Trio Nikon DL hadir, kamera kompak dengan sensor 1 inci

Setelah lama ‘bereksperimen’ dengan sistem mirrorless Nikon 1, akhirnya Nikon memutuskan ikut membuat kamera saku dan superzoom dengan sensor 1 inci, tentunya dengan segala pengalaman yang dimiliki saat merancang Nikon 1 seperti auto fokus hybrid yang cepat. Tidak tanggung-tanggung, sekaligus diluncurkan tiga kamera dengan kode DL, dengan kesamaan ciri seperti sensor 1 inci 20 MP, kemampuan 4K video dan fitur kelas atas untuk memanjakan fotografer seperti dudukan flash, tombol dan roda kendali yang lengkap, VR di lensa dan sistem layar sentuh. Apa perbedaan dari ketiga kamera DL yang diluncurkan kali ini?

Ada tiga kamera compact Nikon DL yang bisa dipilih sesuai keunikan lensanya :

  • Nikon DL 18-50 : dengan lensa 18-50mm f/1.8-2.8 (US$850)
  • Nikon DL 24-85 : dengan lensa 24-85mm f/1.8-2.8 (US$650)
  • Nikon DL 24-500 : dengan lensa 24-500mm f/2.8-5.6 (US$1000)

NikonDL1850

Nikon DL 18-50 hadir sebagai satu-satunya kamera saku dengan lensa ultra wide, dan bukaannya bisa f/1.8 serta kualitas foto diatas kamera saku pada umumnya. Di posisi tele maksimumnya walau hanya mentok di 50mm f/2.8 tapi lensa ini sudah keren sekali mengingat posisi paling widenya adalah 18mm (kamera lain biasanya 24mm atau 28mm). Lensa di Nikon DL 18-50 ini juga dilapisi dengan fluorine dan Nano coating untuk kualitas hasil foto terbaik. Cocok dimiliki oleh fotografer pemandangan, arsitektur, street atau anda yang suka memotret pemandangan malam atau kondisi gelap indoor. Terdapat 3 stop ND filter di kamera ini untuk yang suka main slow speed. Ada sedikit grip untuk mencegah licin, tapi tidak ada built-in flash karena lensanya terlalu lebar untuk bisa tercover cahaya flash dengan merata.

NikonDL2485

Nikon DL 24-85 menjadi kamera DL paling murah dan punya mode macro untuk motret subjek yang berukuran kecil, akan bersaing dengan banyak kamera bersensor 1 inci lainnya seperti Canon G7X atau Sony RX100 mk IV. Kelebihan DL 24-85 adalah lensanya yang ‘aman’ untuk banyak kebutuhan travel maupun fotografi harian karena bisa mencapai kebutuhan lebar 24mm hingga medium tele 85mm, juga bukaannya f/1.8-2.8 yang termasuk cepat. Lensa di Nikon DL 24-85 juga bisa makro pada posisi 35mm dan ada juga flash built-in. Sama seperti DL 18-50, di DL 24-85 ini terdapat 3 stop ND filter, juga ada sedikit grip sehingga lebih aman saat digenggam.

NikonDL24500

Nikon DL 24-500 dengan lensa impresif 24-500mm f/2.8-5.6 hadir untuk melawan pemain lama di superzoom 1 inci seperti Panasonic FZ1000 (dengan lensa 24-400mm f/2.8-4), Sony RX10 (lensa 24-200mm f/2.8) dan Canon G3x (lensa 24-600mm f/2.8-5.6 minus jendela bidik). Daya jual Nikon DL 24-500 tentu ada pada auto fokus hybrid-nya sehingga ideal untuk memotret aksi, olahraga atau satwa liar dengan posisi lensa telefoto, juga adanya jendela bidik yang tajam juga menambah value keseluruhan. VR di DL 24-500 ada dua mode yaitu Normal dan Sport, semakin menunjukkan tujuan kamera ini yang cocok untuk sport.

Opini kami :

Nikon mungkin terlambat dalam bersaing di kancah kamera kompak 1 inci, karena terlalu fokus ke sistem Nikon 1. Tapi kini Nikon dengan jeli memanfaatkan momentum untuk merancang kamera yang tepat dan spesifik (niche). Ketiga kamera ini punya kekuatan masing-masing, bahkan bisa jadi ada fotografer yang memborong ketiganya karena peruntukannya berbeda. Saat memotret landscape, street atau arsitektur tentu beda dengan saat memotret satwa liar, misalnya.

Sensor 1 inci sendiri kami suka. Sensor ini ukurannya memang lebih kecil dari micro 4/3 tapi jauh lebih besar daripada sensor 2/3 inci yang dipakai di sebagian kamera saku kelas atas. Dengan memaksimalkan teknologi di sensor 1 inci dicapailah keseimbangan antara kualitas foto (sampai ISO 1600 masih oke, dynamic range cukup baik bila pakai RAW), kecepatan (fokus, burst, video) dan ukuran lensa yang memungkinkan dicapainya fokal sampai 500mm tanpa membuat sistem keseluruhan jadi terlalu besar. Ingin hasil lebih baik ya silahkan ke mirrorless atau DSLR, tapi kombinasi DSLR dengan lensanya akan menjadi sangat besar atau sangat mahal, dibanding sistem Nikon DL ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon luncurkan lensa DX 16-80mm f/2.8-4, ini bedanya dengan lensa Sigma 17-70mm f/2.8-4 C

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran lensa DX kelas premium yaitu AF-S 16-80mm f/2.8-4E VR yang ditujukan menjadi pengganti lensa AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 VR. Secara kebetulan, dari dulu Sigma sudah punya lensa yang mirip, yaitu Sigma DC 17-70mm f/2.8-4 yang di generasi ketiga (2012) telah disempurnakan dengan OS dan HSM serta mendapat logo C (contemporary). Lensa Sigma ini sudah lama kami rekomendasikan sebagai lensa pengganti dari lensa kit, tapi sejak Nikon 16-80mm ini hadir, apakah ini berarti Nikon mengambil alih kejayaan Sigma di kelas lensa all round ini?

Lensa Nikon 16-80mm ini adalah lensa yang menggairahkan lagi dunia DX yang seakan terlupakan, bahkan lensa ini menjadi lensa elit dengan logo N (Nano), bukaan besar f/2.8 (walau tidak konstan) dan tidak lagi pakai kendali aperture mekanik (ada simbol E di nama lensanya, artinya electronic aperture). Sigma sendiri membuat lensa 17-70mm untuk berbagai mount, misalnya untuk mount Canon EOS maka desain aperture-nya juga dikendalikan secara elektronik, jadi bukan hal yang istimewa sebenarnya.

Sigma 17-70mm vs Nikon

Dari tabel diatas memang terlihat banyaknya kesamaan antara kedua lensa. Rentang fokal memang Nikon sedikit lebih lebar dan lebih tele, tapi Sigma lebih mudah untuk makro dan harganya hanya setengah dari harga lensa Nikon. Di lain pihak lensa Nikon baru ini punya coating mewah dan bisa manual fokus langsung dengan memutar cincin fokus. Tapi diluar dugaan sebenarnya Sigma masih bisa mengimbangi secara desain dan kinerja, seperti elemen lensanya, fitur penstabil getaran dan motor fokus yang senyap. Hanya saja secara kualitas hasil foto belum bisa dibuktikan karena lensa Nikon ini belum ada di pasaran, kalau kami prediksi memang Nikon bakal lebih baik hasil fotonya daripada Sigma, khususnya bila menyangkut faktor ketajaman, distorsi, vignetting dan corner softness.

Anda sendiri pilih yang mana?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon 1, sistem kamera mini baru dari Nikon

Setelah lama ditunggu, akhirnya Nikon memutuskan untuk ikut terjun di dunia kamera miniatur DSLR alias kamera mirrorless, menyusul langkah Olympus, Panasonic, Sony, Samsung dan Pentax yang lebih dahulu hadir. Hal ini menepis anggapan kalau Nikon tidak akan mau membuat kamera mirrorless karena sudah nyaman dengan penjualan kamera DSLR mereka. Untuk langkah awal Nikon meluncurkan format baru bernama Nikon 1 dengan diawali oleh dua tipe kamera yaitu Nikon V1 dan Nikon J1 dengan lensa yang tentunya bisa dilepas. Seperti apa kamera Nikon 1 ini? Simak selengkapnya.

Inilah spesifikasi dasar dari kamera Nikon mirrorless yang baru saja diluncurkan :

  • nama : Nikon 1
  • format kamera : mirrorless (tanpa cermin seperti di DSLR)
  • pilihan produk : J1 (kamera saku ekonomis) dan V1 (kamera saku premium)
  • nama mount lensa : Nikon CX
  • jenis sensor : CMOS
  • ukuran sensor : 13.2 x 8.8mm
  • crop factor : 2,7x
  • lensa kit : 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm)
  • lensa lain yang sudah tersedia : Lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm dan lensa 10-100mm VR (setara 28-280mm).

Nikon 1 hadir dengan mengisi celah antara kamera mirrorless bersensor Four Thirds (sensor besar) dan kamera Pentax Q (sensor kecil). Dari ukuran sensor yang dipilih Nikon, dihasilkan crop factor yang baru yaitu 2,7x bernama Nikon CX sehingga untuk mendapatkan lensa yang punya rentang fokal 28-80mm Nikon harus membuat lensa sangat wide yaitu 10-30mm. Padahal kubu Four Thirds yang punya 2x crop factor saja kesulitan untuk membuat lensa wide. Maka format CX ini memang lebih cocok untuk rentang fokal tele, terbukti lensa tele yang setara dengan 80-300mm cukup diwujudkan dengan membuat lensa 30-110mm saja. Keuntungan sensor Nikon 1 adalah memungkinkan untuk dibuat lensa yang berukuran lumayan kecil, seperti gambar di atas. Bandingkan dengan format Sony NEX yang lensanya saja sudah besar.

Ukuran sensor Nikon 1 yang lebih besar dari sensor kamera saku (lihat gambar di atas) bisa membawa keuntungan lain yaitu semestinya sanggup memberi hasil foto yang relatif bersih dari noise di ISO menengah (sampai dengan ISO 400). Setidaknya ISO 800 bisa dipakai bila terpaksa, dengan noise yang masih bisa ditolerir. Sebagai pembanding, kamera saku akan mulai noise di ISO 200, sedangkan kamera DSLR mulai noise di ISO 800. Tapi sensor Nikon 1 masih kurang memadai untuk mendapatkan kesan foto yang namanya bokeh atau latar belakang yang blur, meski memakai bukaan besar sekalipun.

Lalu untuk siapa Nikon membuat kamera mirrorless ini? Pada dasarnya bukan hal yang mudah untuk meminta para fotografer beralih dari DSLR ke kamera mirrorless. Alasan utama adalah harga kamera mirrorless yang bahkan masih lebih mahal dari kamera DSLR pemula. Alasan lain adalah kurangnya pilihan lensa dan tidak semua orang rela meninggalkan kenyamanan mengintip melalui jendela bidik optik. Nikon sadar betul akan hal itu dan dari awal tidak menargetkan para pecinta DSLR Nikon untuk memiliki Nikon 1. DSLR Nikon ditujukan untuk mereka yang hobi fotografi sampai fotografer kelas pro, sedang Nikon 1 lebih diposisikan sebagai pengisi celah antara kamera saku dan DSLR. Maka itu Nikon 1 akan disukai oleh mereka yang tidak ingin memiliki DSLR (mungkin karena ukurannya atau karena tidak ingin pusing memilih lensa), mereka yang mencari kamera kecil yang lensanya bisa dilepas namun hasilnya tetap memenuhi standar, atau mereka yang ingin memanfaatkan kameranya untuk foto maupun video namun mudah digunakan (point and shoot).

Bila anda ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga baru Nikon ini, berikut kami sampaikan juga spesifikasi keduanya :

Nikon J1

  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF (hybrid-dengan deteksi fasa dan deteksi kontras) tercepat di dunia
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret
  • dijual seharga 6 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :

  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat built-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret
  • dijual seharga 8 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Pemilik flash Nikon tampaknya harus gigit jari karena untuk bisa memasang flash di Nikon V1 perlu membeli lampu kilat SB-N5 seharga 1 jutaan yang bisa dipasang di Accesory Port. Untungnya flash SB-N5 ini serba bisa, yaitu berfungsi sebagai flash dan LED untuk rekam video. Kepala flashnya juga bisa diputar kiri kanan maupun ke atas bawah untuk teknik bouncing / menembakkan flash ke langit-langit. Uniknya, meski flash ini adalah eksternal namun tidak memiliki baterai sehingga dalam bekerja dia mengambil daya dari baterai yang ada di kamera.

Semuanya kembali ke pasar. Pasarlah yang akan menentukan apakah Nikon 1 akan sukses atau gagal. Dengan harga jualnya, kita bisa memilih DSLR kit seperti Nikon D5100 atau mirrorless lain seperti Lumix GF-3 atau Olympus E-PL3. Persaingan bakal ketat, tapi Nikon bukan tanpa persiapan untuk terjun di dunia baru ini. Nikon bahkan sudah mempersiapkan berbagai lensa dan aksesori khusus untuk format ini. Kalaupun Nikon 1 akan gagal, setidaknya Nikon sudah mencoba mengisi semua segmen mulai dari kamera saku, kamera DSLR dan kamera mirrorless. Bagaimana dengan sikap yang akan diambil Canon sebagai pesaing Nikon, apakah juga akan berani membuat kamera mirrorless

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon Coolpix P300, kamera mungil dengan lensa f/1.8

Kamera saku dengan lensa yang punya bukaan besar tergolong jarang, kalaupun ada harganya sangat mahal. Hal ini karena biaya produksi lensa bukaan besar lebih tinggi dari lensa pada umumnya. Tercatat sudah ada beberapa merk yang lebih dahulu membuat kamera semacam ini, sebutlah misalnya Lumix LX-5, Canon S95, Samsung TL500 dan Olympus XZ-1. Sadar kalau agak terlambat, Nikon akhirnya memutuskan bergabung di kancah ini dengan meluncurkan kamera Coolpix P300 dengan lensa f/1.8 yang mengesankan. Simak ulasan kami selengkapnya.

p300_a

Sebagai pembuka, inilah spesifikasi dasar dari Nikon Coolpix P300 :

  • sensor CMOS resolusi 12 MP ukuran 1/2.3″
  • teknologi back-illuminated sensor
  • prosesor Expeed C2
  • ISO 3200, burst 7 fps
  • lensa Nikkor 24 – 100 mm f/1.8-4.9 (4,2x  zoom optik)
  • VR Optical
  • LCD 3 inci, resolusi 920 ribu piksel
  • Manual mode lengkap, tapi tanpa RAW
  • HD 1920 x 1080 (30 fps),suara stereo, bisa zoom optik saat merekam video
  • HDMI output

p300_b

Dilihat dari bentuknya, P300 tampil manis dengan bahan logam dan ukurannya cukup kecil dengan ergonomi dan tata letak tombol yang baik. Ada dua kendali manual di kamera ini, yaitu satu di bagian atas (berbentuk putaran dekat tombol shutter) dan satu lagi di belakang berbentuk roda yang mengelilingi tombol OK. Tidak ada ring di lensa layaknya Canon S95 ataupun Olympus XZ-1 disini. Lampu kilat tampil tersembunyi dan akan menonjol keluar bila dibutuhkan. Terdapat tombol langsung untuk merekam video di bagian belakang.

p300_c

Tentang lensa cepat / bukaan besar

Kita tinjau dulu dari kebutuhan lensa bukaan besar dalam fotografi. Prinsipnya setiap lensa punya diafragma yang punya diameter tertentu, bisa dibuat lebih besar (untuk memasukkan lebih banyak cahaya) atau dibuat mengecil. Tentunya ada nilai bukaan maksimal (dan minimal) untuk setiap lensa, dan ini dinyatakan dalam f-numberLensa yang punya bukaan besar biasa disebut lensa cepat, artinya bisa memakai kecepatan shutter tinggi. Umumnya bukaan maksimal lensa di pasaran berkisar antara f/2.8 hingga f/3.5 dimana f/2.8 punya bukaan yang lebih besar daripada f/3.5. Nah, kedua kamera ini punya lensa dengan bukaan f/2.0 yang secara teknis artinya sanggup memasukkan cahaya 2x lebih banyak daripada f/2.8. Jadi lensa f/2.0 identik dengan lensa cepat, berguna saat ingin memakai kecepatan shutter tinggi atau saat memotret di tempat low light (yang pastinya kecepatan shutter akan turun dengan drastis).

Peta persaingan

Hasrat memproduksi kamera saku yang bisa diandalkan di daerah low light bisa diwujudkan dengan dua hal, pertama mendesain lensa bukaan besar dan memakai sensor yang lebih besar dengan resolusi yang tidak terlalu tinggi. Nikon P300 ini hadir dengan lensa 24-100 mm f/1.8-4.9 yang memang tampil mengesankan dalam rentang fokal (terutama kemampuan wide 24mm) serta bukaan yang besar (f/1.8 di posisi wide) namun agak mengecewakan saat tele dengan bukaan hanya f/4.9 saja. Mengherankan saat hadir belakangan, Nikon justru tidak mencontoh pesaing dengan lensa yang lebih baik (Lumix LX-5 itu f/2.0-3.3 dan Olympus XZ-1 itu f/1.8-2.5) namun tampaknya hanya ingin bersaing dengan Canon S95 yang lensanya f/2.0-4.9 saja.

Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1
Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1

Bila dalam urusan lensa memang Nikon P300 tampil sekelas, bahkan lebih baik dari Canon S95. Namun dalam ukuran sensor, P300 ini justru mengecewakan dengan memakai sensor kecil dengan resolusi tinggi. Untuk bisa diandalkan di low light, produsen lain membuat kamera dengan sensor agak besar dengan ukuran 1/1.6 inci, sedangkan P300 justru memilih sensor ukuran 1/2.3 inci yang lebih rentan noise di ISO tinggi. Hal ini semakin runyam saat Nikon justru mencoba memakai resolusi 12 MP padahal pesaing sudah menemukan titik rasio ideal antara ukuran sensor dan resolusi, yaitu 10 MP untuk sensor 1/1.6 inci.

Jadi Nikon Coolpix P300 memang tampaknya bukan untuk menyaingi rajanya lensa cepat seperti Lumix LX5 atau Olympus XZ-1. Bahkan untuk bisa menandingi Canon S95  juga berat karena Canon punya sederet keistimewaan seperti sensor lebih besar, ring di lensa dan adanya file RAW format. Jadilah P300 ini serba tanggung, hasrat ingin tampil sekelas dengan pesaingnya namun ditinjau dari isinya ternyata tak berbeda dengan kamera saku biasa. Bisa dibilang P300 justru mirip dengan Canon Ixus 300HS yang lensanya 28-105 mm f/2.0-5.3 dan sensor ukuran 1/2.3 inci. Lebih uniknya lagi, harga jual Nikon P300 memang dipatok dikisaran 3 jutaan saja, jauh lebih murah dari Canon S95 apalagi Lumix LX5 dan Olympus XZ-1. Jangan-jangan Nikon sengaja menyasar segmen pembeli yang ingin punya kamera seperti Canon S95 namun dengan harga yang lebih murah. Mungkin di kesempatan lain Nikon akan membuat Coolpix lain dengan lensa cepat di posisi wide maupun tele, sensor lebih besar dan fitur lebih lengkap sehingga benar-benar bisa bersaing dengan pemain besar lainnya.

Sebagai kesimpulan, inilah plus minus Nikon P300 :

Plus :

  • fokal lensa bermula di 24mm f/1.8
  • full HD movie, stereo
  • layar LCD tajam dan detail
  • punya dua kendali putar
  • burst cepat
  • harga cukup terjangkau

Minus (dibanding kamera lensa cepat lainnya) :

  • bukaan lensa kecil saat tele (f/4.9)
  • sensor 35% lebih kecil
  • resolusi 12 MP terlalu tinggi untuk mendapat foto rendah noise
  • tidak ada RAW file
  • tidak ada flash hot shoe
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Serba-serbi kamera DSLR Nikon

nikon_logoNama besar Nikon dalam dunia fotografi memang seakan sudah menjadi jaminan mutu, bahkan sejak era fotografi film 35mm jaman dahulu. Nikon sebagai produsen kamera dan optik asal Jepang dikenal memiliki produk kamera dan lensa yang berkualitas tinggi, memiliki konsumen yang loyal dan berhasil melewati transisi ke digital dengan baik. Kini saat kompetisi DSLR semakin ketat, merk Nikon masih jadi incaran utama banyak calon pembeli meski kadang lucunya orang tidak terlalu paham mengapa mereka memilih Nikon. Kali ini kami sajikan artikel singkat mengenai seluk beluk sistem kamera DSLR Nikon yang mungkin bisa jadi panduan anda dalam memutuskan untuk memilih kamera DSLR.

Nikon dan F-mount

Kamera DSLR merupakan evolusi dari kamera SLR film yang pada dasarnya memiliki desain yang sama untuk urusan konstruksi dan rancang bangunnya. Terdapat cermin untuk memantulkan gambar, terdapat prisma untuk membelokkan gambar ke jendela bidik (viewfinder) dan tentunya terdapat mount untuk memasang lensa. Bicara mount maka bicara kompatibilitas, tiap merk memiliki desain mount lensa tersendiri sehingga tidak bisa sebuah kamera berganti lensa yang tidak semerk, kecuali bila dimodifikasi dengan adapter khusus. Nikon merupakan produsen kamera yang paling sanggup mempertahankan keaslian mount lensanya sejak 52 tahun yang lalu, atau sejak kamera SLR pertama Nikon F diperkenalkan pada tahun 1959. Nikon lalu menyebut standar mount dengan diameter 44 mm itu dengan nama F-mount dan semua lensa Nikon sejak saat itu hingga kini dibuat memakai standar F-mount.

nikon_f

Begitu populernya kamera SLR Nikon pada masa lalu sehingga membuat banyak  produsen lensa berlomba memproduksi lensa dengan F-mount seperti Zeiss, Schneider, Voigtländer, Sigma, Tokina, Tamron dan Vivitar. Bahkan karena legendarisnya lensa Nikon, sudah banyak dibuat adapter untuk F-mount sehingga lensa Nikon bisa dipasang di DSLR merk lain.  Hingga saat ini semua lensa Nikon generasi modern sekalipun tetap memakai F-mount, jadi lensa lawas yang dibuat oleh Nikon pasti bisa dipasang di kamera DSLR Nikon modern, sebaliknya lensa Nikon modern juga bisa dipasang di kamera SLR Nikon film generasi awal sekalipun .

Seputar Auto Fokus (AF) pada lensa Nikon

Meski tetap mempertahankan keaslian desain F-mount, Nikon terus menyempurnakan teknologi lensanya seperti dipergunakannya pin kontak data untuk lensa ber-CPU. Selain itu, semua lensa Nikon sejak tahun 1959 yang hanya manual fokus akhirnya bisa auto fokus sejak 1986. Saat itu Nikon memperkenalkan lensa AF (Auto Focus) yaitu lensa yang putaran fokusnya dikendalikan dari motor AF pada kamera yang terhubung melalui sebuah ‘obeng’ (screw drive). Sistem auto fokus ini murni bekerja secara mekanik, motor AF pada kamera akan berputar saat kamera sedang mencari fokus, menimbulkan bunyi berisik dan putaran motornya agak lambat.

afmount

Setahun setelah penemuan itu, di lain pihak Canon sebagai pesaing Nikon membuat keputusan berani untuk menghentikan produksi kamera manual fokus (yang memakai FD-mount) dan memperkenalkan mount generasi baru bernama EF-mount untuk sistem kamera EOS. Konsep auto fokus Canon EOS berbeda dengan Nikon karena Canon EOS membuat motor AF yang berada di lensa, bukan di kamera. Lensa Canon dengan motor fokus itu lalu diberi nama lensa EF. Jadi semua lensa EF pasti bisa auto fokus pada kamera Canon EOS apapun.

d3mount

Lima tahun setelah Canon meluncurkan lensa EF dengan motor didalamnya, Nikon akhirnya memutuskan untuk mendesain lensa serupa (memiliki motor auto fokus) yang ditandai dengan diluncurkannya lensa Nikon AF-I (Auto Focus-Internal) yang memiliki motor di dalam lensanya. Sayangnya lensa Nikon AF-I jumlahnya cuma sedikit, kebanyakan lensa Nikon saat itu hanyalah lensa AF atau AF-D yang belum memiliki motor fokus di dalamnya (lensa AF-D adalah lensa AF dengan fitur Distance metering). Nikon lalu membuat keputusan tepat dengan memperkenalkan lensa AF-S pada tahun 1998. Lensa AF-S memiliki  motor fokus yang lebih baik dari lensa AF-I karena memakai teknologi SWM (Silent Wave Motor) sehingga sesuai namanya, motor ini memiliki suara yang nyaris tak terdengar.  Kamera cukup mengirimkan perintah ke lensa melalui pin kontak data untuk memutar motor SWM. Bukan cuma tidak bising, motor SWM pada lensa AF-S Nikon juga berputar cepat sehingga memudahkan saat ingin mengunci fokus dengan cepat. Dengan hadirnya lensa bermotor (AF-I dan AF-S) membuat motor fokus yang ada di kamera jadi seperti mubazir karena tidak terpakai lagi, maka itu pada kamera DSLR kelas pemula sejak D40, Nikon sudah meniadakan motor AF pada kamera. Kerugiannya adalah, bila lensa generasi lama (seperti lensa AF atau AF-D) dipasang di kamera tanpa motor AF maka untuk mengatur fokus hanya bisa dilakukan secara manual.

Seputar format FX dan DX

Nikon dengan F-mount berdiameter 44 mm ini awalnya dibuat untuk kamera film 35mm. Di era digital fungsi film sebagai penangkap gambar digantikan oleh sekeping sensor dengan jutaan piksel peka cahaya. Meski Nikon memutuskan untuk tetap mempertahankan F-mount saat membuat kamera DSLR pertamanya di tahun 1996, namun Nikon tidak memakai sensor yang ukurannya sama seperti ukuran film (ukuran sekeping film adalah 36 x 24 mm), melainkan memakai sensor yang ukurannya sekitar 2/3 kali lebih kecil dari ukuran film. Sensor ini berukuran sekitar 24 x 16 mm yang lebih dikenal dengan sebutan sensor APS-C.  Kamera DSLR Nikon dengan sensor APS-C ini selanjutnya disebut kamera Nikon DX. Di tahun 2007 akhirnya Nikon meluncurkan DSLR pertamanya yaitu Nikon D3 dengan sensor seukuran film 35mm, yang biasa disebut sensor full frame. Kamera dengan sensor full frame ini diberi nama kamera Nikon FX. Kamera Nikon FX ditujukan untuk para profesional dan harganya pun mahal. Maka itu Nikon lebih banyak memiliki jajaran produk kamera DX daripada FX.

sensor01Untuk alasan menekan biaya dan portabilitas, sejak tahun 2002 Nikon juga membuat lensa dengan kode DX yang ditujukan untuk kamera DSLR dengan sensor APS-C. Karena Lensa DX dibuat khusus untuk sensor APS-C, maka lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa non DX (full-frame), meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa DX. Tampak kalau diameter lensa DX didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm.

Meski lensa Nikon DX juga memakai F-mount yang artinya bisa dipasang pada kamera Nikon FX atau kamera SLR film, namun bila lensa DX dipasang di kamera FX maka hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian sudut (vignetting) akibat diameter lensa DX yang lebih kecil dari sensor 35mm.  Maka itu lensa DX tidak ditujukan untuk dipakai di kamera FX, namun sebaliknya pemilik kamera DX bisa memakai lensa apapun, baik lensa DX maupun lensa full frame tanpa masalah.

crop

Karena ukurannya yang lebih kecil dari film 35mm, maka sensor APS-C akan menghasilkan crop factor sebesar 1.5x yang artinya fokal lensa yang terpasang pada kamera DX akan mengalami koreksi, misal bila lensa 24-70mm dipasang di kamera DX maka fokal efektifnya akan setara dengan 35-105mm. Perhatikan gambar di atas, crop factor 1.5x pada kamera Nikon DX menyebabkan bidang gambar yang tadinya luas seolah mengalami cropping.

Kode-kode lensa Nikon

Nikon sudah memproduksi banyak sekali lensa dan semakin modern justru semakin dipenuhi dengan kode-kode yang membuat bingung orang yang awam. Sebagai contoh, bagaimana memahami kode yang ada dari lensa Nikkor AF-S DX 18-200mm 1:3.5-5.6G VR IF ED? Beginilah penjelasannya :

  • Nikkor : Nama untuk lensa buatan Nikon.
  • AF-S : Lensa Nikon yang memiliki motor ‘SWM’ sehingga proses auto fokus dilakukan di lensa, bukan pada bodi kamera. Lensa AF-S diyakini lebih cepat dan akurat dalam urusan auto fokus dibanding lensa AF lainnya.
  • DX : Lensa Nikon khusus untuk DSLR Nikon berformat DX (memiliki sensor APS-C). Lensa ini memiliki lingkar gambar lebih kecil dari lensa Nikon non DX, sehingga memiliki ukuran yang juga lebih kecil. Apabila lensa ini dipasang pada DSLR Nikon berformat FX seperti Nikon D3, maka akan terjadi vignetting.
  • G : Menyatakan ketiadaan aperture ring pada lensa. Pemilihan nilai aperture hanya bisa dilakukan melalui dial kamera (kamera SLR Nikon lama tidak kompatibel dengan lensa G ini).
  • VRVibration Reduction, teknologi stabilizer pada lensa untuk meminimalisir getaran tangan saat memotret pada kecepatan rendah. Dengan memakai lensa VR kemungkinan gambar blur dapat dihindari karena elemen VR akan mengkompensasi getaran, kemampuannya hingga 3-4 stop.
  • IFInternal Focusing, proses auto fokus terjadi didalam lensa sehingga tidak ada bagian luar lensa yang berputar saat lensa mencari fokus. Ini memungkinkan penambahan filter tertentu pada bagian depan lensa.
  • EDExtra low Dispersion, elemen lensa khusus yang ditujukan meningkatkan kontras dan ketajaman dengan meniadakan penyimpangan warna saat cahaya memasuki bagian lensa / chromatic aberration.

Jadi, lensa tadi bisa dipahami sebagai lensa Nikon berformat DX,  punya motor fokus pada lensa, memiliki jangkauan zoom terdekat di 18mm, terjauh di 200mm dengan diafragma maksimal pada saat wide di f/3.5, terjauh di f/5.6, memiliki teknologi stabilizer VR, tidak memiliki aperture ring, dilengkapi elemen lensa ED dan sistem mekanisme auto fokusnya secara internal. Karena lensa DX dirancang untuk dipasang di kamera Nikon DSLR bersensor APS-C, maka akan terkena crop factor 1,5x sehingga jangkauan efektifnya setara dengan 27-300mm.

vr

Untuk lensa Nikon lainnya, masih banyak istilah lain yang biasa dipakai, diantaranya :

  • SICSuper Integrated Coating, lapisan khusus untuk menghilangkan flare saat lensa terkena cahaya matahari.
  • NNano crystal coat, lapisan lensa yang juga dipakai untuk mengurangi flare dan ghosting.
  • AsphAspherical lens, lensa khusus untuk mengurangi distorsi dan penyimpangan warna.
  • D : Distance information, untuk memberikan informasi tentang jarak objek ke kamera sehingga membantu kerja sistem Matrix metering dan iTTL flash.
  • DCDefocus Control, untuk mengubah-ubah variasi bokeh sehingga foto portrait dapat memiliki background yang blurnya sesuai.
  • Micro : Istilah untuk lensa khusus makro.

Nikon Speedlight

sb900Aksesori penting pendukung DSLR Nikon yang paling utama adalah lampu kilat. Dalam urusan lampu kilat ini Nikon Speedlight sudah terkenal akan kehandalan dan akurasi TTL-nya. Nikon juga memiliki pengaturan banyak lampu dengan kendali secara wireless (memakai gelombang RF) yang dinamai CLS (Creative Lighting System). Pengaturan intensitas cahaya lampu kilat bisa dibuat otomatis dengan TTL ataupun manual. Meski kini banyak dijumpai lampu kilat merk lain yang kompatibel dengan DSLR Nikon, tapi pada prinsipnya Nikon tidak pernah berbagi rahasia akurasi TTL-nya ke pihak luar. Jadi untuk hasil terbaik memang disarankan memakai lampu kilat yang semerk dengan bodi kamera.

Pilihan produk Nikon Speedlight diantaranya :

  • SB400 : dua baterai, GN 30 (ISO 200)
  • SB600 : GN 30, zoom 24-85mm
  • SB700 : GN28, zoom 24-120mm
  • SB900 : GN 34, zoom 17-200mm

Segmentasi produk kamera DSLR Nikon

Kamera DSLR Nikon DX

Kelas pemula : Nikon D3100 (baru)

d3100_tb1Nikon D3100 merupakan DSLR penerus dari D3000, yang meneruskan D60 dan D40 sebagai kamera Nikon DX kelas pemula tanpa motor AF di bodi. D3100 ini boleh dibilang tak banyak berbeda dengan pendahulunya kecuali  penambahan fitur HD movie dan kemampuan auto fokus saat merekam video. Modul auto fokus pada D3100 ini berjumlah 11 titik yang sama seperti pada D3000, meningkat banyak dari D60-D40 yang hanya punya 3 titik. Dengan sensor CMOS 14 MP, D3100 ini sudah sangat baik untuk direkomendasikan kepada pemula yang mencari DSLR yang mudah dipakai namun berkualitas baik. Dengan harga jual 5,8 jutaan plus lensa kit, Nikon siap bersaing dengan merk lain untuk meraup untung dari kamera ini.

Kelas pemula : Nikon D5000 (diskontinu)

d5000jpgProduk elit di kelas pemula ini mengandalkan keistimewaan LCD lipat dan HD movie, melengkapi sensor CMOS 12 MP dan burst 4 fps ditambah modul 11 titik AF yang membuatnya jadi DSLR lengkap dan sarat fitur. Harga jual kamera ini awalnya cukup tinggi mencapai 8 juta (plus lensa kit), tergolong mahal mengingat Nikon D5000 bukanlah DSLR kelas semi-pro. D5000 cocok untuk mereka yang senang merekam video HD dengan angle sulit (LCD lipat sangat berguna dalam hal ini). Sayangnya produk ini sudah diskontinu.

Kelas menengah : Nikon D90 (diskontinu)

d90Nikon D90 merupakan penerus Nikon D80 yang populer di masa lalu, dengan positioning yang tanggung yaitu antara DSLR pemula dan DSLR semi-pro. Namun D90 sudah dilengkapi dengan fitur kelas semi-pro seperti finder jenis prisma dan top status LC meski masih memakai material bodi plastik. Nikon D90 merupakan DSLR Nikon pertama dengan fitur HD movie dan dijual di harga 9,5 jutaan (body only), cocok untuk mereka yang tidak puas dengan DSLR pemula namun tidak sanggup membeli DSLR semi-pro yang mahal. Produk ini sudah digantikan oleh D7000 berikut ini.

Kelas menengah hingga semi pro : Nikon D7000 (baru)

d7000_18_105Nikon D7000 merupakan DSLR Nikon penerus D90 yang begitu dinantikan dengan sensor 16 MP dan bodi berbahan magnesium alloy yang kokoh. Dua hal baru yang disambut antusias pada D7000 adalah modul auto fokus Multi-CAM 4800DX dengan 39 titik AF (9 diantaranya cross type) dan modul metering dengan 2016 pixel AE yang sangat akurat dan pertama dalam sejarah Nikon. Pada D7000 kini disediakan tombol putar untuk mengakses mode pemotretan S, CL, CH yang membuatnya tampak profesional. Kamera seharga 15 jutaan ini dijual bersama lensa kit 18-105mm VR.

Kelas semi pro : Nikon D300s

d300sDi kelas semi-pro sesungguhnya, Nikon mengandalkan D300s yang tangguh, cepat dan mewah. Namun bagaimanapun, D300s masih masuk kelompok kamera DX dengan sensor APS-C yang lebih kecil dari sensor 35mm. Dengan 51 titik fokus dan 1005 pixel RGB metering, D300s siap diajak bekerja cepat hingga 7 fps.  D300s menambahkan fitur HD movie dan dual slot memory-card dibanding pendahulunya D300. Kamera 12 MP ini cocok untuk mereka yang mengutamakan kecepatan, akurasi dan custom setting yang lengkap, D300s dijual di kisaran 17 juta body only.

Kamera DSLR Nikon FX

Kelas semi pro hingga profesional : Nikon D700

d700Di kelas semi pro hingga profesional, Nikon punya produk yang sesuai bernama Nikon D700 dengan sensor FX (full frame) yang masih setia di resolusi 12 MP layaknya D300s yang berformat DX. Kamera ini mampu mencapai kecepatan burst 8 fps bila dipasang battery grip tambahan. Sama seperti D300s, kamera ini memakai 51 titik fokus dan 1005 pixel RGB metering. Untuk ISO, D700 sanggup memberi foto dengan noise amat rendah di ISO tinggi hingga ISO 6400 dan bisa ditingkatkan sampai ISO 25.600 bila perlu.

Kelas profesional : Nikon D3x dan Nikon D3s

d3sDi kelas profesional sesungguhnya, Nikon punya duet D3s dan D3x, keduanya adalah penyempurnaan dari D3, kamera DSLR nikon FX pertama. Bedanya, D3x memakai sensor 24 MP tapi cukup lambat di 5 fps, sedangkan D3s tetap setia di 12 MP tapi mengandalkan kecepatan hingga 9 fps. Keduanya punya usia shutter teruji hingga 300 ribu kali jepret, punya dual CF slot, bisa dipakai vertikal tanpa menambah battery grip (ada vertikal grip  terintegrasi) dan tanpa lampu kilat internal.

Referensi lanjutan :

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon luncurkan lensa DX 55-300mm VR

Seiring dengan peluncuran DSLR Nikon D3100, Nikon juga meluncurkan empat lensa baru, tiga diantaranya berformat FX dan satu DX. Lensa DX yang diluncurkan kali ini masuk ke kelompok lensa tele-zoom murah meriah yang bernama AF-S DX 55-300mm f/4.5-5.6 ED VR. Rentang fokal yang ditawarkan memang cukup mengesankan dengan total zoom 5,5x zoom. Sebagai info, sebelumnya Nikon sudah punya lensa tele murah yang populer yaitu AF-S 55-200mm dan lensa tele FX yaitu AF-S 70-300mm. Bagaimana posisi lensa ini diantara dua lensa lain yang lebih dahulu ada, simak tinjauan kami selengkapnya.

Perbedaan antara AF-S 55-200mm dan AF-S 70-300mm cukup jelas. Selain berbeda harga (2 jutaan vs 4 jutaan), rentang fokal keduanya juga berbeda. Namun ingat kalau AF-S 55-200mm adalah lensa DX sedangkan AF-S 70-300mm adalah lensa FX. Bila lensa 55-200mm dipasang di kamera DX (seperti D40 sampai D300) maka fokal efektif lensa tersebut akan setara dengan 82.5-300mm sehingga hampir sama dengan lensa 70-300mm yang dipasang di kamera FX (misal D700 atau D3). Masalahnya adalah, banyak dari pemakai kamera Nikon DX yang ingin merasakan kemampuan tele zoom yang lebih dari 200mm, sehingga mereka ‘terpaksa’ membeli lensa 70-300mm hanya demi bisa merasakan kemampuan tele 300mm (450mm eqiv.).  Padahal lensa AF-S 70-300mm ini selain punya dimensi yang panjang (14 cm) juga berat (740 gram) bandingkan dengan lensa AF-S 55-200mm (10 cm, 330 gram).

nikkor-55-300mm-f4_5-5_6

Hadirnya lensa Nikon AF-S 55-300mm VR ini menjadi solusi bagi anda yang mencari lensa DX dengan kemampuan tele yang lebih dari 200mm, tanpa memberatkan anda saat membawanya. Mengapa? Karena lensa ini hanya memiliki panjang 12cm dan berat 500 gram, benar-benar berada diantara lensa 55-200mm dan 70-300mm. Rahasia dibalik ukurannya yang mungil adalah digunakannya elemen lensa High Refractive Index (HRI) yang mampu menjaga dimensi lensa keseluruhan tetap ringkas.

af-s-55-300-mtf

Sepintas lensa 55-300mm ini tidak banyak berbeda dengan lensa 55-200mm, baik dalam segi desain maupun fitur. Keduanya tergolong lensa zoom lambat (bukaan kecil) yang tidak cocok dipakai dalam kondisi low-light dan keduanya menempatkan ring fokus di bagian depan lensa yang menyulitkan untuk manual fokus. Tapi jangan kecewa dulu, karena hal-hal tadi memang wajar untuk lensa semurah ini. Sekarang kami paparkan hal-hal istimewa yang tak semestinya dijumpai di lensa yang murah ini :

  • memiliki elemen lensa sebanyak 17 elemen yang tersusun atas 11 grup (2 diantaranya lensa ED dan 1 lensa HRI)
  • memakai teknologi VR generasi ke-II yang diklaim mampu bekerja hingga 4 stop
  • memakai 9 blade diafragma, bukaan maksimum f/4.5-5.6 dan minimum f/22-29
  • memakai motor SWM untuk auto fokus yang cepat dan halus

Selain berbeda di rentang fokal, perbedaan lain antara lensa 55-200mm dengan 55-300mm diantaranya :

  • bukaan maksimum (55-200mm sedikit lebih unggul dengan f/4)
  • 55-200mm memakai diameter filter 52mm, 55-300mm memakai filter 58mm (70-300mm memakai 67mm)

Satu hal yang agak disayangkan dari lensa 55-300mm ini menurut kami adalah harga perkenalan awal yang terlalu tinggi (4 jutaan) yang hampir sama dengan harga lensa 70-300mm saat ini. Padahal lensa 70-300mm punya banyak kelebihan dibanding lensa 55-300mm seperti :

  • format FX
  • sistem Inner Focus (IF)
  • kualitas optik yang lebih baik
  • bisa manual focus override
  • kinerja motor SWM yang lebih cepat
  • mode VR ada active dan normal

Jadi bila anda punya dana 4 jutaan, saat ini sudah sangat perlu lensa tele zoom yang mampu menjangkau hingga 300mm (450mm eqiv.) dan tidak masalah dengan bobot lensa, saran kami tetaplah memilih lensa AF-S 70-300mm VR. Namun bila anda awalnya ingin membeli lensa AF-S 55-200mm namun merasa perlu rentang antara 200mm hingga 300mm, dan mencari lensa yang ringan dan praktis untuk dibawa bepergian, tunggu saja kehadiran lensa AF-S 55-300mm ini nanti di bulan September 2010. Namun bila anda tetap merasa lensa AF-S 55-200mm saja sudah mencukupi untuk kebutuhan fotografi anda, mengapa tidak? Lensa yang pernah kami review ini sangat murah dan punya optik yang baik dan masih tetap menjadi lensa populer hingga saat ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera saku murah meriah di penghujung tahun 2009

Di penghujung tahun 2009 ini kami hadirkan panduan belanja kamera saku murah meriah untuk mengisi liburan akhir tahun anda. Untuk mengabadikan momen bersama keluarga dalam foto berukuran 10 MP, atau sekedar merekam video klip pendek, sebuah kamera saku murah meriah sudah sangat mumpuni. Dengan dana 1 hingga 2 juta, anda sudah bisa mendapat kamera saku berkualitas yang bisa diandalkan untuk fotografi dasar harian.

lumix-dmc-fs4Sebelum melangkah lebih jauh, anda mungkin bertanya-tanya mengapa harga kamera saku ada yang bisa begitu mahal, sementara di lain pihak ada kamera saku yang dijual murah meriah. Anda mungkin penasaran mengapa ada orang yang mau membeli sebuah kamera saku seharga 4 juta, padahal kamera itu bukanlah kamera advanced seperti kamera DSLR. Baiklah disini kami tegaskan dahulu kalau variasi harga jual kamera saku bisa dipengaruhi oleh segmentasi (kasta) atau oleh fiturnya. Kamera dengan kasta tinggi, atau kamera premium, tentu menjadi mahal karena modelnya yang keren, berkesan mewah dan punya image kelas atas seperti jajaran Canon Ixus.

Meski tidak ada salahnya memilih kamera karena modelnya, namun kami lebih bisa memaklumi bila sebuah kamera dijual mahal karena fiturnya. Nah, fitur yang membuat kamera bisa dijual dengan harga mahal diantaranya adalah kualitas dan desain lensa. Kamera mahal pun umumnya sudah dilengkapi dengan fitur manual mode (P/A/S/M) untuk kendali fotografi tingkat lanjut. Bahkan kamera modern saat ini sudah mampu merekam video beresolusi HD dengan frame rate 30 fps yang tampak nyaman bila ditonton di layar HDTV. Sedangkan resolusi sensor (dalam satuan mega piksel) tidak lagi menandakan mahal murahnya sebuah kamera, karena kini semua kamera sudah mencapai angka resolusi sangat tinggi dari 8 hingga 14 MP (bandingkan dengan DSLR Nikon D40 buatan tahun 2007 yang ‘cuma’ 6 MP).

Kamera saku kisaran harga 2 juta rupiah

Menurut pengamatan kami terhadap spesifikasi kamera di tahun 2009 ini, dengan harga 2 juta kita sudah bisa memiliki kamera saku dengan fitur dan spesifikasi yang cukup baik dan lengkap. Hal ini berbeda dibanding dengan beberapa tahun lalu dimana dana 2 juta hanya cukup untuk dapat kamera yang fiturnya tergolong pas-pasan, meski tentu saat ini pun dengan 2 juta kita tidak bisa mengharap lebih akan fitur kelas atas seperti kendali manual (P/A/S/M) ataupun HD movie. Tapi setidaknya dengan membayar 2 juta rupiah, kita berhak untuk mendapat kamera yang sudah dilengkapi dengan stabilizer optik sebagai bekal penting untuk melawan blur karena getaran kamera.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku seharga kurang lebih 2 juta :

  • Panasonic Lumix FS62 (10 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. Lithium)
  • Kodak M1093 IS (10 MP, 3x zoom, IS, LCD 3 inci, HD, bat. Lithium)
  • Nikon Coolpix S560 (10 MP, 5x zoom, VR, LCD 3 inci, bat. Lithium)
  • Sony Cybershot W190 (12 MP, 3x zoom, IS, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Olympus- FE5010 (12 MP, 5x zoom, IS, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Canon Ixus 95 IS (10 MP, 3x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. Lithium)

Dari daftar di atas, kabar baiknya adalah tampak adanya kesamaaan yang mendasar diantara kamera harga 2 jutaan, yaitu adanya fitur stabilizer. Selain itu semua kamera diatas sudah memakai baterai Lithium, sementara ukuran layar LCD bervariasi dari 2,5 hingga 3 inci. Perhatikan kalau Kodak M1093 IS cukup berbeda dengan menawarkan fitur HD movie, sementara merk lain baru mengijinkan fitur HD movie di kamera yang lebih mahal.

Kamera saku kisaran harga 1,75 juta rupiah

Bila anda mengincar kamera yang harganya dibawah 2 juta, maka berikut ini adalah kamera yang harganya sekitar 1,75 jutaan yang mungkin bisa anda pilih. Di kisaran harga ini, pilihan kamera saku yang ada mulai menunjukkan perbedaan spesifikasi, katakanlah kini bisa dijumpai ada banyak kamera yang tidak dilengkapi stabilizer optik.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku kisaran harga 1,75 juta :

  • Canon Powershot A1100 IS (12 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. AA)
  • Casio Exilim S10 (10 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Kodak M1033 (10 MP, 3x zoom, LCD 2,7 inci, bat. Lithium)
  • Olympus FE-3010 (12 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Sony Cybershot W180 (10 MP, 4x zoom, LCD 2,7 inci, bat. Lithium)

Dari daftar diatas, sungguh menarik melihat kalau Canon A1100 IS menjadi satu-satunya kamera saku harga 1,75 jutaan yang masih dilengkapi dengan stabilizer (dan yang memakai baterai AA) sementara merk lain tidak ada fitur stabilizer optik (bedakan dengan istilah digital stabilizer atau stabilizer palsu).

Kamera saku kisaran harga 1,5 juta rupiah

Dengan budget 1,5 juta, anda masih bisa mendapat kamera saku yang berimbang antara harga dan kualitas. Justru kami menyukai kamera di kisaran harga 1,5 juta karena dari segi harga cukup terjangkau, tapi masih bisa mendapat fitur yang lengkap bila kita cermat meneliti spesifikasinya.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku seharga kurang lebih 1,5 juta :

  • Canon Powershot A1000 IS (10 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. AA)
  • Panasonic Lumix FS6 (8 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. Lithium)
  • Olympus FE-46 (12 MP, 5x zoom, LCD 2.7 inci, bat. AA)
  • Nikon L20 (10 MP, 3.6x zoom, LCD 3 inci, bat. AA)
  • Fuji FinePix J38 (12 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Casio Exilim Z2 (12 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)

Enam kamera diatas semuanya dijual di  kisaran harga 1,5 juta, perhatikan kalau ada sedikit kejutan dimana ada dua kamera yang masih dilengkapi fitur stabilizer. Dengan mudah kami beranggapan : bila ada kamera harga 1,5 juta sudah ada stabilizer, buat apa harus membeli kamera harga 1,75 juta tanpa stabilizer? Meski anda belum tentu sependapat dengan kami, namun setidaknya fakta ini menunjukkan kalau harga dan fitur tidak selalu sejalan.

Kamera saku kisaran harga 1 juta rupiah

Disaat dana yang terbatas memang jadi alasan utama, pilihan kamera 1 jutaan kali ini mungkin bisa jadi pilihan menarik. Lupakan fitur stabilizer disini, karena inilah kamera paling basic yang dibuat oleh masing-masing produsen, yang memang ditujukan buat para budget-minded, yang penting bisa jepret dan bersenang-senang.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku seharga kurang lebih 1 jutaan :

  • Fuji FinePix A170 (10 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat.AA)
  • Canon Powershot A480 (10 MP, 3.3x zoom, LCD 2.5 inci, bat.AA)
  • Nikon L19 (8 MP, 3.6x zoom, LCD 2.7 inci, bat.AA)
  • Kodak C1013 (10 MP, 3x zoom, LCD 2.4 inci, bat. AA)
  • Samsung ES10/ES15 (8 MP/10 MP, 3x zoom, LCD 2.5 inci, bat. AA)

Dari lima kamera di atas, tak satupun yang punya fitur stabilizer. Namun kabar baiknya anda tetap dapat memiliki kamera murah dengan resolusi 8-10 MP, dengan LCD 2.5-2.7 inci, kemampuan merekam VGA movie dan punya desain yang cukup baik. Sebagai info, di tahun lalu, kamera seperti ini dijual di kisaran 2 jutaan. Kini cukup dengan dana 1 jutaan, anda sudah bisa mulai bersenang-senang.

Kesimpulan dan rekomendasi

Berita baik di tahun ini, dengan dana 1-2 juta, kita sudah bisa memiliki kamera saku yang berkualitas. Kecuali anda perlu lensa yang didesain khusus, atau perlu fitur kendali manual, semestinya anda tidak perlu membayar lebih untuk sebuah kamera saku. Perkembangan teknologi telah mengijinkan kita untuk memiliki produk berkualitas dengan harga yang pantas.

Pada dasarnya kami selalu merekomendasikan kamera saku berdasarkan fitur, bukan kualitas hasil foto. Hal ini karena kamera saku dengan sensor kecil umumnya memberikan hasil foto yang relatif sama, kecuali bila lensa yang digunakan sangat buruk. Paling mudah adalah memilih kamera dengan fitur stabilizer, lalu barulah menilik fitur lainnya.

Rekomendasi kami di tiap kelas yaitu :

  • Kodak M1093 IS adalah satu-satunya kamera di kisaran harga 2 jutaan yang dilengkapi dengan fitur HD movie, kami nobatkan menjadi kamera best-buy di kelas 2 jutaan. Sementara Lumix FS62 jadi rekomendasi kedua di kelas ini bila anda merasa cukup dengan kemampuan movienya yang beresolusi 848 x 480 (WVGA) dan layar LCD-nya yang kecil.
  • Di kisaran harga 1,75 jutaan, Canon A1100 IS kami rekomendasikan karena sudah memiliki stabilizer. Kami tidak merekomendasikan kamera lain yang tidak dilengkapi stabilizer di kisaran harga ini.
  • Untuk harga 1,5 jutaan, ada dua kamera dengan stabilizer yang kami rekomendasikan yaitu Canon A1000 IS dan Lumix FS6. Canon A1000 IS cocok bila anda perlu kamera berbaterai AA, sementara FS6 memakai baterai Lithium.
  • Di kelas kamera basic, pada dasarnya tidak ada pemenang mutlak. Pilihan lebih didasarkan pada selera saja karena umumnya memiliki kesamaan dalam hal fitur dan lensa yang juga basic. Namun bila melihat dari desain dan ukuran LCD yang lebih besar, maka pemenang di kelas kamera 1 jutaan adalah Fuji A170 di tempat pertama dan Nikon L19 di tempat kedua.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rumor lensa Nikon : AF-S 16-35mm dan AF-S 100-500mm

Rumor akan produk kamera DSLR dan lensa baru memang menarik untuk diikuti, terlepas apakah rumor itu nantinya akan jadi kenyataan atau tidak. Demikian juga rumor yang membahas prediksi lensa DSLR seperti Canon atau Nikon selalu mendapat respon dari banyak fotografer. Adakalanya rumor hanya sekedar rumor, namun sering juga rumor benar-benar menjadi kenyataan karena adanya ‘kebocoran’ informasi dari sumber yang ‘bisa dipercaya’. Apakah rumor dua lensa baru dari Nikon ini akan menjadi kenyataan?

Rumor : lensa wide AF-S 16-35mm f/4G VR

Rumor ini menurut kami amat menarik. Pertama, karena Nikon jarang  punya lensa zoom dengan bukaan konstan f/4. Kedua, inilah versi murah dari lensa wide legendaris AF-S 17-35mm f/2.8 yang diidamkan oleh berjuta fotografer landscape di dunia. Bila lensa ini menjadi kenyataan, pemakai DSLR Nikon FX seperti D700 dan D3 akan merasakan kepuasan memotret dengan fokal ultra wide 16mm dengan bukaan konstan f/4 dan sebaagaai bonus tersedia fitur VR yang tidak umum dijumpai di lensa wide semacam ini. Bila pemilik Nikon DX ingin memiliki lensa ini, maka perlu diingat kalau karena crop factor format DX, maka fokal lensanya akan setara dengan 24-55mm sehingga agak tanggung (untuk wide kurang, untuk tele juga kurang). Meski berjenis lensa G yang terkesan bukan lensa profesional, tapi rumornya lensa 16-35mm ini dilengkapi dengan Nano crystal coating untuk ketajaman tak tertandingi. Berminat?

Rumor : lensa super tele AF-S 100-500mm f/4-5.6G VR III

Rumor kedua ini pun unik dan menarik karena dua hal, pertama karena diperkenalkannya VR generasi ke III (hingga 5.5 stop); dan kedua, gambar lensa ini beserta brosur lengkapnya sudah ada di flickr (tentu saja bukan resmi dari Nikon). Lensa super tele semacam ini terlihat ramping dan kompak karena memakai diafragma kecil, f/4-5.6 atau lensa lambat. Lagi-lagi lensa ini didesain untuk format Nikon FX, meski pemilik Nikon DX tentu lebih tertarik akan hadirnya lensa ini karena lensa 100-500mm ini akan memberikan fokal yang lebih panjang  di format DX, yaitu 150-750mm (wow..!). Bila rumor ini benar, maka tampaknya lensa Nikon yang sekarang ada, AF 80-400mm f/4.5-5.6 VR bakal segera diskontinu. Percaya atau tidak, namanya juga rumor..

Rumor semacam tadi bisa merebak karena adanya bocaoran dari sumber tertentu yang bisa dipercaya, atau hanya kerjaan orang iseng yang mengolah digital lensa yang ada lewat Photoshop. Namun apapun itu, setiap rumor selalu menarik untuk diikuti bukan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..