Berbagai lensa fix alternatif murah meriah

Tak disangkal lagi bahwa lensa di sistem kamera memegang peran penting dalam menghasilkan foto yang bagus, maka itu tak heran kalau harga lensa bisa jauh lebih mahal dari harga kameranya. Tapi lensa yang terlalu mahal bakal terasa berat bagi yang dananya pas-pasan, atau yang baru mulai hobi fotografi. Maka itu mulai bermunculan lensa-lensa alternatif seperti dari Sigma, Tokina juga Tamron. Tapi lama-lama ketiganya juga semakin ‘besar’ dan beberapa produknya juga masih terasa mahal. Akhirnya kini mulai ditemui lensa-lensa baru yang bisa jadi alternatif murah meriah, walau memang jenisnya baru ada yang lensa fix saja, seperti apa? Simak yuk..

Yongnuo 50mm f/1.8

Yongnuo selama ini dikenal sebagai produsen flash. Kali ini bukan April mop, betul-betul Yongnuo membuat produk lensa yang bentuknya nyaris sama persis dengan lensa Canon 50mm f/1.8. Tapi bedanya, lensa Yongnuo malah lebih bagus sedikit dengan 7 bilah diafragma (Canon pakai 5 bilah) yang akan lebih menghasilkan bokeh yang lebih natural. Bagaimana kualitas fisik lensa ini? Sulit dinilai, karena Yongnuo sendiri tidak memberi detil info soal lensanya, tapi yang jelas lensa ini Auto Fokus, bisa menutup sampai f/22, dan terdiri dari 6 elemen dalam 5 grup. Lihatlah perbandingan antara kedua lensa, Canon 50mm (kiri) dan Yongnuo 50mm (kanan), nyaris sama kan?

yongnuo-50mm-vs-canon-50mm

Samyang 100mm f/2.8 Macro

Pecinta makro maupun foto potret akan menyukai lensa Samyang baru ini. Dengan fokal fix 100mm bukaan f/2.8, lensa manual fokus ini bisa fokus sangat dekat karena memang dirancang untuk makro. Bukaan terkecilnya adalah f/32 dengan diameter filter 67mm yang tidak ikut berputar saat ring fokus diputar. Terdiri dari 15 elemen dalam 12 grup (termasuk satu elemen high refractive index dan satu elemen extra-low dispersion) menjamin ketajaman untuk potret maupun makro. Sayangnya karena lensa seberat 700 gram ini tidak ada fitur stabilizer/peredam getar, so untuk mendapat foto makro yang tajam memang perlu selalu memakai tripod.

samyang100mmf28

Zenith Helios 85mm f/1.5

zenith-helios

Lensa potret 85mm manual buatan Rusia ini seperti tank, kokoh dan berat. Di dalamnya terdapat 10 bilah diafragma, bukaan f/1.5 hingga f/22 dan bobotnya 800 gram. Sayangnya mungkin lensa ini tidak akan dijual di tanah air.

Lensbaby Velvet 56mm f/1.6

Lensa potret dari Lensbaby ini punya keunikan memberi hasil foto yang soft dan berkilau, cocok untuk potret yang unik dan kreatif. Walau termasuk lensa potret tapi lensa 56mm f/1.6 ini juga bisa makro karena bisa memfokus dekat dengan rasio 1:2, atau kira-kira 5 cm dari depan lensanya. Lensa dengan diameter filter 62mm ini bobotnya hanya 400 gram, bukaan mininum f/16 dan tentunya hanya manual fokus saja. Tertarik?

lensbabyvelvet56

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah flash eksternal Yongnuo versi yang lebih canggih

Sedang mencari flash eksternal untuk kebutuhan strobist atau liputan? Atau lagi mau bikin studio foto kecil-kecilan? Anda tentu bisa memilih flash eksternal yang satu merk dengan kamera, seperti Nikon, Canon, Sony, Pentax dll. Tapi harganya memang tidak murah, bagi yang hanya ingin sekedar hobi atau dana terbatas akan terasa berat membeli flash satu merk itu. Maka itu muncullah deretan merk alternatif baik yang manual maupun yang kompatibel dengan fitur TTL kamera, salah satunya adalah Yongnuo. Saat ini merk Yongnuo punya banyak produk baru yang lebih canggih dari sebelumnya.

Yongnuo sudah lama hadir sebagai flash alternatif yang murah, dulunya Yongnuo hadir sangat simpel, hanya bisa manual dan cuma ada beberapa tombol. Harganya pun hanya sekitar 400 ribuan dan kekuatannya hanya sekitar GN 32. Tapi produk-produk Yongnuo cukup laris dan beberapa bahkan diluar dugaan bisa cukup awet dipakai lama, beberapa pengguna juga yang mengeluhkan flashnya rusak setelah beberapa kali pakai. Tapi kini Yongnuo terlihat makin serius menekuni bisnis flash alternatif, terlihat dari peningkatan fitur, konsisten dalam regenerasi dan kekuatan GN yang bertambah besar.

Untuk mengetahui apa saja flash Yongnuo yang cukup canggih saat ini, berikut kami sajikan tiga produk andalan mereka :

Yongnuo YN -560 III (built-in radio trigger 2,4 GHz receiver)

yn560iii

  • Harga : 700-800 ribuan
  • GN 58
  • tidak bisa TTL
  • punya penerima sinyal wireless 2,4GHz (bisa dipacu oleh trigger RF-602 atau RF-603)
  • wireless optik slave (bisa memilih channel dan grup)
  • punya layar LCD
  • bisa zoom 24-105mm
  • eksternal power outlet dan PC sync

Yongnuo YN-500EX (kelas menengah, fitur lengkap)

yn_500ex

  • Harga : 1,5 juta (estimasi)
  • GN 53
  • TTL dan manual
  • wireless optik slave (bisa memilih channel dan grup)
  • High Speed Sync
  • punya layar LCD
  • bisa zoom 24-105mm
  • eksternal power outlet dan PC sync

Yongnuo YN568EX II (flagship flash dengan commander mode)

yn568

  • Harga : 1,99 juta
  • GN 58
  • TTL dan manual
  • wireless TTL master optik (fitur ini tidak ada di YN-568EX lama)
  • wireless optik slave (bisa memilih channel dan grup)
  • High Speed Sync
  • stroboscopic
  • punya layar LCD besar
  • bisa zoom 24-105mm
  • eksternal 2,5mm port

Bila anda memerlukan flash Yongnuo diatas, atau tipe lain seperti YN565EX (for Canon), YN560, YN-468, YN-467 , YN-465 dan YN-460 II bisa cek informasinya di website tokocamzone.com atau mengunjungi tokonya di ITC Fatmawati lantai 2, Jaksel.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Flash Yongnuo YN560 kini dengan fitur zoom head

Anda tentu masih ingat akan lampu kilat ekonomis yang populer di kalangan strobist, yaitu lampu kilat merk Yongnuo dengan beberapa tipenya seperti YN460 dan YN460 II. Kini Yongnuo meluncurkan YN560, lampu kilat pertamanya dengan fitur zoom head dengan rentang 24-105mm dan sederet pembaruan lainnya.

yongnuo-yn560

YN560 bagaimanapun juga masih merupakan lampu kilat untuk semua hot-shoe kamera (kecuali Sony), sehingga tentunya tidak ada fitur TTL di produk lampu ini. Artinya, masih seperti YN460, produk ini perlu diatur daya pancarnya secara manual dan bukan melalui komunikasi data dari kamera ke lampu. Bila pengaturan tidak tepat, maka hasil foto akan kurang terang atau bahkan terlalu terang. Tapi jangan kecil hati dulu, dengan sedikit berlatih hal ini bukanlah sesuatu yang sulit.

yn460-560

Perbedaan YN560 dibanding pendahulunya (lihat gambar di atas) lebih kepada perombakan total dengan bentuk baru yang lebih cantik dan sedikit lebih besar. Urusan Guide Number (GN) YN560 ini pun kini lebih besar dengan GN58 yang setara dengan flash premium merk Canon atau Nikon. Untuk pertama kalinya Yongnuo menyediakan port untuk PC sync dan juga daya eksternal, serasa flash profesional meski harga hanya 600 ribuan.

Fitur lainnya dari YN560 diantaranya :

  • bisa ditrigger wireless sync dengan lampu kilat lain
  • zoom head dengan menekan tombol zoom
  • cukup 3 detik untuk recycle kapasitor
  • pengaturan daya manual presisi mulai dari 1/1 hingga 1/128
  • standar : bisa geleng dan angguk, ada diffuser dan bounce card
  • kompatibel dengan radio trigger apapun

Bagi pemilik kamera apapun dengan dudukan lampu kilat eksternal, atau bagi yang ingin berkreasi dengan lampu kilat off-shoe (tidak dipasang di kamera), YN560 ini rasanya sangat layak untuk jadi pilihan saat ini. Bagus, murah dan fiturnya lengkap membuatnya jadi favorit seperti dulu saat era YN460. Namun bagi mereka yang menyukai flash dengan fitur TTL, maka sebaiknya memakai produk YN465 (untuk Nikon) atau YN467 (untuk Canon).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Yongnuo RF-602 wireless flash trigger plus remote shutter

Untuk kebutuhan fotografi profesional atau hobi strobist, kebutuhan akan banyak lampu yang dikendalikan secara wireless (nirkabel) memang mutlak perlu. Yongnuo sebagai produsen aksesori lampu kilat dan flash trigger menyediakan dua versi produk trigger, yaitu seri basic seperti CTR-301 dan seri yang lebih canggih seperti RF-602. Kali ini kami akan mengulas secara singkat produk Yongnuo RF-602 dan beberapa aplikasi pemakaiannya.

YN602 TX dan RX unit
YN602 TX dan RX unit

Produk Yongnuo RF-602 merupakan pasangan dari unit transmitter (602TX) dan unit receiver (602RX) yang bekerja di frekuensi 2.4 GHz. Kemampuan wireless keduanya bisa dimanfaatkan untuk memicu lampu kilat agar menyala (flash trigger) maupun menjadi remote shutter. Sepasang produk buatan China ini dijual seharga 350 ribu rupiah, namun bila hanya ingin memiliki unit receiver saja harganya 250 ribu rupiah.

yn-dsc_6551

Pada bagian atas unit transmitter (TX) dijumpai tombol yang berfungsi untuk menjadi remote shutter. Tombol ini layaknya tombol rana pada kamera, bisa ditekan setengah (untuk auto fokus) dan ditekan penuh (untuk memotret). Unit transmitter yang ditenagai sebuah baterai CR2 ini bisa dipasangkan pada flash hot shoe kamera dan terdapat beberapa pin kontak di bagian bawahnya plus switch pengatur kombinasi frekuensi (lihat contoh di atas). Di bagian depan unit ini dijumpai port untuk kabel PC sync dan sebuah lampu LED yang akan menyala saat tombol ditekan (hijau bila ditekan setengan dan merah bila ditekan penuh).

yn-receiver_1

Pada bagian unit receiver (RX), di sisi atas terdapat switch on-off yang mengaktifkan fungsi penerima sinyal. Unit ini ditenagai dengan 2 baterai jenis AAA yang bisa hidup selama 2 hari non-stop. Masih di bagian atas, ada juga hot shoe tempat memasang lampu kilat eksternal. Ada pula switch pengatur kombinasi frekuensi yang disesuaikan kanalnya dengan unit TX. Di bagian bawah tersedia lubang untuk memasang unit ini pada light stand. Yang unik dari unit receiver ini, dia bisa dipasang di flash hot shoe kamera, meski fungsinya hanya sekedar untuk ‘numpang duduk’. Bila unit ini akan difungsikan sebagai remote shutter, diperlukan kabel shutter release (tersedia dalam paket penjualan) dari unit ini ke bodi kamera seperti contoh di bawah ini.

yn-rf602shutter

Berikut spesifikasi lengkap dari Yongnuo RF-602 :

  • Type FSK 2.4 GHz Wireless Remote System
  • Flash Sync Speed 1/250s
  • Transmitter Distance 100 meters
  • Channel 15 difference channel and ALL channel
  • Release Half-way press, Full-way press
  • Time of shooting Up to 20000 times (using CR2 Lithium Battery)
  • Receiver Stand-by Up to 45 hours (using AAA battery)

Dalam paket penjualannya disertakan baterai 2 x AAA dan sebuah baterai CR2. Adapun kabel yang disediakan yaitu kabel shutter release dan PC sync, serta sebuah adapter dari 6.35mm ke 3.5mm plug.

Beberapa kemungkinan pemakaian yang bisa dilakukan menggunakan Yongnuo RF-602 ini diantaranya :

  • Wireless flash basic : Pasang TX unit di kamera dan lampu kilat pada RX unit, maka lampu kilat akan di trigger secara wireless.
  • Multiple flash trigger : Dengan membeli unit RX tambahan, sejumlah lampu kilat bisa dibuat menyala secara bersamaan secara wireless.
  • Studio light trigger : Untuk menghubungkan unit RX dengan peralatan lampu studio, anda perlu membeli kabel khusus (LS-02) secara terpisah.
  • Wireless remote shutter : Hubungkan unit RX ke kamera memakai kabel shutter release, lalu tekan tombol pada unit TX dan kamera akan memotret secara wireless.
  • Multi camera remote shutter : Bila ingin memotret memakai lebih dari satu kamera, maka kamera utama dipasang unit TX dan kamera lain dipasang unit RX. Saat tombol rana kamera utama ditekan setengah, semua kamera akan mulai mencari fokus dan saat tombol ditekan penuh maka semua kamera akan memotret. Perhatikan kalau tiap kamera punya lag tersendiri dalam mencari fokus dan memotret.
  • Campuran remote shutter dan flash trigger : Pada kombinasi ini unit RX dihubungkan ke kamera melalui kabel shutter release, sementara di bagian flash hot shoe juga dipasang lampu kilat.  Jadi kamera akan memotret saat tombol pada unit TX ditekan, sekaligus lampu kilat juga ikut menyala secara wireless (lihat contoh pemasangan di bawah ini).

yn-rf6022-1

Perhatikan kalau unit RX yang terpasang di atas kamera Canon G10 ini sebenarnya hanya ‘numpang duduk’ sedangkan komunikasi data melalui kabel saja. Untuk itu pemasangan seperti ini harus didukung dengan kamera yang sudah memiliki shutter release port. Lampu kilat dipasang pada flash hot shoe yang ada di unit RX dan akan menyala saat unit RX di-trigger oleh unit TX. Keren kan…?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Yongnuo YN460 dan YN465 flash speedlite

Merk lampu kilat Yongnuo mungkin terdengar asing di telinga kita, meski di pasaran banyak dijumpai merk lampu kilat lain yang biasa disebut merk 3rd party, sebut saja misalnya Nissin, Sunpak atau Tronic. Bila di kesempatan lalu kami menguji lampu kilat profesional merk Nissin, kali ini kami ingin menguji lampu kilat murah meriah yaitu Yongnuo YN460 dan YN465. Keduanya hampir sama secara spesifikasi, kecuali YN465 sudah mendukung mode TTL sementara YN460 sepenuhnya dioperasikan secara manual.

yn460-465
Yongnuo YN460 dan YN 465

Yongnuo YN460 dan YN465 adalah lampu kilat ukuran standar yang ditenagai 4 buah baterai AA. Keduanya diklaim memiliki GN 33 dan memakai rangkaian sirkuit elektronik modern IGBT. YN460 memiliki mount universal (kecuali untuk DSLR Sony) dengan hanya 1 pin kontak, sedang YN465 sementara ini hanya ada versi Nikon dengan pin kontak yang mendukung fasilitas TTL flash dari DSLR Nikon. Yongnuo YN460 lebih dahulu dikenal karena harganya yang murah dan kemampuan pengaturan daya output secara manual, sehingga banyak dipakai oleh pecinta strobist. Tak lama berselang barulah Yongnuo meluncurkan YN465 dengan kelebihan bisa memilih mau pakai mode TTL atau mode manual. Hadir sebagai flash 3rd party ekonomis, keduanya sama-sama tidak dilengkapi dengan zoom head, baik auto ataupun manual.

Pin kontak data TTL YN465
Pin kontak data TTL YN465

Lampu kilat merk Yongnuo secara mengejutkan ternyata memiliki material plastik yang cukup baik dan kokoh. Pada saat kami memutar flash head ke atas bawah ataupun kiri kanan kami rasakan begitu mantap dan tidak terkesan murahan. Tidak ada magazine baterai untuk menampung empat buah baterai AA, kami harus memasukkan keempat baterai satu per satu. Untuk YN460 proses on off lampu dilakukan dengan menekan tombol power selama 3 detik, sedang pada YN465 dengan memutar knob. Setelah diputar, YN465 akan masuk ke mode TTL dan bila knob diputar lagi barulah mode berpindah ke manual. Baik YN460 maupun YN 465 memiliki 7 tingkat daya output dari 1/64 hingga 1/1 yang diwakili oleh 7 indikator LED. Bedanya, pada YN460 pengaturan daya ini dengan menekan tombol plus/minus, sedang pada YN465 dengan memutar potensio ke arah kanan.

Dalam paket penjualan disertakan pula flash stand, soft pouch dan manual singkat dalam bahasa Inggris dan China. Baiklah, kita tinjau lebih jauh keduanya dengan menilik spesifikasinya :

  • Circuit design: IGBT
  • Up/down ward angle: 0-90 degree
  • Left/right angle: 0-270 degree
  • Power Source: 4 X AA size batteries (Alkaline or Ni-MH are usable)
  • Battery Life: 100 – 1500 times (with alkaline batteries)
  • Recycle Time: 5 sec(with alkaline batteries)
  • Color Temperature: 5600K
  • Flash Duration: 1/800S – 1/20000S
  • Flash adjustment: 7 difference flash power level ( 1/1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64 )
  • Power Saving:  Stand by mode, 30mins to power off mode. 60mins to power off when using the optic mode (YN460)
  • Dimensions: 72X135X85mm
  • Weight: 250g

Yongnuo YN460

YN460 tampak depan
YN460 tampak depan

Kami sampaikan dulu di awal bahwa YN460 ini sepenuhnya dioperasikan secara manual. Artinya, kalau pengaturan daya lampu tidak tepat maka hasil foto akan over atau under. YN460 bisa dipakai di DSLR apa saja kecuali Sony, bahkan bisa dipakai di kamera non DSLR selama tersedia flash hot-shoe. Hanya ada satu pin kontak pada YN460 yang berfungsi untuk menerima sinyal trigger dari kamera, sementara tiga buah pin data yang ada di kamera tidak tersambung kemana-mana. Saat kami uji memakai Nikon D40 kamera tidak mengenali lampu yang terpasang (ada pesan di LCD : lighting is poor, flash recommended). Hal ini membuat kamera selalu menganggap bahwa kita sedang memotret tanpa lampu kilat, sehingga eksposur akan dihitung berdasar hasil metering apa adanya. Untuk itu bila dipakai di tempat kurang cahaya, lebih aman fitur Auto ISO dimatikan saja, gunakan mode shutter priority (S) dan asumsikan kamera akan memakai bukaan maksimal. Untuk mencegah blur akibat getaran tangan, gunakan speed 1/60 detik dan aturlah kendali daya yang ada pada tombol di bagian belakang YN460.

YB460 tampak belakang
YB460 tampak belakang

Keuntungan dari masalah diatas adalah, kita bebas untuk memakai nilai shutter berapa pun tanpa harus dibatasi oleh maksimum sync-speed dari kamera. Di siang hari kita bisa memilih memakai bukaan besar (untuk mengejar bokeh) tanpa harus kuatir speed yang akan naik tinggi. Kami bahkan pernah mencoba memakai speed 1/1000 detik dan hasilnya tetap baik. Tak heran kalau lampu kilat manual semacam ini begitu disukai para strobist photographer.

Fill-in flash, 1/1000s, f/4
Fill-in flash, 1/1000s, f/4

Untuk lebih menunjang hobi strobist, YN460 telah dilengkapi dengan sensor slave untuk menjadi off-shoe flash alias lampu yang terpisah dari kamera. Sensor ini akan terpicu oleh cahaya dari lampu kilat lain selama dalam jarak yang wajar. Cukup tekan tombol mode di lampu kilat dan YN460 akan berpindah dari mode manual (M) ke mode slave (S), bahkan kendali manual pun tetap bisa diatur saat memakai mode slave ini. Sayangnya posisi sensor slave ini berada di dalam lampu itu sendiri sehingga saat kita memasang aksesori seperti diffuser atau dome, sensor ini jadi terhalang. Yongnuo baru-baru ini telah meluncurkan YN460 mark II yang memiliki sensor slave di belakang plastik merah di bagian depan (pada YN460, plastik merah di depan hanya hiasan saja, dia bukan AF assist light).

Yongnuo YN465 (for Nikon)

Nikon D40 plus YN465
Nikon D40 plus YN465

YN465 bisa jadi merupakan lampu kilat TTL termurah yang ada di pasaran saat ini. Dengan memakai mode TTL, komunikasi data antara kamera dan lampu berjalan dengan sinkron. Kamera akan mengenali lampu yang ada dan mengirim informasi mengenai daya pancar lampu yang harus dikeluarkan berdasar hasil metering. Tak peduli mode apapun yang dipakai, entah itu auto, program (P), aperture priority (A) atau shutter priority (S), dan tak peduli pada posisi fokal lensa berapa pun, kamera akan berupaya membuat daya pancar lampu akan memberikan eksposur yang tepat. Hal ini akan sangat memudahkan saat kita memotret peristiwa yang cepat dimana bila memakai mode manual akan beresiko ketinggalan momen. Sayangnya YN465 tidak memiliki sensor slave untuk bermain strobist. Namun mengingat YN465 sudah mendukung TTL menurut kami sebaiknya YN465 ini digunakan on-shoe saja (dipasang di kamera). 

Tampilan belakang YN465
Tampilan belakang YN465

Hasil pengujian kami, digunakan di dalam ruangan YN465 mampu menerangi ruangan dengan baik dan eksposur yang dihasilkan pun tepat. Kami juga menguji memotret model yang lucu di bawah ini dengan berbagai fokal lensa yaitu 18mm,  30mm dan 60mm untuk melihat konsistensi eksposur. Inilah crop yang diambil dengan tiga posisi fokal lensa yang berbeda, dengan posisi flash dihadapkan langsung ke objek (tidak di-bouncing) :

yn465-18mm

yn465-30mm

yn465-66mm

Tampak meski tingkat eksposur yang dihasilkan masih wajar, namun konsistensi TTL bukanlah hal yang mudah didapat untuk Yongnuo YN465. Di posisi 18mm sebaran cahaya yang dihasilkan tidak merata kecuali jika ditambah diffuser built-in. Di posisi 30mm didapat eksposur yang paling tepat, sedangkan memakai fokal 66mm foto tampak sedikit under. Mungkin juga under ini dikarenakan tiadanya fitur zoom-head pada lampu kilat Yongnuo. Kabar baiknya, AF assist lamp pada YN465 berfungsi dengan baik yaitu saat cahaya kurang mencukupi, kamera akan menginstruksikan lampu kilat untuk memancarkan sinar merah untuk membantu kamera mencari fokus.

Pengujian kedua adalah melakukan kompensasi flash yang diatur pada kamera. Tujuannya untuk melihat apakah perintah kamera untuk menaikkan atau menurunkan daya output lampu dapat dilakukan dengan benar. Kami mencoba memotret dengan tiga macam nilai kompensasi yaitu Ev nol, Ev plus 1 stop dan Ev minus 1 stop. 

ev-test

Hasil foto diatas menunjukkan kalau kompensasi flash berhasil dilakukan dengan tepat. Kamera diset di mode A dengan f/5.6 dan kamera memilih nilai shutter di 1/60 detik, dan terbukti pengaturan daya output lampu bisa mengimbangi kompensasi yang diinginkan. Pada Ev 0 eksposur tampak pas, sedang Ev +1 tampak bagian putih bunga menjadi clipping/over, sedang pada Ev -1 foto keseluruhan tampak under.

Kesimpulan

Tak banyak yang bisa anda lakukan dengan lampu kilat seharga 400 ribuan (YN460) dan 700 ribuan (YN465). Saat ini Nikon SB400 sebagai lampu kilat TTL Nikon termurah pun harganya diatas satu juta. Dengan dana satu jutaan, SB400 disaingi ketat oleh Nissin Di622 dan merk lain seperti Sunpak yang juga sudah mendukung TTL. Yongnuo mencuri celah di segmen di bawah 1 jutaan, dengan menawarkan kepraktisan dengan kendali yang simpel, namun disisi lain tetap menjaga prinsip minimalis dengan tiadanya fitur zoom-head ataupun port data.

Bagi anda yang suka bermain flash manual, atau suka bereksperimen dengan off-shoe, maka YN460 cocok untuk dimiliki. YN460 bahkan memungkinkan kita memakai shutter speed tinggi tanpa masalah. Hanya saja untuk berkreasi wireless total diperlukan radio trigger semacam PT-04 atau CTR-301. YN460 akan membuat pemakainya sedikit kesulitan pada awalnya, mengingat diperlukan setting yang tepat antara kamera (shutter, aperture, ISO) dan power level di lampu kilat. YN460 bisa dibilang lampu kilat untuk strobist yang ideal : murah, praktis, bisa manual dan bisa slave.

Sebaliknya, bila anda akan sering memakai flash pada kamera (on-shoe) maka anda perlu flash yang mendukung fitur TTL kamera. Untuk itu YN465 lebih cocok untuk anda, lagipula saat hasil TTL ternyata meleset, toh kendali manualnya pun tetap ada. Satu hal yang disayangkan, YN465 tidak memiliki mode slave optik, meski tetap kompatibel dengan radio trigger (kami tidak tahu apakah fungsi TTL tetap berfungsi saat memakai radio trigger). Bila anda bingung pilih yang mana, ambil saja keduanya (YN465 dan YN460) sekaligus. Jadikan YN465 sebagai master yang terpasang di kamera, lalu YN460 bisa sebagai flash cadangan, atau bisa dipakai sebagai slave flash yang powernya bisa diatur secara manual. Total harga keduanya tidak sampai 1,5 juta kok, masih lebih murah dari Nissin Di622. Hanya saja urusan ketahanan alias keawetan adalah hal yang lain lagi. Produk Yongnuo masih belum teruji bisa bertahan berapa lama, apalagi quality control tiap item bisa saja berbeda.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Bermacam produk off-shoe untuk pecinta strobist

Komunitas pecinta fotografi strobist saat ini sudah semakin banyak. Kepuasan menghasilkan foto dengan teknik pencahayaan yang diatur sedemikian rupa itu ternyata membuat banyak orang terus ingin berkreasi memotret dengan lampu kilat. Foto yang dibuat dengan teknik ini mampu memberi kesan profesional, berkarakter, berdimensi dan unik. Jangan sangka untuk menggeluti hobi ini kita harus merogoh kocek amat dalam, karena ternyata gear yang diperlukan harganya cukup terjangkau.

Inti dari teknik strobist adalah memotret dengan lampu kilat yang terpisah dari kamera (off-shoe). Lampu kilat ini diatur di posisi tertentu sehingga akan memberi hasil yang berbeda dibanding lampu kilat terpasang di hot-shoe. Bagi yang perlu hasil lebih profesional, bisa digunakan lebih dari satu lampu yang menyala bersamaan. Antara kamera dan lampu kilat perlu adanya sinkronisasi sehingga timingnya tepat.

Cara yang umum dipakai untuk men-trigger lampu kilat yang terpisah dari kamera yaitu :

  • memakai kabel
  • memakai sensor cahaya (mata kucing)
  • memakai gelombang infra-red (IR)
  • memakai gelombang radio (RF)

Kabel flash
Kabel flash

Cara apa yang dipilih tentu tergantung pada kebutuhan dan dana yang ada. Kabel lebih kepada kemudahan pemakaian namun terbatas penempatan dan jumlah lampu yang bisa di-trigger. Mata kucing juga praktis meski di siang hari jadi kurang sensitif. Sistem infra merah sudah jarang dipakai karena repot, antara kamera dan lampu harus segaris, tidak boleh terhalang. Metoda RF dianggap sebagai metode off-shoe yang terbaik meski juga yang termahal. Lampu kilat kelas atas umumnya sudah memiliki pemancar RF terintegrasi sehingga bisa bermain wireless trigger dengan puas.

RF transmit receive unit

Yongnuo CTR-301P RF trigger
Yongnuo CTR-301P RF trigger

Bila anda hanya memiliki lampu kilat biasa (tanpa kemampuan wireless) maka anda perlu memiliki satu set pemancar-penerima sinyal yang dipasang apda hot-shoe kamera dan pada lampu kilat. Merk yang umum dipakai diantaranya Pocket Wizard, PT-04 dan Yongnuo CTR-301P. Perhatikan kalau tidak semua merk lampu kilat kompatibel dengan merk pemancar ini, untuk itu tanyakan pada penjual sebelum membeli.

Lampu kilat eksternal

Yongnuo YN460
Yongnuo YN460

Sebagai sumber cahaya utama kebutuhan strobist, tentulah yang dibutuhkan adalah lampu kilat (eksternal). Karena digunakan dalam kondisi terpisah dari kamera, maka pada dasarnya merk apa pun tidak masalah. Tidak ada resiko perbedaan tegangan yang berbahaya buat kamera karena lampu kilat ini tidak dipasang langsung pada kamera. Namun dengan memakai lampu kilat semerk dan ditrigger dengan commander yang sesuai, maka fungsi TTL bisa dinikmati secara off-shoe.

Anggaplah anda sudah cukup puas dengan pengaturan intensitas daya lampu secara manual (non TTL), maka beberapa merk lampu kilat ekonomis ini bisa saja dipakai untuk berkreasi secara off-shoe :

  • Nissin : Di466, Di 622 dsb
  • Tronic : TR 20, TR 26, TR 28, CN 505
  • Yongnuo : YN 460 dan YN 462
  • Merk lain seperti Metz, Vivitar, Sunpak dll

Aksesori lain yang perlu dimiliki untuk mendukung hobi ini diantaranya baterai AA atau NiNH dalam jumlah cukup banyak, kaki lampu kilat dan bila perlu tiang penyangga lampu atau tripod.

So, berkreasi dengan strobist? Mengapa tidak?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..