Fokal lensa, Picture angle dan Perspektif

Perhatikan saat memakai lensa zoom, betapa banyaknya orang yang tidak peduli pada berapa fokal lensa yang sedang dipakainya. Dia hanya memakai lensa pada posisi paling wide, lalu bila dirasa kurang dekat dia melakukan zooming sehingga obyek tampak mendekat. Jangan heran kalau foto yang dihasilkan oleh orang semacam ini juga biasa-biasa saja, bahkan bisa nampak tidak alami karena distorsi lensa. Jangan-jangan kita juga seperti itu, bahkan kita belum mengetahui apa kaitan antara fokal lensa, bidang gambar dan persepektif? Jangan kuatir, artikel ini mencoba menjelaskannya untuk anda.

Fokal lensa

Sudah menjadi hal yang umum apabila sebuah kamera memiliki lensa zoom yang panjang fokalnya bisa berubah-ubah.  Fokal lensa sendiri berhubungan langsung dengan picture angle (sudut gambar) dimana fokal yang pendek biasa disebut dengan wideangle, sehingga biasa disebut lensa wide, sedang fokal panjang biasa disebut telephoto, sehingga biasa disebut lensa tele. Kita tahu kalau keuntungan dari lensa wide adalah kemampuan membuat foto dengan bidang gambar yang lebar, terkesan luas dan punya sudut gambar yang besar, sedang lensa tele punya keuntungan akibat sudut gambarnya yang sempit sehingga bisa mengambil foto yang berada jauh menjadi  tampak dekat.

Selain lensa zoom, kita mungkin pernah mencoba lensa fix atau lensa dengan fokal yang tetap. Banyak lensa fix yang cukup populer semisal lensa 50mm, atau lensa fix yang wide seperti 28mm, atau lensa fix yang tele seperti 105mm. Lensa fix punya keuntungan dalam kualitas optik, biaya produksi yang lebih murah serta ukuran yang lebih kecil. Tapi memotret memakai lensa fix agak lebih repot dibanding memakai lensa zoom karena kita hanya punya satu picture angle yang tetap. Bila obyek yang akan difoto terlalu dekat maka kitalah yang harus mundur, bila obyek yang difoto masih tampak terlalu jauh maka kita harus melangkah mendekati obyek.

Picture angle

angle_of_view

Picture angle atau sudut gambar hanyalah istilah yang mewakili luasnya area bidang yang bisa diambil oleh kamera atau lensa. Semakin luas bidang gambar maka semakin lebar sudut gambarnya. Lensa wide akan menghasilkan gambar dengan sudut lebar. Sebaliknya semakin sempit bidang gambar maka semakin sempit sudut gambarnya. Sudut sendiri seperti biasa dinyatakan dalam derajat.

Sebuah lensa zoom, misal 28-105mm, dengan mudah kita mengatakan kalau lensa ini mampu dipakai untuk mengambil foto dengan fokal wide 28mm hingga tele 105mm. Namun kita juga bisa mengatakan kalau lensa ini memiliki sudut gambar yang bisa dirubah mulai dari sudut lebar (sekitar 65 derajat) hingga sudut yang sempit (sekitar 19 derajat). Memiliki satu lensa zoom seperti ini dirasa praktis dan mampu menggantikan beberapa lensa fix seperti 28mm, 35mm, 50mm, 85mm dan 105mm. Inilah alasan mengapa lensa zoom begitu populer, meski secara kualitas optik masih kalah dibanding dengan lensa fix.

Perspektif

Kalau anda serius ingin mendalami fotografi, memahami lensa dari sisi fokal dan picture angle saja masih kurang lengkap. Ada satu dampak nyata dalam fotografi terkait fokal lensa yaitu perspektif (dan efek sampingnya yang dinamakan distorsi). Perspektif adalah bagaimana kesan yang dihasilkan oleh obyek dan latar relatif terhadap jaraknya ke kamera. Inilah yang sering diabaikan, dilupakan bahkan tidak diketahui sebagian dari kita dalam memakai lensa zoom (pemakai lensa fix biasanya sudah mengerti soal perspektif).

focal_lengthCoba perhatikan gambar di sebelah kanan. Ketiga foto ini nampak sama, ada botol merah sebagai obyek utama, ada botol biru sebagai latar dan sepintas komposisinya nampak hampir sama. Lalu apa  yang membedakan ketiga foto disebelah ini? Fokal lensanya? Betul. Foto yang atas diambil memakai fokal 18mm, yang tengah memakai 34mm dan yang bawah 55mm. Tapi ada satu perbedaan utama yang nampak sebagai akibat dari pemakaian fokal yang berbeda itu, jawabannya adalah perspektif.

Apakah anda menyadari kalau ketiga foto disebelah ini diambil dengan jarak yang berbeda antara obyek terhadap kamera? Foto pertama memaksa kamera untuk berada sangat dekat dengan obyek, foto kedua membuat kamera bergeser agak mundur menjauhi obyek dan foto ketiga adalah foto dimana obyek dan kamera berada di jarak yang terjauh. Ketiganya memberikan perspektif yang berbeda.

Perhatikan, dengan memakai 18mm maka obyek akan relatif nampak lebih besar dari latar (botol biru nampak sangat kecil) sehingga bisa memicu kesalahpahaman akan kenyataan sebenarnya. Lagipula dengan memakai lensa lebar akan menghasilkan distorsi (lihat botol merah tampak miring). Dengan fokal 34mm mulai didapat perspektif yang lebih baik dan distorsi yang semakin kecil. Pada fokal 55mm didapatlah perspektif yang alami dan tanpa distorsi. Inilah mengapa lensa fix 50mm atau 55mm begitu populer, karena memiliki perspektif normal dan tanpa distorsi.

Jadi intinya adalah, lensa zoom dibuat untuk kemudahan kita dalam berganti sudut gambar, guna mendapatkan perspektif yang sesuai keinginan kita. Lensa zoom bukan untuk membuat orang malas bergerak sehingga lebih suka memakai zoom untuk mendekatkan yang jauh saja. Sebelum memotret, pikirkan dulu obyek apa yang akan kita foto (pemandangan, human interest atau benda yang jauh) lalu tentukan fokal berapa yang akan kita pakai, dan antisipasilah perspektif yang akan terbentuk nantinya. Jangan segan untuk maju mundur untuk bereksplorasi dengan perspektif, anda bisa memotret orang dengan jarak dekat memakai fokal yang wide untuk mendapat perspektif yang unik atau bisa saja memotret orang dari jarak jauh dengan fokal tele untuk mendapat perspektif normal, terserah anda. Satu lagi contoh mengenai berbagai fokal lensa dan perspektif yang dihasilkan :

perspektif




Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix LX5 resmi diluncurkan (plus empat Lumix baru lainnya)

Panasonic resmi meluncurkan produk Lumix LX5, sang penerus LX3 yang lama dinantikan kelanjutannya. LX3 sendiri adalah kamera saku kelas serius yang sangat populer dan sudah banyak mendapat penghargaan. Kini Lumix LX5 hadir dengan lensa Leica yang rentang fokalnya sedikit lebih panjang yaitu 24-90mm f/2.0-3.3 atau 3.8x zoom optik. Masih menjaga desain retro yang elegan, Lumix LX5 tersedia dalam warna hitam dan silver. Selain dari lensa, hampir tidak banyak perbedaan berarti antara LX5 dan pendahulunya.

lx5

lx5b

lx5c

Lumix LX5 memiliki spesifikasi sebagai berikut :

  • sensor CCD berukuran 1/1.63 inci dengan resolusi 10 MP
  • Leica DC-Vario-Summicron 24-90mm f/2.0-3.3
  • ISO 80-1600
  • full manual P/A/S/M
  • aspek rasio yang bisa diganti secara manual
  • layar TFT LCD diagonal 3 inci, resolusi 460ribu piksel (backlight LED)
  • 720p HD movie (AVCHD lite)
  • Face Recognition and Detection
  • Flash hot shoe
  • Venus Engine FHD image processor
  • POWER Optical Image Stabilization (O.I.S.)
  • SD/SDHC/SDXC card slot
  • A/V, USB 2.0, HDMI outputs

Hadir bersamaan dengan Lumix LX5 ini adalah :

Lumix FZ100 (penerus FZ50 namun tanpa zoom mekanik)

fz100

Lumix FZ40 (penerus FZ35)

fz40

Lumix FX700

fx700

Lumix TS10 (tahan air)

ts10

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa wide cepat baru dari Tokina 16-28mm f/2.8

Seperti yang sudah diumumkan pada ajang PMA 2010, Tokina akhirnya meluncurkan satu lensa wide kelas profesional yaitu AT-X 16-28 f/2.8 PRO FX. Lensa seharga 14 juta ini dibuat dengan dua macam mount yaitu untuk Canon dan Nikon, dan tentunya sudah bisa digunakan di DSLR full frame. Lensa bukaan cepat dengan aperture konstan f/2.8 ini berukuran cukup besar, tahan cuaca berkat seal khusus, namun tidak mendukung pemasangan filter apapun.

Tokina 16-28mm f/2.8
Tokina 16-28mm f/2.8

Satu hal yang paling menarik dari kehadiran lensa ini adalah diperkenalkannya teknologi motor fokus di dalam lensa yang diberi nama SD-M (Silent Drive – Module). Artinya, terdapat motor auto fokus pada lensa Tokina ini dan mungkin di lensa Tokina lainnya di masa depan. Pemilik Nikon D40-D5000 tentu antusias akan kabar ini setelah produsen lensa lainnya, Sigma sudah bertahun-tahun lalu memperkenalkan motor fokus berkode HSM (Hyper Sonic Motor) pada beberapa produknya.

Pemilik kamera DSLR sensor crop atau APS-C lebih baik tetap memilih lensa Tokina 11-16mm f/2.8 untuk urusan fotografi wideangle-nya, karena selain dijual dengan harga setengah dari Tokina 16-28mm f/2.8 juga karena lensa 16-28mm ini akan punya fokal yang agak tanggung bila mengalami crop factor sensor APS-C yaitu setara dengan 24-42mm yang meski masih punya rentang fokal yang efektif namun sudah tidak terlalu wide lagi. Tokina 16-28mm f/2.8 ini bagi pemilik DSLR full frame bisa jadi alternatif lebih terjangkau daripada lensa profesional sekelas Nikon 14-24mm f/2.8 misalnya, atau bagi pemilik DSLR APS-C juga bisa jadi alternatif lebih cepat daripada lensa 16-35mm f/4 misalnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix FX75 : lensa cepat dan lebar, plus layar sentuh

Satu lagi kamera saku baru dari Panasonic yang bernama Lumix DMC-FX75 dengan resolusi sensor 14 MP. Seri FX sendiri merupakan seri klasik dari kamera saku Lumix yang terus berkembang dan tetap dipertahankan meski kini Panasonic sudah membuat banyak varian kamera saku seperti seri TZ, seri FS, seri FH dan seri LS. Disaat tren saat ini bergeser ke arah lensa ultra wide dan ekstra besar (dalam hal bukaan diafragma) maka Lumix satu ini juga tak ketinggalan dalam mengikuti tren tersebut. Jadilah kamera saku ini memiliki lensa bukaan f/2.2 dengan rentang fokal 24-120mm (5x zoom) yang didesain secara cermat oleh Leica.

lumix-fx75

Banyak perbedaan yang bisa didapat dengan lensa ultra wide 24mm apalagi yang mampu membuka hingga f/2.2 seperti Lumix FX75 ini. Pertama tentunya adalah perspektif dan picture angle yang lebar sebagai hasil dari lensa wide 24mm, dan kedua adalah kemampuan untuk memakai shutter yang lebih cepat dengan bukaan besar f/2.2. Sayangnya saat di posisi tele bukaan maksimum lensa di Lumix ini cuma mampu mencapai f/5.9 saja. Untuk membantu menghindari getaran tangan saat memotret, Lumix FX75 juga sudah dilengkapi dengan sistem stabilizer Power OIS yang diklaim lebih efektif daripada sistem Mega-OIS lama. Layar pada Lumix FX75 sudah memakai sistem touch screen dengan ukuran LCD 3 inci yang lega. Tapi sebagai konsekuensinya, deretan tombol di bagian kanan belakang kamera jadi dibuat minimalis bahkan tidak ada lagi tombol 4-arah seperti pada kebanyakan kamera digital.

Kamera ini juga mampu merekam HD video 720p 30 fps yang memakai kompresi AVCHD lite. Kabar baiknya, pemakaian optical zoom saat merekam video dimungkinkan. Kamera yang tidak dilengkapi kendali manual ini memang ditujukan untuk pemakaian sehari-hari dengan hanya mengandalkan mode Intelligent Auto (iA). Seperti biasa, Lumix seri FX selalu memakai baterai jenis Lithium sehingga membuat kamera seri ini berukuran tipis. Belum ada kabar soal harga jualnya, prediksi kami akan dijual di kisaran 2,5 sampai 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Lensa Tokina 11-16mm f/2.8 AT-X

Kali ini kami sajikan review lensa Tokina yang populer di kalangan fotografer yaitu Tokina SD 11-16mm f/2.8 (IF) DX AT-X. Dari rentang fokalnya kita bisa simpulkan kalau lensa ini termasuk ke dalam kelas lensa ultra wideangle dimana fokalnya bermula dari 11mm dan berakhir di 16mm. Simak bagaimana kesan kami terhadap lensa ini, beserta hasil pengujian yang kami lakukan lengkap dengan contoh fotonya.

tokina-d40a

Ditinjau dari segi harga, Tokina 11-16mm ini tergolong sangat terjangkau untuk ukuran lensa wide. Dengan kisaran harga 6,5 juta lensa ini jauh lebih murah bila dibanding lensa wide dari Canon ataupun Nikon. Selain itu, lensa ini juga dikagumi karena memiliki bukaan aperture konstan f/2.8 yang besar dan bisa diandalkan di saat dipakai di tempat kurang cahaya. Lensa ini juga memiliki rancang bangun yang solid, dengan mount logam yang kokoh, bodi yang tidak terkesan murahan serta adanya distance scale window yang sangat bermanfaat. Dalam paket penjualannya disediakan sebuah lens hood untuk mencegah flare akibat sinar dari samping yang masuk ke lensa.

Lensa, hood dan box
Lensa, hood dan box

Berikut spesifikasi lensa Tokina 11-16mm f/2.8 :

  • rentang fokal : 11-16mm (setara dengan 16-24mm pada sensor APS-C)
  • bukaan maksimal : f/2.8 (pada seluruh panjang fokal)
  • bukaan minimaal : f/22
  • jumlah blade diafragma : 9 blade
  • optik : 13 elemen dalam 11 grup
  • fokus terdekat : 30 cm (1 : 11.6 rasio reproduksi maksimum)
  • diameter filter : 77 mm

Adapun arti dari kode-kode pada lensa Tokina 11-16mm ini diantaranya :

  • AT-X : Advanced Technology – Extra (lensa terbaik dari Tokina)
  • SD : elemen lensa Super Low Dispersion untuk ketajaman ekstra
  • IF : Internal Focusing, elemen lensa fokus yang berputar di dalam
  • DX : didesain untuk sensor APS-C, tidak untuk DSLR full frame

Lensa Tokina 11-16mm memiliki rancang bangun dan material bodi yang baik, jauh dari kesan murahan. Putaran zoom terasa mantap meski hanya sedikit (karena rentang 11-16mm cukup pendek). Tidak ada bagian lensa yang bergerak maju mundur saat lensa di zoom. Ada satu hal yang unik dari beberapa lensa Tokina (termasuk lensa ini), yaitu bila pada umumnya selektor auto fokus di lensa lain memakai tuas, di lensa ini justru dengan menggeser ring manual fokus pada bagian depan lensa. Artinya bila ingin beralih dari auto fokus ke manual fokus, cukup geser ring manual fokus ke arah dalam. Praktis dan cepat, tak perlu lagi mencari letak tuas dan menggesernya. Lensa ini terasa berat, lebih dari setengah kilogram, salah satunya karena digunakannya mount berbahan logam yang lebih berat dari plastik.

tokina-scale

Posisi fokal lensa Tokina ini bermula di 11mm (atau setara dengan 16mm) dan berakhir di 16mm (atau setara dengan 24mm). Memang bukan rentang yang panjang untuk sebuah lensa zoom, perbedaan hasil foto antara zoom out hingga zoom in pun tak begitu terasa. Bila ingin memakai manual fokus di lensa ini amat mudah, karena sudah tersedia indikator jarak fokus di lensanya. Lensa ini bisa diset manual fokus mulai jarak 30cm hingga infinity, akan lebih mudah bila di kamera terdapat indikator fokus (berupa lampu hijau yang menyala saat didapat fokus terbaik).

Dari pengujian yang kami lakukan terhadap lensa ini, tampak kalau hasil foto memiliki ketajaman yang amat baik, bahkan saat memakai bukaan maksimal f/2.8. Warna dan kontras tampak natural serta distorsi optik (cembung) dapat terjaga dengan baik, dalam arti garis tegas masih tetap dijaga supaya lurus. Karena lensa wide memiliki angle of view yang lebar, maka perspektif yang dihasilkan juga berbeda dengan lensa standar. Seperti lensa wide pada umumnya, obyek yang berada dekat dengan lensa akan mengalami  distorsi secara perspektif sehingga tampak miring. Oleh karenanya lensa wide memang tidak untuk dipakai foto potret wajah.

Indoor shot
Indoor shot

Performa bokeh atau out of focus dari lensa ini tergolong standar. Pemakaian lensa wide memang cenderung lebih ke DOF lebar untuk arsitektur maupun landscape. Namun berhubung lensa ini punya bukaan besar f/2.8 maka kami pun mencoba bagaimana bokeh yang bisa dihasilkan lensa ini pada bukaan terbesarnya.

Bokeh pada f/2.8
Bokeh pada f/2.8

Zoom wide
Zoom wide

Zoom in
Zoom in

Salah satu masalah umum lensa adalah purple fringing yang muncul di area dengan kontras tinggi. Lensa Tokina inipun tak lepas dari masalah fringing seperti tampak pada contoh di bawah ini.

Purple Fringing
Purple Fringing

Kesimpulannya, lensa Tokina 11-16mm f/2.8 ini merupakan lensa alternatif yang sanggup bersaing dengan lensa merk Canon atau Nikon. Build quality yang diatas rata-rata, performa optik yang amat baik, bukaan konstan f/2.8 yang membuatnya bisa diandalkan saat low light, serta harganya yang terjangkau membuat lensa ini jadi favorit para fotografer landscape dan interior.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panduan memilih lensa DSLR

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fix
Pentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wide
Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normal
Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Adalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang dianggap memenuhi kebutuhan wide hingga tele biasa. Lensa semacam ini mampu mengakomodir rentang fokal normal di kisaran 50mm sehingga mampu  menghasilkan foto yang rendah distorsi, dan menghasilkan persepektif yang sama seperti apa yang dilihat oleh mata manusia. Lensa zoom normal akan semakin mahal bila memiliki bukaan besar apalagi bila punya bukaan konstan f/2.8 yang tergolong kelas profesi0nal.

Contoh lensa zoom normal kelas mahal :

  • Lensa 24-70mm f/2.8
  • Lensa 17-55mm f/2.8

Sedangkan lensa zoom normal ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 17-85mm f/4-5.6
  • Nikon AF-S 16-85 f/3.5-5.6
  • Pentax DA 17-70mm f/4
  • Sony SAL DT 18-70mm f/3.5-5.6
  • Olympus Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 17-70mm f/2.8-4

Lensa zoom tele

tele2-8
Nikon AF-S 70-200mm f/2.8 VR

Lensa zoom tele menjadi salah satu lensa yang favorit banyak orang karena kemampuannya untuk dipakai memotret obyek yang jauh, ditambah lagi harganya yang cukup terjangkau. Belum lagi lensa tele mampu menghasilkan foto dengan bokeh yang baik (DOF tipis), bisa dibilang hampir menyamai hasil yang didapat dengan memakai lensa prime.

Namun perlu diingat kalau lensa zoom tele berkisar di fokal tele diatas 100mm, sehingga rentan goyang akibat getaran tangan. Untuk itu para profesional lebih memilih lensa tele bukaan besar dan ditambah fitur stabilizer, sehingga lensa tele masih bisa dipakai di saat kondisi kurang cahaya.

Lensa zoom tele terbagi dua kelompok, yaitu kelompok profesional dan kelompok biasa.

Untuk zoom tele profesional diantaranya :

  • Canon EF 70-200mm f/2.8
  • Nikon AF-S 70-200mm f/2.8  (gambar di atas)
  • Pentax DA 60-250mm f/4
  • Sony SAL 70-200mm f/2.8
  • Olympus Zuiko 90-250mm f/2.8
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 70-200mm f/2.8
tele
Sigma 70-300mm f/4-5.6

Untuk zoom tele biasa, umumnya terdapat pilihan 70-300mm (gambar di atas) yang fokal telenya cukup panjang dan 55-250mm (gambar di bawah) yang lebih ekonomis. Perhatikan kalau lensa tele ekonomis punya variabel aperture (misalnya f/4-5.6), sehingga bukaannya akan semakin mengecil saat lensa di-zoom maksimal. Maka itu lensa tele semacam ini dihindari oleh para profesional karena sulit diandalkan di saat perlu speed tinggi.

tele2
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6

Meski demikian, lensa tele ekonomis seperti ini laris manis karena harganya murah dan hasil fotonya di tempat yang cukup cahaya masih sangat baik. Jadilah lensa semacam ini menjadi lensa favorit untuk kebutuhan harian dan untuk sekedar hobi.

Lensa zoom all-round  / super zoom / sapu jagad

tamron_18-270
Tamron 18-270mm f/3.5-5.6 VC

Adalah istilah untuk lensa zoom dengan kemampuan mencover rentang wide hingga tele yang ekstrim, hingga lensa ini mampu menggantikan beberapa macam lensa sehingga praktis dipakai kemana saja. Umumnya lensa ini memiliki rentang fokal 18-200mm, meski ada juga yang bisa mencapai 18-270mm (lihat gambar di atas). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih lensa jenis ini :

  • Lensa ini praktis namun tergolong mahal
  • Lensa ini hanya tersedia untuk jenis variable aperture saja
  • Kemampuan optik dari lensa ini tergolong pas-pasan (karena banyaknya elemen optik di dalamnya)
  • Usahakan memilih lensa jenis ini yang dilengkapi dengan fitur stabilizer optik

Itulah panduan memilih lensa DSLR yang kami sajikan. Untuk diskusi dan pertanyaan bisa disampaikan melalui forum yang ada atau lewat komentar di bawah ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera Sigma dengan sensor Foveon kembali hadir

Di ajang Photo Marketing Association (PMA) 2010 kali ini, kejutan besar justru datang dari Sigma. Selain merilis banyak lensa baru atau menyempurnakan lensa lama, Sigma juga menghadirkan tiga kamera bersensor Foveon. Sensor Foveon memiliki karakteristik khas dengan tiga lapis filter warna RGB yang menjamin keindahan warna seperti aslinya. Ketiga kamera itu adalah Sigma SD15 (DSLR), Sigma DP2s dan Sigma DP1x (kamera saku). Ingin tahu seperti apa ketiganya? Kami ulas semuanya untuk anda.

Sensor Foveon X3 adalah sensor dengan tiga lapis filter warna berjenis CMOS dengan ukuran yang sama seperti sensor DSLR APS-C, sehingga crop factor yang dihasilkan juga sama. Sensor Foveon X3 ini memiliki resolusi 14 MP total, artinya resolusi ini adalah penggabungan dari 3 layer warna RGB yang ditumpuk, sehingga resolusi aktual foto sesungguhnya adalah 2652 x 1768 piksel (atau kurang dari 5 MP). Karena di tiap pikselnya sensor ini memiliki filter RGB tersendiri, maka tidak dikenal interpolasi warna yang selama ini dijumpai di sensor konvensional. Hasilnya, warna mampu direproduksi seindah aslinya, tidak pucat karena teknik interpolasi. Apalagi dengan memakai format RAW, menghasilkan foto dengan warna warni indah bisa diwujudkan lebih mudah lagi.

Ketiga kamera Sigma baru ini merupakan penerus dari seri sebelumnya, kini dengan memakai layar LCD berukuran 3 inci yang sedang jadi tren di tahun ini. Inilah ketiga kamera Sigma baru di tahun 2010 :

Sigma SD15

sigma-sd15

Kamera DSLR yang diperkenalkan tahun 2008 ini akhirnya siap untuk diproduksi masal tahun ini. Berbekal sensor Foveon X3 14 MP, kamera ini siap bersaing dengan merk lain dengan sederet fitur menawan. Sejak tahun 2002, Sigma telah meluncurkan beberapa produk DSLR seri SD seperti SD9, SD 10 dan SD14. Kamera dengan mounting lensa Sigma SA ini memang cuma punya 5 titik AF, tapi kalau ditinjau dari fitur lainnya sudah tergolong lumayan, seperti sensor metering dengan 77 segmen dan finder berjenis prisma. Untuk adu spesifikasi dengan merk lain mungkin Sigma SD15 ini masih kalah, tapi inilah kamera DSLR satu-satunya dengan sensor Foveon yang ada di pasaran.

Sigma DP2s

sigma-dp2s

Kamera saku yang lensanya tidak bisa di-zoom ini mungkin tidak membuat kebanyakan orang tertarik. Desainnya yang kotak berwarna hitam dengan lensa fix 24mm memang tidak akan mencatat rekor dalam penjualan. Tapi secara esensi, kamera ini menjadi idaman para profesional yang mencari kualitas hasil foto terbaik yang bisa diberikan oleh sebuah kamera saku. Dibalik ukurannya yang kecil, tersimpan sensor Foveon X3 14 MP yang sama seperti yang dipakai Sigma SD15. Karena sensor ini berukuran setara dengan sensor DLSR APS-C, maka lensa fix 24mm di kamera ini akan setara dengan fokal 41mm dengan bukaan f/2.8 yang cepat, sehingga cocok untuk dipakai foto potret atau low light. Tersedia RAW file format dan flash hot shoe untuk mendukung kerja para profesional. Urusan kecepatan fokus yang jadi kekurangan Sigma DP2 sudah disempurnakan di Sigma DP2s ini.

Sigma DP1x

sigma-dp1x

Kamera ini merupakan penerus Sigma DP1s yang lensanya juga fix, hanya berbeda di fokal lensa saja dengan DP2. Bila DP2 memakai lensa 24mm yang setara dengan 41mm, disini digunakan lensa yang lebih wide yaitu 16mm (setara 28mm) namun bukaan maksimalnya lebih kecil yaitu f/4. Sigma DP1x juga memakai sensor Foveon X3 14 MP berukuran APS-C, RAW dan flash hot shoe serta ditunjang dengan kinerja auto fokus yang telah disempurnakan. Kamera ini cocok untuk dipakai untuk para profesional saat memotret landscape dan interior, namun lensanya yang hanya bisa membuka di f/4 kurang cocok dipakai untuk urusan kecepatan tinggi, apalagi tidak tersedia fitur stabilizer pada kamera Sigma DP apapun.

Contoh hasil foto Sig,aa DP2 dengan sensor Foveon
Contoh hasil foto Sigma DP2 dengan sensor Foveon

Lensa Sigma

Selain meluncurkan tiga kamera, di ajang PMA 2010 Sigma juga meluncurkan banyak lensa baru dengan mount Nikon, Canon, Pentax, Sony dan Sigma, yaitu :

Lensa untuk DSLR Full Frame (berkode DG) :

  • Sigma APO 70-200mm f/2.8 EX DG OS HSM (lensa tele profesional cepat kini dengan stabilizer OS)
  • Sigma APO 50-500mm f/4.5-6.3 DG OS HSM (lensa super tele juga kini dilengkapi OS)
  • Sigma 85mm f/1.4 EX DG HSM (lensa prime kelas elit)

Lensa untuk DSLR crop / APS-C (berkode DC) :

  • Sigma 8-16mm f/4.5-5.6 DC HSM (lensa paling wide yang pernah ada untuk APS-C)
  • Sigma 17-50mm f/2.8 EX DC OS HSM (lensa profesional normal untuk APS-C, kini dengan OS)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Perbaiki distorsi dan perspektif dengan Photoshop CS2

Salah satu kemudahan dalam fotografi digital adalah kebebasan untuk mengolah foto secara digital memakai software semacam Photoshop. Adakalanya kita menemukan hasil foto yang kurang memuaskan dan perlu dilakukan perbaikan minor, entah karena akibat distorsi lensa ataupun karena teknik pengambilan yang kurang pas. Kali ini kami tunjukkan bagaimana memperbaiki foto yang mengalami distorsi sekaligus mengembalikan perspektif yang tepat memakai software Photoshop CS2.

Distorsi dalam fotografi diakibatkan oleh kelengkungan lensa khususnya lensa zoom. Dua macam distorsi yang ditemui adalah :

  • Barrel distortion : kecenderungan garis menjadi melengkung keluar (terjadi pada posisi wide)
  • Pincushion : garis jadi melengkung ke dalam (terjadi pada posisi tele)

Barrel distortion lebih sering dijumpai karena seringnya kita memakai lensa di posisi wide, dimana foto yang penuh dengan garis tegas seperti arsitektur akan menjadi tidak alami, melengkung dan terkesan tidak profesional. Tingkat kelengkungan ini berbeda-beda untuk tiap lensa, tentunya semakin baik lensa maka semakin kecil distorsi yang dihasilkan.

Perspektif sendiri lebih kepada hasil foto yang ditentukan dari posisi kita memotret terhadap objek foto. Bila kita memotret objek yang lebih tinggi dari kita maka perspektifnya akan berbeda dengan saat kita memotret benda yang lebih rendah dari kita. Kadang-kadang setelah memotret kita merasakan kalau perspektif yang terjadi kurang sesuai dengan yang kita inginkan, untuk itu kita bisa memperbaikinya melalui software.  Untuk mengatasi kedua masalah tersebut, bukalah foto yang akan diolah di Adobe Photoshop CS2 (atau yang lebih tinggi) lalu cari Filter > Distort >  Lens Correction.

Inilah tampilan slider kendali distorsi  :

distortion-cs2

Dan ini adalah slider perspektif :

perspective-cs2

Contoh foto berikut ini adalah obyek yang memiliki garis tegas yang mengalami distorsi cukup parah, sekaligus secara perspektif juga kurang proporsional karena mengecil di bagian atas. Setidaknya ada dua macam hal yang bisa dilakukan dengan filter “Lens Correction” ini, yaitu memperbaiki distorsi (arahkan slider ke arah minus untuk mengatasi pincushion dan ke arah positif untuk mengatasi barrel). Kami coba lakukan koreksi ke arah positif  sebesar +5.

adsc_2804

Foto berikut menunjukkan hasil setelah dikoreksi dan tampak distorsi yang ada bisa berkurang drastis dan tampak lebih natural. Namun kami masih mendapati kalau foto ini belum memuaskan secara perspektif dan kembali kami lakukan koreksi, kali ini diaturlah nilai perspective ke arah minus sebesar -15. Tidak ada angka pasti, coba-coba saja dan lihat apakah hasilnya sudah memuaskan anda.

adsc_2805

Foto di bawah ini adalah hasil koreksi perspektif dan tampak lebih proporsional dibanding foto aslinya. Mudah bukan?

adsc_2806

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..