Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang yang konsisten merilis lensa untuk berbagai kamera khususnya DSLR, terus memberi alternatif menarik untuk fotografer hobi maupun profesi yang mencari harga yang wajar dengan kualitas tak kalah dengan lensa yang harganya lebih mahal. Bila sebelumnya Tamron sudah membuat lensa 35-150mm yang fokal lensa zoomya mencukupi untuk bermacam kebutuhan harian seperti 35mm, 50mm, 85mm dan sebagainya, maka kali ini kami akan mengupas lensa Tamron 17-35mm f/2.8-4 yang termasuk lensa ultra lebar ekonomis untuk DSLR Canon dan Nikon.

Fokal 17mm memberi perspektif dan kesan lebar yang berbeda dari yang kita lihat

Umumnya lensa lebar disukai oleh mereka yang menekuni fotografi pemandangan atau interior. Dari golongan fokal lensa, sebetulnya 35mm sudah termasuk lebar, meski saat ini orang akan lebih terkesan oleh lensa 28mm apalagi 24mm. Tapi bila yang dicari justru fokal lensa yang sangat lebar, maka angka 17mm adalah langkah aman untuk mendapat perspektif dramatis yang ekstra luas. Memang dalam persaingan lensa masa kini, produsen terus membuat lensa yang semakin lebar seperti 16mm, 14mm hingga 10mm untuk full frame, yang berdampak pada harga yang makin mahal sedangkan belum tentu kita butuh sampai selebar itu. Kami ingat dulu itu lensa ultra lebar dari Canon yang umum itu hanya Canon 17-40mm saja, atau Nikon 16-35mm. Maka itu lensa Tamron 17-35mm ini kami lihat punya rentang fokal yang pas, dimulai dari 17mm dan diakhiri hingga 35mm, dan bila ingin meneruskan zoom diatas 35mm langsung pasang lensa Tamron 35-150mm, terus menyambung kalau belum puas ada Tamron 150-600mm, lengkap dan tanpa overlap sedikit pun, mantap..

Dipasang di bodi Nikon D600, perpaduan lensa dan kamera tampak seimbang, pas dan tidak (terlalu) memberatkan saat dibawa.

Baiklah, cukup pendahuluannya, kita langsung masuk ke topik. Kami mencoba lensa yang nama lengkapnya Tamron 17-35mm f/2.8-4 Di OSD dengan mount Nikon, dipasang di D600 full frame. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C maka akan rugi karena jadi tidak ultra wide lagi. Berikut fakta-fakta lensa ini :

  • untuk dipakai di DSLR, dengan mount Canon atau Nikon
  • berat 460 mm
  • diameter filter 77mm
  • motor fokus OSD (bukan USD)
  • tidak ada penstabil getar VC
  • tidak ada indikator jarak fokus untuk membantu hiperfokal/infinity
  • lensa hanya sedikit memanjang saat diputar zoomnya
  • ada karet pencegah masuknya air di bagian mount belakang

Continue reading Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa Canon EF-S 10-18mm IS STM

Setelah punya lensa kit, anggaplah lensa 18-55mm, biasanya orang tanya apa lensa berikutnya yang perlu dibeli. Biasanya saran kami adalah lensa lebar dan/atau lensa tele (misal lensa 55-200mm), tergantung mana yang lebih prioritas. Kalau dana tidak jadi kendala, ya dua-duanya boleh diambil sekaligus karena saling melengkapi. Lensa lebar biasanya jadi prioritas kalau fokal terlebar dari lensa kit yaitu 18mm dirasa kurang lebar (salah satunya akibat crop factor, sekitar 28mm saja). Pilihan lensa lebar untuk sistem APS-C biasanya lensa yang dimulai dari fokal 10,11 atau 12mm. Misal Canon 10-22mm, Nikon 10-24mm, Tokina 11-16mm dan sebagainya. Harga lensa wide memang agak tinggi, kadang sebagian orang urung membeli karena dananya belum mencukupi.

DSC_2286 sml2

Kami agak terkejut saat tahun lalu Canon mengumumkan lensa baru, yaitu EF-S 10-18mm IS STM, setidaknya ada dua hal yang membuat kami agak terkejut. Pertama adalah karena Canon sudah punya lensa wide untuk EF-S yaitu 10-22mm seharga 6-7 jutaan. Kedua karena harganya yang agak tidak umum, yaitu 3 jutaan rupiah, jauh lebih murah daripada lensa Tokina 12-24mm yang kami punya sejak 3 tahun lalu.

Kami penasaran seperti apa lensanya dan mengapa dia bisa begitu murah. Kami pikir tidak mungkin Canon akan menjual lensa murah dengan mengorbankan kualitas optiknya, karena bakal jadi bumerang di jangka panjang. Lalu kenapa dia bisa dijual 3 jutaan saja? Mungkin saja itu bagian dari strategi bisnis Canon, kami kurang tahu soal itu, tapi jawabannya bisa dicari secara faktual dari ciri-ciri fisik yang tampak.

Menilik dari spesifikasinya, mulai terjawab apa saja yang bisa dilakukan Canon untuk menekan harga, misalnya :

  • bodi berbahan plastik, mount juga plastik dan ukurannya kecil, kualitas fisik bodinya mirip lensa kit
  • jangkauan fokal terjauh (zoom paling mentok) hanya sampai 18mm, tapi ini tidak masalah karena justru jadi tidak saling overlap dengan lensa kit (18-55mm atau 18-135mm)
  • bukaan maksimal tidak besar, dan tidak konstan, yaitu f/4.5-5.6 walau ini juga tidak masalah karena umumnya lensa wide dipakai untuk pemandangan (Sering pakai antara f/8 hingga f/16)
  • tidak pakai jendela indikator jarak fokus, lagipula ini adalah lensa STM (semua lensa STM pakai manual fokus elektronik)
  • tidak diberi bonus hood lensa
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang

Tapi jangan salah, bukan berarti lensa EF-S ini tidak punya keunggulan. Bahkan lensa yang berisi 14 elemen optik dalam 11 grup (termasuk 1 Asph. dan 1 UD) ini sudah memiliki fitur Image Stabilizer (IS) yang diklaim sampai 4 stop, sehingga kita bisa memotret dengan speed lambat dengan minim resiko getar. Disini fitur IS menjadi penting karena lensa ini bukaannya tidak besar. Selain itu sistem motor fokus STM membuat auto fokusnya senyap dan cepat, cocok untuk rekam video juga. Diameter filter lensa ini 67mm, bagian depan lensa tidak berputar saat auto fokus sehingga cocok untuk pasang filter CPL. Lensa ini bisa fokus sedekat 22cm dari sensor (atau sekitar 15cm dari ujung lensa) dan punya 7 bilah diafragma yang termasuk lumayan untuk bokeh agak bulat.

Pengujian fitur IS :

Dengan fokal 18mm, kami menguji kemampuan IS lensa ini dengan shutter selambat 1/2 detik atau kira-kira 3 stop lebih lambat dari batas aman untuk lensa 18mm. Sebagai subyek uji, ada bola dunia yang penuh tulisan ini :

Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik
Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik

dan inilah hasil crop 100% dari foto diatas :

Fitur IS On, hasil crop terlhiat foto masih tajam
Fitur IS On, hasil crop terlihat foto masih tajam

Sebagai kesimpulan, yang kami sukai dari lensa ini :

  • harga terjangkau, cocok untuk pemula yang baru belajar fotografi dan perlu lensa wide yang bisa memberi perspektif berbeda
  • kecil dan ringan (230 gram), sepintas mirip sekali dengan lensa kit 18-55mm
  • auto fokus cepat, tidak bersuara, dan oke untuk video juga
  • optiknya termasuk baik, seperti ketajaman, warna dan kontras tidak ada keluhan
  • ada fitur IS, sesuatu yang biasanya tidak diberikan di lensa wide
  • rendah cacat lensa seperti chromatic abberation dan flare
  • filter 67mm tergolong umum dan terjangkau (umumnya lensa wide pakai filter 77mm yang mahal)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari lensa ini :

  • mount plastik, perlu lebih hati-hati karena plastik lebih rentan patah daripada logam
  • sebagai lensa STM, dia manual fokusnya by-wire, artinya ring manual fokus hanya berguna saat kamera dalam keadaan ON
  • lensa STM juga artinya tidak ada jendela jarak fokus, kelemahannya sulit sekali manual fokus ke infinity misalnya (agak sulit foto bintang seperti milkyway)

Secara umum kami menyukai lensa ini, ukuran, bobot dan fiturnya sesuai dengan yang saya cari, sedangkan kualitas optiknya melampaui harga jualnya. Dibandingkan lensa EF-S 10-22mm perbedaannya adalah dalam hal rentang fokal, kualitas bahan bodi dan indikator jarak fokus. Kualitas optik kurang lebih setara, atau lensa 10-22mm sedikit lebih unggul dibanding EF-S 10-18mm.

Beberapa contoh foto dari lensa ini :

Perbedaan fokal 10mm dengan 18mm :
IMG_1122

IMG_1123

Untuk arsitektur :

IMG_2455

Untuk pemandangan :

IMG_1376

IMG_2856

Foto selengkapnya bisa dicek di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa sapu jagad ambisius : Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro

Walaupun enaknya memotret dengan kamera DSLR (atau mirrorless) adalah bisa berganti-ganti lensa, tapi ada juga orang yang lebih tertarik kalau bisa pakai satu lensa saja yang bisa mencakup kebutuhan wide sampai tele. Bagi mereka, lensa superzoom atau sapu jagad memang jadi opsi yang lebih cocok, apalagi kalau dibawa travelling. Lensa DSLR memang jarang yang punya rentang zoom panjang, bahkan dulu 18-200mm sudah tergolong istimewa. Tapi kini batasan itu mulai dilampaui, seperti lensa Sigma 18-270mm, Nikon 18-300mm yang bisa menjangkau lebih tele dari 200mm. Tapi Tamron yang baru muncul ini keren, fokal terpendeknya bisa mencapai 16mm yang relatif lebar (ekivalen 24mm di sensor APS-C). Rasio zoomnya adalah 18,8x yang sepertinya memecahkan rekor untuk lensa superzoom saat ini.

Berikut penampakan lensa Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro :

tamron-16-300mm-f35-63g-di-ii-vc-pzd-macro-lens

Didalam lensa seharga 7 juta ini tersusun atas tiga elemen lensa Molded-Glass Aspherical, sebuah elemen lensa Hybrid Aspherical, dua elemen lensa LD (Low Dispersion), sebuah elemen lensa XR (Extra Refractive index) dan satu elemen baru yaitu UXR (Ultra-Extra Refractive Index) yang punya indeks refraksi lebih tinggi dari XR, dan bisa membuat ukuran lensa jadi lebih kecil.

Opini kami :

  • alternatif menarik dibanding Nikon 18-300mm bila tujuannya ingin lensa yang lebih terjangkau
  • dengan fokalnya yang cukup wide (16mm setara 24mm) menarik untuk dipakai memotret pemandangan dan interior
  • value produk sudah oke, karena ada VC (penstabil getaran), motor fokus PZD (halus dan cepat) serta bisa makro-makroan (1:2,9 dengan MFD 40cm)
  • kualitas optik termasuk standar, lensa sapu jagat tidak didesain untuk mengoptimalkan kualitas hasil tapi kepraktisan
  • desain baru lensa Tamron ini terlihat lebih pro, balutan warna hitam, tekstur dan gelang zoom – fokus desain baru
  • Tamron berhasil membuat lensa yang berukuran kecil (panjangnya 10cm) dan bobot ringan (1/2 kg) – setara dengan lensa Nikon 18-300mm generasi kedua
  • lensa ini cocok untuk all round lens, praktis buat jalan-jalan dan foto harian
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alternatif lensa kit standar untuk kamera DSLR

Setiap kamera digital dijual dengan dua opsi pilihan : body only atau dipaketkan dengan lensa kit. Kebanyakan kamera DSLR ekonomis adalah sudah paket plus lensa kit, bahkan ada yang dobel kit (tambah lensa tele). Lensa kit yang dipaketkan beragam jenisnya, walau umumnya punya kesamaan ciri yaitu lensa kecil dengan jenis standar zoom, rentang fokal 18-55mm dan bukaan f/3.5-5.6 plus anti getar (VR/IS dsb).

Di artikel terdahulu kami pernah membahas tentang plus minus lensa kit, yang bisa jadi ada hal-hal yang membuat kita kurang puas saat memakainya. Saat itulah mungkin kita akan bertanya-tanya, apakah lensa ini mau tetap dipakai atau diganti. Bila memang ingin mencari lensa lain untuk menggantikan lensa kit, berikut kami sajikan beberapa alternatif yang bisa anda baca :

Lensa sapu jagat

Lensa dengan istilah yang unik ini maksudnya adalah lensa superzoom, dengan fokal yang serba-bisa dari wide (misal 18mm) hingga tele (misal 200mm atau bahkan 300mm). Dengan satu lensa ini saja kita bisa maksimalkan untuk berbagai kebutuhan seperti pemandangan, liputan, potret maupun candid. Pilihan yang umum biasanya Canon EF-S 18-200mm (gambar di bawah ini), Nikon AF-S 18-200mm (dan kini ada juga yang 18-300mm), lalu ada Sigma dan Tamron juga bisa dicoba (misal 18-250mm). Semua lensa di kategori ini semestinya sudah dilengkapi dengan fitur anti getar karena fokal telenya akan rawan getaran tangan saat memotret.

canon-ef-s-18-200mm-f35-56-is

Kekurangan lensa ini adalah harganya cukup tinggi (6-10 jutaan) dan ukurannya cukup besar. Saat memakai fokal paling tele, lensa ini bisa memanjang sampai 2x lipat. Selain itu kualitas optiknya juga pas-pasan, walau bukan berarti jelek.

Lensa all-around

Lensa kategori ini hampir sama dengan lensa sapu jagat, tapi rentang fokalnya lebih pendek khususnya dalam hal kemampuan telenya. All-around juga bisa diartikan lensa serba guna (general purpose), yang mencakup dari wide (18mm) hingga agak tele (misal 70mm). Lensa dengan fokal seperti ini cocok untuk pemandangan hingga potret, tapi bukan untuk kebutuhan tele yang jauh. Lensa ini harganya lebih terjangkau dibanding lensa sapujagat/superzoom, di kisaran 4-6 jutaan dan kualitas optiknya relatif bagus. Fitur anti getar umumnya sudah disematkan di lensa kategori all-around.

nikon-nikkor-16-85mm-vr

Kenapa lensa semacam ini dipilih untuk menggantikan lensa kit, alasan utamanya adalah dalam hal kualitas bodinya. Lensa di kelas ini punya bodi yang lebih mantap, mount logam, motor fokus yang lebih handal dan manual fokus yang lebih nyaman. Pilihan di kelas ini adalah Canon EF-S 15-85mm, Nikon AF-S 16-85mm (contoh gambar di atas) dan Sigma 17-70mm DC. Kekurangan lensa ini adalah, bila kekampuan telenya belum membuat anda puas, anda akan perlu membeli satu lensa khusus tele zoom seperti 70-300mm.

Lensa standar bukaan besar

Lensa di kelas ini punya ciri bukaan maksimumnya besar (f/2.8) dan konstan (dari wide hingga tele bukaan maksimumnya tetap besar). Jangan heran karena itulah harga lensa seperti ini bisa berkali-kali lipat dari harga lensa kit (asumsi harga lensa kit adalah 2 juta). Nikon misalnya, punya lensa AF-S 17-55mm f/2.8 yang harganya diatas 10 juta, demikian juga dengan Canon. Alternatif hemat ada Sigma 17-50mm f/2.8 seharga 6 juta dan dari Tamron di kisaran 4 juta. Paling terjangkau adalah Tamron AF 17-50mm f/2.8 non VC yang dijual dibawah 3 juta, seperti gambar di bawah ini :

tamron-17-50mm

Keuntungan lensa ini adalah bukaan besar bisa membantu mendapat foto yang terang walau cahaya kurang, lalu bisa dapat bokeh yang lebih blur dan kualitas optiknya relatif paling baik dibanding lensa sekelasnya. Maka itu lensa seperti ini sering dipakai untuk liputan khususnya wedding. Kekurangannya adalah harganya mahal dan rentang fokalnya cukup pendek (hanya sampai 55mm) jadi persis sama dengan lensa kit 18-55mm.

Kesimpulan

Lensa kit, seperti lensa 18-55mm f/3.5-5.6 pada dasarnya sudah mencukupi untuk berbagai kebutuhan fotografi sehari-hari, ditinjau dari fokal, bukaan dan kualitas optik. Tapi saat kita ingin mengganti lensa kit itu, pilihan terbagi tiga skenario :

  • mengutamakan rentang fokal (supaya cukup bawa satu lensa) : pilih lensa super zoom
  • mencari lensa ‘tengah-tengah’ (dari rentang fokal, harga dan kualitas) : pilih lensa all round
  • mengutamakan bukaan besar (atau bisa juga karena mengutamakan hasil foto) : pilih lensa standar bukaan besar

manapun yang anda pilih, ketiga kelompok ini memiliki kesamaan di rentang fokal yang standar yaitu mulai dari 16/17/18mm hingga suatu nilai tele tertentu. Perlu diingat adakalanya kita juga butuh lensa wide yang lebih lebar misal 10mm hingga 16mm (kategori ultra-wide), adakalanya kita juga perlu lensa dengan bukaan ekstra besar (misal f/1.8) sehingga perlu juga punya lensa fix (prime). Kesamaan lainnya adalah semua lensa di sini didesain khusus kamera DSLR dengan sensor APS-C, yaitu dengan diameter bidang gambar yang lebih kecil dari sensor full frame. Kami tidak mengulas lensa berjenis full frame, walau boleh-boleh saja anda beli lalu dipasang di kamera APS-C anda, misal lensa Canon 17-40mm f/4 L (yang sejatinya adalah lensa wide untuk DSLR Canon full frame).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Lensa Tokina AT-X 12-24mm f/4 Pro DX II

Kali ini kami sajikan satu lagi review lensa Tokina yang mungkin kurang begitu dikenal di kalangan fotografer yaitu Tokina SD 12-24mm f/4 (IF) DX AT-X Pro II. Dari rentang fokalnya kita tahu kalau lensa ini termasuk ke dalam kelas lensa wideangle dimana fokalnya bermula dari ultra wide 12mm dan berakhir di ‘agak wide’ 24mm. Lensa ini dijual sedikit lebih murah daripada lensa 11-16mm f/2.8 yang kami review dua tahun lalu. Simak bagaimana kesan kami terhadap lensa ini, dan bagaimana lensa ini berada di tengah kompetisi ketat antar lensa wide alternatif.

tokina-side2

Tentang lensa wide alternatif

Tokina, seperti juga Sigma dan Tamron, adalah produsen lensa alternatif untuk Canon, Nikon dan DSLR lainnya. Urusan wideangle menjadi tantangan tersendiri sejak sensor APS-C hadir satu dekade silam. Alasannya karena crop factor dari sensor membuat lensa wide bisa jadi tidak lagi wide, misal lensa 28mm di kamera film akan setara dengan 42mm di sensor APS-C. Untuk itu setiap produsen lensa berlomba membuat lensa yang lebih wide lagi. Sepuluh tahun yang lalu, Nikon mulai memperkenalkan lensa wide untuk APS-C dengan lensa AF-S 12-24mm f/4 dengan harga yang cukup mahal, sedangkan Canon meluncurkan lensa serupa yaitu EF-S 10-22mm f/3.5-4.5 yang harganya lebih terjangkau. Tak lama berselang Nikon kembali membuat lensa wide baru AF-S 10-24mm f/3.5-4.5 untuk bisa menyamai fokal wide 10mm Canon. Saat ini harga lensa wide khususnya merk Nikon berada di kisaran 8-9 jutaan yang mungkin terasa mahal bagi kebanyakan fotografer non profesional.

tokina-back

Untuk mereka yang ingin mencoba lensa wide tapi tidak mau merogoh kocek terlalu dalam, lensa alternatif hadir dengan rentang fokal yang mirip, seperti :

  • Sigma 12-24mm f/4.5-5.6 dan 10-20mm f/4-5.6 (versi lain ada yang f/3.5)
  • Tamron 11-18mm f/4.5-5.6 dan 10-24mm f/3.5-4.5
  • Tokina 11-16mm f/2.8 dan Tokina 12-24mm f/4

Jadi kalau ditinjau dari pilihan diatas, hanya Tokina yang tidak mampu mencapai fokal 10mm di posisi paling widenya. Merk lain seperti Canon, Nikon, Sigma dan Tamron semua punya lensa yang dimulai dari 10mm. Bisa dibilang lensa Tokina 12-24mm f/4 yang kami uji kali ini adalah copy paste dari lensa Nikon AF-S 12-24mm f/4 buatan 10 tahun silam karena sama persis fokal dan diafragmanya. Uniknya, saat ini lensa Nikon AF-S 12-24mm f/4 sudah tidak diproduksi, sehingga praktis Tokina 12-24mm f/4 adalah satu-satunya lensa wide dengan bukaan konstan f/4 yang masih bisa ditemui di pasaran saat ini. Secara segmentasi lensa alternatif di kelompok lensa wide bukaan konstan,  Tokina 12-24mm  f/4 ini adalah yang termurah dibandingkan dengan lensa Sigma 10-20mm f/3.5 dan Tokina 11-16mm f/2.8. Tapi bila diadu dengan lensa wide bukaan variabel, Tokina ini 1 juta lebih mahal daripada Sigma 10-20mm f/4-5.6 dan Tamron 10-24mm f/3.5-4.5.

Tinjauan fisik

Lensa Tokina 12-24mm f/4 memiliki rancang bangun yang solid, dengan mount logam yang kokoh, bodi yang tidak terkesan murahan serta adanya distance scale window yang sangat bermanfaat. Dalam paket penjualannya disediakan sebuah lens hood untuk mencegah flare akibat sinar dari samping yang masuk ke lensa. Lensa yang kami uji adalah untuk mount Nikon, dan karena lensa ini adalah lensa generasi kedua (ada kode II) maka lensa ini kompatibel dengan D40 hingga D5100, alias bisa auto fokus dengan lancar. Tapi teknologi motor fokusnya tidak sama seperti motor SD-M (Silent Drive Module) seperti yang dipakai di lensa Tokina kelas atas. Kutipan dari situs Tokina :

The Nikon mount AT-X 124 PRO DX II has a built-in AF motor drive. The motor inside the lens was loaded onto the Nikon mount specification anew. The AF operates smoothly and quietly due to a DC motor that uses a new AF control gear assembly. With the built-in motor, the lens can be used in AF mode with the Nikon D60 and D40 and other silent wave bodies.

Berikut spesifikasi lensa Tokina 12-24mm f/4 II :

  • rentang fokal : 12-24mm (setara dengan 18-35mm pada sensor APS-C)
  • bukaan maksimal : f/4 (pada seluruh panjang fokal)
  • bukaan minimal : f/22
  • jumlah blade diafragma : 9 blade
  • optik : 13 elemen dalam 11 grup
  • fokus terdekat : 30 cm (1 : 8 rasio reproduksi maksimum)
  • diameter filter : 77 mm
  • motor fokus : ada (untuk Canon dan Nikon termasuk D40-D5100)
  • buatan Jepang

Adapun arti dari kode-kode pada lensa Tokina 12-24mm ini diantaranya :

  • AT-X : Advanced Technology – Extra (lensa terbaik dari Tokina)
  • SD : elemen lensa Super Low Dispersion untuk ketajaman ekstra
  • IF : Internal Focusing, elemen lensa fokus yang berputar di dalam
  • DX : didesain untuk sensor APS-C, tidak untuk DSLR full frame
  • II : generasi kedua dengan motor fokus untuk Nikon D40-D5100

Lensa Tokina 12-24mm memiliki rancang bangun dan material bodi yang baik, berkesan profesional. Putaran zoom terasa mantap dan arah putarannya sama seperti lensa Nikon (kebalikan lensa Canon). Tidak ada bagian lensa yang bergerak maju mundur saat lensa di zoom. Putaran fokus manual ada di bagian depan lensa, beserta distance scale windows yang terbaca dengan jelas. Ada satu hal yang unik dari beberapa lensa Tokina (termasuk lensa ini), yaitu bila pada umumnya selektor auto fokus di lensa lain memakai tuas, di lensa ini justru dengan menggeser ring manual fokus pada bagian depan lensa. Tokina menyebutnya dengan ‘One touch focus clutch mechanism’. Artinya bila ingin beralih dari auto fokus ke manual fokus, cukup geser ring manual fokus ke arah dalam. Praktis dan cepat, tak perlu lagi mencari letak tuas dan menggesernya. Auto fokus di lensa ini terasa cepat, hampir menyamai kecepatan motor HSM milik Sigma. Hanya saja suara motornya masih terdengar lumayan keras, meski tidak sekeras suara motor lensa Tamron atau Canon non USM. Lensa berbobot setengah kilogram ini memakai mount logam, dan bahkan bodinya pun berbalut logam, bukan plastik.

Tinjauan optik

Fokal lensa ini yang bermula di 12mm (atau setara dengan 18mm) memang tidak akan memenangkan rekor sebagai lensa paling lebar, kita tahu bahwa perbedaan 1mm dalam fotografi landscape mungkin cukup berarti, sehingga boleh jadi ada yang urung membeli lensa ini karena fokal terlebarnya hanya 12mm. Tapi fokal lensa ini berakhir cukup jauh di 24mm (atau setara dengan 35mm) yang mulai masuk ke teritori fokal lensa normal. Artinya meski tidak sangat wide, lensa ini lebih fleksibel karena bisa dipakai untuk berbagai kebutuhan dari landscape, interior hingga street fotografi. Sebagai komparasi, memakai lensa Tokina 12-24mm di kamera Nikon DX ini hampir sama dengan memakai lensa Nikon AF-S 16-35mm f/4 di kamera Nikon FX, tapi lensa AF-S 16-35mm f/4 harganya 12 juta rupiah !! Perbedaan hasil foto antara zoom out hingga zoom in memang bisa dirasakan bedanya tapi tidak begitu banyak, berbeda dengan perubahan perspektif yang dirasakan bila memakai lensa zoom yang bisa berubah fokal dari wide ke telefoto.

Pengujian

Kami menguji lensa Tokina 12-24mm f/4 for Nikon generasi kedua yang bisa auto fokus dengan DSLR Nikon pemula mulai dari D40, D60, D3000 dan D5000. Pengujian ini kami lakukan dengan kamera DSLR Nikon D5100. Dari pengujian yang kami lakukan terhadap lensa ini, tampak kalau hasil foto memiliki ketajaman yang amat baik, bahkan saat memakai bukaan maksimal f/4. Ketajaman terbaik didapat di f/8 dimana area tengah dan tepi sama-sama tajam. Pada f/16 ketajaman berkurang secara signifikan.

Foto berikut ini diambil dengan tiga macam bukaan yaitu f/4 (maksimal), f/8 (sedang) dan f/16 (kecil) :

asli

Crop untuk bukaan f/4 :

Crop untuk bukaan f/8 :

Crop untuk bukaan f/16 :

Lensa ini juga tetap tajam baik di posisi 12mm maupun di 24mm, sebuah apresiasi yang patut diberikan untuk produsen lensa dari Jepang ini. Di posisi 12mm distorsi optik (cembung) terlihat di bagian tepi, lalu distorsi semakin berkurang bila lensa di zoom menjauhi fokal 12mm. Karena lensa wide memiliki angle of view yang lebar, maka perspektif yang dihasilkan juga berbeda dengan lensa standar. Seperti lensa wide pada umumnya, obyek yang berada dekat dengan lensa akan mengalami distorsi secara perspektif sehingga tampak miring. Tapi karena lensa ini mampu mencapai fokal 24mm (setara 35mm di kamera film) maka boleh juga memanfaatkan lensa ini untuk membuat foto potret dengan memakai fokal 24mm karena distorsinya sudah banyak berkurang.

Zoom wide 12mm :

Zoom in ke 24mm :

Distorsi di 12mm yang masih terjaga dengan baik :

Performa bokeh atau out of focus dari lensa ini tergolong biasa-biasa saja. Bokeh akan didapat maksimal bila memakai bukaan f/4 dan obyek yang difoto sangat dekat dengan lensa, sedangkan latar belakang berada jauh di belakang obyek. Pemakaian lensa wide biasanya cenderung lebih ke DOF lebar untuk arsitektur maupun landscape. Kalaupun mau memakai lensa ini untuk potret mesti di fokal 24mm, seperti contoh foto ini (foto ini memakai fokal 24mm dan f/8 sehingga background terlihat cukup jelas) :

Kesimpulannya, lensa Tokina 12-24mm f/4 ini merupakan lensa alternatif yang sanggup bersaing dengan lensa merk Canon atau Nikon. Build quality yang diatas rata-rata, performa optik yang amat baik, bukaan konstan f/4 yang terkesan profesional, serta harganya yang terjangkau membuat lensa ini semestinya bisa jadi favorit para fotografer landscape dan interior, asal tidak membutuhkan fokal yang lebih wide dari 12mm. Kekurangan lensa ini bisa dibilang tidak ada yang signifikan, hanya seperti flare minimal, sedikit purple fringe dan sedikit distorsi. Kalaupun ada kekurangan dalam hal desain hanyalah yang sifatnya harapan (wish list) dari kami, yaitu andai lensa ini bisa mencapai fokal 10-24mm seperti lensa Tamron, dan andai lensa ini bisa membuka sedikit lebih besar seperti pada lensa Sigma 10-20mm f/3.5.

Terima kasih kepada : tokocamzone (untuk diskonnya… )

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Lensa Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5 DX

Sejak tahun 2003, Nikon sudah punya lensa zoom dengan format DX yaitu lensa 12-24mm f/4 yang tergolong kelas ultrawide. Sayangnya akibat crop factor 1,5 x, lensa ini punya fokal efektif 18-36mm yang buat kebutuhan fotografi wideangle masih kurang sedikit lebar. Dua tahun kemudian, Sigma meluncurkan lensa zoom ultrawide 10-20mm yang disusul dengan Tamron dan juga Tokina, sehingga membuat Nikon lantas merasa perlu melakukan penyegaran dengan meluncurkan lensa AF-S 10-24mm f/3.5-4.5 DX di tahun 2009 lalu.

10-24mm-2

Lensa seharga 8 jutaan ini punya fokal efektif yang setara dengan 15-36mm ekivalen 35mm. Dengan rentang fokal ini, bisa didapat cakupan gambar yang sangat lebar, cocok untuk berkreasi dengan berbagai perspektif dan sudut yang unik. Bukaan diafragma di lensa ini bertipe variabel, yang membuka maksimal f/3.5 di posisi paling wide dan mengecil hingga f/4.5 di posisi 24mm. Bukaan terkecil dari lensa ini adalah f/22. Tidak ada VR di lensa ini, karena fokal wide cenderung tidak perlu stabilizer, memakai speed lambat sampai 1/10 detik pun masih aman tanpa resiko blur.

d5100-10-24

Lensa AF-S 10-24mm ini punya motor fokus yang cepat, dan juga mampu mengunci fokus dengan jarak yang sangat dekat. Terdapat jendela pengukur jarak dengan indikator mulai dari 24 cm hingga infinity. Ring manual fokus bisa diputar kapan saja untuk melakukan pengaturan fokus. Lensa ini punya 2 elemen lensa ED dan 3 elemen lensa aspherical, 7 bilah diafragma dan diameter filter berukuran 77mm.

dsc_0046e

Dalam pengujian, lensa 10-24mm memberikan gambar yang tajam dan warnanya konsisten, serta kontras yang tinggi pada seluruh rentang fokal. Tidak ada keluhan yang berarti dalam kualitas optik lensa ini, ketajaman sudah bisa dirasakan pada bukaan terbesarnya dan akan lebih tajam saat bukaan dibuat sedikit lebih kecil. Pada bagian sudut pun hasilnya masih amat baik. Lensa ini juga punya karakteristik bokeh yang baik, apalagi bila obyek yang difoto berada dekat dengan kamera, maka latar belakang akan nampak sangat blur.

dsc_0059e

Sebagai lensa lebar, gambar yang dihasilkan tentu akan mengalami distorsi yang nyata. Karakteristik distorsi dari lensa ini adalah membuat garis-garis vertikal di bagian tepi menjadi miring sehingga bila memotret bangunan akan tampak mengecil ke atas. Pada fokal 15mm distorsi mulai berkurang dan pada fokal 24mm hasilnya tampak lebih natural. Kami rasa fokal 24mm ini sudah bisa dimanfaatkan untuk memotret sesuatu yang tidak boleh terlalu distorsi, misalnya potret wajah atau still life.

Kami tidak membandingkan lensa ini dengan lensa sejenis dari Tamron, Sigma maupun Tokina. Tapi saat kami review lensa Tokina 11-16mm tahun lalu, kami rasakan kualitas bodi memang Tokina terasa lebih kokoh dan mantap, apalagi bukaan Tokina konstan dan besar dengan f/2.8 dari fokal 11-16mm. Namun lensa Tokina 11-16mm tidak dilengkapi motor fokus sehingga tidak bisa auto fokus di kamera Nikon D5100 ke bawah. Soal kualitas optik, tentu Nikon masih paling baik dengan ketajaman dan konsistensi hasil yang menawan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Memilih lensa sesuai ukuran sensor DSLR

Kamera DSLR yang biasa kita pakai umumnya memakai sensor ukuran APS-C atau yang lebih kecil dari sensor ukuran full frame 35mm. Sensor APS-C akan membawa dampak adanya crop factor terhadap lensa yang dipasang, sehingga rentang fokal lensa akan 1.5 kali lebih panjang.  Awalnya di era SLR film, setiap fokal lensa akan memberikan fokal aktual yang apa-adanya. Sebuah lensa 50mm akan memberikan perspektif dan sudut gambar yang memang seperti yang semestinya sebuah lensa 50mm. Dengan era digital yang menggunakan sensor APS-C, maka ada penyesuaian dimana setiap lensa yang dipasang akan mengalami koreksi 1.5x sehingga lensa 50mm akan jadi ekuivalen 85mm. Alhasil di APS-C, lensa wide tidak lagi terlalu wide, dan lensa tele akan jadi semakin tele.

crop factorMengapa bisa terjadi demikian, jawabannya sederhana, karena sensor APS-C ukurannya lebih kecil dari sensor full frame, sehingga bidang gambar yang dicakup juga lebih kecil. Untuk itu produsen lensa juga berpikir, kenapa tidak membuat lensa yang sesuai dengan sensor APS-C saja? Akhirnya saat ini sudah banyak diproduksi lensa khusus sensor APS-C, seperti lensa EF-S (Canon), lensa DX (Nikon) dan juga buatan produsen lensa lain seperti dari Tamron, Sigma atau Tokina. Lensa-lensa ini bentuknya lebih kecil, dengan diameter bidang gambar yang lebih kecil (disesuaikan dengan ukuran sensor) dan tidak cocok untuk dipasang di DSLR full frame.

Apakah kita harus selalu memilih lensa semacam ini? Tidak juga, tidak ada pantangan bagi pemilik DSLR APS-C untuk memakai lensa full frame, apalagi lensa full frame punya pilihan yang lebih banyak dan umumnya lensa profesional adalah lensa full frame. Baik lensa full frame maupun lensa khusus DSLR APS-C keduanya tetap dibuat dengan spesifikasi fokal lensa yang sesuai standar mengacu pada angle of view (sudut gambar yang dibentuk). Sebagai contoh, lensa Nikon DX 35mm meski dibuat khusus untuk Nikon APS-C, namun lensa ini tetaplah punya sudut yang ekivalen dengan lensa 35mm, walau nantinya akan mengalami crop sehingga sudut yang dibentuk akan setara dengan 52mm. Jadi yang menentukan hasil foto kita bukan fokal lensanya saja tapi sudut ekivalennya, dan itu tergantung dengan berapa crop factor atau ukuran sensornya.

angle_view

Kesalahan mendasar pemula dalam memilih lensa adalah dia mengabaikan crop factor, meski tidak fatal tapi bisa membawa kekecewaan. Seorang yang membeli lensa Canon 17-40mm bisa jadi akan kecewa saat memasang lensa ini di kamera EOS 60D, karena dia tidak akan pernah bisa merasakan fokal wide 17mm yang dibayangkannya, melainkan setara dengan lensa 28mm. Seorang yang membeli lensa 28-300mm bisa jadi akan terheran-heran saat kemampuan paling wide sebenarnya dari lensa ini adalah 42mm, bukannya 28mm (42mm bukan lagi tergolong wide).

crop-factor-sensor-size

Berikut kami sajikan beberapa fokal lensa favorit di era fotografi film, dan bagaimana efeknya bila terkena crop factor, dan lensa seperti apa yang perlu dibeli oleh pemilik DSLR APS-C untuk bisa memiliki fokal lensa yang sama seperti lensa tersebut :

1. Fix normal : lensa populer 50mm

Inilah lensa paling populer di kalangan fotografer dari jaman dulu. Sesuai namanya, lensa fix tidak bisa dizoom, namun keuntungannya bisa memiliki bukaan lensa amat besar. Lensa ini bila dipasang di kamera APS-C akan terkoreksi menjadi 75mm. Untuk itu bila ingin merasakan fokal 50mm, carilah lensa 30mm atau 35mm.

2. Wide zoom : lensa pemandangan 17-40mm (Canon), 16-35mm (Nikon) dsb

Inilah lensa wide kelas mewah yang jadi idaman pecinta fotografi wideangle. Lensa semacam ini umumnya dijual di atas 10 juta rupiah. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C maka fokalnya akan menjadi 26-60mm yang kurang begitu wide. Solusinya, carilah lensa wide untuk APS-C seperti 10-22mm (Canon), 10-24mm (Nikon), 10-20mm (Sigma) dsb.

3. Zoom normal 1 : lensa pro 24-70mm

Inilah lensa zoom normal paling disukai para fotogafer karena kemampuan widenya yang cukup dan telenya yang lumayan. Bila lensa ini dipasang di DSLR APS-C akan menjadi 36-105mm yang sudah tidak wide lagi. Untuk bisa merasakan fokal 24-70mm, pemakai DSLR APS-C semestinya membeli lensa 17-55mm (Canon-Nikon), 17-50mm (Tamron-Sigma).

4. Zoom normal 2 : lensa ekonomis 28-80mm (Canon), 28-70mm (Nikon)

Pilihan lain lensa zoom normal khususnya di jaman dulu adalah 28-80mm yang akan jadi tanggung bila dipasang di DSLR APS-C, karena fokalnya akan menjadi 42-120mm yang tidak umum. Saat ini bila anda punya DSLR pemula dengan lensa kit 18-55mm, inilah lensa masa kini yang fokalnya bisa dibilang menyamai lensa 28-80mm di jaman dulu. Opsi lain ada juga lensa 16-70mm atau 17-70mm.

5. Super zoom / all round : lensa sapu jagat 28-200 atau 28-300mm

Dulu pun sudah dikenal lensa sapu jagat yang bisa menjangkau fokal wide 28mm sampai tele 200mm bahkan super tele 300mm seperti lensa 28-200mm dan 28-300mm. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C, lagi-lagi posisi wide 28mm akan jadi tanggung karena terkena crop factor ke 42mm. Bila anda suka akan rentang lensa sangat panjang, belilah lensa 18-135mm atau 18-200mm untuk kamera DSLR APS-C anda.

6. Tele zoom 1 : lensa pro 70-200mm

Inilah lensa tele zoom kelas profesional yang biasa disebut dengan lensa termos (karena besarnya) dan harganya sekitar 20 juta. Bila anda iseng membeli lensa ini di kamera DSLR APS-C, anda akan mendapat keuntungan yaitu mendapat jangkauan tele yang lebih panjang yaitu menjadi 100-300mm. Tapi bila anda punya DSLR APS-C dan memang menginginkan lensa dengan fokal persis 70-200mm, anda bisa membeli lensa seperti Tokina 50-135mm atau Sigma 50-150mm.

7. Tele zoom 2: lensa ekonomis 70-300mm

Inilah lensa tele paling populer di kalangan pemula dan hobi fotografi, karena murah dan telenya lumayan panjang. Bila lensa ini dipakai di DSLR APS-C, keuntungannya adalah fokal lensa efektif menjadi sangat panjang yaitu 100-450mm. Maka itu lensa ini sangat disukai oleh baik pemilik DSLR full frame maupun DSLR APS-C. Namun bila anda pemilik DSLR APS-C merasa ingin memiliki lensa dengan fokal efektif 70-300mm, maka anda cukup membeli lensa tele murah meriah seperti 55-200mm.

Sebagai rangkuman, berikut tabel konversi crop factor untuk beberapa fokal umum, dimana Nikon, Fuji, Sony dan Samsung itu perkaliannya 1,5 sedangkan Canon itu 1,6 kali.

Fokal lensa

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon Coolpix P300, kamera mungil dengan lensa f/1.8

Kamera saku dengan lensa yang punya bukaan besar tergolong jarang, kalaupun ada harganya sangat mahal. Hal ini karena biaya produksi lensa bukaan besar lebih tinggi dari lensa pada umumnya. Tercatat sudah ada beberapa merk yang lebih dahulu membuat kamera semacam ini, sebutlah misalnya Lumix LX-5, Canon S95, Samsung TL500 dan Olympus XZ-1. Sadar kalau agak terlambat, Nikon akhirnya memutuskan bergabung di kancah ini dengan meluncurkan kamera Coolpix P300 dengan lensa f/1.8 yang mengesankan. Simak ulasan kami selengkapnya.

p300_a

Sebagai pembuka, inilah spesifikasi dasar dari Nikon Coolpix P300 :

  • sensor CMOS resolusi 12 MP ukuran 1/2.3″
  • teknologi back-illuminated sensor
  • prosesor Expeed C2
  • ISO 3200, burst 7 fps
  • lensa Nikkor 24 – 100 mm f/1.8-4.9 (4,2x  zoom optik)
  • VR Optical
  • LCD 3 inci, resolusi 920 ribu piksel
  • Manual mode lengkap, tapi tanpa RAW
  • HD 1920 x 1080 (30 fps),suara stereo, bisa zoom optik saat merekam video
  • HDMI output

p300_b

Dilihat dari bentuknya, P300 tampil manis dengan bahan logam dan ukurannya cukup kecil dengan ergonomi dan tata letak tombol yang baik. Ada dua kendali manual di kamera ini, yaitu satu di bagian atas (berbentuk putaran dekat tombol shutter) dan satu lagi di belakang berbentuk roda yang mengelilingi tombol OK. Tidak ada ring di lensa layaknya Canon S95 ataupun Olympus XZ-1 disini. Lampu kilat tampil tersembunyi dan akan menonjol keluar bila dibutuhkan. Terdapat tombol langsung untuk merekam video di bagian belakang.

p300_c

Tentang lensa cepat / bukaan besar

Kita tinjau dulu dari kebutuhan lensa bukaan besar dalam fotografi. Prinsipnya setiap lensa punya diafragma yang punya diameter tertentu, bisa dibuat lebih besar (untuk memasukkan lebih banyak cahaya) atau dibuat mengecil. Tentunya ada nilai bukaan maksimal (dan minimal) untuk setiap lensa, dan ini dinyatakan dalam f-numberLensa yang punya bukaan besar biasa disebut lensa cepat, artinya bisa memakai kecepatan shutter tinggi. Umumnya bukaan maksimal lensa di pasaran berkisar antara f/2.8 hingga f/3.5 dimana f/2.8 punya bukaan yang lebih besar daripada f/3.5. Nah, kedua kamera ini punya lensa dengan bukaan f/2.0 yang secara teknis artinya sanggup memasukkan cahaya 2x lebih banyak daripada f/2.8. Jadi lensa f/2.0 identik dengan lensa cepat, berguna saat ingin memakai kecepatan shutter tinggi atau saat memotret di tempat low light (yang pastinya kecepatan shutter akan turun dengan drastis).

Peta persaingan

Hasrat memproduksi kamera saku yang bisa diandalkan di daerah low light bisa diwujudkan dengan dua hal, pertama mendesain lensa bukaan besar dan memakai sensor yang lebih besar dengan resolusi yang tidak terlalu tinggi. Nikon P300 ini hadir dengan lensa 24-100 mm f/1.8-4.9 yang memang tampil mengesankan dalam rentang fokal (terutama kemampuan wide 24mm) serta bukaan yang besar (f/1.8 di posisi wide) namun agak mengecewakan saat tele dengan bukaan hanya f/4.9 saja. Mengherankan saat hadir belakangan, Nikon justru tidak mencontoh pesaing dengan lensa yang lebih baik (Lumix LX-5 itu f/2.0-3.3 dan Olympus XZ-1 itu f/1.8-2.5) namun tampaknya hanya ingin bersaing dengan Canon S95 yang lensanya f/2.0-4.9 saja.

Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1
Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1

Bila dalam urusan lensa memang Nikon P300 tampil sekelas, bahkan lebih baik dari Canon S95. Namun dalam ukuran sensor, P300 ini justru mengecewakan dengan memakai sensor kecil dengan resolusi tinggi. Untuk bisa diandalkan di low light, produsen lain membuat kamera dengan sensor agak besar dengan ukuran 1/1.6 inci, sedangkan P300 justru memilih sensor ukuran 1/2.3 inci yang lebih rentan noise di ISO tinggi. Hal ini semakin runyam saat Nikon justru mencoba memakai resolusi 12 MP padahal pesaing sudah menemukan titik rasio ideal antara ukuran sensor dan resolusi, yaitu 10 MP untuk sensor 1/1.6 inci.

Jadi Nikon Coolpix P300 memang tampaknya bukan untuk menyaingi rajanya lensa cepat seperti Lumix LX5 atau Olympus XZ-1. Bahkan untuk bisa menandingi Canon S95  juga berat karena Canon punya sederet keistimewaan seperti sensor lebih besar, ring di lensa dan adanya file RAW format. Jadilah P300 ini serba tanggung, hasrat ingin tampil sekelas dengan pesaingnya namun ditinjau dari isinya ternyata tak berbeda dengan kamera saku biasa. Bisa dibilang P300 justru mirip dengan Canon Ixus 300HS yang lensanya 28-105 mm f/2.0-5.3 dan sensor ukuran 1/2.3 inci. Lebih uniknya lagi, harga jual Nikon P300 memang dipatok dikisaran 3 jutaan saja, jauh lebih murah dari Canon S95 apalagi Lumix LX5 dan Olympus XZ-1. Jangan-jangan Nikon sengaja menyasar segmen pembeli yang ingin punya kamera seperti Canon S95 namun dengan harga yang lebih murah. Mungkin di kesempatan lain Nikon akan membuat Coolpix lain dengan lensa cepat di posisi wide maupun tele, sensor lebih besar dan fitur lebih lengkap sehingga benar-benar bisa bersaing dengan pemain besar lainnya.

Sebagai kesimpulan, inilah plus minus Nikon P300 :

Plus :

  • fokal lensa bermula di 24mm f/1.8
  • full HD movie, stereo
  • layar LCD tajam dan detail
  • punya dua kendali putar
  • burst cepat
  • harga cukup terjangkau

Minus (dibanding kamera lensa cepat lainnya) :

  • bukaan lensa kecil saat tele (f/4.9)
  • sensor 35% lebih kecil
  • resolusi 12 MP terlalu tinggi untuk mendapat foto rendah noise
  • tidak ada RAW file
  • tidak ada flash hot shoe
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..