Duo kamera pemula dari Sony : NEX-F3 dan SLT-A37

Bosan mencari kamera DSLR pemula yang cocok di hati? Mungkin bisa lihat dulu penawaran menarik dari Sony ini : kamera mirrorless pemula Sony NEX-F3 atau kamera translucent mirror pemula Sony A37. Keduanya bukan DSLR, tapi soal sensor keduanya sama dengan DSLR yaitu memakai sensor APS-C. Makin banyak pilihan di kelas pemula dong? Tentu saja..

Sony NEX-F3

nex-f3

Penerus NEX-C3 ini masih mengemas konsep kamera mirrorless kompak, yaitu berukuran mungil meski sensornya besar. Tapi dibanding C3, maka F3 ini tidak terlalu mungil karena dominasi gripnya yang tampak menonjol. Di dalam bodi NEX-F3 ini terdapat sensor CMOS 16 MP dengan crop factor 1,5x. Mount lensa Sony NEX memakai E-mount. Kabar baiknya, NEX-F3 dilengkapi dengan lampu kilat yang menonjol keatas, lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Layar LCD-nya unik dengan sistem lipat ke atas. Kamera ini bisa memotret cepat hingga 5,5 foto per detiknya. Dibundel dengan lensa kit 18-55mm OSS, harganya bersaing di kisaran 6 juta rupiah.

Sony SLT-A37

slt-a37a

Seri SLT Sony sudah berbeda dengan DSLR, meski sangat mirip. SLT yang menerapkan cermin transparan tidak perlu naik turun seperti DSLR, sehingga saat live view atau merekam video kamera SLT mampu tetap menikmati modul AF berbasis deteksi fasa yang akurat dan cepat. Kali ini sebagai penerus dari A35 muncullah Sony SLT-A37 yang memakai sensor CMOS 16 MP dan terpadu dengan stabilizer. Anda bisa memilih untuk melihat layar LCD yang cukup kecil dan kurang detil untuk ukuran kamera jaman sekarang yaitu 2,7 inci, 230 ribu piksel, atau melihat lewat jendela bidik elektronik yang punya 1,44 juta piksel.

slt-a37_rear

Meski tergolong kamera pemula, A37 dibekali 15 titik AF dengan 3 cross type, sehingga cocok untuk tracking AF saat merekam video (sesuai tujuan dibuatnya kamera SLT). Untuk membuatnya lebih mumpuni, Sony memberi kemampuan continuous shoot 7 foto per detik untuk kamera ini. Kalau mau menjajal A37 dengan lensa kit 18-135mm f/3.5-5.6 SAM, maka harganya sekitar 8 juta rupiah.

Kedua kamera pemula diatas sudah sarat fitur termasuk fitur manual eksposur maupun fitur khas Sony seperti Sweep Panorama, Clear Image Zoom dan Focus peaking untuk rekam video dengan manual fokus. Untuk pemula tapi canggih, enak kan..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony hadirkan kamera SLT A77, A65, NEX-7 dan NEX-5N

Sony baru saja meluncurkan empat kamera dengan sensor DSLR APS-C, dimana dua kamera merupakan model SLT (Alpha SLT-A77 dan A65) dan dua lagi merupakan generasi NEX sebagai kamera mirrorless kompak (NEX-7 dan NEX-5N). Kejutan besar yang utama disini adalah dipakainya sensor beresolusi ekstra padat 24 MP (kecuali NEX-5N memakai 16 MP). Selain itu Sony juga memperkenalkan lensa baru dengan A mount dan E mount, serta sebuah adapter unik yang menghubungkan bodi NEX dengan lensa A mount. Simak selengkapnya disini.

Sony SLT-A77

Sony perlu waktu empat tahun untuk membuat penerus A700 yang amat populer, namun kini dalam teknologi baru dengan cermin translucent dan jendela bidik elektronik. Sony menargetkan A77 sebagai kamera terbaik dan tercanggih di kelas sensor APS-C, dengan sensor 24 MP CMOS, burst 12 gambar per detik, 19 titik AF ( 11 diantaranya cross type) dan viewfinder paling tajam di dunia dengan 2,4 juta dot berteknologi OLED.

Bodi kamera ini terbalut magnesium alloy, memiliki dua kendali di depan dan belakang plus sebuah joystick untuk kendali menu yang lebih cepat, dengan layar LCD utama 3 inci yang bisa dilipat maupun diputar. Terdapat juga LCD tambahan di bagian atas kamera. Kamera A77 dan A65 dilengkapi dengan GPS untuk geotagging. Shutter unit teruji sampai 150 ribu kali jepret, dengan sync 1/250 detik untuk flash dan maksimum speed adalah 1/8000 detik.

Tampak atas dari kamera A77 terlihat roda mode dial di bagian kiri dan LCD tambahan di bagian kanan.

Sebagai lensa kit A77, tersedia Sony DT 16-50mm f/2.8 SSM dan lensa ini bisa dibeli terpisah seharga 6 jutaan. Harga A77 sendiri body only adalah 13 jutaan atau bila dengan lensa kit tadi menjadi 19 jutaan. Minat?

Sony SLT-A65

Di kelas pemula, Sony menawarkan A65 yang lebih simpel dibanding dengan A77, dan tentunya lebih terjangkau. Meski tergolong di kelas pemula, namun A65 tetap memiliki sensor yang sama dengan A77 yaitu 24 MP. Meski untuk modul AF-nya A65 cukup dengan 11 titik AF (3 diantaranya cross type) dan masih sangat cepat dengan 10 fps burst. Soal viewfinder pun A65 ini memiliki resolusi yang sama tajamnya dengan si kakak A77.

Bodi kamera A65 memang hanya terbuat dari plastik yang membuat harganya cukup terjangkau. Layar LCD 3 inci di A65 bisa dilipat. Shutter maksimum adalah 1/4000 detik dan sync flash 1/160 detik saja.

Sebagai lensa kit A65, ada Sony DT 18-55mm f/3.5-5.6 dan harga jual A65 dengan lensa kit adalah 9 jutaan.

Kemampuan rekam video A77 dan A65 memiliki kesamaan dengan full HD 60 frame per detik progressive, continuous AF dan audio stereo. Terdapat juga tombol langsung untuk merekam video, colokan eksternal mic dan fitur manual eksposur bisa digunakan saat merekam video. Hasil rekaman video bisa ditampung di memory card modern SDXC karena A77 dan A65 sudah kompatibel dengan SDXC maupun Memory Stick. Terakhir, keduanya memiliki sensor dengan stabilizer Steady Shot yang berguna saat memotret maupun merekam video.

Sony NEX-7 dan NEX-5N

Inilah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang biasa disebut kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik dengan ketajaman yang sama seperti A77/A65, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara adiknya NEX-5N adalah kamera mungil dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit.

Sebagai lensa kit dari NEX-7 dan NEX-5N adalah 18-55mm f/3.5-5.6 OSS dengan E mount, namun Sony menawarkan beberapa lensa E mount baru (yang sudah dilengkapi stabilizer OSS)  untuk pemilik kamera NEX diantaranya :

  • lensa tele 55-210mm f/4.5-6.3 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 50mm f/1.8 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 24mm f/1.8 (9 jutaan)

Sedangkan adapter baru LA-EA2 memungkinkan auto fokus yang cepat karena terdapat translucent mirror di dalam adapter, membuat harganya melambung hampir mencapai 4 juta rupiah untuk adapter saja !

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera EVIL Sony terbaru : NEX-C3 dan Alpha A35

Kamera EVIL, atau Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses adalah kamera modern dengan jendela bidik elektronik (bisa dengan cermin atau tanpa cermin) dan punya lensa yang bisa dilepas. Sony yang dikenal sebagai produsen kamera modern tentu punya banyak produk di kategori kamera EVIL, seperti seri NEX untuk kelas mirrorless dan seri SLT atau cermin semi tembus pandang (translucent mirror). Kali ini Sony hadirkan dua produk barunya sebagai langkah update berkala yaitu Sony NEX-C3 dan Sony Alpha A35.

nex-c3

Sebenarnya di kelas mirrorless Sony sudah punya seri NEX yang memakai sensor APS-C yaitu NEX-3 dan NEX-5, sedang di kelas translucent mirror yang juga bersensor APS-C, Sony sudah punya duo A33 dan A55. hadirnya kamera mungil NEX-C3 ini merupakan update untuk menggantikan NEX-3 yang hadir satu tahun silam dan kamera A35 ditujukan untuk menggantikan A33. Belum ada kabar mengenai rumor tentang A77 ataupun penerus NEX-5. Perbedaan paling signifikan antara produk baru NEX-C3 dengan pendahulunya adalah naiknya resolusi dari 14 MP ke 16 MP dan penambahan efek gambar (picture effects).  Dari segi spesifikasi hampir tidak banyak perbedaan berarti seperti ISO (200-12800), HD 720 dan ukuran LCD yang selebar 3 inci. Sedangkan A35 kini memakai sensor 16 MP (sama seperti A55) namun dengan spesifikasi yang mirip A33 seperti full HD movie dan burst 7 fps. Baik NEX-C3 maupun A35 dijual di kisaran harga 6 jutaan dan sudah dilengkapi lensa kit.

slt-a35

Sekedar mengingatkan, meski seri NEX dan seri SLT sama-sama tergolong kamera dengan lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable) dan sama-sama memakai sensor APS-C namun keduanya punya perbedaan mendasar dalam proses auto fokus, dimana kamera NEX sebagai kubu mirrorless (seperti kubu Micro Four Thirds) hanya mengandalkan auto fokus berbasis deteksi kontras seperti kamera digital pada umumnya. Sedangkan seri SLT dirancang untuk bisa auto fokus memakai deteksi fasa setiap saat, baik saat mengambil foto maupun video. Seri SLT tetap memiliki cermin sehingga ukuran dan bentuk kamera SLT masih agak mirip kamera SLR.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony SLT A55/A33, inikah DSLR modern yang sesungguhnya?

Tak dipungkiri hal utama yang fenomenal dari peluncuran DSLR Sony baru-baru ini adalah hadirnya kamera SLT (Single Lens Translucent-mirror) yaitu Alpha A55 dan A33. Keduanya memakai teknologi cermin yang semi-transparan yang pertama kalinya diperkenalkan di dunia kamera digital. Manfaat dari pemakaian cermin transparan ini terasa dalam auto fokus yang cepat saat live-view dan saat merekam video. Sebelumnya Sony masih menahan diri untuk tidak membenamkan fitur video pada kamera DSLR-nya.

Sony SLT A55/A33 bagaimanapun juga adalah kamera DSLR biasa dengan cermin dan sensor berukuran APS-C. Mount lensanya pun sama seperti DSLR Sony lainnya, pun juga dengan spesifikasi dasarnya. Bedanya adalah cermin di A55/A33 adalah berjenis pellicle mirror (semi transparan) yang dulu sempat digunakan oleh Canon di era SLR film namun kurang sukses. Kini Sony mencoba berinovasi dengan cermin unik ini, setelah sebelumnya telah berinovasi dengan sistem dua sensor untuk mewujudkan auto fokus yang cepat saat live-view yaitu berbasis deteksi fasa.

Sebelum membahas lebih jauh soal cermin transparan ini, sekilas kami ulas kembali deretan fitur A55/A33 yaitu memakai sensor CMOS berukuran APS-C, mampu memotret burst hingga 10 fps, auto fokus berbasis deteksi fasa (15 titik sensor AF) saat memotret dan merekam video (resolusi video HD 1080i) dan yang unik adalah digunakannya view finder elektronik dengan resolusi tinggi 1.4 juta piksel. Bila hendak mencari padanan dari kedua kamera SLT ini, tidak ada produsen DSLR manapun yang bisa menyamai kemampuan A55/A33 dalam live-view, auto fokus dan burst 10 fps dengan kisaran harga jual 8 jutaan saja.

Kutipan dari Sony pada siaran pers resminya :

Sony’s first-ever digital cameras to employ Translucent Mirror Technology these new models showcase an innovative optical system that opens up dramatic new shooting possibilities. In contrast with conventional DSLR cameras, Translucent Mirror Technology uses a fixed, translucent mirror that ‘splits’ the optical pathway between the main image sensor and a separate phase-detection autofocus sensor. Translucent Mirror Technology overcomes other traditional limitations of DSLR models, with its simplified mechanical design shrinking camera size and complexity. Making the ?55 and ?33 a compelling choice for casual photographers who want to capture spontaneous family moments and travel scenes with less to carry.

Dari kutipan di atas nampak kalau Sony merasa sudah melakukan inovasi besar dengan cermin ini sehingga DSLR lain akan dianggap konvensional (kalau boleh dibilang kuno) dan bisa jadi Sony merancang sistem ini untuk jadi standar DSLR di era mendatang. Bahkan metoda SLT ini mengancam kubu mirrorless yang jelas tidak memiliki keunggulan dalam hal auto fokus deteksi fasa yang cepat (apalagi harga SLT dan mirrorless bersaing ketat).

pelliclemirror

Kini kita bahas seputar cerminnya. Lihat gambar ilustrasi di atas. Cermin transparan pada kamera Sony SLT ‘memecah’ sinar yang masuk melalui lensa menjadi dua arah yaitu 70% memasuki sensor dan 30% menuju modul auto fokus (di bagian atas). Dalam hal ini konsekuensi pertama dari pemakaian cermin semacam ini adalah penurunan jumlah cahaya yang memasuki sensor sebanyak kurang lebih 0.3 Ev. Mungkin hal ini bukan masalah serius buat kebanyakan kita karena kamera modern punya hasil yang baik di ISO tinggi, tapi penurunan ini tetap harus dicatat dan diantisipasi dampaknya dikala kondisi kurang cahaya.

Sony mengklaim membuat inovasi dengan hadirnya duo A55/A33 ini, namun perubahan cukup radikal pada desain  ‘jeroan’ kamera SLT ini akan membawa implikasi tersendiri (positif atau negatif – silahkan anda nilai sendiri) seperti :

  • cermin tidak lagi bergerak naik turun saat memotret (meski bisa diangkat manual untuk membersihkan sensor)
  • tanpa gerakan cermin membuat kamera ini bisa bebas memotret cepat hingga 10 fps
  • modul AF pindah ke bagian atas kamera, sehingga hilanglah prisma untuk jendela bidik optik
  • ketiadaan prisma menjadikan dimensi kamera SLT lebih kecil dari kamera DSLR
  • pengganti jendela bidik optik adalah finder elektronik (LCD) seperti kamera mirrorless
  • sensor CMOS  selalu bekerja setiap saat kamera akan dipakai memotret, plus stabilizer pada sensor yang bekerja membuat sensor bekerja keras
  • tanpa jendela bidik optik, sulit untuk memotret panning sambil melihat obyek yang akan difoto
  • tanpa cermin yang bergerak naik turun, semestinya kamera SLT bisa memotret tanpa suara, namun karena masih memakai shutter mekanik maka suara ‘cetrek’ tetap terdengar saat memotret
  • hilangnya modul metering (light meter built-in), sebagai gantinya metering memakai sensor utama dengan 1200-zone multi-segment metering
  • Sony menganggap sistem SLT tidak butuh auto fokus berbasis deteksi kontras seperti live-view pada DSLR lainnya

Memang sekarang kita belum bisa menduga seperti apa DSLR modern di masa mendatang, apakah tetap akan memiliki cermin biasa (warisan dari jaman dahulu) atau memakai cermin transparan (seperti Sony A55/A33 ini) atau justru meniadakan cermin (seperti kamera mirrorless, kamera micro 4/3 dsb). Apakah di masa mendatang DSLR itu masih memakai jendela bidik optik atau sudah memakai LCD? Apakah di masa depan shutter mekanik masih tetap dipertahankan? Kami masih menantikan itu semua, tapi satu hal yang pasti, fungsi kamera untuk fotografi tetap sama, tak peduli bagaimanapun desain kamera DSLR di masa mendatang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..