Cara menilai kualitas lensa kamera DSLR

Banyak sekali mereka yang ingin tahu bagaimana caranya menilai kualitas lensa dari kamera DSLR. Hal ini memang wajar mengingat lensa yang berkualitas adalah jaminan hasil foto yang maksimal dan akan semakin penting bila foto yang anda hasilkan adalah untuk dikomersilkan. Bila anda memulai dunia DSLR dengan kamera plus lensa kit, bisa jadi anda merasa penasaran untuk mencari lensa lain yang kualitasnya lebih baik. Masalahnya, ternyata bukan hal yang mudah untuk mendapatkan lensa yang kita idamkan. Begitu banyak pilihan, ditambah berbagai istilah yang membingungkan, hingga deviasi harga yang sangat lebar, membuat niat mencari lensa idaman bisa menjadi ciut. Tapi jangan kuatir, kami hadirkan artikel ini untuk membantu anda mengenali cara untuk menilai kualitas lensa.

Teknologi digital dalam fotografi membuahkan generasi kamera baru dengan sensor beresolusi tinggi. Saat ini kamera dengan resolusi sensor 10 juta piksel pun bisa dianggap ketinggalan jaman, bahkan peningkatan resolusi di kamera DSLR khususnya jenis sensor full-frame sudah mendekati resolusi sensor kamera medium format dengan resolusi diatas 20 juta piksel. Dibutuhkan lensa yang mampu mengimbangi tingginya resolusi sensor sehingga syarat utama lensa berkualitas adalah ketajaman lensa. Di atas kertas, di lab pengujian, kita mengenal adanya MTF chart alias grafik kontras dan ketajaman lensa menurut versi si produsen. Penjelasan yang rumit mengenai MTF ini bakal membuat kening kita berkerut sehingga kita sederhanakan saja bahwa grafik MTF dibuat untuk mewakili karakter optik lensa secara umum dan lensa yang tajam semakin diperlukan untuk mengimbangi tingginya resolusi kamera digital masa kini.

Contoh pengujian lensa (credit : bobatkins.com)
Contoh pengujian lensa (credit : bobatkins.com)

Untuk menilai kualitas lensa, kami asumsikan anda sudah mengetahui jenis lensa apa yang akan dinilai, misalnya dari jenis lensa yaitu lensa fix atau lensa zoom, dan dari desain diafragma lensa yaitu lensa cepat (bukaan besar) dan lensa lambat (bukaan kecil). Anda juga kami anggap sudah mengerti akan fokal lensa yang akan dinilai, apakah itu lensa wide, lensa normal, lensa tele, zoom wide, zoom normal, zoom tele atau all-round zoom. Baiklah, kita lanjut saja.

Penilaian dasar lensa secara umum bisa saja disederhanakan pada unsur :

  • bukaan diafragma (semakin besar semakin bagus/cepat)
  • rentang fokal (semakin lebar semakin bagus/useful)
  • banyaknya fitur (stabilizer, motor mikro dsb)
  • elemen optik tambahan (lensa ED, coating khusus dsb)
  • material lensa (plastik/logam, weather sealed atau tidak dsb)

Meskipun untuk menilai lebih jauh mengenai lensa kita perlu meninjau sedikit lebih dalam dari setiap lensa yang kita idamkan, diantaranya :

  • bagaimana kinerja auto fokus (akurasi, kecepatan dan kehalusan)
  • bagaimana rasanya saat lensa zoom diputar
  • bagaimana desain ring manual fokus dan akurasinya
  • bagaimana indikator posisi zoom dan fokus tampak jelas dan mudah dibaca
  • apakah bagian depan lensa ikut berputar saat mencari fokus
  • bagaimana kemampuan makronya, dan jarak fokus terdekatnya

Dan pada akhirnya, kualitas optiklah yang menjadi faktor penentu bagus tidaknya lensa DSLR yang kita nilai. Berikut adalah faktor penting untuk menilai kualitas optik sebuah lensa :

  • lensa yang baik punya ketajaman yang seragam di tengah dan di tepi (sebaliknya lensa jelek akan blur di bagian pojok/corner softness)
  • lensa yang baik juga mampu menjaga ketajaman saat dipakai di posisi fokal berapa pun, dan bukaan diafragma berapa pun (kecuali saat memasuki batas difraksi lensa/bukaan sangat kecil)
  • lensa yang baik juga punya tingkat keterangan yang sama baik di tengah atau di tepi (sebaliknya lensa jelek akan mengalami fall-off yang nyata/pojokan menjadi gelap)
  • lensa yang baik sanggup mengatasi purple fringing dengan baik (chromatic aberration) dan lensa jelek akan kedodoran saat dipakai di area dengan perbedaan kontras tinggi, sehingga muncul penyimpangan warna keunguan
  • lensa yang baik sanggup mengontrol distorsi dengan baik, garis tidak tampak melengkung kedalam atau keluar
  • lensa yang baik punya kontras yang tinggi, hasil foto tidak pucat
  • lensa yang baik bisa mengatasi flare dengan baik, yang terjadi saat lensa diarahkan ke cahaya terang
  • lensa yang baik tidak merubah warna, biasanya lensa jelek punya coating yang menggeser warna ke arah merah atau biru
  • lensa yang baik punya bokeh yang menawan, creamy dan out-of-focus pada background

Nah, ternyata bukan hal mudah untuk mencari lensa idaman apalagi semakin mendekati ideal maka harga lensa akan semakin sangat mahal. Untuk itu diperlukan pembatasan akan kriteria lensa yang akan dibeli, semisal rentang fokal, harga (budget), jenis diafragma lensa dan sebagainya. Tidak ada lensa ideal, semua lensa tentu ada kompromi. Contoh :

  • Lensa 18-55mm f/3.5-5.6 dan 17-55mm f/2.8 punya rentang fokal yang hampir sama tapi harganya bisa berbeda 12 kali lipat. Hal ini karena kemampuan lensa 17-55mm f/2.8 dalam memasukkan cahaya jauh lebih besar dan konstan di seluruh panjang fokal. Komprominya tentu adalah harga dan bobot/ukuran lensa itu sendiri. Contoh serupa terjadi untuk lensa 55-200mm f/4-5.6 dan lensa 70-200mm f/2.8
  • Lensa 18-200mm f/3.5-5.6 tampak sanggup mengakomodir semua kebutuhan fokal fotografi umum dari wide hingga landscape, tapi komprominya adalah tidak mungkin didesain lensa seperti ini dengan bukaan konstan f/2.8 dan kalaupun bisa maka ukurannya bisa sebesar termos :)
  • Lensa prime menawarkan ukuran yang ringkas, sekaligus bukaan diafragma yang besar dengan harga yang relatif murah. Namun bagi yang terbiasa memakai lensa zoom, maka memotret dengan lensa prime akan membuat repot karena fokal lensanya yang fix di posisi tertentu.
  • Lensa wide punya keistimewaan sendiri dalam menampilkan perspektif berkesan luas, namun lensa wide perlu desain lensa yang rumit dengan resiko mengalami fall-off dan purple fringing, belum lagi distrosi yang pasti tidak bisa dihindari sehingga lensa wide tidak cocok untuk potret wajah.
  • Lensa yang didesain khusus untuk sensor APS-C (Nikon DX atau Canon EF-S) punya diameter lebih kecil, ringkas dan kompak. Namun bila lensa ini dipasang di bodi full frame akan muncul vignetting. Membeli lensa full frame untuk bodi APS-C bisa jadi lebih ‘aman’ meski memang jadi menambah biaya dan belum tentu lensanya tersedia.

Itulah sajian kami kali ini. Meski tidak mudah, tapi setidaknya diharapkan kita bisa mengetahui bagaimana menilai bagus tidaknya sebuah lensa. Bila pada akhirnya kita dihadapkan pada lensa yang biasa-biasa saja, kita masih bisa mengupayaakan untuk membuat foto yang luar biasa. Bila ingin tajam, gunakan f/8 dan lensa apapun akan memberi ketajaman maksimal. Pengujian dari pabrik, fitur yang lengkap, spesifikasi tinggi dan kualitas optik yang tinggi juga tidak akan menolong bila dasar fotografi yang kita kuasai belum matang, semisal kendali eksposur, bermain komposisi dan kejelian mencari momen yang tepat.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alternatif 2x tele-converter dan adapter untuk Canon G10/G11

Canon G10 (dan G11) merupakan salah satu kamera saku kelas pro dari keluarga PowerShot yang banyak dijadikan sebagai kamera pendamping kamera utama para profesional. Canon G10 menyempurnakan generasi sebelumnya G9/G7 yang mana perbedaan utamanya adalah dalam hal fokal lensa. Pada lensa G10/G11 fokal efektif yang dimiliki bergeser ke arah wide dengan 28mm hingga 140mm sehingga pecinta wide angle akan lebih menyukai G10/G11 ketimbang G9/G7. Namun bagaimana dengan mereka pemilik G10/G11 yang memerlukan fokal lensa lebih dari 210mm? Untuk itu tersedia aksesori tele-conversion lens yang akan membuat fokal lensa jadi lebih panjang.

Canon G10 plus 1.4x T-con dan adapter
Canon G10 plus 1.4x T-con dan adapter

Tentu saja Canon sudah menyediakan aksesori resmi untuk keperluan ini. Adalah TC-DC58D, sebuah tele-converter 1,4x yang akan menjadikan fokal lensa G10/G11 menjadi 39-200mm sehingga di posis tele fokalnya hampir menyamai sang kakak G9 yang berakhir di 210mm. Anda bisa lihat, dengan menambah tele-lens converter seharga 1,2 juta rupiah ini, bahkan fokal hasil konversi ini baru mencapai 200mm alias masih kurang jauh untuk beberapa kasus fotografi. Di beberapa situs luar negeri kerap dijumpai review dari pembeli yang kecewa karena kemampuan tele lensa ini masih kurang jauh dan tidak sepadan dengan biaya yang sudah dikeluarkan. Untuk itu beberapa produsen aksesori kamera alternatif mulai menawarkan produk serupa dengan kemampuan yang lebih dari aksesori resmi Canon.

Salah satu produk alternatif yang menarik adalah Pixco TC-58E20 dengan kemampuan konversi tele 2x dan diameter 58mm. Produk yang dijual dibawah 700 ribu ini memiliki keunggulan utama dalam hal kemampuan 2x tele conversion sehingga akan membuat fokal G10/G11 menjadi 56-280mm yang tergolong sudah mencukupi untuk urusan tele. Kualitas optik lensa ini tergolong baik dengan multi-coating untuk mencegah flare, dan urusan vignetting masih dalam batas wajar terutama di posisi tele. Lensa ini memiliki thread ring 58mm yang terbuat dari bahan titanium yang kuat sehingga menjamin keamanan saat pemakaian. Dalam paket penjualannya disertakan sebuah front-cap, rear-cap dan soft pouch berwarna hitam.

Pixco 2x T-con 58mm
Pixco TC-58E20 (2x T-con 58mm)

Layaknya aksesori optik lainnya, sebelum memasang lensa Pixco ini (ataupun lens converter merk lainnya) kita memerlukan adapter (tube) yang dipasang di bagian ring lensa. Pada bodi kamera terdapat ring lensa yang bisa dilepas sehingga nampak adanya dudukan untuk memasang adapter ini. Untuk aksesori adapter asli Canon tersedia produk yang bernama LA-DC58K dengan bahan plastik, dengan banderol harga cukup tinggi sekitar 350 ribu. Untuk itu banyak produsen aksesori yang ikut membuat adapter dengan desain yang mirip namun dijual dengan harga lebih murah.

fusen-adapter
Fusen adapter 58mm untuk G10/G11

Salah satu adapter yang cocok untuk Canon G10/G11 dan harganya terjangkau adalah Fusen dengan thread ring filter 58mm dengan material almunium berkualitas baik. Fusen adapter ini memiliki panjang 55mm dan memiliki  diameter thread standar 58mm. Dengan memasang adapter Fusen ini pada kamera Canon G10/G11, kita bisa menambahkan tele-lens Pixco ataupun aksesori lain seperti filter CPL, UV atau ND asalkan punya diameter 58mm. Hanya saja perlu diingat karena menambah adapter di depan kamera, maka penggunaan lampu kilat akan sedikit terhalang. Untuk itu perlu memakai lampu kilat eksternal baik dipasang di hot-shoe maupun off-shoe (wireless trigger).

Kombinasi Pixco 2x tele lens dan Fusen adapter memberikan kesempatan pada pemakai Canon G10/G11 untuk menjangkau rentang tele hingga 280mm pada resolusi penuh dengan total biaya kurang dari 900 ribu rupiah. Bila dibandingkan dengan kombinasi aksesori asli Canon (1.4x tele plus adapter) yang hampir mencapai 2 juta rupiah, maka perbedaannya cukup signifikan. Pilih yang mana, tentu terserah anda..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rumor lensa Nikon : AF-S 16-35mm dan AF-S 100-500mm

Rumor akan produk kamera DSLR dan lensa baru memang menarik untuk diikuti, terlepas apakah rumor itu nantinya akan jadi kenyataan atau tidak. Demikian juga rumor yang membahas prediksi lensa DSLR seperti Canon atau Nikon selalu mendapat respon dari banyak fotografer. Adakalanya rumor hanya sekedar rumor, namun sering juga rumor benar-benar menjadi kenyataan karena adanya ‘kebocoran’ informasi dari sumber yang ‘bisa dipercaya’. Apakah rumor dua lensa baru dari Nikon ini akan menjadi kenyataan?

Rumor : lensa wide AF-S 16-35mm f/4G VR

Rumor ini menurut kami amat menarik. Pertama, karena Nikon jarang  punya lensa zoom dengan bukaan konstan f/4. Kedua, inilah versi murah dari lensa wide legendaris AF-S 17-35mm f/2.8 yang diidamkan oleh berjuta fotografer landscape di dunia. Bila lensa ini menjadi kenyataan, pemakai DSLR Nikon FX seperti D700 dan D3 akan merasakan kepuasan memotret dengan fokal ultra wide 16mm dengan bukaan konstan f/4 dan sebaagaai bonus tersedia fitur VR yang tidak umum dijumpai di lensa wide semacam ini. Bila pemilik Nikon DX ingin memiliki lensa ini, maka perlu diingat kalau karena crop factor format DX, maka fokal lensanya akan setara dengan 24-55mm sehingga agak tanggung (untuk wide kurang, untuk tele juga kurang). Meski berjenis lensa G yang terkesan bukan lensa profesional, tapi rumornya lensa 16-35mm ini dilengkapi dengan Nano crystal coating untuk ketajaman tak tertandingi. Berminat?

Rumor : lensa super tele AF-S 100-500mm f/4-5.6G VR III

Rumor kedua ini pun unik dan menarik karena dua hal, pertama karena diperkenalkannya VR generasi ke III (hingga 5.5 stop); dan kedua, gambar lensa ini beserta brosur lengkapnya sudah ada di flickr (tentu saja bukan resmi dari Nikon). Lensa super tele semacam ini terlihat ramping dan kompak karena memakai diafragma kecil, f/4-5.6 atau lensa lambat. Lagi-lagi lensa ini didesain untuk format Nikon FX, meski pemilik Nikon DX tentu lebih tertarik akan hadirnya lensa ini karena lensa 100-500mm ini akan memberikan fokal yang lebih panjang  di format DX, yaitu 150-750mm (wow..!). Bila rumor ini benar, maka tampaknya lensa Nikon yang sekarang ada, AF 80-400mm f/4.5-5.6 VR bakal segera diskontinu. Percaya atau tidak, namanya juga rumor..

Rumor semacam tadi bisa merebak karena adanya bocaoran dari sumber tertentu yang bisa dipercaya, atau hanya kerjaan orang iseng yang mengolah digital lensa yang ada lewat Photoshop. Namun apapun itu, setiap rumor selalu menarik untuk diikuti bukan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panduan lengkap memilih kamera saku superzoom

Berapa panjang lensa zoom pada kamera saku anda? Tiga, empat, atau lima kali zoom optik? Apakah anda merasa kemampuan tele dari kamera anda masih kurang? Bayangkan bila anda memiliki sebuah kamera saku yang mungil namun memiliki lensa yang panjang. Berkat kemampuan manufaktur lensa modern, kini sebuah kamera saku bisa memiliki lensa yang sangat fleksibel yang mampu menjangkau area wide (sekitar 28mm) hingga ekstra tele (diatas 300mm) atau bisa dibilang lensa superzoom (10x zoom optikal, bahkan lebih).

Pada awalnya, kamera saku memiliki lensa zoom yang umumnya amat standar, berkisar dari 35-105mm (setara dengan 3x zoom optik). Guna menjauh dari tekanan ponsel berkamera yang semakin canggih, lambat laun produsen kamera mulai menambah jangkauan baik dalam urusan wide hingga tele, hingga mulai ada kamera yang mampu menjangkau misalnya 35-200mm (setara dengan 5x zoom optik) bahkan ada yang punya lensa 28-200mm (setara dengan 7x zoom optik). Dengan semakin lebarnya rentang fokal lensa kamera saku tentu akan semakin memudahkan pemakainya untuk bermain berbagai komposisi dan perspektif, dari wideangle hingga telephoto.

Ilustrasi fokal wide (28mm) dan tele (300mm) credit : Ricoh
Ilustrasi fokal lensa wide (28mm) dan lensa tele (300mm), source : Ricoh

Kini tren di tahun 2009 semakin menunjukkan fakta yang menggembirakan. Banyak kamera saku generasi baru yang memiliki lensa sangat panjang, dengan perbesaran optik sekitar 10x hingga 12x zoom. Namun tanpa mengenali lebih jauh seputar fitur dan lensanya, bukan tidak mungkin kita akan kebingungan dalam memilihnya. Bila anda berhasrat untuk memiliki kamera saku semacam ini, inilah panduan lengkap memilih kamera saku superzoom, sekaligus kami sajikan memakai sistem rating, urut dari peringkat pertama hingga terakhir menurut evaluasi kami :

# 1 :Panasonic Lumix DMC-TZ7 (4 jutaan)

Lumix TZ7
Lumix TZ7

Kamera seri TZ (Traveller Zoom) dari Lumix ini menjadi kamera saku favorit banyak orang, sejak kehadiran seri pertama TZ1 hingga TZ7 yang memang memiliki keistimewaan dalam lensa Leicanya yang tajam. Lumix TZ7 dengan sensor 10 MP, punya lensa amat fleksibel dengan 25-300mm f/3.3-4.9 atau 12x zoom optik, yang sangat ideal untuk foto landscape dan tamasya. Sayangnya tidak ada fitur manual P/A/S/M pada kamera ini, sebagai gantinya tersedia fitur intelligent Auto (iA) yang akan menentukan setting terbaik untuk tiap kondisi. Sebagai bonus, tersedia fitur HD movie AVCHD untuk merekam perjalanan wisata anda. Rentang lensa Leica DC vario Elmar 25-300mm yang luar biasa efektif ini tak tertandingi oleh merk lain, sehingga menjadikannya berada di peringkat pertama dari rekomendasi kami.

# 2 : Fuji FinePix F70 EXR (3 jutaan)

Fuji F70 EXR
Fuji F70 EXR

Inilah kamera saku kedua dari Fuji yang memakai sensor baru Super CCD EXR (setelah F200 EXR) yang kini memakai sensor 10 MP. F70 EXR menjadi kamera saku pertama Fuji yang punya lensa panjang, atau 27-270mm f/3.3-5.6 atau 10x zoom optik. Terlepas dari lensanya yang mantap, sensor pada kamera ini pun sangat efektif untuk berbagai keperluan pemotretan, yaitu memotret foto resolusi tinggi 10 MP (EXR mode : HR), atau foto low-light dengan noise rendah pada 5 MP (EXR mode : SN) atau foto dengan jangkauan dinamis yang lebar pada resolusi 5 MP (EXR mode : DR). Sayangnya, tidak ada fitur P/A/S/M ataupun HD movie mode di kamera ini. Gabungan dari lensa dan sensor yang efektif menjadikan kamera ini berada di tempat kedua daftar kami.

# 3 : Canon Powershot SX200 IS (3,8 jutaan)

Canon SX200 IS
Canon SX200 IS

Sebagai pesaing langsung dari Lumix TZ series, Canon menghadirkan kamera saku premium dengan nama SX200 IS dengan sensor 12 MP. Lensa Canon yang jadi andalan kali ini memiliki fokal 28-336mm f/3.4-5.3 atau 12x zoom optik. Anda mungkin kurang cocok dengan desain lampu kilatnya yang harus sering dibuka tutup. Sebagai bonus, Canon menyediakan fitur kendali manual P/A/S/M dan HD movie mode. Serba lengkap, termasuk manual mode dan HD movie membuatnya berada di tiga besar daftar kami.

# 4 : Samsung HZ15W (3 jutaan)

samsung HZ15W
Samsung HZ15W

Keseriusan Samsung dalam bermain di dunia digital imaging tampak dari si hitam HZ15W ini. Kamera bersensor 12 MP dan memiliki lensa sangat wide 24-240mm f/3.3-5.8 ini punya rentang fokal yang impresif dari 24mm, meski dalam urusan tele kalah panjang dibanding pesaing karena hanya berakhir di 240mm (atau 10x zoom). Tersedia fitur manual P/A/S/M dan HD movie H.264 untuk liburan anda yang seru. Kehebatan lensa Schneider 24mm dan HD movie menjadikan produsen Korea ini ada di tempat keempat daftar kami.

# 5 : Casio Exilim EX-H10 (4 jutaan)

Casio EX-H10
Casio EX-H10

Casio mencoba peruntungannya di jajaran kamera saku berlensa panjang dengan menghadirkan Exilim EX-H10 dengan sensor 12 MP dan lensa sangat wide 24-240mm f/3.2-5.7 atau 10x zoom optik (rentang yang persis sama seperti Samsung HZ15W di atas). Bila anda menyukai lensa ultra wide 24mm, Casio ini juga layak dipilih karena bakal mendukung hobi landscape anda. Sebagai bonus, tersedia juga fitur HD movie sebagai tanda bahwa kamera ini tergolong kamera saku kelas menengah ke atas. Karena tanpa fitur manual dan harganya yang mahal, maka Casio ini kalah satu tempat dari Samsung alias berada di posisi lima.

# 6 : Ricoh CX2 (3,8 jutaan)

Ricoh CX2
Ricoh CX2

Jangan meremehkan sensornya yang cuma 9 MP pada kamera keren ini, karena sensor jenis CMOS yang dipakai pada Ricoh CX2 ini sanggup bekerja cepat hingga 5 fps pada resolusi penuh. Lensa Ricoh CX2 pun amat efektif dengan rentang 28-300mm f/3.5-5.6 atau 10.7x zoom optik. Ricoh dari dulu punya fitur andalan pre-AF yang terus mencari fokus sebelum tombol rana ditekan. Meski memakai sensor CMOS, namun sayangnya CX2 belum dilengkapi fitur P/A/S/M dan HD movie, sehingga membuat Ricoh CX2 ini harus berada di tempat ke enam daftar kami.

# 7 : Olympus Stylus 9000 (3,4 jutaan)

Stylus 9000
Stylus 9000

Olympus bergabung di kompetisi kamera saku berlensa panjang dengan produknya Stylus 9000 dengan sensor 12 MP dan lensa wide zoom, 28-280mm f/3.2-5.9 atau 10x zoom (rentang lensa 28-280mm seperti ini mengingatkan kita pada Lumix TZ2 dan TZ3 di masa lalu). Selain dari lensa dan desainnya yang keren, Olympus ini tergolong biasa saja karena tidak ada fitur manual P/A/S/M ataupun HD movie, sehingga cukuplah berada di tempat ke tujuh daftar kami.

# 8 : Kodak Z950 (3 jutaan)

Kodak Z950
Kodak Z950

Kodak mungkin bukanlah merk pertama yang terbersit di benak anda saat membayangkan kamera digital, tapi mungkin saja kali ini akan berbeda karena Kodak telah mendesain sebuah kamera saku Z950 yang punya sensor 12 MP dan lensa zoom Schneider 35-350mm f/3.5-4.8 atau 10x zoom. Memang rentang fokalnya yang bermula dari 35mm tergolong kurang wide namun kamera ini tergolong cukup lengkap dengan adanya fitur manul P/A/S/M dan HD movie MPEG-4. Namun dengan lensa yang wide-nya cuma 35mm, sulit bagi Kodak ini untuk berada di posisi elit daftar kami sehingga hanya mampu menempati peringkat ke delapan saja.

# 9 : Canon Powershot SX120 IS (3 jutaan)

Canon SX120 IS
Canon SX120 IS

Sebagai posisi buncit, Canon menghadirkan satu lagi kamera saku berlensa panjang yang lebih ekonomis dari SX200 IS, yaitu SX120 IS. Bedanya, kali ini sang adik tidak memakai lensa wide 28mm, karena rentang lensanya adalah 36-360mm f/2.8-4.3 atau 10x zoom, yang tergolong cukup cepat (punya diafragma besar). Hadir dengan sensor 10 MP, kamera saku gemuk berbaterai AA ini untungnya masih memiliki fitur manual, meski tanpa fitur HD movie. Tanpa lensa wide dan tanpa HD movie, dan desainnya yang bongsor, membuat kamera ini harus berada di posisi sembilan pada daftar kami (meski tak dipungkiri inilah satu-satunya kamera di daftar ini yang memiliki lensa f/2.8).

Itulah sembilan kamera saku mungil berlensa panjang yang bisa anda pertimbangkan, yang kami susun peringkatnya berdasarkan pertimbangan fitur dan spesifikasi. Untuk memastikan apakah kamera tersebut memenuhi ekspektasi anda, akan lebih baik bila anda mengevaluasi sampel fotonya yang bisa diunduh dari situs resmi masing-masing kamera.

Sebagai bonus, bila ukuran bukan jadi masalah, kami tambahkan sembilan daftar di atas dengan dua kamera lain yang juga punya lensa panjang untuk bahan perbandingan :

Nikon Coolpix L100 (2,7 jutaan)

Coolpix L100
Coolpix L100

Kekuatan kamera 10 MP ini adalah lensanya yang ekstra panjang, 15x zoom optik. Lensa Nikon 28-420mm f/3.5-5.4 ini sudah menyamai rentang lensa prosumer, meski kamera Nikon L100 ini masih tergolong kamera saku. Inilah kamera dengan harga termurah sekaligus  punya lensa terpanjang dalam daftar kali ini. Dengan harga yang terjangkau, jangan harap ada fitur manual P/A/S/M ataupun HD movie. Bahkan ketiadaan viewfinder elektronik menandakan kalau kamera ini masih tergolong kamera saku kelas basic.

Sony Cybershot H20 (3 jutaan)

Sony H20
Sony H20

Sebagai pesaing dari Nikon L100, Sony juga menelurkan kamera saku berukuran ‘tanggung’ yang bernama Cybershot H20. Kamera bersensor 10 MP ini punya lensa yang jauh dari sebutan wide lens, yaitu Carl Zeiss 38-380mm f/3.5-4.4 atau 10x zoom optik. Meski sama-sama tanpa viewfinder elektronik ataupun manual mode, H20 masih memiliki fitur HD movie MPEG-4.

Sebagai kesimpulan, dari daftar kamera saku superzoom diatas, rekomendasi kami :

  • Kamera superzoom terbaik adalah : Lumix TZ7 dan Canon SX200 IS.
  • Kamera yang menjadi best-buy terbaik : Fuji F70 EXR dan Samsung HZ15W.
  • Kamera value/ekonomis terbaik : Nikon L100.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Banjir kamera baru Canon PowerShot

Hari ini Canon meluncurkan banyak produk baru di seri PowerShot. Diantaranya adalah penerus produk kelas prosumer (seri G), kelas premium compact (Ixus), kembalinya seri S (wideangle), dan dua produk kelas super zoom (SX), masing-masing super zoom prosumer dan super zoom compact. Sebagaimana tren yang sedang berlangsung di 2009 ini, semua kamera baru ini tidak lagi menawarkan resolusi yang lebih tinggi (bertahan di 10-12 MP) namun menawarkan sesuatu yang lebih dibutuhkan fotografer seperti lensa wide, bukaan lensa yang lebih besar atau resolusi LCD yang lebih tinggi.

Berikut jajaran lengkap produk baru Canon PowerShot :

Canon G11

Canon G11 (credit : DCRP)
Canon G11 (credit : DCRP)

Produk kamera saku seri-G merupakan kelas prosumer Canon yang paling elit dan high-end. Setelah mendapat kritikan pedas pada produk G7, G9 dan G10, akhirnya Canon kembali memasang LCD lipatnya di produk G11 kali ini, atau kembali melanjutkan tradisi yang terakhir dijumpai di Canon G6. Selain layar lipat berukuran 2,8 inci  ini, Canon juga ‘mengakui kesalahannya’ dengan kembali menurunkan resolusi ke 10 MP (dari sebelumnya 14.7 MP) sehingga pixel density pada sensor CCD-nya yang berukuran 1/1.7 inci lebih rasional. Inilah upgrade yang tidak umum, dengan resolusi yang diturunkan hampir 5 MP, suatu keputusan yang berani (dan tepat) dari Canon. Urusan lensa masih sama seperti pada G10 yaitu memakai 5x zoom (28-140mm). Kamera seharga 5 juta ini juga masih mempertahankan fitur lain seperti finder optik, manual P/A/S/M, flash hotshoe dan (sayangnya) masih tanpa HD movie. Uhh…

Canon Ixus 200 dan Ixus 120

Ixus baru (credit : DCRP)
Ixus 200 dan Ixus 120 (credit : DCRP)

Canon Ixus 200 (atau SD980) menawarkan dua kenyamanan sekaligus : lensa sangat wide 24mm dan kendali layar LCD sentuh berukuran 3 inci. Lensa 24-120mm pada kamera saku memang menggoda, khususnya bila anda pecinta wideangle. Sedangkan Canon Ixus 120 (atau SD940) menawarkan rentang lensa yang lebih umum yaitu 28-112mm dan layar LCD 2,7 inci. Kedua kamera sudah memiliki stabilizer IS, resolusi 12 MP dan kemampuan HD video. Seperti Ixus lainnya, kedua Ixus baru ini pun memakai baterai Lithium.

Canon S90

Canon S90 (credit : DCRP)
Canon S90 (credit : DCRP)

Di masa lalu, kamera berlensa wide amat jarang dijumpai dan kalaupun ada harganya masih amat tinggi. Salah satu produsen yang pernah mencoba membuat kamera wide adalah Canon dengan seri S-nya. Sayangnya seri-S ini sempat terhenti (mungkin) karena Canon lebih fokus membuat seri lain yang juga berlensa wide (seperti Ixus , SX dan G). Empat tahun berselang, kini Canon kembali membuat penerus seri-S yang bernama S90, dengan kekuatan utama adalah bukaan diafragma 1 stop lebih besar dari para pesaing, yaitu f/2.0 ! Dengan bukaan sebesar ini maka S90 menjadi kamera dengan lensa wide tercepat saat ini (dua kali lebih cepat dari f/2.8), meski hanya memiliki rentang fokal 28-105mm f/2.0-4.9 (kami bingung mana yang lebih baik antara lensa Canon S90 ini atau Sony WX1 yang punya rentang 24-120mm f/2.4-5.9). Tapi jujur kami sangat menyukai fitur di kamera ini dengan adanya kendali manual pada ring lensa, layar LCD 3 inci, dan manual P/A/S/M. Kalaupun ada kekurangannya hanyalah ketiadaan fitur HD movie, cukuplah video dengan resolusi VGA saja.

Canon SX20 IS dan SX120 IS

Canon SX20 IS (credit : DCRP)
Canon SX20 IS (credit : DCRP)

Inilah penerus seri super zoom yang hanya sedikit memperbaiki seri yang lama. Canon SX20 IS menambahkan fitur HD movie yang absen di produk sebelumnya (SX10 IS) dan Canon SX120 IS. Canon kali ini menambah resolusi menjadi 12 MP pada sensor CCD SX20 IS, meski tetap mempertahankan fitur LCD lipat 2,5 inci dan  lensa 20x zoom. Pada SX120 IS, Canon tidak banyak merubah produk lamanya selain menambah ukuran layarnya menjadi 3 inci. Soal resolusi dan lensa tampaknya masih sama, 10 MP dan 10x zoom. Baik SX20 IS dan SX 120 IS, keduanya ditenagai baterai AA.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips memilih kamera saku untuk pemula

sakuKamera saku menjadi kamera yang penjualannya paling laris dan banyak dicari orang karena kepraktisan dalam pemakaian dan harganyanya yang terjangkau. Evolusi pada kamera saku sudah mendekati titik stagnan dalam arti tidak akan banyak perubahan radikal dalam hal teknologi kamera saku pada masa-masa mendatang. Hal ini berbeda sekali kalau kita flashback ke masa lalu dimana perubahan dan peningkatan fitur kamera begitu cepat dan membingungkan. Belum sempat beli kamera 5 mega, sudah keluar yang 7 mega; belum sempat menjajal kamera dengan VGA movie, sudah keluar yang HD movie. Kini bisa dikatakan, apapun kamera yang dibeli sudah hampir ‘matang’ dalam hal teknologi, tinggal kita memilih mana yang paling sesuai dengan selera dan dana.

Kamera generasi baru boleh dibilang sudah canggih, bahkan saking canggihnya calon pembeli (pemula) sampai bingung akan istilah-istilah yang ditulis di iklan, brosur dan spesifikasinya. Belum lagi para pedagang gencar mengklaim berbagai fitur yang terdengar asing di telinga, semakin membuat grogi calon pembeli. Kami sudah pernah menulis soal fitur baru ini, silahkan dibaca untuk menghindari kami menulis dua kali.

Sebagai permulaan, hal yang terpenting adalah mengenali kebutuhan fotografi anda nantinya. Cobalah menjawab pertanyaan berikut ini, setidaknya anda dapat memprediksi kamera seperti apa yang anda butuhkan :

  • apakah kamera anda nantinya akan dipakai sebagai sarana dokumentasi biasa atau untuk membuat karya foto yang lebih artistik? (kaitannya dengan fitur manual)
  • apakah anda lebih perlu lensa wide untuk kesan luas atau lebih memerlukan zoom lensa yang jauh? (kaitannya dengan fokal lensa)
  • apakah anda akan perlu memotret dengan kinerja cepat, seperti anak yang tak bisa diam? (kaitannya dengan performa shutter lag, auto fokus, burst mode dan shot-to-shot)
  • apakah anda tipe petualang yang sering memotret outdoor atau bukan? (kaitannya dengan bodi kamera dan aksesori underwater)
  • apakah anda lebih suka baterai AA atau Lithium?
  • apakah anda akan sering memakai kamera saku di tempat kurang cahaya, tanpa lampu kilat? (kaitannya dengan kemampuan sensor di ISO tinggi)
  • selain memotret, apakah anda juga suka mengambil video? (kaitannya dengan resolusi video)
  • apakah anda perlu foto ukuran besar untuk dicetak besar atau di-crop ketat? (kaitannya dengan resolusi)

Setelah menjawab kuis di atas, mungkin anda sudah semakin mudah dalam membayangkan kebutuhan fotografi anda. Namun tentu perlu diingat kalau tidak mungkin semua yang kita mau bisa diakomodir oleh satu kamera, tentu ada saja hal-hal yang perlu dikompromikan.

Sebagai tips dalam memilih kamera, berikut hal-hal yang perlu dicermati :

  • merk : tidak usah terpaku pada merk, pada dasarnya produsen kamera ternama punya standar mutu yang sama, meski tak dipungkiri merk besar punya layanan after sales yang lebih baik
  • lensa : kunci ketajaman dan kualitas foto ada di lensa, sebisa mungkin lihatlah hasil fotonya sebelum membeli, lihat apakah ketajaman lensanya sudah anda anggap layak atau tidak
  • zoom : kamera saku umumnya punya lensa 3x zoom optik, meski kini sudah bervariasi mulai dari 4, 5, 6 hingga 10x zoom, bila anda tidak perlu zoom terlalu tinggi jangan memaksakan membeli kamera dengan zoom besar
  • fitu wajib : image stabilizer, karena kamera saku kecil dan ringan maka resiko tergoyang saat memotret cukup besar
  • fitur manual mode : minimal perlu ada manual ISO, lalu kalau ada ya manual eksposure (shutter priority dan aperture priority), syukur kalau ada manual focus juga
  • seberapa wide yang anda perlukan? umumnya kamera saku lensanya bermula dari 35mm, bila anda merasa kurang wide carilah kamera yang lensanya bermula dari 30mm, 28mm atau bahkan 24mm yang akan berguna untuk kreativitas perspektif dan membuat kesan luas
  • resolusi : sebisa mungkin hindari resolusi terlalu tinggi (diatas 10 MP) karena sensor pada kamera saku berukuran kecil sehingga bila dijejali piksel terlalu banyak dia tidak akan mampu memberikan foto yang bersih dari noise di ISO tinggi
  • kinerja kamera saku umumnya sama, tapi tidak ada salahnya periksa lagi spesifikasi soal shutter lag (jeda saat menekan tombol shutter dan foto diambil), shot-to-shot (waktu tunggu dari foto pertama ke foto selanjutnya), burst mode (berapa foto bisa diambil dalam satu detik), dan start-up/shutdown time (waktu yang diperlukan oleh kamera untuk siap memotret saat pertama dinyalakan)

Adapun hal-hal yang umumnya relatif sama pada semua kamera saku, sehingga tidak perlu terlalu dipermasalahkan adalah :

  • kinerja dan mode auto fokus, umumnya tiap kamera punya kinerja AF yang sama (prinsip kerja contrast detect) dan mode AF yang disediakan umumnya sama (multi area atau center), beberapa kamera baru menyediakan auto fokus berbasis deteksi wajah (Face detection)
  • kinerja dan mode metering umumnya sama dengan pilihan semacam center weight dan spot metering
  • kinerja white balance dan pilihan preset yang disediakan (seperti flourescent, tungsten, daylight dsb)
  • spesifikasi dasar seperti maks/min shutter speed, maks/min aperture, maks/min ISO, kamampuan baterai, flash power dsb (perkecualian untuk maks aperture yang terlalu kecil akan merepotkan di saat low light, usahakan cari yang f/2.8)

Itulah beberapa tips yang bisa kami sajikan untuk pedoman membeli kamera saku. Bila ada dana lebih, anda bisa memilih kamera dengan fitur lebih banyak dan lebih baik, seperti ukuran LCD yang lebih besar, fitur HD movie dan bodi kamera berbalut logam. Tapi secara umum dengan anggaran 1 hingga 2 juta sudah bisa didapat kamera saku yang mencukupi untuk kebutuhan fotografi sehari-hari.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Canon vs Lensa Nikon

Saat kita akan membeli kamera DSLR, sebaiknya pilihan merk DSLR mana yang akan dibeli perlu memperhitungkan pada kemudahan dan ketersediaan pilihan lensa nantinya. Maka itu produsen DSLR papan atas seperti Canon dan Nikon tetap jadi favorit fotografer, karena jajaran lensa yang dimilikinya amat lengkap. Betul kalau Pentax, Olympus, Sony (Minolta) juga punya koleksi lensa yang lengkap, namun kadang-kadang pemiliki DSLR juga tergoda untuk membeli lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina dan nyatanya lensa alternatif seperti ini tidak banyak menyediakan pilihan lensa dengan mounting selain versi Canon atau Nikon. Belum lagi ketersediaan stok lensa di tanah air tampaknya lebih bersahabat untuk merk Canon dan Nikon saja.

Bermacam lensa DSLR
Bermacam lensa DSLR

Lensa kamera DSLR terbagi menjadi beberapa macam. Paling sederhana adalah dari jenisnya, yaitu lensa tetap (fix/prime) dan lensa zoom (variabel rentang fokal). Lensa zoom juga akan terbagi dua, yaitu yang bukaannya konstan (fix f/2.8, fix f/4 dsb) atau yang bukaannya variabel (mengecil saat di zoom). Dari ukuran diameter lensa juga ada dua macam lensa DSLR, yaitu lensa untuk SLR film/DSLR full frame, dan lensa dengan diameter lebih kecil (untuk APS-C). Dari segi teknologi juga lensa terbagi dua, dengan motor fokus (dan mikro-chip) di dalam lensa dan tanpa motor fokus (lensa lama). Dengan banyaknya perbedaan ini, wajar kalau para fotografer pemula (seperti saya) menjadi kebingungan saat melihat lensa yang dijual di pasaran, apalagi harganya pun bisa bervariasi dari satu juta hingga puluhan juta.

Sekedar mengenal jajaran lensa Canon dan Nikon, saya sajikan daftar head-to-head lensa favorit para fotografer beserta sedikit ulasannya. Tapi sebelumnya, saya sajikan dulu terminologi atau istilah dari keduanya supaya tidak bingung :

  • Ukuran diameter lensa : Canon memakai istilah EF dan EF-S, perhatikan kalau kode EF menunjukkan diameter yang besar (untuk SLR film dan DSLR Full Frame) sementara EF-S adalah untuk sensor APS-C yang image circle lebih kecil. Demikian juga lensa Nikon, yang berkode DX artinya hanya untuk kamera Nikon DX saja. Lensa Nikon tanpa kode DX artinya bisa dipakai di SLR Nikon film atau DSLR Nikon full-frame (meski di DSLR Nikon DX pun tetap bisa).
  • Teknologi : Canon memiliki lensa dengan motor fokus USM (Ultra Sonic Motor) di dalamnya, tapi tidak semua lensa Canon terbaru memakai motor USM. Motor USM sendiri terkenal akan kehalusannya, kecepatannya dan akurasinya, dan lensa Canon dengan teknologi USM relatif mahal. Sebaliknya, semua lensa Nikon berteknologi AF-S pasti ada motor fokus SWM (Silent Wave Motor), sementara lensa lama Nikon AF atau AF-D tidak ada motornya. Meski semua lensa AF-S ada motor SWM, tapi kinerja motor itu tidak sama antara lensa mahal dan lensa murah. Motor SWM di lensa murah lebih lambat dalam mengunci fokus.
  • Optical Image Stabilizer : Baik Canon dan Nikon memiliki kesamaan dalam menerapkan sistem stabilizer pada lensa, dimana artinya tidak semua lensa memiliki fitur ini. Cara kerjanya yaitu gyro-sensor di dalam lensa mendeteksi getaran tangan dan melakukan kompensasi dengan menggerakkan elemen lensa khusus sehingga foto yang diambil pada speed rendah (dan/atau posisi tele) terhindar dari resiko blur. Canon menamai sistem ini dengan kode IS (Image Stabilizer), sementara Nikon memakai kode VR (Vibration Reduction). Baik IS dan VR, keduanya dapat menampilkan efek stabilisasi pada viewfinder optik, sebelum foto diambil.
  • Pembagian kasta : Di lensa Canon terdapat dua kasta lensa, yaitu lensa biasa dan lensa Luxury (L series, ditandai gelang merah diujungnya). Nikon tidak membedakan kasta pada lensanya, hanya saja lensa Nikon baru disederhanakan dengan meniadakan ring aperture, ditandai dengan kode G (gelded).

Lensa prime / fix

Lensa fix punya ketajaman tak tertandingi oleh lensa zoom, dengan bukaan yang umumnya besar, sehingga cocok untuk dipakai foto potret dengan bokeh yang menawan. Canon dan Nikon sama-sama punya jajaran lensa fix yang lengkap, dengan fokal mulai dari wide (sekitar 20mm), normal (sekitar 50mm) hingga tele (sekitar 100mm). Perhatikan kalau semua lensa fix Canon adalah berkode EF, dengan beberapa diantaranya memakai kode L dan USM.

Beberapa lensa fix kelas elit dari Canon adalah :

  • EF 24mm f/1.4L USM
  • EF 50mm f/1.2L USM
  • EF 85mm f/1.2L II USM

Sementara Nikon punya jajaran lensa prime yang bukaan maksimal di f/1.4 seperti yang baru saja diluncurkan yaitu AF-S 50mm f/1.4G. Sedangkan lensa fix ekonomis dan favorit dari Canon adalah EF 50mm f/1.8, dan dari Nikon adalah AF 50mm f/1.8D. Selain itu, Nikon juga punya prime yang wide seperti AF 14mm f/2.8D ED dan prime tele seperti AF 85mm f/1.4D IF, dan prime micro seperti AF-S 105mm f/2.8D VR ED. Bicara soal lensa prime tele, baik Canon maupun Nikon punya jajaran lensa tele yang lengkap mulai dari 135mm, 180mm, 200mm, 300mm, 400mm, 500mm dan 600mm (Canon bahkan punya yang 800mm dan 1.200mm), beberapa dilengkapi dengan IS atau VR.

Lensa zoom : wideangle

Bila lensa fix tidak memberi keleluasaan untuk berganti posisi fokal, maka lensa zoom memungkinkan kita untuk merubah fokal dalam rentang tertentu sehingga bisa didapat berbagai variasi komposisi (dan terhindar dari sering maju mundur). Lensa zoom wideangle umumnya bermula dari 14 sampai 24mm, namun perhatikan kalau dipakai di kamera dengan crop factor (1,6x untuk Canon APS-C, 1,3x untuk Canon 1Ds dan 1,5x untuk Nikon), maka panjang fokalnya akan banyak berubah. Untuk itu, produsen lensa harus berusaha ekstra keras untuk mendesain lensa yang amat wide supaya saat terkena crop factor, lensa tersebut masih layak disebut lensa wide.

Untuk kebutuhan fotografi wideangle seperti landscape dan arsitektur, pemakai Canon sensor APS-C hanya bisa menikmati lensa wide EF-S 10-22mm f/3.5-4.5 USM, sementara pemakai Nikon DX bisa menjajal lensa anyar yaitu AF-S DX 10-24mm f/3.5-4.5G IF ED. Untuk pemakai Nikon Full frame, tersedia Nikon AF-S 14-24mm f/2.8G ED. Sayangnya dari pihak Canon belum tersedia lensa EF yang sepadan dengan Nikon 14-24mm f/2.8 ini.

Lensa zoom : standar

Rentang zoom standar merupakan rentang aman, dengan kemampuan wide dan tele yang mencukupi sehingga untuk bepergian cukup dengan membawa satu lensa saja ini saja. Kabar gembira bagi pemakai Nikon DX karena tersedia banyak lensa Nikon DX yang berkualitas dan terjangkau (seperti lensa kit D40 18-55mm), diantaranya :

  • AF-S DX 16-85mm f/3.5-5.6G ED VR
  • AF-S DX 17-55mm f/2.8G IF ED (bukaan konstan)
  • AF-S DX 18-70mm f/3.5-4.5G IF ED (kitnya D70)
  • AF-S DX 18-105mm f/3.5-5.6G VR (kitnya D90)
  • AF-S DX 18-135mm f/3.5-5.6G IF ED (kitnya D80)
  • AF-S DX 18-200mm f/3.5-5.6G VR IF ED (sapu jagad)

Ketersediaan banyak pilihan lensa standar DX yang murah dan berkualitas inilah yang menjadikan banyak fotografer yang non profesional memilih kamera DSLR Nikon, meski banyaknya pilihan ini juga dikritik beberapa pengamat karena banyaknya overlap dalam rentang lensa dan umumnya punya bukaan lensa yang mirip (semestinya Nikon mulai membuat lensa standar bukaan konstan f/4).

Sementara bagi pemakai Canon APS-C yang perlu lensa EF-S tampaknya harus cukup bersabar karena sementara ini hanya tersedia lensa EF-S berikut ini (tidak termasuk 18-55mm) :

  • EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM (bukaan konstan)
  • EF-S 17-85mm f/4-5.6 IS USM
  • EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (sapu jagad – non USM)

Kondisi menjadi berbalik saat kita melihat jajaran lensa Full frame, dimana Canon punya ciri khas dengan menyediakan dua pilihan lensa untuk seri EF-nya, yaitu lensa bukaan konstan yang cepat (f/2.8 ) dan lensa bukaan konstan yang ekonomis (f/4). Sementara Nikon hanya menyediakan lensa bukaan cepat f/2.8 yang mahal saja.

Lensa Canon EF standar yang favorit (L series) :

  • EF 16-35mm f/2.8L USM
  • EF 17-40mm f/4L USM
  • EF 24-70mm f/2.8L USM
  • EF 24-105mm f/4L IS USM

Sementara sebagai padanannya, di jajaran Nikon juga terdapat dua lensa zoom standar yang menjadi favorit :

  • AF-S 17-35mm f/2.8D IF ED
  • AF-S 24-70mm f/2.8G ED

Sebagai catatan, masih banyak lensa lain dari Canon EF ataupun Nikon non DX untuk rentang standar seperti 28-80mm, 28-105mm, dan 28-200mm, namun karena lensa ini bermula dari 28mm, maka bila terkena crop factor akan menjadi tidak umum (sekitar 43mm) sehingga kurang disukai pemakai DSLR Canon APS-C ataupun Nikon DX.

Lensa zoom : tele

Kita mulai di kelas APS-C atau kelas DX. Nikon  terkenal akan lensa telenya yang ekonomis, AF-S DX 55-200mm f/4-5.6G IF-ED VR sementara Canon menawarkan kemampuan tele lebih panjang dengan EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS. Canon sendiri sebenarnya punya lensa lawas dengan rentang 55-200mm tapi bukan EF-S dan sudah diskontinu.

Selanjutnya, di kelas Full-frame, persaingan head-to-head berimbang terjadi di dua kelas, yaitu kelas 70-300mm dan kelas 70-200mm bukaan konstan. Canon punya EF 70-300mm f/4-5.6 IS USM dan Nikon punya AF-S 70-300mm f/4.5-5.6G IF ED VR yang mana keduanya disukai banyak fotografer karena harganya terjangkau dan kemampuan telenya lumayan jauh di 300mm (ekuivalen 450mm). Di kelas lensa bukaan konstan 70-200mm, ketimpangan terjadi saat Nikon yang hanya punya satu produk lensa harus bersaing dengan empat (ya, empat) lensa Canon 70-200mm. Nikon mengandalkan AF-S 70-200mm f/2.8G IF ED VR sementara Canon punya empat pilihan yaitu :

  • EF 70-200mm f/2.8L IS USM (cepat, plus IS)
  • EF 70-200mm f/2.8L USM (cepat,tanpa IS)
  • EF 70-200mm f/4L IS USM (hemat,plus IS)
  • EF 70-200mm f/4L USM (paling hemat, tanpa IS)

Sementara untuk keperluan lensa tele zoom khusus baik Canon maupun Nikon juga punya rentang yang tidak umum seperti :

  • Canon EF 90-300mm f/4.5-5.6 USM
  • Canon EF 100-400mm f/4.5-5.6L IS USM
  • Nikon AF 80-400mm f/4.5-5.6D ED VR
  • Nikon AF-S 200-400mm f/4G IF ED VR

Nah, itulah beberapa daftar line-up lensa dari Canon maupun Nikon yang umum digunakan para fotografer. Pilihan lensa dari keduanya memang tergolong cukup lengkap, sehingga tak heran para profesional banyak yang melirik DSLR dari Canon ataupun Nikon. Hanya saja kita harus mencermati kebutuhan lensa kita (sebelum membeli DSLR), bila sudah perlu satu lensa spesifik maka memilih kamera DSLR tentu tidak jadi masalah. Sekali kita menentukan merk kamera, maka kita akan terikat pada sistem yang semerk, seperti lensa dan lampu kilat.

Sebagai penutup, berikut kesimpulan singkat dari ulasan diatas :

  • istilah yang umum dijumpai di lensa Canon : EF, EF-S, USM, IS, L series
  • istilah yang umum dijumpai di lensa Nikon : AF, AF-S, SWM, VR, DX
  • Canon dan Nikon sama-sama punya lensa fix yang lengkap
  • Di kelas lensa zoom wideangle, Nikon punya koleksi lebih lengkap
  • Di kelas lensa standar zoom, Nikon lebih lengkap di lensa kelas DX, sementara Canon lebih lengkap di kelas lensa full-frame
  • Di kelas lensa tele, Canon dan Nikon sama-sama punya koleksi yang lengkap (catatan Canon 70-200mm punya empat varian)
  • Nikon tidak banyak punya lensa bukaan konstan f/4 (seperti AF-S DX 12-24mm f/4G IF ED)
  • Untuk mendapat kinerja optik tertinggi (plus teknologi USM) dari lensa Canon, bisa didapat dari lensa Canon L series.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Tokina 16.5-135mm f/3.5-5.6 DX

Pemakai DSLR Nikon dan Canon punya satu lagi alternatif lensa all around yang terjangkau. Tokina baru saja mengumumkan kehadiran lensa baru dengan nama Tokina 16.5-135mm f/3.5-5.6 DX yang khusus didesain untuk kamera bersensor APS-C. Pada DSLR Nikon DX, fokal lensa ini akan setara dengan 25-200mm sehingga mencukupi untuk keperluan wideangle hingga medium tele.

Tokina 16.5-135mm DX
Tokina 16.5-135mm DX

Yang unik dari lensa baru ini adalah rentang wide nya yang tidak umum di 16.5mm (seperti lensa Nikon AF-S 16-85mm) yang bisa memberi fokal efektif 25mm di kamera Nikon DX (atau 26.4mm di Canon APS-C). Dengan kemampuan zoom 8x optikal, lensa ini mampu mencapai area medium tele di 135mm (setara dengan 200mm) sehingga cocok menjadi lensa untuk travelling.

Lensa dengan diameter filter 77mm ini tampak kecil bila dibanding dengan kemampuan fokalnya, mungkin karena tidak ada komponen motor fokus ataupun sistem stabilizer di dalam lensa ini. Nyatanya, hingga detik ini belum ada satupun lensa Tokina yang dilengkapi dengan motor fokus ataupun stabilizer, padahal Sigma dan Tamron sudah mulai melakukan hal ini.

Belum ada informasi mengenai kualitas hasil foto dari lensa ini, namun secara optik lensa yang memiliki 15 elemen dalam 9 grup ini cukup menjanjikan dengan 9 blade diafragma, 3 lensa aspherikal dan 2 elemen lensa Super Low Dispersion (SLD). Lensa ini pun diklaim bebas dari zoom creep berkat desain baru dalam desain mekanisnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..