa ditulis f/2.8-4.5 artinya bukaan lensa maksimal pada posisi fokal terpendek adalah f/2.8 dan pada posisi fokal terpanjang adalah f/4.5. Ingat kalau angka ini semakin kecil artinya bukaannya semakin besar, jadi f/2.8 lebih besar dari f/4.5.

Belakangan ini semakin banyak kamera dengan lensa yang bukaan maksimalnya kurang besar sehingga kurang bisa memasukkan cahaya dengan jumlah banyak, akibatnya kamera perlu waktu lebih lama untuk mendapat eksposur yang tepat. Lensa semacam ini biasa disebut lensa lambat.

Contoh beberapa bukaan lensa yang ada di pasaran :

  • f/2.8-4.1  (tergolong punya bukaan besar terutama di f/2.8)
  • f/3.1-5.4 (tergolong cukup lambat)
  • f/3.6-5.9 (tergolong sangat lambat, sebaiknya dihindari saja)

Istilah lensa :

Umumnya spesifikasi lensa yang perlu dicermati adalah adanya elemen lensa Aspherical Lens dan Low Dispersion Lens. Keduanya diperlukan untuk menghasilkan foto yang lebih baik dan tajam. Lensa yang baik memiliki minimal satu elemen lensa Low Dispersion, bila lebih akan semakin baik, kontras semakin tinggi dan ketajaman lebih terjaga.

Seputar fitur utama

Manual mode :

pasmKendali eksposur untuk mendapat pencahayaan terbaik ada di kecepatan shutter dan bukaan aperture (diafragma) lensa. Keduanya diatur secara otomatis oleh kamera dengan menganalisa terang gelapnya obyek yang difoto. Kamera digital modern kini semakin memanjakan kita dengan membolehkan kita mengatur secara manual komponen shutter dan aperture tersebut, dengan mode seperti Shutter Priority dan Aperture Priority. Bila pada spesifikasi kamera dijumpai manual mode atau P/A/S/M (Program/Aperture/Shutter/Manual) maka itu tandanya kamera bisa diatur secara manual. Bila tidak, artinya kita hanya pasrahkan pada keputusan dari prosesor kamera saja alias pakai mode Auto saja.

Image Stabilizer :

Fitur ini penting untuk mencegah getaran yang berpotensi membuat foto menjadi blur, terutama saat memakai speed lambat dan/atau saat memakai fokal tele. Kamera memiliki sensor yang mendeteksi getaran dan melakukan kompensasi untuk mengatasi getaran itu. Ada dua jenis prinsip kerja stabilizer yaitu Optical Shift dan Sensor Shift. Prinsip yang pertama adalah memakai elemen stabilizer pada lensa, sedang yang kedua menjadikan sensor kamera bisa bergerak mengkompensasikan getaran. Keduanya memberi hasil yang sama baiknya.

Sensitivitas ISO :

Rentang ISO bermula dari ISO dasar (terendah) misal ISO 100 dan naik secara kelipatan dua, misal ISO 200 – ISO 400 – ISO 800 dan ISO 1600.  Semakin naik ISO kamera maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya meski resikonya naiknya noise. Kamera digital masa kini umumnya bisa mencapai ISO 1600 meski ada juga yang bisa diatas itu tapi hasilnya sudah sangat noise. Perhatikan kalau ada beberapa model kamera yang tidak memberi keleluasaan kepada pemakainya untuk memilih nilai ISO yang diinginkan, alias hanya ada ISO Auto saja (kamera seperti ini sebaiknya tidak usah dipilih).

Movie recording :

Bila dulu kemampuan merekam video terkesan hanya formalitas namun kini semakin digarap serius oleh produsen kamera. Ada beberapa hal terkait kemampuan merekam video, diantaranya :

  • Resolusi video : ada beberapa pilihan seperti VGA (640 x 480 piksel), WVGA (848 x 480 piksel), High Definition (1280 x 720 piksel atau 1920 x 1080 piksel). Semakin tinggi resolusi video semakin tajam hasil videonya namun semakin besar ukuran filenya.
  • FPS (frame per second) : idealnya antara 24 hingga 30 fps untuk menjamin tayangan yang tidak patah-patah.
  • Kompresi video : umumnya memakai metoda kuno Motion JPEG yang mudah untuk diedit, kini juga tersedia kompresi modern AVCHD atau H.264 yang lebih efisien namun sulit untuk diedit.

Bila anda sering merekam video apalagi yang beresolusi tinggi, gunakan memori yang punya kecepatan baca tulis yang tinggi, misalnya SDHC class 6.

Seputar pendukung utama

Lampu kilat :

Lampu kilat pada kamera punya kemampuan terbatas, dinyatakan dalam GN (Guide Number). Semakin besar GN maka daya pancarnya semakin tinggi. Perhatikan apakah ada fitur tingkat lanjut seperti Slow Sync, Front Sync atau Rear Sync untuk kreativitas ekstra, dan perhatikan apakah kamera anda punya dudukan untuk memasang lampu kilat eksternal.

Layar LCD :

flip-lcdLayar LCD di kamera modern umumnya berukuran 2,5 inci hingga 3 inci. Lebih penting meninjau berapa kerapatan piksel dari layar LCD di kamera, hindari LCD beresolusi rendah (dibawah 200 ribu piksel) karena sulit menilai ketajaman foto dari LCD yang kurang baik. Ada juga kamera dengan LCD yang bisa dilipat atau diputar untuk kemudahan memotret dengan sudut yang sulit, seperti memotret sambil berjongkok.

Baterai :

Baterai umumnya terbagi antara jenis Lithium dan AA. Lithium lebih tahan lama, cepat diisi ulang namun harganya mahal. Baterai AA kurang awet namun mudah mencarinya di warung. Umumnya baterai bisa dipakai untuk 250 sampai 500 kali memotret meski tergantung juga pada banyak faktor.

Itulah beberapa spesifikasi umum dari kamera dan semoga anda bisa lebih bisa mengenali deretan istilah dan angka pada spesifikasi kamera yang anda incar.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Cara mudah membuat foto lebih indah

Apapun kamera yang kita pakai, tiap kita memotret tentu harapannya adalah menghasilkan foto yang indah. Terkadang yang terjadi justru kekecewaan karena hasil  foto kita kurang memuaskan, padahal di saat yang sama orang lain bisa membuat foto yang lebih baik. Bisa jadi kita lupa akan hal-hal sepele namun penting yang menentukan bagus tidaknya hasil sebuah foto. Kami sampaikan disini cara-cara mudah yang perlu selalu diingat guna mendapat foto yang indah.

Inilah cara mudah yang bisa diterapkan oleh siapa saja (termasuk pemula sekalipun) untuk mendapat foto yang lebih indah :

Perhatikan komposisi

Memotret dengan kamera ponsel sekalipun, titik berat pada komposisi akan membuat hasil foto yang berbeda dan bisa tampak indah. Sebaliknya, bila memakai kamera mahal yang canggih sekalipun tapi tidak mengindahkan komposisi akan menghasilkan foto yang tidak bisa ‘bicara’.

sawah

Komposisi berarti kejelian menempatkan objek pada bidang foto, bagaimana kita berpikir mencari point-of-interest untuk tiap foto, membuat kesan kedalaman dengan bermain framing hingga mengikuti aturan rule-of-thirds. Bila foto sudah terlanjur diambil namun ternyata komposisinya kurang enak dilihat, kita bisa selamatkan dengan melakukan cropping untuk membuang bidang yang tidak perlu.

Perhatikan pencahayaan

Selalu, sebelum kita memotret, perhatikan dengan seksama cahaya sekitar. Kenali sumber cahaya utamanya (matahari, lampu neon, lampu pijar atau lainnya), estimasi tingkat keterangannya (intensitas cahayanya) lalu arah datangnya cahaya (side light, back light dsb). dari sini kita bisa menentukan apakah cukup mengandalkan auto WB pada kamera atau perlu dilakukan WB manual.

siluet

Pada saat cahaya kurang, kita juga perlu mengukur kemampuan kamera kita (berapa shutter speed minimum, berapa bukaan lensa maksimum, berapa ISO tinggi yang masih layak/noise rendah) sehingga foto yang diambil tidak under-eksposur. Perhatikan juga bila cahaya datang dari arah belakang objek akan menghasilkan siluet sehingga perlu diputuskan apakah objek harus pindah posisi, atau kita kompensasi dengan menambah lampu kilat.

Perhatikan latar belakang

Ada kalanya yang paling ingin ditonjolkan dari sebuah foto adalah latar belakangnya. Berpose di depan Candi Borobudur atau gunung Bromo tentu maksudnya ingin menceritakan kalau ‘saya pernah kesana’. Untuk itu aturlah latar bisa tampak jelas, sementara objek tetap proporsional.

Tapi kadang kita justru si objek adalah fokus utama dalam sebuah foto, sementara latar belakang bisa diabaikan. Untuk itu pilihlah latar yang tidak mengganggu fokus orang yang melihat foto kita. latar yang terlalu ramai dan penuh warna bisa membuat orang justru sibuk mengamati latar daripada objek foto. Bila kamera anda mampu membuat latar menjadi blur/out-of- focus, maka lakukanlah.

bunga

Perlu diingat juga kalau tiap posisi fokal lensa yang berbeda mampu memberi perspektif yang berbeda terhadap objek dan latar. Saat anda memakai lensa zoom dan akan memotret objek yang relatif terhadap latar, aturlah posisi anda, posisi fokal lensa, posisi objek dan posisi latar agar memberi perspektif yang diinginkan.

Perhatikan kamera anda

Terakhir, diluar faktor eksternal diatas, ujung-ujungnya juga kembali pada kamera sebagai alat yang menentukan hasil foto. Banyak orang kecewa setelah melihat hasil foto yang diambilnya, tanpa memperhatikan apakah dia sudah melakukan yang terbaik saat memotret. Cek kembali setting kamera anda saat akan memotret :

  • jangan goyang saat memotret, sedikit saja handshake akan membuat foto blur, apalagi saat shutter speed rendah (dibawah 1/30 detik) atau saat memakai lensa tele (diatas 100mm)
  • pastikan auto fokus mengunci pada objek yang dituju, bukan salah memfokus pada latar belakang atau objek lainnya
  • periksa histogram sebelum memotret, bila under atau over bisa dikompensasi dengan Exposure Compensation (Ev) ke arah plus atau minus
  • tentukan apakah anda perlu memakai lampu kilat atau tidak, bahkan di siang hari sekalipun

Tentu saja apa yang diuraikan di atas hanyalah hal-hal yang bersifat mendasar, masih banyak faktor teknis atau non teknis yang mempengaruhi kualitas hasil foto. Tapi umumnya hal-hal sederhana ini kadang terlupakan saat memotret dan kita berpotensi kehilangan hasil foto terbaik yang semestinya bisa kita dapatkan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips mengurangi noise pada foto

Noise pada fotografi digital tampaknya sudah jadi istilah yang akrab didengar namun tentu kehadirannya tidak dikehendaki. Noise berupa bintik-bintik pada foto yang umumnya akibat pemakaian ISO tinggi ini tampak mengganggu keindahan sebuah foto dan banyak orang yang berupaya untuk menghilangkannya. Meski pada kamera sudah tersedia fasilitas pengurang noise, tapi akan lebih lengkap bila kita bisa melakukannya memakai software pada komputer. Kali ini kami sajikan tips memakai software Neat Image untuk mengurangi noise sehingga foto anda akan jadi lebih indah.

Sebelum masuk ke bahasan utama, sekilas kita awali dengan mengenal noise ini. Sensor kamera digital yang merupakan perangkat analog memiliki sensitivitas (ISO) yang bisa ditingkatkan bila perlu. Dengan naiknya sensitivitas, maka noise yang tadinya rendah ikut naik dan mulai mengganggu. Pada sensor kecil (dipakai di kamera saku dan kamera ponsel) noise akan semakin parah karena kemampuan sensor dalam menangkap cahaya tidak sebaik sensor besar (pada kamera DSLR). Noise berupa titik-titik pada foto selanjutnya diupayakan untuk dihilangkan, meski urusan ini membawa konsekuensi foto akan jadi soft atau kehilangan detail. Maka itu diperlukan teknik pengurang noise (bukan penghilang noise) yang mampu mengurangi titik-titik tadi tanpa membuat foto jadi kehilangan detail.

Meski di dalam kamera sudah disediakan fasilitas pengurang noise, alangkah baiknya bila upaya ini dilakukan melalui komputer saja. Hal ini dikarenakan keleluasaan kontrol kita dalam mengatur tingkat pengurangan noise yang paling kita sukai. Salah satu program perangkat lunak yang umum dipakai adalah Neat Image versi 6.0 yang bisa diunduh disini. Pemakaian program ini cukup mudah, anda cukup menginstalnya di komputer lalu menjalankannya.

Tampilan program Neat Image
Tampilan program Neat Image
Setting noise reduction
Setting noise reduction

Langkah pertama adalah membuka file foto yang akan diproses. Setelah foto dibuka, klik tab Device Noise Profile. Lalu klik pada Auto Profile. Program secara otomatis akan mencari profil noise yang paling mendekati dan seragam lalu menganalisa tingkat noisenya. Lihatlah pada sidebar sebelah kanan, disana tampak status kamera yang dipakai,  data teknis (EXIF), dan indikator analisa warna (RGB). Selanjutnya klik tab Noise Filter Setting, disinilah pengaturan dan kendali noise ditentukan. Tersedia filter preset yang umumnya sudah mewakili keperluan yang sering digunakan, seperti filter dan sharpen, pilihlah advanced untuk preset yang lebih lengkap. Bila anda tidak puas dengan preset yang diberikan, aturlah secara manual setting pengurang noise yang ada (noise level, reduction amount dan sharpening). Jangan lupa, tiap setting bisa dilakukan preview untuk melihat apakah pengaturan yang anda buat sudah pas atau belum. Terakhir tentu klik tab Output Image dan klik save.

Mudah bukan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips memilih kamera saku untuk pemula

sakuKamera saku menjadi kamera yang penjualannya paling laris dan banyak dicari orang karena kepraktisan dalam pemakaian dan harganyanya yang terjangkau. Evolusi pada kamera saku sudah mendekati titik stagnan dalam arti tidak akan banyak perubahan radikal dalam hal teknologi kamera saku pada masa-masa mendatang. Hal ini berbeda sekali kalau kita flashback ke masa lalu dimana perubahan dan peningkatan fitur kamera begitu cepat dan membingungkan. Belum sempat beli kamera 5 mega, sudah keluar yang 7 mega; belum sempat menjajal kamera dengan VGA movie, sudah keluar yang HD movie. Kini bisa dikatakan, apapun kamera yang dibeli sudah hampir ‘matang’ dalam hal teknologi, tinggal kita memilih mana yang paling sesuai dengan selera dan dana.

Kamera generasi baru boleh dibilang sudah canggih, bahkan saking canggihnya calon pembeli (pemula) sampai bingung akan istilah-istilah yang ditulis di iklan, brosur dan spesifikasinya. Belum lagi para pedagang gencar mengklaim berbagai fitur yang terdengar asing di telinga, semakin membuat grogi calon pembeli. Kami sudah pernah menulis soal fitur baru ini, silahkan dibaca untuk menghindari kami menulis dua kali.

Sebagai permulaan, hal yang terpenting adalah mengenali kebutuhan fotografi anda nantinya. Cobalah menjawab pertanyaan berikut ini, setidaknya anda dapat memprediksi kamera seperti apa yang anda butuhkan :

  • apakah kamera anda nantinya akan dipakai sebagai sarana dokumentasi biasa atau untuk membuat karya foto yang lebih artistik? (kaitannya dengan fitur manual)
  • apakah anda lebih perlu lensa wide untuk kesan luas atau lebih memerlukan zoom lensa yang jauh? (kaitannya dengan fokal lensa)
  • apakah anda akan perlu memotret dengan kinerja cepat, seperti anak yang tak bisa diam? (kaitannya dengan performa shutter lag, auto fokus, burst mode dan shot-to-shot)
  • apakah anda tipe petualang yang sering memotret outdoor atau bukan? (kaitannya dengan bodi kamera dan aksesori underwater)
  • apakah anda lebih suka baterai AA atau Lithium?
  • apakah anda akan sering memakai kamera saku di tempat kurang cahaya, tanpa lampu kilat? (kaitannya dengan kemampuan sensor di ISO tinggi)
  • selain memotret, apakah anda juga suka mengambil video? (kaitannya dengan resolusi video)
  • apakah anda perlu foto ukuran besar untuk dicetak besar atau di-crop ketat? (kaitannya dengan resolusi)

Setelah menjawab kuis di atas, mungkin anda sudah semakin mudah dalam membayangkan kebutuhan fotografi anda. Namun tentu perlu diingat kalau tidak mungkin semua yang kita mau bisa diakomodir oleh satu kamera, tentu ada saja hal-hal yang perlu dikompromikan.

Sebagai tips dalam memilih kamera, berikut hal-hal yang perlu dicermati :

  • merk : tidak usah terpaku pada merk, pada dasarnya produsen kamera ternama punya standar mutu yang sama, meski tak dipungkiri merk besar punya layanan after sales yang lebih baik
  • lensa : kunci ketajaman dan kualitas foto ada di lensa, sebisa mungkin lihatlah hasil fotonya sebelum membeli, lihat apakah ketajaman lensanya sudah anda anggap layak atau tidak
  • zoom : kamera saku umumnya punya lensa 3x zoom optik, meski kini sudah bervariasi mulai dari 4, 5, 6 hingga 10x zoom, bila anda tidak perlu zoom terlalu tinggi jangan memaksakan membeli kamera dengan zoom besar
  • fitu wajib : image stabilizer, karena kamera saku kecil dan ringan maka resiko tergoyang saat memotret cukup besar
  • fitur manual mode : minimal perlu ada manual ISO, lalu kalau ada ya manual eksposure (shutter priority dan aperture priority), syukur kalau ada manual focus juga
  • seberapa wide yang anda perlukan? umumnya kamera saku lensanya bermula dari 35mm, bila anda merasa kurang wide carilah kamera yang lensanya bermula dari 30mm, 28mm atau bahkan 24mm yang akan berguna untuk kreativitas perspektif dan membuat kesan luas
  • resolusi : sebisa mungkin hindari resolusi terlalu tinggi (diatas 10 MP) karena sensor pada kamera saku berukuran kecil sehingga bila dijejali piksel terlalu banyak dia tidak akan mampu memberikan foto yang bersih dari noise di ISO tinggi
  • kinerja kamera saku umumnya sama, tapi tidak ada salahnya periksa lagi spesifikasi soal shutter lag (jeda saat menekan tombol shutter dan foto diambil), shot-to-shot (waktu tunggu dari foto pertama ke foto selanjutnya), burst mode (berapa foto bisa diambil dalam satu detik), dan start-up/shutdown time (waktu yang diperlukan oleh kamera untuk siap memotret saat pertama dinyalakan)

Adapun hal-hal yang umumnya relatif sama pada semua kamera saku, sehingga tidak perlu terlalu dipermasalahkan adalah :

  • kinerja dan mode auto fokus, umumnya tiap kamera punya kinerja AF yang sama (prinsip kerja contrast detect) dan mode AF yang disediakan umumnya sama (multi area atau center), beberapa kamera baru menyediakan auto fokus berbasis deteksi wajah (Face detection)
  • kinerja dan mode metering umumnya sama dengan pilihan semacam center weight dan spot metering
  • kinerja white balance dan pilihan preset yang disediakan (seperti flourescent, tungsten, daylight dsb)
  • spesifikasi dasar seperti maks/min shutter speed, maks/min aperture, maks/min ISO, kamampuan baterai, flash power dsb (perkecualian untuk maks aperture yang terlalu kecil akan merepotkan di saat low light, usahakan cari yang f/2.8)

Itulah beberapa tips yang bisa kami sajikan untuk pedoman membeli kamera saku. Bila ada dana lebih, anda bisa memilih kamera dengan fitur lebih banyak dan lebih baik, seperti ukuran LCD yang lebih besar, fitur HD movie dan bodi kamera berbalut logam. Tapi secara umum dengan anggaran 1 hingga 2 juta sudah bisa didapat kamera saku yang mencukupi untuk kebutuhan fotografi sehari-hari.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..