Perbedaan prinsip kerja motor AF pada kamera DSLR

Seringkali kita kebingungan saat akan membeli kamera DSLR apalagi bila ini adalah kamera DSLR pertama kita. Berbagai artikel sudah dibaca, namun malah semakin bingung karena tiap kamera seolah adalah kamera yang terbaik. Belum lagi berbagai istilah dan spesifikasi teknis yang membingungkan membuat kita malah akhirnya tidak tahu bagaimana cara memilih kamera yang paling mudah. Disamping mengenali fitur dan keunggulan bermacam kamera, sebenarnya kita juga perlu mengenal perbedaan mendasar mengenai prinsip kerja sistem motor auto fokus sehingga bisa membantu kita untuk membuat keputusan.

Sebagai pembuka, kamera DSLR masa kini yang umum kita jumpai memiliki kesamaan diantaranya memakai sensor CMOS berukuran APS-C, resolusi antara 12-18 MP, sudah bisa merekam video dan dilengkapi dengan lensa kit. Soal kualitas hasil foto justru tidak perlu menjadi beban karena semua kamera DSLR sudah mampu memberi hasil foto yang sangat baik, noise rendah dan kinerja yang cepat. Lalu apa yang menjadi perbedaan prinsip dari beragam merk DSLR yang ada? Auto fokus dan kompatibilitas lensalah jawabannya.

Salah satu kenyamanan dalam memakai kamera DSLR adalah kecepatan dan akurasi auto fokusnya. Kerja auto fokus di kamera sebenarnya sama, yaitu adanya elemen optik yang berputar di dalam lensa untuk mencari fokus terbaik. Putaran pada elemen optik ini dimungkinkan berkat adanya motor fokus yang berukuran kecil. Masalahnya, dengan banyak dan beragamnya lensa DSLR yang ada di dunia ini, produsen terbagi dalam dua metoda dalam mendesain motor yaitu :

  • motor fokus di lensa
  • motor fokus di kamera

Bisa dibilang motor fokus di lensa adalah tren dan standar saat ini dan seterusnya. Adanya motor fokus di lensa membuat kamera DSLR tidak perlu memiliki motor fokus tersendiri, sehingga ukuran kamera bisa dibuat lebih kecil. Resikonya, ukuran lensa yang akan menjadi agak lebih besar karena perlu ruang untuk menyimpan motor. Motor di lensa dikendalikan dan ditenagai oleh baterai yang ada di kamera melalui pin kontak yang menghubungkan kamera dan lensa.

Sebaliknya, motor fokus di bodi kamera adalah warisan masa lalu, dipertahankan demi kompatibilitas lensa lama dengan kamera baru. Motor fokus di kamera terhubung ke lensa melalui semacam ‘obeng’ kecil yang menonjol di mount lensa dan ‘obeng’ ini bisa berputar menggerakkan elemen fokus di lensa (khususnya lensa lawas). Auto fokus semacam ini menghasilkan suara yang agak kasar dan kecepatan fokusnya juga kalah dibanding dengan motor di lensa.

Auto fokus DSLR Canon

Canon sejak meluncurkan sistem EOS di tahun 1987 memutuskan untuk menempatkan motor fokus pada lensa. Untuk itu semua DSLR Canon EOS tidak memiliki motor fokus di dalam bodinya. Canon mendesain dua jenis motor untuk setiap lensa Canon, yaitu motor biasa dan motor USM. Motor USM (Ultra Sonic Motor) hadir dengan teknologi tinggi yang lebih mahal, lebih cepat dan lebih halus. Maka itu lensa Canon USM lebih disukai karena kecepatan auto fokusnya. Perhatikan kalau lensa kit Canon umumnya tidak memakai motor USM sehingga pemilik DSLR Canon dengan lensa kit biasanya tergoda untuk mengganti lensanya di kemudian hari guna bisa merasakan kecepatan fokus sesungguhnya dari DSLR. Contoh lensa EF-S 18-135mm IS belum memiliki motor USM, namun lensa EF-S 17-85mm IS sudah dilengkapi dengan motor USM (contoh gambar di bawah).

canon-eos-50d17-85mm

Jadi berita baiknya adalah, kamera DSLR Canon EOS apapun akan bisa auto fokus dengan lensa EOS apapun, hanya kecepatan dan kinerja fokus terbaik didapat pada lensa USM yang relatif mahal.

Auto fokus DSLR Nikon

Nikon memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan Nikon F-mount sejak 50 tahun silam. Artinya lensa Nikon apapun bisa dipasang di kamera DSLR Nikon, meski kompatibilitas auto fokus akan jadi masalah utama disini. Prinsip kerja auto fokus kamera SLR Nikon film sejak tahun 1986 memakai motor AF di bodi, sehingga lensa Nikon AF sudah didesain untuk bisa melakukan auto fokus bila diputar oleh motor fokus pada kamera. Barulah pada tahun 1998 Nikon membuat lensa dengan motor SWM (Silent Wave Motor) yang lensanya kemudian diberi kode AF-S. Bila lensa AF-S dipasang di kamera yang punya motor fokus, maka yang dipakai adalah motor di lensa. Transisi ini membuat Nikon memutuskan melakukan efisiensi desain sejak tahun 2006 saat meluncurkan Nikon D40, yaitu menidakan motor fokus di kamera. Sejak itu, kamera DSLR kelas entry-level dari Nikon tidak memiliki motor fokus. Kamera itu adalah : D40, D40x, D60, D3000, D3100 dan D5000. Kamera-kamera itu bekerja normal dengan lensa AF-S, namun bila dipasang lensa AF (tanpa motor) maka kamera tersebut hanya bisa manual fokus saja.

afmount

Kabar baiknya, Nikon menerapkan teknologi SWM pada seluruh lensa AF-S nya. Artinya, tidak seperti Canon yang hanya memberi motor USM pada lensa-lensa mahal saja, semua lensa Nikon AF-S bisa merasakan kecepatan auto fokus berteknologi modern yang cepat dan halus. Namun tentu saja, semakin murah lensanya maka semakin sederhana teknologi SWM yang diterapkan oleh Nikon. Maka itu pemilik DSLR Nikon dengan lensa kit (apalagi lensa kit D90/D7000 yaitu AF-S 18-105mm VR) bisa merasakan lensa AF-S dengan fokus cepat dan halus, namun kabar burukya pemilik DSLR Nikon entry level tidak bisa melakukan auto fokus bila memakai lensa Nikon AF yang dibuat sebelum tahun 1998.

Auto fokus DSLR Sony

Sony menjadi pemain yang sangat diperhitungkan sejak mengakuisisi Konica Minolta pada 2006 silam, dan tetap mempertahankan Minolta AF mount (sejak 1985) sebagai mount standar untuk DSLR Sony Alpha. Seperti halnya Nikon, Minolta telah terlanjur memakai auto fokus dengan motor di kamera. Maka itu auto fokus untuk semua lensa Minolta AF akan digerakkan oleh motor di kamera Sony. Sony sendiri ahirnya di tahun 2009 melakukan langkah serupa Nikon yaitu membuat lensa dengan motor fokus yang dinamai SAM (Smooth Autofocus Motor) seperti lensa kit DT 18-55mm f/3.5-5.6 SAM. Namun Sony sadar akan koleksi lensa SAM yang masih sedikit sehingga tidak begitu saja menghilangkan motor fokus di bodi kamera, sehingga kamera Sony Alpha tipe apapun tetap memiliki motor AF di dalamnya (dengan tanda ada tonjolan ‘obeng’ di bagian bawah mount seperti gambar di bawah). Kamera Sony Alpha tipe lama perlu melakukan upgrade firmware untuk bisa melakukan auto fokus memakai lensa SAM.

sony-mount

Catatan tambahan, Sony menjadi satu-satunya produsen DSLR yang inovatif dalam mencari terobosan auto fokus yang cepat saat live view dan saat merekam video. Maka itu beberapa kamera Sony Alpha didesain memiliki dua sensor untuk auto fokus cepat saat live view, dan memiliki cermin transparan untuk merekam video dengan auto fokus cepat seperti Sony A33 dan A55.

Auto fokus DSLR Pentax

Pentax dan Nikon memiliki kesamaan dalam sejarah fotografi yang panjang, meski Pentax kalah dalam jumlah koleksi lensanya. Namun lensa Pentax yang jumlahnya sedikit ini umumnya memiliki kualitas yang sangat baik dan cocok untuk outdoor. Pentax dengan K-mount sejak tahun 1975 berupaya mendesain sistem auto fokus yang berulang kali mengalami revisi hingga versi K-AF2 barulah dianggap versi standar auto fokus lensa Pentax yang digerakkan oleh motor di kamera. Maka itu seperti Nikon dan Sony, Pentax pun memiliki ‘obeng’ di bagian mount-nya.

pentax-17-70mm-f4-sdm

Seperti halnya Sony, Pentax akhirnya ikut terjun mendesain lensa dengan motor fokus bertenaga gelombang dengan meluncurkan lensa SDM (Silent Drive Motor) yang kerjanya lebih cepat dan lebih halus. Hanya ada sedikit lensa Pentax dengan tipe SDM, sehingga Pentax tetap mempertahankan motor fokus di kamera untuk seluruh kamera DSLRnya. Kamera Pentax sejak K100D dan K10D (dengan update firmware) bisa mengenali lensa SDM dan memutar motor fokus di lensa SDM tersebut. Lensa SDM sendiri tetap didesain untuk bisa kompatibel dengan motor fokus di bodi, kecuali lensa DA 17-70mm and DA* 55mm f/1.4.

Kesimpulan

Canon EOS menjadi satu-satunya pemain DSLR yang tidak memiliki motor fokus di bodi. Semua lensa Canon sudah memiliki motor AF sejak 1987 namun hanya sebagian yang memiliki motor USM. Di lain pihak, Nikon-Sony-Pentax masih mempertahankan adanya motor fokus di kamera guna bisa auto fokus dengan lensa lama. Nikon memutuskan menghilangkan motor fokus di kamera entry-level, namun dikompensasi dengan banyaknya pilihan lensa AF-S. Semua lensa AF-S Nikon sudah memakai motor SWM. Sony dan Pentax lebih bermain aman dengan membiarkan semua kameranya tetap memiliki motor fokus di bodi, sambil perlahan memperbanyak pilihan lensa dengan motor SAM (Sony) atau SDM (Pentax). Mengingat di masa depan semua lensa semestinya akan punya motor fokus, maka kamera masa depan rasanya tidak lagi perlu punya motor fokus. Mungkin Nikon (disusul Sony dan Pentax) perlahan akan mengikuti jejak Canon dengan mengandalkan auto fokus hanya pada lensa. Hal yang sama sudah berlaku di kubu kamera mirrorless seperti format micro Four Thirds (Olympus dan Panasonic), Samsung NX, Sony NEX yang semuanya mengandalkan motor AF di lensa.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Semua tentang kamera DSLR Canon EOS

Bagi anda pecinta DSLR Canon, atau yang sedang merencanakan membeli sistem DSLR Canon, apakah anda sudah kenal seluk-beluk DSLR Canon? Bagaimana konsep EOS dan EF mount, seperti apa auto fokus di kamera Canon, apa beda lensa EF dan EF-S, dan masih banyak lagi. Kali ini kami buatkan sebuah artikel yang khusus membahas DSLR Canon EOS secara lengkap hanya untuk anda. Selamat membaca..

Asal mula kamera EOS

EOS adalah singkatan dari Electro Optical System yang berarti sistem optik yang memiliki rangkaian elektronik. Canon pertama kali memperkenalkan kamera film EOS pada bulan Maret 1987 dengan meluncurkan EOS 650 dengan kemampuan auto fokus. Kamera EOS memiliki mount EF, sehingga Canon mendesain lensa khusus untuk mount EF dengan nama lensa Canon EF, dan semua lensa EF ini pasti kompatibel dengan kamera EOS.

Kamera EOS Digital pertama dari Canon adalah EOS DSC 3 dengan sensor CCD 1,3 MP (kerjasama dengan Kodak) dan tahap penting dalam manufaktur EOS ada saat Canon akhirnya bisa memproduksi sendiri kamera EOS dengan meluncurkan EOS D30 pada tahun 2000 dengan sensor CMOS beresolusi 3 MP. Sebagai prosesor dari EOS Digital, digunakanlah prosesor dengan nama Digic yang kini sudah mencapai generasi ke empat.

fd_mount

Kamera Canon sebelum 1987 memiliki mount FD yang hanya cocok untuk lensa Canon FD. Lensa FD (lihat contoh di atas) hanya bisa manual fokus dan lensa FD ini tidak bisa dipasang di mount EOS karena berbeda bentuk dan ukuran. Hal ini berbeda dengan sistem Nikon dimana semua lensa Nikon sejak jaman dahulu masih bisa dipasang di DSLR Nikon terbaru.

Transisi dari mount FD ke mount EOS menjadi saat-saat bersejarah Canon yang penuh kritik dan terkesan spekulatif. Namun akhirnya kini Canon berhasil menikmati hasilnya karena transisi berjalan sukses dan Canon menebusnya dengan memproduksi banyak lensa khusus mount EF untuk sistem EOS Digital yang berkualitas.

Lensa EF dan EF-S

Lensa EF  (electrofocus) adalah lensa buatan Canon yang memiliki mount EF sehingga pasti kompatibel dengan kamera EOS. Lensa EF bisa dipasang di bodi SLR Canon EOS film (35mm) maupun di bodi EOS digital apapun, baik dengan sensor full frame, APS-H maupun APS-C. Lensa EF kini memiliki banyak varian baik jenis prime (fix) ataupun zoom. Bahkan lensa kelas mewah dari Canon juga banyak diproduksi yaitu lensa dengan kode L-series (luxury) yang memiliki ciri ada gelang merah di ujungnya. Lensa L series ini memiliki kualitas optik yang prima dan kemampuan menahan gangguan cuaca berkat adanya weathersealing didalamnya.

drebel

Pada tahun 2003 Canon meluncurkan DSLR EOS 300D (Digital Rebel) dengan lensa kit EF-S 18-55mm. Inilah pertama kalinya diperkenalkan lensa EF-S dalam sejarah Canon. Lensa EF-S memiliki diameter image circle yang lebih kecil dari lensa EF, didesain khusus untuk DSLR dengan sensor APS-C seperti EOS 50D atau 500D. Jadi kamera EOS Digital dengan sensor APS-C bisa saja dipasangi lensa EF (tidak harus lensa EF-S), tapi sebaliknya lensa EF-S tidak bisa dipasang di bodi DSLR full frame. Huruf ‘S’ pada kode EF-S sendiri adalah singkatan dari Short (back focus), maksudnya lensa EF-S memiliki jarak yang lebih dekat antara lensa dengan sensor.

Kini di pasaran tersedia banyak lensa EF dan juga EF-S. Bila anda berencana akan memiliki DSLR EOS dengan sensor full frame seperti EOS 5D mark II, maka carilah hanya lensa EF saja. Namun bila anda merasa cukup puas dengan DSLR EOS sensor APS-C seperti EOS 550D, EOS 60D atau EOS 7D (dan tidak berencana membeli DSLR full frame di masa mendatang), maka lensa EF-S bisa jadi pilihan untuk dibeli.

Sistem auto fokus kamera EOS

Pada prinsipnya auto fokus (AF) di kamera EOS memakai motor AF yang ada di lensa, dengan kata lain semua lensa Canon EF memiliki motor AF didalamnya. Hal ini berbeda dengan Nikon yang memiliki motor AF di bodi kamera (meski tidak semua DSLR Nikon punya motor AF), dengan kata lain tidak semua lensa Nikon punya motor AF (hanya lensa Nikon buatan sejak 1992 yang ada motor fokusnya, diberi kode AF-S). Namun Canon tidak memperlakukan setiap lensanya dengan sama, dimana lensa murah dan lensa mahal diberikan motor AF yang berbeda jenis dan kualitasnya.

Terdapat dua jenis motor di lensa Canon, yaitu :

  • motor AFD (arc-form drive) atau micromotor drive -> untuk lensa murah
  • motor USM (ultrasonic motor) -> untuk lensa mahal

usm-ring

Motor AFD merupakan motor mikro yang konvensional dan murah. Didalamnya terdapat koil magnet yang berputar bila dialiri tegangan listrik. Motor ini bersuara berisik saat sedang berputar dan kecepatannya pun sedang-sedang saja. Perhatikan kalau lensa Canon EF/EF-S yang tidak diberi label USM artinya motor di dalamnya memakai sistem AFD (bedakan dengan lensa Nikon AF-S yang pasti sudah memakai motor SWM).

Motor USM merupakan tekolonogi baru yang menggerakkan motor dengan gelombang yang memberikan kecepatan lebih tinggi namun dengan suara yang lebih halus. Namun lagi-lagi Canon membagi lensa dengan teknologi USM ini kedalam dua kelompok, yaitu lensa USM untuk lensa mahal dan USM untuk lensa yang biasa.

Adapun dua jenis motor USM di lensa Canon, yaitu :

  • USM berbasis ring untuk lensa mahal (lihat contoh gambar di atas)
  • USM berbasis micromotor untuk lensa yang lebih murah

Perbedaan keduanya ada di prinsip kerja dan kemampuan manual fokus instan (FTM : full-time manual). Pada lensa USM berbasis ring, kita bisa langsung memutar ring manual fokus kapan saja kita mau. Jadi berpindah dari auto fokus ke manual fokus bisa dilakukan langsung tanpa memindah tuas AF ke MF. Bila memakai lensa non USM atau lensa USM murah (dengan micromotor), kita harus memindahkan tuas AF ke MF baru memutar ring manual fokus.

Lensa dengan kode USM atau bukan tidak akan berpengaruh pada kualitas optik, karena USM hanya menandakan sistem kerja motor AF saja. Bila anda dalam keseharian sering memotret benda yang bergerak, atau ajang olah raga dan perlu kinerja tercepat dari sistem AF lensa Canon, maka pilihlah lensa dengan teknologi USM didalamnya.

Mode dial khas Canon

Canon EOS Digital memiliki mode dial yang tidak banyak berbeda dengan kebanyakan kamera DSLR lain. Terdapat satu mode Auto, lima mode kreatif dan beberapa preset untuk kondisi yang spesifik (basic zone atau scene mode). Sekilas penjelasan tentang mode kreatif yaitu :

eos-dial

  • P (Program) : seperti mode Auto tapi kita bisa beralih dari beberapa kombinasi aperture dan shutter yang mungkin
  • Tv (Shutter Priority) : kamera menentukan setting terbaik, sementara kita menentukan berapa kecepatan shutter yang akan digunakan
  • Av (Aperture Priority) : kebalikan dari Tv, kita menentukan bukaan diafragma sementara kamera mengatur kecepatan shutter yang sesuai
  • M (Manual) : kendali akan shutter dan aperture murni pada kita sebagai pemakai
  • A-DEP (Depth of Field/DoF Preview) : kamera akan memakai bukaan terkecil (stop down) untuk preview DoF (karena mengurangi cahaya yang masuk maka tampilan di viewfinder akan menjadi agak gelap).

Lampu kilat

Canon EOS memiliki sistem lampu kilat dengan teknologi E-TTL (Electronic Through-The-Lens). E-TTL sendiri merupakan proses pengukuran cahaya (metering) melalui lensa sehingga bisa ditentukan berapa intensitas lampu kilat yang terbaik untuk tiap kondisi pemotretan. Hal ini akan menghindarkan hasil foto yang terlalu gelap atau terlalu terang saat menggunakan lampu kilat, baik saat memotret memakai lampu built-in ataupun eksternal.

Algoritma E-TTL Canon dilakukan berturut-turut yaitu :

  1. Saat tombol rana ditekan setengah, proses auto fokus dan metering (mengukur cahaya sekitar) dilakukan.
  2. Lampu pre-flash akan menyala, pantulannya kembali diukur oleh kamera.
  3. Dari situ kamera menghitung dan membandingkan dua hasil pengukuran sebelumnya.
  4. Saat tombol ditekan penuh, cermin terangkat, shutter membuka dan lampu kilat menyala.
  5. Shutter kembali menutup, cermin kembali turun dan hasil foto tampil di layar LCD.

580ex_ii

Untuk lampu kilat eksternal, Canon juga menggunakan teknologi high speed sync (FP mode) dan wireless mode. FP mode memungkinkan pemakaian lampu kilat eksternal dengan kecepatan shutter diatas kecepatan sync maksimum kamera, dengan cara lampu akan terus menyala dengan interval 50 kHz selama shutter terbuka. Hal ini cocok dipakai untuk melawan backlight meski konsekuensinya dapat menguras baterai lampu kilat. Wireless mode memungkinkan pengaturan beberapa lampu kilat sekaligus secara nirkabel, dengan satu commander dan beberapa slave. Komunikasi antara sistem lampu kilat memakai gelombang Radio Frequency (RF).

Produk lampu kilat terbaru yang pasti kompatibel dengan kamera EOS digital diantaranya :

  • Speedlite 580EX II (4 baterai AA – GN 58)
  • Speedlite 430EX II (4 baterai AA – GN 43)
  • Speedlite 270EX (2 baterai AA – GN 27)

Segmentasi produk

Kamera DSLR Canon EOS terkenal akan segmentasi produk (diversifikasi) yang jelas. Secara umum EOS Digital terbagi tiga kelompok yaitu kamera kelas pemula (juga diberi nama Digital Rebel), kelas menengah dan kelas pro.

EOS kelas pemula :

canon_eos550dInilah EOS yang biasa diincar oleh para pemula, untuk dokumentasi keluarga atau untuk sekedar menyalurkan hobi. Kamera EOS pemula ini berukuran kecil, berbahan plastik, memakai pentamirror untuk prismanya, tidak memiliki LCD di bagian atas, minim tombol dan kinerja burst yang pas-pasan.

Saat ini di pasaran ada tiga produk EOS Digital di kelas pemula yaitu :

  • EOS 1000D (10 MP, live view)
  • EOS 500D (15 MP, HD movie)
  • EOS 550D (18 MP, HD movie)

EOS kelas menengah :

canon_eos5dmkiiInilah EOS untuk para fotografer serius yang lebih dari sekedar hobi atau untuk mendukung profesimya. Kamera EOS kelas menengah punya bodi yang lebih kokoh (bisa fiber atau magnesium), sudah memakai pentaprism untuk prismanya, dilengkapi bermacam tombol akses langsung dan layar LCD tambahan di bagian atas. Fitur kamera kelas ini pun semakin lengkap dan punya ergonomi yang lebih nyaman.

Pilihan produk EOS di kelas ini adalah :

  • EOS 60D (18 MP, HD movie dengan layar LCD lipat)
  • EOS 7D (18 MP, HD movie, inilah kamera EOS tercanggih di kelompok sensor APS-C, sekaligus pengganti EOS 50D)
  • EOS 5D mark II (sensor full-frame 21 MP, HD movie)

EOS kelas pro :

canon_eos1dmkivInilah EOS untuk fotografer profesional yang berkecimpung di dunia bisnis fotografi seperti studio, produksi iklan maupun jurnalis olahraga. Kemera EOS kelas pro ini punya bodi yang besar (sehingga tidak perlu lagi memasang vertical grip), kinerja tertinggi, titik AF yang berlimpah (45 titik)  dan punya sensor besar.

Dua produk elit Canon di kelas ini yaitu :

  • EOS 1D mark IV (sensor APS-H 16 MP, HD movie)
  • EOS 1Ds mark III (sensor full-frame 21 MP)


Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon 15-85mm/Nikon 16-85mm vs Sigma 17-70mm

Lensa idaman banyak orang adalah lensa yang memiliki kualitas optik baik, memiliki rentang fokal efektif (dari wide hingga tele), berfitur lengkap (stabilizer, motor micro) dan harganya terjangkau. Dalam dunia fotografi, lensa zoom yang harganya terjangkau itu identik dengan lensa dengan bukaan variabel, alias lensa lambat. Keuntungannya, lensa lambat memiliki desain yang lebih kecil dan bobot lebih ringan untuk kenyamanan dalam bepergian. Bila anda mencari lensa zoom normal berkualitas baik sebagai pengganti lensa kit, pertimbangkan ketiga pilihan kami kali ini.

Kami pernah mengulas tentang lensa Sigma 17-70mm generasi II alias versi 17-70mm yang telah dilengkapi dengan OS dan HSM. Bukaan diafragma lensa ini mengagumkan dengan f maksimal f/2.8 di posisi 17mm dan f/4.0 di posisi wide. Meski masih tergolong lambat di posisi tele, namun kemampuan memasukkan cahaya dari bukaan f/4.0 ini masih lebih baik dari f/5.6 apalagi f/6.3. Sigma 17-70mm memiliki mount yang kompatibel untuk Canon dan Nikon.

Salah satu lensa zoom normal favorit untuk pengganti lensa kit adalah lensa dengan fokal 16-85mm (untuk Nikon) atau 15-85mm (untuk Canon). Kedua lensa ini tergolong baru, sama-sama lambat (f/3.5-5.6) dan secara umum memiliki optik yang baik dan fitur lengkap. Kedua lensa ini bukan tergolong lensa profesional dan hanya ditujukan untuk dipakai di DSLR sensor APS-C.

Inilah head-to head antara Canon 15-85mm dan Nikon 16-85mm melawan Sigma 17-70mm

battle-of-3-lenses

Nama lengkap :

  • Canon : EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM
  • Nikon : AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR
  • Sigma : 17-70mm f/2.8-4.0 DC OS HSM

Rentang fokal :

  • Canon dan Nikon unggul di rentang fokal dengan rentang setara 24-130mm (5x zoom) yang lebih bermanfaat dalam urusan wide angle.
  • Sigma dengan fokal 17-70mm memang hanya setara dengan 26-105mm alias 4x zoom saja.

Bukaan diaframa :

  • Canon dan Nikon memakai desain aperture yang hanya mampu membuka maksimal di f/3.5 pada posisi wide dan mengecil hingga f/5.6 di posisi tele.
  • Sigma membolehkan kita memakai f/2.8 di posisi wide dan masih membuka dengan cukup besar di f/4 pada posisi tele. Untuk kondisi low light atau untuk mengejar speed tinggi, bukaan f/4 ini masih cukup berguna.
  • Ketiganya memiliki 7 leaf diafragma berjenis bulat.

Desain :

  • Canon berbobot 575 gram, Nikon 486 gram dengan material plastik, mounting logam dan diameter filter 67 mm (Nikon) dan 72 mm (Canon).
  • Sigma berbobot 535 gram, juga dengan material plastik, mounting logam namun memiliki diameter filter 72 mm.

Optik :

  • Canon : 17 elemen, 12 grup, 1 ED, 3 aspherical.
  • Nikon : 17 elemen, 11 grup, 2 ED, 3 aspherical.
  • Sigma : 17 elemen, 13 grup, 1 ED, 3 aspherical.

Fitur :

  • Ketiganya dilengkapi stabilizer optik yaitu IS (Canon), VR (Nikon) atau OS (Sigma)
  • Ketiganya juga dilengkapi motor fokus mikro di dalam lensa yang bernama USM (Canon), SWM (Nikon) atau HSM (Sigma)
  • Canon dan Nikon dilengkapi distance scale yang berada dibalik kaca, sedang Sigma lebih simpel dengan tulisan skala di ujung lensa.

Kompatibilitas :

  • Ketiganya bukan untuk full frame karena berlogo EF-S (Canon), DX (Nikon) dan DC (Sigma)

Makro :

  • Canon : jarak terdekat ke obyek 35 cm
  • Nikon : jarak terdekat ke obyek 38 cm, dengan rasio 1 : 4.6
  • Sigma : jarak terdekat ke obyek 22 cm, dengan rasio 1 : 2.7 (cocok untuk makro)

Harga :

  • Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM : 6,6 juta
  • Nikon AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR : 6,1 juta
  • Sigma 17-70mm f/2.8-4.0 DC OS HSM : 4,3 juta

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilihan lensa ekonomis untuk DSLR pemula

Banjirnya produk DSLR pemula (entry level) telah membawa perubahan pada segmentasi pembeli kamera digital. Bila dahulu mereka yang punya DSLR kebanyakan adalah para fotografer yang sudah punya koleksi lensa lama, maka kini banyak pemilik DSLR (pemula) yang baru pertama kali bergabung di dunia DSLR. Dengan demikian, umumnya kelompok ini barulah berkenalan dengan satu macam lensa, yaitu lensa kit yang disediakan dalam paket penjualan. Kalaupun sedang berencana membeli DSLR, adakalanya mereka bingung apakah akan membeli DSLR plus lensa kit ataukah DSLR body-only.

lensaSebelum membahas lebih jauh, kami luruskan dahulu bahwa lensa kit yang umum dijadikan paket penjualan DSLR adalah lensa zoom dengan rentang fokal yang setara dengan 28-85mm, dengan bukaan f/3.5-5.6 dan berbahan plastik. Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan lensa kit semacam ini. Harga jualnya yang tergolong murah tidak berarti lensa kit memakai elemen optik murahan. Harga murah karena desain lensa kit ini memakai bukaan variabel (tidak konstan) yang tergolong kecil, pemakaian material bodi dan mounting dari bahan plastik, dan minimnya fitur profesional seperti distance marking skale. Namun lensa kit masa kini sebagian sudah dilengkapi dengan fitur yang bermanfaat seperti motor fokus dan stabilizer optik.

Bila  anda sedang mempertimbangkan lensa lain selain lensa kit, atau saat anda hanya ingin membeli DSLR body only dan perlu mencari lensa ekonomis yang bisa diandalkan, berikut kami hadirkan beberapa jenis lensa ekonomis dengan harga dibawah 5 juta, sebagai bahan pertimbangan anda.

Lensa fix/prime

Lensa dengan fokal tetap memang jadi unggulan utama karena ketajaman dan bokehnya yang tak tertandingi oleh lensa zoom, maka itu wajar bila ada yang menganggap lensa prime merupakan lensa wajib untuk fotografer. Selain itu lensa fix jauh lebih murah bila dibanding dengan lensa zoom, karena hanya memiliki sedikit komponen optik. Namun memakai lensa fix tentu perlu banyak ekstra usaha untuk berganti komposisi karena anda tidak bisa bermain zoom. Fokal lensa fix yang cukup populer adalah lensa prime dengan fokal ‘normal’ 50mm, meski ada juga fix yang wide hingga fix yang (sangat) tele. Meski demikian, untuk urusan potret wajah, anda bisa memilih lensa fix dengan fokal berapapun asal diatas 35mm (dibawah 35mm sudah tergolong wideangle yang kurang cocok untuk potret wajah karena efek distorsi lensa).

Contoh lensa prime 50mm f/1.8
Contoh lensa prime 50mm f/1.8

Lensa fix yang populer karena harganya adalah lensa normal (sekitar 50mm) dengan bukaan berkisar antara f/1.8 hingga f/2.8 karena secara ukuran bukaan diafragma sudah cukup besar (atau biasa disebut lensa cepat) sehingga sudah sangat handal dipakai di kondisi low-light, meski bukaannya tentu tidak sebesar lensa fix kelas mahal seperti f/1.4 apalagi f/1.2.

Pilihan lensa prime normal dengan harga terjangkau diantaranya :

  • Canon EF 50mm f/1.8 II (1 jutaan)
  • Nikon AF 50mm f/1.8 (1 jutaan – tidak bisa auto fokus bila dipakai di D40-D5000)
  • Nikon AF-S 35mm f/1.8 DX (3 jutaan, bisa autofokus di D40-D5000)
  • Sony SAL 50mm f/1.8 DT (2 jutaan)
  • Pentax DA 40mm f/2.8 (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 35mm f/3.5 macro

Lensa zoom – tele

Bila seseorang telah memiliki sebuah lensa kit, umumnya telah merasakan kurangnya kemampuan telephoto dari lensa kit yang memang terbatas. Maka itu untuk memenuhi hasrat ingin menjangkau lebih jauh, pemilik DSLR plus lensa kit lalu mencari lensa kedua yang berjenis lensa zoom tele. Lensa zoom tele artinya lensa zoom dengan variabel fokal yang berkisar di rentang tele, biasanya dimulai dari 50mm hingga 400mm. Tidak semua lensa tele itu berjenis lensa zoom, ada juga lensa tele yang fix di suatu fokal tertentu, misal 500mm. Dalam hal ini kami pilihkan lensa zoom tele supaya praktis dan sekaligus kami pilihkan yang harganya juga terjangkau. Diantara beberapa pilihan lensa zoom tele, rentang yang dianggap cukup ekonomis adalah rentang 50-200mm dan 70-300mm.  Lensa zoom semacam ini punya bukaan diafragma yang variabel sehingga bisa dijual lebih murah dan ukurannya lebih kecil, bedakan dengan lensa zoom tele yang punya bukaan konstan f/2.8 atau f/4 yang berukuran besar dan harganya mahal.

Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)
Lensa zoom tele 40-150mm (setara 80-300mm)

Pilihan lensa zoom tele ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS (2,5 jutaan)
  • Nikon AF-S 55-200mm f/4-5.6 VR (2,5 jutaan)
  • Pentax DA 50-200mm f/4-5.6 ED (2,5 jutaan)
  • Sony SAL 55-200mm f/4-5.6 DT (2,5 jutaan)
  • Olympus Zuiko 40-150mm f/4-5.6 (2,5 jutaan)
  • Sigma APO 70-300mm f/4-5.6 DG macro (3 jutaan)
  • Tamron AF 70-300mm f/4-5.6 Di LD (2,5 jutaan)

Lensa zoom – all-round

Lensa zoom all-round atau all in-one diterjemahkan sebagai lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang efektif untuk segala keperluan dari wide hingga tele. Tak seperti lensa kit yang zoomnya umumnya pendek (3x), lensa zoom all-round dirasa lebih praktis dan lebih panjang (5-10x). Praktis karena cukup punya satu lensa sehingga mengurangi frekuensi berganti lensa hanya untuk mendapat fokal tertentu (apalagi bila sering berganti lensa beresiko masuknya debu ke dalam sensor), meski secara optik tentu semakin panjang zoom lensa maka ketajamannya juga akan semakin menurun. Meski tidak ada aturan baku, lensa zoom all-round ini biasanya bermula dari 18, 24 atau 28mm dan berakhir di 100 hingga 200mm. Bila anda memilih membeli lensa zoom all-round, maka lensa kit yang sudah anda miliki bisa dijual saja.

Kekurangan lensa zoom semacam ini adalah masalah bukaan lensa yang tidak mungkin dibuat besar dan konstan. Sebagai konsekuensi dari rumitnya susunan optik didalam lensa, maka desain aperture di dalam lensa semacam ini umumnya bermula dari f/3.5 di posisi wide-end dan mengecil hingga f/6.3 di posisi tele-end. Maka itu lensa ini biasa disebut dengan lensa lambat, dan tidak cocok dipakai di daerah kurang cahaya.

Lensa all-around Pentax 18-250mm
Lensa all-around Pentax 18-250mm

Pilihan lensa zoom all-round yang cukup terjangkau diantaranya :

  • Canon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS baru (4 jutaan)
  • Nikon AF-S 18-105mmf/3.5-5.6 DX VR (3.5 jutaan)
  • Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 (3 jutaan)
  • Sigma 18-200mm f/3.5-6.5 DC OS (4 jutaan)

Adapun lensa zoom all-round lain yang dijual di kisaran 5 hingga 10 juta, bagi sebagian orang masih tergolong ekonomis meski tak dipungkiri bagi sebagian lainnya sudah tergolong mahal. Padahal banyak lensa-lensa berkualitas di kisaran harga ini, maka sebagai bonus kami sampaikan juga beberapa produk lensa yang mungkin menarik minat anda bila dananya mencukupi :

  • Canon : EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (7 jutaan), EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM (6 jutaan)
  • Nikon : AF-S 18-200mm f/3.5-5.6 VR (8 jutaan), AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR (6 jutaan)
  • Olympus : Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5 II (6,5 jutaan),  Zuiko ED 12-60mm f/2.8-4.0 SWD (9,5 jutaan)
  • Pentax : DA 18-250mm f/3.5-6.3 ED SMC (6 jutaan)
  • Sony : 18-200mm f/3.5-6.3 DT (6 jutaan), SAL 16-105mm f/3.5-5.6 DT ( 7 jutaan)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Canon vs Lensa Nikon

Saat kita akan membeli kamera DSLR, sebaiknya pilihan merk DSLR mana yang akan dibeli perlu memperhitungkan pada kemudahan dan ketersediaan pilihan lensa nantinya. Maka itu produsen DSLR papan atas seperti Canon dan Nikon tetap jadi favorit fotografer, karena jajaran lensa yang dimilikinya amat lengkap. Betul kalau Pentax, Olympus, Sony (Minolta) juga punya koleksi lensa yang lengkap, namun kadang-kadang pemiliki DSLR juga tergoda untuk membeli lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina dan nyatanya lensa alternatif seperti ini tidak banyak menyediakan pilihan lensa dengan mounting selain versi Canon atau Nikon. Belum lagi ketersediaan stok lensa di tanah air tampaknya lebih bersahabat untuk merk Canon dan Nikon saja.

Bermacam lensa DSLR
Bermacam lensa DSLR

Lensa kamera DSLR terbagi menjadi beberapa macam. Paling sederhana adalah dari jenisnya, yaitu lensa tetap (fix/prime) dan lensa zoom (variabel rentang fokal). Lensa zoom juga akan terbagi dua, yaitu yang bukaannya konstan (fix f/2.8, fix f/4 dsb) atau yang bukaannya variabel (mengecil saat di zoom). Dari ukuran diameter lensa juga ada dua macam lensa DSLR, yaitu lensa untuk SLR film/DSLR full frame, dan lensa dengan diameter lebih kecil (untuk APS-C). Dari segi teknologi juga lensa terbagi dua, dengan motor fokus (dan mikro-chip) di dalam lensa dan tanpa motor fokus (lensa lama). Dengan banyaknya perbedaan ini, wajar kalau para fotografer pemula (seperti saya) menjadi kebingungan saat melihat lensa yang dijual di pasaran, apalagi harganya pun bisa bervariasi dari satu juta hingga puluhan juta.

Sekedar mengenal jajaran lensa Canon dan Nikon, saya sajikan daftar head-to-head lensa favorit para fotografer beserta sedikit ulasannya. Tapi sebelumnya, saya sajikan dulu terminologi atau istilah dari keduanya supaya tidak bingung :

  • Ukuran diameter lensa : Canon memakai istilah EF dan EF-S, perhatikan kalau kode EF menunjukkan diameter yang besar (untuk SLR film dan DSLR Full Frame) sementara EF-S adalah untuk sensor APS-C yang image circle lebih kecil. Demikian juga lensa Nikon, yang berkode DX artinya hanya untuk kamera Nikon DX saja. Lensa Nikon tanpa kode DX artinya bisa dipakai di SLR Nikon film atau DSLR Nikon full-frame (meski di DSLR Nikon DX pun tetap bisa).
  • Teknologi : Canon memiliki lensa dengan motor fokus USM (Ultra Sonic Motor) di dalamnya, tapi tidak semua lensa Canon terbaru memakai motor USM. Motor USM sendiri terkenal akan kehalusannya, kecepatannya dan akurasinya, dan lensa Canon dengan teknologi USM relatif mahal. Sebaliknya, semua lensa Nikon berteknologi AF-S pasti ada motor fokus SWM (Silent Wave Motor), sementara lensa lama Nikon AF atau AF-D tidak ada motornya. Meski semua lensa AF-S ada motor SWM, tapi kinerja motor itu tidak sama antara lensa mahal dan lensa murah. Motor SWM di lensa murah lebih lambat dalam mengunci fokus.
  • Optical Image Stabilizer : Baik Canon dan Nikon memiliki kesamaan dalam menerapkan sistem stabilizer pada lensa, dimana artinya tidak semua lensa memiliki fitur ini. Cara kerjanya yaitu gyro-sensor di dalam lensa mendeteksi getaran tangan dan melakukan kompensasi dengan menggerakkan elemen lensa khusus sehingga foto yang diambil pada speed rendah (dan/atau posisi tele) terhindar dari resiko blur. Canon menamai sistem ini dengan kode IS (Image Stabilizer), sementara Nikon memakai kode VR (Vibration Reduction). Baik IS dan VR, keduanya dapat menampilkan efek stabilisasi pada viewfinder optik, sebelum foto diambil.
  • Pembagian kasta : Di lensa Canon terdapat dua kasta lensa, yaitu lensa biasa dan lensa Luxury (L series, ditandai gelang merah diujungnya). Nikon tidak membedakan kasta pada lensanya, hanya saja lensa Nikon baru disederhanakan dengan meniadakan ring aperture, ditandai dengan kode G (gelded).

Lensa prime / fix

Lensa fix punya ketajaman tak tertandingi oleh lensa zoom, dengan bukaan yang umumnya besar, sehingga cocok untuk dipakai foto potret dengan bokeh yang menawan. Canon dan Nikon sama-sama punya jajaran lensa fix yang lengkap, dengan fokal mulai dari wide (sekitar 20mm), normal (sekitar 50mm) hingga tele (sekitar 100mm). Perhatikan kalau semua lensa fix Canon adalah berkode EF, dengan beberapa diantaranya memakai kode L dan USM.

Beberapa lensa fix kelas elit dari Canon adalah :

  • EF 24mm f/1.4L USM
  • EF 50mm f/1.2L USM
  • EF 85mm f/1.2L II USM

Sementara Nikon punya jajaran lensa prime yang bukaan maksimal di f/1.4 seperti yang baru saja diluncurkan yaitu AF-S 50mm f/1.4G. Sedangkan lensa fix ekonomis dan favorit dari Canon adalah EF 50mm f/1.8, dan dari Nikon adalah AF 50mm f/1.8D. Selain itu, Nikon juga punya prime yang wide seperti AF 14mm f/2.8D ED dan prime tele seperti AF 85mm f/1.4D IF, dan prime micro seperti AF-S 105mm f/2.8D VR ED. Bicara soal lensa prime tele, baik Canon maupun Nikon punya jajaran lensa tele yang lengkap mulai dari 135mm, 180mm, 200mm, 300mm, 400mm, 500mm dan 600mm (Canon bahkan punya yang 800mm dan 1.200mm), beberapa dilengkapi dengan IS atau VR.

Lensa zoom : wideangle

Bila lensa fix tidak memberi keleluasaan untuk berganti posisi fokal, maka lensa zoom memungkinkan kita untuk merubah fokal dalam rentang tertentu sehingga bisa didapat berbagai variasi komposisi (dan terhindar dari sering maju mundur). Lensa zoom wideangle umumnya bermula dari 14 sampai 24mm, namun perhatikan kalau dipakai di kamera dengan crop factor (1,6x untuk Canon APS-C, 1,3x untuk Canon 1Ds dan 1,5x untuk Nikon), maka panjang fokalnya akan banyak berubah. Untuk itu, produsen lensa harus berusaha ekstra keras untuk mendesain lensa yang amat wide supaya saat terkena crop factor, lensa tersebut masih layak disebut lensa wide.

Untuk kebutuhan fotografi wideangle seperti landscape dan arsitektur, pemakai Canon sensor APS-C hanya bisa menikmati lensa wide EF-S 10-22mm f/3.5-4.5 USM, sementara pemakai Nikon DX bisa menjajal lensa anyar yaitu AF-S DX 10-24mm f/3.5-4.5G IF ED. Untuk pemakai Nikon Full frame, tersedia Nikon AF-S 14-24mm f/2.8G ED. Sayangnya dari pihak Canon belum tersedia lensa EF yang sepadan dengan Nikon 14-24mm f/2.8 ini.

Lensa zoom : standar

Rentang zoom standar merupakan rentang aman, dengan kemampuan wide dan tele yang mencukupi sehingga untuk bepergian cukup dengan membawa satu lensa saja ini saja. Kabar gembira bagi pemakai Nikon DX karena tersedia banyak lensa Nikon DX yang berkualitas dan terjangkau (seperti lensa kit D40 18-55mm), diantaranya :

  • AF-S DX 16-85mm f/3.5-5.6G ED VR
  • AF-S DX 17-55mm f/2.8G IF ED (bukaan konstan)
  • AF-S DX 18-70mm f/3.5-4.5G IF ED (kitnya D70)
  • AF-S DX 18-105mm f/3.5-5.6G VR (kitnya D90)
  • AF-S DX 18-135mm f/3.5-5.6G IF ED (kitnya D80)
  • AF-S DX 18-200mm f/3.5-5.6G VR IF ED (sapu jagad)

Ketersediaan banyak pilihan lensa standar DX yang murah dan berkualitas inilah yang menjadikan banyak fotografer yang non profesional memilih kamera DSLR Nikon, meski banyaknya pilihan ini juga dikritik beberapa pengamat karena banyaknya overlap dalam rentang lensa dan umumnya punya bukaan lensa yang mirip (semestinya Nikon mulai membuat lensa standar bukaan konstan f/4).

Sementara bagi pemakai Canon APS-C yang perlu lensa EF-S tampaknya harus cukup bersabar karena sementara ini hanya tersedia lensa EF-S berikut ini (tidak termasuk 18-55mm) :

  • EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM (bukaan konstan)
  • EF-S 17-85mm f/4-5.6 IS USM
  • EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (sapu jagad – non USM)

Kondisi menjadi berbalik saat kita melihat jajaran lensa Full frame, dimana Canon punya ciri khas dengan menyediakan dua pilihan lensa untuk seri EF-nya, yaitu lensa bukaan konstan yang cepat (f/2.8 ) dan lensa bukaan konstan yang ekonomis (f/4). Sementara Nikon hanya menyediakan lensa bukaan cepat f/2.8 yang mahal saja.

Lensa Canon EF standar yang favorit (L series) :

  • EF 16-35mm f/2.8L USM
  • EF 17-40mm f/4L USM
  • EF 24-70mm f/2.8L USM
  • EF 24-105mm f/4L IS USM

Sementara sebagai padanannya, di jajaran Nikon juga terdapat dua lensa zoom standar yang menjadi favorit :

  • AF-S 17-35mm f/2.8D IF ED
  • AF-S 24-70mm f/2.8G ED

Sebagai catatan, masih banyak lensa lain dari Canon EF ataupun Nikon non DX untuk rentang standar seperti 28-80mm, 28-105mm, dan 28-200mm, namun karena lensa ini bermula dari 28mm, maka bila terkena crop factor akan menjadi tidak umum (sekitar 43mm) sehingga kurang disukai pemakai DSLR Canon APS-C ataupun Nikon DX.

Lensa zoom : tele

Kita mulai di kelas APS-C atau kelas DX. Nikon  terkenal akan lensa telenya yang ekonomis, AF-S DX 55-200mm f/4-5.6G IF-ED VR sementara Canon menawarkan kemampuan tele lebih panjang dengan EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS. Canon sendiri sebenarnya punya lensa lawas dengan rentang 55-200mm tapi bukan EF-S dan sudah diskontinu.

Selanjutnya, di kelas Full-frame, persaingan head-to-head berimbang terjadi di dua kelas, yaitu kelas 70-300mm dan kelas 70-200mm bukaan konstan. Canon punya EF 70-300mm f/4-5.6 IS USM dan Nikon punya AF-S 70-300mm f/4.5-5.6G IF ED VR yang mana keduanya disukai banyak fotografer karena harganya terjangkau dan kemampuan telenya lumayan jauh di 300mm (ekuivalen 450mm). Di kelas lensa bukaan konstan 70-200mm, ketimpangan terjadi saat Nikon yang hanya punya satu produk lensa harus bersaing dengan empat (ya, empat) lensa Canon 70-200mm. Nikon mengandalkan AF-S 70-200mm f/2.8G IF ED VR sementara Canon punya empat pilihan yaitu :

  • EF 70-200mm f/2.8L IS USM (cepat, plus IS)
  • EF 70-200mm f/2.8L USM (cepat,tanpa IS)
  • EF 70-200mm f/4L IS USM (hemat,plus IS)
  • EF 70-200mm f/4L USM (paling hemat, tanpa IS)

Sementara untuk keperluan lensa tele zoom khusus baik Canon maupun Nikon juga punya rentang yang tidak umum seperti :

  • Canon EF 90-300mm f/4.5-5.6 USM
  • Canon EF 100-400mm f/4.5-5.6L IS USM
  • Nikon AF 80-400mm f/4.5-5.6D ED VR
  • Nikon AF-S 200-400mm f/4G IF ED VR

Nah, itulah beberapa daftar line-up lensa dari Canon maupun Nikon yang umum digunakan para fotografer. Pilihan lensa dari keduanya memang tergolong cukup lengkap, sehingga tak heran para profesional banyak yang melirik DSLR dari Canon ataupun Nikon. Hanya saja kita harus mencermati kebutuhan lensa kita (sebelum membeli DSLR), bila sudah perlu satu lensa spesifik maka memilih kamera DSLR tentu tidak jadi masalah. Sekali kita menentukan merk kamera, maka kita akan terikat pada sistem yang semerk, seperti lensa dan lampu kilat.

Sebagai penutup, berikut kesimpulan singkat dari ulasan diatas :

  • istilah yang umum dijumpai di lensa Canon : EF, EF-S, USM, IS, L series
  • istilah yang umum dijumpai di lensa Nikon : AF, AF-S, SWM, VR, DX
  • Canon dan Nikon sama-sama punya lensa fix yang lengkap
  • Di kelas lensa zoom wideangle, Nikon punya koleksi lebih lengkap
  • Di kelas lensa standar zoom, Nikon lebih lengkap di lensa kelas DX, sementara Canon lebih lengkap di kelas lensa full-frame
  • Di kelas lensa tele, Canon dan Nikon sama-sama punya koleksi yang lengkap (catatan Canon 70-200mm punya empat varian)
  • Nikon tidak banyak punya lensa bukaan konstan f/4 (seperti AF-S DX 12-24mm f/4G IF ED)
  • Untuk mendapat kinerja optik tertinggi (plus teknologi USM) dari lensa Canon, bisa didapat dari lensa Canon L series.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..